milkyways1707

Soonyoung berjalan di belakang Wonwoo saat mereka kembali dari kencan malam minggunya, perjalanan dari parkiran ke unit apartment mereka terasa lebih lama. Soonyoung memandangi bahu lebar Wonwoo yang ada di hadapannya nampak dingin dan angkuh mungkin bagi orang lain yang tidak mengenal Wonwoo secara personal.

Wonwoo menarik tangan Soonyoung kemudian melingkarkan tangannya sendiri di pinggang yang lebih muda sebelum memasuki lift yang ada di basement.

“Masih horny?” tanya Wonwoo santai saat sudah berada dalam lift.

“huh?” Soonyoung menengok dengan jarak wajah yang sangat dekat dengan Wonwoo.

“You heard me, baby”

“Masih, dad” cicit Soonyoung.

Ada tarikan senyum miring di sudut bibir Wonwoo yang sayangnya lepas dari penglihatan Soonyoung.

“Live kamu masih sisa 2 kali kan?”

“Iya daddy soalnya dari kemarin belum sempat, maaf” balas Soonyoung gugup karena Wonwoo tiba-tiba membahas sesi livenya yang belum juga diselesaikan hingga hari ini.

“Selesaikan malam ini”

“Tapi aku belum announce dad”

“Ya sudah announce sekarang”

“Apa gak bisa besok aja?”

“Bukannya kamu masih horny? tepat kan waktunya?”

“I-iya”

“Jangan kebanyakan nawar sama saya”

Dan Soonyoung terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi meneguk air liurnya sendiri.

(insert twitter camboy SY)

.

.

Wonwoo duduk di sofa tunggal di dalam kamar Soonyoung. Saat sampai di unit mereka tadi ia tidak langsung mengganti pakaiannya namun justru duduk santai memperhatikan Soonyoung yang sedang mempersiapkan sesi livenya malam ini.

Soonyoung terlihat tenang namun sebenarnya panik sudah menyerang dirinya sejak mendengar ucapan Wonwoo di depan pintu apartement mereka barusan yang mengatakan bahwa ia akan manyaksikan Soonyoung langsung selama sesi livenya.

Melakukan live secara dadakan saja sudah cukup buruk, sekarang malah ditambah Wonwoo yang akan menontonnya secara langsung membuat telapak Soonyoung berkeringat dingin tidak karuan.

Soonyoung menyalakan laptopnya yang tersimpan di atas meja belajar kemudian diletakkan di atas tempat tidur, setelahnya Soonyung mengeluarkan lagi perlengkapan kameranya dari lemari pakaian yang memang selalu ia simpan rapat dari Wonwoo.

Gugup sudah tidak bisa dikata bahkan Soonyoung sampai dua kali salah memasukkan password dan login di akun streaming berbayar miliknya sebelum akhirnya bisa masuk dan menampikan orang-orang yang sudah mulai 'berdatangan'.

Soonyoung berdiri kikuk di samping tempat tidurnya.

“Kenapa?” tanya Wonwoo yang sedari tadi memperhatikan Soonyoung dengan tatapan tajam dari pojok kamar yang menghadap langsung dengan tempat tidur Soonyoung.

“Malu” jawabnya kecil.

Wonwoo tertawa dengan nada mengejek.

“I've seen you, baby. All of you”

Wonwoo kemudian berdiri menghampiri Soonyoung yang membuat camboy dengan pengikut lebih 5000 orang itu kembali panik.

Wonwoo menangkup kedua sisi rahang Soonyoung dengan tangannya dan mencium bibir tipis yang lebih muda.

Niat Wonwoo untuk menenangkan Soonyoung nampaknya berhasil karena kini ia terlihat lebih percaya diri.

“Keluarin baju-baju kerja kamu” perintah Wonwoo bibir keduanya tak lagi saling bertaut.

Soonyoung paham dengan apa yang dimaksud Wonwoo dan ia langsung berbalik ke arah lemari pakaiannya mengambil satu box besar berbahan kain warna biru tua yang ia letakkan pada lantai lemari paling bawah.

Ia bawa box itu ke hadapan Wonwoo dan membukanya.

Lagi-lagi Wonwoo tersenyum tipis, dugaannya benar. Soonyoung bahkan lebih liar dari penampilan fisiknya yang terlihat polos dari luar.

Box itu berisi pakaian 'kerja' Soonyoung yang tersusun rapih dan bersih, tidak kurang dari 7 pasang lingeri brukat dan satin berwarna pastel, merah dan hitam terlipat disamping 2 pasang bandana kucing dan butt plug lengkap dengan ekor berbulunya. Dan di kotak yang sama masih ada kontak lain yang lebih kecil di dalamnya yang mana saat dibuka ternyata berisi alat pemuas Soonyoung dengan berbagai ukuran, warna dan fungsi lengkap beserta lubrican yang sebelumnya pernah ia pakai bersama Wonwoo.

Di kotak itu Wonwoo melihat satu benda familiar yang membuat dirinya dan Soonyoung hingga berada pada hubungan saat ini.

Benda itu adalah dildo warna kulit yang dulu Soonyoung sebut dengan barang endorse dari olshop dakjal.

Wonwoo mengambil dildo itu tanpa ragu dan menempatkannya di depan bibir Soonyoung.

.

.

“Jilat” perintah Wonwoo.

Soonyoung menurut.

Ia menjilat batang dildo tersebut lambat, lidahnya menempel basah dan tidak melepaskan tatapan matanya sedikitpun dari Wonwoo selama menjilati benda kenyal itu.

“Buka mulutnya. Hisap” Perintah Wonwoo lagi. Kini ia mencengkram rahang Soonyoung dengan tangan kirinya agar terbuka dan memasukan dildo itu ke dalam mulut Soonyoung. Tidak ada perlawanan sedikitpun, ia menuruti semua perintah Wonwoo.

Soonyoung mengulum penis buatan tersebut, membayangan bahwa benda itu adalah penis asli milik Wonwoo yang tebal dan berurat sedang keluar masuk dari mulutnya.

Kaki Soonyoung kembali terasa seperti jelly karena rangsangan yang ditimbulkan oleh kegiatan itu. Penisnya kembali berkedut tak nyaman karena terhimpit oleh celana jeans yang masih ia kenakan, belum lagi lutut kanan Wonwoo yang sengaja digesekan pada gundunkan Soonyoung membuat celana dalamnya semakin sesak.

Namun, Soonyoung tidak mau kalah malam ini. Cukup saja di studio XXI tadi Wonwooo mengerjainya, kali ini ia akan menjadi binal.

Saat Wonwoo masih mendorong penis palsu itu keluar masuk mulut Soonyoung dan mulai menggesekkan lututnya ke penis soonyoung. Soonyoung tidak tinggal diam, ia malah mendorong pinggulnya secara berlawanan arah yang menyebabkan gesekan lebih kuat pada gundukkannya, ia juga mengikis jarak antara keduanya dan dengan berani mengusap otot perut Wonwoo yang masih terbalut kemeja putih yang ia kenakan.

Dengan jarak seperti ini Wonwoo bisa melihat bibir Soonyoung yang memerah karena menghisap dildo yang dipegangnya dan sudut bibir Soonyoung yang meneteskan saliva sedikit demi sedikit. Tak tahan, Wonwoo kembali menarik rahang soonyoung yang masih mengulum dildo tersebut dan langsung mencium sudut bibir Soonyoung yang basah, membuat Soonyoung kewalahan antara menghisap dildo dan mengulum lidah Wonwoo.

Sibuk mengisap kedua benda kenyal tersebut soonyoung akhirnya merengek karena siksaan ringan yang Wonwoo berikan.

“Mau punya daddy aja...” ucap soonyoung tak tahan.

Dengan itu Wonwoo melepaskan cengkraman tangannya dan mengeluarkan didlo yang sudah basah sepenuhnya oleh saliva Soonyoung.

“Pakai ini, baby”

Wonwoo menunjuk satu butt plug dengan ekor kucing bewarna hitam, sangat kontras dengan kulit soonyoung. Selanjutnya lagi-lagi lingeri berwarna hitam dengan bahan brukat yang dipilih Wonwoo, sebenarnya bukan apa. Wonwoo masih teringat dengan celana dalam yang Soonyoung pakai kemarin saat mereka menghabiskan malam di gala dinner, sampai-sampai rasanya Wonwoo memiliki obsesi dan kink baru dengan lingeri hitam berbahan brukat, ditambah kain tersebut melingkar indah dipinggul ramping Soonyoung yang memiliki kulit seputih susu.

Soonyoung mulai membuka pakaiannya dari kaos yang ia pakai sampai celana jeans yang sedari tadi sudah sesak.

Penisnya menyembul keluar saat resleting diturunkan, membuat Wonnwo tak sadar langsung mengusap ujungnya yang membuat Soonyoung menggelinjang kegelian.

Wonwoo mengambil pakaian dan aksesoris yang tadi sudah ia pilihkan untuk Soonyoung. Butt plug dengan ekor kucing yang menjuntai di tangan kirinya dan Lingeri brukat di tangan kanan, menunggu soonyoung membuka seluruh pakaiannya sebelum kedua benda tersebut diberikan.

.

.

.

Soonyoung sudah telanjang dihadapan Wonwoo, saat yang lebih tinggi menyerakan satu setel baju kerja Soonyoung.

Satu-persatu Soonyoung pasang pakaian tersebut dengan lihai dan telaten membuat Wonwoo semakin yakin menyimpulkan spekulasinya bahwa Soonyoung benar-benar sudah profesional dalam pekerjaan ini.

Saat semua sudah terpasang, Wonwoo memerintahkan Soonyoung untuk menungging dan menumpu tangannya pada pinggiran kasur.

Tak disangka Wonwoo malah mengusapkan jempolnya pada lubang Soonyoung yang masih terlapisi tali lingeri dibelahan pipi bokongnya.

“Shhh” satu desahan lolos dari bibir Soonyoung saat merasakan usapan tersebut.

Wonwoo menampar bokong Soonyoung kencang. “Udah basah belum juga di apa-apain”

Rasanya sakit namun memberikan sengatan nikmat yang menjalar hingga ujung penis Soonyoung.

“Suka dikasarin gini, hm?” tanya Wonwoo mencengkram pipi bokong Soonyoung.

Soonyoung mengangguk.

“Jawab yang benar!” satu tamparan lagi mendarat di bokong mulus itu sampai membuat Soonyoung terlonjak ke depan.

“Suka daddy” balasnya lemah.

Mata Wonwoo saat ini benar-benar berubah, ia seperti singa kelaparan yang sedang berada di depan maksanya yang sudah tak berdaya.

Butt plug ekor kucing itu masih ada di tangan kirinya sejak tadi, merasa soonyoung yang siap, Wonwoo kemudian mengulum ujung butt plug yang terbuat dari besi tersebut hingga basah dan kemudian mengarahkannya ke dalam permukaan lubang soonyoung yang masih sedikit tertutup oleh tali panty-nya.

“Ah daddy”

“Binal kamu ya?”

“Cuma sama daddy”

“Bohong!” satu tamparan lagi melayang.

“Itu penonton kamu sudah beribu-ribu menunggu, masih saja bisa bilang cuma di depan saya. Menungging lebih lebar dan angkat tali panty kamu!” perintah Wonwoo.

Lalu dengan satu tangannya Soonyoung berusaha menggeser tali panty-nya ke samping dan menampakkan lubang berwarna pink yang mengkerut dan berkedut. Membuat Wonwoo tak sabar memasukann satu jari telunjuk kesana.

“Hmhh”

“Keenakan kamu”

“Enak daddy” balas Soonyoung melengkungkan tubuhkan karena jari Wonwoo yang di dorong semakin ke dalam.

Tidak membiarkan Soonyoung menikmati itu lebih lama, Wonwoo malah menarik kembali jari nya dan membuat Soonyoung kecewa.

Saat jarinya dikeluarkan, Wonwoo sempat menjilat lagi ujung butt plug yang ia pegang hingga kembali basah oleh salivanya dan kemudian meletakkannya di depan lubang pink Soonyoung.

“Awh” Soonyoung terkejut atas sensasi dingin yang tiba-tiba dari besi tersebut.

“Tahan” kata Wonwoo memegang pinggul Soonyoung dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memasukan butt plug tersebut di lubang Soonyoung.

“Uhhh daddy” terpasang.

Sekarang ekor pink tersebut sudah menjuntai dari lubang pantat Soonyoung dan bergoyang-goyang di antara kaki belakangnya.

Soonyoung sengaja menggoyangkan pinggulnya menggoda Wonwoo.

Plakk!

Tamparan terakhir mendarat sebelum akhirnya Wonwoo mendorong Soonyoung untuk naik ke tempat tidur dan memulai Live streamingnya, sedangkan Wonwoo kembali ke sofa di ujung ruangan, menonton Soonyoung.

Soonyoung menyapa para penontonnya langsung dengan posisi bokong ekor kucing yang menghadap ke kamera.

“Hi Daddies, it's been a long time since my last broadcast. Isn't it?” Suara Soonyoung mengalun merdu, dengan kolom komentar yang terbakar menjawab pertanyaan Soonyoung barusan.

“Ini bakal jadi dua broadcast terakhirku sebelum benar-benar pensiun dini dari bleachbabe.com, so I wish you guys will have a lot of fun with me tonight, keyyy daddies?” Soonyoung kini membalikkan tubuhnya, tetap masih hanya menampilkan setengah wajahnya di kamera.

Sesi selanjutnya dimulai dengan Soonyoung yang mengurut penisnya yang masih tertutup lingeri brukat dengan gerakan lambat. Di pojok ruangan ada Wonwoo yang menyilangkan kakinya masih menonton setiap kegiatan soonyoung diatas tempat tidur itu. Ada tekanan berbeda bagi Soonyoung saat dirinya ditonton secara langsung oleh Wonwoo seperti saat ini, rasanya memalukan namun juga membakar gairahnya di saat bersamaan. Adrenalinnya benar-benar diuji.

“UHhh~” desah soonyoung saat kain brukat itu menggesek ujung penisnya.

Selama malakukan itu mata sayu Soonyoung tidak lepas dari tatapan tajam wonwoo di pojok ruangan, baginya setiap gesekan yang ia lakukan terasa seperti sentuhan besar oleh tangan Wonwoo.

Karena semakin panas kini Soonyoung mengeluarkan penisnya dari dalam lingeri itu dan membuat kolom komentar kembali riuh oleh sorakan para penontonnya.

Penis soonyoung sudah benar-benar sangat merah karena harus menahan segala godaan yang Wonwoo perbuat sejak tiga jam lalu di theater studio.

Soonyoung duduk mengangkang di depan kamera dengan wajah yang masih terlindungi, mengocok penis merahnya dengan tempo sedang. Lagi-lagi ia menatap arah Wonwoo yang ternyata masih betah menonton Soonyoung tanpa ekspresi sedikitpun yang membuat bulu kuduk Soonyoung semakin berdiri.

Kini soonyoung merubah posisinya menyamping menampilkan lubangnya yang tersumpal butt plug ekor kucing berbulu halus. Ia mainkan ekornya tersebut sambil menarik penisnya ke arah belakang kemudian mengapit paha depannya, menggantung di atas.

soonyoung menarik-narik butt plug tersebut berulang kali membuatnya merasakan nikmat dari besi tumpul yang memenuhi lubangnya saat ini.

“Ahh ahh” desah soonyoung saat merasakan butt plug itu tersedot masuk oleh lubangnya sendiri.

Di tonton seperti ini oleh Wonwoo malah membuat Soonyoung semakin kepanasan, ia masih bisa melihat dari sudut matanya bahwa Wonwoo tanpa bergeming masih memperhatikannya di sudut sana.

“Shhhh daddy uhhhh ahh ahh ahh” “Ohhhh ah ah ah!”

dan pada lima tarikan keluar masuk terakhir dari butt plug itu soonyoung akhirnya keluar dan sampai pada klimaksnya, memuntahkan cairan putih dari ujung penisnya yang memerah.

Soonyoung terkapar di atas tempat tidurnya.

Melihat itu Wonwoo langsung berdiri dari sofa dan mematikan paksa kamera dan siaran soonyoung tanpa menampakkan dirinya.

Ada geram yang bergemuruh di dada Wonwoo saat melihat Soonyoung mencapai puncaknya di hadapan ribuan orang yang menonton.

Ia tak rela berbagi soonyoung untuk orang lain.

Wonwoo menarik Soonyoung membuat butt plug yang masih menyangkut di dalam lubangnya tegesek oleh tempat tidur, belum lagi Soonyoung yang baru saja mencapai klimaks.

“Ahhhhhhh”desah soonyoung pasrah.

Wonwoo kemudian melepas butt plug itu dengan kasar dan langsung menjiati lubang soonyoung yang basah tersebut membuat pemiliknya terkejut bukan kepalang.

“OH MY LORD!” teriak Soonyoung saat merasakan lidah wonwoo menerobos lubangnya. Tubuhnya melengkung.

Wonwoo berlutut di atas lantai degan lubang soonyoung yang ada dimulutnya, dengan posisi ini membuat Soonyoung dapat meletakkan kedua telapak kakinya di pundak Wonwoo.

Wonwoo masih terus menjilati dan memakan lubang soonyoung dengan tangan kirinya yang kini ikut mengocok penis yang baru saja klimaks, membuat penis itu kembali menegang.

Wonwoo sendiri sudah membuka restleting celananya dan mengocoknya dengan tangan yang lain.

“Daddyy ohh enak! dad terusin shhhh shhhh”

Wonwoo bangkit dan langsung mencium soonyoung membuatnya meresakan spermanya sendiri dari mulut wonwoo.

Soonyoung menjilati dengan rakus bibir wonwoo dan melingkarkan tangannya di leher yang lebih tua untuk memperdalam lumatan mereka, di bawah sana kedua penis soonyoung dan wonwoo saling bergesekan.

“That will be your last broadcast” ujar wonwoo disela-sela ciumannya.

“I Still have one last broadcast daddy” balas soonyoung terbata.

“No, saya akan bayar berapapun denda yang mereka berikan untukmu. Just stop that fucking broadcast and do not ever do that anymore. That's an order!” tegas Wonwoo kembali menindis tubuh dan melumat bibir Soonyoung.

Keduanya kembali hanyut dalam erotismenya masing-masing ditambah kostum soonyoung saat ini benar-benar membuat Wonwoo ingin merobeknya.

Wonwoo kini kembali berdiri, ia mengambil penisnya sendiri kemudian di kocok bersamaan dengan penis soonyoung membuat kedua orang itu mendesah tak karuan.

Malam itu mereka habiskan untuk menikamati tubuh satu sama lain, dengan Wonwoo yang tanpa lelah mendorong penisnya masuk ke lubang sempit Soonyoung di atas tempat tidur, di pinggir meja belajar hingga Wonwoo akhirnya menyemburkan cairan putihnya dengan posisi berdiri menghimpit Soonyoung di dinding kamarnya.

Malam itu, malam terakhir Soonyoung sebagai pekerja di website berbayar bleachedbabe.com sebagai camboy dan kemudian menonaktifkan akun dengan user @candycum yang sudah menafkahinya selama dua tahun terakhir di hadapan Wonwoo.

Wah matep ni gaesss harga 290an aja udah dapet keyboard lipat baru hehehehe

“Daddy kenapa nih kaya bayi gede?”

“Gapapa lagi pengen peluk aja” ujar Wonwoo masih mendekap Soonyoung di sofa apartement mereka. Keduanya baru pulang dari kantor Wonwoo setelah sebelumya mampir untuk makan malam di salah satu resto favorit Wonwoo. Saat ini mereka masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi siang, belum ada yang bergerak untuk pergi mandi ataupun bebersih.

“Baby” panggil Wonwoo.

“Hm?”

“Jawabnya yang bener kalau saya panggil”

“Iya daddy kenapa?” ulang Soonyoung, melingkarkan tangannya di pinggang Wonwoo dan menyandarkan kepalanya di dada pemilik apartement itu.

“Ini gelang apa?” Wonwoo menyentuh gelang merah yang melingkar di pergelangan tangan Soonyoung. Sebenarnya ia sudah tahu bahwa itu adalah gelang yang 9 tahun lalu pernah ia berikan kepada Soonyoung.

“Oh ini hadiah ulang tahun dari teman aku”

“Masih di pake sampai sekarang? Udah jelek padahal, dekil” Wonwoo sengaja memancing reaksi Soonyoung dengan menyinggung gelang yang berbahan tali prusik yang memang sudah terlihat kusam itu.

“Soalnya ini satu-satunya hadiah dari dia”

“Siapa?”

“Ada pokoknya”

“Gak boleh saya tau?”

“Gak boleh soalnya nanti daddy cari orangnya, males”

“Kok males? Bukannya bagus kalau saya bantu cari?”

“Gak mau, nanti kalau dia ternyata udah berkeluarga gimana? Nanti terganggu gara-gara aku atau daddy cari dia. Gak enak sama keluarganya?” kata Soonyoung masih bersandar pada Wonwoo.

“Tau dari mana kamu kalau dia udah berkeluarga?”

“Nebak-nebak aja sih, soalnya waktu aku masih SD dia udah mau masuk kuliah apa SMA kelas 3 gitu aku lupa, berarti kan sekarang bisa aja udah menikah”

“Sotoy” kata Wonwoo menunduk dan mengecup bibir Soonyoung.

Soonyoung melirik sinis. Aneh.

“Jangan ya daddy jangan di cari” ujar Soonyoung lagi.

“Iya, tapi kalau misalnya dia yang cari-cari kamu gimana?”

“Ya gak gimana-gimana”

“Nggak kangen kamu sama dia?”

“Gimana yaa.....kalau dibilang kangen bisa sih tapi aku lebih yang kaya mau berterimakasih sama dia, Dad”

“Kenapa?”

“Let's be honest, daddy pasti udah tau asal usulku yang yatim piatu dan pernah tinggal di panti asuhan”

Wonwoo mengangguk.

“Jadi, dulu aku tinggal di Bekasi, Dad. Rumahnya depan-depanan sama kakak itu, kalau dia pulang sekolah pasti nyamperin aku ke rumah. Dulu almarhum mamah sama papah dua-duanya kerja jadi aku dititipin ke pengasuh atau kaya nanny gitu. Dia suka ajak aku main di depan rumah, kadang bawain keong-keongan atau itu kita suka main gundu, kalau kakak belum dateng aku gak mau makan siang hehe gak tau kenapa pokoknya kalo makan harus sambil main sama dia di depan rumah, nanny aku yang suapin...

terus waktu aku umur delapan tahun papa tiba-tiba ada dinas luar ke Semarang dan kebetulan mama udah ada di Semarang juga jadi disusul kesana. Karena cuma dua hari jadinya ya aku di tinggal sama nanny di rumah, kata papah kasian kalau aku ikut perjalanan jauh” Cerita Soonyoung tentang masa kecilnya, Wonwoo di sana hanya mendengarkan sambil mengelus punggung tangan yang sedang bercerita dengan sesekali menyentuh gelang merah di tangan Soonyoung.

”....waktu hari kedua nanny aku sakit jadi aku dititipin lagi ke rumah kakak di seberang rumah, aku sih seneng banget. Tidur sama kakak, makan sama kakak, main sama kakak pokoknya itu salah satu hari yang paling bahagia di masa kecil aku, gak ada yang marahin aku dan aku bisa puas main, orang tuanya kakak juga baik sama aku, aku di manjain banget seharian disana” sambung Soonyoung.

”...sampai waktu malam harinya aku dapet kabar, bukannya ketukan papah sama mamah yang jemput aku di rumah kakak tapi pak polisi yang mengabari kalau papah dan mamah kecelakan kereta api di Semarang, gerbongnya terselip dari rel kereta dan keluar jalur dan berakhir tabrakan dengan kereta api dari jalur lain. Papah mamah aku meninggal di tempat terhimpit gerbong kereta” Jelas Soonyoung, entah sejak kapan air mata mengalir di pipinya, ia sendiri bahkan tak sadar, menceritakan kejadian 11 tahun lalu itu ternyata masih bisa menyayat hatinya.

Tiba-tiba hati Soonyoung terasa remuk, dirinya yang masih berusia 8 tahun kala itu harus menerima kenyataan perih seorang diri, ditinggal oleh kedua orang tuanya dalam kecelakaan naas.

Wonwoo sebenarnya sudah tahu dengan jelas tentang cerita ini, ia bahkan ada disana memeluk Soonyoung kecil yang kala itu ia kenal sebagai Yoni, merengkuh badan kurus bocah 8 tahun itu yang harus mendengar langsung kabar kematian kedua orang tuanya.

Demi tuhan Wonwoo tidak ingin mengingatkan Soonyoung tentang masa lalu nya, ia tidak berniat sama sekali untuk mengoyak luka kering Soonyoung yang mungkin sebenarnya masih basah hingga sekarang. Awalnya ia hanya ingin membuat Soonyoung untuk mengingat dirinya namun yang didapat sekarang adalah Soonyoung yang meringkuk dipelukannya dengan air mata yang lagi-lagi membuat hati Wonwoo ikut tersayat.

Wonwoo masih diam sampai Soonyoung melanjutkan ceritanya.

”...Waktu itu kakak langsung peluk aku dan di bawa ke kamarnya lagi, entah apa yang dibicarakan oleh orang tua kakak dan pak polisi tapi setelah setengah jam, Ibunya kakak dateng ke kamar dan ngajak aku ke rumah sakit. Aku bahkan gak bisa lihat papah sama mamah untuk yang terakhir kalinya, Dad. Karena kata orang disana tubuh mereka remuk dan aku terlalu kecil untuk melihatnya jadi aku cuma bisa lihat peti jenazah kedua orang tuaku dihari terakhir itu” Wonwoo tahu, ia ingat.

”...tiga bulan setelahnya aku di jemput sama orang dari dinas sosial buat ikut ke panti asuhan, awalnya kakak dan orang tuanya gak mau. Mereka mau rawat aku seperti anak mereka sendiri dan aku tau betul mereka tulus mau merawatku. Tapi aku sadar daddy, walaupun aku masih kecil aku paham aku ini bukan siapa-siapa, punya hubungan keluarga aja enggak dan waktu itu kakak juga mau berangkat ke Jogja karena dia keterima kuliah disana, jadi aku pikir waktu itu untuk apa aku di sana membebani kedua orang tua kakak, bahkan anaknya sendiri aja harus tinggal berjauhan dari mereka masa aku yang notabennya cuma orang lain mau tinggal disana” Soonyoung melanjtukan ceritanya.

“Astaga Soonyoung” Wonwoo tidak habis pikir, Soonyoung kecil memiliki pemikiran seperti itu. Ia lalu memeluk kepala Soonyoung yang masih bersandar padanya, menciumi pucuk kepala yang lebih muda.

“Kalau libur semester kakak pulang ke Bekasi dan pasti ke panti kunjungin aku, suka bawa oleh-oleh dari Jogja aku seneng banget. Nah pas ulang tahun yang kesepuluh bertepatan sama libur semester dia juga mampir, yang mahasiswa di kasih libur hampir dua bulan itu loh dad, aku di ajak jalan makan ayam sama kakak terus di kasih gelang ini. Katanya ini cuma ada dua satunya buat aku satunya buat kakak soalnya dia custom di Jogja, padahal ya dad gelang ginian mah banyak kalau mau bikin juga di abang-abang depan SD” kini Soonyoung mulai tertawa mengingat kejadian saat ia berulang tahun kala itu. Sedihnya memudar sesaat.

“Kemarin-kemarin gak di pakai, kok baru sekarang?”

“Aku kadang-kadang doang pakainya, seringnya di simpen takut rusak soalnya dad”

“Terus kenapa hari ini di pakai?”

“Hari ini kakak ulang tahun”

Wonwoo terkejut ia bahkan tidak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya, ia benar-benar lupa.

Wonwoo menegapkan badannya yang membuat Soonyoung juga harus bangkit dari sandaran dan ikut duduk dengan benar.

Mereka saling berpandangan tenggelam dalam perasaan masing-masing. Entah apa yang sedang merasuki Wonwoo tapi perasaan itu mucul semakin jelas, perasaan untuk memiliki Soonyoung seuntuhnya dan tak ingin melepaskannya lagi. Cukup satu kali Wonwoo kehilangan Yoni, ia tidak ingin kehilangan Soonyoung lagi. Dua nama, satu sosok dan ribuan rasa.

.

.

Keduanya berciuman, mencari jawaban atas semua tanya.

.

.

.

“Baby” saat Wonwoo melepas ciumannya.

“Iya daddy?”

“Will you forget him for me?”

“Never”

Wonwoo tertawa kencang membuat Soonyoung menyesali ucapannya barusan. Takut-takut salah bicara karena baru sadar saat ini ia sedang bersama Wonwoo. The Jeon Wonwoo sugar daddy-nya.

“Okay”

“Apanya dad?”

“Kalau buat si kakak itu dapat dispesasi”

“Daddy gak jelas” Soonyoung kembali memeluk Wonwoo dan keduanya kembali saling berdekapan di sofa besar itu.

“Boleh cerita lagi?” tanya Soonyoung. Rasanya ia sedang berada di mode nyaman, ia bisa dengan leluasa menceritakan masa lalunya dengan Wonwoo. Bahkan dengan Jeonghan pun Soonyoung tidak pernah bercerita sedetail ini.

“Boleh”

“Sebenernya daddy Wonwoo itu bukan sugar daddy pertama aku”

Wonwoo terkejut tapi berusaha tenang.

“Gimana?” tanya Wonwoo.

“Kalau dilihat-lihat dari konsepnya sebenernya kakak itu Sugar Daddy pertamaku hehehe soalnya dia juga bayarin aku sekolah kaya daddy cuma bedanya dia gak cium-cium aku” Soonyoung tertawa menggoda Wonwoo.

Aneh. Perasaan Wonwoo aneh. Ia senang dengan apa yang di dengar tapi juga merasa cemburu dengan dirinya yang ada di masa lalu.

“Yaudah sana cari kakak kamu”

“Yee dibilangan aku gak mau, gak enak sama keluarganya

lagian udah cukup kakak sekolahin aku sampe lulus SMA bahkan semua keperluanku dia yang penuhin. Gak mau lah aku susahin dia terus, Dad”

“Padahal dia ikhlas” celetuk Wonwoo yang hanya mendapat lirikan singkat Soonyoung, tak paham. “Terus kenapa sekarang lost contact?” tanya wonwoo lagi.

“Terakhir ketemu kakak bilang dia keterima kerja dan ada usaha sama temennya jadi semenjak itu kita jarang ketemu karena kesibukan masing-masing juga tapi dia gak pernah lupa setiap bulan buat kasih uang sekolah sama keperluan walaupun dia gak dateng ke panti. Terus jadi semakin jarang sampai aku lulus SMA dan mutusin buat keluar dari panti dan kuliah sendiri”

“Kamu gak pernah cari kakak kamu itu?”

“Aku sempet ninggalin nomer telepon di panti jaga-jaga kalau kakak nyari aku ke sana, tapi gak tau mungkin nomor aku ilang di panti atau kakak emang gak cari aku disana” jawab Soonyoung jujur.

Wonwoo mencari Soonyoung ke sana tapi tidak ada satu informasi pun yang Wonwoo dapatkan berbuah hasil. Untuk nomor telepon yang Soonyoung bilang tadi, Wonwoo tidak pernah mendapatkan nomor itu bahkan setelah berkali-kali ia bertanya di sana.

Percakapan itu berhenti disana, Wonwoo tidak mengulik lebih jauh. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.

.

.

.

.

“Daddy”

“Iya?”

“Ngewe yuk?”

Setelahnya Wonwoo mengangkat tubuh Soonyoung dari sofa itu dan menghilang dibalik pintu kamar utama.

Soonyoung sampai sekitar pukul 3 siang dan langsung menuju ruangan Wonwoo, sebelumnya ia sudah menyapa Seungcheol yang berada di meja kerjanya di depan ruangan Wonwoo. Menyampaikan tujuannya ke sini untuk mengajak Seungcheol ke apartement baru Jeonghan untuk berbelanja, dan ya sudah dapat dipastikan Seungcheol dengan senang hati akan ikut bahkan ia terlihat terlalu bersemangat. Setelah berpamitan dengan Seungcheol, Soonyoung kemudian pergi ke ruangan dengan pintu kayu coklat yang cukup besar dengan ukiran nama Jeon Wonwoo General Manager.

Ia mengetuk dua kali sebelum membuka pintu tersebut dan langsung menyunggingkan senyum paling cerianya saat matanya bertemu dengan Wonwoo yang entah sedang sibuk menandatangani berkas apa.

“Daddy~” Soonyoung memeluk Wonwoo dan mencium bibirnya singkat.

Wonwoo menarik pinggang Soonyoung dan menariknya untuk duduk di pangkuannya. Soonyoung menurut.

“Sudah makan?” Tanya Wonwoo mengeratkan pelukannya di pinggang Soonyoung.

“Udah dong”

“Masak apa?”

“Ayam rica-rica”

“Tumben? Gak pedes?” tanya Wonwoo keheranan, karena setahunya Soonyoung bukan penggemar makanan pedas.

“Iya gak pedes”

Wonwoo tertawa mendengar jawaban Soonyoung.

“Mana ada rica-rica gak pedes, baby” ujar Wonwoo mencium pipi Soonyoung dari samping.

“Ada loh daddy aku yang buat” balas Soonyoung lagi dengan wajah sok tahunya.

“Kenapa saya gak dibawain?”

“Emang daddy mau? bukannya udah makan?”

“Udah, tapi kalau kamu bawain ya saya makan lagi”

“Hehhehe maaf ya daddy aku mah orangnya gak pekaan” sekarang Soonyoung yang mencium pipi Wonwoo. “Ih belum cukuran ya?” Soonyoung menyentuh sisi dagu dan bagian atas bibir wonwoo.

“Belum, besok baby aja yang cukurin”

“Oke” setelahnya Soonyoung bangkit dari pangkuan Wonwoo, tidak ingin mengganggu pekerjaan Wonwoo lebih lama karena melihat masih banyak berkas yang berada di meja daddy-nya itu.

“Udah bilang ke cheol?”

“Udah dad tadi di depan”

“Mau dia?”

'Mau dong, sudah jelas” kata Soonyoung memainkan hpnya, sudah duduk di kursi yang ada di depan meja wonwoo berhadapan.

“Ngechat siapa sampai manyun-manyun begitu?”

“hm? Yeji...kok dia ga bales chat aku ya”

“Dapat dari siapa nomor Yeji?” tanya Wonwoo.

“Dari Pak Seungcheol hehehehehehe”

Wonwoo akhirnya hanya menggelengkan kepala, baby-nya yang satu ini memang tidak bisa dilarang, hanya dia satu-satunya yang berani membantah atau melanggar larangan Wonwoo.

“Daddy extension ruangan Yeji berapa?” tanya Soonyoung yang sudah mengangkat pesawat telepon yang ada di meja Wonwoo.

“208”

Kemudian Soonyoung langsung menekan angka tersebut dan tak lama tersambung.

“Halo, Yeji ada?”

”.....”

“YEJIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII”

”.....”

“Emanya masih ada? mauuuuu”

”....”

“Hehehe oke oke tapi kamu gak sibuk kan?”

”....”

“Ih kasian gapapa kesini aja sebentar, gaaak gakkk gak bakal di marahin Pak Wonwoo”

”....”

“Okesipppp”

Soonyoung menutup teleponnya dan melemparkan senyuman paling polos yang ia punya kepada Wonwoo.

K.O

Wonwoo tidak ada perlawanan.


Setelah mengobrol setengah jam bersama Yeji di ruangan Wonwoo, tentu saja di sofa tamu andalan Soonyoung yang ada di pojok ruangan dan ditemani dengan puding coklat kesukaannya, ia kembali bermain hpnya sendiri melihat-lihat cuitan orang di twitter atau sekedar membuka akun makanan yang ada di instagram karena Yeji yang harus kembali bekerja. Sementara Wonwoo masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya di kursi utama.

“Misi Pak” sapa seseorang berkeperawakan kecil namun memiliki badan yang cukup kekar untuk ukurannya, masuk ke ruangan Wonwoo.

“Gimana ji?”

“Mandala nggak mau kasih, Pak”

“Yaudah ntar gue bilang Claire aja biar dia mintain sama atasannya”

“Yah Pak tau gitu langsung aja pake orang dalam kemarin” kata Jihoon duduk di depan Wonwoo.

“Kalau lo bisa kan ngapain gue suruh orang lain, lagian gue udah kebanyakan minta tolong sama si nyai”

“Hahaha masih suka rewel dia, Pak?”

“Nggak, kan sudah ada pawangnya” Wonwoo kemudian menyerahkan beberapa berkas yang sudah selesai ia tandatangani untuk divisi IT yang di bawahi oleh Jihoon.

Jihoon mengedarkan pandangannya ke ruangan Wonwoo dan betapa terkejutnya Jihoon ternyata ada orang lain selain mereka berdua yang ada disana, ditambah orang itu dengan santainya menyilangkan kaki di atas sofa Wonwoo.

Mata keduanya bertemu dan seperti ada kilatan memori di kepala Jihoon yang terlintas saat wajah familiar yang dijumpa.

“Kak Ujik!”

“Yoni?”

Dear Seventeen,

Here my little story about me and my 13 guys. I met them back in 2016 in my hardest time at my last semester in university. I was so depressed I felt like my world broke into pieces. I couldn't even start my thesis and for 6 months I did nothing.

And then, they came... Adore U was my first Seventeen's song I heard, their energy was really BIG and I felt it, they gave me a positive energy and I started to listen to another songs. Mansae and Aju Nice, I remember I listened to these songs every single day, I became more excited day by day and started to get my spirits back, these songs gonna be my favorite all time.

Have you ever imagine that one song can helped you through your worst time? I was never believe in such thing but Seventeen did, their songs helped me through it. I couldn't imagine how's my life back there if I didn't meet them, how could I deal with my problems if I didn't know them. Yes I have my family and friends but you know there's time when you are sitting alone in your room and the only thing you wanted is just a comfort and I found in them. In Seventeen.

I finally began my thesis in December 2016, whenever I stayed all night to did my research I always listened to their songs, whenever I took a break after a long night in front of my desk I'll watched their performance to gained my energy back and it magically works. (Here is my little secret, I put Seventeen's picture as my thesis draft's cover so I won't get lazy to revised my draft after cosulting with my Professor hehe).

I graduated in early July 2017 and made my parents proud.

At that time I promised to myself that I will meet them once in my life. Just one time and I'll be the happiest person in the world, then I started to applied my CVs to many companies because Pledis has announced that Seventeen will have their first world tour Diamond Edge 2017 and my country Indonesia was in the list. I was working REALLY hard to find a job so I could afford the concert's tix and the flight ticket (I live 2090 km from Jakarta) so I gotta started saving.

I get accapted in one of the biggest finance company in my country which has a head office in Jakarta and I had to flight there to have my training period. My journey started from here.

Believe it or not my office location is only 2 km away from the concert venue (ICE BSD JAKARTA), I flight there for free the company paid my flight, I recieved my sallary and I..........................met Seventeen for the first time. I met my 13 guys that helped me through my youth day, who gave me energy to continue my life, to be grateful that life is more beautiful than you ever thought.

I also met so many new friends, best friends and family. I love them so much.

Now I get back to my hometown still working at the same company but in one of their branch office and after these almost my 5 years journey, Seventeen is still there as my sorotin boost and my biggest source of energy.

Seventeen, thank you so much for your hard work. Please know that your music and your existance is someone miracle, and so many people has inspired and get back to their life because of you. Please to stay healthy and don't get hurt, eat a lot and stay hydrate. Your healthy is the first priority, If you're tired please have some rest , don't push yourself too hard because we will always waiting here. We believe in you, Seventeen. My love for Seventeen will last forever even after the last Say The Name.

Your Carat,

milkyways07

Wonwoo datang ke Polsek Jakbar setelah mendapat pesan dari Soonyoung. Di sana ia melihat Soonyoung yang duduk melamun di kursi tunggu front office sendirian sambil menggenggam kedua tangannya.

“Baby” Panggil Wonwoo saat sudah berada disampingnya, menyentuh pundak yang sedang bersedih.

Soonyoung yang tersadar akan kedatangan Wonwoo langsung berdiri dan memeluknya. Dipelukan itu Soonyoung berbagi sedihnya, perasaan yang sejak tadi berkecamuk memenuhi hati dan kepalanya ia tumpahkan. Air mata Soonyoung tak dapat lagi dibendung, air mata yang untuk pertama kalinya Wonwoo lihat, air mata yang nyatanya bisa membuat hati Wonwoo tersanyat hanya karena melihatnya.

Wonwoo membalas pelukan Soonyoung mendekapnya aman dan menepuk punggungnya lembut. “It's okay baby, Jeonghan is safe now” bisik Wonwoo menenangkan.

“Kak Han berbulan-bulan ngadepin ini sendiri, dad. Aku bahkan gak tau sahabatku hidup dalam neraka” tangis Soonyoung menjadi. Wonwoo mengeratkan pelukkannya.

“He got us now, sekarang kamu sudah tau jadi jangan sedih lagi ya. Temani Jeonghan sampai ini selesai, baby you gotta be strong for him, he needs you, mingyu and seungkwan. Don't worry I'll be with you”

Soonyoung mengangguk dalam pelukan Wonwoo kemudian melepaskan pelukkannya. Wonwoo menangkup pipi yang lebih muda, mengusap air matanya dengan ibu jari.

“Jelek kalau nangis” ujar Wonwoo.

Soonyoung kemudian tersenyum walaupun pipinya masih basah.

“Better” balas Wonwoo lagi melihat pelangi kembali di mata Soonyoung. .

.

.

“Kenapa nangis?” Tanya Jeonghan pada Soonyoung saat sudah selesai memberikan keteranganya.

“Gak ada yang nangis, kak han tuh nangis sesunggukan”

“Boong lagi sama gue” Jeonghan menarik pipi gembul Soonyoung.

“Dikit doang” kata Soonyoung mengerucutkan bibirnya.

“Gue gakpapa Soonyoung, udah jauh lebih baik”

“Gue mau peluk” ujar Soonyoung tiba-tiba.

Kemudian kedua sahabat itu berpelukan disaksikan Wonwoo dan Seungcheol yang ada di sana. Tidak ada canggung hanya kelegaan yang dirasakan.

“Nyong, kalau dia udah ketangkep gue mau pindah apart”

“Kemana kak? Di tempat gue aja dulu”

“Ya belum tau sih tapi mas seungcheol bilang dia ada refrensi deket-deket kampus”

“Boleh pindah asal udah dapet dulu apartnya, gak boleh kalau masih belum jelas” tegas Soonyoung.

“Gak enak sama Wonwoo”

“Ih apa sih kak! Gapapa, Pak wonwoo juga gak masalah, iya kan daddy?” Soonyoung langsung menoleh kepada Wonwoo yang ada di belakangnya.

Wonwoo yang kikuk terpaksa menganggukkan kepalanya membuat Seungcheol diam-diam tertawa. Betapa bedanya Wonwoo yang sekarang saat bersama Soonyoung.

“Tuh kak han! Orangnya sendiri yang iyain” Soonyoung menggandeng tangan Jeonghan keluar Polsek menuju parkiran.

Jeonghan hanya menyerinyit merasa tidak enak dengan Wonwoo.

.

.

.

Siang itu Jeonghan dan Soonyoung diantar kembali ke apartement setelah mengabari kedua sahabat mereka yang lain yaitu Mingyu dan Seungkwan. Mereka memutuskan untuk menginap bersama di apartment Wonwoo sebagai bentuk dukungannya untuk Jeonghan. Bahkan tak disangka-sangka karena Wonwoo yang merasa canggung dengan teman-teman Soonyoung ia jadi mengajak Seungcheol untuk inkut menginap. Berakhirlah apartment Wonwoo menjadi penginapan sementara keempat sehabat dan sekretarisnya itu.


Keduanya memasuki lift dari lobby utama menuju lantai 25 hotel tersebut, sudah pukul 11 malam dan tidak terlalu banyak pengunjung hotel yang berlalu lalang.

Tiba-tiba saja suasana menjadi canggung bagi Soonyoung, ia menjaga jarak dari Wonwoo dan berdiri satu meter di sebelah kiri, Wonwoo sendiri pun hanya diam menatap lurus pintu lift yang mulai tertutup dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam kantung celananya.

Soonyoung melirik Wonwoo dengan anak matanya berharap ada sesuatu yang bisa memecah keheningan namun nyatanya tidak ada ekspresi sama sekali dari sana, bahkan menoleh saja pun tidak.

Soonyoung akhirnya berdeham. Mencoba peruntungannya.

“Daddy” cicitnya kecil.

Tidak ada sahutan.

Ia diam kembali.

.

.

.

Lift berhenti dan kemudian terbuka di lantai 5, ada sekitar enam orang yang masuk secara bersamaan membuat luas lift tersebut menyusut dan membuat Soonyoung harus bergeser untuk orang lain. Wonwoo yang melihat itu langsung menarik pinggang Soonyoung membuatnya berdiri di hadapan Wonwoo namun dengan posisi membelakangi. Soonyoung berubah kaku saat pantatnya terasa bergesekan dengan sesuatu yang sudah setengah menegang dari dalam celana Wonwoo yang berhimpitan dengannya.

Wonwoo sendiri masih dengan posesif memegang pinggang Soonyoung di tangan kanannya dan menekan pinggulnya lebih dalam ke belahan pantat Soonyoung, sengaja agar Soonyoung tau bahwa ada yang sudah menunggunya di bawah sana.

Soonyoung hanya bisa menelan air liurnya dalam diam, ia tidak berani bergerak sama sekali karena pasti itu akan menimbulkan gesekan yang lebih kuat lagi.

Entah sengaja atau tidak tapi tiba-tiba saja Wonwoo berbisik di telinga kiri Soonyoung dengan sangat pelan,

“Rasanya...saya pengen ngewe kamu di depan orang-orang ini” Seketika kemapuan bernapas Soonyoung berhenti, lehernya tercekat dan oksigen tidak dapat ia hirup dengan benar lagi.

Sudah gila.

Dan Wonwoo menyunggingkan satu senyuman tipis di unjung bibirnya.

Di lantai 10 semua orang tadi turun dan tinggal lah Soonyoung dan Wonwoo kembali berdua.

Buru-buru Wonwoo menekan tombol berhenti sesaat setelah pintu lift tetutup dan langsung mengkungkung Soonyoung dengan kedua tangannya.

“Kamu tau...” Ujar Wonwoo tepat di depan bibir Soonyoung yang tak sengaja terbuka kecil karena terkejut. “....baju ini sangat mengganggu saya dari tadi” Wonwoo menarik keluar ujung inner baju Soonyoung yang berbahan organza tipis dan agak terawang dari celananya, membuat kain itu tersingkap memperlihatkan sedikit kulit pinggul Soonyoung yang putih mulus.

“Kenapa harus memilih yang tipis seperti ini, hmm?” Tanya Wonwoo semakin membuat Soonyoung terpojok.

Ia sendiri hanya menggeleng polos.

“Menolak setelan warna merah bisa, tapi kenapa menolak pakaian tipis ini tidak bisa?” Tanya Wonwoo lagi dengan tangannya yang sekarang berani membuka kancing inner Soonyoung yang paling bawah. Memberi akses tangan ber-uratnya menyentuh perut rata Soonyoung.

“Daddy lift-nya” ujar Soonyoung saat merasa tangan besar itu mulai naik ke dadanya.

“Kenapa?”

“Nanti ada orang yang mau naik juga kasian”

“Saya gak peduli?” Kemudian Wonwoo menyapu gundukan di dada Soonyoung membuat pemiliknya menggigit bibir bawahnya sendiri menahan desahan.

“Kenapa di tahan, baby?”

“Takut ada orang”

“Gak mungkin”

Wonwoo kembali menyentuh puting Soonyoung, kali ini dengan ujung jempolnya membuat gerakan memutar di pucuk puting yang mulai menegang itu.

“Daddy...” Soonyoung merengek, ia sudah menyandarkan kepalanya pada dinding lift yang keras dan dingin.

Wonwoo tersenyum, ia menciumi leher Soonyoung yang terekspose karena pemiliknya yang terus-terusan mengangkat kepalanya karena nikmat cubitan-cubitan kecil Wonwoo di putingnya.

Selama mencium leher Soonyoung tidak ada hentinya Wonwoo membisikan kalimat erotis yang membuat Soonyoung semakin kepanasan.

“Kamu seksi banget, baby” Wonwoo menjilat dada Soonyoung yang memang bentuk kerahnya berbentuk huruf V.

“Gimana bisa mulut kecil ini bikin kontol saya masuk semua?” Wonwoo menggigit bibir Soonyoung dan menariknya pelan kemudian menjilatnya.

“Baby pantat kamu tambah kenyal pengen saya tampar” Wonwoo meremas kedua bongkahan pantat soonyoung dengan kedua tanggannya.

Banyak bisikan erotis Wonwoo yang semakin membuat Soonyoung memanas dan penisnya berkedut.

“Suka diginiin sayang?” Sekarang Wonwoo memengang ujung penis Soonyoung yang sudah tegang sempurna di balik celananya.

Soonyoung mengangguk lagi dan seolah mendapatkan izin, Wonwoo lalu membuka restleting celana yang lebih muda. Mengambil penis yang sudah menegang itu dan mengelurkannya dari balik celana dalam hitam yang ia kenakan.

Wonwoo lagi-lagi tersenyum miring.

“Sengaja, huh? Pakai celana dalam seperti ini?” Wonwoo menarik pinggiran tali celana dalam Soonyoung yang tipis membuatnya terhimpit di dalam.

“Aww daddy”

“Apa suka kejepit begini?”

Tidak menjawab, Soonyoung malah mendesah karena penisnya sekarang benar-benar sudah di keluarkan Wonwoo. Menggantung di hadapannya.

“Udah basah, udah merah, binal banget kamu baru juga di gesek sedikit” bisik Wonwoo lagi.

“Daddy please”

“Please apa?”

“Kocokin punya aku” mohon Soonyoung.

“Bilang yang bener”

“Daddy please kocokin kontol aku, gatel daddy~” kembali Soonyoung memohon dengan napsu yang sudah diujung puncak kepala dan sendi-sendi tulangnya yang mulai melebur.

“Good boy” Kemudian Wonwoo menurutkan sedikit lagi celana Soonyoung sebatas pipi bokongnya dan bagian depan sebatas twistball-nya agar bisa ikut di keluarkan dari celana dalam tipis itu.

Wonwoo turun berlutut di hadapan Soonyoung bukan untuk melamarnya namun untuk menghisap penis tegangnya.

Ia mengocok pelan terlebih dahulu kulit penis yang menyelimuti daging putih yang mulai kemerahan itu, memeberikan friksi yang membuat Soonyoung seketika merentangkan tangannya mencari tumpuan pada dinding lift di sebelah kirinya karena kedua kakinya yang sudah terasa kebas tak mampu menopang berat tubuhnya lagi atas nikmat yang barusan diberikan oleh jari-jari panjang Wonwoo.

“Mau mulut daddy”

“Sabar. Jangan perintah saya” balas Wonwoo yang melihat Soonyoung dari bawah saat ini. Rambut merah Wonwoo menambah gairah sex Soonyoung semakin memuncak karena Wonwoo benar-benar terlihat seksi dengan tatanan dan warna rambut seperti itu.

Wonwoo mengambil ujung inner Soonyoung yang terjuntai di depan hidungnya dan menyuruhnya untuk memegang itu. Ia menurut, Soonyoung menarik inner bajunya ke atas membuat perut ratanya terekspose.

Dan dalam detik berikutnya ujung penis Soonyoung sudah di kulum oleh lidah basah Wonwoo.

Ia menjilati penis Soonyoung dengan sangat lambat, menyiksa yang lebih muda.

“Haaah” Soonyoung melepas desahan pertamanya.

“Enak di sepongin, baby?” Tanya Wonwoo dengan penis Soonyoung yang masih menempel di lidahnya.

Soonyoung mengangguk, kepala masih terdongak ke atas.

Wonwoo kembali mengulum penis Soonyoung yang sepenuhnya sudah memerah dan bengkak. Menghisapnya keluar masuk, terkadang menyisakan ujungnya untuk di jilat memutar sebelum di kulum lagi.

Wonwoo terus memompa penis Soonyoung dengan mulutnya, membuat Soonyoung semakin menggelinjang, bahkan kepalamya sudah beberapa kali ia banting ke kiri dan kanan menahan nikmat yang Wonwoo berikan di bawah sana.

Pada kulumannya yang entah sudah berapa puluh kali, penis Soonyoung terasa semakin membengkak dan tubuhnya pun sudah bergetar beberapa kali yang menandakan Soonyoung akan keluar sebentar lagi. Dan tepat saat Soonyoung mengatakan,

“Daddy aku mau-”

Wonwoo melepas kulumannya pada penis Soonyoung, menaikan celana dalamnya dan menutup resletingnya lagi. Merapihkan baju Soonyoung dan mengelap bibir bekas ia memberikan blowjob pada Soonyoung dengan punggung tangan kirinya dan langsung menekan tombol naik membuat lift kembali beroperasi dan melanjutkan tujuan ke lantai selanjutnya. Kemudian bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.

Di belakangnya Soonyoung tercengang dan hampir merosot dilantai dengan aksi tiba-tiba Wonwoo yang menghentikan kulumannya tepat sebelum Soonyoung keluar. Ia tidak habis pikir ada orang sekejam itu.

Kurang ajar. Batin Soonyoung.

Saat keluar dari lift merekantak sadar ada kamera cctv yang merekam perbuatan kotor mereka disana.

.

.

.

Di kamar hotel Soonyoung langsung berlari masuk saat Wonwoo membuka pintu kamarnya dan dengan kilat Soonyoung membanting tubuhnya di atas kasur dengan posisi bertelungkup.

Tidak tinggal diam, Wonwoo langsung menarik kaki Soonyoung itu dan membuka celanannya paksa.

“Daddy stop!” Kata soonyoung menolak. Tapi sudah jelas tidak dihiraukan oleh Wonwoo.

Soonyoung sudah setengah telanjang, celananya terlepas menyisakan jas dan innernya serta celana dalam hitam yang lebih terlihat seperti lingerie.

“Daddy ih! Diem dulu!” Akhirnya ia bisa melepaskan diri dari cengkraman Wonwoo dan melarikan diri ke ujung tempat tidur dan menutupi bagian bawahnya yang sudah hampir telanjang dengan bedcover, membuat Wonwoo kini berdiri tegap di depan tempat tidur bertolak pinggang melihat kelakuan baby-nya ini.

“Apa? Mau bilang apa?” Tanya Wonwoo kesal.

“Jangan marah. Gak boleh marah. Daddy di larang marah soalnya aku yang harusnya marah” sungut Soonyoung.

“Fine”

“Daddy janji mau cerita, jelasin semuanya ke aku tentang hari ini. Otak aku kecil daddy aku gak pinter kaya daddy, aku gak bisa mencerna semua kejadian dari tadi siang. Aku bingung” jelas Soonyoung panjang lebar.

Wonwoo menghembuskan napasnya.

Kemudian berbalik menuju meja bar yang ada di ruang hotel VVIP itu, menuang satu gelas wine kemudian kembali mendekati Soonyoung lagi.

“Hari ini sudah berapa banyak minum cocktail?”

“Dua gelas” balas Soonyoung tidak berbohong.

“Berarti kuotanya udah habis”

“Aaaa daddy mau sedikit” rengek Soonyoung melihat gelas yang berisi wine ditangan Wonwoo.

“Mau?”

soonyoung mengangguk.

“Sini” panggil Wonwoo. Soonyoung mengesot di atas tempat tidurnya masih menjaga bedcover untuk menutupi pahanya.

Saat sudah ada di hadapan, Wonwoo menarik dagu Soonyoung agar ia mendongak. Wonwoo meminum wine yang ada di gelasnya, tidak ia telan namun ia berikan pada Soonyoung melalui mulunya sendiri.

Wonwoo menumpahkan isi wine yang ada di mulutnya ke dalam mulut Soonyoung yang ia cengkram dan Soonyoung meminum wine pemberian Wonwoo tersebut.

“Apa rasanya?” Tanya Wonwoo.

“Manis Daddy” balas Soonyoung.

“Good. Now sit here” wonwoo pergi ke sisi tempat tidur yang memiliki sandaran. Naik kesana membuka jasnya dan kerah jas bagian atas. Disusul Soonyoung yang ikut menghampiri.

Wonwoo melebarkan lengannya agar Soonyoung bisa bersandar padanya.

“Listen what I'm gonna say tonight because I wanna be honest to you”

“Iya daddy” balas Soonyoung yang kini bersandar pada dada Wonwoo.

“Claire....” Wonwoo menyebutkan nama itu sambil mengamit tangan Soonyoung yang ada di atas pahanya.

“Dia dulu mantan partner saya....seperti kamu”

Soonyoung paham.

”...but not anymore” lanjut Wonwoo.

“Berapa lama?” Tanya Soonyoung.

“She's the longest...2 tahun”

Damn. Batin Soonyoung.

“She was amazing, Soonyoung. A very bright young lady and surprisingly clever. I met her when she was an intern in my company”

Soonyoung masih diam mendengarkan.

“She caught my attention and at some point we made the deal...she.....she need the money for her mom”

“Her mom?” Tanya Soonyoung.

“Iya. Nyonya Lim sakit kanker payudara dan diabetes”

“You knew her mom, daddy?”

“I met her twice at the hospital”

“Where is she now?”

“She passed away, Soonyoung”

Soonyoung diam lagi dan Wonwoo melanjutkan ceritanya.

“Claire was a good listener, I could almost tell all my problems, my rants, my anxious to her, she didn't do anything, she just...sat there and listen to my stories” “She was very kind and i used to live with her, well, not like us..she lived in her own house but i felt like she was my home.....I....I was in love with her”

Ada semilir dingin menyapu kulit Soonyoung entah karena suhu pendingin yang semakin rendah atau karena mendengar pengakuan cinta Wonwoo pada orang lain barusan yang membuat perasaan Soonyoung tak nyaman. Hatinya seperti di pukul oleh benda tumpul tak kasat mata namun sakitnya nyata.

”...but I didn't realize it, i didn't know how I feel back there. I was so arrogant and I used her nothing better than just a sex partner without knowing her value. And.....I lost her” “When I treated her like a trash, showered her with money. But there's actually one guy did better job than me. He gave her his all attention, he healed her, he was there when she need me the most but being a jerk I was, I didn't even show up at her mom's funeral” “....at that point I really lost her, I lost the track and I couldn't catched up anymore as the contract got expired”

.

.

.

”.....she......she finally got married to that guy......

..........Lee Seokmin”

Soonyoung tersentak, meluruskan punggungnya dan duduk menghadap Wonwoo.

“Dr. Lee?” Tanya Soonyoung terkejut.

“Iya”

Soonyoung menutup mulutnya tak percaya. Ia tak habis pikir bagaimana bisa Wonwoo masih memiliki hubungan yang dekat dengan kedua orang itu bahkan setelah apa yang terjadi diantara mereka.

“So, dokter Lee tau kalau kak Claire dulu sugar baby-nya daddy?”

“Tau, mereka kenal karena saya bawa Claire check up rutin seperti kamu kemarin”

Soonyoung tak bisa berkata-kata lagi.

“But don't worry baby, I'm over it. We are all good now” senyum wonwoo, mengelus telapan tangan Soonyoung yang berkeringat.

“Do you still love her?”

“Hahaha ofcourse no, baby. Why would I still have a feeling for someone's wife?”

“Who knows” ujar Soonyoung lagi .

“She's my bestfriend beside Seungcheol. Ugh I hate to admit it, Cheol will over his heels if he hears it...but anyway nothing left between me and Claire, she's just my little sister. So, that's why I asked her favor to help me and you today and she agreed”

“Kenapa daddy mau cerita ini ke aku?” Tanya Soonyoung serius menatap mata Wonwoo.

“I just feel like.....I have to” “I don't want you to missunderstood if you hear it from someone else”

“Why would I, dad? We will only last for 5 months. I don't have any right to do so. It's okay if you dont want to tell me” balas Soonyoung masih sama seriusnya.

Mendapat balasan seperti itu membuat jantung Wonwoo bergemuruh kencang. Kenapa rasanya ia benci sekali dengan kalimat itu, kenapa rasanya ia tidak ingin berpisah dari Soonyoung, kenapa rasanya saat ini ia ingin merobek kertas perjanjian yang telah ia buat sendiri tempo hari.

Meluapkan emosinya, Wonwoo langsung bangkit dan menyambar bibir Soonyoung. Mengunci dan melahapnya.

“You are all mine”

Tbc...

.

.

Wonwoo sampai pukul 5.20 sudah lengkap dengan setelan jasnya sendiri, ia pergi ke salon dan butik lain yang memang selalu biasa Seungcheol siapkan untuknya.

Wonwoo mengenakan jas hitam dengan inner kemeja yang juga hitam. Tatanan rambut undercut dan disisir ke atas membuat penampilannya terlihat kuat dan profesional.

Wonwoo datang sendiri karena setelah berpisah dari salon, Seungcheol harus menjemput Joshua di rumahnya.

Wonwoo memasuki Salon mahal itu dengan gagah, pantofel hitam mengkilapnya bahkan menimbukan suara yang mengintimidasi saat mergesekan dengan lantai marmer di salon tersebut.

Ia berjalan lurus ke dalam setelah melihat pundak seseorang yang dikenalinya sedang merapihkan beberapa bagian jas di depan kaca dibantu oleh wanita yang sejak siang tadi ia repotkan.

“Baby” bisik Wonwoo di telinga Soonyoung sangat pelan membuat yang dipanggil merinding tiba-tiba. Soonyoung terperanjat saat melihat pantulan Wonwoo di kaca, ia bahkan belum membalikkan tubuhnya.

“YA TUHAN!” Soonyoung hampir dibuat lemas, bagaimana tidak Wonwoo yang datang padanya sore ini merubah warna rambutnya menjadi deep maroon.

“Rambutnya kenapa daddy?” ujar Soonyoung membalik badannya melotot memperhatikan rambut Wonwoo. Wajah mereka kini sangat dekat dengan tinggi Soonyoung yang hanya sebatas hidung Wonwoo membuatnya terlihat kecil saat ini.

“She said you don't really like red. So, I'll make you do. It's gonna be your favorite color for now on” ujar Wonwoo.

“Kak claire boleh anter aku pulang aja nggak?”

“Hmm no..no..aku udah bikin kamu ganteng kaya gini so you still have to go with this old man and deal with it” balas Claire menyilangkan tangannya di dada.

Soonyoung memutar matanya membuat Wonwoo tertawa, “Shall we go now, baby?”

Soonyoung mengangguk dan kemudian mengambil paper bag yang berisi tas dan bajunya yang dipakai tadi, membawanya bersama ke mobil Wonwoo dan tak lupa mengucapkan terimakasih pada Claire.

“Iya jangan lupa nanti traktir aku ya Soonyoung”

“Okey kak” lalu Soonyoung berjalan duluan ke luar.

Sedangkan Wonwoo mengikutinya di belakang, menatap Claire dengan sekali anggukan tanpa ekspresi dan kemudian pergi.


Mereka sampai di hotel tempat acara diselenggarakan, sudah banyak mobil-mobil mewah yang lalu lalang membuat Soonyoung semakin gugup.

Acara ini bukan sekedar pesta makan malam, namun sekaligus penggalangan dana dari perusahaan-perusahaan yang bekerja sama. Akan banyak tokoh penting di dunia bisnis, perbankan dan finance yang akan hadir sehingga ini adalah saat yang tepat bagi Wonwoo untuk menjalin koneksinya lebih luas dengan rekan bisnisnya.

Saat keluar mobil dan berjalan ke red carpet sudah banyak pewarta berita yang siap dengan kameranya untuk meliput penyelenggaraaan Gala Dinner dan Charity Event ini, melihat banyaknya mata yang tertuju padanya membuat Soonyoung tiba-tiba kehilangan rasa percaya diri. Ia merasa kecil dan tidak pantas, tempat ini bukan untuknya. Soonyoung mematung sesaat membuat Wonwoo sadar ada yang tidak beres.

“Take a deep breath, baby. Walk with me” ujar Wonwoo kemudian menggandeng tangan Soonyoung di hadapan publik, yang sudah pasti disambut dengan jepretan cahaya kilat dari lampu kamera para reporter.

Tidak ada yang Wonwoo sembunyikan, ia menunjukan Soonyoung pada dunianya.

Genggaman itu menenangkan Soonyoung.

.

.

.

.

Sampai di dalam mereka disambut dengan berbagai macam warna cocktail mulai dari Mojito, Tequila Sunrise, Martini, Hurricane hingga Bloody Marry. Soonyoung yang melihat itu sampai membulatkan matanya.

“This is your first alcohol tonight” Wonwoo memberikan 1 gelas Sangria, cocktail punch yang terdiri dari anggur merah dan buah-buahan segar cincang dan jus buah.

Soonyoung tersungut teringat bahwa limit alkoholnya hanya dua saja sesuai kontrak yang mereka tandatangani.

“Daddy~” Soonyoung menarik ujung jas Wonwoo, merengek untuk memberikannya lebih.

“No baby”

Soonyoung mengjembuskan napasnya. Tidak ada rengekan lagi setelahnya karena ada satu kolega Wonwoo yang menghampiri.

Wonwoo mengobrol beberapa saat, orang-orang berdatangan silih berganti menyapa Wonwoo dan ia pun beberapa kali menghampiri yang lainnya. Pada awalnya Soonyoung akan mengikuti Wonwoo di belakang, namun lama kelamaan ia lelah merasa tidak mengerti dengan semua percakapan yang ia dengar jadi setelah hampir 45 menit ia mengikuti Wonwoo, Soonyoung akhirnya menyerah dan memilih pergi ke tempat yang lebih sepi di pojok ball room menyesap gelas cocktail keduanya dengan 2 potong mini cheesecake.

Ia memperhatikan sekekelilingnya, tak satu orang pun yang ia kenal. Mungkin ada satu dua orang yang wajahnya familiar karena pernah melihat di televisi tapi tetap ia tidak mengingat siapa namanya dan apa peranannya di bisnis ini.

“Soonyoung” dari sisi kanan seseorang memanggilnya.

“Mingyu” Soonyoung panik, kenapa ada Mingyu?

Mingyu lebih bingung kenapa ada Soonyoung.

“Baby”

Shit.

Wonwoo menghampiri Soonyoung.

“Mingyu” sapa Wonwoo pada sahabat partnernya malam ini yang sepertinya bingung namun masih terlihat biasa saja, menyembunyikan segala pertanyaannya.

“Ketemu lagi bang” balas Mingyu.

“Dimana Pak Kim?”

“Oh disana lagi bareng orang Eureka” Mingyu menunjuk seberang ballroom.

Belum sempat bercakap lain Wonwoo sudah di datangi lagi oleh seseorang. Terlihat jauh lebih berumur karena rambutnya yang sudah memutih namun masih terlihat gagah dan berwibawa.

“Mr. Jeon”

“Glad to see you Mr. Park, how's New York?”

“Great unless my wife keep whinning to comeback here, she misses Nasi Kuning” kemudian keduanya tertawa.

“Oh? I know him this is Mingyu Mr. Kim's Son, right?”

“Yes, nice to meet you, Sir” balas Mingyu sopan menjabat tangan Mr. Park.

“Dan yang ini?” Mr. Park kemudian tersenyum kepada Soonyoung tulus bertanya.

Wonwoo menarik pinggang Soonyoung membuatnya lebih dekat.

“He's my boyfriend, Sir” jawab Wonwoo bangga.

Soonyoung tercengang tubuhnya membeku. Ini apa?

Mingyu otomatis menoleh menatap Soonyoung tajam. Ia sama-sama tak paham. Suasana begitu intense hanya Wonwoo dan Mr. Park yang bertukar senyum.

“Finally Mr. Jeon, It's really nice to meet you.....?”

“Soonyoung, Pak” balas Soonyoung sesopan mungkin.

“Soonyoung, nama kamu bagus” balas Mr. Park menyambut tangan Soonyoung.

“Well, I gotta go back. Glad to see you all here”

Setelah berpamitan Mr. Park pergi menjauh meninggalkan ketiga orang disana dalam keadaan canggung.

“Mingyu, saya dan Soonyoung pergi kesana dulu ya” Wonwoo menunjuk sisi lain ballroom yang memiliki meja dan kursi berlapis kain satin.

.

.

.

Soonyoung masih bingung, terlalu cepat baginya.

“Sorry baby”

“Bingung” balas Soonyoung pelan.

Wonwoo kembali menggandeng tangan Soonyoung dikerumunan, menghampiri meja yang ternyata ada Seungcheol dan Joshua.

“Pak” sapa Seungcheol. Wonwoo hanya mengangguk menarik satu kursi untuk Soonyoung terlebih dahulu.

Soonyoung duduk di tengah di antara Wonwoo dan Joshua kemudian Seungcheol.

“Soonyoung apa kabar?” Kata Seungcheol lagi ramah.

“Baik Pak Seungcheol” balas Soonyoung berusaha baik-baik saja.

“Hai” sapa Joshua pada Soonyoung yang duduk di sebelahnya.

“Halo”

“Joshua” ia memperkenalkan diri.

“Soonyoung”

Di bawah meja Wonwoo tidak melepas genggaman tangannya di tangan kiri Soonyoung.

.

.

Tak lama, acara dimulai berbagai sambutan dari orang-orang penting disampaikan dan riuh tepuk tangan bergemuruh.

Acara inti pun akhirnya dimulai, disana perwakilan berbagai perusahaan besar di Jakarta naik ke podium untuk secara simbolis menyerahkan bantuan dananya untuk Panti Sosial yang telah ditunjuk dan mendukung pendidikan di asrama.

Rise Bank sendiri tempat Wonwoo bekerja di wakili oleh Pak Shin selaku Direktur Utama.

Selesai dengan deretan perusahaan besar sebagai donatur, kini saatnya para petinggi yang secara individu menyumbangkan dananya pada acara galang dana ini.

Wonwoo perlahan melepas genggaman tanggannya pada Soonyoung dan berbisik bahwa dirinya akan pergi sebentar bersama Seungcheol dan dia akan baik-baik saja bersama Joshua.

Soonyoung mengangguk berharap itu tak akan lama.

.

Setelahnya Wonwoo pergi bersama Seungcheol menghampiri podium.

Wonwoo tak diduga-duga naik ke podium bersama dengan donatur lain yang secara pribadi mendonasikan dananya. Di informasikan bahwa Wonwoo menyumbangkan dana sebesar 500 juta untuk mendukung pendidikan dan kesejahteraan sosial di panti asuhan daerah Bekasi.

Hal itu membuat Soonyoung yang duduk di kursinya lagi-lagi terkejut. Seberapa banyak uang Wonwoo? Apakah menjadi seorang General Manager bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Tidak masuk akal. Dari mana kekayaan Wonwoo berasal? Apa yang ia tidak tahu? Bantin Soonyoung terus-terusan bertanya.

“Kaget ya?” Tanya Joshua yang ada disebelahnya.

Soonyoung mengangguk.

“Kamu yang housemate Pak Wonwoo?”

“Iya, kok tau?” Balas Soonyoung.

“Tau dong soalnya kemarin aku sama Jihoon yang take down postingan Pak Wonwoo di twitter”

“Postingan apa?”

“Ada pokoknya”

Soonyoung tidak tahu perihal kejadian Wonwoo salah posting foto mesranya dengan bagian bawah tubuh mereka yang sudah setengah telanjang di akun officialnya.

“Pak Wonwoo itu dari dulu dermawan, setiap acara charity pasti datang dan pasti donasi. Awalnya dia nggak mau menyebutkan namanya, bertahun-tahun dia berhasil menyembunyikan identitasnya tapi akhirnya ketahuan sama Pak Shin jadi di paksa buat memasukan nama aslinya demi bisnis padahal Pak Wonwoo gak suka” jelas Joshua memandang ke arah podium.

“Kakak kenal banget sama Pak Wonwoo ya?”

“Bisa dibilang begitu. Sebuah kehormatan sih bisa dekat sama dia karena gak banyak orang yang bisa benar-benar dekat dengan seorang Jeon Wonwoo”

“Punya grup chat buat ngalor ngidul dong kak sama Pak Wonwoo” tanya Soonyoung lagi keluar dari pembahasan yang membuat Joshua tertawa.

“Ada nih” Joshua menunjukan ponselnya memperlihatkan Grup Chatnya.

“Ohhhh yang ini work hard play hard aku kira ini grup buat kerja”

“Hahahaha keliatannya begitu ya? Dia workaholic banget sih jadi dimana-mana kelihatannya kerja terus” Joshua menunjuk Wonwoo yang masih di atas podium menyalamin orang-orang disana. “Ini tuh grup chat biasa Soonyoung, kita aja semuanya beda lantai mana mungkin grup kerja tapi kadang Pak Wonwoo suka nyuruh-nyuruh disitu juga sih” kembali Joshua tertawa membuat suasana kembali ringan bagi Soonyoung.

Kedua kembali bercerita ringan tentang teman-teman di kantor Wonwoo dan bagaimana Wonwoo berkerja yang rata-rata menyebutkan bahwa Wonwoo cukup kaku membuat Soonyoung merinyit paham dan sangat mengerti rasanya.

.

.

Saat makan malam selesai mereka akhirnya berpisah, Wonwoo kembali bersama Soonyoung ke lobby hotel.

“Baby, let's go”

“Kemana dad? Kok nggak keluar?”

Wonwoo membawa Soonyoung ke dalam lift dan menuju lantai 25.

“We stay here tonight, I'll have my desserts with you”

Jantung Soonyoung berdebar kencang.

Soonyoung sudah duduk di kursi penumpang mobil keluaran German itu sambil memeluk tas ranselnya yang ada dipangkuan, lima menit lalu ia sudah menelpon Wonwoo. Terlalu banyak yang harus ia cerna dalam lima menit terakhir ini, salah satunya kenapa wanita di sebelahnya itu tahu tentang statusnya dan Wonwoo, kenapa sudah ada orang lain lagi yang mengetahui hubungan mereka, Soonyoung pikir hubungan ini harus dirahasiakan. Karena, bahkan dirinya sendiri tidak memberitahukan tentang hubungan ini pada dua sahabatnya yang lain kecuali Jeonghan. Ia menutup rapat-rapat sisi gelapnya. Tapi, kenapa Wonwoo seolah-olah menganggap hal ini bukan masalah besar. Entalah, Soonyoung bingung yang pasti sekarang ia harus ikut dengan wanita ini.

Pesan Wonwoo barusan di telepon, Soonyoung harus mengikuti semua yang diminta Claire. Siapa wanita ini sebenarnya? Mau di bawa kemana dia? Ada apa? Rahasia apa yang disembunyikan Wonwoo? Kenapa harus wanita ini, orang yang memiliki kesan pertama yang buruk bagi Soonyoung.

“Nanti Wonwoo aja yang jelasin soalnya kalau sama aku kalian bisa bertengkar” Ujar wanita itu yang sekarang mengenakan kacamata hitamnya dan lipstik merah mencolok.

“Kita mau kemana kak?” tanya Soonyoung datar.

“Salon, to make over you”

“Dalam rangka?”

“He didn't tell you at all, huh?” kembali wanita itu tersenyum.

“He didn't” Soonyoung menunduk menjentikan jari-jarinya.

“He has this important gala dinner tonight and he asked for my favor”

Soonyoung menyerinyitkan dahinya tak paham.

“Anggap aja aku lagi culik kamu atas ijin dia”

“Terus hubungannya gala dinner sama aku apa?”

“Dia mau ajak kamu ke gala dinner tapi kamu lagi ada ujian kan minggu ini? So, He didn't tell you earlier biar kamu gak kepikiran dan fokus belajar”

“Huh? Terus kak claire?”

“He wanted me to help you to dressed up and all for the gala. You know.......my taste is good” Claire menyombongkan dirinya. “Aku bahkan sampai harus membantalkan janji makan siang dengan klien penting hari ini demi kalian”

“Kenapa begitu?”

“Wait.......OH MY GOSH! YOU HAVEN'T GRAB YOUR LUNCH YET, HAVE YOU?” tiba-tiba Claire teringat bahwa Soonyoung baru saja menyelesaikan ujiannya hari ini dan baru teringat saat membahas lunch dengan kliennya.

“Wonwoo is going to kill me” desis Claire panik.

“Tadi aku udah makan bakso kok kak, aku kelar duluan jadi langsung ke kantin”

“Beneran?”

“Iya”

“Oh thank God, tapi tetep aja nanti kita pesen makanan kalau udah sampai”


Mereka sampai di salah satu Salon paling berkelas di Jakarta bahkan kata Claire tadi banyak artis yang mempercayakan salon ini sbg MUAnya.

Dari dalam salon ini memiliki ornamen cream pada dindingnya dengan kaca-kaca besar disekeliling dan jejeran pakaian mewah bergantungan. Soonyoung menyusuri sudut ruangan itu sambil menunggu Claire yang saat tiba langsung menghilang disalah satu ruangan, disana Soonyoung melihat-lihat sekitarnya. Ia tidak pernah pergi ke tempat sebagus ini, bagi Soonyoung ini bukan kapasitasnya.

Tidak lama Claire kembali dengan beberapa pasang pakaian ditangannya. Di sana sudah disiapkan beberapa jas untuk Soonyoung dengan tiga warna berbeda, hitam, abu-abu dan merah maroon.

Soonyoung hanya diam mengikuti Claire.

“Coba yang ini dulu ya, aku udah siapin dua ukuran untuk masing-masing warna takutnya aku salah ukuran kemarin”

Soonyoung menerima tiga warna berbeda dalam satu ukuran.

“Kak..”

“Hmm?”

“I dont really like red” Kata Soonyoung mengembalikan satu setel jas merah dengan bahan kain bludru.

“Ahh ~ oke oke just try those two” Kemudian Soonyoung masuk ke ruang ganti.

.

.

.

“I knew it” ucap Claire menepukkan kedua telapak tangannya di hadapan dada saat Soonyoung keluar dengan setelan abu-abu. “Ukurannya sudah pas yang ini kan kan Soonyoung?”

“Iya kak”

“Oke sekarang coba yang hitam” Jas hitam dengan inner berbahan Organza tipis yang sedikit terawang membuat tubuh Soonyoung semakin berbentuk yang sebenarnya memang sudah bagus.

Soonyoung kembali ke dalam ruang ganti, tak lama ia keluar dengan warna setelah yang berbeda.

“Wow... no wonder Wonwoo is in love with you” Claire sampai menutup mulutnya terkagum-kagum melihat penampilan Soonyoung. “Okay. I'll add my little touch here to make it perfect” Claire mengambil satu scraft tipis berwarna hitam yang memiliki bahan yang sama dengan inner Soonyoung, melilitkan scraft tersebut ke kerah innernya.

“huh?” Soonyoung seperti mendengar sesuatu yang membuat jantungnya sempat tersengat listrik sesat tapi ia juga tak yakin.

“That's it!”

Soonyoung memilhat penampilannya di kaca besar yang ada di hadapannya.

“Do I look good, kak?”

“You look gorgeous” ujar Claire tersenyum.

Soonyoung ikut tersenyum mengangguk senang. Nyatanya Claire tidak seburuk yang ia pikirkan, menilai orang dari kesan pertama ternayta tidak adil. Kita tidak pernah tau ada sikap ramah dan bersahabat di balik fisik luarnya yang mendominasi.

“Sekarang bajunya ganti lagi pakai yang buat kuliah, kita makan dulu tadi aku udah pesen bentar lagi datang. Setelah itu make up” Claire menarik tangan Soonyoung kembali ke ruang ganti.

“Make up?”

“Just a light one, honey. It's an important dinner we need to impressed them”

“I'm not part of them” balas Soonyoung.

“But you'll come with the Jeon Wonwoo” ujar Claire meyakinkan.

“Lebay banget” lirik Soonyoung sinis yang malah membuat Claire terkeke gemas.


Sejak mata kuliah terakhirnya selesai Soonyoung masih terduduk di kursi, menatap satu lemari pendingin besar yang berada di pojok kelas. Menatap tidak percaya bahwa lemari pendingin itu dikirimkan oleh Wonwoo untuk dirinya.

Soonyoung tidak suka seperti ini, terlalu berlebihan baginya. Ia harus bicara pada Wonwoo sesegera mungkin. Dengan itu, iya bergegas menyampirkan tas ranselnya di bahu kiri dan keluar dari kelas. Sedangkan di ujung sana ada Mingyu yang ternyata dalam diam memperhatikan gerak-gerik Soonyoung sejak tadi.

.

Soonyoung menutup cepat pintu mobil HRV putih baru miliknya saat sampai di parkiran kantor Wonwoo. Ia simpan jauh-jauh rasa minder yang menggerogoti perasaan saat melewati beberapa karyawan yang ada di kantor besar itu.

Soonyoung langsung menekan tombol dengan angka 14 menuju ruangan Wonwoo.

.

“Soonyoung?” Panggil Seungcheol saat melihat Soonyoung datang menghampiri mejanya yang berada di depan ruangan Wonwoo.

“Daddy ada nggak Pak Seungcheol?”

“Ada di dalem, kamu ga kabarin mau datang?”

Soonyoung menggeleng. “Lagi meeting nggak?”

“Enggak”

“Oke makasih pak” setelahnya Soonyoung langsung pergi ke ruangan Wonwoo tanpa basa-basi lagi pada Seungcheol, membuat sekretaris Wonwoo itu keheranan.

.

.

.

“Daddy, we need to talk” Ujar Soonyoung masih sambil berjalan dari depan pintu Wonwoo. Yang di datangi terkejut, ia melihat pada jam Rolex seharga mobil sedan keluaran Jepang yang melingkar di tangannya, masih setengah 3 sore dan kenapa ada Soonyoung yang tiba-tiba datang ke kantornya?

Wonwoo mengecek ponsel apakah mungkin dia melewatkan pesan atau telepon Soonyoung. Namun, nihil Soonyoung memang datang tanpa memberi kabar.

“Have a seat baby. Tarik napas dulu” kata Wonwoo bersandar pada kursi kerjanya yang nampak mahal dan nyaman.

Soonyoung masih berdiri di depan meja Wonwoo menatapnya lurus. Pipinya memerah karena suhu tubuh yang meningkat akibat sejak tadi berjalan dengan tergesa-gesa.

Wonwoo mengangkat telepon kantor yang ada di atas mejanya menghubungi seseorang.

“Yeji, bawakan air putih dingin ke ruangan saya dan... puding cokelat?” Wonwoo malah memberikan nada bertanya di akhir kalimatnya dan pertanyaan itu sebenarnya lebih ditujukan kepada Soonyoung. Soonyoung mengangguk atas pertanyaan Wonwoo barusan walaupun dengan wajah yang masih ditekuk.

“Kenapa sayang?” Tanya Wonwoo setelah menutup teleponnya.

“Ntar dulu tunggu air dinginnya dateng”

“Oke” setelahnya Wonwoo terus memandangi Soonyoung yang hari ini terlihat berbeda. Wonwoo tidak terlalu yakin.

.

.

.

Setelah menghabiskan setengah gelas air es, Soonyoung kembali menatap lurus Wonwoo.

“Daddy, aku mau revisi kontrak” “Kontrak ini gak adil buat aku or do you actually have something behind me dad?”

“Kenapa bisa sampai berpikir begitu?”

“Nope. I feel like......there's something” balas Soonyoung.

“Gak ada”

“Well, okay then. Ayo revisi kontrak ini. Ada softfilenya di komputer daddy?”

“Ada. Di gdrive”

“Good” kemudian Soonyoung bangkit dari kursinya dan menghampiri Wonwoo.

“Mana dad?” Soonyoung berdiri di samping Wonwoo menghadap komputer.

Wonwoo membuka file kontrak yang ia simpan disalah satu folder pribadinya di gdrive.

Menunjukkan Soonyoung kontrak tersebut.

“Hmm oke” Soonyoung kembali ke kursi di depan meja Wonwoo, menyeret kursi tersebut.

“No baby. Sit here” ia menepuk pahanya.

Soonyoung melirik sebentar berpikir.

“No teasing?”

“Fine” balas Wonwoo.

Soonyoung akhirnya duduk di atas pangkuan Wonwoo, mengoprasikan komputernya.

“Ini...yang ini dad 'baby tidak boleh menolak segala pemberian dari daddy termasuk hadiah dan permintaan kinks'” Soonyoung menarik napasnya saat Wonwoo melingkarkan lengannya di perut Soonyoung. “Aku gak akan menolak apapun pemberian atau permintaan daddy but please jangan kaya tadi. Aku kaget, bingung kasih penjelasan sama temen-temen aku. Selama ini mereka tau aku yatim piatu dad, gak punya keluarga. Tapi tiba-tiba tadi siang daddy kirim satu kulkas chatime, aku panik apa yang harus aku jelasin ke temen-temen aku”. “Kalau aku bilang dari teman, teman macam apa yang mau kirim es boba sebanyak itu? Keluarga? Om? Om siapa? Om hidung belang? Well, ga sepenuhnya salah sih” Soonyoung sarkas. “But, dad please. Jangan kaya gini lagi”

“Okay”

“Hah?” Soonyoung menoleh pada Wonwoo yang memeluknya dari belakang.

“Kamu mau begitukan?”

Soonyoung mengangguk.

“Yasudah. Oke”

Asem banget Secepat itu?

“Lanjut..” kata Soonyoung lagi. “Harus izin kalau mau minum alkohol. Seriously?”

“Kenapa?”

“Gak bisa nawar dad?”

“Yang ini gak bisa”

“Ah why?!!” Rengek Soonyoung.

“Two are enough”

“Ishh” Soonyoung kalah.

“Ada lagi?”

“This one. Bener-bener gak adil” kata Soonyoung memblok kalimat pada point terakhir. “Baby dilarang untuk memiliki hubungan romantik dan seksual selain dengan daddy demi hubungan sex yang sehat di dalam kesepakatan ini” sinis Soonyoung.

“Kenapa dengan itu?”

“Jadi kalau begitu daddy doang yang boleh tiba-tiba pacaran terus tidur sama orang lain selain aku? Sedangkan aku gak boleh?!”

“Emang kamu mau pacaran sama saya?”

“Ini daddy nembak aku?”

“Enggak. Saya cuma nanya”

“Cih”

Wonwoo mencapit bibir Soonyoung yang terus mengomel dengan jarinya.

“Berisik. Jadi mau kamu seperti apa?”

“Peraturan ini juga berlaku buat daddy. Daddy gak boleh punya pacar dan have sex sama orang lain selama kontrak ini masih berlaku” tegas Soonyoung.

Wonwoo diam.

“Gimana dad?”

“Oke”

“Aku juga mau sex yang sehat gak mau bekas-bekas orang main celup sembarangan”

“Who teach you to speak like that?”

“Gak ada”

“That sentence need a punishment”.

“EHHHH?”

“Sudah negonya?”

“Udah”

“Now what?”

“Yaudah oke aku setuju. Ingat ga boleh bohong” Soonyoung masih meneruskan ketikkannya. Menambahkan revisi dari hasil negosiasinya dengan Wonwoo barusan.

“Printnya yang mana nih dad?”

Setelahnya Wonwoo menunjukan pilihan printer yang berfungsi. Dan jadilah copy kontrak yang di setujui kedua belah pihak.

Soonyoung menandatangani kontrak tersebut, begitu pula Wonwoo.

“5 months, huh?”

“Yes, five months” jawab Wonwoo. Keduanya berpandangan.

Terlalu singkat. Ucap Soonyoung dalam hatinya saat mata saling bertemu.

Setelah itu tidak ada lagi suara terdengar, hanya mata yang saling menatap.

“Kiss me, baby”

Dan keduanya pun saling berpagut menyalurkan rasa yang sejak tadi tertahan.