ENDORSE
Soonyoung sudah berbaring di atas kasurnya setengah telanjang. Memposisikan tubuh bagian bawahnya menghadap kamera yang sudah menyala siap menayangkan aksi kotornya lagi di depan ribuan Daddies yang setiap minggu menunggu siaran livenya.
“Hi daddies, what you up to?” Sapa Soonyoung di depan kamera yang hanya menampilkan setengah badannya yang sudah terkespose, tangan kiri mengelus-elus penisnya yang belum menegang sempurna, kulit sekelilingnya masih mengerucut namun lembut. Sambil masih menyapa para Daddies yang masih terus 'berdatangan', Soonyoung melanjutkan permainan solonya.
“Hari ini aku kasih surprise live, special gift buat Daddies karena aku ada mainan baru. Ini dad~” Soonyoung meraih satu benda yang ada di sebelah kirinya, menunjukkan ke depan kamera benda yang bentuknya mirip dengan sesuatu yang sedang Soonyoung kocok sekarang, panjang, agak kenyal dan memiliki dua bola di bagian bawahnya, warnanya pun hampir sama menyerupai warna kulit Soonyoung.
“Mainan akuuu dadh~ beli di Take Me, gede banget kaaaan? Bikin aku nggak sabar nyobain, makanya buru-buru ngelive biar daddies bisa liat aku di ewe sama inihh” Kemudian Soonyoung duduk, memajukan sedikit wajahnya ke kamera namun hanya sebatas hidung yang terlihat. Menjilat ujung mainan barunya, membuat penis imitasi itu basah oleh air ludahnya.
“Hmmm”
.
.
.
“Saya balik duluan” ujar Wonwoo setelah menandatangani map terakhir yang dibawa oleh Yeji admin legal Seungcheol.
“Iya pak, apa Bapak mau di pesankan taxi aja?”
“Gak usah saya masih bisa nyetir, cuma kelelahan”
“Siap, hati-hati di jalan pak”
Setelahnya Wonwoo memasang kembali jas navy miliknya dan keluar dari ruangan besar itu.
Hari ini matahari masih terlihat karena jam juga baru menunjukan pukul 16.44, tidak biasanya Wonwoo melangkahkan kaki ke area parkir untuk pulang di jam seperti ini. Namun, rasanya kepala dan tubuhnya sudah tidak bisa berkompromi lagi. Ia butuh istirahat dan releks, rehat sejenak dari penat pekerjaannya.
Wonwoo menyetir dengan pelan menikmati sorenya. Ia tidak sakit hanya saja limit tubuhnya sudah dipakai dengan maksimal 2 minggu ini. Tidak ada salahnya untuk pulang ontime, mandi dengan air hangat dan bersantai di apartementnya.
.
.
.
Di tengah livenya, Soonyoung lagi-lagi meludahi tangannya sendiri untuk dibalurkan pada penisnya yang sekarang sudah memerah tegang. Ujung penis Soonyoung sudah mengkilat tumpul dan lubangnya mulai berkedut-kedut tandanya ia butuh sesuatu yang lebih. Memang ini tunjuan live Soonyoung, menunjukan bokong putihnya dengan lubang merah muda berkedut yang di sumpal dildo baru hasil edorsement olshop 'dakjal' yang sempat membuat Soonyoung malu di depan Wonwoo kemarin.
Ingatan itu buru-buru Soonyoung tepis, dildo yang sudah basah akibat emutan air liur Soonyoung kemudian ia arahkan ke jalan masuk lubang berkerutnya, memutar-mutar ujung dildo itu tanpa memasukkannya.
“Eungggh geli~''
“Dadh belum di masukin aja udah enak, kalau ada yang mau samaan bareng aku boleh langsung klik link yang ada di description yaa biar nanti kita bisa crott bareng a-ahhhh” Soonyoung memasukan unjung dildo kenyal itu ke lubangnya. Hanya ujungnya saja sudah membuat Soonyoung menggelinjang, bagaimana tidak dildo itu memiliki fungsi getar dimana ada settingan remote control yang membuat ujung penis imitasi itu bisa bergetar di dalam lubang anal, memberikan sensasi lebih dan membangkitkan selera bercinta lebih tinggi.
“Eunggg shh pas banget gedenya, pantat aku jadi penuh banget dadh, bisa bikin puas kalo daddies lagi kesepian”
Soonyoung terus mendorong dildo itu lebih dalam, mengeluarkannya lagi kemudian mendorongnya lagi begitu terus berulang ulang, hawa terasa semakin panas. Soonyoung tak tahan, melepas tangannya dan membiarkan dildo tersebut masih menancap di pantatnya. Ia kemudian membuka kaos putih yang masih ia kenakan dan kini membiarkan tubuhnya telanjang bulat di depan kamera. Membuat para daddies kembali riuh di section komen dan sudah pasti pundi-pundi uang Soonyoung akan semakin bertambah.
“aaaaaahhh” Soonyoung kembali menarik dildonya. Berulang kali dengan desahan yang sekarang tidak bisa ia tahan. Getaran yang dihasilkan ujung dildo itu membuat Soonyoung berada di langit ketujuh, rasanya sudah lama ia tidak merasakan mastrubasi senikmat ini. Walaupun olshop yang menjual ini abal-abal dalam segi pengemasan namun alat yang mereka jual punya kualitas yang tidak main-main.
Buktinya Soonyoung sekarang terus menggeliat di atas kasurnya, mendesah kacau akibat lubangnya yang di obrak-abrik oleh dildo endorsement.
“AAAAAHHH SSSHHH A-AAH YAASSS”
.
.
.
Wonwoo membuka pintu apartmentnya, sepi seperti biasa tidak ada siapa-siapa di ruang tamu. Setiap sudut ruanganpun licin dan bersih, semenjak memiliki housemate, apartemen Wonwoo terurus dengan baik. Syukurlah.
Melepas sepatu, Wonwoo sekarang berjalan menuju kamarnya. Namun, samar-samar terdengar suara seseorang. Oh, mungkin Soonyoung ada di kamar, pikir Wonwoo dalam hati.
Tapi.....kenapa suaranya seperti orang yang sedang kesakitan?
Wonwoo berhenti di depan kamarnya, mendengarkan dengan seksama apa benar suara yang di dengarnya tadi?
'AAAAAAAAA-ahh'
Benar. Suara Soonyoung.
“Apa dia baik-baik saja?” Guman Wonwoo khawatir.
Saat wonwoo membuka gagang pintunya lagi-lagi suara kesakitan Soonyoung terdengar.
Menjauh dari kamarnya dan menuju kamar Soonyoung, Wonwoo mengetuk pintu kamar housematenya itu.
Tok tok tok
“Soonyoung?”
Tidak ada jawab.
Tok tok tok
“Soony-”
“Heunggggh”
“Astaga dia kenapa?!”
Karena khawatir Wonwoo buru-buru berlari ke kamarnya mengambil kunci cadangan kamar Soonyoung yang memang ia simpan untuk berjaga-jaga jika sesuatu hal buruk terjadi,
ia takut sesuatu terjadi pada Soonyoung.
Di dalam sana Soonyoung terus memompa dildo barunya lebih dalam, level getaran pun ia naikan maksimal. Alunan lagu Singularity dari Taehyung membuat suasana semakin terbakar, ia butuh pelepasan. Tangan kirinya sibuk mengocok penisnya, sedangkan tangan kanan terus mendorong dildo masuk dengan pinggul yang aktif menumbuk ke bawah.
Sedikit lagi....
“Shhhhh hmm”
.
.
Soonyoung akan keluar.... “Hnggg”
Namun...
“SOONYOUNG!”
Wonwoo menerobos masuk kamarnya.
Terkejut.
.
.
Soonyoung masih menggerakkan pinggulnya walaupun sama terkejutnya. Dua tumbukan pinggul ke bawah Soonyoung keluar dihadapan Wonwoo.
Matanya sayu, tubuhnya telanjang tanpa satu helai kain, menatap Wonwoo yang berdiri kaku di hadapannya masih lengkap dengan pakaian kerja, membuat Soonyoung yang 15 detik lalu tiba-tiba mencapai puncaknya.
“p-pak” ujar Soonyoung masih terkulai lemah di kasurnya dengan poni yang sedikit basah karena keringat yang keluar di dahinya.
“Maaf” Wonwoo langsung keluar dari kamar Soonyoung.
Di dapur, Wonwoo mengambil segelas air sambil memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut.
Tidak hanya kening yang berdenyut tapi sesuatu di balik celana kain Wonwoo pun ikut berdenyut. Bereaksi atas apa yang baru saja dilihat.
'sudah gila' ujar Wonwoo dalam hatinya.
.
.
.
Soonyoung yang sudah kembali setelah pelepasannya kemudian mematikan siaran langsungnya. Mengambil bathrobenya di kamar mandi, melilitkan asal di tubuh polosnya dan menyusul Wonwoo keluar.
“Pak” panggil Soonyoung.
Ya tuhan. Wonwoo bisa betul-betul gila jika seperti ini. Sang pemilik apartement belum berbalik atas panggilan barusan. Ia harus menenangkan dirinya dulu.
“Pak” panggil Soonyoung lagi, namun suaranya kini terasa lebih dekat bagi Wonwoo.
“Maaf bapak liat yang barusan” ucap Soonyoung lagi, namun kini tangannya berani menyentuh pinggang atas Wonwoo dari belakang. Bagian pinggang yang berbatasan dengan ikat pinggangnya.
Merasakan sentuhan itu Wonwoo memejamkan matanya.
'This is bad'
“Pak” panggilnya lagi.
Lebih berani, Soonyoung merambatkan tangannya naik ke pundak belakang Wonwoo. Merematnya pelan.
“No, Soonyoung. Jangan”
Wonwoo berbalik namun wajah Soonyoung benar-benar dekat, matanya yang masih sayu kembali mengingatkan Wonwoo dengan kejadian barusan, di tambah Soonyoung hanya menggunakan bathrobe sehingga kulit lehernya terlihat jelas, putih bersih membuat Wonwoo ingin membenamkan wajahnya disana dan menghisapnya dalam.
“Saya mau bantuin bapak, toh bapak sudah lihat semua” ucap Soonyoung lagi.
“Maksud kamu?” Wonwoo paham maksud Soonyoung tapi ia hanya berpura-pura tidak mengerti.
“Apa ini tidak menyiksa, pak?” Tiba-tiba Soonyoung mengelus gundukan di balik celana kerja Wonwoo.
Menggenggam tangannya kuat, wonwoo mati-matian menahan desahan yang hampir lolos akibat perbuatan Soonyoung barusan.
Soonyoung masih saja mengelus tipis gundukan itu.
“Saya tau bapak pasti punya banyak pertanyaan buat saya tapi simpan dulu ya pak, saya lebih tau bapak pasti kecapean” setelahnya Soonyoung merosot turun dilantai, berlutut di depan Wonwoo masih mengelus sesuatu di balik celana itu.
“Stop Soonyoung”
Namun, hanya di balas gelengan pelan oleh Soonyoung.
Ia masih terus meraba Wonwoo, berani. Soonyoung membuka pelan restleting celana kain navy itu dan memasukan telunjuknya ke dalam, menyentuh daging yang nampak membesar itu dari balik celana dalam wonwoo.
Tak tahan Wonwoo menarik Soonyoung berdiri kembali dengan kuat.
“Jangan menyesal” ujar Wonwoo tegas menatap tajam mata Soonyoung. Setelahnya oksigen Soonyoung di raup Wonwoo, bibir mereka bertemu, suara kecupan kedua bibir itu memenuhi dapur. Wonwoo menarik posesif pinggang Soonyoung, menciumnya dalam, lidah mereka bertaut mencari satu sama salin, memlilit setiap pertemuan di dalam mulut Soonyoung.
Desahan halus lolos dari mulut Soonyoung kala Wonwoo meremas pantatnya yang masih tertutupi oleh bathrobe tipis.
Di angkatnya kaki soonyoung, menggendong housematenya itu menuju sofa ruang tengah.
“Aww” Soonyoung terlonjak ketika paha dalamnya yang tersingkap mengenai kepala ikat pinggang Wonwoo yang tebuat dari besi saat di gendong oleh Wonwoo. Kulit pahanya yang hangat tersentuh besi dingin, membuat Soonyoung menggeliat di gendongan Wonwoo. Tangannya melingkar di leher sang pemilik apartement seperti hidupnya bergantung pada itu, namun Wonwoo tidak lengah. Ia memegang kuat pantat Soonyoung selama menggendongnya ke sofa.
Wonwoo mendudukan tubuhnya di atas sofa dengan kasar membuat soonyoung yang bergendong seperti koala tersentak. Lagi-lagi mengenai besi dingin itu dan belahan pantatnya yang bergesekan dengan gundukan wonwoo membuatnya lagi- lagi menggeliat.
Mereka masih terus bercumbu, bahkan lebih dalam. Wonwoo melepaskan semua yang sudah ia tahan 2 minggu ini selama satu atap dengan Soonyoung. Kali ini ia tidak bisa menahannya.
Soonyoung terus menggesekkan penisnya di atas pangkuan Wonwoo, kini bathrobenya sudah melorot di pundak. Melihat itu Wonwoo semakin menariknya turun, mencium pelan pundak Soonyoung. Wangi. Wangi bedak bayi. Menenangkan.
Wonwoo terus menciumi pundak hingga ceruk leher soonyoung , membuat yang lebih kecil mendongakkan kepalanya, membuat akses luas bagi Wonwoo.
Pinggul Soonyoung tidak ada henti-hentinya bergerak, ia terus memaju mundurkannya membuat Wonwoo semakin sesak.
Dibukanya ikat pinggang itu namun di tepis Soonyoung.
“Saya aja pak” ucap soonyoung.
Soonyoung membuka satu persatu ikat pinggang Wonwoo, melepaskan kancing celananya, mengelus pelan karet celana dalam abu-abu milik wonwoo.
“Ahh”
Satu desahan pertama akhirnya lolos dari mulut wonwoo ketika elusan tadi turun ke gundukan besar yang sudah dinodai cairan precum Wonwoo.
“Buka ya pak” izin soonyoung mentapa mata wonwoo.
“Iya” balas wonwoo.
Di bukanya celana dalam wonwoo, tangan soonyoung masuk ke dalam menyentuh penis wonwoo yang sudah menegang sempurna, dikeluarkannya dalam genggaman tangan soonyoung.
'Benar-benar besar' dalam hati soonyoung membuat tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.
Dikocoknya ujung penis wonwoo oleh soonyoung, membuat sang pemilik bersandar di sofa, menyandarkan kepalanya. Nikmat.
“Arrgh” erang wonwoo dengan suara beratnya.
Soonyoung sudah kembali tegang, penisnya memerah lagi. Melihat itu wonwoo menarik soonyoung ke bersandar di dadanya membuat penis mereka kembali bergesekan tanpa terhalang sehelai benang pun.
“Ahh ahh” desah soonyoung.
Wonwoo melepas total bathrobe soonyoung membuat housematenya itu telanjang bulat. (lagi)
Wonwoo masih mengenakan kemeja putihnya, sedangkan celananya masih terpasang hanya saja sudah melorot sebatas pahanya. Jas wonwoo yang di kenakannya tadi di tinggalkan di meja dapur, Jadi, kini hanya soonyoung yang benar-benar telanjang di pangkuannya.
Tak tahan karena tenggorokannya yang kering, Soonyoung turun dari pangkuan wonwoo tanpa tatapan mata yang terlepas satu sama lain.
Soonyoun duduk berlutut di antara kaki wonwoo, meraih penis tegangnya dan menciumnya dalam dengan hidungnya.
Anggukan wonwoo memberikan tanda bahwa soonyoung boleh melanjutkan aksinya. Dengan mulut yang terbuka, soonyoung memasukan penis besar wonwoo ke dalam mulutnya.
Di kulum.
Sangat dalam.
Hangat mulut soonyoung membuat kepala wonwoo berputar-putar. Nikmat hingga rasanya wonwoo tidak bisa lagi menahan setiap erangannya ketiga lidah soonyoung menyapu pangkal penisnya.
Tidak muat, soonyoung mengocok bagian penis wonwoo yang tidak bisa masuk ke dalam mulutnya. Tenggorokan soonyoung penuh, penis wonwoo sangat tebal dan panjang. Saking panjangnya bahkan tonjolan ujung penis wonwoo yang masuk ke leher soonyoung bisa terlihat dari luar saat soonyoung memberikan deepthroat-nya.
“Aaarghhh” wonwoo menahan kepala soonyoung untuk memendam penisnya di leher soonyoung. Tak tahan soonyoung menepuk paha wonwoo, isyarat bahwa dirinya tak kuat lagi.
Wonwoo kembali menarik soonyoung duduk di pangkuannya. Diambilnya penis soonyoung dan penisnya dalam satu genggaman, kemudian ia kocok bersamaan.
Terkejut, soonyoung langsung mendesah kuat lagi. Kepalanya terlempar kebelakang menikmati kocokan Wonwoo.
“A-aah pak aduh shh”
Lubang anal soonyoung tak henti berkedut bahkan melebihi saat menggunakan dildo tadi.
“Enak hm?” Tanya wonwoo masih mengocok penis mereka. Ini kalimat pertama yang di keluarkan wonwoo sejak setengah jam lalu.
“Iyaah terusin pakh”
Selagi tangan kanan wonwoo mengocok penis mereka. Tangan kirinya sibuk mencari lubang soonyoung di belakang pantat.
Telunjuk tebal itu ia arahkan di depan kerutan anal soonyoung, membuat gerakan melingkar membuat soonyoung semakin gila.
“Shhhhh pak gak tahan”
“Kamu basah banget soonyoung”
Wonwoo memasukan satu jarinya ke dalam anal soonyoung menusuknya masuk.
“Akhh pak”
“Lagi”
Memasukan dua jarinya soonyoung kembali mendesah, tak kuat mendapatkan dua kenikmatan sekaligus dari penis dan pantatnya, soonyoung menjatuhkan kepalanya di pundak wonwoo. Mendesah tepat disisi telinga wonwoo membuatnya semakin gencar menusukkan jarinya lebih dalam.
“Pak gak kuat lagi” rengek soonyoung.
Dengan itu ia menyetop semua kegiatannya. Membuat soonyoung bangkit dari pangkuannya.
“Masukin sendiri” kata wonwoo dengan nada memerintah.
Karena akal sehat soonyoung sudah hilang entah kemana, ia pun menurut. Berdiri dengan kaki yang mengangkang kembali ke atas wonwoo mengarahkan penis besar itu menuju lubang analnya.
Ujung penis yang tumpul dan tebal itu ia gesekan memutuar di kedutan lubang analnya seperti dildo tadi.
“Hngggh”
Sleb
Penis wonwoo menerobos masuk anal soonyoung. Membuatnya lebih dalam soonyoung kemudian duduk dipangkuan wonwoo. Membuat penis itu tertanam penuh di dalam pantat soonyoung.
“Shh OHH”
“gerak!” perintah wonwoo.
Menurut, soonyoung mulai menggenjot pinggangnya di atas wonwoo. Tangan wonwoo memegang pinggul soonyoung membantunya bergerak lebih cepat.
“Ahh soonyoung”
“Pak.....hnggh”
Keduanya saling berhentakan, suara kulit berkecipak saling bertemu di bawah sana.
Keringat keduanya sudah saling bercucuran.
Tebal, penis wonwoo memenuhi lubang soonyoung hingga rasanya benar-benar sesak.
Bagi wonwoo anal soonyoung menyedotnya dalam membuag adrenalinya terus bertambah.
Tidak ada hentinya kedua housemate itu menghentakan tubuh mereka, sementara di luar sana hari sudah semakin gelap.
“Pak ughh terusin pak ahhh yang dalem lagi” ujar soonyoung yang kini tangannya bertumpu di pundak wonwoo, takut-takut kalau dirinya terjatuh saat keasikan menggenjot penis wonwoo dari atas.
Wonwoo tidak diam, tangannya meremas pantat soonyoung di kiri dan kanan dan menciumi bibir bengkak itu.
Otot perut wonwoo mengencang seirama dengan setiap hujaman penisnya di lubang soonyoung. Sesekali soonyoung menyentuh perut berotot itu membuat fantasinya semakin liar dan nafsunya semakin menjadi-jadi.
“Ohhh dad hnggg”
“Daddy~hngh”
Entah tanpa sadar soonyoung memanggil wonwoo dengan sebutan daddy, membuat pemilik lelaki berbadan bidang itu semakin tegang dan terangsang.
“Daddy enaaakkk ahh ahh ahh” soonyoung terlonjak-lonjak di atas pangkuan wonwoo.
“Tahan sebentar” ucap wonwoo
“Keluarin bareng dad~~”
Kedutan di pantat soonyoung semakin kencang membuat penis wonwoo semakin diremas, soonyoung pun merasakan penis wonwoo yang membesar di dalam pantatnya menandakan sebentar lagi pemilik apartement itu akan mencapai puncaknya.
Penis soonyoung yang sudah benar-benar memerah terus bergesekan dengan perut wonwoo.
“OH GOD!!!! DAD!!! KELUARR”
“aargggghhh” hentakan keempat wonwoo di dalam anal soonyoung menghantarkan klimaksnya dan cairan sperma wonwoo membanjiri anal soonyoung, banyak dan kental, meluber hingga keluar meleleh di paha soonyoung.
Soonyoung pun keluar dia atas perut berotot wonwoo.
.
.
.
.
.
.
Lelah.
Soonyoung bersandar di dada wonwoo. Dengan penis yang masih tertanam di lubangnya.