LAST BROADCAST
Soonyoung berjalan di belakang Wonwoo saat mereka kembali dari kencan malam minggunya, perjalanan dari parkiran ke unit apartment mereka terasa lebih lama. Soonyoung memandangi bahu lebar Wonwoo yang ada di hadapannya nampak dingin dan angkuh mungkin bagi orang lain yang tidak mengenal Wonwoo secara personal.
Wonwoo menarik tangan Soonyoung kemudian melingkarkan tangannya sendiri di pinggang yang lebih muda sebelum memasuki lift yang ada di basement.
“Masih horny?” tanya Wonwoo santai saat sudah berada dalam lift.
“huh?” Soonyoung menengok dengan jarak wajah yang sangat dekat dengan Wonwoo.
“You heard me, baby”
“Masih, dad” cicit Soonyoung.
Ada tarikan senyum miring di sudut bibir Wonwoo yang sayangnya lepas dari penglihatan Soonyoung.
“Live kamu masih sisa 2 kali kan?”
“Iya daddy soalnya dari kemarin belum sempat, maaf” balas Soonyoung gugup karena Wonwoo tiba-tiba membahas sesi livenya yang belum juga diselesaikan hingga hari ini.
“Selesaikan malam ini”
“Tapi aku belum announce dad”
“Ya sudah announce sekarang”
“Apa gak bisa besok aja?”
“Bukannya kamu masih horny? tepat kan waktunya?”
“I-iya”
“Jangan kebanyakan nawar sama saya”
Dan Soonyoung terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi meneguk air liurnya sendiri.
(insert twitter camboy SY)
.
.
Wonwoo duduk di sofa tunggal di dalam kamar Soonyoung. Saat sampai di unit mereka tadi ia tidak langsung mengganti pakaiannya namun justru duduk santai memperhatikan Soonyoung yang sedang mempersiapkan sesi livenya malam ini.
Soonyoung terlihat tenang namun sebenarnya panik sudah menyerang dirinya sejak mendengar ucapan Wonwoo di depan pintu apartement mereka barusan yang mengatakan bahwa ia akan manyaksikan Soonyoung langsung selama sesi livenya.
Melakukan live secara dadakan saja sudah cukup buruk, sekarang malah ditambah Wonwoo yang akan menontonnya secara langsung membuat telapak Soonyoung berkeringat dingin tidak karuan.
Soonyoung menyalakan laptopnya yang tersimpan di atas meja belajar kemudian diletakkan di atas tempat tidur, setelahnya Soonyung mengeluarkan lagi perlengkapan kameranya dari lemari pakaian yang memang selalu ia simpan rapat dari Wonwoo.
Gugup sudah tidak bisa dikata bahkan Soonyoung sampai dua kali salah memasukkan password dan login di akun streaming berbayar miliknya sebelum akhirnya bisa masuk dan menampikan orang-orang yang sudah mulai 'berdatangan'.
Soonyoung berdiri kikuk di samping tempat tidurnya.
“Kenapa?” tanya Wonwoo yang sedari tadi memperhatikan Soonyoung dengan tatapan tajam dari pojok kamar yang menghadap langsung dengan tempat tidur Soonyoung.
“Malu” jawabnya kecil.
Wonwoo tertawa dengan nada mengejek.
“I've seen you, baby. All of you”
Wonwoo kemudian berdiri menghampiri Soonyoung yang membuat camboy dengan pengikut lebih 5000 orang itu kembali panik.
Wonwoo menangkup kedua sisi rahang Soonyoung dengan tangannya dan mencium bibir tipis yang lebih muda.
Niat Wonwoo untuk menenangkan Soonyoung nampaknya berhasil karena kini ia terlihat lebih percaya diri.
“Keluarin baju-baju kerja kamu” perintah Wonwoo bibir keduanya tak lagi saling bertaut.
Soonyoung paham dengan apa yang dimaksud Wonwoo dan ia langsung berbalik ke arah lemari pakaiannya mengambil satu box besar berbahan kain warna biru tua yang ia letakkan pada lantai lemari paling bawah.
Ia bawa box itu ke hadapan Wonwoo dan membukanya.
Lagi-lagi Wonwoo tersenyum tipis, dugaannya benar. Soonyoung bahkan lebih liar dari penampilan fisiknya yang terlihat polos dari luar.
Box itu berisi pakaian 'kerja' Soonyoung yang tersusun rapih dan bersih, tidak kurang dari 7 pasang lingeri brukat dan satin berwarna pastel, merah dan hitam terlipat disamping 2 pasang bandana kucing dan butt plug lengkap dengan ekor berbulunya. Dan di kotak yang sama masih ada kontak lain yang lebih kecil di dalamnya yang mana saat dibuka ternyata berisi alat pemuas Soonyoung dengan berbagai ukuran, warna dan fungsi lengkap beserta lubrican yang sebelumnya pernah ia pakai bersama Wonwoo.
Di kotak itu Wonwoo melihat satu benda familiar yang membuat dirinya dan Soonyoung hingga berada pada hubungan saat ini.
Benda itu adalah dildo warna kulit yang dulu Soonyoung sebut dengan barang endorse dari olshop dakjal.
Wonwoo mengambil dildo itu tanpa ragu dan menempatkannya di depan bibir Soonyoung.
.
.
“Jilat” perintah Wonwoo.
Soonyoung menurut.
Ia menjilat batang dildo tersebut lambat, lidahnya menempel basah dan tidak melepaskan tatapan matanya sedikitpun dari Wonwoo selama menjilati benda kenyal itu.
“Buka mulutnya. Hisap” Perintah Wonwoo lagi. Kini ia mencengkram rahang Soonyoung dengan tangan kirinya agar terbuka dan memasukan dildo itu ke dalam mulut Soonyoung. Tidak ada perlawanan sedikitpun, ia menuruti semua perintah Wonwoo.
Soonyoung mengulum penis buatan tersebut, membayangan bahwa benda itu adalah penis asli milik Wonwoo yang tebal dan berurat sedang keluar masuk dari mulutnya.
Kaki Soonyoung kembali terasa seperti jelly karena rangsangan yang ditimbulkan oleh kegiatan itu. Penisnya kembali berkedut tak nyaman karena terhimpit oleh celana jeans yang masih ia kenakan, belum lagi lutut kanan Wonwoo yang sengaja digesekan pada gundunkan Soonyoung membuat celana dalamnya semakin sesak.
Namun, Soonyoung tidak mau kalah malam ini. Cukup saja di studio XXI tadi Wonwooo mengerjainya, kali ini ia akan menjadi binal.
Saat Wonwoo masih mendorong penis palsu itu keluar masuk mulut Soonyoung dan mulai menggesekkan lututnya ke penis soonyoung. Soonyoung tidak tinggal diam, ia malah mendorong pinggulnya secara berlawanan arah yang menyebabkan gesekan lebih kuat pada gundukkannya, ia juga mengikis jarak antara keduanya dan dengan berani mengusap otot perut Wonwoo yang masih terbalut kemeja putih yang ia kenakan.
Dengan jarak seperti ini Wonwoo bisa melihat bibir Soonyoung yang memerah karena menghisap dildo yang dipegangnya dan sudut bibir Soonyoung yang meneteskan saliva sedikit demi sedikit. Tak tahan, Wonwoo kembali menarik rahang soonyoung yang masih mengulum dildo tersebut dan langsung mencium sudut bibir Soonyoung yang basah, membuat Soonyoung kewalahan antara menghisap dildo dan mengulum lidah Wonwoo.
Sibuk mengisap kedua benda kenyal tersebut soonyoung akhirnya merengek karena siksaan ringan yang Wonwoo berikan.
“Mau punya daddy aja...” ucap soonyoung tak tahan.
Dengan itu Wonwoo melepaskan cengkraman tangannya dan mengeluarkan didlo yang sudah basah sepenuhnya oleh saliva Soonyoung.
“Pakai ini, baby”
Wonwoo menunjuk satu butt plug dengan ekor kucing bewarna hitam, sangat kontras dengan kulit soonyoung. Selanjutnya lagi-lagi lingeri berwarna hitam dengan bahan brukat yang dipilih Wonwoo, sebenarnya bukan apa. Wonwoo masih teringat dengan celana dalam yang Soonyoung pakai kemarin saat mereka menghabiskan malam di gala dinner, sampai-sampai rasanya Wonwoo memiliki obsesi dan kink baru dengan lingeri hitam berbahan brukat, ditambah kain tersebut melingkar indah dipinggul ramping Soonyoung yang memiliki kulit seputih susu.
Soonyoung mulai membuka pakaiannya dari kaos yang ia pakai sampai celana jeans yang sedari tadi sudah sesak.
Penisnya menyembul keluar saat resleting diturunkan, membuat Wonnwo tak sadar langsung mengusap ujungnya yang membuat Soonyoung menggelinjang kegelian.
Wonwoo mengambil pakaian dan aksesoris yang tadi sudah ia pilihkan untuk Soonyoung. Butt plug dengan ekor kucing yang menjuntai di tangan kirinya dan Lingeri brukat di tangan kanan, menunggu soonyoung membuka seluruh pakaiannya sebelum kedua benda tersebut diberikan.
.
.
.
Soonyoung sudah telanjang dihadapan Wonwoo, saat yang lebih tinggi menyerakan satu setel baju kerja Soonyoung.
Satu-persatu Soonyoung pasang pakaian tersebut dengan lihai dan telaten membuat Wonwoo semakin yakin menyimpulkan spekulasinya bahwa Soonyoung benar-benar sudah profesional dalam pekerjaan ini.
Saat semua sudah terpasang, Wonwoo memerintahkan Soonyoung untuk menungging dan menumpu tangannya pada pinggiran kasur.
Tak disangka Wonwoo malah mengusapkan jempolnya pada lubang Soonyoung yang masih terlapisi tali lingeri dibelahan pipi bokongnya.
“Shhh” satu desahan lolos dari bibir Soonyoung saat merasakan usapan tersebut.
Wonwoo menampar bokong Soonyoung kencang. “Udah basah belum juga di apa-apain”
Rasanya sakit namun memberikan sengatan nikmat yang menjalar hingga ujung penis Soonyoung.
“Suka dikasarin gini, hm?” tanya Wonwoo mencengkram pipi bokong Soonyoung.
Soonyoung mengangguk.
“Jawab yang benar!” satu tamparan lagi mendarat di bokong mulus itu sampai membuat Soonyoung terlonjak ke depan.
“Suka daddy” balasnya lemah.
Mata Wonwoo saat ini benar-benar berubah, ia seperti singa kelaparan yang sedang berada di depan maksanya yang sudah tak berdaya.
Butt plug ekor kucing itu masih ada di tangan kirinya sejak tadi, merasa soonyoung yang siap, Wonwoo kemudian mengulum ujung butt plug yang terbuat dari besi tersebut hingga basah dan kemudian mengarahkannya ke dalam permukaan lubang soonyoung yang masih sedikit tertutup oleh tali panty-nya.
“Ah daddy”
“Binal kamu ya?”
“Cuma sama daddy”
“Bohong!” satu tamparan lagi melayang.
“Itu penonton kamu sudah beribu-ribu menunggu, masih saja bisa bilang cuma di depan saya. Menungging lebih lebar dan angkat tali panty kamu!” perintah Wonwoo.
Lalu dengan satu tangannya Soonyoung berusaha menggeser tali panty-nya ke samping dan menampakkan lubang berwarna pink yang mengkerut dan berkedut. Membuat Wonwoo tak sabar memasukann satu jari telunjuk kesana.
“Hmhh”
“Keenakan kamu”
“Enak daddy” balas Soonyoung melengkungkan tubuhkan karena jari Wonwoo yang di dorong semakin ke dalam.
Tidak membiarkan Soonyoung menikmati itu lebih lama, Wonwoo malah menarik kembali jari nya dan membuat Soonyoung kecewa.
Saat jarinya dikeluarkan, Wonwoo sempat menjilat lagi ujung butt plug yang ia pegang hingga kembali basah oleh salivanya dan kemudian meletakkannya di depan lubang pink Soonyoung.
“Awh” Soonyoung terkejut atas sensasi dingin yang tiba-tiba dari besi tersebut.
“Tahan” kata Wonwoo memegang pinggul Soonyoung dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memasukan butt plug tersebut di lubang Soonyoung.
“Uhhh daddy” terpasang.
Sekarang ekor pink tersebut sudah menjuntai dari lubang pantat Soonyoung dan bergoyang-goyang di antara kaki belakangnya.
Soonyoung sengaja menggoyangkan pinggulnya menggoda Wonwoo.
Plakk!
Tamparan terakhir mendarat sebelum akhirnya Wonwoo mendorong Soonyoung untuk naik ke tempat tidur dan memulai Live streamingnya, sedangkan Wonwoo kembali ke sofa di ujung ruangan, menonton Soonyoung.
Soonyoung menyapa para penontonnya langsung dengan posisi bokong ekor kucing yang menghadap ke kamera.
“Hi Daddies, it's been a long time since my last broadcast. Isn't it?” Suara Soonyoung mengalun merdu, dengan kolom komentar yang terbakar menjawab pertanyaan Soonyoung barusan.
“Ini bakal jadi dua broadcast terakhirku sebelum benar-benar pensiun dini dari bleachbabe.com, so I wish you guys will have a lot of fun with me tonight, keyyy daddies?” Soonyoung kini membalikkan tubuhnya, tetap masih hanya menampilkan setengah wajahnya di kamera.
Sesi selanjutnya dimulai dengan Soonyoung yang mengurut penisnya yang masih tertutup lingeri brukat dengan gerakan lambat. Di pojok ruangan ada Wonwoo yang menyilangkan kakinya masih menonton setiap kegiatan soonyoung diatas tempat tidur itu. Ada tekanan berbeda bagi Soonyoung saat dirinya ditonton secara langsung oleh Wonwoo seperti saat ini, rasanya memalukan namun juga membakar gairahnya di saat bersamaan. Adrenalinnya benar-benar diuji.
“UHhh~” desah soonyoung saat kain brukat itu menggesek ujung penisnya.
Selama malakukan itu mata sayu Soonyoung tidak lepas dari tatapan tajam wonwoo di pojok ruangan, baginya setiap gesekan yang ia lakukan terasa seperti sentuhan besar oleh tangan Wonwoo.
Karena semakin panas kini Soonyoung mengeluarkan penisnya dari dalam lingeri itu dan membuat kolom komentar kembali riuh oleh sorakan para penontonnya.
Penis soonyoung sudah benar-benar sangat merah karena harus menahan segala godaan yang Wonwoo perbuat sejak tiga jam lalu di theater studio.
Soonyoung duduk mengangkang di depan kamera dengan wajah yang masih terlindungi, mengocok penis merahnya dengan tempo sedang. Lagi-lagi ia menatap arah Wonwoo yang ternyata masih betah menonton Soonyoung tanpa ekspresi sedikitpun yang membuat bulu kuduk Soonyoung semakin berdiri.
Kini soonyoung merubah posisinya menyamping menampilkan lubangnya yang tersumpal butt plug ekor kucing berbulu halus. Ia mainkan ekornya tersebut sambil menarik penisnya ke arah belakang kemudian mengapit paha depannya, menggantung di atas.
soonyoung menarik-narik butt plug tersebut berulang kali membuatnya merasakan nikmat dari besi tumpul yang memenuhi lubangnya saat ini.
“Ahh ahh” desah soonyoung saat merasakan butt plug itu tersedot masuk oleh lubangnya sendiri.
Di tonton seperti ini oleh Wonwoo malah membuat Soonyoung semakin kepanasan, ia masih bisa melihat dari sudut matanya bahwa Wonwoo tanpa bergeming masih memperhatikannya di sudut sana.
“Shhhh daddy uhhhh ahh ahh ahh” “Ohhhh ah ah ah!”
dan pada lima tarikan keluar masuk terakhir dari butt plug itu soonyoung akhirnya keluar dan sampai pada klimaksnya, memuntahkan cairan putih dari ujung penisnya yang memerah.
Soonyoung terkapar di atas tempat tidurnya.
Melihat itu Wonwoo langsung berdiri dari sofa dan mematikan paksa kamera dan siaran soonyoung tanpa menampakkan dirinya.
Ada geram yang bergemuruh di dada Wonwoo saat melihat Soonyoung mencapai puncaknya di hadapan ribuan orang yang menonton.
Ia tak rela berbagi soonyoung untuk orang lain.
Wonwoo menarik Soonyoung membuat butt plug yang masih menyangkut di dalam lubangnya tegesek oleh tempat tidur, belum lagi Soonyoung yang baru saja mencapai klimaks.
“Ahhhhhhh”desah soonyoung pasrah.
Wonwoo kemudian melepas butt plug itu dengan kasar dan langsung menjiati lubang soonyoung yang basah tersebut membuat pemiliknya terkejut bukan kepalang.
“OH MY LORD!” teriak Soonyoung saat merasakan lidah wonwoo menerobos lubangnya. Tubuhnya melengkung.
Wonwoo berlutut di atas lantai degan lubang soonyoung yang ada dimulutnya, dengan posisi ini membuat Soonyoung dapat meletakkan kedua telapak kakinya di pundak Wonwoo.
Wonwoo masih terus menjilati dan memakan lubang soonyoung dengan tangan kirinya yang kini ikut mengocok penis yang baru saja klimaks, membuat penis itu kembali menegang.
Wonwoo sendiri sudah membuka restleting celananya dan mengocoknya dengan tangan yang lain.
“Daddyy ohh enak! dad terusin shhhh shhhh”
Wonwoo bangkit dan langsung mencium soonyoung membuatnya meresakan spermanya sendiri dari mulut wonwoo.
Soonyoung menjilati dengan rakus bibir wonwoo dan melingkarkan tangannya di leher yang lebih tua untuk memperdalam lumatan mereka, di bawah sana kedua penis soonyoung dan wonwoo saling bergesekan.
“That will be your last broadcast” ujar wonwoo disela-sela ciumannya.
“I Still have one last broadcast daddy” balas soonyoung terbata.
“No, saya akan bayar berapapun denda yang mereka berikan untukmu. Just stop that fucking broadcast and do not ever do that anymore. That's an order!” tegas Wonwoo kembali menindis tubuh dan melumat bibir Soonyoung.
Keduanya kembali hanyut dalam erotismenya masing-masing ditambah kostum soonyoung saat ini benar-benar membuat Wonwoo ingin merobeknya.
Wonwoo kini kembali berdiri, ia mengambil penisnya sendiri kemudian di kocok bersamaan dengan penis soonyoung membuat kedua orang itu mendesah tak karuan.
Malam itu mereka habiskan untuk menikamati tubuh satu sama lain, dengan Wonwoo yang tanpa lelah mendorong penisnya masuk ke lubang sempit Soonyoung di atas tempat tidur, di pinggir meja belajar hingga Wonwoo akhirnya menyemburkan cairan putihnya dengan posisi berdiri menghimpit Soonyoung di dinding kamarnya.
Malam itu, malam terakhir Soonyoung sebagai pekerja di website berbayar bleachedbabe.com sebagai camboy dan kemudian menonaktifkan akun dengan user @candycum yang sudah menafkahinya selama dua tahun terakhir di hadapan Wonwoo.