MALANG

“Sayang...gimana?”

“Gapapa ayah, dokter Kim kan prediksinya tanggal 14 masih bulan depan. Kalau Juni beneran bisa atur cuma lima hari berarti gak masalah, yah” Ujar Soonyoung memegang tangan suaminya.

“Tapi aku khawatir, kamu udah berat banget bawa badan siapa yang bantuin”

“Ada kakak, ayah liat sendiri sekarang dia udah dewasa apa-apa selalu sigap bantuin aku di rumah. Lagian Jihoon juga bakal sering samper ke sini.”

“Sayang yakin?”

“Ayah tuh yang yakin apa enggak? haha” Ujar Soonyoung mengelus pipi sang suami “Mau jalan jauh gak boleh banyak pikiran yah, tenang aja aku kuat kok ada kakak, ada Jihoon” Kata Soonyoung lagi.

Kemudian Wonwoo memeluk suaminya mencium puncak kepalanya lamat. “Kalau aja projectnya gak se-urgent ini, aku gak bakal ninggalin kamu yang”.

“Gapapa, ayah kerja buat anak-anak biar hidupnya enak semua tercukupi. Ini tugasnya aku jaga mereka di rumah” Soonyoung mengelus lembut punggung suaminya. “Yuk packing sekarang yah” ajak Soonyoung.

Dengan berat hati Wonwoo melepas pelukan suaminya dan mulai berkemas untuk keperluan dinas luarnya lima hari kedepan.

.

.

.

Saat Wonwoo menurunkan koper besar dari atas lemari terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.

“Ayah....” Ada Sunoo di depan pintu masih menggunakan hoodienya lengkap menengok ke dalam kamar.

“Udah cuci kaki kak?”

“Belum yah, pas sampe aku langsung ke sini”

“Hm, ayah cuma mau ajak ngobrol. Sini dulu”

Sunoo masuk ke dalam kamar kemudian duduk di atas kasur kedua orang tuanya, menghadap Wonwoo yang sekarang menarik kursi di depan anaknya.

“Papa mana, yah?

''Di dapur panasin sop kimlo buat kakak”

“Ooo”

Ada helaan nafas kecil disana, dari Wonwoo yang menatap lurus wajah anaknya.

.

.

“Kak, besok ayah berangkat ke Malang. Ada kerjaan mendadak gak bisa ditinggal, ayah minta tolong sama kakak jagain papa sama adek. Kemarin sudah dengerkan kata dokter Kim gimana kondisi papa?”

“Iya yah, sudah” Sunoo menatap tenang ayahnya, namun tidak dapat dipungkiri ada rasa gugup juga yang menyelimuti hatinya. Sunoo tau kelahiran adiknya kurang dari 2 minggu lagi, absennya keberadaan sang ayah dimasa-masa krusial seperti ini sebenarnya juga membuat ia khawatir.

“Karena ayah jauh jadi sekarang kakak yang harus siap siaga, ayah sebenernya gak mau berangkat ayah sayang sama kalian bertiga tapi ada tanggung jawab lain diluar yang harus ayah selesaikan sebentar. Kakak sudah dewasa jadi ayah rasa, ayah bisa percaya sama kakak di rumah.”

“Berapa lama yah?”

“Lima hari”

“Hmmm......”

“Kurangin main keluar ya kak, kalau mau main temennya aja yang kesini tapi jangan terlalu berisik kasian papa mau istirahat”

“Aku di rumah aja kok yah, lagian udah mau UTS”

“Di lemari yang paling bawah semua perlengkapan papa sama adek, bajunya semua udah siap di dalam tas yang warna biru muda tinggal angkut aja, jaga-jaga papa kontraksi lagi dan harus lahiran lebih cepat-..”

“HAAA AYAHH-..” Sunoo tiba-tiba panik mendengar harus menemani papanya melahirkan tanpa didampingi oleh Wonwoo.

”..tenang dulu kak itu kan kalau beneran, kalau enggak ya gapapa santai aja kamu, ayah kasih tau just in case di saat emergency dan kakak butuh itu.'

“oke....yy yah...”

“Nomor telepon rumah sakit sama dokter Kim udah ada ayah kirim di chat, Om Jihoon sama Om Juni juga bakal sering dateng buat ngecek papa jadi kakak gak usah khawatir, kakak nggak sendirian kok” “..terus PR kerjain di rumah aja ya kak, Jay aja yang kamu ajak kesini. Kakak nggak usah banyak keluar rumah”

“Ayah berangkat jam berapa?”

“Pesawat besok jam 10 kak soalnya jam 2 ayah langsung meeting di sana”

“Sama siapa?” Walaupun kedua ayah dan anak ini bersiteru hal-hal kecil. Namun, tetap saja ikatan darah mereka begitu erat. Khawatir Sunoo bukan hanya karena ditinggal ayahnya menemani sang papa yang sedang hamil besar. Namun, Sunoo juga khawatir dengan ayahnya yang sering kali overwork karena pekerjaan yang terus berdatangan. ayahnya kerap kali mengabaikan kesehatannya sendiri.

“dianter om Juni ke bandara.” “Bisa ya kak, ayah titip papa sama adek ke kamu?”

“Bisa yah”

Good! itu baru anak ayah” Wonwoo mengusak rambut anaknya dengan senyuman bangga. Hatinya sedikit tenang.

“Serius amat sih?” Ujar Soonyoung yang bersender depan pintu kamarnya.

“Lagi serah terima jabatan pa” jawab Sunoo asal seperti biasa.

“Ada-ada aja anak bujang, makan dulu kak itu banyak telur puyuhnya di panci”

“Meluncurrrr” Kemudian Sunoo berdiri dari duduknya menyusul Soonyoung yang kembali ke dapur, tapi sebelum ia benar-benar pergi, Sunoo berbalik badan.

“Yah, nanti malem aku tidur disini ya sama ayah?”

“hmm? sama ayah?” Wonwoo seperti salah mendengar.

“Iya aku mau bobo sama ayah''

Wonwoo tidak salah dengar, benar anak sulungnya itu meminta tidur bersamanya bukan dengan Soonyoung. Hal langka tapi membuat hati Wonwoo menghangat, ada anggukan yang Wonwoo berikan sebagai jawaban untuk pertanyaan anaknya tadi.

“Dasar bayi” kekeh Wonwoo setelah si sulung menghilang dari pandangan.