DAFTAR PAUD

.

.

Wonwoo sampai di rumah pukul 17.30 menyapa suaminya yang sedang mendandani Sooah di depan ruang TV.

“Aduh cantiknya anak ayah udah siap mau ke mana?” ujar Wonwoo mencium pipi gembul Sooah yang duduk di atas pangkuan Soonyoung.

“Cekolah” jawab si kecil riang.

“Mana ada sekolah malam-malam” tiba-tiba Sunoo menyahut dari arah tangga menyampirkan handuk biru muda dipundaknya. Rupanya baru turun mau mandi.

“Kak nanti nangis lagi” tegur Soonyoung masih sambil mengikat kuncir rambut anak perempuannya.

“Cekolah kan pa?” Sooah menoleh meminta kepastian.

“Adek...” Panggil Wonwoo.

Sooah otomatis menoleh kembali ke arah Wonwoo yang berjongkok di depannya.

“Sini sama ayah” karena ikatan rambutnya pun sudah selesai kemudian si kecil mendekati Ayahnya, bersandar di lengan Wonwoo.

“Adek liat tangan ayah” Wonwoo munjukkan angka satu dengan jarinya.

“Umur adek kan baru segini. Baru satu tahun jadi belum bisa masuk sekolah dulu ya sayang” “Nanti kalau sudah segini” Sambungnya, kini Wonwoo menambahkan jarinya menjadi 5 ruas menunjukan angka lima. “Nah, baru adek masuk sekolah ya, nanti adek hitung sama papa kalau sudah empat kali jarinya keluar baru bilang ayah lagi kita pergi sekolah, oke?” jelas wonwoo.

“Adek nda bica hicung yah”

“Nanti malem ayah beliin buku hitungan, ayah ajarin hitung tapi di rumah dulu”

“nda cekolah syama a yin?”

“karin umurnya sudah 4 makanya boleh sekolah. Adek belum cukup jarinya”

“ohhhhhhhh tambahin yah jali adek”

“nanti kalo adek ulang tahun jarinya tambah satu, tulis di situ” wonwoo menunjuk dinding ke arah dapur yang masih ter-cat polos warna cream tanpa noda.

“ih nantyi papa mayah kalo tuyis di dinding”

“Ayah beli papan tulis nanti gantung disitu, adek catat jarinya disana”

“Papan tuyis tuh apah?”

“Buat tulis-tulis pokoknya, nanti adek pilih sendiri biar tau yang mana, oke?”

“Jadi nda cekolah?” tanya Sooah lagi, polos.

“Belum, tunggu jarinya segini” Wonwoo menunjukkan telapak tangannya yang terbuka sempurna menunjukan angka lima.

“Ohhhh ....tapi....ungg... boleh ikut a yin cekolah?”

“Belum boleh adek....” Kesabaran Wonwoo sudah di ujung.

“Melihat suaminya yang mulai kehabisan stok kesabaran, Soonyoung mengambil alih obrolan.

“Sekarang adek sekolahnya sama papa dulu di rumah, nanti buku sama mejanya dibeliin ayah, harus bangun pagi yang pinter terus kita belajar, oke?”

“Oke pa!” tanpa ragu Sooah menjawab, lebih ceria dari 10 menit yang lalu.

“Oke toss” ajak Soonyoung dan langsung di sambut si kecil riang. Wonwoo yang melihat hanya bisa terduduk lemas di karpet bulu rumahnya, mengundang cekikikan halus dari Soonyoung.


” a! aa! aa conuuuuuuu” Sooah menepuk-nepuk lengan kakaknya yang sibuk memainkan hpnya.

“yepas....” kemudian si kecil menunjukan ikat rambut di kepalanya yang putus dan terlepas menyisakan hanya satu kuncir di sebelah kiri saja yang masih rapih terikat.

Mereka sekarang sudah berada di mobil, dalam perjalanan ke Mall Kelapa Gading untuk membeli peralatan sekolahnya Sooah.

“Abang mana bisa iket rambut” jawab Sunoo.

“Iniiiiiii” Sooah mengeluarkan kotak plastik berwarna bening dari tas kecilnya yang memang tak pernah ketinggal saat ia pergi. Dasar centil.

Kotak plastik itu berisikan karet ikat rambut warna warni milik Sooah, memberikannya kepada Sunoo untuk minta diikatkan.

“Sama papa aja”

“AAAAAAAAAAAAAAA NDA MAU.....ICATIN LAMBUT ADEKK”

“Hihhhhhhhhh” Sunoo menangkup gemas pipi gembul adiknya dengan kedua telapak tangannya, membuat bibir sang adik membentuk seperti ikan, monyong dan pipinya gepeng. Yang di tangkup malah ketawa-tawa saja. Kegirangan.

“Pa, adek minta ikat rambut” panggil Sunoo kepada Soonyoung yang tengah asik entah mengobrol apa dengan suaminya yang menyetir di depan.

“nda mau nda mau nda mau cama papa”

“ribet banget wanita ini! hihh!” gemas Sunoo.

Soonyoung menoleh melihat kelakuan kedua anaknya, tertawa geli. Sooah itu lengket sekali dengan Sunoo, apa-apa selalu ingin dengan kakaknya, bahkan banyak perihal jika Sooah rewel, Sunoo lah yang bisa menenangkan dan membujuk. Beruntung Sunoo bisa sabar walaupun terkadang terdengar omelannya seorang diri di dapur.

“Belajar kak iket rambut adek”

“Belok-belok ini aku iketnya biar aja jelek sooah”

“TANTIK!” Tiba-tiba tatapan Sooah garang membuat Sunoo kanget.

“Mataaaaanyaaaaa adek! melotot gitu ntar gelinding loh ke bawah kolong”

“aa nihh” Sooah mengedip-ngedipkan matanya takut kalau matanya benar-benar menggelinding.


Di salah satu toko buku paling sering dikunjungi warga Jakarta, keluarga Wonwoo sudah berpencar masing-masing. Ah, Tidak juga sih, hanya Sunoo yang langsung menghilang ke arah rak komik sedangkan Sooah ada di gendongan Wonwoo mengikuti Soonyoung yang jalan di depannya memilih-milih pensil dan crayon warna-warni.

“Ndada forjen kah papa?”

“Frozen?” Tanya Wonwoo karena Soonyoung tak mendengar pertanyaan anaknya barusan.

“Iyaaa yang ada olaf nya yayah”

“Yang, ada frozen nggak?” Tanya Wonwoo yang sekarang sudah di samping Soonyoung.

“Ada tapi kotak pensil aja yah”

“Yaudah gapapa” “Dek, mau turun pilih kotak pensil?”

Sooah mengangguk dan Wonwoo menurunkan anaknya.

Si kecil berjongkok di depan rak yang berjejer beragam kotak pensil. Kadang berjongkok kadang berdiri, bingung sendiri mau pilih yang mana.

“Nih dek yang frozen ada tiga macem, pilih adek mau yang mana”

“Hmm boyehh dua pa?”

“Satu aja, kan mau beli meja lagi”

“Warna apa nih pa?”

“Pink”

“Ohhhh” jawab Sooah masih menimbang-nimbang pilihannya.

“Ini warna apa pa?” Tanyanya lagi.

“Biru”

“Yang ini?” Sooah menunjuk gambar salju yang ada di sebelah tokoh Elsa.

“Itu putih” Soonyoung menjawab sambil memilih alat tulis yang lain, memasukkan beberapa buku gambar juga ke dalam keranjangnya.

Disisi lain Wonwoo hanya berdiri saja memperhatikan suami dan anaknya memilih-milih.

Dalam hatinya 'kenapa jadi belajar nama-nama warna sih?' tapi tak apalah Soonyoung masih sangat sabar menjawab semua pertanyaan anaknya.

Soonyoung mengambil banyak buku mewarnai, buku belajar menulis dan behitung yang titiknya bisa diikuti Sooah dengan pensil agar terbentuk huruf dan angka yang dimaksud. Selain buku, soonyoung juga mengambil 1 kotak crayon besar dan 1 kotak pensil warna, 1 kotak pensil biasa, serutan pensil berbentuk beruang, 1 kotak kecil penghapus karakter, dan kotak pensil frozen pink yang akhirnya dipilih setelah setengah jam Sooah duduk di depan raknya.

Sekarang mereka menuju bagian ujung yang berjejer meja-meja kecil untuk anak, ada yang bisa di lipat, ada yang dari kayu dan ada yang dari plastik, semua lengkap.

Lagi-lagi Sooah dibiarkan memilih kesukaanya tapi kali ini tidak selama memilih kotak pensil. Si anak gembil langsung jatuh hati dengan meja lipat berbahan plastik dengan warna pink muda karena memiliki laci kecil di sampingnya. Sooah suka, katanya buat simpan uang jajan kalau dikasih eyang putri yang datang dari Jogja. Ada-ada aja.

Selesai berbelanja keperluan Sooah dan makan malam di mall tersebut, keempatnya kembali pulang ke rumah.


“Ehehehehehe” Sooah berguling-guling di atas kasur masih dengan pakaian yang sama saat pergi tadi.

Soonyoung di pojok ruangan sedang mengambil pakaian tidur putrinya di lemari. Sang ayah terdengar sedang berada di kamar mandi, mungkin cuci muka dan membersihkan diri karena tadi sudah duluan mengambil celana pedeknya yang biasa dipakai di rumah.

“Seneng betul adek” kata Soonyoung manarik anaknya yang sudah berguling sampai ke ujung kasur.

“Ganti baju dulu”

“Nda mau”

“Nanti mimpi buruk dek”

“Kan ada yayah yang pukul olang jahat kalo tacut bobonya”

“Iya..iya..tapi ayah gak mau temenin bobo kalo adek bau kecut belum ganti baju”

“Hmm?” Anaknya terlihat berpikir.

Sesaat kemudian Wonwoo kembali dari kamar mandi.

“Liat anakmu yah malah gulung-gulung gitu di ujung” ujar Soonyoung lelah.

Wonwoo menghampiri anaknya, langsung menggendong si kecil ke bagian kasur yang dekat Soonyoung.

“Huuuu telbang~~” ujar Sooah saat di gendong Wonwoo.

“Gak ada capek-capeknya ya dek”

“Besok cekolah pa?”

Sekolah lagi hadehhh....

“Iya makanya cepet papa gantiin bajunya, cepet tidur jadi cepet juga besok bangun pagi sekolah sama papa”

Setelahnya Sooah berbaring telentang pasrah di atas kasur. Gaya andalan saat dirinya digantikan pakaian oleh Soonyoung.

Soonyoung melepas pelan pakaian anaknya satu persatu. Membuat sang anak bergidik terkena tiupan dingin dari pendingin kamar mereka yang alhasil membawa gelak tawa geli dari Soonyoung dan Wonwoo.

Soonyoung mengusap tubuh anaknya dengan tissu basah khusus balita, mengeringkannya kemudian membaluri Sooah dengan minyak telon, anaknya itu tidak bisa tidur kalau tidak diberi minyak telon. Bisa gelisah semalaman. Kemudian memakaikannya piyama warna putih dengan gambar beruang-beruang hijau kecil di permukaannya.

Setelah selesai di tepuknya pantat si balita centil.

“Udah dek” tak perlu menunggu sahutan Sooah, sudah pasti ia akan langsung bergulung dalam bedcover kasur lagi, menyusul ayahnya yang sudah ada di sana duluan berbaring menyalakan tv yang ada di depan kasur.

Karena sudah aman sekarang giliran Soonyoung yang mengganti pakaian rumahnya.

Ketika kembali dari kamar mandi ia dihadiahi pemandangan Sooah yang sudah berada di atas perut Wonwoo, menidurkan tubuh kecilnya seperti katak.

“Ada-ada aja kelakuan” kata Soonyoung yang ikut bergabung ke atas kasur dengan terlebih dahulu mengecup pipi suaminya yang sedang menepuk-nepuk Sooah yang sepertinya sudah hampir tertidur. Ada senyum di sana, di wajah Wonwoo walaupun matanya masih fokus ke arah tv.

“Tidur dia yah?” Tanya Soonyoung menarik selimut.

“Masih tidur-tidur ayam”

“Kecapek-an itu nangis terus dari pagi, sama kakaknya juga di ajak main terus”

“Biar aja yang puas-puasin dia main asal gak sakit gak rewel”

“Mau di sekolahin kapan emangnya yah?”

“Pas lima tahun aja yang langsung TK gak usah paud biar belajar sama sayang aja ya?”

“Kenapa gitu? Enak yah biar cepet pinter”

“Gak sanggup aku yang liat dia cepet gede, biarin aja dia kecil segini terus”

“Ih ayah mana bisa begitu”

“Coba liat pipinya itu nyembul kemana-mana kaya sayang kalo tidur, siapa yang mau kalau dia cepet gede”

“Gapapa yah kalau keturunan aku ntar gedenya juga tetep gemes”

“Iya sih.....”

Tak lama si bungsu ikut menyusul, menerobos pintu kamar orang tuanya. Langsung menginvasi bagian tengah kasur antara Wonwoo dan Soonyoung.

“Hmm sudah ku duga” kata Sunoo.

Suara pintu yang di buka kencang barusan dan guncangan kasur saat Sunoo naik, ternyata membangunkan adiknya yang tadi sudah sempat terlelap.

“Hehe aa” tidak menangis ataupun rewel, sang adik malah terlihat senang dengan kedatangan kakaknya.

“Abaaaaang dek abaaaaang...udah di ajarin terus loh”

Sooah menggelengkan kepalanya yang masih di atas dada wonwoo.

“Aa...aa cunooo..” katanya lagi geli.

“Capek aku kasih tau” balas Sunoo yang kemudian langsung membalikkan badannya menghadap Soonyoung, memeluk papa kesayangannya itu yang di balas pelukan juga oleh Soonyoung.

“Kakak orang jawa” kata soonyoung menepuk-nepuk punggung anaknya.

“Hmm iya iya” jawab sunoo yang semakin dalam menenggelamkan kepalanya dipelukan papanya.

“A...aa..aa cunoo” Sooah turun dari perut ayahnya dan memanggil kakaknya yang memunggunginya.

“Apa?” Kata Sunoo berbalik badan.

Cup!

Pipinya di cium Sooah kecil.

“Ihhhh centil banget adek! Awas ya kalo gede cium-cium cowok kayak gitu! Abang tonjok cowoknya!” Ujar Sunoo yang menarik adiknya ke dalam pelukannya. Gemas.

Sang adik tertawa-tawa girang mendapatkan gelitikan di perut kecilnya yang bucit.

Walaupun wonwoo masih fokus menonton film di tv namun ia bisa merasakan hangat di kamarnya saat ini.

Keluarganya berkumpul. Untuh dan bahagia di bawah atap rumah sederhannya. Memberikan afeksi cinta satu sama lain. Tidak ada hal lain yang Wonwoo butuhkan di dunia ini selain mereka bertiga berada disisinya.

.

.

Malam itu, keempatnya tertidur pulas bersama. Adek yang dengan lelap tertidur di ketiak Ayahnya dan Kakak yang dipeluk hangat oleh Papanya.

.

Having somewhere to go is home. Having someone to love is family. And having both is a blessing

Good night everyone. Sweet dreams.

.

.

THE END ❤️