milkyways1707

Soonyoung berjalan gontai keluar kamarnya, merasakan sendi-sendi tulang yang terasa ngilu dihampir seluruh bagian. Perutnya lapar dan tenggerokannya haus, karena terakhir kali Soonyoung makan adalah kemarin siang di kantin kampusnya, setelah itu hal paling tidak terduga terjadi. Seingat Soonyoung itu pukul 17.34 saat dirinya merangkak di atas pangkuan Wonwoo, merasakan pening di kapalanya akibat sentuhan-sentuhan kupu-kupu yang mendarat di kulitnya sore itu. Setelahnya, Soonyoung tidak ingat bagaimana pada akhirnya ia bisa terbangun di kamarnya dan melewatkan waktu makan malam. Selelah itukah?

Langkah kakinya sempat berhenti ketika melihat punggung Wonwoo, pemilik apartement itu sedang duduk membelakanginya, tercium aroma kopi yang biasa Wonwoo minum menyeruak di sekeliling Soonyoung.

“Kenapa melamun? Sini sarapan” Wonwoo tiba-tiba bersuara tanpa membalikan tubuhnya ke belakang.

Soonyoung sedikit terkejut, pikirnya Wonwoo tidak akan sadar akan kedatangannya.

“Pagi pak” sapa Soonyoung sambil menarik kursi di depan Wonwoo.

“Pagi, mau kopi?”

Soonyoung menggeleng “air putih aja” katanya pelan.

Wonwoo menuangkan satu gelas air putih yang ada di atas meja dan di geser ke hadapan Soonyoung.

“Makasih pak” ucap Soonyoung masih sangat pelan, kepalanya tertunduk menatap pahanya, belum juga meraih gelas kaca yang sepertiganya terisi air putih.

“Minum” perintah Wonwoo.

Kemudian Soonyoung mengambili gelas itu, menegak isinya hingga setengah.

“Umm...pak...buat yang tadi malam-..”

“Nanti aja kita bahas, kamu sarapan dulu. Semalam nggak makan kan?”

“uh..iya sih tapi bapak nggak pengen nanya-nanya?” kata Soonyoung lagi sedikit menatap mata Wonwoo, yang di tatap malah menatap balik dengan tajam dan intense.

“Pengen, tapi nanti. Saya nggak mau denger penjelasan orang yang kelaparan karena jawabannya pasti ngelantur” “Kamu sarapan dulu, saya buat sup ayam masih panas di dapur kamu ambil sendiri”

“huh?” dia sempat memasak? sepagi ini? Soonyoung bingung, biasanya menu sarapan Wonwoo terbilang simple seperti sandwhich, pasta, roti bakar atau bacon. Namun, pagi ini kenapa Wonwoo membuat makanan berat? dan -eh, ini sudah jam 8.25 kenapa Wonwoo masih dirumah??? apa dia tidak masuk kerja?

“Makan Soonyoung. Sarapan” ujar Wonwoo lagi.

Lagi-lagi Wonwoo membuyarkan lamunannya.

“E-eh iya pak, tapi bapak kenapa nggak kerja?”

“Saya cuti”

“Bapak sakit?”

“Enggak. Saya kecapekan-”

hening

”-Gara-gara kamu” Kata Wonwoo jelas.

Kicep.

Otot-otot Soonyoung serasa menegang tak tahu harus membalas apa.

“Cepat berdiri jangan melamun terus”

“i-iya pak”

Setelahnya Soonyoung berdiri menuju dapur, mengambil satu mangkuk dan satu sendok. Mengambil satu centong nasi dari rice cooker dan beberapa potong ayam dari panci sup Wonwoo. Wangi sekali membuat perut Soonyoung semakin ribut.

Memegang mangkung sup dengan kedua tangannya, Soonyoung kembali ke meja makan. Dia pikir Wonwoo akan kembali ke kamarnya, tapi ternyata si pemilik apartment itu masih saja duduk disana sambil mengutak-atik telepon pintarnya. Hmm, lenyap sudah sarapan paginya yang tenang. Soonyoung harus sarapan dengan degup jantung yang terus-terusan berdetak dengan kencang.

“Bapak nggak sarapan?” Tanya Soonyoung sebelum menyantap suapan pertamanya.

“Sudah”

“Oh...saya makan ya pak”

Wonwoo hanya menjawab dengan anggukan kemudian hening lagi. Hanya ada bunyi sendok Soonyoung yang sesekali beradu dengan mangkuk supnya.

.

.

.

.

“Hari ini kamu kuliah jam berapa?” tanya Wonwoo disela-sela keheningan. Padahal jika diingat-ingat kemarin malam apartment ini dipenuhi peraduan suara desahan mereka, suara bercinta yang bisa terdengar dari seluruh penjuru ruangan.

“Kalau hari Rabu saya gak ada mata kuliah pak. Libur''

“Berarti bisa ikut saya ngopi keluar”

“Gimana pak?”

“Temani saya ngopi sekalian kita makan siang di luar”

“O-oh oke pak” Ini dia, Wonwoo pasti akan menanyakan semua pertanyaannya saat makan siang nanti. Tidak apa-apa setidaknya Soonyoung masih ada rentang waktu untuk menyiapkan jawabnnya.

ENDORSE

Soonyoung sudah berbaring di atas kasurnya setengah telanjang. Memposisikan tubuh bagian bawahnya menghadap kamera yang sudah menyala siap menayangkan aksi kotornya lagi di depan ribuan Daddies yang setiap minggu menunggu siaran livenya.

“Hi daddies, what you up to?” Sapa Soonyoung di depan kamera yang hanya menampilkan setengah badannya yang sudah terkespose, tangan kiri mengelus-elus penisnya yang belum menegang sempurna, kulit sekelilingnya masih mengerucut namun lembut. Sambil masih menyapa para Daddies yang masih terus 'berdatangan', Soonyoung melanjutkan permainan solonya.

“Hari ini aku kasih surprise live, special gift buat Daddies karena aku ada mainan baru. Ini dad~” Soonyoung meraih satu benda yang ada di sebelah kirinya, menunjukkan ke depan kamera benda yang bentuknya mirip dengan sesuatu yang sedang Soonyoung kocok sekarang, panjang, agak kenyal dan memiliki dua bola di bagian bawahnya, warnanya pun hampir sama menyerupai warna kulit Soonyoung.

“Mainan akuuu dadh~ beli di Take Me, gede banget kaaaan? Bikin aku nggak sabar nyobain, makanya buru-buru ngelive biar daddies bisa liat aku di ewe sama inihh” Kemudian Soonyoung duduk, memajukan sedikit wajahnya ke kamera namun hanya sebatas hidung yang terlihat. Menjilat ujung mainan barunya, membuat penis imitasi itu basah oleh air ludahnya.

“Hmmm” .

.

.


“Saya balik duluan” ujar Wonwoo setelah menandatangani map terakhir yang dibawa oleh Yeji admin legal Seungcheol.

“Iya pak, apa Bapak mau di pesankan taxi aja?”

“Gak usah saya masih bisa nyetir, cuma kelelahan”

“Siap, hati-hati di jalan pak”

Setelahnya Wonwoo memasang kembali jas navy miliknya dan keluar dari ruangan besar itu.

Hari ini matahari masih terlihat karena jam juga baru menunjukan pukul 16.44, tidak biasanya Wonwoo melangkahkan kaki ke area parkir untuk pulang di jam seperti ini. Namun, rasanya kepala dan tubuhnya sudah tidak bisa berkompromi lagi. Ia butuh istirahat dan releks, rehat sejenak dari penat pekerjaannya.

Wonwoo menyetir dengan pelan menikmati sorenya. Ia tidak sakit hanya saja limit tubuhnya sudah dipakai dengan maksimal 2 minggu ini. Tidak ada salahnya untuk pulang ontime, mandi dengan air hangat dan bersantai di apartementnya.

.

.

.


Di tengah livenya, Soonyoung lagi-lagi meludahi tangannya sendiri untuk dibalurkan pada penisnya yang sekarang sudah memerah tegang. Ujung penis Soonyoung sudah mengkilat tumpul dan lubangnya mulai berkedut-kedut tandanya ia butuh sesuatu yang lebih. Memang ini tunjuan live Soonyoung, menunjukan bokong putihnya dengan lubang merah muda berkedut yang di sumpal dildo baru hasil edorsement olshop 'dakjal' yang sempat membuat Soonyoung malu di depan Wonwoo kemarin.

Ingatan itu buru-buru Soonyoung tepis, dildo yang sudah basah akibat emutan air liur Soonyoung kemudian ia arahkan ke jalan masuk lubang berkerutnya, memutar-mutar ujung dildo itu tanpa memasukkannya.

“Eungggh geli~'' “Dadh belum di masukin aja udah enak, kalau ada yang mau samaan bareng aku boleh langsung klik link yang ada di description yaa biar nanti kita bisa crott bareng a-ahhhh” Soonyoung memasukan unjung dildo kenyal itu ke lubangnya. Hanya ujungnya saja sudah membuat Soonyoung menggelinjang, bagaimana tidak dildo itu memiliki fungsi getar dimana ada settingan remote control yang membuat ujung penis imitasi itu bisa bergetar di dalam lubang anal, memberikan sensasi lebih dan membangkitkan selera bercinta lebih tinggi.

“Eunggg shh pas banget gedenya, pantat aku jadi penuh banget dadh, bisa bikin puas kalo daddies lagi kesepian”

Soonyoung terus mendorong dildo itu lebih dalam, mengeluarkannya lagi kemudian mendorongnya lagi begitu terus berulang ulang, hawa terasa semakin panas. Soonyoung tak tahan, melepas tangannya dan membiarkan dildo tersebut masih menancap di pantatnya. Ia kemudian membuka kaos putih yang masih ia kenakan dan kini membiarkan tubuhnya telanjang bulat di depan kamera. Membuat para daddies kembali riuh di section komen dan sudah pasti pundi-pundi uang Soonyoung akan semakin bertambah.

“aaaaaahhh” Soonyoung kembali menarik dildonya. Berulang kali dengan desahan yang sekarang tidak bisa ia tahan. Getaran yang dihasilkan ujung dildo itu membuat Soonyoung berada di langit ketujuh, rasanya sudah lama ia tidak merasakan mastrubasi senikmat ini. Walaupun olshop yang menjual ini abal-abal dalam segi pengemasan namun alat yang mereka jual punya kualitas yang tidak main-main.

Buktinya Soonyoung sekarang terus menggeliat di atas kasurnya, mendesah kacau akibat lubangnya yang di obrak-abrik oleh dildo endorsement.

“AAAAAHHH SSSHHH A-AAH YAASSS”

.

.

.

Wonwoo membuka pintu apartmentnya, sepi seperti biasa tidak ada siapa-siapa di ruang tamu. Setiap sudut ruanganpun licin dan bersih, semenjak memiliki housemate, apartemen Wonwoo terurus dengan baik. Syukurlah.

Melepas sepatu, Wonwoo sekarang berjalan menuju kamarnya. Namun, samar-samar terdengar suara seseorang. Oh, mungkin Soonyoung ada di kamar, pikir Wonwoo dalam hati. Tapi.....kenapa suaranya seperti orang yang sedang kesakitan?

Wonwoo berhenti di depan kamarnya, mendengarkan dengan seksama apa benar suara yang di dengarnya tadi?

'AAAAAAAAA-ahh'

Benar. Suara Soonyoung. “Apa dia baik-baik saja?” Guman Wonwoo khawatir.

Saat wonwoo membuka gagang pintunya lagi-lagi suara kesakitan Soonyoung terdengar.

Menjauh dari kamarnya dan menuju kamar Soonyoung, Wonwoo mengetuk pintu kamar housematenya itu.

Tok tok tok

“Soonyoung?”

Tidak ada jawab.

Tok tok tok

“Soony-”

“Heunggggh”

“Astaga dia kenapa?!” Karena khawatir Wonwoo buru-buru berlari ke kamarnya mengambil kunci cadangan kamar Soonyoung yang memang ia simpan untuk berjaga-jaga jika sesuatu hal buruk terjadi,

ia takut sesuatu terjadi pada Soonyoung.

Di dalam sana Soonyoung terus memompa dildo barunya lebih dalam, level getaran pun ia naikan maksimal. Alunan lagu Singularity dari Taehyung membuat suasana semakin terbakar, ia butuh pelepasan. Tangan kirinya sibuk mengocok penisnya, sedangkan tangan kanan terus mendorong dildo masuk dengan pinggul yang aktif menumbuk ke bawah.

Sedikit lagi....

“Shhhhh hmm”

. . Soonyoung akan keluar.... “Hnggg”

Namun...

“SOONYOUNG!”

Wonwoo menerobos masuk kamarnya.

Terkejut.

.

.

Soonyoung masih menggerakkan pinggulnya walaupun sama terkejutnya. Dua tumbukan pinggul ke bawah Soonyoung keluar dihadapan Wonwoo.

Matanya sayu, tubuhnya telanjang tanpa satu helai kain, menatap Wonwoo yang berdiri kaku di hadapannya masih lengkap dengan pakaian kerja, membuat Soonyoung yang 15 detik lalu tiba-tiba mencapai puncaknya.

“p-pak” ujar Soonyoung masih terkulai lemah di kasurnya dengan poni yang sedikit basah karena keringat yang keluar di dahinya.

“Maaf” Wonwoo langsung keluar dari kamar Soonyoung.

Di dapur, Wonwoo mengambil segelas air sambil memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut.

Tidak hanya kening yang berdenyut tapi sesuatu di balik celana kain Wonwoo pun ikut berdenyut. Bereaksi atas apa yang baru saja dilihat.

'sudah gila' ujar Wonwoo dalam hatinya.

.

.

.

Soonyoung yang sudah kembali setelah pelepasannya kemudian mematikan siaran langsungnya. Mengambil bathrobenya di kamar mandi, melilitkan asal di tubuh polosnya dan menyusul Wonwoo keluar.

“Pak” panggil Soonyoung.

Ya tuhan. Wonwoo bisa betul-betul gila jika seperti ini. Sang pemilik apartement belum berbalik atas panggilan barusan. Ia harus menenangkan dirinya dulu.

“Pak” panggil Soonyoung lagi, namun suaranya kini terasa lebih dekat bagi Wonwoo.

“Maaf bapak liat yang barusan” ucap Soonyoung lagi, namun kini tangannya berani menyentuh pinggang atas Wonwoo dari belakang. Bagian pinggang yang berbatasan dengan ikat pinggangnya.

Merasakan sentuhan itu Wonwoo memejamkan matanya.

'This is bad'

“Pak” panggilnya lagi.

Lebih berani, Soonyoung merambatkan tangannya naik ke pundak belakang Wonwoo. Merematnya pelan.

“No, Soonyoung. Jangan” Wonwoo berbalik namun wajah Soonyoung benar-benar dekat, matanya yang masih sayu kembali mengingatkan Wonwoo dengan kejadian barusan, di tambah Soonyoung hanya menggunakan bathrobe sehingga kulit lehernya terlihat jelas, putih bersih membuat Wonwoo ingin membenamkan wajahnya disana dan menghisapnya dalam.

“Saya mau bantuin bapak, toh bapak sudah lihat semua” ucap Soonyoung lagi.

“Maksud kamu?” Wonwoo paham maksud Soonyoung tapi ia hanya berpura-pura tidak mengerti.

“Apa ini tidak menyiksa, pak?” Tiba-tiba Soonyoung mengelus gundukan di balik celana kerja Wonwoo.

Menggenggam tangannya kuat, wonwoo mati-matian menahan desahan yang hampir lolos akibat perbuatan Soonyoung barusan.

Soonyoung masih saja mengelus tipis gundukan itu.

“Saya tau bapak pasti punya banyak pertanyaan buat saya tapi simpan dulu ya pak, saya lebih tau bapak pasti kecapean” setelahnya Soonyoung merosot turun dilantai, berlutut di depan Wonwoo masih mengelus sesuatu di balik celana itu.

“Stop Soonyoung”

Namun, hanya di balas gelengan pelan oleh Soonyoung.

Ia masih terus meraba Wonwoo, berani. Soonyoung membuka pelan restleting celana kain navy itu dan memasukan telunjuknya ke dalam, menyentuh daging yang nampak membesar itu dari balik celana dalam wonwoo.

Tak tahan Wonwoo menarik Soonyoung berdiri kembali dengan kuat.

“Jangan menyesal” ujar Wonwoo tegas menatap tajam mata Soonyoung. Setelahnya oksigen Soonyoung di raup Wonwoo, bibir mereka bertemu, suara kecupan kedua bibir itu memenuhi dapur. Wonwoo menarik posesif pinggang Soonyoung, menciumnya dalam, lidah mereka bertaut mencari satu sama salin, memlilit setiap pertemuan di dalam mulut Soonyoung.

Desahan halus lolos dari mulut Soonyoung kala Wonwoo meremas pantatnya yang masih tertutupi oleh bathrobe tipis.

Di angkatnya kaki soonyoung, menggendong housematenya itu menuju sofa ruang tengah.

“Aww” Soonyoung terlonjak ketika paha dalamnya yang tersingkap mengenai kepala ikat pinggang Wonwoo yang tebuat dari besi saat di gendong oleh Wonwoo. Kulit pahanya yang hangat tersentuh besi dingin, membuat Soonyoung menggeliat di gendongan Wonwoo. Tangannya melingkar di leher sang pemilik apartement seperti hidupnya bergantung pada itu, namun Wonwoo tidak lengah. Ia memegang kuat pantat Soonyoung selama menggendongnya ke sofa.

Wonwoo mendudukan tubuhnya di atas sofa dengan kasar membuat soonyoung yang bergendong seperti koala tersentak. Lagi-lagi mengenai besi dingin itu dan belahan pantatnya yang bergesekan dengan gundukan wonwoo membuatnya lagi- lagi menggeliat.

Mereka masih terus bercumbu, bahkan lebih dalam. Wonwoo melepaskan semua yang sudah ia tahan 2 minggu ini selama satu atap dengan Soonyoung. Kali ini ia tidak bisa menahannya.

Soonyoung terus menggesekkan penisnya di atas pangkuan Wonwoo, kini bathrobenya sudah melorot di pundak. Melihat itu Wonwoo semakin menariknya turun, mencium pelan pundak Soonyoung. Wangi. Wangi bedak bayi. Menenangkan.

Wonwoo terus menciumi pundak hingga ceruk leher soonyoung , membuat yang lebih kecil mendongakkan kepalanya, membuat akses luas bagi Wonwoo.

Pinggul Soonyoung tidak ada henti-hentinya bergerak, ia terus memaju mundurkannya membuat Wonwoo semakin sesak.

Dibukanya ikat pinggang itu namun di tepis Soonyoung.

“Saya aja pak” ucap soonyoung.

Soonyoung membuka satu persatu ikat pinggang Wonwoo, melepaskan kancing celananya, mengelus pelan karet celana dalam abu-abu milik wonwoo.

“Ahh” Satu desahan pertama akhirnya lolos dari mulut wonwoo ketika elusan tadi turun ke gundukan besar yang sudah dinodai cairan precum Wonwoo.

“Buka ya pak” izin soonyoung mentapa mata wonwoo.

“Iya” balas wonwoo.

Di bukanya celana dalam wonwoo, tangan soonyoung masuk ke dalam menyentuh penis wonwoo yang sudah menegang sempurna, dikeluarkannya dalam genggaman tangan soonyoung.

'Benar-benar besar' dalam hati soonyoung membuat tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.

Dikocoknya ujung penis wonwoo oleh soonyoung, membuat sang pemilik bersandar di sofa, menyandarkan kepalanya. Nikmat.

“Arrgh” erang wonwoo dengan suara beratnya.

Soonyoung sudah kembali tegang, penisnya memerah lagi. Melihat itu wonwoo menarik soonyoung ke bersandar di dadanya membuat penis mereka kembali bergesekan tanpa terhalang sehelai benang pun.

“Ahh ahh” desah soonyoung.

Wonwoo melepas total bathrobe soonyoung membuat housematenya itu telanjang bulat. (lagi)

Wonwoo masih mengenakan kemeja putihnya, sedangkan celananya masih terpasang hanya saja sudah melorot sebatas pahanya. Jas wonwoo yang di kenakannya tadi di tinggalkan di meja dapur, Jadi, kini hanya soonyoung yang benar-benar telanjang di pangkuannya.

Tak tahan karena tenggorokannya yang kering, Soonyoung turun dari pangkuan wonwoo tanpa tatapan mata yang terlepas satu sama lain.

Soonyoun duduk berlutut di antara kaki wonwoo, meraih penis tegangnya dan menciumnya dalam dengan hidungnya.

Anggukan wonwoo memberikan tanda bahwa soonyoung boleh melanjutkan aksinya. Dengan mulut yang terbuka, soonyoung memasukan penis besar wonwoo ke dalam mulutnya.

Di kulum.

Sangat dalam.

Hangat mulut soonyoung membuat kepala wonwoo berputar-putar. Nikmat hingga rasanya wonwoo tidak bisa lagi menahan setiap erangannya ketiga lidah soonyoung menyapu pangkal penisnya.

Tidak muat, soonyoung mengocok bagian penis wonwoo yang tidak bisa masuk ke dalam mulutnya. Tenggorokan soonyoung penuh, penis wonwoo sangat tebal dan panjang. Saking panjangnya bahkan tonjolan ujung penis wonwoo yang masuk ke leher soonyoung bisa terlihat dari luar saat soonyoung memberikan deepthroat-nya.

“Aaarghhh” wonwoo menahan kepala soonyoung untuk memendam penisnya di leher soonyoung. Tak tahan soonyoung menepuk paha wonwoo, isyarat bahwa dirinya tak kuat lagi.

Wonwoo kembali menarik soonyoung duduk di pangkuannya. Diambilnya penis soonyoung dan penisnya dalam satu genggaman, kemudian ia kocok bersamaan.

Terkejut, soonyoung langsung mendesah kuat lagi. Kepalanya terlempar kebelakang menikmati kocokan Wonwoo.

“A-aah pak aduh shh”

Lubang anal soonyoung tak henti berkedut bahkan melebihi saat menggunakan dildo tadi.

“Enak hm?” Tanya wonwoo masih mengocok penis mereka. Ini kalimat pertama yang di keluarkan wonwoo sejak setengah jam lalu.

“Iyaah terusin pakh”

Selagi tangan kanan wonwoo mengocok penis mereka. Tangan kirinya sibuk mencari lubang soonyoung di belakang pantat.

Telunjuk tebal itu ia arahkan di depan kerutan anal soonyoung, membuat gerakan melingkar membuat soonyoung semakin gila.

“Shhhhh pak gak tahan”

“Kamu basah banget soonyoung”

Wonwoo memasukan satu jarinya ke dalam anal soonyoung menusuknya masuk.

“Akhh pak” “Lagi”

Memasukan dua jarinya soonyoung kembali mendesah, tak kuat mendapatkan dua kenikmatan sekaligus dari penis dan pantatnya, soonyoung menjatuhkan kepalanya di pundak wonwoo. Mendesah tepat disisi telinga wonwoo membuatnya semakin gencar menusukkan jarinya lebih dalam.

“Pak gak kuat lagi” rengek soonyoung.

Dengan itu ia menyetop semua kegiatannya. Membuat soonyoung bangkit dari pangkuannya.

“Masukin sendiri” kata wonwoo dengan nada memerintah.

Karena akal sehat soonyoung sudah hilang entah kemana, ia pun menurut. Berdiri dengan kaki yang mengangkang kembali ke atas wonwoo mengarahkan penis besar itu menuju lubang analnya.

Ujung penis yang tumpul dan tebal itu ia gesekan memutuar di kedutan lubang analnya seperti dildo tadi.

“Hngggh”

Sleb

Penis wonwoo menerobos masuk anal soonyoung. Membuatnya lebih dalam soonyoung kemudian duduk dipangkuan wonwoo. Membuat penis itu tertanam penuh di dalam pantat soonyoung.

“Shh OHH”

“gerak!” perintah wonwoo.

Menurut, soonyoung mulai menggenjot pinggangnya di atas wonwoo. Tangan wonwoo memegang pinggul soonyoung membantunya bergerak lebih cepat.

“Ahh soonyoung”

“Pak.....hnggh”

Keduanya saling berhentakan, suara kulit berkecipak saling bertemu di bawah sana.

Keringat keduanya sudah saling bercucuran.

Tebal, penis wonwoo memenuhi lubang soonyoung hingga rasanya benar-benar sesak.

Bagi wonwoo anal soonyoung menyedotnya dalam membuag adrenalinya terus bertambah.

Tidak ada hentinya kedua housemate itu menghentakan tubuh mereka, sementara di luar sana hari sudah semakin gelap.

“Pak ughh terusin pak ahhh yang dalem lagi” ujar soonyoung yang kini tangannya bertumpu di pundak wonwoo, takut-takut kalau dirinya terjatuh saat keasikan menggenjot penis wonwoo dari atas.

Wonwoo tidak diam, tangannya meremas pantat soonyoung di kiri dan kanan dan menciumi bibir bengkak itu.

Otot perut wonwoo mengencang seirama dengan setiap hujaman penisnya di lubang soonyoung. Sesekali soonyoung menyentuh perut berotot itu membuat fantasinya semakin liar dan nafsunya semakin menjadi-jadi.

“Ohhh dad hnggg” “Daddy~hngh”

Entah tanpa sadar soonyoung memanggil wonwoo dengan sebutan daddy, membuat pemilik lelaki berbadan bidang itu semakin tegang dan terangsang.

“Daddy enaaakkk ahh ahh ahh” soonyoung terlonjak-lonjak di atas pangkuan wonwoo.

“Tahan sebentar” ucap wonwoo

“Keluarin bareng dad~~”

Kedutan di pantat soonyoung semakin kencang membuat penis wonwoo semakin diremas, soonyoung pun merasakan penis wonwoo yang membesar di dalam pantatnya menandakan sebentar lagi pemilik apartement itu akan mencapai puncaknya.

Penis soonyoung yang sudah benar-benar memerah terus bergesekan dengan perut wonwoo.

“OH GOD!!!! DAD!!! KELUARR”

“aargggghhh” hentakan keempat wonwoo di dalam anal soonyoung menghantarkan klimaksnya dan cairan sperma wonwoo membanjiri anal soonyoung, banyak dan kental, meluber hingga keluar meleleh di paha soonyoung.

Soonyoung pun keluar dia atas perut berotot wonwoo.

. .

.

.

.

.

Lelah.

Soonyoung bersandar di dada wonwoo. Dengan penis yang masih tertanam di lubangnya.

RUMAH SAKIT

Keluarga kecil Wonwoo sampai di Rumah Sakit pukul 9.30 pagi dan langsung menuju Poli kandungan tempat biasa Soonyoung kunjungi, lorong dan ruangan-ruangan yang dilewati sudah sangat familiar bagi keduanya karena hampir setiap minggu kedua pasangan itu datang. Namun, tidak bagi Sunoo walaupun sudah pernah kesini namun si sulung belum hapal benar lingkungan rumah sakit ini, sehingga saat melewati kantin yang berbatasan dengan kaca besar di ujung lorong matanya langsung bersinar terang.

“Ayah, beli susu yuk”

“Baru juga nyampe kak” ujar Wonwoo melirik sang anak.

“Yaudah aku beli sendiri”

“Beliin air mineral sekalian buat papa” Wonwoo mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah dari dompet kulit mahalnya untuk Sunoo.

“Ayah gak mau? cola? coffe?”

“Cola deh”

“Hmmm katanya biri jigi nyimpiiiii” Tidak, Sunoo tidak mengatakan itu di depan ayahnya, mana berani. Cih.

Si sulung langsung berbalik menuju kantin membeli beberapa minuman untuknya dan kedua orang tuanya, juga snack ringan untuk dimakan selama mengantri nanti.

15 menit mengantri nama Soonyoung dipanggil, ketiganya masuk ke ruangan dokter Kim yang di sambung senyuman hangat dokter itu.

“Wah formasi lengkap ya” ujar dr. Kim menyambut keluarga Soonyoung .

“Iya nih dok si kakak mau tengok adeknya lagi” balas Soonyoung sambil mengusap pucuk kepala sang anak.

Saat Soonyoung hendak duduk Sunoo dengan sigap menarik kursi di depan meja dr. Kim agar papanya bisa dengan mudah duduk disana. Melihat itu hati Wonwoo menghangat, bangga melihat sikap manis anak laki-lakinya itu.

Ada dua kursi yang tersedia di sana, biasanya Wonwoo akan duduk berdampingan dengan Soonyoung namun kali ini ia menahan pundak anaknya, membuat Sunoo duduk di samping Soonyoung dan Wonwoo sendiri berdiri di belakang Sunoo memegang pundak sang anak.

“Gapapa atuh yah, aku kan ga ngerti..ayah aja yg duduk”

“Udah, kakak perhatiin aja kata dr. Kim biar nanti juga tau keadaan adek”

Soonyoug tersenyum melihat interaksi kedua jagoannya itu. Hari yang indah.

Hari ini Soonyoung mengkonsultasikan tentang kondisi yang dirasakannya beberapa hari terakhir ini seperti Soonyoung yang lebih sering sakit pinggang, kontraksi yang bisa terjadi hingga sepuluh kali dalam sehari hingga perut bagian bawahnya yang semakin sakit.

“Hal itu tidak perlu dikhawatirkan ya, Pak. Karena memang usia kandungan 35 sampai dengan 36 minggu kondisi seperti itu akan terus terjadi karena bayi di dalam kandungan Pak Soonyoung sudah semakin membesar, tulang-tulangnya pun cepat berkembang pada usia kehamilan seperti sekarang. Bayi pun sudah mulai bergerak menuju posisi bawah karena waktu kelahirnya yang sudah mulai dekat. Apa sekarang lebih sering buang air kecil?”

“Iya dok sering banget kadang sampe pegel bolak-balik, takut kepeleset”

“Tidak apa-apa itu wajar saja Pak Soonyoung, kepala bayi menekan panggul karena pergerakannya sehingga meningkatkan rasa ingin buang air kecil terus menerus. Gimana kalau kita mulai USG saja biar kelihatan petualangan si adek?” dengan sabar dr. Kim menjelaskan sambil sesekali bercanda.

Dibantu Wonwoo, Soonyoung berjalan pelan menuju kasur yang sama saat ia dulu memeriksakan kandungannya pertama kali. Sunoo mengikuti di belakang memperhatikan seluruh proses persiapan USG papanya. Bukan kali pertama bagi Sunoo tapi rasanya masih saja takjub, adik kecilnya bisa dilihat dari layar hitam putih itu.

“Nah itu kepalanya sudah di bawah kan, aman Pak Soonyoung jadi bulan depan siap-siap saja ya. Jangan lakukan aktifitas yang berat dulu” ujar dr. Kim.

“Wih adek koprol ya? Salto gitu kepalanya di bawah?” Sunoo tidak sengaja keceplosan saking fokusnya memperhatikan layar monitor USG.

“Hahahaha iya kak Sunoo tapi adeknya cewek jangan di ajakin salto juga kalau sudah lahir ya” Ujar dr. Kim yang terhibur akan kehadiran anak dari pasangan Wonwoo dan Soonyoung.

“Hehe iya dok” jawab Sunoo.

Wonwoo hanya menggeleng di samping Soonyoung.

.

.

.

.

.

Setelah selesai dari sesi kosultasi dengan dr. Kim, ketiganya berpamitan pulang dan langsung menuju pusat perbelanjaan tak jauh dari RS untuk membeli beberapa perlengkapan si cabang bayi yang masih kurang, diiringan suara nyanyian Sunoo di kursi belakang mengalahkan suara penyiar radio Prambors yang sedang melakukan interview dengan Raisa.

PIZZA

Wonwoo sudah berada di atas kasurnya setelah videocall dadakan oleh si anak sulung barusan, riuh kamar hotel oleh rengekan Sunoo dari seberang telepon merupakan hiburan melegakan untuk Wonwoo, hatinya tenang kalau sudah begitu. Baginya Sunoo yang merengek adalah Sunoo yang normal seperti biasa, ia justru khawatir jika anak laki-lakinya itu tidak ada protes, merengek, mengomel apalagi sampai tidak ada kabar dalam sehari.

Dipojok kamar ada Soonyoung yang sedang duduk bersila dengan perut besarnya di atas sofa, sibuk memilih-milih menu makanan di aplikasi ojek online yang ada di hp Wonwoo. Sesekali bibirnya dikerucutkan, ciri khas papa muda ini jika sedang berfikir.

“Big box enak kali ya? Bisa icip-icip yang lain” katanya bergumam kecil. Sekarang sudah pukul 22.25 namun napsu makan Soonyoung tidak bisa dibendung barang sebentar, padahal tadi dirinya sudah menghabiskan 1 paket panas spesial di McD, 2 cup besar Karagekun dan satu Green Tea Cream Frappuccino ukuran ventie tapi tetap saja, bawaan si jabang bayi membuatnya terus-terusan merasa lapar.

Setelah 20 menit menunggu akhirnya yang dipesan datang juga, 1 box besar sudah di tangan Soonyoung dengan senyum mengembang. Papa anak satu itu membuka kotaknya sambil bersenandung kecil, gigitan pertama mendarat lembut dilidahnya, balutan keju dan taburan daging di atas roti gempeng khas negara Italia itu benar-benar membuat moodnya naik. Soonyoung makan sendiri dengan khidmat di ruang sunyi itu. Sang suami sudah terlihat tertidur di atas kasurnya menggulung badan atletisnya dengan selimut tebal hotel berbintang, tidak masalah bagi Soonyoung ditinggal tidur, karena 18 tahun membina rumah tangga dengan Wonwoo hal kecil semacam itu tidak penting lagi untuk diperdebatkan. Lebih baik ia menghabiskan pizzanya sebelum Wonwoo terbangun dan ikut-ikutan makanannya.

Tidak mau, Soonyoung mau egois dulu.

Tapi, nasib berkata lain 10 menit mengunyah tanpa gangguan tiba-tiba Wonwoo bangun dan langsung menghampiri Soonyoung, mengecup ringan leher sang suami yang tengah asik menikmati pizzanya.

“Kok bangun sih yah?”

“Gimana enggak, harumnya kemana-mana” jawab Wonwoo sambil mengambil 1 potong pizza di pangkuan Soonyoung. Tuh kan!

Di atas sofa Soonyoung duduk bersila, menyamping membelakangi Wonwoo. Sedangkan Wonwoo sendiri duduk bersandar di sofa dengan tangan yang melingkar di pinggang Soonyoung, mengelus-elus perut buncitnya.

Sudah hampir setengah isi kotak besar itu habis namun Soonyoung belum ada tanda-tanda berhenti untuk mengunyah.

“Mau sosis yang” ujar Wonwoo di belakangnya.

“Nih..” Soonyoung menyotorkan satu potong sosis.

“dari mulut kamu”

“hah?!” Soonyoung kaget. Ngelindur kali suaminya ini.

“Suapin dari mulut kamu”

Astaga......

“Ribet ah yah nih makan sendiri Aaaaaa.... ” Soonyoung kembali menyuapkan sosis tadi dengan tangannya.

Wonwoo hanya diam menatap Soonyoung tanpa membuka mulutnya. Oke, Soonyoung tau tatapan itu.

Waspada.

Mendenguskan napasnya, Soonyoung menggigit sosis tadi dan duduk memutar ke hadapan Wonwoo.

“Hngg..” Gumam Soonyoung memajukan mulutnya agar Wonwoo bisa cepat mengambil sosis itu.

Bukannya langsung melahap sosis yang Soonyoung berikan, Wonwoo malah kembali mengecup leher Soonyoung. Kali ini sedikit lebih lama dan ada hisapan dari bibir Wonwoo.

“Eungh...” tiba-tiba suara nakal itu keluar dari mulut Soonyoung yang masih menggigit sosis tadi.

Mendengarnya Wonwoo tersenyum di ceruk leher Soonyoung, bahkan senyuman itu bisa dirasakan oleh si pemilik leher karena bibir sang suami masih menempel di sana. Menyudahinya, Wonwoo memberikan jilatan kecil dibekas hisapannya tadi membuat jantung Soonyoung seperti terbang ke langit ke tujuh.

Wonwoo langsung menyambut sosis yang dari tadi masih di mulut Soonyoung, pertemuan kedua bibir pasangan itu tidak bisa dihindarkan, tidak melewatkan kesempatan Wonwoo juga masih sempat menarik bibir bawah Soonyoung dengan giginya, sedikit mengemut bibir kenyal itu saat mengambil sosisnya. Tidak langsung menjauh Wonwoo malah mengunyah sosis itu dihadapan wajah Soonyoung yang hanya terpisah jarak 2 cm saja, sangat dekat hingga Soonyoung masih bisa mendengar deru napas suaminya yang saat ini menatap tajam wajahnya dengan mulut yang masih mengunyah.

.

.

.

Sexy.

.

.

. Menurut Soonyoung.

Malam itu mereka habiskan waktu bersama di kamar hotel di atas kasur super besar dengan Soonyoung yang menyangga tubuhnya di atas pangkuan Wonwoo, tangan yang bertumpu di dada bidang sang suami, menuntaskan tanggung jawabnya dengan peluh keringat yang menjadi satu, hentakan tajam Wonwoo di dalam Soonyoung., helaan nafas yang saling memburu dan nikmat penyatuan dua raga di bawah lampu temaram.

  • Pulang -

Saat Soonyoung pulang Wonwoo sudah tidak ada di apartment, rasanya lega tapi juga was-was. Bagaimana pandangan Wonwoo terhadap Soonyoung sekarang pasti sudah berubah, sebenarnya niat Soonyoung pulang lebih awal agar dia bisa menjelaskan tentang paket laknat yang tadi sore Wonwoo terima namun toh sebenarnya untuk apalagi Soonyoung jelaskan? Wonwoo itu pria dewasa sudah pasti ia akan langsung tahu apa isi paket milik Soonyoung itu.

Merutuki dirinya, Soonyoung membenturkan kecil jidatnya di dinding ruang makan, dia bersumpah tidak akan menerima endorse dari olshop-olshop yang tidak jelas lagi.


Pukul 7.30 pagi Wonwoo sudah siap berangkat ke kantor seperti biasa aktifitas rutinnya di pagi hari adalah membuat sarapan, Wonwoo itu ada masalah dengan lambungnya jadi sarapan pagi adalah agenda wajib sebelum memulai hari.

Pagi ini Wonwoo sarapan sendiri karena sejak tadi malam saat Wonwoo kembali selesai jogging Soonyoung tidak terlihat sama sekali keluar kamar,

KELUARGA


Pukul 19.30 Sunoo putra pertama Soonyoung dan Wonwoo sudah berada di rumah, menempatkan kepala dengan rambut hitam lebatnya di paha Soonyoung sambil bermain nintendo hadiah ulang tahun ke limabelasnya dari Wonwoo tahun lalu.

Soonyoung sendiri duduk dengan santai di sofa keluarga sambil menemani anak sulungnya itu, memberikan afeksi-afeksi lembut untuk si Kakak. Soonyoung sadar betul anak laki-lakinya ini belakangan semakin manja apalagi selama masa kehamilannya. Disadari atau tidak oleh Sunoo sebenarnya benar muncul rasa cemburu dihati karena perhatian kedua orang tuanya yang selalu penuh untuk dirinya kini terbagi.

Soonyoung tidak ingin anaknya merasa bahwa kasih sayang kedua orangnya terbagi, bagi Soonyoung semua sama. Kakak ataupun adek akan mendapatkan kasih sayang yang sama-sama berlimpah dari Soonyoung dan Wonwoo. Hal itu selalu menjadi janji Soonyoung dalam setiap obrolan malamnya bersama Wonwoo sebelum tidur. Raga dan hatinya hanya untuk ketiga orang ini, akan hancur perasaan Soonyoung jikalau salah satu dari mereka tersakiti, Soonyoung bahkan rela menukar hidupnya agar Ayah, Kakak dan Adek bisa hidup bahagia di dunia ini. Akan Soonyoung lakukan bahkan jika Tuhan miminta nyawanya sekalipun.

Suara mesin mobil terdengar dari arah depan rumah mereka, menandakan kedatangan sang Ayah. Akhir-akhir ini Wonwoo memang disibukkan dengan penggabungan cabang tempatnya menjabat, satu cabang kecil dimerger dengan cabang Wonwoo sehingga banyak tugas yang harus dilakukan, terlebih penggabungan dua cabang berarti Wonwoo akan mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar lagi.

Wonwoo masuk rumah dengan wajah kusut khas orang yang baru saja melewati hari panjangnya di kantor hingga malam hari. Namun, rasa lelah menguap diudara setelah melihat kedua belahan jiwanya sedang bercanda di ruang keluarga dengan semangkuk buah mangga di pangkuan Soonyoung. Ah, tunggu dulu...bukan dua orang tapi tiga. Ada si calon anak bungsu di dalam perut Soonyoung yang dalam hitungan minggu lagi akan lahir kedua ini. Hanya satu doa Wonwoo, semoga Soonyoung dan adek akan selalu kuat melawatinya, mereka diberikan kesehatan dan keselamatan mendekati hari krusialnya nanti.

Wonwoo yang masih memegang jas yang sudah terlepas dari badannya dan di sampirkan di lengan kirinya berjalan mendekati Soonyoung yang memberikan senyum paling indah di dunia. Soonyoung tidak berdiri menyambut kedatangan Wonwoo karena si anak sulung yang tidak membiarkannya berpindah posisi se-inci-pun dan Wonwoo paham akan hal itu.

Satu kecupan lembut mendarat di bibir Soonyoung dan elusan tangan besar sang suami di perut buncitnya membuat hatinya menghangat.

“Capek yah?” tanya Soonyoung saat Wonwoo melepas ciuman singkat mereka.

“Lumayan bikin kepala mendidih” ujar Wonwoo sambil mengangkat kepala anaknya yang dari tadi sibuk bermain game hingga terduduk dengan wajah masamnya. “Gantian kak, ayah capek” Wonwoo dengan semena-mena menggeser tempat duduk anaknya di samping Soonyoung dan meletakkan kepalanya di paha Soonyoung, posisi yang sama seperti Sunoo barusan.

“AYAAAAHH IHHH PENJAJAHAN!!” Sunoo yang tergusur dari sisi papanya kini bersungut kesal di atas lantai.

“Kamu udah seharian sama papa kak”

“aku baru pulangggg lohhh yaaahhh dari jalaaaan”

“Ya siapa suruh jalan-jalan”

Sunoo sudah siap menerjang ayahnya yang berbaring di sopa di dalam pangkuan Soonyoung, namun dengan cepat Soonyoung menarik tangan anaknya itu.

“Kak...kak...sini kak” Soonyoung menepuk-nepuk paha sebelah kirinya yang tidak di kuasai Wonwoo untuk mengajak si sulung mendekat, memberikan posisi yang sama di kiri dan kanannya.

Saat ini posisi Soonyoung sudah di kuasi oleh kedua jagoannya, tangan kiri yang mengelus lembut dada sang anak tertua dan tangan kanan yang menyisir rambut sang suami. Sentuhan Soonyoung adalah napas bagi Sunoo dan Wonwoo, tanpa Soonyoung entah apakah bisa mereka sebahagia ini, pun untuk Soonyoung.. bahagia Wonwoo dan Sunoo adalah bahagianya dan kebahagian itu akan semakin lengkap dengan satu titipan Tuhan yang masih betah memeluk raganya di dalam perut besar Soonyoung yang sesekali menendang kecil menyampaikan pesannya bahwa ia ada bersama mereka.

Tidak banyak pinta Soonyoung kepada Tuhan, selalu berikan hari-hari bahagia seperti ini di keluarganya adalah lebih dari cukup. Terkadang memang Soonyoung akan dibuat pusing dengan pertengkaran kecil sang anak dan suami, namun hal itu tidak akan berlangsung lama karena setelahnya keduanya akan duduk berhadapan di meja makan menyantap ice cream tiga rasa favorite Sunoo sambil bertukar cerita tentang club sepak bola jagoan mereka atau membahas seri-seri terbaru game FIFA. Keduanya akan tenggelam dengan obrolan khas anak laki-laki dan ayahnya. Pemandangan itu yang selalu ingin Soonyoung lihat di rumahnya, kehangatan yang meyelimuti keluarga kecilnya.

Motor Vario Hitam


“Pegangan kalo ngantuk” ujar wonwoo yang sudah duduk di jok motornya, menunggu soonyoung naik di belakang.

Sudah pukul 22.15 langit pun sudah sangat gelap. Jok motor yang beringsut lebih rendah menandakan soonyoung sudah naik di atas motor vario hitam kebanggaan wonwoo hadiah dari ayahnya saat masuk SMA dulu.

Entah kenapa malam ini terasa lebih tenang dan angin bertiup sejuk menyapu wajah kedua siswa SMA itu di tengah jalan kota Tangerang.

Soonyoung melingkarkan tangannya di pinggang wonwoo, menempelkan dagunya di pucuk bahu yang lebih tinggi menghirup aroma wangi tubuh si pacar tampan. Wangi favorite Soonyoung.

Seulas senyum terukir di bibir tipis Wonwoo, nyaman saat si gemas menumpukan tubuhnya ke badan wonwoo dari belakang. Rasanya seperti wonwoo diberikan kepercayaan oleh soonyoung untuk menjaganya.

Sesekali wonwoo mengusap tangan kiri soonyoung saat jalanan sepi, terasa angin malam membuat jari-jari mungil itu menjadi dingin. Padahal tangan soonyoung sendiri sudah dia selipkan di dalam kantung hoodie navy milik wonwoo yang ada di sisi kiri dan kanan.

Menikmati waktu malam hari bersama yang terkasih seperti ini memang menyenangkan, rasanya wonwoo ingin berlama-lama mengitari kota Tangerang, bahkan hingga Bekasi pun akan dilakukan asalkan bisa terus bersama soonyoung.

“Wonu..” panggil soonyoung sambil mengelus perut datar wonwoo dari balik kantong hoodienya

“Iya?”

“Makasih ya udah sabar nemenin aku”

“Kenapa tiba-tiba?”

“Gapapa, pengen bersyukur aja di masa sekolahku ada kamu yang kasih warna-warni, seru banget”

“Seru doang?”

“Seneng juga, ada yang kasih semangat waktu aku sedih, ada yang temenin belajar, sabar ngajarin mtk, nemenin hapalan geografi sama sejarah, ajari akutansi sampe anter jemput latian. Kamu yang paling sabar aku kasih jempol 8”

“Banyak amat jempolnya”

“Iya minjem jempol kamu empat soalnya kamu sebaik ituuuu hehehehe”

“Hahaha kamu tuh....”

“Apa?” “Apa wonu? Lanjuting dong”

“Kamu tuh....aku sayang banget sama kamu soonyoung”

Mendengar itu rasanya jantung soonyoung banyak kembang api yang meledak-ledak seperti tahun baru, berisik kaya petasan banting yang sering soonyoung lempar di depan rumah Jihoon kalo lagi berantem, tapi hangat kaya susu Hilo yang sering mamanya soonyoung bikinin tiap sore.

Soonyoung mengeratkan pelukannya lagi di pinggang Wonwoo.

“Kita bisa nggak ya nu kaya bang cheol sama kak han?”

“Bisa yang kaya gimana?” Tanya wonwoo masih mengendarai motornya tapi sedikit menoleh ke arah kiri dimana soonyoung masih menopangkan dagunya di bahu wonwoo.

“Lulus bareng-bareng gitu, acara perpisahan bareng sampe sbmptn bareng juga” soonyoung memanyunkan bibirnya ciri khas si gemas kalau sedang berpikir.

“Kenapa enggak? We're even better than them, Soonie. Bang cheol never dances in public just to make his boyfriend happy like I did today”

“Hehehe iya juga makasih ya sayang” Ujar soonyoung sembari memberi kecupan kecil dibahu wonwoo. Walaupun masih terhalang hoodie dan baju kaos di dalamnya tapi aksi soonyoung barusan memberikan efek yang kuat buat wonwoo sampai-sampai sang pengendara motor harus menepikan motornya di pinggir jalan sesaat untuk menetralkan jantungnya yang sepersekian detik lalu seperti terkena sengatan listrik.

“Kasih aba-aba dulu dong yang!” Wonwoo protes

Pelakunya hanya tertawa puas di atas motor, merasa berhasil membuat si pacar gelagapan.

“Lanjutin jalannya wonu~”

Masih 10 menit sebelum mereka sampai di rumah soonyoung, rasanya wonwoo tidak mau cepat-cepat dan sengaja menjalankan motornya dengan sangat pelan.

“Aku temenin kamu sampe lulus, sampe kamu pegang almamater IKJ, sampe kamu minta aku anter ke kompetisi antar fakultas biar bisa liat kamu nari lagi seindah kemarin, aku bakal temenin kamu terus. Aku mungkin kalo gombal kaya jamet, tapi gak ada jamet yang ganteng kaya aku, jadi Soonie jangan khawatir ya sayang”

Tidak ada balasan dari suara soonyoung, hanya anggukan kecil di punggung wonwoo yang ia rasakan. Yang diajak bicara rupanya mengantuk, tubuh yang sudah bekerja keras hari ini, angin malam sejuk dan suara wonwoo ternyata seperti nyanyian tidur untuk Soonyoung.

Dengan mata yang mulai terpejam efek lain dari usapan tangan wonwoo di punggung tangannya, menghantarkan lelap soonyoung di punggung si atlet basket sekolah dengan nomor punggung 07 itu. Atlet basket musuh besar Ketua ekskul Dance SMA 17 Tangerang.

THE END.

Motor Vario Hitam


“Pegangan kalo ngantuk” ujar wonwoo yang sudah duduk di jok motornya, menunggu soonyoung naik di belakang.

Sudah pukul 22.15 langit pun sudah sangat gelap. Jok motor yang beringsut lebih rendah menandakan soonyoung sudah naik di atas motor vario hitam kebanggaan wonwoo hadiah dari ayahnya saat masuk SMA dulu.

Entah kenapa malam ini terasa lebih tenang dan angin bertiup sejuk menyapu wajah kedua siswa SMA itu di tengah jalan kota Tangerang.

Soonyoung melingkarkan tangannya di pinggang wonwoo, menempelkan dagunya di pucuk bahu yang lebih tinggi menghirup aroma wangi tubuh si pacar tampan. Wangi favorite Soonyoung.

Seulas senyum terukir di bibir tipis Wonwoo, nyaman saat si gemas menumpukan tubuhnya ke badan wonwoo dari belakang. Rasanya seperti wonwoo diberikan kepercayaan oleh soonyoung untuk menjaganya.

Sesekali wonwoo mengusap tangan kiri soonyoung saat jalanan sepi, terasa angin malam membuat jari-jari mungil itu menjadi dingin. Padahal tangan soonyoung sendiri sudah dia selipkan di dalam kantung hoodie navy milik wonwoo yang ada di sisi kiri dan kanan.

Menikmati waktu malam hari bersama yang terkasih seperti ini memang menyenangkan, rasanya wonwoo ingin berlama-lama mengitari kota Tangerang, bahkan hingga Bekasi pun akan dilakukan asalkan bisa terus bersama soonyoung.

“Wonu..” panggil soonyoung sambil mengelus perut datar wonwoo dari balik kantong hoodienya

“Iya?”

“Makasih ya udah sabar nemenin aku”

“Kenapa tiba-tiba?”

“Gapapa, pengen bersyukur aja di masa sekolahku ada kamu yang kasih warna-warni, seru banget”

“Seru doang?”

“Seneng juga, ada yang kasih semangat waktu aku sedih, ada yang temenin belajar, sabar ngajarin mtk, nemenin hapalan geografi sama sejarah, ajari akutansi sampe anter jemput latian. Kamu yang paling sabar aku kasih jempol 8”

“Banyak amat jempolnya”

“Iya minjem jempol kamu empat soalnya kamu sebaik ituuuu hehehehe”

“Hahaha kamu tuh....”

“Apa?” “Apa wonu? Lanjuting dong”

“Kamu tuh....aku sayang banget sama kamu soonyoung”

Mendengar itu rasanya jantung soonyoung banyak kembang api yang meledak-ledak seperti tahun baru, berisik kaya petasan banting yang sering soonyoung lempar di depan rumah Jihoon kalo lagi berantem, tapi hangat kaya susu Hilo yang sering mamanya soonyoung bikinin tiap sore.

Soonyoung mengeratkan pelukannya lagi di pinggang Wonwoo.

“Kita bisa nggak ya nu kaya bang cheol sama kak han?”

“Bisa yang kaya gimana?” Tanya wonwoo masih mengendarai motornya tapi sedikit menoleh ke arah kiri dimana soonyoung masih menopangkan dagunya di bahu wonwoo.

“Lulus bareng-bareng gitu, acara perpisahan bareng sampe sbmptn bareng juga” soonyoung memanyunkan bibirnya ciri khas si gemas kalau sedang berpikir.

“Kenapa enggak? We're even better than them, Soonie. Bang cheol never dances in public just to make his boyfriend happy like I did today”

“Hehehe iya juga makasih ya sayang” Ujar soonyoung sembari memberi kecupan kecil dibahu wonwoo. Walaupun masih terhalang hoodie dan baju kaos di dalamnya tapi aksi soonyoung barusan memberikan efek yang kuat buat wonwoo sampai-sampai sang pengendara motor harus menepikan motornya di pinggir jalan sesaat untuk menetralkan jantungnya yang sepersekian detik lalu seperti terkena sengatan listrik.

“Kasih aba-aba dulu dong yang!” Wonwoo protes

Pelakunya hanya tertawa puas di atas motor, merasa berhasil membuat si pacar gelagapan.

“Lanjutin jalannya wonu~”

Masih 10 menit sebelum mereka sampai di rumah soonyoung, rasanya wonwoo tidak mau cepat-cepat dan sengaja menjalankan motornya dengan sangat pelan.

“Aku temenin kamu sampe lulus, sampe kamu pegang almamater IKJ, sampe kamu minta aku anter ke kompetisi antar fakultas biar bisa liat kamu nari lagi seindah kemarin, aku bakal temenin kamu terus. Aku mungkin kalo gombal kaya jamet, tapi gak ada jamet yang ganteng kaya aku, jadi Soonie jangan khawatir ya sayang”

Tidak ada balasan dari suara soonyoung, hanya anggukan kecil di punggung wonwoo yang ia rasakan. Yang diajak bicara rupanya mengantuk, tubuh yang sudah bekerja keras hari ini, angin malam sejuk dan suara wonwoo ternyata seperti nyanyian tidur untuk Soonyoung.

Dengan mata yang mulai terpejam efek lain dari usapan tangan wonwoo di punggung tangannya, menghantarkan lelap soonyoung di punggung si atlet basket sekolah dengan nomor punggung 07 itu. Atlet basket musuh besar Ketua ekskul Dance SMA 17 Tangerang.

THE END.

“Kenapa yang?” tanya Soonyoung iseng pada Wonwoo yang terlihat gugup.

“Gapapa haus aja”

Tapi Soonyoung tahu jelas pacarnya itu sedang gugup sebelum penampilannya dipanggung nanti. Wonwoo memang sudah biasa menghadapi pertandingan besar namun itu pertandingan Basket dilapangan luas bukan penampilan dance group diatas panggung terang dengan lampu warna-warni yang menyorot pada presensinya.

Mengusap lembut lengan sang kekasih, Soonyoung berharap afeksinya bisa menenangkan perasaan Wonwoo. Tidak salah, perlahan rasa gugup Wonwoo sekarang berkurang, emotional support Wonwoo ternyata bukan dari Seokmin yang mau menemaninya dalam rencana Soonyoung ini, tapi si pencetus ide inilah yang malah secara tidak diduga-duga menjadi supporter paling hebat buat Wonwoo.

Mereka berlima sudah bersiap di samping panggung dikelilingi oleh beberapa panitia OSIS yang lain, bahkan Mingyu dan Minghao juga ada disana, jangan lupakan Jun dan Jihoon yang sedari tadi menertawakan Wonwoo karena masih tidak percaya teman super cool mereka sebentar lagi akan naik ke atas panggung untuk bernyanyi dan menari, terlebih Jihoon yang sudah mengenal Wonwoo sejak SMP. Kejadian hari ini adalah sebuah moment langka dan bersejarah.


Seungcheol dan Jeonghan duduk rapih di kursi penonton bersama siswa kelas 3 lainnya dan para guru, penampilan yang mereka tunggu akhirnya tiba. Tidak bisa menahan senyum lebarnya Seungcheol menatap panggung melihat 2 rekan satu timnya sedang menampilkan sebuah lagu dengan format boyband. Benar-benar diluar ekspektasi, Wonwoo si wajah datar bisa menari seluwes itu. Kedua pasangan itu terkagum-kagum melihat penampilan adik tingkat sekaligus sahabat mereka.

“Sayaaaaaaaaaang wonuuuuuuu” setelah penampilan mereka selesai Soonyoung langsung menghambur ke pelukan Wonwoo tidak peduli mendapat lirikan dari siswa lain di samping panggung. Seungkwan dan yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.

Tidak malu, Wonwoo dengan senang membalas pelukan Soonyoung bahkan mengangkat sedikit tubuh pacar gembulnya itu. “Makasih ya Wonu” ujar Soonyoung masih memeluk Wonwoo menggoyang-goyangkan tubuh mereka berdua ke kiri dan kanan.

“Iya sama-sama sayang” Wonwoo tersenyum mencium tipis pipi gembul pacarnya.

“HOY HOYYY HOYYY INGAT TEMPAT” itu Seokmin yang hampir tersedak air mineral saat melihat aksi Wonwoo barusan. Yang ditegur hanya tertawa-tawa saja.

Pukul 21.05 setelah selesai acara mereka semua berkumpul di luar. Soonyoung, Wonwoo, Jun, Seungkwan, Hansol, Jihoon, Seokmin, Chan, Mingyu dan Minghao duduk di pinggiran lapangan basket. Sebagian mengobrol, sebagian lagi lebih banyak menggoda penampilan epic Wonwoo tadi. Suasananya sangat hangat dan menyenangkan. Seungcheol dan Jeonghan juga tak lama ikut bergabung dengan mereka, kedua pasangan itu datang bergandengan tangan dari arah pintu aula besar di ujung sana, ikut duduk di lantai lapangan yang dilapis semen keras bersama kesepuluh teman sekolahnya.

Seokmin yang mengawali, berbaring ke tengah lapangan meluruskan kakinya yang masih terasa kebas setelah menari, menatap langit gelap Tangerang yang dihiasi beberapa bintang kecil.

“Hah~ adem ~” ujar Seokmin merentangkan tangannya. Melihat itu yang lainpun mengikuti, mereka semua berbaring di atas lantai kasar lapangan basket sekolah mereka menikmati angin malam yang terasa lebih sejuk dari biasanya.

“Lo inget ngga Seok dulu pernah kejengkal di bawah ring situ?” Ujar Mingyu menunjuk arah ring basket di sebelah kanan mereka, masih berbaring sambil tergelak geli mengingat kejadian setahun yang lalu saat Seokmin tersandung kakinya sendiri saat latihan basket, alhasil hidung mancung Seokmin patah dan harus di operasi.

“Sakit banget njirr untung ada Bang Cheol bawa mobil kalo kaga bisa meninggal gue” ujar Seokmin mendramatisir.

“Lebay lo! idung masih jauh dari jantung juga” sahut Minghao. Yang lain tertawa dengan balasan realistis Minghao.

“Yang paling ngga nyangka tuh yang di ujung sono noh” ujar Ican menunjuk dua pasangan yang berbaring bersebelahan paling ujung dari barisan mereka. Soonyoung dan Wonwoo.

“Pernah dulu Wonwoo ngebanting sepatu basketnya gara-gara diamuk Soonyoung perkara keranjang tempat bola basket ilang, bodor banget” sambung Seungcheol lagi sambil tertawa mengingat pertengakaran Wonwoo Soonyoung yang hampir setiap hari terjadi, waktu itu Wonwoo ingin mengambil keranjang tempat bola basket yang biasa di taruh di dalam aula tempat Soonyoung latihan dance namun hari itu keranjang basket tiba-tiba menghilang padahal Wonwoo yakin orang pertama yang datang ke lapangan adalah dirinya dan satu-satunya yang ada di dalam aula adalah Soonyoung, tidak mungkin keranjang bola basket menghilang begitu saja. Soonyoung yang ditanya oleh Wonwoo pun hanya menjawab dengan mengedikkan bahunya acuh, merasa tak dihiraukan Wonwoo sempat tersulut emosi “ nggak punya mulut ya lo? ditanya kok kaya orang bisu” ujar Wonwoo. Soonyoung berbalik “Gue nggak peduli? LO JAGA MULUT LO YA!!!” balas Soonyoung dan menghilang keluar aula. Seungcheol yang sesaat menyusul Wonwoo terkejut melihat adik tingkatnya dengan marah membanting sepatu basket mahal miliknya ke lantai dengan keras “ ANJING!”, singkat cerita kejadian itu adalah kesalahpahaman lain diantara kedua orang tersebut. Keranjang basket sudah diambil Mingyu yang ternyata sudah lebih dulu datang di lapangan karena si tinggi bongsor bolos kelas terakhir.

“padahal gue yang ambil wkwkwkwk” sahut Mingyu.

Soonyoung yang akhirnya tahu penyebabnya langsung bangkit dan duduk menatap tajam ke arah Mingyu “ emang kampret ya lo, gue sampe di tuduh wonu ngambil keranjang basket. Buat apaan coba!” kata Soonyoung sewot. Lagi-lagi gelak tawa terdengar dari para muda-muda yang menonton tingkah gemas teman sekolahnya itu. Soonyoung yang sudah siap-siap berdiri menghampiri Mingyu ditarik Wonwoo lagi, kini si gemas berbaring di lengan Wonwoo masih di atas lantai semen lapangan basket.

“Untung ada pawangnya” ujar Jihoon lagi kepada Jun yang ada di sebelahnya.

Beberapa siswa masih ada di sekolah lalu lalang bersiap pulang atau sibuk membereskan sisa acara.

“KAK SHUA!” Panggil Soonyoung tiba-tiba melihat Joshua yang lewat dipinggir lapangan membawa satu kotak berisi beberapa mic yang dipakai pada acara barusan. Otomatis yang dipanggil menoleh tidak nyaman apalagi melihat tatapan tidak senang dari teman-teman Soonyoung.

“Sini kakkk” panggil Soonyoung, entah apakah Soonyoung terlalu baik atau terlalu naif tapi sapaannya pada Joshua tadi terlihat tulus.

“Iya soonyoung?”

“Sini gabung rebahan istirahat dulu”

“Eh nggak usah gapapa kok”

Soonyoung langsung berdiri menarik Joshua, menduduknya di sampingnya.

“Rebahan kak releks hehehehe, Seok geser sono lo” ujar Soonyoung lagi

Jadi sekarang posisi dari ujung adalah Wonwoo – Soonyoung – Joshua – Seokmin.

Merasa suasana yang mulai berubah Jeonghan bersuara “Sori ye shua gua lagi males bantu-bantu enak rebahan”

“Iya han gapapa gue juga pencitraan doang bawa kotak mic padahal juga capek” jawab Joshua jujur menanggapi candaan sarkas ala Jeonghan.

“Dasar anjing hahahaha” tawa Jeonghan membawa suana menyenangkan lagi, suasana kembali nyaman. Joshua ikut bergabung memandang langit luas. Bersyukur masih banyak orang-orang baik yang masih mau menerimanya setelah perilaku buruknya lalu, terlebih Soonyoung yang dengan lapang dada memaafkannya.

“Makasih ya Soonyoung.. Wonwoo.. maafin gue” kata Joshua lagi.

“Iya” jawab Wonwoo singkat. Soonyoung yang mendengar itupun tersenyum simpul memandang wajah sang pacar yang juga dibalas senyuman oleh si pemilik mata rubah. Lega rasanya untuk Soonyoung, berdamai lebih indah, bukan?

Di sisa malam, ketigabelas pemuda itu menghabiskan waktu mereka untuk bertukar cerita, menuliskan di lembar kosong cerita masa muda mereka yang akan terkenang hingga hari tua.

PAGI

Xxxxxxxxxxx

Mohon yang belum legal ditutup dulu ya.

Konten 🔞 I've warned you.

_

Wonwoo was streching his body on the bed when soonyoung entered their room.

“Lama banget” kata wonwoo dengan wajah bantalnya di atas kasur.

“Yakan makan dulu yah”

“Sini..” ujar wonwoo menepuk-nepuk permukaan kasur yang kosong di sebelahnya

Soonyoung menuruti suaminya tersebut yang sedang dalam mode manja, soonyoung maklum wonwoo sudah biasa seperti itu apalagi setelah melewati akhir bulan yang panjang dan lembur yang melelahkan.

Soonyoung berbaring di sebelah wonwoo dengan kepalanya yang ditumpu oleh lengan kiri wonwoo sebagai bantalnya. Diciumnya lembut pipi sang suami yang lebih tirus.

“Capek banget ya yah?” Tanya soonyoung.

Wonwoo hanya mengangguk dengan mata terpejam namun tangannya menarik kepala soonyoung kepelukannya lebih dalam.

Sekarang wonwoo yang mencium wajah soonyoung lembut, dari pucuk kepala, kening, mata, pipi kanan, hidung hingga bibirnya. Semuanya wonwoo lakukan dengan mata yang masih terpejam. Soonyoung membalas ciuman sang suami tidak kalah lembutnya, “makasih ayah udah kerja keras untuk keluarga kita” ucap soonyoung dengan bibir yang masih menempel dengan bibir wonwoo.

“Hmm” balas wonwoo berdeham rendah sambil mencium soonyoung lagi, soonyoung tau suaminya itu sedang 'membutuhkannya'.

“Gimana yah rasanya puasa 5 lima bulan?” Celetuk soonyoung disela-sela ciumannya.

Wonwoo otomatis membuka matanya, menatap datar soonyoung.

“Gatel” ujar wonwoo

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH” jawaban wonwoo barusan spontan membuat soonyoung terbahak-bahak, tidak menyangka suaminya akan menjawab se-frontal itu.

“Yaudah sini mana yang gatel? Di sini ya?” Kata soonyoung lagi setelah menetralkan tawanya tadi yang mendapat tatapan tidak enak dari wonwoo. Soonyoung meraba bagian depan celana wonwoo, menyentuh tempat yang paling 'membutuhkan' perhatiannya.

Wonwoo kembali menciumi bibir suaminya, menghisap dalam bibir bawah soonyoung kemudian menautkan lidah basah mereka untuk beradu.

Wonwoo mengangkat baju soonyoung sampai batas dadanya, mengusap perut buncit soonyoung sangat lambat dan menelusurinya dengan telapak tangannya yang besar. Ciuman dan tautan lidah mereka tidak pernah lepas sampai wonwoo mengusap puting kiri soonyoung dan membuat pemiliknya memekik kaget..

“eungh!” Pekik soonyoung merasakan telunjuk dan jempol bulat wonwoo memilin ujung putingnya kemudian di tarik kecil.

Posisi soonyoung telentang dengan wonwoo yang kini bertumpu dengan siku kirinya agar bisa menciumi soonyoung dan tangan kanannya yang masih aktif mengusap dan memilin puting yang sudah mulai mabuk oleh sentuhan-sentuhan sang suami.

Ciuman wonwoo turun ke rahang soonyoung, mengecupnya lembut dengan sesekali menghisapnya, lindah wonwoo bergerak ke cuping telinga soonyoung memberikan jilatan tipis membuat pemiliknya menggeliat, karena terkejut dengan rangsangan tersebut soonyoung tidak sengaja menggerakkan kakinya dan lututnya menggesek permukaan celana wonwoo. “Akh!” Wonwoo merasa seperti baru saja terkena setrum tegangan sedang. Soonyoung yang tentu saja menyadarinya malah melanjutkan aksinya barusan. Soonyoung kembali menggesekkan lututnya di bagian depan celana wonwoo membuat pemiliknya semakin gencar menjilati cuping telinga soonyoung dan terus turun ke perpotongan lehernya.

Soonyoung dipagi hari wangi tubuhnya benar-benar segar, wonwoo suka.

Kini tangan wonwoo menarik lebih tinggi lagi kaos yang soonyoung kenakan hingga di atas dadanya, puting soonyoung benar-benar sudah tegang dan memerah karena ulah wonwoo, dijilatinya puting merah itu bergantian membuat kepala soonyoung terasa ringan di udara

“Eungh..” desah soonyoung saat putingnya bersentuhan dengan lidah wonwoo.

Wonwoo kembali begerak, ciumannya turun ke atas perut buncit soonyoung mencium permukaannya dengan hati-hati, saat sampai dikulit bawah perut soonyoung yang berbatasan dengan karet celanannya, wonwoo menatap soonyoung seolah-olah meminta izin dan dengan anggukan pelan soonyoung memberikan izinnya. Wonwoo membuka celana panjang soonyoung yang senada dengannya, menariknya turun dari pangkal kaki soonyoung. Dari sini terlihat sesuatu yang sudah menyembul dari permukaan celana dalam soonyoung yang masi terpasang. Wonwoo menciumi sembulan itu dari balik celana dalam soonyoung, menjilatnya dari bawah hingga kepangkalnya sambil menatap soonyoung.

“Shh eumm” desah soonyoung

Saat melihat soonyoung seperti itu, wonwoo sudah tidak tahan lagi. Dibukanya celana dalam soonyoung yang sudah basah permukaannya akibat air liur wonwoo. Setelah terbebas di pegangnya kepemilikan soonyoung yang menengang.

“Boleh sayang?” Ujar wonwoo

“Iya yah..” jawab soonyoung yang sudah mulai hilang akal sehatnya sambil menggeliat.

Wonwoo mengocok pelan pangkal penis soonyoung dengan tempo stabil, jempolnya yang diusapkan ke ujung penis soonyoung membuat gerakan melingkar seolah-olah memberikan stimulasi nikmat untuk pemiliknya dan membuat cairan pre-cum keluar memperlancar kocokan wonwoo.

Jilatan lidah wonwoo diujung penis soonyoung membuat desahan soonyoung semakin kacau. Tubuh soonyoung terus bergerak-gerak tidak karuan di atas kasur. Di hisapnya dalam penis soonyoung sambil memainkan dua buah bolanya di bawah sana.

“Ah yahh....aduh...eungh”

Wonwoo terus bekerja di bawah sana, mengulum penis soonyoung basah, rasanya lembut dan tebal. Jilatan wonwoo turun dari pucuk penis soonyoung ke pangkalnya, ke dua bola kembar soonyoung, dan akhirnya lidah wonwoo sampai di depan kerutan lubang kenikamatan soonyoung. Entah kapan wonwoo membuat kaki soonyoung menekuk seperti sekarang, namun yang pasti saat ini soonyoung sudah mengangkang dengan lebar di hadapan wajah wonwoo.

Lidah wonwoo melanjutkan pekerjaannya menjilati permukaan lubang soonyoung yang berkedut warna merah muda.

Ujung lidah lancip milik wonwoo masuk menerobos lubang soonyoung, rasanya basah dan soonyoung pusing dibuatnya. Lidah wonwoo terus menghisap dan menjilati lubang itu.

“Auhhhhh shh..” tidak ada hentinya soonyoung mendesah

Mendengar itu wonwoo semakin bersemangat, tangan kirinya mengocok lagi penis soonyoung yang memerah sedangkan lidah dan dua jari kanannya kini bergantian masuk di lubang soonyoung.

“Do you like it when I fuck you with my tongue, babe?” Tanya wonwoo

“I-Iya....w-wonu..” soonyoung sudah kepalang tegang, telinganya terasa ditulikan, yang ada hanya nikmat.

Soonyoung menggelinjang, jilatan lidah wonwoo membuat semuanya terasa benar dan berantakan disaat yang bersamaan.

“Wonu....m-mau keluarh”

“Keluarin sayang” ujar wonwoo masih terus berkerja di bawah sana

Pada tusukan jari wonwoo yang kedua setelah hisapan dalamnya pada lubang soonyoung, akhirnya soonyoung mencapai puncaknya, cairan putih soonyoung tumpah di tangan wonwoo.

Soonyoung terlihat terengah-engah setelah pelepasannya, kemudian ia menarik kepala wonwoo untuk diciumnya. Mereka berciuman lamat.

Di bawah sana wonwoo sudah benar-benar menengang di balik celana training abu-abunya ditambah gesekan lutut soonyoung yang kembali meraba.

“Ayah....keras banget itu” ucap soonyoung sayu melirik bagian bawah celana wonwoo.

“Bantuin....” Kata wonwoo pelan. Setelahnya soonyoung bangkit dan berdiri dibantu oleh wonwoo, tak bisa dipungkiri soonyoung sedikit kesusahan dengan perut buncitnya.

Soonyoung berlutut dilantai menghadap wonwoo yang duduk di pinggiran kasur.

“No..no..no..baby don't, get up” wonwoo buru-buru bangkit dan membuat soonyoung berdiri lagi, mendudukan suaminya yang tengah hamil dipinggir kasur.

“Kenapa wonu?”

“Sayang jangan di bawah kasian adek nanti perutnya sakit”

Wonwoo memang sudah diselimuti kabut napsu namun akal sehatnya masih berjalan. Suaminya hamil dan iya tidak ingin suaminya kesakitan dan tersiksan karena ulahnya.

“Kaya gini aja”

Sekarang wonwoo berdiri di hadapan soonyoung yang duduk di pinggir kasur, penis tegang wonwoo berada tepat di depan hidung soonyoung walaupun masih di lapisi celana.

Soonyoung menarik pelan celana training wonwoo tersebut berbeda dari wonwoo, soonyoung langsung melepas bersama dengan celana dalamnya.

Karena saking tegangnya penis wonwoo yang baru bebas dari celana menampar sisi pipi kanan soonyoung.

Soonyoung sempat kaget namun tidak mempermasalahkannya, kini penis berurat kencang itu sudah digengam soonyoung. Hangat yang wonwoo rasakan.

Dengan pelan soonyoung menjilat ujungnya yang sudah basah dan membuat seluruh tubuh wonwoo merinding.

“Ah..” desahan lolos dari mulut wonwoo

Tangan kiri soonyoung meraba perut berotot wonwoo, bentuknya benar-benar bagus tidak berlebihan, kencang dan keras. Wonwoo benar-benar berusaha membentuk tubuhnya, soonyoung suka itu dan membuatnya bergairah.

Suhu tubuh wonwoo semakin memanas, tak tahan ia lepaskan kaos yang masih menggantung ditubuhnya. Sekarang wonwoo benar- benar telanjang di hadapan soonyoung.

Melihat itu soonyoung juga ikut memanas, jilatan diujung penis wonwoo bertambah menjadi jilatan di pangkalnya, layaknya memakan sebuah ice cream soonyoung tanpa henti memainkan lidahnya sepanjang lekuk urat-urat penis wonwoo. Saat semua permukaannya sudah dilumuri oleh air luar soonyoung, soonyoung langsung mengulumnya dalam.

“OH LORD!!” erangan wonwoo terdengar saat seluruh batang penisnya masuk ke mulut hangat soonyoung.

Kuluman soonyoung dalam dan basah membuat wonwoo benar-benar gila. Sudah hampir 6 bulan wonwoo tidak bersetubuh dengan soonyoung pasca kehamilannya, dan hari ini ia benar-benar tidak bisa menahan hasrat biologisnya lagi.

Soonyoung memaju mundurkan kepalanya, tangan kanannya mengocok bagian pangkal yang tidak dapat sepenuhnya masuk dimulut soonyoung, sesekali memainkan bola kembar wonwoo.

Wonwoo tidak ingin menyakiti suaminya namun ia kacau, mulut soonyoung merobohkan pertahanannya. Ia ingin mengontrol gerakannya namun napsu berkata lain kini pinggul wonwoo ikut menggenjot mulut soonyoung mengejar pelepasannya.

“Akhhh sayang enak banget..shh ahh soonyoung”

Soonyoung terus mengulum dalam, sesekali mengeluarkan penis wonwoo dan memberikan bunyi 'pop!' saat dikeluarkan, kemudian soonyoung akan menjilati lagi ujungnya mengusap-usap dengan jempolnya lalu mengulumnya lagi. Berulang kali hingga membuat wonwoo hampir gila.

“Mulut kamu......” “Ah!” “Dalemin sayang.....”

Saat soonyoung merasa wonwoo mulai membengkak di dalam sana ia terus menambah kecepatannya, mengejar pelepasan wonwoo. Mengulumnya basah

“Urghhh...shhh k-keluar sayang..AHHHHHH!!!”

Wonwoo bergetar, dimuntahkannya cairan putih itu di dalam mulut soonyoung, banyak dan kental hingga sebagian meleleh di sisi bibir soonyoung, soonyoung masih mengocok dan mengulum penis wonwoo yang masih menyemburkan putihnya, mengahantarkan klimaksnya hingga benar-benat tuntas dan itu membuat seluruh kujur tubuh wonwoo bergetar.

“Shh ahh..” erang wonwoo lagi saat mengeluarkan penisnya yang masih setengah menegang dari mulut soonyoung saat sedikit tergesek gigi soonyoung.

Setelahnya dicium lembut bibir suaminya yang masih basah karena sperma wonwoo yang luber hingga ke leher soonyoung.

“Makasih sayang” ujar wonwoo

“Laper” balas soonyoung tiba-tiba membuat wonwoo tergelak tawa.

Ya sudah pasti soonyoung lapar lagi setelah kegiatan melelahkan barusan.