Pulang Kampung
.
.
Rumah itu dikelilingi oleh pohon-pohon hijau yang rindang, rumah dengan pondasi kayu Hinoki memberikan kesan natural dan sejuk. Udara terasa segar menerpa kulit, berbeda jauh dengan asap dan debu di Jakarta yang membuat tingkat stress semaking meningkat.
Soonyoung keluar dari taxi bandara sambil menggendong Sooah, balita itu masih tertidur pulas dengan pipinya yang tersandar dibahu Soonyoung, menyembul seperti bakpao yang baru dikeluarkan dari panci kukus. Di usapnya lembut punggung putri kecilnya itu agar tetap merasa nyaman saat digendong.
Di sisi lain Sunoo membantu Wonwoo dan supir taxi mengeluarkan semua koper mereka. Total ada empat koper, satu ransel dan satu kereta dorong Sooah untuk liburan selama 2 minggu ini.
Liburan panjang di kampung halaman Soonyoung. Jepang.
Soonyoung memiliki darah campuran, ayahnya adalah warga berkebangsaan Jepang dan Ibunya adalah orang asli Depok. Ia lahir dan bersekolah di Jepang, dulu Ibu Soonyoung pergi ke Jepang untuk sekolah tata boga sampai akhirnya bertemu Ayahnya yang bekerja sebagai pengusaha kontraktor. Hingga pada usia 15 tahun Soonyoung memutuskan untuk pindah ke Jakarta bersama neneknya, menyelesaikan Sekolah Menengah Atas dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi di sana.
Namun, saat kuliah Soonyoung kembali pindah, Neneknya meninggal dunia saat ia berusia 18 tahun atau tepatnya saat Soonyoung berada di semester dua, waktu itu Ibu dan Ayah Soonyoung datang dari Jepang mengajaknya kembali tingal di sana, namun ia menolak dengan alasan sayang dengan kuliahnya yang sudah berada di tengah jalan, beruntung orang tua Soonyoung bukanlah orang tua yang memaksakan kehendak. Sejak remaja Soonyoung sudah diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri dengan tetap mematuhi norma-norma di masyarakat dan bertanggung jawab. Pesan dari orang tuanya itulah yang selalu menjadi pegangan teguh Soonyoung selama ini.
Selama kuliah Soonyoung selalu mendapat kiriman uang dari orang tuanya, biaya kuliah, biaya kos dan makan sehari-hari, semua berkecukupan. Namun, tidak semerta-merta Soonyoung hanya berpangku tangan pada orang tuanya. Ia memutuskan untuk bekerja paruh waktu di salah satu toko roti di dekat kampusnya untuk menambah uang sakunya yang mungkin kapan saja bisa dibutuhkan mendadak, berbekal ilmu dari sang Ibu membuat roti ia dapat diterima bekerja dengan mudah.
.
.
Di toko itulah Soonyoung pertama kalinya bertemu Wonwoo, kakak tingkatnya yang berada dua tahun di atasnya. Waktu itu Soonyoung masih berpacaran dengan Seokmin dan Wonwoo pun sedang sibuk-sibuknya mengurus KKN dan rencana pengajuan judul skripsi. Mereka tidak satu jurusan namun sering bertemu karena Wonwoo yang setiap pagi mampir ke toko roti tempat Soonyoung bekerja. Membeli satu bolu gulung dan satu roti sosis, selalu jenis roti itu-itu saja yang Wonwoo beli sampai-sampai setelah 3 bulan berjalan Soonyoung tidak lagi bertanya pesanannya dan langsung menyiapkan roti milik Wonwoo.
Karena penasaran sudah satu semester ini si Kakak tingkat tidak merubah pesanannya sama sekali, akhirnya Soonyoung memberanikan diri untuk bertanya,
“Gak mau nyoba roti lain, kak?”
“Gak suka roti rasa aneh-aneh. Saya juga gak bisa sarapan banyak kalau pagi, tapi kalau gak sarapan juga ada magh jadi ya gitu. “ ujar Wonwoo dulu saat berhadapan Soonyoung di depan kasir. Jawaban yang cukup panjang dan tak terprediksi, padahal Soonyoung cuma kepo tapi dijawab lengkap oleh Wonwoo.
Dari situ pula Soonyoung mulai merekomendasikan makanan yang cocok untuk sarapan, mulai dari bubur ayam Bandung di kompleks perumahan seberang kampus sampai toko buah-buahan yang menyediakan buah segar yang sudah bersih dan siap santap.
Saat Soonyoung mendapatkan shift sore, paginya pun pasti akan disempatkan pergi sarapan bersama Wonwoo. Walaupun, yang sebenarnya orang asli Indonesia itu adalah Wonwoo tapi pengetahunnya tentang jalanan Ibukota masih kalah jauh dari Soonyoung. Wonwoo asli Yogyakarta, merantau ke Jakarta untuk kuliah. Tipikal anak yang malas buat keluar rumah kalau tidak penting-penting sekali dan lebih memilih untuk di kamar saat liburan.
Satu tahun kenal dengan Wonwoo dirinya merasa nyaman, ada orang lain yang bisa ia ajak curhat dengan leluasa tanpa harus merasa gengsi. Waktu itu hubungan Soonyoung dengan Seokmin sedang diterpa masalah, Seokmin di jodohkan oleh anak teman orang tuanya. Bukan karena Soonyoung itu tidak pantas, namun orang tua Seokmin yang memang sudah berjanji untuk menikahkan Seokmin dengan anak temannya itu, apalagi orang tua dari calon Seokmin sudah meninggal dunia, rasanya akan sangat bersalah jika janji yang sudah dibuat belasan tahun lalu tidak bisa ditepati.
Saat akhirnya memutuskan untuk berpisah mereka berjanji untuk tetap menjaga pertemanannya, bagaimanapun Seokmin pernah menjadi orang terdekat Soonyoung dan sebelum mereka benar-benar berpisah Soonyoung masih menyempatkan diri untuk berpamitan dengan kedua orang tua Seokmin yang sebenarnya juga menyayangi Soonyoung. Hanya saja jalan mereka tidak bisa bersama.
Disaat itu, ada Wonwoo yang selalu menemani Soonyoung. Ada sedikit sesak di dada Wonwoo melihat pelayan toko roti itu tidak tersenyum ceria seperti biasanya. Dari sana Wonwoo berjanji akan terus berada bersama Soonyoung dan terus membuatnya tersenyum hingga akhir hidupnya.
Bukan omongan bocah mahasiswa saja, Wonwoo benar-benar memenuhi janjinya sendiri. Ia menyelesaikan KKN, PKL dan Skripsinya tepat waktu. Mencari pekerjaan dan menabung dengan giat kemudian melamar Soonyoung satu tahun kemudian saat Soonyoung sedang mengurus Seminar Akhir.
Kalau saja saat itu rasa cinta Soonyoung pada Wonwoo tidak sama besarnya , mungkin bisa saja tumpukan bahan skripsi, mesin printer lengkap dengan tinta injeksinya akan melayang ke kepala Wonwoo. Bagaimana tidak, waktu itu Wonwoo baru pulang dari kantor dan langsung menuju kos-kosan Soonyoung, membawakan dua mangkok bakso telur untuk Soonyoung yang sedang memperbaiki skripsnya hasil revisi tadi pagi oleh dosen Pembimbing dan tidak ada hujan tidak ada badai secara tiba-tiba saja Wonwoo mengajaknya menikah.
Tidak masuk akal bagi Soonyoung. Dia heran dan kesal, itu bukan cara lamaran yang ia idam-idamkan selama ini.
.
.
.
Dua bulan setelahnya lamaran itu akhirnya di terima ketika Soonyoung mengajak Wonwoo makan malam setelah acara wisudanya. Dan, dimulai lah kisah mereka.
“UWAAAAAAA” teriak Sunoo heboh setelah selesai mengeluarkan koper-kopernya, berlari bebas masuk ke halaman rumah orang tua Soonyoung.
“Sobooooooooooooo~Ohayō gozaimasu” (Nenek, Selamat Pagi) Salam Sunoo dengan bahasa Jepang seadanya.
Terdengar suara langkah kaki pelan dari derit lantai kayu di dalam rumah.
“Ohay- Ohhhhhh cucu nenek” Wanita dengan baju dress panjang bermotif bunga-bunga itu terkejut melihat kedatangan cucu pertamanya, memang sejak kemarin Soonyoung tidak mengabari Ibunya sama sekali perihal kedatangannya. Ia ingin memberikan surprise kepada wanita kesayangannya itu.
Pelukan haru setelahnya, Sunoo di peluk lekat oleh sang nenek. Banyak ciuman yang ia terima di sekujur wajahnya.
“Sobo, sehat?” kata Sunoo masih memeluk neneknya yang sekarang lebih rendah darinya.
“Sehat sayang, papa sama ayahmu mana?” tanya neneknya lagi sambil mengusap rambut cucunya.
“MAHHHHHHHHH” Soonyoung masuk dengan tergesa melihat Ibunya, sambil menggendong Sooah yang sekarang sudah terbangun karena gerakan tiba-tiba Soonyoung.
Dipeluknya sang Ibu erat, air mata tidak bisa Soonyoung bendung. Rindu, haru, bahagia menjadi satu. Ada Sooah disana yang ikut tenggelam dalam pelukan nenek dan papanya. “Mamah sehat?” tanya Soonyoung masih merangkul pundak Ibunya.
“Sehat sekali, tambah sehat lihat kamu datang” balas Ibunya sambil menyentuh pipi sang anak. “Ini Sooah? putri cantiknya nenek?” kata Ibunya Soonyoung lagi, mengambil tangan kecil Sooah yang melingkar di leher papanya.
Sooah hanya diam masih mencerna apa yang terjadi dan dimana dirinya sekarang, memandang Soonyoung kemudian Neneknya bergantian.
“Ini nenek dek, salim ayo” ujar Soonyoung mengarahkan anaknya yang kembali memeluk lehernya.
“Masih takut Soon belum hapal” kata Ibunya Soonyoung tersenyum maklum. “Adek, nenek ada mochi loh di dalem ikut yuk?” ajak Ibunya lagi, merentangkan tangan untuk menggendong Sooah.
“KUE DEK! AYOOOO SAMA ABANG JUGA” ujar Sunoo yang masih membuka tali sepatunya, menjadi lebih excited mendengar ada kue mochi di rumah neneknya.
“moci?” kata Sooah kecil.
“Iya ayuk sama nenek”
Kemudian dengan pelan Sooah mendorong tubuhnya ke depan dari gendongan Soonyoung, menyambut rentangan tangan neneknya yang siap menyambut tubuh kecil Sooah.
“Denger makanan aja langsung mau” cicit Sunoo.
“Kamu nih kak” tawa Soonyoung menyempil pipi anaknya.
Tak lama Wonwoo menyusul dengan 2 koper sisa yang belum di angkat.
“Bu” sapa Wonwoo mencium tangan Ibu mertuanya.
“Gantengnya anak ibu” kembali pelukan hangat diberikan Ibu Soonyoung dan ciuman halus di puncak kepala Suami anaknya itu.
“Loh adek sudah bangun?” tanya Wonwoo geli melihat anaknya yang sudah nyaman digendongan Ibu mertuanya. Memang hubungan darah itu tidak bisa dipungkiri, walaupun hanya bertemu melalui videocall dan belum pernah bertemu secara langsung namun ikatan batin pasti tetap akan terasa.
“Ayuk ayuk masuk istirahat nak Wonwoo pasti capek haduhhh” kemudian Ibunya menarik lengan Wonwoo dengan tangan kirinya untuk masuk ke dalam, dan Sooah digendongannya di tangan sebelah kanan. Soonyoung hanya tersenyum melihat pemandangan hangat tersebut dari belakang. Hidupnya sempurna karena mereka.
.
.
.
Sunoo? Jangan ditanya dia sudah masuk ke dalam rumah duluan sejak 5 menit lalu.