“Papa, nanti Sunoo pulang jam 2 soalnya gak ada les” kata Sunoo sambil mengunyah lontong sayur yang dibelinya dari mamang yang kebetulan lewat di depan rumah.
“Kakak ntar bisa mampir beli makan di jalan nggak pas pulang? Papa nggak enak badan nih kak nggak kuat mau masak”
“Papa sakit?” ada sekelebat sedih dari mata Sunoo yang menatap Papanya di seberang meja.
“Ini perutnya keram kak, pinggang papa juga sakit tapi nggakpapa kok” senyum lembut Soonyoung berusaha menenangkan anaknya.
“Apa aku izin aja ya pa?”
“Eh! jangan kak ish kamu udah mau ujian”
“Tapi papa sakit gitu nggak ada yang jagain”
“Masih kuat, papa paling rebahan aja kak cuma perlu istirahat banyak-banyak adeknya kamu nih manja udah mau deket harinya” kata Soonyoung lagi mengelus perutnya yang sudah sangat besar sambil tertawa.
“Dia kalo nakal nanti aku marahin pa”
“Adeknya tuh disayang dijagain jangan dimarahin kak”
“Kalo dia nakal gak bisa dikasih tau ya aku marahin pa, mesti tau dia tuh papa sampe sakit begini waktu hamil dia. Awas aja kalo bandel pas lahir aku pites palanya ku puter sampe pusing”
“KAKKK YA AMPUN HAHAHAHA” Soonyoung nyaris terpingkal mendengar celoteh anak pertamanya ini.
“hehehe”
Setelahnya mereka makan dengan santai diiringi obrolan ringan tentang sekolah dan teman-teman Sunoo.
“Aku berangkat ya, Pa” ujar Sunoo saat mengamit tangan papanya untuk salim.
“Hati-hati sayang, nanti langsung pulang ya”
“Oke pa”
Kemudian Sunoo menaiki motor matiknya dan berjalan keluar pagar menjauh dari rumah.
Soonyoung kembali ke dalam rumah dengan pelan menutup pintu rapat. Geraknya sudah tidak seleluasa biasanya, entah kenapa sejak semalam perut bagian bawahnya terasa mengencang, nyeri dan juga keram.
“Dek, temanin papa hari ini ya jangan bandel-bandel nanti dimarahin kakak Sunoo” ujar Soonyoung mengelus perutnya.
Soonyoung kembali ke ruang makan membereskan sedikit piring kotor sisa sarapannya tadi bersama Sunoo.
Rumah terasa sepi pagi ini, biasanya sudah ada Jihoon yang datang mampir bersama anaknya Jay. Namun, karena ibu mertuannya yang sedang sakit jadi sejak kemarin sore Jihoon sudah berangkat ke Bogor.
Masih dua hari lagi sebelum Wonwoo pulang, absennya keberadaan sang suami ternyata benar-benar membuat suasana berbeda di rumah. Ribut pertengkarang kecil anaknya dan Wonwoo dengan hal-hal yang menurut Soonyoung tidak penting malah membuatnya rindu saat ini.
Sampai pukul 13.00 Soonyoung masih berbaring di sofa di depan tv, entah mengapa rasanya tulang-tulang di badan terasa ngilu.
TV menyala namun yang menonton malah sibuk mengusap minyak kayu putih di perut buncitnya, mengangkat baju kaos longgarnya hingga sebatas dada agar mudah melumuri minyak dengan wangi daun eucalyptus itu, wangi yang sedikit memberikan kengahatan dan rasa tenang bagi Soonyoung.
“Dek............” tiba-tiba air mata menetes di pipi Soonyoung, dirinya terisak.
“Yang pinter atuh dek, papa takut nggak ada ayah.....” perutnya terasa sangat keram, mulas yang benar- benar membuatnya kesakitan.
Tangannya kini meremas selimut yang ia bawa ke sopa, menahan sakit sambil terus menangis.
Tidak bisa dipungkiri Soonyoung sebenarnya jauh lebih takut saat Wonwoo tidak ada di sisinya, hanya saja ia tidak boleh egois. Pekerjaan Wonwoo itu lebih penting karena dari pekerjaan itulah Soonyoung dan Sunoo bisa hidup serba berkecukupan seperti sekarang. Ia tidak ingin suaminya khawatir saat menjalankan tugasnya jika Soonyoung bersikap manja, padahal bisa saja ia merengek kepada Wonwoo tempo hari untuk tidak pergi dan bisa ia jamin tanpa berpikir dua kali pun Wonwoo pasti akan langsung membatalkan tiket dan rencana perjalanan dinasnya yang sudah di buat oleh Juni.
Siang ini Wonwoo belum ada meneleponnya lagi, seperti yang sudah Soonyoung duga jadwal Wonwoo hari ini akan sangat padat, lagi-lagi Soonyoung tidak ingin egois, ia tidak mau mengeluh akan sakitnya pada Wonwoo saat ini.
Setengah jam berlalu cengkramannya pada selimut semakin kuat, rasa sakit di perutnya tidak ada tanda-tanda mereda. Peluh sudah membasahi seluruh kening dan tubuh Soonyoung, baju kaosnya sudah lepek karena keringat yang meresap.
Berusaha bangkit perlahan dari sopa namun yang Soonyoung dapatkan malah terjatuh dari pijakannya. Kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya, rasanya seluruh tulang Soonyoung menyusut dan setiap gerakan membuat sendi-sendinya ngilu, perutnya terasa mulas luar biasa dan ia yakin ini sudah saatnya, kontraksinya terjadi hari ini 10 hari lebih cepat dari prediksi dokter Kim.
Dengan isakan tangis yang kini sudah tak bisa ia tahan lagi, Soonyoung berusaha menyeret tubuhnya dilantai untuk sampai ke nakas di sebelah tv untuk mengambil handphonenya.
Memegangi perut bagian bawahnya Soonyoung terus mengesot di atas lantai dingin rumahnya. Jarak dua setengah meter di depannya terasa begitu menyakitkan.
Soonyoung tahu ini belum waktunya Sunoo pulang sekolah, masih ada setengah jam lagi untuk anak sulungnya kembali ke rumah. Namun, tidak ada lagi yang bisa Soonyoung lakukan. Ia membutuhkan Sunoo sekarang.
Ada dua dering singkat sebelum teleponnya diangkat.
“Halo~ papa aku lagi beli baso di mang usay” jawab Sunoo di seberang sana.
Menarik napasnya dalam Soonyoung berusaha meredakan tangisnya tak ingin sang anak merasa panik.
“Kakak sudah pulang sekolah?”
“Udah pa, pulang cepat guru Kimianya nggak masuk. Papa mau nambah siomay?”
“Enggak kak”
“Kak.......boleh pulang sekarang sayang?”
“Pa-pa.....ke-kenapa?” tiba-tiba tubuh Sunoo membeku menyadari ada yang berbeda dari suara Papanya.
“Perut papa sakit kak”
“Aku otw pa”
“Jangan ngebut ka-...”
Panik langsung menyerang Sunoo sampai uncapan terakhir dari Papanya saja tidak sempat ia dengar karena buru-buru menutup telepon. Beruntung dua bungkus bakso pesanan Sunoo sudah siap, satu lembar uang lima puluh ribuan langsung di taruhnya di gerobak Mang Usay tanpa peduli kembalian dan teriakan mamang penjual bakso yang memanggilnya. Motor Sunoo sudah keburu melaju cepat.
BRAAKKK
“PAPAAA !” Sunoo dengan kasar membuka pintu rumahnya, berlari menuju ruang tengah.
Panik semakin menggerogoti perasaan Sunoo saat melihat papanya terduduk di atas lantai bersandar di lemari nakas, memegangi perutnya dengan wajah meringis dan keringat yang bercucuran.
“Pa...papa kenapa pa?!!!” Sunoo langsung terduduk di depan papanya, merangkul pundak yang sedang kesakitan.
“Sa-sakit kak, bantu papa.....” rasanya hampir seluruh kewarasan Soonyoung menguap. Ia tidak bisa berpikir tenang lagi. Sakit yang ia rasakan semakin menjadi setiap menitnya.
“Adek?”
Hanya anggukan yang bisa Soonyoung berikan sebagai jawaban. Benar, ini kontraksi yang asli. Ia bisa jelas merasakannya.
“Papa, pegang tangan Sunoo. Papa pindah dulu ke sofa ayo pa” dengan perasaan yang tidak karuan Sunoo berusaha sekuat tenaga menarik Papanya berdiri, memapahnya ke sofa agar lebih nyaman. Lalu ia berlari ke dapur mengambil segelas air putih untuk Soonyoung.
Setelah satu tegukan oleh Soonyoung, Sunoo berlari ke kamar orang tuannya lagi.
Sunoo bingung. Sunoo takut.
.
.
.
“Kak..”
“AYAHHH......” Sunoo menangis ketika mendengar suara ayahnya di telepon.
“Kak? Kakak kenapa nak?” mendengar isak tangis anaknya Wonwoo langsung pamit dari hadapan atasannya yang sedang menyantap makan siang.
“Yah....papa.....” hiks.
“Yah.................papa.........papa sakit.......adek.......”
“Kakak tenang, tarik napasnya. Hapus air matanya kak”
Sunoo dengan cepat menarik napas dan mengusap air matanya.
“Papa mau melahirkan yah, kesakitan di rumah. Sunoo baru pulang sekolah masih di jalan barusan di telepon papa. Sunoo bingung yah takut....” kembali air mata jatuh dimata anak sulungnya.
Seperti dijatuhi oleh bola besi ratusan kilogram, dada Wonwoo tiba-tiba terasa sesak. Ia terkejut, inilah hal yang paling ia takutkan. Kontraksi Soonyoung terjadi saat ia jauh di luar kota, tidak berada di sisi Soonyoung di saat paling krusial.
Dengan cepat ia harus berpikir jernih, Soonyoung dan Sunoo membutuhkannya. Ia harus kuat.
“Kak...dengar ayah”
Di seberang telepon Sunoo mengangguk walaupun ayahnya tidak bisa melihat.
“Kakak dimana sekarang?”
“Di kamar ayah”
“Kakak ke lemari yang ayah kasih tau kemarin. Ambil tas yang sudah disiapin yang isinya perlengkapan adek”
“Udah yah”
“Sekarang cek semua pintu, jendela, kompor, microwave, kunci dan matikan semua ya kak”
“Iya yah”
Sunoo berjalan keluar kamar ayahnya, melakukan semua perintah dengan cepat sambil tangan kanan memegang telepon yang masih terhubung dan tangan kiri menenteng tas perlengkapan adiknya.
Saat menuju dapur Sunoo sempat melewati Soonyoung yang masih meringis kesakitan.
“Kakak ambil kunci mobil ayah di dinding nakas sebelah tv, masukan tas tadi di mobil. Kakak antar papa ke rumah sakit ya, nak. Pelan-pelan jangan ngebut. Kakak itu pengganti papa, ingat pesan papa tempo hari. Tenang.”
“Ayah yakin aku boleh bawa mobil ayah?”
“Iya, boleh kak”
“Bawa mobilnya lebih pelan dari waktu kita ke puncak kemarin ya kak”
Tidak menjawab Sunoo langsung berlari menyambar kunci mobil ayahnya, membuka garasi dengan cepat, menyingkirkan motornya asal dan mengeluarkan mobil dari garasi. Tas adiknya ia lempar ke jok belakang. Kursi penumpang di mundurkan agar lebih luas untuk Soonyoung dan senderannya dibuat lebih rendah.
Setelah itu Sunoo kembali ke dalam rumah.
“Kakak bisa bantu papa keluar?”
“Bisa yah”
“Angkat papa pelan-pelan ya kak. Teleponnya ayah matikan 5 menit dulu, ayah telepon om Juni buat susul kakak. Nanti ayah telpon kakak lagi, sebentar aja nak”
“Iya yah” saat sambungan terputus Sunoo langsung memasukan handphonenya ke dalam kantong celana sekolahnya.
.
.
.
“Papa, pegang Sunoo ya...kita ke mobil sekarang”
Soonyoung tidak bisa menjawab apa-apa lagi, ia menurut mengikuti anaknya. Menyandarkan tubuhnya yang di rangkul kuat oleh Sunoo. Dengan sangat pelan keduanya berjalan ke mobil.
Wonwoo bergegas kembali ke meja makan tempat rekanan dan atasannya tadi makan siang. Memohon izin untuk kembali ke Jakarta saat ini juga karena suaminya yang akan melahirkan, dengan sangat dimaklumi Wonwoo diizinkan untuk meninggalkan pekerjaan di Malang yang sebenarnya masih ada hingga besok.
Namun, rasa kemanusiaan berada di atas segalanya dan bersyukurlah Wonwoo memiliki atasan dan rekan kerja yang memiliki rasa itu.
Ia bergegas kembali ke hotel bersama Seungcheol yang dengan suka rela mau mengantarnya hingga nanti ke bandara. Wonwoo sudah menelpon Juni di kantor untuk menyusul anaknya di rumah sakit, Jihoon juga akan langsung menuju rumah sakit dari Bogor saat mendengar Soonyoung akan melahirkan.
Semua benar-benar terjadi dalam lima menit saat handphone Sunoo yang berada di stand phone dashboard mobil kembali berdering.
“Ayah, Sunoo pake handsfree“
“Loudspeaker kak”
“Udah yah”
“Sayang..... sayang denger aku ya, gak usah di jawab. Sayang tenang di sana sama kakak. Ayah pulang sebentar lagi nemenin sayang-...”
Belum sempat selesai Wonwoo berbicara Soonyoung kembali terisak mendengar suara suaminya. Ada hangat di hati Soonyoung saat suara berat itu menyapanya.
“Shhh kuat ya sayang, sayang itu hebat. Ada kakak yang jagain, ayah bangga sama kalian berdua. Adek.....adek juga kuat ya, sabar ya sayang sebentar lagi ketemu sama ayah, papa sama kak sunoo”
Setengah mati Sunoo menahan tangisnya, semua ia tahan di tenggorokan. Ia tidak boleh lemah, ia pengganti ayahnya.
.
.
Di tempat lain Wonwoo sibuk memesan langsung tiket pesawat tercepat yang ada untuk tujuan Jakarta saat ini. Tuhan kali ini mengabulkan doanya disepanjang perjalanan dari hotel ke bandara barusan karena masih ada seat kosong pukul 15.00 yang akan take off sebentar lagi. Berpamitan seadanya kepada Seungcheol, Wonwoo dengan terburu-buru check in dibarisan maskapai penerbangannya. Semuanya ia lakukan tanpa memutus sambungan teleponnya dengan Soonyoung dan Sunoo.
Pukul 14.50 Sunoo sampai di rumah sakit dan langsung di arahkan ke ruangan yang sudah disiapkan sebelumnya oleh dokter Kim. Sunoo sempat menelpon dokter Kim saat ayahnya tadi mematikan telepon. Semua Sunoo lakukan sesuai arahan ayahnya.
Soonyoung di bawa menggunkan kasur pasien, sakitnya tidak kunjung mereda malah setiap 15 menit sekali kontraksi menguat dan rasanya perut bagian bawah semakin mengencang. Saat diperikasa ternyata Soonyoung sudah berada di pembukaan 6 yang tandanya kurang dari empat jam lagi Soonyoung akan melahirkan
Di sisi kasurnya Sunoo menggenggam tangan Soonyoung, berusaha menyalurkan semangat dan kekuatan untuk sang papa.
Remasan tangan Soonyoung begitu kuat hingga rasanya seperti hatinya juga ikut diremas. Sunoo tidak tega melihat papanya begitu kesakitan.
Dua jam berlalu soonyoung sudah memasuki pembukaan 8, dokter Kim juga sudah bersiaga di ruang bersalin. Saat ini Soonyoung di temani dua orang perawat, Sunoo dan Jihoon yang setengah jam lalu baru sampai dari Bogor. Sedangkan Jun dan Jay membantu mengurus administrasi Soonyoung.
“Tarik napas Soon, berdoa” Ujar Jihoon menenangkan.
Kembali hanya anggukan kecil yang bisa Soonyoung berikan.
“Maaf Pak Jihoon dan Dek Sunoo boleh keluar ruangan dulu ya karena mau kita sterilkan sebelum Pak Soonyoung di pindahkan” Ujar salah satu perawat yang mendekat.
Kemudian Jihoon menarik lembut tangan Sunoo yang masih memegangi tangan Papanya.
“Ayo Sunoo” ajak Jihoon
Dengan wajah sedihnya Sunoo mendekatkan dirinya kehadapan Soonyoung, memberikan kecupan dalam di kening papanya dan pelukan erat untuk Soonyoung.
“Papa, Sunoo tunggu di luar dulu ya”
“Makasih kak” jawab Soonyoung lemah.
Akhirnya keduanya keluar dari ruang rawat meniggalkan Soonyoung dengan perawat tadi.
.
.
.
20 menit berlalu.
Terlihat sosok tinggi dengan pakai kemeja dan jas hitam lengkap belari seperti orang gila di ujung lorong rumah sakit.
Sunoo yang duduk berjongkok tersandar di dinding rumah sakit langsung berdiri saat melihat sosok itu. Berdiri dengan gontai menghampiri.
“Ayahhh........................” akhirnya pecah juga tangisan Sunoo yang ia tahan sejak siang tadi.
Dalam rengkuhan dan pelukan kuat sang ayah, Sunoo menangis sejadi-jadinya.
“Yah......Sunoo takut yah” kembali isakannya semakin kuat, pundaknya bergetar. Betapa besar lubang di hati Wonwoo mendengar tangisan anaknya. Rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya.
“Makasih kak, makasih nak udah temenin papa”
“Sudah...tenang ya, ayah sudah di sini” ujar Wonwoo masih menepuk pundak anaknya.
Tidak berselang lama dokter Kim datang.
“Pak Wonwoo”
“Iya dok”
“Mari, Pak”
Dokter Kim mengarahkan Wonwoo untuk mengikutinya ke ruangan Soonyoung.
Memberikan usapan terakhir di pipi anaknya dan menyapa singkat keluarga Juni yang sejak tadi menemani Sunoo, Wonwoo pergi menemui Soonyoung di dalam.
.
.
“Sayang.......”
Kembali... hadir lagi tangis pecah di pundak Wonwoo. Kini Soonyoung yang melepaskan leganya saat wangi khas suaminya sekarang benar-benar bisa ia cium dan tangannya bisa ia genggam.