KANTOR


Mereka sampai di kantor Wonwoo pukul 13.45 suasana masih sepi kerena beberapa karyawan mungkin masih beristirahat. Saat di ruangan Wonwoo, Soonyoung langsung berlari ke arah sofa tamu yang ada di sebelah kanan meja kerja utama. Sofa dan tempat yang sama saat Soonyoung mengerjakan Lapraknya tempo hari.

“Uwaaaa” seru Soonyoung membanting tubuhnya di atas sofa, Wonwoo mengikuti di belakang dan ikut duduk di sana.

Melihat Wonwoo ia langsung memutar tubuhnya dan tidur di paha Wonwoo.

“Gak kerja daddy?”

“Gimana mau kerja kalau kamu tidur di atas penis saya?”

“Enggak kok” balas Soonyoung menggeser kepalanya.

“Saya bilang kan jangan manyun”

“Siapa yang manyun” Wonwoo tidak salah karena Soonyoung memang benar mengerucutkan bibirnya.

Soonyoung kemudian mengelus rahang tajam Wonwoo, dari posisinya sekarang Soonyoung bisa melihat leher, dagu dan rahang itu dari bawah dan benar-benar terlihat seksi.

“Kenapa begitu lihatnya?”

“Daddy belum cukuran ya?” tanya Soonyoung meraba wajah Wonwoo yang mulai tumbuh bulu tajam tipis.

“Biar kamu geli waktu saya makan kamu”

“Makan dimana?” pancing Soonyoung.

“Disini” Wonwoo menangkup gundukan di celana Soonyoung dan meraba belahan pantat Soonyoung dari arah twinballs ke bawah, menggeseknya dengan jari tengah.

“Eung...”

Mendengar itu Wonwoo menarik kepala Soonyoung yang masih berbaring di atas pahanya untuk naik dan langsung menciumnya, membuat Soonyoung harus menyanggah tubuhnya dengan sikunya agar bisa menyambut ciuman Wonwoo.

Tangan kanan Wonwoo memeluk bagian belakang kepala Soonyoung dan tangan kirinya memeruk pinggang Soonyoung yang masih dalam posisi setengah duduk. Keduanya berciuman cukup lama, menukar saliva dan membelit lidah masing-masing. Bibir dan Lidah Soonyoung adalah candu Wonwoo.

Melepas ciumannya di bibir Soonyoung kini ia beralih menciumi leher yang lebih muda membuat Soonyoung lagi-lagi melenguh nikmat dan melempakan kepalanya ke belakang memberikan akses lebih untuk Wonwoo. Dada Soonyoung membusung saat merasakan jari Wonwoo yang sekarang sudah ada di nipplenya dan mengelus gundukan mungil itu dengan jempolnya.

Kembali Soonyoung menarik rahang Wonwoo untuk menciumnya lagi dan pergulatan lidah tak dapat dihindari.

Sesaat tangan Wonwoo baru akan membuka restleting celana jeans Soonyoung telpon di mejanya berdering, membuat kegiatan mereka berhenti sejenak. Wonwoo hanya melirik ke arah mejanya dan kemudian tak menghiraukan penggilan tersebut dan kembali berciuman dengan Soonyoung. Namun, tidak berselang lama telponnya berdering lagi.

“Penting kali dad, angkat dulu” ujar Soonyoung dengan napas yang masih tersenggal dan rambut yang sedikit berantakan.

“Sebentar baby..” Wonwoo melepaskan pelukannya dari Soonyoung dan merebahkannya di atas sofa tadi dengan pelan dan kemudian berjalan ke arah telpon.

Soonyoung memandangi Wonwoo dari tempatnya berbaring, dua kancing kemejanya sudah terbuka dan dirinya terlihat sudah sangat kacau sedangkan sang dominant yang berbicara serius dengan entah siapa di seberang telepon sana masih memakai jasnya lengkap, rapih dan gagah.

Dalam hati Soonyoung bagaimana bisa lelaki hebat dengan jabatan tinggi yang bertaut 10 tahun lebih tua darinya ini mau tidur dengannya. Terkadang ada pikiran-pikiran kecil yang lewat di kepalanya, pantaskah dirinya? Namun, pikiran lain akan buru-buru meringsak masuk dan mengatakan bahwa jangan menganggap semua ini terlalu berlebihan karena ia sendiri tidaklah lebih dari sekedar budak napsu seseorang yang mendapat imbalan setelahnya.

“Baby” panggil Wonwoo yang kembali dari panggilan telepon.

“Iya dad”

“Saya harus ke lantai 16 bertemu dengan Pak Shin, saya tinggal sebentar ya?”

Soonyoung mendudukan tubuhnya mengangguk sebagai jawaban. Wonwoo membungkukkan badannya mengancing kembali kemeja Soonyoung yang tadi sempat ia buka.

“It won't be long, suit yourself here” ujar Wonwoo mengecup bibir Soonyoung lagi.

“Iya daddy gapapa”

“Nanti saya panggil Yeji untuk bawakan cemilan buat kamu”

“Yeji yang kemarin itu?”

“Iya”

“Okey dad, udah sana daddy kerja dulu”

Setelahnya Wonwoo mengelus pipi lembut Soonyoung dengan jarinya dan berjalan keluar melalui pintu besar ruangan itu.


“Halo” sapa gadis muda yang membawa nampan berisikan puding coklat, biskuit dan orange jus.

“Hai” sapa Soonyoung tidak kalah ramah. Saat ini Soonyoung sedang memainkan ponselnya dengan posisi tengkurap di atas sofa, bahkan sepatunya sudah dia lepas. He really suits himself here

“Nyemil dulu” kata gadis muda itu.

“Makasih~ Yeji?”

“Iya Yeji” gadis itu mengulurkan tangannya mengajak Soonyoung berkenalan dan langsung disambut Soonyoung.

“Waa puding coklat yang kemarin” ujar Soonyoung dengan mata berkilauan.

“Enak ya?”

“Banget! Nih cobain juga”

“Enggak, thank you. Aku diet”

Soonyoung hanya mengangguk dan membulatkan bibirnya.

“Boleh duduk disini nggak?” tanya Yeji.

“Duduk aja kali. Capek ya?”

“Iya, banyak kerjaan. Untung Pak Wonwoo suruh kesini jadi aku kabur deh”

“Yee...” “Emang kamu dibagian apa?”

“Aku admin operasionalnya Pak Wonwoo, ruanganku yang di sebelah kanan”

“Wihh keren dong”

“B aja sih, btw ini kita kaya seumuran deh”

“Masa? aku masih 19” jawab Soonyoung menyendok puding coklatnya lagi.

“SAMA DONG” spontan Yeji.

“Serius? kok udah bisa kerja di perusahaan gede sih? Pinter banget pasti kamu”

“Bukan gitu, aku mah pake orang dalam” Yeji terkikik. “Om aku Finance Director disini”

“Hmmm enak” sinis Soonyoung melirik Yeji.

“Kamu mah juga bisa kali Soonyoung tinggal bilang Pak Wonwoo, kamu keponakannya juga kan?”

“Huh? Oh.... iya hehehe keponakan”

Setelahnya mereka berdua terus mengobrol bahkan dengan sangat cepat bisa akrab. Baru kali ini Soonyoung tidak minder mengobrol dengan orang yang satu kantor dengan Wonwoo.

Saking asiknya mengobrol dan tertawa mereka tidak sadar ada yang datang masuk ke ruangan Wonwoo.

“Pantes dicari ke ruangannya gak ada taunya disini”

“Hehehe coffebreak sebentar, Mas Seungcheol” jawab Yeji, sedangkan Soonyoung masih diam memperhatikan wanita lain yang datang bersama Seungcheol.

“Ada Soonyoung juga?”

“Iya, apa kabar Pak Seungcheol”

“Kabar baik, Pak Wonwoo mana Soonyoung?”

“Kalau nggak salah tadi ke lantai 16 ketemu Pak Shin?” Soonyoung juga tidak yakin apa ia benar menyebutkan nama orang tersebut yang bisa saja adalah petinggi di kantor ini.

“Oh sudah duluan kesana toh” Jawab Seungcheol. “Yaudah Yeji ini buat copy kontraknya Mandala Finance ya, tolong di email paling lama sore ini”

“Oke Mas” kemudian Yeji mengambil map yang tadi diserahkan Seungcheol, melambaikan tangannya singkat kepada Soonyoung dan pamit keluar dari ruangan itu.

“Siapa?” kata wanita dengan rambut sebahu dengan setelan jas dan rok warna Maroon itu pada Seungcheol.

“Housematenya Pak Wonwoo, Soonyoung”

“Housemate?”

“Iya” jawab Seungcheol singkat.

Kemudian wanita itu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri “Claire”.

“Soonyoung” balas Soonyoung menjabat tangan wanita itu dengan senyum ramahnya.

“Kerja dimana Soonyoung?” tanya Claire.

“Masih kuliah, kak eh...Bu”

“Oh kuliah, gapapa panggil kak aja lagian saya masih muda juga kok, ya kan Cheol?” tanya Claire tersenyum pada Seungcheol.

“Iya” “Yaudah saya antar ke bawah, Pak Wonwoo lagi nggak ada di tempat juga”

“What a shame, maybe next time” Jawab Claire, memeluk pouchnya yang terlihat branded.

“Saya keluar dulu ya Soonyoung” ujar Seungcheol.

“Oke Pak”

“Sampai ketemu lagi, Soonyoung' lagi-lagi wanita itu tersenyum namun bisa Soonyoung rasakan tidak ada kata 'tulus' sama sekali dari senyuman tersebut.

“See ya, kak” balas Soonyoung.

Kemudian dua orang itu keluar dari ruangan Wonwoo meninggalkan Soonyoung kembali seorang diri.

“Ih serem banget” Soonyoung bermonolog dan naik ke sofanya lagi.