Good Morning
Pagi ini Soonyoung bangun lebih awal, sejak semalam rasanya tidur tidak tenang. Segala macam pikiran mampir di kepala, jangan ditanya lagi tentang apa, sudah pasti perihal penawaran mengejutkan dari pemilik apartementnya, Jeon Wonwoo.
Soonyoung sedang berada di dapur mengambil segelas air putih saat Wonwoo keluar kamar lengkap dengan pakaian kerjannya seperti biasa. Pagi ini agak mendung, matahari tidak secerah biasanya. Saat melihat ada Soonyoung di dapur, Wonwoo sedikit heran apalagi dengan mesin pemanggang roti yang menyala menampakkan 2 roti tawar yang sudah mulai terlihat kecoklatan di permukaannya.
Wonwoo berdeham memberi isyarat kedatangan, sebenarnya Soonyoung sudah tau dari bunyi pintu kamar Wonwoo yang barusan terbuka namun ia hanya pura-pura tidak tau saja.
“roti panggang?” tanya Wonwoo menghampiri Soonyoung.
“Iya, sarapan ini aja ya Pak” jawab Soonyoung kikuk.
“Nggak masalah” ujar Wonwoo lagi sambil mengambil kopinya yang ternyata juga sudah dibuatkan oleh Soonyoung.
“Rotinya satu atau dua, Pak?”
“Satu aja, saya mau makan oatmeal juga. Kamu mau?”
“Gak suka Pak” si penyewa menggelengkan kepalanya.
“Okay”
.
Di meja makan keduanya lagi-lagi makan dalam diam, sampai Wonwoo kembali bersuara.
“Masih libur?”
“eh, enggak Pak” “Ada kelas nanti jam 11 sampai malem kayanya?”
“Tumben?”
“Sorenya praktikum. Terus mau lanjut tugas kelompok”
“Malamnya jam berapa?”
“Jam 7 mungkin, seselesainya aja sih”
“Saya jemput”
“Hah?”
“You heard me“ “Sekalian saya pulang kerja, Soonyoung”
Matanya ditatap oleh Wonwoo dalam, seolah-olah tatapan itu bisa menelusuk masuk melihat jiwanya.
“o-oke pak”
Setelahnya Wonwoo sibuk mengangkat telpon dari Seungcheol kalau Soonyoung tidak salah dengar. Sepupu Mingyu yang membantunya mendapatkan apartemen ini sebulan yang lalu.
Soonyoung memperhatikan bagaimana Wonwoo berbicara di telpon, bibir tipis itu bergerak melemparkan pertanyaan mengenai kesibukan apa saja yang sudah ia tinggalkan selama cuti kemarin kepada Seungcheol yang berada di seberang telpon. Soonyoung menatap bagaimana nafas tenang itu keluar dari hidung mancungnya, membuat sekilas kilat bayangan ciumannya di mobil Wonwoo kemarin muncul,
Bagaimana kemarin nafas itu begitu dekat dengan wajah Soonyoung membuatnya seperti tersihir oleh mantra.
.
.
Soonyoung berdiri dari kursi makan, mengangkat piring sarapannya yang sudah kosong.
Melewati Wonwoo yang masih tersambung dengan obrolan ditelpon ketika Soonyoung yang berdiri disampingnya tiba-tiba mengecup sudut bibir Wonwoo.
Otomatis sambungan telpon dimatikan walaupun diseberang sana Seungcheol masih dengan sibuk menjelaskan jadwal Wonwoo hari ini.
“What was that for?” Tanya Wonwoo pada Soonyoung yang sudah berlalu menuju dapur.
Tidak ada jawaban.
.
.
Wonwoo menyusul Soonyoung ke dapur, menuntut jawaban atas aksi tiba-tiba si penyewa apartment.
“I asked you” Ujar Wonwoo lagi, berdiri mengunci Soonyoung yang mencuci piring dan gelas bekas sarapannya di wastafel dengan kedua lengan Wonwoo di kiri dan kanan tubuh yang lebih pendek, menumpu tangan kekarnya pada pinggir wastafel agar Soonyoung tak kabur.
“That was my answer for your offer yesterday” jawab Soonyoung berani menatap balik Wonwoo.
.
Tidak ada suara lain setelah itu, selain suara bibir yang saling beradu dengan saliva yang bertukar, dan air keran yang dibiarkan menyala seolah-olah menjadi musik bagi kedua pria yang kini sedang asik bercumbu.