milkyways1707


Main Cast

1) Jeon Wonwoo (29) : – General Manager at Rise Bank sudah 5 tahun – Mercedes Benz GLB-Class (SUV Car) – Move out to Batam in 5 months – Ke kantor 7.45, kantor masuk 8.00 – Gym – Have done this sugar baby thingy for few times before (but his partner never live with him before)

2) Kwon Soonyoung (19) : – Mahasiswa Statistika semester 5 – Camboy for 2 years – Rabu tidak ada kelas – Yatim Piatu (SY dulu tinggal di asrama)

Other Casts

*) Jeonghan (20) : – SY closest best friends – Knows SY's secrets – Has a Boyfriend (Hyungwon) – He's actually in an abusive relationship but never tells his bestie – Mahasiswa tingkat akhir (Dosen Pembimbing Pak Shim)

*) Mingyu (19) : – Teman Soonyoung – Have a crush on SY – Seungcheol's cousins (Pak Kim CEO Golden Trex). Perusahaan apa? -

*) Seungkwan (19) : – Teman Soonyoung – Pacar Vernon (Model) – Punya kucing

*

Rise Bank

*) Seungcheol (32) : – Sekretaris Wonwoo – Best Brother – Knows Wonwoo's secrets

*) Yeji Admin Operasional (19) : – Admin Operasional Wonwoo (Edit Panel chap 44) – Keponakan Finance Director (Mr. Hwang)

*) Mr. Lee (dari perusahaan lain)

*) Mr. Shin CEO – President Director Rise Bank

*) Max Corp, Mr. Andreas as CEO. Perusahaan Apa?

*) Ureka Vision Corp (Gala Dinner, Annual Charity, January 30th)

*) Jihoon (IT Head Departement)

*) Claire (WW ex sugar baby, currently working in Mandala Finance)

*) Dr. Lee Seokmin


Mereka sampai di kantor Wonwoo pukul 13.45 suasana masih sepi kerena beberapa karyawan mungkin masih beristirahat. Saat di ruangan Wonwoo, Soonyoung langsung berlari ke arah sofa tamu yang ada di sebelah kanan meja kerja utama. Sofa dan tempat yang sama saat Soonyoung mengerjakan Lapraknya tempo hari.

“Uwaaaa” seru Soonyoung membanting tubuhnya di atas sofa, Wonwoo mengikuti di belakang dan ikut duduk di sana.

Melihat Wonwoo ia langsung memutar tubuhnya dan tidur di paha Wonwoo.

“Gak kerja daddy?”

“Gimana mau kerja kalau kamu tidur di atas penis saya?”

“Enggak kok” balas Soonyoung menggeser kepalanya.

“Saya bilang kan jangan manyun”

“Siapa yang manyun” Wonwoo tidak salah karena Soonyoung memang benar mengerucutkan bibirnya.

Soonyoung kemudian mengelus rahang tajam Wonwoo, dari posisinya sekarang Soonyoung bisa melihat leher, dagu dan rahang itu dari bawah dan benar-benar terlihat seksi.

“Kenapa begitu lihatnya?”

“Daddy belum cukuran ya?” tanya Soonyoung meraba wajah Wonwoo yang mulai tumbuh bulu tajam tipis.

“Biar kamu geli waktu saya makan kamu”

“Makan dimana?” pancing Soonyoung.

“Disini” Wonwoo menangkup gundukan di celana Soonyoung dan meraba belahan pantat Soonyoung dari arah twinballs ke bawah, menggeseknya dengan jari tengah.

“Eung...”

Mendengar itu Wonwoo menarik kepala Soonyoung yang masih berbaring di atas pahanya untuk naik dan langsung menciumnya, membuat Soonyoung harus menyanggah tubuhnya dengan sikunya agar bisa menyambut ciuman Wonwoo.

Tangan kanan Wonwoo memeluk bagian belakang kepala Soonyoung dan tangan kirinya memeruk pinggang Soonyoung yang masih dalam posisi setengah duduk. Keduanya berciuman cukup lama, menukar saliva dan membelit lidah masing-masing. Bibir dan Lidah Soonyoung adalah candu Wonwoo.

Melepas ciumannya di bibir Soonyoung kini ia beralih menciumi leher yang lebih muda membuat Soonyoung lagi-lagi melenguh nikmat dan melempakan kepalanya ke belakang memberikan akses lebih untuk Wonwoo. Dada Soonyoung membusung saat merasakan jari Wonwoo yang sekarang sudah ada di nipplenya dan mengelus gundukan mungil itu dengan jempolnya.

Kembali Soonyoung menarik rahang Wonwoo untuk menciumnya lagi dan pergulatan lidah tak dapat dihindari.

Sesaat tangan Wonwoo baru akan membuka restleting celana jeans Soonyoung telpon di mejanya berdering, membuat kegiatan mereka berhenti sejenak. Wonwoo hanya melirik ke arah mejanya dan kemudian tak menghiraukan penggilan tersebut dan kembali berciuman dengan Soonyoung. Namun, tidak berselang lama telponnya berdering lagi.

“Penting kali dad, angkat dulu” ujar Soonyoung dengan napas yang masih tersenggal dan rambut yang sedikit berantakan.

“Sebentar baby..” Wonwoo melepaskan pelukannya dari Soonyoung dan merebahkannya di atas sofa tadi dengan pelan dan kemudian berjalan ke arah telpon.

Soonyoung memandangi Wonwoo dari tempatnya berbaring, dua kancing kemejanya sudah terbuka dan dirinya terlihat sudah sangat kacau sedangkan sang dominant yang berbicara serius dengan entah siapa di seberang telepon sana masih memakai jasnya lengkap, rapih dan gagah.

Dalam hati Soonyoung bagaimana bisa lelaki hebat dengan jabatan tinggi yang bertaut 10 tahun lebih tua darinya ini mau tidur dengannya. Terkadang ada pikiran-pikiran kecil yang lewat di kepalanya, pantaskah dirinya? Namun, pikiran lain akan buru-buru meringsak masuk dan mengatakan bahwa jangan menganggap semua ini terlalu berlebihan karena ia sendiri tidaklah lebih dari sekedar budak napsu seseorang yang mendapat imbalan setelahnya.

“Baby” panggil Wonwoo yang kembali dari panggilan telepon.

“Iya dad”

“Saya harus ke lantai 16 bertemu dengan Pak Shin, saya tinggal sebentar ya?”

Soonyoung mendudukan tubuhnya mengangguk sebagai jawaban. Wonwoo membungkukkan badannya mengancing kembali kemeja Soonyoung yang tadi sempat ia buka.

“It won't be long, suit yourself here” ujar Wonwoo mengecup bibir Soonyoung lagi.

“Iya daddy gapapa”

“Nanti saya panggil Yeji untuk bawakan cemilan buat kamu”

“Yeji yang kemarin itu?”

“Iya”

“Okey dad, udah sana daddy kerja dulu”

Setelahnya Wonwoo mengelus pipi lembut Soonyoung dengan jarinya dan berjalan keluar melalui pintu besar ruangan itu.


“Halo” sapa gadis muda yang membawa nampan berisikan puding coklat, biskuit dan orange jus.

“Hai” sapa Soonyoung tidak kalah ramah. Saat ini Soonyoung sedang memainkan ponselnya dengan posisi tengkurap di atas sofa, bahkan sepatunya sudah dia lepas. He really suits himself here

“Nyemil dulu” kata gadis muda itu.

“Makasih~ Yeji?”

“Iya Yeji” gadis itu mengulurkan tangannya mengajak Soonyoung berkenalan dan langsung disambut Soonyoung.

“Waa puding coklat yang kemarin” ujar Soonyoung dengan mata berkilauan.

“Enak ya?”

“Banget! Nih cobain juga”

“Enggak, thank you. Aku diet”

Soonyoung hanya mengangguk dan membulatkan bibirnya.

“Boleh duduk disini nggak?” tanya Yeji.

“Duduk aja kali. Capek ya?”

“Iya, banyak kerjaan. Untung Pak Wonwoo suruh kesini jadi aku kabur deh”

“Yee...” “Emang kamu dibagian apa?”

“Aku admin operasionalnya Pak Wonwoo, ruanganku yang di sebelah kanan”

“Wihh keren dong”

“B aja sih, btw ini kita kaya seumuran deh”

“Masa? aku masih 19” jawab Soonyoung menyendok puding coklatnya lagi.

“SAMA DONG” spontan Yeji.

“Serius? kok udah bisa kerja di perusahaan gede sih? Pinter banget pasti kamu”

“Bukan gitu, aku mah pake orang dalam” Yeji terkikik. “Om aku Finance Director disini”

“Hmmm enak” sinis Soonyoung melirik Yeji.

“Kamu mah juga bisa kali Soonyoung tinggal bilang Pak Wonwoo, kamu keponakannya juga kan?”

“Huh? Oh.... iya hehehe keponakan”

Setelahnya mereka berdua terus mengobrol bahkan dengan sangat cepat bisa akrab. Baru kali ini Soonyoung tidak minder mengobrol dengan orang yang satu kantor dengan Wonwoo.

Saking asiknya mengobrol dan tertawa mereka tidak sadar ada yang datang masuk ke ruangan Wonwoo.

“Pantes dicari ke ruangannya gak ada taunya disini”

“Hehehe coffebreak sebentar, Mas Seungcheol” jawab Yeji, sedangkan Soonyoung masih diam memperhatikan wanita lain yang datang bersama Seungcheol.

“Ada Soonyoung juga?”

“Iya, apa kabar Pak Seungcheol”

“Kabar baik, Pak Wonwoo mana Soonyoung?”

“Kalau nggak salah tadi ke lantai 16 ketemu Pak Shin?” Soonyoung juga tidak yakin apa ia benar menyebutkan nama orang tersebut yang bisa saja adalah petinggi di kantor ini.

“Oh sudah duluan kesana toh” Jawab Seungcheol. “Yaudah Yeji ini buat copy kontraknya Mandala Finance ya, tolong di email paling lama sore ini”

“Oke Mas” kemudian Yeji mengambil map yang tadi diserahkan Seungcheol, melambaikan tangannya singkat kepada Soonyoung dan pamit keluar dari ruangan itu.

“Siapa?” kata wanita dengan rambut sebahu dengan setelan jas dan rok warna Maroon itu pada Seungcheol.

“Housematenya Pak Wonwoo, Soonyoung”

“Housemate?”

“Iya” jawab Seungcheol singkat.

Kemudian wanita itu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri “Claire”.

“Soonyoung” balas Soonyoung menjabat tangan wanita itu dengan senyum ramahnya.

“Kerja dimana Soonyoung?” tanya Claire.

“Masih kuliah, kak eh...Bu”

“Oh kuliah, gapapa panggil kak aja lagian saya masih muda juga kok, ya kan Cheol?” tanya Claire tersenyum pada Seungcheol.

“Iya” “Yaudah saya antar ke bawah, Pak Wonwoo lagi nggak ada di tempat juga”

“What a shame, maybe next time” Jawab Claire, memeluk pouchnya yang terlihat branded.

“Saya keluar dulu ya Soonyoung” ujar Seungcheol.

“Oke Pak”

“Sampai ketemu lagi, Soonyoung' lagi-lagi wanita itu tersenyum namun bisa Soonyoung rasakan tidak ada kata 'tulus' sama sekali dari senyuman tersebut.

“See ya, kak” balas Soonyoung.

Kemudian dua orang itu keluar dari ruangan Wonwoo meninggalkan Soonyoung kembali seorang diri.

“Ih serem banget” Soonyoung bermonolog dan naik ke sofanya lagi.

Mature content please be wise 🔞

.

.

Bisa dibilang Soonyoung tidak beruntung, niat ingin bersantai di pinggir pantai Ancol selepas makan malamnya dengan Wonwoo. Namun, malah terjebak di dalam mobil dengan hujan yang mengguyur kota Jakarta saat ini.

Mobil Wonwoo kini terparkir di halaman parkir stasiun Kemayoran, karena hujan yang deras dan jalannya yang macet di malam minggu akhirnya mereka memutuskan untuk menepi sejenak, menunggu hingga kemacetan terurai kembali. Tidak ada gunanya juga terjebak di antara mobil-mobil di tengah jalan, hal itu hanya akan menambah lelah kaki yang harus mengontrol pedal gas dan rem mobil.

Sebelum menepi keduanya sempat membeli junk food drivethru yang kebetulan di lewati, dua gelas cokelat hangat, waffle, ayam goreng dan nugget. Jangan tanya kenapa sebanyak itu padahal mereka sudah makan malam, kata Soonyoung ia sedang banyak pikiran jadi tidak apa-apa membeli sedikit tambahan makanan penutup.

Suasana di parkiran itu sudah gelap dan sepi, terpaan angin dan derasnya air hujan membuat orang ramai-ramai menepi ke dalam gedung yang lebih aman dan untuk jam malam seperti ini jumlah penumpang KRL pun sudah mulai sedikit.

“Gak kenyang barusan?” tanya Wonwoo sambil meminum coklat panasnya.

“Kenyang tapi kalau nyemil itu beda lagi daddy” balas Soonyoung sambil mengigit wafflenya.

Baby, is it good?” Wonwoo memperhatikan Soonyoung yang asik menguyah.

“Hmm BANGET”

Give me some

Kemudian Soonyoung menjulurkan tangannya, memberikan wafflenya tadi dihadapan mulut Wonwoo. Wonwoo hanya diam tidak membuka mulutnya sama sekali.

Soonyoung bingung, sepersekian detik ia terdiam dan kemudian baru menyadari.

“Ah...” Ia baru paham, Soonyoung menarik kembali tangannya dan langsung menggigit wafflenya lagi tanpa menelannya dan kemudian naik ke pangkuan Wonwoo yang masih duduk di balik kemudi.

“Here” ujar Soonyoung dengan waffle yang masih menyumpal bibirnya. Wonwoo langsung menyambut bibirnya, mengambil potongan waffle dari bibir Soonyoung dan mengunyahnya tanpa melepas tautan bibir mereka.

“Yea it's good” kata Wonwoo setelah menelan seluruhnya.

Di atas pangkuan Wonwoo, Soonyoung masih asik menghabiskan makanannya dan Wonwoo yang menikmati pemandangan di depannya sambil sesekali menyeruput coklat panas yang masih tersisa. Jok mobil ia mundurkan agar Soonyoung memiliki ruang lebih duduk disana.

“Deres ya, daddy?” kata Soonyoung memandang hujan di luar dari kaca di pintu mobil.

“Hmm” jawab Wonwoo singkat tidak terlalu tertarik dengan topik barusan, karena ia lebih tertarik dengan dua gundungan kecil dibalik baju kaos hitam milik Soonyoung yang sekarang sudah ia mainkan dari luar.

Soonyoung melentikkan tubuhnya saat merasakan sentuhan Wonwoo, ia hanya diam dan saling berpandangan. Tidak ada ekspresi apapun selain tatapan tajam keduanya. Wonwoo terus menyentuh titik sensitif tersebut dengan tangan kirinya, menunggu reaksi Soonyoung untuk meledak karena Wonwoo tahu baby-nya ini sekarang sedang sekuat tenaga menahan suaranya.

Diam-diam Wonwoo menaikan tangan kanannya, mengelus gundukan dibalik celana jeans yang dipakai Soonyoung yang ternyata sudah menegang sejak tadi.

“Ahhhhhh” akhir Soonyoung menyerah, kepalanya terbanting ke belakang saat merasakan remasan Wonwoo di bawah sana.

“Enak diginiin?” tanya Wonwoo mengurut penis Soonyoung sekaligus memainkan *nipples”nya dari luar pakaian.

“Lagi dad...” ujar Soonyoung yang mulai menggesekkan pantatnya diatas paha Wonwoo.

“Jawab pertanyaan saya tadi”

“En-aHHH! enak dad” Wonwoo membuka restleting celana jeans Soonyoung dan mengusap ujung penisnya yang masih berbalut celana dalam.

Karena kenikmatan yang diberikan Wonwoo, Soonyoung butuh pengalihan lain maka ia tarik leher Wonwoo dan langsung mencium bibirnya dalam. Ciuman basah dengan lumatan lidah yang saling mengecap satu sama lain, melilit disetiap kesempatan dan menghisap lidah yang kalah. Bibir Soonyoung itu penuh namun tipis di saat bersamaan, jadi akan terasa sangat kenyal saat Wonwoo melumatnya. Di hisapnya bergantian bibir atas dan bawah Soonyoung, mencari setiap kenikmatan dari lembut dan basah ciuman mereka.

Wonwoo kemudian melepas ciuman di bibir dan beralih ke perpotongan rahang Soonyoung, diciumnya tipis seluruh permukaannya dibantu Soonyoung yang semakin mengangkat lehernya. Tangan Wonwoo masih di bawah sana, mengurut penis Soonyoung yang sudah ia keluarkan dari celana dalamnya, sangat merah dan tegang. Sedangkan Soonyoung sendiri terus menggesekan lubang pantatnya di atas gundukan Wonwoo yang mulai terasa gatal.

Hujan turun begitu deras di luar ditambah petir yang saling sahut-sahutan bergemuruh dengan angin yang bertiup sangat kencang. Namun, Soonyoung merasa panas sekujur tubuhnya meremang. Digigitnya ujung bawah kaos hitam yang menutupi tubuhnya dan mengekspos pentilnya yang juga sudah menegang dan bengkak.

“Daddy isap....” pintanya lemah.

Beg for that

“Please daddy isapin pentil aku, gatel”

Kemudian diusapnya pentil Soonyoung dengan jempol kirinya membuat sang baby semakin kepanasan”

“Daddy please.......” masih menggesekan pantatnya di atas penis Wonwoo.

Dimainkannya pentil kiri dan kanan Soonyoung dengan kedua tangannya sebelum akhirnya Wonwoo jilat dengan lidahnya yang tebal.

“Ohhhhhh...........”

Kini Wonwoo menjilati pentil Soonyoung dengan rakus kemudian menyusu seperti bayi yang kehausan. Digigitnya sesekali ujung pentil itu, membuat pemiliknya berteriak nikmat.

Soonyoung menarik kembali wajah Wonwoo dan menciumnya. Lidah mereka kembali beradu.

Dalam hitungan detik kini celana jeans berserta dalaman milik Soonyoung sudah terlepas, bahkan kini restleting Wonwoo pun sudah terbuka lebar menampakkan penisnya yang sudah gagah berdiri. Gilirian Soonyoung sekarang yang mengocok penis Wonwoo dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk mengocok penisnya sendiri. Wonwoo menikmati setiap rematan telapak tangan Soonyoung di kulit penisnya yang berurat, ia hanya duduk bersandar dengan tangan yang menyilang ke atas bertumpu pada sandaran jok di belakang kepalanya.

“Argh” eram Wonwoo saat Soonyoung berhasilnya membuat Wonwoo pre-cum.

stroke it together baby” perintah Wonwoo. Kemudian Soonyoung menyatukan kedua penis mereka dan mengocoknya bersamaan dengan tangannya.

“Oh God! Soonyoung”

Suara hujan bercampur dengan desahan mereka.

“Ah ah ah dad”

Tangan Soonyoung terlalu kecil untuk sekaligus mengocok kedua penis mereka, maka Wonwoo kini menggantikan tugannya. Tangan besar Wonwoo langsung menggenggam penis mereka mengocoknya dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dan kasar dari Soonyoung barusan, membuat Soonyoung kembali melempar kepala kebelakang merasakan nikmat.

“Dad, mau keluar......”

“Keluarin aja”

“Eungh....” “Ah dikit lagi dad kocokin terus ah ah”

“Daddddddhhhhh ak- ahhhhh..” cairan putih Soonyoung menyembur ke atas baju Wonwoo dan penis mereka. Lengket dan basah.

“Berdiri” perintah Wonwoo.

Bahkan ejakulasi Soonyoung belum tuntas sepenuhnya namun ia harus berdiri saat ini juga. Masih mengangkang di atas paha Wonwoo, Soonyoung perlahan menapakan kakinya di lantai mobil.

Wonwoo kemudian memundurkan lagi sedikit jok mobilnya dan menaikan suhu pendingin. Setelah itu menarik lagi pinggang Soonyoung untuk kembali duduk di pangkuannya.

“No, no, no baby...saya mau masukin. Bantu saya” perintahnya lagi.

Soonyoung menurut, kemudian ia meludahi tangannya sediri dan mengusapkannya ke penis Wonwoo. Sebenarnya tidak perlu karena pre cum Wonwoo sudah keluar sejak tadi di tambah cairan Soonyoung yang barusan menyembur masih basah disana. Tapi bukan Soonyoung namanya, itu adalah salah satu caranya untuk menggoda Wonwoo. Diludahinya lagi telapak tangannya untuk kedua kali, namun kali ini tangannya ia usapakan pada lubang pantatnya yang sebentar lagi akan di hujam dengan penis Wonwoo.

“Masukin sekarang” tegas Wonwoo tidak tahan dengan Soonyoung tak kunjung berhenti menggodanya.

Kemudian Soonyoung mengambil penis Wonwoo, menggenggamnya dan mengarahkannya di depan lubang pantat Soonyoung. Ujung penis Wonwoo yang tebal dan tumpul membuat friksi nikmat lain saat bersentuhan dengan permukaan lubang Soonyoung yang berkedut.

Penisnya masuk perlahan, Soonyoung terus mendorongnya masuk.

Ahhhh daddy it won't get any deeper

“Paksa. Harus masuk semua”

“Eunghhhh...” Soonyoung menekan pinggulnya turun agar penis Wonwoo bisa masuk semua.

Tidak sabar, Wonwoo langsung memeluk pinggang Soonyoung dan menghentakkannya ke bawah, membuat penisnya benar-benar tertanam di lubang pantat Soonyoung.

“DADDDYYYYYYYY AH!” Soonyoung terkejut dengan aksi tiba-tiba Wonwoo.

Tidak memberikan waktu jeda, Wonwoo langsung menggenjot lubang Soonyoung.

Di atas paha Wonwoo, Soonyoung terpental tidak karuan. Lubangnya di gempur habis karena terus-terusan menyedot penis Wonwoo.

Karena pusing dengan overstimulasi yang Wonwoo berikan, Soonyoung mengaitkan tangannya pada leher Wonwoo dan berpegangan disana. Wonwoo sendiri kini memeluk pinggang Soonyoung dan terus menghentakkan penisnya di bawah sana.

“Shhhh...baby kiss me” mereka berciuman kacau. Sedangkan hujan di luar sana tak kunjung berhenti.

.

Saat ini posisi mereka berubah, sekarang Soonyoung ikut menghadap ke depan dengan tangan dan dadanya yang memeluk stir mobil dan pantat yang sedikit menungging memberikan akses Wonwoo untuk memasukkan penisnya lagi.

TINNNNNNNNNNNNNNNNNNN

Keduanya terkejut karena saat Wonwoo memasukkan penisnya dengan kencang barusan, dada Soonyoung tanpa sengaja menekan tombol klakson.

“Sorry daddy” celetuk Soonyoung.

“Pindah ke belakang” Wonwoo menunjuk kursi penumpang di belakang. Membiarkan Soonyoung pergi duluan dengan tubuh setengah telanjang. Saat Soonyoung merayap ke belakang pantatnya otomatis menyungging dan berada di depan wajah Wonwoo. Karena gemas, di tamparnya pantat bulat Soonyoung.

“Aw! It hurts daddy” protes Soonyoung.

“Quite” Wonwoo menyusul.

Di belakang sana posisi mereka tetap sama dengan Soonyoung yang menghadap ke depan, duduk di pangkuan Wonwoo. Menggenjot sekuat tenaganya, mencari pencapaian dan nikmat dunia.

Tangannya ia tumpu di atas paha Wonwoo di kiri dan kanan agar genjotannya semakin kuat, Wonwoo pun ikut memompa pinggangnya dari bawah dengan arah belawanan membuat kegiatan sex mereka semakin intense.

Tidak puas kini Wonwoo menarik Soonyoung, di buatnya sang baby bertumpu pada lutut dan tangannya. Lutut dan tangan kanan Soonyoung menumpu pada kursi jok mobil sedangkan lutut kirinya bertumpu pada lantai mobil dengan tangan kiri yang menempel di kaca pintu mobil di depannya. Wonwoo bangkit dan menggempur Soonyoung dengan posisi “doggy style”, posisi ini membuat lubang Soonyoung semakin merekah lebar, kedutannya terlihat dengan jelas. Sebelum memasukan penisnya lagi, Wonwoo sempat menyentuh lubang berkedut itu dengan jempol tebalnya, menyumpal lubang itu dan menekan-nekannya sebentar yang memberikan efek lenguhan bagi Soonyoung.

“Ahhhhhh iya! yang itu daddy”

“Ini?” ujar Wonwoo saat memasukan penisnya lebih dalam.

“Iyahhhh ahhh terusin dad itu iya.....iyaaaaahh.. ahhh”

Wonwoo memengan pinggul telanjang Soonyoung protektif, membuat lubangnya terus menghisap penis Wonwoo di sana.

“Enak di ewe kaya gini, baby?”

“Enak daddy...suka...” balas Soonyoung yang masih bertumpu pada kaca mobil.

“Lubang kamu kecil tapi bisa nyedot kontol saya dalem begini”

“Daddy yang paksa masukin tadi kan...uhh! Mmm..dadh ah ahh!”

Wonwoo menarik wajah Soonyoung menyamping dan menciumnya berantakan sementara penisnya disana masih sibuk menerobos keluar masuk lubang Soonyoung.

“Agh ah ah ma-mau keluar lagi daddy”

“Tahan” Wonwoo dengan cepat mengambil penis Soonyoung yang menggantung dan menutup ujungnya dengan jempolnya.

“Ahh jangan di tutupin daddy~hnggg mau keluarrr”

“Tahan sebentar lagi”

Wonwoo semakin cepat menghentakan pinggulnya membuat Soonyoung semakin kacau. Ia sudah diujung namun Wonwoo tidak mengijinkannya. Ia tidak kuat, sodokan Wonwoo di belakang sana tidak memperbaiki keadaan.

“Daddy aahhh gak kuatttt.....daddd ohhh ohh o-ohh daddy please”

Soonyoung merasakan penis Wonwoo semakin bengkak di dalamnya dan ia tau sebentar lagi Wonwoo juga akan meledak.

“Tahan baby argh ahhh shh”

“Hnghh umm....ahh ahh ahh daddy pleassssse ah!”

“Baby arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”

Dengan cengkraman tangan kekar Wonwoo di pinggang Soonyoung yang semakin kuat akhirnya ia keluar di dalam lubang Soonyoung, menyemburkan sangat banyak cairan putih lengket yang bahkan tidak dapat ditampung dilubangnya dan meleleh keluar hingga ke selangkangan Soonyoung. Soonyoung sendiri sudah keluar lebih dulu 30 milisecond sebelum Wonwoo meledak. Memuncratkan cairan spermanya di atas jok mobil Wonwoo.

Soonyoung ambruk. Lemas tengkurap dengan satu kaki masih menggantung di atas lantai.

Sedangkan Wonwoo perlahan mengeluarkan penisnya yang basah berlumur spermanya sendiri yang baru keluar, menimbulkan benang tipis saat di keluarkan dari pantat Soonyoung.

“Daddy mobilnya kotor”

“Gapapa besok ke carwash”

“Hmm....” sahut Soonyoung pelan dan tertidur.

.

.

Wonwoo sampai di rumah pukul 17.30 menyapa suaminya yang sedang mendandani Sooah di depan ruang TV.

“Aduh cantiknya anak ayah udah siap mau ke mana?” ujar Wonwoo mencium pipi gembul Sooah yang duduk di atas pangkuan Soonyoung.

“Cekolah” jawab si kecil riang.

“Mana ada sekolah malam-malam” tiba-tiba Sunoo menyahut dari arah tangga menyampirkan handuk biru muda dipundaknya. Rupanya baru turun mau mandi.

“Kak nanti nangis lagi” tegur Soonyoung masih sambil mengikat kuncir rambut anak perempuannya.

“Cekolah kan pa?” Sooah menoleh meminta kepastian.

“Adek...” Panggil Wonwoo.

Sooah otomatis menoleh kembali ke arah Wonwoo yang berjongkok di depannya.

“Sini sama ayah” karena ikatan rambutnya pun sudah selesai kemudian si kecil mendekati Ayahnya, bersandar di lengan Wonwoo.

“Adek liat tangan ayah” Wonwoo munjukkan angka satu dengan jarinya.

“Umur adek kan baru segini. Baru satu tahun jadi belum bisa masuk sekolah dulu ya sayang” “Nanti kalau sudah segini” Sambungnya, kini Wonwoo menambahkan jarinya menjadi 5 ruas menunjukan angka lima. “Nah, baru adek masuk sekolah ya, nanti adek hitung sama papa kalau sudah empat kali jarinya keluar baru bilang ayah lagi kita pergi sekolah, oke?” jelas wonwoo.

“Adek nda bica hicung yah”

“Nanti malem ayah beliin buku hitungan, ayah ajarin hitung tapi di rumah dulu”

“nda cekolah syama a yin?”

“karin umurnya sudah 4 makanya boleh sekolah. Adek belum cukup jarinya”

“ohhhhhhhh tambahin yah jali adek”

“nanti kalo adek ulang tahun jarinya tambah satu, tulis di situ” wonwoo menunjuk dinding ke arah dapur yang masih ter-cat polos warna cream tanpa noda.

“ih nantyi papa mayah kalo tuyis di dinding”

“Ayah beli papan tulis nanti gantung disitu, adek catat jarinya disana”

“Papan tuyis tuh apah?”

“Buat tulis-tulis pokoknya, nanti adek pilih sendiri biar tau yang mana, oke?”

“Jadi nda cekolah?” tanya Sooah lagi, polos.

“Belum, tunggu jarinya segini” Wonwoo menunjukkan telapak tangannya yang terbuka sempurna menunjukan angka lima.

“Ohhhh ....tapi....ungg... boleh ikut a yin cekolah?”

“Belum boleh adek....” Kesabaran Wonwoo sudah di ujung.

“Melihat suaminya yang mulai kehabisan stok kesabaran, Soonyoung mengambil alih obrolan.

“Sekarang adek sekolahnya sama papa dulu di rumah, nanti buku sama mejanya dibeliin ayah, harus bangun pagi yang pinter terus kita belajar, oke?”

“Oke pa!” tanpa ragu Sooah menjawab, lebih ceria dari 10 menit yang lalu.

“Oke toss” ajak Soonyoung dan langsung di sambut si kecil riang. Wonwoo yang melihat hanya bisa terduduk lemas di karpet bulu rumahnya, mengundang cekikikan halus dari Soonyoung.


” a! aa! aa conuuuuuuu” Sooah menepuk-nepuk lengan kakaknya yang sibuk memainkan hpnya.

“yepas....” kemudian si kecil menunjukan ikat rambut di kepalanya yang putus dan terlepas menyisakan hanya satu kuncir di sebelah kiri saja yang masih rapih terikat.

Mereka sekarang sudah berada di mobil, dalam perjalanan ke Mall Kelapa Gading untuk membeli peralatan sekolahnya Sooah.

“Abang mana bisa iket rambut” jawab Sunoo.

“Iniiiiiii” Sooah mengeluarkan kotak plastik berwarna bening dari tas kecilnya yang memang tak pernah ketinggal saat ia pergi. Dasar centil.

Kotak plastik itu berisikan karet ikat rambut warna warni milik Sooah, memberikannya kepada Sunoo untuk minta diikatkan.

“Sama papa aja”

“AAAAAAAAAAAAAAA NDA MAU.....ICATIN LAMBUT ADEKK”

“Hihhhhhhhhh” Sunoo menangkup gemas pipi gembul adiknya dengan kedua telapak tangannya, membuat bibir sang adik membentuk seperti ikan, monyong dan pipinya gepeng. Yang di tangkup malah ketawa-tawa saja. Kegirangan.

“Pa, adek minta ikat rambut” panggil Sunoo kepada Soonyoung yang tengah asik entah mengobrol apa dengan suaminya yang menyetir di depan.

“nda mau nda mau nda mau cama papa”

“ribet banget wanita ini! hihh!” gemas Sunoo.

Soonyoung menoleh melihat kelakuan kedua anaknya, tertawa geli. Sooah itu lengket sekali dengan Sunoo, apa-apa selalu ingin dengan kakaknya, bahkan banyak perihal jika Sooah rewel, Sunoo lah yang bisa menenangkan dan membujuk. Beruntung Sunoo bisa sabar walaupun terkadang terdengar omelannya seorang diri di dapur.

“Belajar kak iket rambut adek”

“Belok-belok ini aku iketnya biar aja jelek sooah”

“TANTIK!” Tiba-tiba tatapan Sooah garang membuat Sunoo kanget.

“Mataaaaanyaaaaa adek! melotot gitu ntar gelinding loh ke bawah kolong”

“aa nihh” Sooah mengedip-ngedipkan matanya takut kalau matanya benar-benar menggelinding.


Di salah satu toko buku paling sering dikunjungi warga Jakarta, keluarga Wonwoo sudah berpencar masing-masing. Ah, Tidak juga sih, hanya Sunoo yang langsung menghilang ke arah rak komik sedangkan Sooah ada di gendongan Wonwoo mengikuti Soonyoung yang jalan di depannya memilih-milih pensil dan crayon warna-warni.

“Ndada forjen kah papa?”

“Frozen?” Tanya Wonwoo karena Soonyoung tak mendengar pertanyaan anaknya barusan.

“Iyaaa yang ada olaf nya yayah”

“Yang, ada frozen nggak?” Tanya Wonwoo yang sekarang sudah di samping Soonyoung.

“Ada tapi kotak pensil aja yah”

“Yaudah gapapa” “Dek, mau turun pilih kotak pensil?”

Sooah mengangguk dan Wonwoo menurunkan anaknya.

Si kecil berjongkok di depan rak yang berjejer beragam kotak pensil. Kadang berjongkok kadang berdiri, bingung sendiri mau pilih yang mana.

“Nih dek yang frozen ada tiga macem, pilih adek mau yang mana”

“Hmm boyehh dua pa?”

“Satu aja, kan mau beli meja lagi”

“Warna apa nih pa?”

“Pink”

“Ohhhh” jawab Sooah masih menimbang-nimbang pilihannya.

“Ini warna apa pa?” Tanyanya lagi.

“Biru”

“Yang ini?” Sooah menunjuk gambar salju yang ada di sebelah tokoh Elsa.

“Itu putih” Soonyoung menjawab sambil memilih alat tulis yang lain, memasukkan beberapa buku gambar juga ke dalam keranjangnya.

Disisi lain Wonwoo hanya berdiri saja memperhatikan suami dan anaknya memilih-milih.

Dalam hatinya 'kenapa jadi belajar nama-nama warna sih?' tapi tak apalah Soonyoung masih sangat sabar menjawab semua pertanyaan anaknya.

Soonyoung mengambil banyak buku mewarnai, buku belajar menulis dan behitung yang titiknya bisa diikuti Sooah dengan pensil agar terbentuk huruf dan angka yang dimaksud. Selain buku, soonyoung juga mengambil 1 kotak crayon besar dan 1 kotak pensil warna, 1 kotak pensil biasa, serutan pensil berbentuk beruang, 1 kotak kecil penghapus karakter, dan kotak pensil frozen pink yang akhirnya dipilih setelah setengah jam Sooah duduk di depan raknya.

Sekarang mereka menuju bagian ujung yang berjejer meja-meja kecil untuk anak, ada yang bisa di lipat, ada yang dari kayu dan ada yang dari plastik, semua lengkap.

Lagi-lagi Sooah dibiarkan memilih kesukaanya tapi kali ini tidak selama memilih kotak pensil. Si anak gembil langsung jatuh hati dengan meja lipat berbahan plastik dengan warna pink muda karena memiliki laci kecil di sampingnya. Sooah suka, katanya buat simpan uang jajan kalau dikasih eyang putri yang datang dari Jogja. Ada-ada aja.

Selesai berbelanja keperluan Sooah dan makan malam di mall tersebut, keempatnya kembali pulang ke rumah.


“Ehehehehehe” Sooah berguling-guling di atas kasur masih dengan pakaian yang sama saat pergi tadi.

Soonyoung di pojok ruangan sedang mengambil pakaian tidur putrinya di lemari. Sang ayah terdengar sedang berada di kamar mandi, mungkin cuci muka dan membersihkan diri karena tadi sudah duluan mengambil celana pedeknya yang biasa dipakai di rumah.

“Seneng betul adek” kata Soonyoung manarik anaknya yang sudah berguling sampai ke ujung kasur.

“Ganti baju dulu”

“Nda mau”

“Nanti mimpi buruk dek”

“Kan ada yayah yang pukul olang jahat kalo tacut bobonya”

“Iya..iya..tapi ayah gak mau temenin bobo kalo adek bau kecut belum ganti baju”

“Hmm?” Anaknya terlihat berpikir.

Sesaat kemudian Wonwoo kembali dari kamar mandi.

“Liat anakmu yah malah gulung-gulung gitu di ujung” ujar Soonyoung lelah.

Wonwoo menghampiri anaknya, langsung menggendong si kecil ke bagian kasur yang dekat Soonyoung.

“Huuuu telbang~~” ujar Sooah saat di gendong Wonwoo.

“Gak ada capek-capeknya ya dek”

“Besok cekolah pa?”

Sekolah lagi hadehhh....

“Iya makanya cepet papa gantiin bajunya, cepet tidur jadi cepet juga besok bangun pagi sekolah sama papa”

Setelahnya Sooah berbaring telentang pasrah di atas kasur. Gaya andalan saat dirinya digantikan pakaian oleh Soonyoung.

Soonyoung melepas pelan pakaian anaknya satu persatu. Membuat sang anak bergidik terkena tiupan dingin dari pendingin kamar mereka yang alhasil membawa gelak tawa geli dari Soonyoung dan Wonwoo.

Soonyoung mengusap tubuh anaknya dengan tissu basah khusus balita, mengeringkannya kemudian membaluri Sooah dengan minyak telon, anaknya itu tidak bisa tidur kalau tidak diberi minyak telon. Bisa gelisah semalaman. Kemudian memakaikannya piyama warna putih dengan gambar beruang-beruang hijau kecil di permukaannya.

Setelah selesai di tepuknya pantat si balita centil.

“Udah dek” tak perlu menunggu sahutan Sooah, sudah pasti ia akan langsung bergulung dalam bedcover kasur lagi, menyusul ayahnya yang sudah ada di sana duluan berbaring menyalakan tv yang ada di depan kasur.

Karena sudah aman sekarang giliran Soonyoung yang mengganti pakaian rumahnya.

Ketika kembali dari kamar mandi ia dihadiahi pemandangan Sooah yang sudah berada di atas perut Wonwoo, menidurkan tubuh kecilnya seperti katak.

“Ada-ada aja kelakuan” kata Soonyoung yang ikut bergabung ke atas kasur dengan terlebih dahulu mengecup pipi suaminya yang sedang menepuk-nepuk Sooah yang sepertinya sudah hampir tertidur. Ada senyum di sana, di wajah Wonwoo walaupun matanya masih fokus ke arah tv.

“Tidur dia yah?” Tanya Soonyoung menarik selimut.

“Masih tidur-tidur ayam”

“Kecapek-an itu nangis terus dari pagi, sama kakaknya juga di ajak main terus”

“Biar aja yang puas-puasin dia main asal gak sakit gak rewel”

“Mau di sekolahin kapan emangnya yah?”

“Pas lima tahun aja yang langsung TK gak usah paud biar belajar sama sayang aja ya?”

“Kenapa gitu? Enak yah biar cepet pinter”

“Gak sanggup aku yang liat dia cepet gede, biarin aja dia kecil segini terus”

“Ih ayah mana bisa begitu”

“Coba liat pipinya itu nyembul kemana-mana kaya sayang kalo tidur, siapa yang mau kalau dia cepet gede”

“Gapapa yah kalau keturunan aku ntar gedenya juga tetep gemes”

“Iya sih.....”

Tak lama si bungsu ikut menyusul, menerobos pintu kamar orang tuanya. Langsung menginvasi bagian tengah kasur antara Wonwoo dan Soonyoung.

“Hmm sudah ku duga” kata Sunoo.

Suara pintu yang di buka kencang barusan dan guncangan kasur saat Sunoo naik, ternyata membangunkan adiknya yang tadi sudah sempat terlelap.

“Hehe aa” tidak menangis ataupun rewel, sang adik malah terlihat senang dengan kedatangan kakaknya.

“Abaaaaang dek abaaaaang...udah di ajarin terus loh”

Sooah menggelengkan kepalanya yang masih di atas dada wonwoo.

“Aa...aa cunooo..” katanya lagi geli.

“Capek aku kasih tau” balas Sunoo yang kemudian langsung membalikkan badannya menghadap Soonyoung, memeluk papa kesayangannya itu yang di balas pelukan juga oleh Soonyoung.

“Kakak orang jawa” kata soonyoung menepuk-nepuk punggung anaknya.

“Hmm iya iya” jawab sunoo yang semakin dalam menenggelamkan kepalanya dipelukan papanya.

“A...aa..aa cunoo” Sooah turun dari perut ayahnya dan memanggil kakaknya yang memunggunginya.

“Apa?” Kata Sunoo berbalik badan.

Cup!

Pipinya di cium Sooah kecil.

“Ihhhh centil banget adek! Awas ya kalo gede cium-cium cowok kayak gitu! Abang tonjok cowoknya!” Ujar Sunoo yang menarik adiknya ke dalam pelukannya. Gemas.

Sang adik tertawa-tawa girang mendapatkan gelitikan di perut kecilnya yang bucit.

Walaupun wonwoo masih fokus menonton film di tv namun ia bisa merasakan hangat di kamarnya saat ini.

Keluarganya berkumpul. Untuh dan bahagia di bawah atap rumah sederhannya. Memberikan afeksi cinta satu sama lain. Tidak ada hal lain yang Wonwoo butuhkan di dunia ini selain mereka bertiga berada disisinya.

.

.

Malam itu, keempatnya tertidur pulas bersama. Adek yang dengan lelap tertidur di ketiak Ayahnya dan Kakak yang dipeluk hangat oleh Papanya.

.

Having somewhere to go is home. Having someone to love is family. And having both is a blessing

Good night everyone. Sweet dreams.

.

.

THE END ❤️

.

.

“Aw aw sakit yang!” Soonyoung mencubit lengan suaminya.

“Buruan ih makanya”

“Sabar dong, ayah masih nyisir rambut nih”

Soonyoung meninggalkan Wonwoo di kamar dan menuju pintu depan untuk bersiap-siap. Saat melewati ruang tengah ia melihat jejeran tiga orang yang sedang berbaring di depan TV, ada ibunya yang sudah terlelap dengan tangan yang sesekali tanpa sadar menepuk-nepuk Sooah yang juga tertidur dan Sunoo yang masih terjaga menonton serial kartun berbahasa Jepang di TV.

“Kak” bisik Soonyoung dari kejauhan, Sunoo hanya menoleh karena lengannya yang di pakai si kecil untuk tidur.

“Papa pergi dulu ya” masih berbisik.

Sunoo mengangguk pelan agak tidak membangunkan nenek dan adiknya. “Hati-hati pa” ucapnya tak bersuara bersamaan lambaian tangan Soonyoung.

Tak lama Wonwoo menyusul keluar kamar menghampiri Sunoo dan mengusak puncak kepala anaknya dan meninggalkan ketiga orang itu untuk menuntaskan tidur siangnya yang kesorean.


“Kemana nih yang?” Wonwoo menggandeng tangan Soonyoung berjalan menyusuri jalan.

“Taman Hama Rikyu aja yah deket”

“Main yang jauh kali”

“Udah disana aja ayah, kan deket pasar Tsukiji biar pulangnya bisa belanja ikan sama sayuran”

“Yee ujung-ujungnya tetep aja ngajak ke pasar” sahut Wonwoo.

“Nggak mau?” Soonyoung langsung menghentikan langkahnya, menghadap Wonwoo dengan tatapan merajuk.

“Mauuuu..mau sayangku” bujuk Wonwoo lagi menarik tangan Soonyoung dan mencium punggung tangan suaminya.

“Hmm”

“Jangan ngambek ayuk” Wonwoo menarik tangan suaminya melanjutkan perjalanan ke Statiun Shiodome. Dari rumah Soonyoung ke Stasiun memakan waktu 16 menit jika berjalan santai. Kemudian dari sana mereka akan naik kereta di jalur JR Yamanote Line selama tiga menit dan kemudian turun di Stasiun Sinbashi.

Taman Hama Rikyu merupakan taman warisan budaya Jepang, selain memiliki nilai histori disana juga banyak dihiasi oleh bunga sakura, batang pohon keyki dan gingko menjadikan pemandangan warna warni di kota Tokyo menjadi semakin indah.

Soonyoung dan Wonwoo sampai disana pukul 4.40 sore, udaranya sejuk dan tidak terlalu ramai membuat perjalanan mereka terasa menyenangkan. Masih bergandengan tangan, keduanya menyusuri jembatan kecil yang melitang di atas kanal sungai kecil di Taman Hama Rikyu, mengambil beberapa foto dan berbagi cerita-cerita ringan tentang keluarga kecil mereka. Suasana yang sangat nyaman.

“Bersih banget ya yang”

“Iya jadi betah”

“Kenapa dulu sayang nggak mau balik ke sini aja waktu di ajak sama bapak ibu?”

“Kan kuliah yah”

“Bener itu doang?”

“Ya......enggak sih” kata Soonyoung yang sekarang menyenderkan kepalnya di dada Wonwoo, masih memandangi sungai kecil di depannya.

“Terus?”

“Kan aku ada pacar waktu itu, gak sanggup deh LDR kayanya” jawab Soonyoung enteng.

“Seokmin?”

“Menurut ayah?”

“Bucin....”

“Idih biarin, namanya juga punya pacar. Emang ayah!” jawab Soonyoung lagi, sewot.

“ayah kenapa?”

“Belajaaaaaaaaaaar mulu, itu dulu buku sama jurnal apa gak bosen di pandangin ayah terus”

“Yang enak kali ya kalo nyeburin kamu ke sungai ini” kemudian Wonwoo menarik Soonyoung ke tepian sungai, menarik-narik suaminya yang sudah panik takut terpeleset masuk ke sungai.

“YAHHH!!! YAH!! IH YAAAAHHHH! AYAH!” Soonyoung terus mencengkram sweater ungu milik wonwoo, ibarat nyawanya bergantung pada kain hangat itu.

Melihat suaminya yang sudah ketakutan Wonwoo kemudian menarik Soonyoung ke dalam dekapannya. Memeluk yang lebih kecil sambil terus tertawa bahkan membuat Soonyoung yang berada dalam pelukannya merasakan getaran tubuh Wonwoo yang masih terbahak-bahak.

“Iseng banget wonu!” Soonyoung memukul dada suaminya.

“Rasain!” dengan wajah mengejek lagi-lagi Wonwoo menggoda Soonyoung, jelas membuat suaminya itu kembali merajuk.

“Jelek gitu mukanya di tekuk”

“Bodo” ujar Soonyoung melepas pelukan Wonwoo.

“Sini ih ngapain jauh-jauh” belum sempat pergi, tangan Soonyoung kembali di tarik Wonwoo dan dengan cepat Ayah dua anak itu mendaratkan ciumannya di bibir Soonyoung.

Diciumnya lembut bibir manis suaminya yang merajuk, membisikan kata cinta di setiap lumatannya. Ucapan terimakasih yang tidak ada henti-hentinya, untuk Soonyoung yang selalu sabar dan setia mendampingi Wonwoo.

Sore itu taman Hama Rikyu terlihat lebih indah, entah karena bunga sakura yang semakin bermekaran atau cinta Soonyoung dan Wonwoo yang semakin dalam.

.

.

Rumah itu dikelilingi oleh pohon-pohon hijau yang rindang, rumah dengan pondasi kayu Hinoki memberikan kesan natural dan sejuk. Udara terasa segar menerpa kulit, berbeda jauh dengan asap dan debu di Jakarta yang membuat tingkat stress semaking meningkat.

Soonyoung keluar dari taxi bandara sambil menggendong Sooah, balita itu masih tertidur pulas dengan pipinya yang tersandar dibahu Soonyoung, menyembul seperti bakpao yang baru dikeluarkan dari panci kukus. Di usapnya lembut punggung putri kecilnya itu agar tetap merasa nyaman saat digendong.

Di sisi lain Sunoo membantu Wonwoo dan supir taxi mengeluarkan semua koper mereka. Total ada empat koper, satu ransel dan satu kereta dorong Sooah untuk liburan selama 2 minggu ini.

Liburan panjang di kampung halaman Soonyoung. Jepang.

Soonyoung memiliki darah campuran, ayahnya adalah warga berkebangsaan Jepang dan Ibunya adalah orang asli Depok. Ia lahir dan bersekolah di Jepang, dulu Ibu Soonyoung pergi ke Jepang untuk sekolah tata boga sampai akhirnya bertemu Ayahnya yang bekerja sebagai pengusaha kontraktor. Hingga pada usia 15 tahun Soonyoung memutuskan untuk pindah ke Jakarta bersama neneknya, menyelesaikan Sekolah Menengah Atas dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi di sana.

Namun, saat kuliah Soonyoung kembali pindah, Neneknya meninggal dunia saat ia berusia 18 tahun atau tepatnya saat Soonyoung berada di semester dua, waktu itu Ibu dan Ayah Soonyoung datang dari Jepang mengajaknya kembali tingal di sana, namun ia menolak dengan alasan sayang dengan kuliahnya yang sudah berada di tengah jalan, beruntung orang tua Soonyoung bukanlah orang tua yang memaksakan kehendak. Sejak remaja Soonyoung sudah diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri dengan tetap mematuhi norma-norma di masyarakat dan bertanggung jawab. Pesan dari orang tuanya itulah yang selalu menjadi pegangan teguh Soonyoung selama ini.

Selama kuliah Soonyoung selalu mendapat kiriman uang dari orang tuanya, biaya kuliah, biaya kos dan makan sehari-hari, semua berkecukupan. Namun, tidak semerta-merta Soonyoung hanya berpangku tangan pada orang tuanya. Ia memutuskan untuk bekerja paruh waktu di salah satu toko roti di dekat kampusnya untuk menambah uang sakunya yang mungkin kapan saja bisa dibutuhkan mendadak, berbekal ilmu dari sang Ibu membuat roti ia dapat diterima bekerja dengan mudah.

.

.

Di toko itulah Soonyoung pertama kalinya bertemu Wonwoo, kakak tingkatnya yang berada dua tahun di atasnya. Waktu itu Soonyoung masih berpacaran dengan Seokmin dan Wonwoo pun sedang sibuk-sibuknya mengurus KKN dan rencana pengajuan judul skripsi. Mereka tidak satu jurusan namun sering bertemu karena Wonwoo yang setiap pagi mampir ke toko roti tempat Soonyoung bekerja. Membeli satu bolu gulung dan satu roti sosis, selalu jenis roti itu-itu saja yang Wonwoo beli sampai-sampai setelah 3 bulan berjalan Soonyoung tidak lagi bertanya pesanannya dan langsung menyiapkan roti milik Wonwoo.

Karena penasaran sudah satu semester ini si Kakak tingkat tidak merubah pesanannya sama sekali, akhirnya Soonyoung memberanikan diri untuk bertanya,

“Gak mau nyoba roti lain, kak?”

“Gak suka roti rasa aneh-aneh. Saya juga gak bisa sarapan banyak kalau pagi, tapi kalau gak sarapan juga ada magh jadi ya gitu. “ ujar Wonwoo dulu saat berhadapan Soonyoung di depan kasir. Jawaban yang cukup panjang dan tak terprediksi, padahal Soonyoung cuma kepo tapi dijawab lengkap oleh Wonwoo.

Dari situ pula Soonyoung mulai merekomendasikan makanan yang cocok untuk sarapan, mulai dari bubur ayam Bandung di kompleks perumahan seberang kampus sampai toko buah-buahan yang menyediakan buah segar yang sudah bersih dan siap santap.

Saat Soonyoung mendapatkan shift sore, paginya pun pasti akan disempatkan pergi sarapan bersama Wonwoo. Walaupun, yang sebenarnya orang asli Indonesia itu adalah Wonwoo tapi pengetahunnya tentang jalanan Ibukota masih kalah jauh dari Soonyoung. Wonwoo asli Yogyakarta, merantau ke Jakarta untuk kuliah. Tipikal anak yang malas buat keluar rumah kalau tidak penting-penting sekali dan lebih memilih untuk di kamar saat liburan.

Satu tahun kenal dengan Wonwoo dirinya merasa nyaman, ada orang lain yang bisa ia ajak curhat dengan leluasa tanpa harus merasa gengsi. Waktu itu hubungan Soonyoung dengan Seokmin sedang diterpa masalah, Seokmin di jodohkan oleh anak teman orang tuanya. Bukan karena Soonyoung itu tidak pantas, namun orang tua Seokmin yang memang sudah berjanji untuk menikahkan Seokmin dengan anak temannya itu, apalagi orang tua dari calon Seokmin sudah meninggal dunia, rasanya akan sangat bersalah jika janji yang sudah dibuat belasan tahun lalu tidak bisa ditepati.

Saat akhirnya memutuskan untuk berpisah mereka berjanji untuk tetap menjaga pertemanannya, bagaimanapun Seokmin pernah menjadi orang terdekat Soonyoung dan sebelum mereka benar-benar berpisah Soonyoung masih menyempatkan diri untuk berpamitan dengan kedua orang tua Seokmin yang sebenarnya juga menyayangi Soonyoung. Hanya saja jalan mereka tidak bisa bersama.

Disaat itu, ada Wonwoo yang selalu menemani Soonyoung. Ada sedikit sesak di dada Wonwoo melihat pelayan toko roti itu tidak tersenyum ceria seperti biasanya. Dari sana Wonwoo berjanji akan terus berada bersama Soonyoung dan terus membuatnya tersenyum hingga akhir hidupnya.

Bukan omongan bocah mahasiswa saja, Wonwoo benar-benar memenuhi janjinya sendiri. Ia menyelesaikan KKN, PKL dan Skripsinya tepat waktu. Mencari pekerjaan dan menabung dengan giat kemudian melamar Soonyoung satu tahun kemudian saat Soonyoung sedang mengurus Seminar Akhir.

Kalau saja saat itu rasa cinta Soonyoung pada Wonwoo tidak sama besarnya , mungkin bisa saja tumpukan bahan skripsi, mesin printer lengkap dengan tinta injeksinya akan melayang ke kepala Wonwoo. Bagaimana tidak, waktu itu Wonwoo baru pulang dari kantor dan langsung menuju kos-kosan Soonyoung, membawakan dua mangkok bakso telur untuk Soonyoung yang sedang memperbaiki skripsnya hasil revisi tadi pagi oleh dosen Pembimbing dan tidak ada hujan tidak ada badai secara tiba-tiba saja Wonwoo mengajaknya menikah.

Tidak masuk akal bagi Soonyoung. Dia heran dan kesal, itu bukan cara lamaran yang ia idam-idamkan selama ini.

.

.

.

Dua bulan setelahnya lamaran itu akhirnya di terima ketika Soonyoung mengajak Wonwoo makan malam setelah acara wisudanya. Dan, dimulai lah kisah mereka.


“UWAAAAAAA” teriak Sunoo heboh setelah selesai mengeluarkan koper-kopernya, berlari bebas masuk ke halaman rumah orang tua Soonyoung.

“Sobooooooooooooo~Ohayō gozaimasu” (Nenek, Selamat Pagi) Salam Sunoo dengan bahasa Jepang seadanya.

Terdengar suara langkah kaki pelan dari derit lantai kayu di dalam rumah.

“Ohay- Ohhhhhh cucu nenek” Wanita dengan baju dress panjang bermotif bunga-bunga itu terkejut melihat kedatangan cucu pertamanya, memang sejak kemarin Soonyoung tidak mengabari Ibunya sama sekali perihal kedatangannya. Ia ingin memberikan surprise kepada wanita kesayangannya itu.

Pelukan haru setelahnya, Sunoo di peluk lekat oleh sang nenek. Banyak ciuman yang ia terima di sekujur wajahnya.

“Sobo, sehat?” kata Sunoo masih memeluk neneknya yang sekarang lebih rendah darinya.

“Sehat sayang, papa sama ayahmu mana?” tanya neneknya lagi sambil mengusap rambut cucunya.

“MAHHHHHHHHH” Soonyoung masuk dengan tergesa melihat Ibunya, sambil menggendong Sooah yang sekarang sudah terbangun karena gerakan tiba-tiba Soonyoung.

Dipeluknya sang Ibu erat, air mata tidak bisa Soonyoung bendung. Rindu, haru, bahagia menjadi satu. Ada Sooah disana yang ikut tenggelam dalam pelukan nenek dan papanya. “Mamah sehat?” tanya Soonyoung masih merangkul pundak Ibunya.

“Sehat sekali, tambah sehat lihat kamu datang” balas Ibunya sambil menyentuh pipi sang anak. “Ini Sooah? putri cantiknya nenek?” kata Ibunya Soonyoung lagi, mengambil tangan kecil Sooah yang melingkar di leher papanya.

Sooah hanya diam masih mencerna apa yang terjadi dan dimana dirinya sekarang, memandang Soonyoung kemudian Neneknya bergantian.

“Ini nenek dek, salim ayo” ujar Soonyoung mengarahkan anaknya yang kembali memeluk lehernya.

“Masih takut Soon belum hapal” kata Ibunya Soonyoung tersenyum maklum. “Adek, nenek ada mochi loh di dalem ikut yuk?” ajak Ibunya lagi, merentangkan tangan untuk menggendong Sooah.

“KUE DEK! AYOOOO SAMA ABANG JUGA” ujar Sunoo yang masih membuka tali sepatunya, menjadi lebih excited mendengar ada kue mochi di rumah neneknya.

“moci?” kata Sooah kecil.

“Iya ayuk sama nenek”

Kemudian dengan pelan Sooah mendorong tubuhnya ke depan dari gendongan Soonyoung, menyambut rentangan tangan neneknya yang siap menyambut tubuh kecil Sooah.

“Denger makanan aja langsung mau” cicit Sunoo.

“Kamu nih kak” tawa Soonyoung menyempil pipi anaknya.

Tak lama Wonwoo menyusul dengan 2 koper sisa yang belum di angkat.

“Bu” sapa Wonwoo mencium tangan Ibu mertuanya.

“Gantengnya anak ibu” kembali pelukan hangat diberikan Ibu Soonyoung dan ciuman halus di puncak kepala Suami anaknya itu.

“Loh adek sudah bangun?” tanya Wonwoo geli melihat anaknya yang sudah nyaman digendongan Ibu mertuanya. Memang hubungan darah itu tidak bisa dipungkiri, walaupun hanya bertemu melalui videocall dan belum pernah bertemu secara langsung namun ikatan batin pasti tetap akan terasa.

“Ayuk ayuk masuk istirahat nak Wonwoo pasti capek haduhhh” kemudian Ibunya menarik lengan Wonwoo dengan tangan kirinya untuk masuk ke dalam, dan Sooah digendongannya di tangan sebelah kanan. Soonyoung hanya tersenyum melihat pemandangan hangat tersebut dari belakang. Hidupnya sempurna karena mereka.

.

.

.

Sunoo? Jangan ditanya dia sudah masuk ke dalam rumah duluan sejak 5 menit lalu.

“Papa, nanti Sunoo pulang jam 2 soalnya gak ada les” kata Sunoo sambil mengunyah lontong sayur yang dibelinya dari mamang yang kebetulan lewat di depan rumah.

“Kakak ntar bisa mampir beli makan di jalan nggak pas pulang? Papa nggak enak badan nih kak nggak kuat mau masak”

“Papa sakit?” ada sekelebat sedih dari mata Sunoo yang menatap Papanya di seberang meja.

“Ini perutnya keram kak, pinggang papa juga sakit tapi nggakpapa kok” senyum lembut Soonyoung berusaha menenangkan anaknya.

“Apa aku izin aja ya pa?”

“Eh! jangan kak ish kamu udah mau ujian”

“Tapi papa sakit gitu nggak ada yang jagain”

“Masih kuat, papa paling rebahan aja kak cuma perlu istirahat banyak-banyak adeknya kamu nih manja udah mau deket harinya” kata Soonyoung lagi mengelus perutnya yang sudah sangat besar sambil tertawa.

“Dia kalo nakal nanti aku marahin pa”

“Adeknya tuh disayang dijagain jangan dimarahin kak”

“Kalo dia nakal gak bisa dikasih tau ya aku marahin pa, mesti tau dia tuh papa sampe sakit begini waktu hamil dia. Awas aja kalo bandel pas lahir aku pites palanya ku puter sampe pusing”

“KAKKK YA AMPUN HAHAHAHA” Soonyoung nyaris terpingkal mendengar celoteh anak pertamanya ini.

“hehehe”

Setelahnya mereka makan dengan santai diiringi obrolan ringan tentang sekolah dan teman-teman Sunoo.


“Aku berangkat ya, Pa” ujar Sunoo saat mengamit tangan papanya untuk salim.

“Hati-hati sayang, nanti langsung pulang ya”

“Oke pa”

Kemudian Sunoo menaiki motor matiknya dan berjalan keluar pagar menjauh dari rumah.

Soonyoung kembali ke dalam rumah dengan pelan menutup pintu rapat. Geraknya sudah tidak seleluasa biasanya, entah kenapa sejak semalam perut bagian bawahnya terasa mengencang, nyeri dan juga keram.

“Dek, temanin papa hari ini ya jangan bandel-bandel nanti dimarahin kakak Sunoo” ujar Soonyoung mengelus perutnya.

Soonyoung kembali ke ruang makan membereskan sedikit piring kotor sisa sarapannya tadi bersama Sunoo.

Rumah terasa sepi pagi ini, biasanya sudah ada Jihoon yang datang mampir bersama anaknya Jay. Namun, karena ibu mertuannya yang sedang sakit jadi sejak kemarin sore Jihoon sudah berangkat ke Bogor.

Masih dua hari lagi sebelum Wonwoo pulang, absennya keberadaan sang suami ternyata benar-benar membuat suasana berbeda di rumah. Ribut pertengkarang kecil anaknya dan Wonwoo dengan hal-hal yang menurut Soonyoung tidak penting malah membuatnya rindu saat ini.

Sampai pukul 13.00 Soonyoung masih berbaring di sofa di depan tv, entah mengapa rasanya tulang-tulang di badan terasa ngilu.

TV menyala namun yang menonton malah sibuk mengusap minyak kayu putih di perut buncitnya, mengangkat baju kaos longgarnya hingga sebatas dada agar mudah melumuri minyak dengan wangi daun eucalyptus itu, wangi yang sedikit memberikan kengahatan dan rasa tenang bagi Soonyoung.

“Dek............” tiba-tiba air mata menetes di pipi Soonyoung, dirinya terisak.

“Yang pinter atuh dek, papa takut nggak ada ayah.....” perutnya terasa sangat keram, mulas yang benar- benar membuatnya kesakitan.

Tangannya kini meremas selimut yang ia bawa ke sopa, menahan sakit sambil terus menangis.

Tidak bisa dipungkiri Soonyoung sebenarnya jauh lebih takut saat Wonwoo tidak ada di sisinya, hanya saja ia tidak boleh egois. Pekerjaan Wonwoo itu lebih penting karena dari pekerjaan itulah Soonyoung dan Sunoo bisa hidup serba berkecukupan seperti sekarang. Ia tidak ingin suaminya khawatir saat menjalankan tugasnya jika Soonyoung bersikap manja, padahal bisa saja ia merengek kepada Wonwoo tempo hari untuk tidak pergi dan bisa ia jamin tanpa berpikir dua kali pun Wonwoo pasti akan langsung membatalkan tiket dan rencana perjalanan dinasnya yang sudah di buat oleh Juni.

Siang ini Wonwoo belum ada meneleponnya lagi, seperti yang sudah Soonyoung duga jadwal Wonwoo hari ini akan sangat padat, lagi-lagi Soonyoung tidak ingin egois, ia tidak mau mengeluh akan sakitnya pada Wonwoo saat ini.

Setengah jam berlalu cengkramannya pada selimut semakin kuat, rasa sakit di perutnya tidak ada tanda-tanda mereda. Peluh sudah membasahi seluruh kening dan tubuh Soonyoung, baju kaosnya sudah lepek karena keringat yang meresap.

Berusaha bangkit perlahan dari sopa namun yang Soonyoung dapatkan malah terjatuh dari pijakannya. Kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya, rasanya seluruh tulang Soonyoung menyusut dan setiap gerakan membuat sendi-sendinya ngilu, perutnya terasa mulas luar biasa dan ia yakin ini sudah saatnya, kontraksinya terjadi hari ini 10 hari lebih cepat dari prediksi dokter Kim.

Dengan isakan tangis yang kini sudah tak bisa ia tahan lagi, Soonyoung berusaha menyeret tubuhnya dilantai untuk sampai ke nakas di sebelah tv untuk mengambil handphonenya.

Memegangi perut bagian bawahnya Soonyoung terus mengesot di atas lantai dingin rumahnya. Jarak dua setengah meter di depannya terasa begitu menyakitkan.

Soonyoung tahu ini belum waktunya Sunoo pulang sekolah, masih ada setengah jam lagi untuk anak sulungnya kembali ke rumah. Namun, tidak ada lagi yang bisa Soonyoung lakukan. Ia membutuhkan Sunoo sekarang.

Ada dua dering singkat sebelum teleponnya diangkat.

“Halo~ papa aku lagi beli baso di mang usay” jawab Sunoo di seberang sana.

Menarik napasnya dalam Soonyoung berusaha meredakan tangisnya tak ingin sang anak merasa panik.

“Kakak sudah pulang sekolah?”

“Udah pa, pulang cepat guru Kimianya nggak masuk. Papa mau nambah siomay?”

“Enggak kak” “Kak.......boleh pulang sekarang sayang?”

“Pa-pa.....ke-kenapa?” tiba-tiba tubuh Sunoo membeku menyadari ada yang berbeda dari suara Papanya.

“Perut papa sakit kak”

“Aku otw pa”

“Jangan ngebut ka-...”

Panik langsung menyerang Sunoo sampai uncapan terakhir dari Papanya saja tidak sempat ia dengar karena buru-buru menutup telepon. Beruntung dua bungkus bakso pesanan Sunoo sudah siap, satu lembar uang lima puluh ribuan langsung di taruhnya di gerobak Mang Usay tanpa peduli kembalian dan teriakan mamang penjual bakso yang memanggilnya. Motor Sunoo sudah keburu melaju cepat.


BRAAKKK

“PAPAAA !” Sunoo dengan kasar membuka pintu rumahnya, berlari menuju ruang tengah.

Panik semakin menggerogoti perasaan Sunoo saat melihat papanya terduduk di atas lantai bersandar di lemari nakas, memegangi perutnya dengan wajah meringis dan keringat yang bercucuran.

“Pa...papa kenapa pa?!!!” Sunoo langsung terduduk di depan papanya, merangkul pundak yang sedang kesakitan.

“Sa-sakit kak, bantu papa.....” rasanya hampir seluruh kewarasan Soonyoung menguap. Ia tidak bisa berpikir tenang lagi. Sakit yang ia rasakan semakin menjadi setiap menitnya.

“Adek?”

Hanya anggukan yang bisa Soonyoung berikan sebagai jawaban. Benar, ini kontraksi yang asli. Ia bisa jelas merasakannya.

“Papa, pegang tangan Sunoo. Papa pindah dulu ke sofa ayo pa” dengan perasaan yang tidak karuan Sunoo berusaha sekuat tenaga menarik Papanya berdiri, memapahnya ke sofa agar lebih nyaman. Lalu ia berlari ke dapur mengambil segelas air putih untuk Soonyoung.

Setelah satu tegukan oleh Soonyoung, Sunoo berlari ke kamar orang tuannya lagi.

Sunoo bingung. Sunoo takut.

.

.

.

“Kak..”

“AYAHHH......” Sunoo menangis ketika mendengar suara ayahnya di telepon.

“Kak? Kakak kenapa nak?” mendengar isak tangis anaknya Wonwoo langsung pamit dari hadapan atasannya yang sedang menyantap makan siang.

“Yah....papa.....” hiks. “Yah.................papa.........papa sakit.......adek.......”

“Kakak tenang, tarik napasnya. Hapus air matanya kak”

Sunoo dengan cepat menarik napas dan mengusap air matanya.

“Papa mau melahirkan yah, kesakitan di rumah. Sunoo baru pulang sekolah masih di jalan barusan di telepon papa. Sunoo bingung yah takut....” kembali air mata jatuh dimata anak sulungnya.

Seperti dijatuhi oleh bola besi ratusan kilogram, dada Wonwoo tiba-tiba terasa sesak. Ia terkejut, inilah hal yang paling ia takutkan. Kontraksi Soonyoung terjadi saat ia jauh di luar kota, tidak berada di sisi Soonyoung di saat paling krusial.

Dengan cepat ia harus berpikir jernih, Soonyoung dan Sunoo membutuhkannya. Ia harus kuat.

“Kak...dengar ayah”

Di seberang telepon Sunoo mengangguk walaupun ayahnya tidak bisa melihat.

“Kakak dimana sekarang?”

“Di kamar ayah”

“Kakak ke lemari yang ayah kasih tau kemarin. Ambil tas yang sudah disiapin yang isinya perlengkapan adek”

“Udah yah”

“Sekarang cek semua pintu, jendela, kompor, microwave, kunci dan matikan semua ya kak”

“Iya yah” Sunoo berjalan keluar kamar ayahnya, melakukan semua perintah dengan cepat sambil tangan kanan memegang telepon yang masih terhubung dan tangan kiri menenteng tas perlengkapan adiknya.

Saat menuju dapur Sunoo sempat melewati Soonyoung yang masih meringis kesakitan.

“Kakak ambil kunci mobil ayah di dinding nakas sebelah tv, masukan tas tadi di mobil. Kakak antar papa ke rumah sakit ya, nak. Pelan-pelan jangan ngebut. Kakak itu pengganti papa, ingat pesan papa tempo hari. Tenang.”

“Ayah yakin aku boleh bawa mobil ayah?”

“Iya, boleh kak” “Bawa mobilnya lebih pelan dari waktu kita ke puncak kemarin ya kak”

Tidak menjawab Sunoo langsung berlari menyambar kunci mobil ayahnya, membuka garasi dengan cepat, menyingkirkan motornya asal dan mengeluarkan mobil dari garasi. Tas adiknya ia lempar ke jok belakang. Kursi penumpang di mundurkan agar lebih luas untuk Soonyoung dan senderannya dibuat lebih rendah.

Setelah itu Sunoo kembali ke dalam rumah.

“Kakak bisa bantu papa keluar?”

“Bisa yah”

“Angkat papa pelan-pelan ya kak. Teleponnya ayah matikan 5 menit dulu, ayah telepon om Juni buat susul kakak. Nanti ayah telpon kakak lagi, sebentar aja nak”

“Iya yah” saat sambungan terputus Sunoo langsung memasukan handphonenya ke dalam kantong celana sekolahnya.

.

.

.

“Papa, pegang Sunoo ya...kita ke mobil sekarang”

Soonyoung tidak bisa menjawab apa-apa lagi, ia menurut mengikuti anaknya. Menyandarkan tubuhnya yang di rangkul kuat oleh Sunoo. Dengan sangat pelan keduanya berjalan ke mobil.


Wonwoo bergegas kembali ke meja makan tempat rekanan dan atasannya tadi makan siang. Memohon izin untuk kembali ke Jakarta saat ini juga karena suaminya yang akan melahirkan, dengan sangat dimaklumi Wonwoo diizinkan untuk meninggalkan pekerjaan di Malang yang sebenarnya masih ada hingga besok.

Namun, rasa kemanusiaan berada di atas segalanya dan bersyukurlah Wonwoo memiliki atasan dan rekan kerja yang memiliki rasa itu.

Ia bergegas kembali ke hotel bersama Seungcheol yang dengan suka rela mau mengantarnya hingga nanti ke bandara. Wonwoo sudah menelpon Juni di kantor untuk menyusul anaknya di rumah sakit, Jihoon juga akan langsung menuju rumah sakit dari Bogor saat mendengar Soonyoung akan melahirkan.

Semua benar-benar terjadi dalam lima menit saat handphone Sunoo yang berada di stand phone dashboard mobil kembali berdering.

“Ayah, Sunoo pake handsfree

“Loudspeaker kak”

“Udah yah”

“Sayang..... sayang denger aku ya, gak usah di jawab. Sayang tenang di sana sama kakak. Ayah pulang sebentar lagi nemenin sayang-...”

Belum sempat selesai Wonwoo berbicara Soonyoung kembali terisak mendengar suara suaminya. Ada hangat di hati Soonyoung saat suara berat itu menyapanya.

“Shhh kuat ya sayang, sayang itu hebat. Ada kakak yang jagain, ayah bangga sama kalian berdua. Adek.....adek juga kuat ya, sabar ya sayang sebentar lagi ketemu sama ayah, papa sama kak sunoo”

Setengah mati Sunoo menahan tangisnya, semua ia tahan di tenggorokan. Ia tidak boleh lemah, ia pengganti ayahnya.

.

.

Di tempat lain Wonwoo sibuk memesan langsung tiket pesawat tercepat yang ada untuk tujuan Jakarta saat ini. Tuhan kali ini mengabulkan doanya disepanjang perjalanan dari hotel ke bandara barusan karena masih ada seat kosong pukul 15.00 yang akan take off sebentar lagi. Berpamitan seadanya kepada Seungcheol, Wonwoo dengan terburu-buru check in dibarisan maskapai penerbangannya. Semuanya ia lakukan tanpa memutus sambungan teleponnya dengan Soonyoung dan Sunoo.

Pukul 14.50 Sunoo sampai di rumah sakit dan langsung di arahkan ke ruangan yang sudah disiapkan sebelumnya oleh dokter Kim. Sunoo sempat menelpon dokter Kim saat ayahnya tadi mematikan telepon. Semua Sunoo lakukan sesuai arahan ayahnya.

Soonyoung di bawa menggunkan kasur pasien, sakitnya tidak kunjung mereda malah setiap 15 menit sekali kontraksi menguat dan rasanya perut bagian bawah semakin mengencang. Saat diperikasa ternyata Soonyoung sudah berada di pembukaan 6 yang tandanya kurang dari empat jam lagi Soonyoung akan melahirkan

Di sisi kasurnya Sunoo menggenggam tangan Soonyoung, berusaha menyalurkan semangat dan kekuatan untuk sang papa.

Remasan tangan Soonyoung begitu kuat hingga rasanya seperti hatinya juga ikut diremas. Sunoo tidak tega melihat papanya begitu kesakitan.

Dua jam berlalu soonyoung sudah memasuki pembukaan 8, dokter Kim juga sudah bersiaga di ruang bersalin. Saat ini Soonyoung di temani dua orang perawat, Sunoo dan Jihoon yang setengah jam lalu baru sampai dari Bogor. Sedangkan Jun dan Jay membantu mengurus administrasi Soonyoung.

“Tarik napas Soon, berdoa” Ujar Jihoon menenangkan.

Kembali hanya anggukan kecil yang bisa Soonyoung berikan.

“Maaf Pak Jihoon dan Dek Sunoo boleh keluar ruangan dulu ya karena mau kita sterilkan sebelum Pak Soonyoung di pindahkan” Ujar salah satu perawat yang mendekat.

Kemudian Jihoon menarik lembut tangan Sunoo yang masih memegangi tangan Papanya.

“Ayo Sunoo” ajak Jihoon

Dengan wajah sedihnya Sunoo mendekatkan dirinya kehadapan Soonyoung, memberikan kecupan dalam di kening papanya dan pelukan erat untuk Soonyoung.

“Papa, Sunoo tunggu di luar dulu ya”

“Makasih kak” jawab Soonyoung lemah.

Akhirnya keduanya keluar dari ruang rawat meniggalkan Soonyoung dengan perawat tadi.

.

.

. 20 menit berlalu.

Terlihat sosok tinggi dengan pakai kemeja dan jas hitam lengkap belari seperti orang gila di ujung lorong rumah sakit.

Sunoo yang duduk berjongkok tersandar di dinding rumah sakit langsung berdiri saat melihat sosok itu. Berdiri dengan gontai menghampiri.

“Ayahhh........................” akhirnya pecah juga tangisan Sunoo yang ia tahan sejak siang tadi.

Dalam rengkuhan dan pelukan kuat sang ayah, Sunoo menangis sejadi-jadinya.

“Yah......Sunoo takut yah” kembali isakannya semakin kuat, pundaknya bergetar. Betapa besar lubang di hati Wonwoo mendengar tangisan anaknya. Rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya.

“Makasih kak, makasih nak udah temenin papa” “Sudah...tenang ya, ayah sudah di sini” ujar Wonwoo masih menepuk pundak anaknya.

Tidak berselang lama dokter Kim datang.

“Pak Wonwoo”

“Iya dok”

“Mari, Pak”

Dokter Kim mengarahkan Wonwoo untuk mengikutinya ke ruangan Soonyoung.

Memberikan usapan terakhir di pipi anaknya dan menyapa singkat keluarga Juni yang sejak tadi menemani Sunoo, Wonwoo pergi menemui Soonyoung di dalam.

.

.

“Sayang.......”

Kembali... hadir lagi tangis pecah di pundak Wonwoo. Kini Soonyoung yang melepaskan leganya saat wangi khas suaminya sekarang benar-benar bisa ia cium dan tangannya bisa ia genggam.

“Sayang...gimana?”

“Gapapa ayah, dokter Kim kan prediksinya tanggal 14 masih bulan depan. Kalau Juni beneran bisa atur cuma lima hari berarti gak masalah, yah” Ujar Soonyoung memegang tangan suaminya.

“Tapi aku khawatir, kamu udah berat banget bawa badan siapa yang bantuin”

“Ada kakak, ayah liat sendiri sekarang dia udah dewasa apa-apa selalu sigap bantuin aku di rumah. Lagian Jihoon juga bakal sering samper ke sini.”

“Sayang yakin?”

“Ayah tuh yang yakin apa enggak? haha” Ujar Soonyoung mengelus pipi sang suami “Mau jalan jauh gak boleh banyak pikiran yah, tenang aja aku kuat kok ada kakak, ada Jihoon” Kata Soonyoung lagi.

Kemudian Wonwoo memeluk suaminya mencium puncak kepalanya lamat. “Kalau aja projectnya gak se-urgent ini, aku gak bakal ninggalin kamu yang”.

“Gapapa, ayah kerja buat anak-anak biar hidupnya enak semua tercukupi. Ini tugasnya aku jaga mereka di rumah” Soonyoung mengelus lembut punggung suaminya. “Yuk packing sekarang yah” ajak Soonyoung.

Dengan berat hati Wonwoo melepas pelukan suaminya dan mulai berkemas untuk keperluan dinas luarnya lima hari kedepan.

.

.

.

Saat Wonwoo menurunkan koper besar dari atas lemari terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.

“Ayah....” Ada Sunoo di depan pintu masih menggunakan hoodienya lengkap menengok ke dalam kamar.

“Udah cuci kaki kak?”

“Belum yah, pas sampe aku langsung ke sini”

“Hm, ayah cuma mau ajak ngobrol. Sini dulu”

Sunoo masuk ke dalam kamar kemudian duduk di atas kasur kedua orang tuanya, menghadap Wonwoo yang sekarang menarik kursi di depan anaknya.

“Papa mana, yah?

''Di dapur panasin sop kimlo buat kakak”

“Ooo”

Ada helaan nafas kecil disana, dari Wonwoo yang menatap lurus wajah anaknya.

.

.

“Kak, besok ayah berangkat ke Malang. Ada kerjaan mendadak gak bisa ditinggal, ayah minta tolong sama kakak jagain papa sama adek. Kemarin sudah dengerkan kata dokter Kim gimana kondisi papa?”

“Iya yah, sudah” Sunoo menatap tenang ayahnya, namun tidak dapat dipungkiri ada rasa gugup juga yang menyelimuti hatinya. Sunoo tau kelahiran adiknya kurang dari 2 minggu lagi, absennya keberadaan sang ayah dimasa-masa krusial seperti ini sebenarnya juga membuat ia khawatir.

“Karena ayah jauh jadi sekarang kakak yang harus siap siaga, ayah sebenernya gak mau berangkat ayah sayang sama kalian bertiga tapi ada tanggung jawab lain diluar yang harus ayah selesaikan sebentar. Kakak sudah dewasa jadi ayah rasa, ayah bisa percaya sama kakak di rumah.”

“Berapa lama yah?”

“Lima hari”

“Hmmm......”

“Kurangin main keluar ya kak, kalau mau main temennya aja yang kesini tapi jangan terlalu berisik kasian papa mau istirahat”

“Aku di rumah aja kok yah, lagian udah mau UTS”

“Di lemari yang paling bawah semua perlengkapan papa sama adek, bajunya semua udah siap di dalam tas yang warna biru muda tinggal angkut aja, jaga-jaga papa kontraksi lagi dan harus lahiran lebih cepat-..”

“HAAA AYAHH-..” Sunoo tiba-tiba panik mendengar harus menemani papanya melahirkan tanpa didampingi oleh Wonwoo.

”..tenang dulu kak itu kan kalau beneran, kalau enggak ya gapapa santai aja kamu, ayah kasih tau just in case di saat emergency dan kakak butuh itu.'

“oke....yy yah...”

“Nomor telepon rumah sakit sama dokter Kim udah ada ayah kirim di chat, Om Jihoon sama Om Juni juga bakal sering dateng buat ngecek papa jadi kakak gak usah khawatir, kakak nggak sendirian kok” “..terus PR kerjain di rumah aja ya kak, Jay aja yang kamu ajak kesini. Kakak nggak usah banyak keluar rumah”

“Ayah berangkat jam berapa?”

“Pesawat besok jam 10 kak soalnya jam 2 ayah langsung meeting di sana”

“Sama siapa?” Walaupun kedua ayah dan anak ini bersiteru hal-hal kecil. Namun, tetap saja ikatan darah mereka begitu erat. Khawatir Sunoo bukan hanya karena ditinggal ayahnya menemani sang papa yang sedang hamil besar. Namun, Sunoo juga khawatir dengan ayahnya yang sering kali overwork karena pekerjaan yang terus berdatangan. ayahnya kerap kali mengabaikan kesehatannya sendiri.

“dianter om Juni ke bandara.” “Bisa ya kak, ayah titip papa sama adek ke kamu?”

“Bisa yah”

Good! itu baru anak ayah” Wonwoo mengusak rambut anaknya dengan senyuman bangga. Hatinya sedikit tenang.

“Serius amat sih?” Ujar Soonyoung yang bersender depan pintu kamarnya.

“Lagi serah terima jabatan pa” jawab Sunoo asal seperti biasa.

“Ada-ada aja anak bujang, makan dulu kak itu banyak telur puyuhnya di panci”

“Meluncurrrr” Kemudian Sunoo berdiri dari duduknya menyusul Soonyoung yang kembali ke dapur, tapi sebelum ia benar-benar pergi, Sunoo berbalik badan.

“Yah, nanti malem aku tidur disini ya sama ayah?”

“hmm? sama ayah?” Wonwoo seperti salah mendengar.

“Iya aku mau bobo sama ayah''

Wonwoo tidak salah dengar, benar anak sulungnya itu meminta tidur bersamanya bukan dengan Soonyoung. Hal langka tapi membuat hati Wonwoo menghangat, ada anggukan yang Wonwoo berikan sebagai jawaban untuk pertanyaan anaknya tadi.

“Dasar bayi” kekeh Wonwoo setelah si sulung menghilang dari pandangan.

Pagi ini Soonyoung bangun lebih awal, sejak semalam rasanya tidur tidak tenang. Segala macam pikiran mampir di kepala, jangan ditanya lagi tentang apa, sudah pasti perihal penawaran mengejutkan dari pemilik apartementnya, Jeon Wonwoo.

Soonyoung sedang berada di dapur mengambil segelas air putih saat Wonwoo keluar kamar lengkap dengan pakaian kerjannya seperti biasa. Pagi ini agak mendung, matahari tidak secerah biasanya. Saat melihat ada Soonyoung di dapur, Wonwoo sedikit heran apalagi dengan mesin pemanggang roti yang menyala menampakkan 2 roti tawar yang sudah mulai terlihat kecoklatan di permukaannya.

Wonwoo berdeham memberi isyarat kedatangan, sebenarnya Soonyoung sudah tau dari bunyi pintu kamar Wonwoo yang barusan terbuka namun ia hanya pura-pura tidak tau saja.

“roti panggang?” tanya Wonwoo menghampiri Soonyoung.

“Iya, sarapan ini aja ya Pak” jawab Soonyoung kikuk.

“Nggak masalah” ujar Wonwoo lagi sambil mengambil kopinya yang ternyata juga sudah dibuatkan oleh Soonyoung.

“Rotinya satu atau dua, Pak?”

“Satu aja, saya mau makan oatmeal juga. Kamu mau?”

“Gak suka Pak” si penyewa menggelengkan kepalanya.

“Okay”

.

Di meja makan keduanya lagi-lagi makan dalam diam, sampai Wonwoo kembali bersuara.

“Masih libur?”

“eh, enggak Pak” “Ada kelas nanti jam 11 sampai malem kayanya?”

“Tumben?”

“Sorenya praktikum. Terus mau lanjut tugas kelompok”

“Malamnya jam berapa?”

“Jam 7 mungkin, seselesainya aja sih”

“Saya jemput”

“Hah?”

You heard me“ “Sekalian saya pulang kerja, Soonyoung”

Matanya ditatap oleh Wonwoo dalam, seolah-olah tatapan itu bisa menelusuk masuk melihat jiwanya.

“o-oke pak”

Setelahnya Wonwoo sibuk mengangkat telpon dari Seungcheol kalau Soonyoung tidak salah dengar. Sepupu Mingyu yang membantunya mendapatkan apartemen ini sebulan yang lalu.

Soonyoung memperhatikan bagaimana Wonwoo berbicara di telpon, bibir tipis itu bergerak melemparkan pertanyaan mengenai kesibukan apa saja yang sudah ia tinggalkan selama cuti kemarin kepada Seungcheol yang berada di seberang telpon. Soonyoung menatap bagaimana nafas tenang itu keluar dari hidung mancungnya, membuat sekilas kilat bayangan ciumannya di mobil Wonwoo kemarin muncul,

Bagaimana kemarin nafas itu begitu dekat dengan wajah Soonyoung membuatnya seperti tersihir oleh mantra.

.

.

Soonyoung berdiri dari kursi makan, mengangkat piring sarapannya yang sudah kosong.

Melewati Wonwoo yang masih tersambung dengan obrolan ditelpon ketika Soonyoung yang berdiri disampingnya tiba-tiba mengecup sudut bibir Wonwoo.

Otomatis sambungan telpon dimatikan walaupun diseberang sana Seungcheol masih dengan sibuk menjelaskan jadwal Wonwoo hari ini.

What was that for?” Tanya Wonwoo pada Soonyoung yang sudah berlalu menuju dapur.

Tidak ada jawaban.

.

.

Wonwoo menyusul Soonyoung ke dapur, menuntut jawaban atas aksi tiba-tiba si penyewa apartment.

I asked you” Ujar Wonwoo lagi, berdiri mengunci Soonyoung yang mencuci piring dan gelas bekas sarapannya di wastafel dengan kedua lengan Wonwoo di kiri dan kanan tubuh yang lebih pendek, menumpu tangan kekarnya pada pinggir wastafel agar Soonyoung tak kabur.

That was my answer for your offer yesterday” jawab Soonyoung berani menatap balik Wonwoo.

.

Tidak ada suara lain setelah itu, selain suara bibir yang saling beradu dengan saliva yang bertukar, dan air keran yang dibiarkan menyala seolah-olah menjadi musik bagi kedua pria yang kini sedang asik bercumbu.

Wonwoo bersiap mengambil kunci mobilnya yang berada di atas nakas kecil di ruang tengah saat Soonyoung keluar dari kamarnya. Mengenakan setelan santai bermotif kotak-kotak hadiah ulang tahun dari Jeonghan kemarin, Soonyoung menyeragamkan dengan topi snapback senada yang ia beli di bazar kampusnya dua bulan lalu.

Ada setitik degup di dada Wonwoo melihat penampilan Soonyoung siang ini. Entah apa, tapi efeknya membuat Wonwoo buru-buru berdeham pelan untuk menetralkan jantungnya dan menjernihkan isi kepala yang tiba-tiba menampilan kilatan memori kemarin malam saat bibir bervolume seperti buah cherry milik Soonyoung mengemut dalam penisnya.

'Back to your sense, Wonwoo!'

Tidak kalah gugup, Soonyoung melihat penampilan Wonwoo pun dibuat pusing. Hari ini Wonwoo terlihat lebih santai dan segar, tidak ada baju kemeja dan jas kaku yang membalut tubuhnya. Namun, tetap saja wajah datar itu masih ada disana. Mata tajam dan rahang tegas yang selalu berhasil mengintimidasi Soonyoung.


Keduanya menuju tempat parkir yang ada di basement, biasanya suasana hening memang selalu ada di antara Wonwoo dan Soonyoung namun semenjak kemarin hening itu menjadi lebih canggung.

Wonwoo berjalan setengah meter di depan Soonyoung, sedangkan si penyewa apartement masih terus jalan menunduk dengan tangan yang menjentikan kuku di jari kiri dan kanannya. Khawatir dan takut.

PIM!

Suara kunci mobil Wonwoo menyadarkan lamunan Soonyoung.

“Ayo” ajak Wonwoo sambil membuka pintu mobilnya dan Soonyoung langsung jalan memutar menuju pintu mobil disisi lain.

Ia duduk dengan rapih di kursi penumpang namun celana pendeknya yang dikenakan hari ini sukses membuat Wonwoo keringat dingin. Bagaimana tidak, saat duduk celana itu tersingkap naik di atas paha putih mulus miliknya, membuat Wonwoo lagi-lagi diserang kacau dikepala dan tubuh bagian selatannya.

Berdeham, Wonwoo mencoba tenang dan menyalakan mesin mobil dan berjalan keluar area parkir apartment dengan Soonyoung yang masih belum sadar kalau celana gemasnya itu membuat si pengendara mobil gelisah setengah mati.

.

.

.

.

30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai, siang ini nampaknya warga Jakarta sedang ramai pergi keluar rumah sampai-sampai Wonwoo tidak kebagian tempat parkir, alhasil ia harus memarkirkan mobilnya di seberang restaurant.

Di tepi jalan yang ramai Wonwoo tiba-tiba mengambil tangan Soonyoung yang berdiri di sebelahnya, mengamit tangan itu untuk digandeng menyebrang jalan seperti siswa sekolah dasar yang belum pandai menyebarang. Tangannya posesif menggenggam tangan yang lebih kecil. Jangan tanyakan bagaimana reaksi Soonyoung. Telinganya sudah memerah seperti kepiting asap yang sering Mingyu masak ketika mereka sedang berkumpul.

Mereka sampai di depan bangunan dengan tulisan Ardent Coffee & Kitchen. Mereka duduk disisi cafe dekat jendela kaca yang berbatasan dengan bagian tengah cafe tersebut. Mencari tempat yang lebih sepi agar acara makan siang mereka lebih tenang.

Pelayan restaurant menghampiri keduanya membawa dua buku menu yang dilapisi cover kulit hitam dengan tulisan nama restaurant bertinta emas, tipikal tempat makan mahal.

“Kamu pesan apa?” tanya Wonwoo sambil melihat buku menu di hadapannya.

“Eumm...saya....Spaghetti Aglio Olio e Peperoncino aja pak”

“Minumnya?”

“Apa ya?” Soonyoung malah bertanya balik pada Wonwoo, jujur ia tidak terbiasa makan di tempat mahal seperti ini.

You can get anything you want

“Mas, yang non coffee tapi susu apa ya?” Soonyoung bertanya pada pelayan restaurant.

“Kita ada Earl's Strawberry itu grey tea, cream, susu segar dan buah strawberry, satu lagi ada London Fog terdiri dari grey tea, cream, sirup orgeat dan susu vanilla, biasanya kalau siang-siang yang paling recommended Earl's Strawberry karena itu seger banget, Mas” Jelas pelayan restaurant dengan ramah.

“Yaudah yang itu aja” balas Soonyong.

“Saya Ardent's Original Sushi Taco dan Double Espresso” menutup buku menunya kemudian Wonwoo kembali menyerahkan buku dengan cover tebal itu.

Soonyoung tidak mengatakan satu patah katapun, matanya menatap gelisah sekeliling sudut restaurant, etah apakah nanti ia bisa menguyah makanan mahalnya karena terlalu banyak teori kemungkinan yang Soonyoung pikirkan dari tadi.

“Kan saya bilang jangan tegang” akhirnya Wonwoo memecah keheningan.

Soonyoung tersentak.

“Iya habisnya takut, Pak”

“Kenapa?”

“Hmm saya bingung mau jelasin dari mana, bapak aja yang tanya terserah tanya apapun yang bapak mau”

“Itu barusan kan saya tanya kenapa?” ujar Wonwoo meletakkan tangannya di atas meja.

“Kalau itu tadi udah dijawab, Pak. Saya takut mau jelasin ke bapak”

“Tapi kamu nggak takut duduk di atas pangkuan saya”

SKAK!

“haaaaaahh” Soonyoung memekik kecil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Malu. Ia benar-benar malu.

“Jawab Soonyoung” ada satu tarikan satu senyum miring dari sudut bibir Wonwoo.

Satu menit tanpa jawaban.

.

.

Ada satu helaan napas sebelum Soonyoung bersuara.

.

.

“jadisayaitukerjajadicamboyngelivekalomalem” Soonyoung bergumam di balik kedua telapak tangannya.

“gimana?” “saya gak denger”

Menarik napasnya panjang, Soonyoung menurunkan kedua telapak tangannya. Menatap lurus satu vas bunga kecil di atas meja.

“Camboy, Pak. Saya kerja jadi camboy. Kalau setelah ini bapak mau saya pindah dari apart gapapa, Pak saya bakal langsung pindah” Katanya Soonyoung akhirnya.

“Itu aja?” balas Wonwoo.

“Hah? maksudnya?” Soonyoung bingung, namun bertepatan dengan pertanyaannya makanan mereka datang.

“Makan dulu” ujar Wonwoo.

Setelahnya, mereka berdua makan. Lagi-lagi dalam hening. Bahkan Soonyoung tidak bisa membaca air muka Wonwoo saat ini.

.

.

.

.

“Maksud saya kamu lakukan itu hanya di depan kamera atau kamu juga ketemu langsung dengan...client kamu?” ada jeda pada kata-kata terakhir dari pertanyaan Wonwoo setelah ia melihat Soonyoung menyantap suapan terakhirnya.

Hampir tersedak namun Soonyoung paham maksud Wonwoo dengan sebutan client barusan.

“Enggak, Pak. Cuma di kamera, saya bahkan gak nunjukin wajah saya kalau ngelive” “Saya nggak berani buat jual diri saya lebih dari itu” ada sendu sedih dari suara Soonyoung barusan.

“Berapa banyak yang kamu dapat dari sana?” Tidak ada maksud untuk menyinggung Soonyoung, hanya saja Wonwoo ingin tau dengan jelas dengan tidak menahan setiap pertanyaan di kepalanya.

“Cukup untuk biaya kuliah saya, biaya hidup sehari-hari termasuk bayar apart, Pak”

“Kalau bapak tanya kenapa saya nggak kerja yang lain, sudah saya coba semua bahkan walau harus ngorbanin jam istirahat saya di tengah malam. Bapak pasti lebih tau cari pekerjaan part time untuk mahasiswa di Jakarta itu susah. Kalaupun ada, gajinya gak cukup buat bayar semesteran saya, mau sebanyak apapun saya berhemat. Akhirnya ini jalan satu-satunya saya, gak merugikan orang lagi dan saya masih bisa tetap kuliah” jelas Soonyoung kembali menunduk.

“Orang tua?”

“Udah gak ada”

Oke. Wonwoo tidak akan bertanya lebih tentang itu.

“Kamu tau pekerjaan kamu itu beresiko besar dengan kuliah kamu? Bahkan setelah kamu lulus nanti dan mendapat gelar sarjana?” Tanya Wonwoo lagi.

“Tau...”

“Tapi?”

“Tapi selama sekarang saya masih aman saya bakal terus lanjutin, Pak”

Lagi. Keheningan menyelimuti keduanya.

“Yang tadi malam...” Wonwoo menggantung kalimatnya, sedangkan Soonyoung kini sudah meremas kuat kain celananya di bawah meja restaurant.

”...yang tadi malam apa kamu menyesal?”

“y-yang mana, Pak?”

“Dua-duanya, kamu klimaks di atas kasur kamu dan kamu klimaks di atas pangkuan saya”

“Iya dan tidak” jawab soonyoung

“Hmm?” Wonwoo butuh penjelasan.

“Iya saya menyesal klimaks di depan bapak waktu bapak tiba-tiba masuk ke kamar saya, saya malu bapak tau pekerjaan saya dengan cara begitu. Dan, nggak, saya nggak menyesal klimaks di pangkuan bapak, itu pengalaman sex paling luar biasa buat saya” tidak bisa menahan malunya lagi, sekarang wajah Soonyoung benar-benar memerah.

Kembali, senyuman miring itu ada di bibir Wonwoo tanpa Soonyoung sadari.

“Soonyoung..”

“Iya pak”

“Jadi sugar baby saya”

“HAHHHH?!!!!” Saking terkejutnya soonyoung sampai menjatuhkan garpu bekas makannya tadi, menimbulkan suara berisik akibat benda besi itu yang menghantam lantai keramik restaurant.

“Kamu mendengarnya dengan benar Soonyoung. Jadi sugar baby saya”

“s-saya gak paham, Pak”

“Jangan bohong”

“Iya maksudnya..aduh gimana ya..saya jadi bingung”

“Seperti yang kamu tau bagaimana itu bekerja, If you're agree to be my sugar baby I'll spoiled you including your tuition fee, you dont need to rent the apartement anymore cuz you'll sleep with me every night, what do you say?”

Soonyoung masih diam, dia shock berat.

“I won't pushed you, you have your time to think about it and if you have any questions please ask away I'll gladly answer it”

“Kontrak?”

“I don't have such thing as long as you know what your resposibilies are, I'll make it easy for the both of us. But one thing for sure you're not allowed to have any relationship related to your love life which mean you can't have boyfriend once you have agreed with this until we end up the agreement”

“Apa saya tetap boleh jadi camboy?”

“No, Soonyoung. Saya akan menanggung semua biaya hidup dan kuliah kamu jadi saya pikir kamu tidak perlu lagi bekerja disana”

“Tapi pak- ...saya nggak bisa langsung berhenti, ada terms and conditionsnya disana”

“How long you need to proceed all that?”

“Sebulan?”

Too long

Soonyoung berfikir lagi.

“Tiga minggu?”

“Okay. 3 minggu”

“Saya harus ngapain aja, Pak?”

“Biasa aja, temanin saya. Saya butuh teman ngobrol, bertukar pikiran, jalan-jalan mungkin kalau kamu suka? Dan pergi ke acara resmi kantor saya”

“Itu aja?”

“Kenapa? Kamu mau lebih dari itu?”

Ragu-ragu dengan satu pertanyaan yang terus mengganjal, akhirnya dengan bermodal nekad ia ajukan pertanyaan itu.

“Apa kita akan berhubungan sex lagi, Pak?”

Seulas senyum menghiasi wajah tampan Wonwoo.

“Saya pikir kamu tidak akan menanyakan itu. Ofcourse, temani malam saya seperti kemarin”

Tidak ada balasan. Soonyoung benar-benar kehabisan kata-kata.

“As I said, your still have time”

“saya jawab besok ya, Pak? Boleh?”

Sure” balas Wonwoo sambil menyeruput cangkir espressonya.

.

.

.

.

Keduanya sudah kembali di mobil Wonwoo, tidak ada lagi percakapan tentang kontrak sugar baby.

Soonyoung duduk di tempatnya semula sambil membalas pesan masuk yang sejak tadi bertubi-tubi berbunyi di handphonenya, ternyata dari grup sahabat-sahabatnya yang bingung mencari Soonyoung karena sejak semalam tidak ada kabar. Meskipun Jeonghan tahu kabar terakhir Soonyoung namun ia tetap khawatir bagaimana makan siang adik tingkatnya itu dengan si pemilik apartement.

Saat sedang asik membalas chat, Wonwoo bergerak menarik seatbelt yang ada di sebelah kiri Soonyoung, membuat Soonyoung terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. Saat Soonyoung mengangkat kepalanya dari layar ponsel ia langsung di hadapkan dengan wajah Wonwoo yang sangat dekat dengan wajahnya, bahkan satu gerakan saja hidungnya bisa langsung bergesekan dengan hidung mancung Wonwoo.

Tatapan itu selalu bisa membuat Soonyoung gelabakan, jantungnya lagi-lagi berdegup kencang.

.

.

.

.

This freaking short you wear is killing me” kata Wonwoo menunjuk celana pendek yang Soonyoung kenakan.

“Huh?” Masih linglung Soonyoung bingung mau menjawab apa.

“Can I kiss you?” Ujar wonwoo sangat dekat dengan wajah Soonyoung.

Satu anggukan pelan dari si penyewa apartement, membawa bibir Wonwoo mendarat di bibir penuh milik Soonyoung.

Menciumnya dalam, seperti ini adalah satu-satunya yang membuat Wonwoo tetap hidup.

Ciuman mereka semakin lamat, lumatan di bibir Soonyoung membawanya terbang lagi, entah sudah langit keberapa tapi yang jelas Soonyoung suka dengan setiap gerak bibir Wonwoo yang menyapu lidah dan bibirnya.