COFFE

Wonwoo bersiap mengambil kunci mobilnya yang berada di atas nakas kecil di ruang tengah saat Soonyoung keluar dari kamarnya. Mengenakan setelan santai bermotif kotak-kotak hadiah ulang tahun dari Jeonghan kemarin, Soonyoung menyeragamkan dengan topi snapback senada yang ia beli di bazar kampusnya dua bulan lalu.

Ada setitik degup di dada Wonwoo melihat penampilan Soonyoung siang ini. Entah apa, tapi efeknya membuat Wonwoo buru-buru berdeham pelan untuk menetralkan jantungnya dan menjernihkan isi kepala yang tiba-tiba menampilan kilatan memori kemarin malam saat bibir bervolume seperti buah cherry milik Soonyoung mengemut dalam penisnya.

'Back to your sense, Wonwoo!'

Tidak kalah gugup, Soonyoung melihat penampilan Wonwoo pun dibuat pusing. Hari ini Wonwoo terlihat lebih santai dan segar, tidak ada baju kemeja dan jas kaku yang membalut tubuhnya. Namun, tetap saja wajah datar itu masih ada disana. Mata tajam dan rahang tegas yang selalu berhasil mengintimidasi Soonyoung.


Keduanya menuju tempat parkir yang ada di basement, biasanya suasana hening memang selalu ada di antara Wonwoo dan Soonyoung namun semenjak kemarin hening itu menjadi lebih canggung.

Wonwoo berjalan setengah meter di depan Soonyoung, sedangkan si penyewa apartement masih terus jalan menunduk dengan tangan yang menjentikan kuku di jari kiri dan kanannya. Khawatir dan takut.

PIM!

Suara kunci mobil Wonwoo menyadarkan lamunan Soonyoung.

“Ayo” ajak Wonwoo sambil membuka pintu mobilnya dan Soonyoung langsung jalan memutar menuju pintu mobil disisi lain.

Ia duduk dengan rapih di kursi penumpang namun celana pendeknya yang dikenakan hari ini sukses membuat Wonwoo keringat dingin. Bagaimana tidak, saat duduk celana itu tersingkap naik di atas paha putih mulus miliknya, membuat Wonwoo lagi-lagi diserang kacau dikepala dan tubuh bagian selatannya.

Berdeham, Wonwoo mencoba tenang dan menyalakan mesin mobil dan berjalan keluar area parkir apartment dengan Soonyoung yang masih belum sadar kalau celana gemasnya itu membuat si pengendara mobil gelisah setengah mati.

.

.

.

.

30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai, siang ini nampaknya warga Jakarta sedang ramai pergi keluar rumah sampai-sampai Wonwoo tidak kebagian tempat parkir, alhasil ia harus memarkirkan mobilnya di seberang restaurant.

Di tepi jalan yang ramai Wonwoo tiba-tiba mengambil tangan Soonyoung yang berdiri di sebelahnya, mengamit tangan itu untuk digandeng menyebrang jalan seperti siswa sekolah dasar yang belum pandai menyebarang. Tangannya posesif menggenggam tangan yang lebih kecil. Jangan tanyakan bagaimana reaksi Soonyoung. Telinganya sudah memerah seperti kepiting asap yang sering Mingyu masak ketika mereka sedang berkumpul.

Mereka sampai di depan bangunan dengan tulisan Ardent Coffee & Kitchen. Mereka duduk disisi cafe dekat jendela kaca yang berbatasan dengan bagian tengah cafe tersebut. Mencari tempat yang lebih sepi agar acara makan siang mereka lebih tenang.

Pelayan restaurant menghampiri keduanya membawa dua buku menu yang dilapisi cover kulit hitam dengan tulisan nama restaurant bertinta emas, tipikal tempat makan mahal.

“Kamu pesan apa?” tanya Wonwoo sambil melihat buku menu di hadapannya.

“Eumm...saya....Spaghetti Aglio Olio e Peperoncino aja pak”

“Minumnya?”

“Apa ya?” Soonyoung malah bertanya balik pada Wonwoo, jujur ia tidak terbiasa makan di tempat mahal seperti ini.

You can get anything you want

“Mas, yang non coffee tapi susu apa ya?” Soonyoung bertanya pada pelayan restaurant.

“Kita ada Earl's Strawberry itu grey tea, cream, susu segar dan buah strawberry, satu lagi ada London Fog terdiri dari grey tea, cream, sirup orgeat dan susu vanilla, biasanya kalau siang-siang yang paling recommended Earl's Strawberry karena itu seger banget, Mas” Jelas pelayan restaurant dengan ramah.

“Yaudah yang itu aja” balas Soonyong.

“Saya Ardent's Original Sushi Taco dan Double Espresso” menutup buku menunya kemudian Wonwoo kembali menyerahkan buku dengan cover tebal itu.

Soonyoung tidak mengatakan satu patah katapun, matanya menatap gelisah sekeliling sudut restaurant, etah apakah nanti ia bisa menguyah makanan mahalnya karena terlalu banyak teori kemungkinan yang Soonyoung pikirkan dari tadi.

“Kan saya bilang jangan tegang” akhirnya Wonwoo memecah keheningan.

Soonyoung tersentak.

“Iya habisnya takut, Pak”

“Kenapa?”

“Hmm saya bingung mau jelasin dari mana, bapak aja yang tanya terserah tanya apapun yang bapak mau”

“Itu barusan kan saya tanya kenapa?” ujar Wonwoo meletakkan tangannya di atas meja.

“Kalau itu tadi udah dijawab, Pak. Saya takut mau jelasin ke bapak”

“Tapi kamu nggak takut duduk di atas pangkuan saya”

SKAK!

“haaaaaahh” Soonyoung memekik kecil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Malu. Ia benar-benar malu.

“Jawab Soonyoung” ada satu tarikan satu senyum miring dari sudut bibir Wonwoo.

Satu menit tanpa jawaban.

.

.

Ada satu helaan napas sebelum Soonyoung bersuara.

.

.

“jadisayaitukerjajadicamboyngelivekalomalem” Soonyoung bergumam di balik kedua telapak tangannya.

“gimana?” “saya gak denger”

Menarik napasnya panjang, Soonyoung menurunkan kedua telapak tangannya. Menatap lurus satu vas bunga kecil di atas meja.

“Camboy, Pak. Saya kerja jadi camboy. Kalau setelah ini bapak mau saya pindah dari apart gapapa, Pak saya bakal langsung pindah” Katanya Soonyoung akhirnya.

“Itu aja?” balas Wonwoo.

“Hah? maksudnya?” Soonyoung bingung, namun bertepatan dengan pertanyaannya makanan mereka datang.

“Makan dulu” ujar Wonwoo.

Setelahnya, mereka berdua makan. Lagi-lagi dalam hening. Bahkan Soonyoung tidak bisa membaca air muka Wonwoo saat ini.

.

.

.

.

“Maksud saya kamu lakukan itu hanya di depan kamera atau kamu juga ketemu langsung dengan...client kamu?” ada jeda pada kata-kata terakhir dari pertanyaan Wonwoo setelah ia melihat Soonyoung menyantap suapan terakhirnya.

Hampir tersedak namun Soonyoung paham maksud Wonwoo dengan sebutan client barusan.

“Enggak, Pak. Cuma di kamera, saya bahkan gak nunjukin wajah saya kalau ngelive” “Saya nggak berani buat jual diri saya lebih dari itu” ada sendu sedih dari suara Soonyoung barusan.

“Berapa banyak yang kamu dapat dari sana?” Tidak ada maksud untuk menyinggung Soonyoung, hanya saja Wonwoo ingin tau dengan jelas dengan tidak menahan setiap pertanyaan di kepalanya.

“Cukup untuk biaya kuliah saya, biaya hidup sehari-hari termasuk bayar apart, Pak”

“Kalau bapak tanya kenapa saya nggak kerja yang lain, sudah saya coba semua bahkan walau harus ngorbanin jam istirahat saya di tengah malam. Bapak pasti lebih tau cari pekerjaan part time untuk mahasiswa di Jakarta itu susah. Kalaupun ada, gajinya gak cukup buat bayar semesteran saya, mau sebanyak apapun saya berhemat. Akhirnya ini jalan satu-satunya saya, gak merugikan orang lagi dan saya masih bisa tetap kuliah” jelas Soonyoung kembali menunduk.

“Orang tua?”

“Udah gak ada”

Oke. Wonwoo tidak akan bertanya lebih tentang itu.

“Kamu tau pekerjaan kamu itu beresiko besar dengan kuliah kamu? Bahkan setelah kamu lulus nanti dan mendapat gelar sarjana?” Tanya Wonwoo lagi.

“Tau...”

“Tapi?”

“Tapi selama sekarang saya masih aman saya bakal terus lanjutin, Pak”

Lagi. Keheningan menyelimuti keduanya.

“Yang tadi malam...” Wonwoo menggantung kalimatnya, sedangkan Soonyoung kini sudah meremas kuat kain celananya di bawah meja restaurant.

”...yang tadi malam apa kamu menyesal?”

“y-yang mana, Pak?”

“Dua-duanya, kamu klimaks di atas kasur kamu dan kamu klimaks di atas pangkuan saya”

“Iya dan tidak” jawab soonyoung

“Hmm?” Wonwoo butuh penjelasan.

“Iya saya menyesal klimaks di depan bapak waktu bapak tiba-tiba masuk ke kamar saya, saya malu bapak tau pekerjaan saya dengan cara begitu. Dan, nggak, saya nggak menyesal klimaks di pangkuan bapak, itu pengalaman sex paling luar biasa buat saya” tidak bisa menahan malunya lagi, sekarang wajah Soonyoung benar-benar memerah.

Kembali, senyuman miring itu ada di bibir Wonwoo tanpa Soonyoung sadari.

“Soonyoung..”

“Iya pak”

“Jadi sugar baby saya”

“HAHHHH?!!!!” Saking terkejutnya soonyoung sampai menjatuhkan garpu bekas makannya tadi, menimbulkan suara berisik akibat benda besi itu yang menghantam lantai keramik restaurant.

“Kamu mendengarnya dengan benar Soonyoung. Jadi sugar baby saya”

“s-saya gak paham, Pak”

“Jangan bohong”

“Iya maksudnya..aduh gimana ya..saya jadi bingung”

“Seperti yang kamu tau bagaimana itu bekerja, If you're agree to be my sugar baby I'll spoiled you including your tuition fee, you dont need to rent the apartement anymore cuz you'll sleep with me every night, what do you say?”

Soonyoung masih diam, dia shock berat.

“I won't pushed you, you have your time to think about it and if you have any questions please ask away I'll gladly answer it”

“Kontrak?”

“I don't have such thing as long as you know what your resposibilies are, I'll make it easy for the both of us. But one thing for sure you're not allowed to have any relationship related to your love life which mean you can't have boyfriend once you have agreed with this until we end up the agreement”

“Apa saya tetap boleh jadi camboy?”

“No, Soonyoung. Saya akan menanggung semua biaya hidup dan kuliah kamu jadi saya pikir kamu tidak perlu lagi bekerja disana”

“Tapi pak- ...saya nggak bisa langsung berhenti, ada terms and conditionsnya disana”

“How long you need to proceed all that?”

“Sebulan?”

Too long

Soonyoung berfikir lagi.

“Tiga minggu?”

“Okay. 3 minggu”

“Saya harus ngapain aja, Pak?”

“Biasa aja, temanin saya. Saya butuh teman ngobrol, bertukar pikiran, jalan-jalan mungkin kalau kamu suka? Dan pergi ke acara resmi kantor saya”

“Itu aja?”

“Kenapa? Kamu mau lebih dari itu?”

Ragu-ragu dengan satu pertanyaan yang terus mengganjal, akhirnya dengan bermodal nekad ia ajukan pertanyaan itu.

“Apa kita akan berhubungan sex lagi, Pak?”

Seulas senyum menghiasi wajah tampan Wonwoo.

“Saya pikir kamu tidak akan menanyakan itu. Ofcourse, temani malam saya seperti kemarin”

Tidak ada balasan. Soonyoung benar-benar kehabisan kata-kata.

“As I said, your still have time”

“saya jawab besok ya, Pak? Boleh?”

Sure” balas Wonwoo sambil menyeruput cangkir espressonya.

.

.

.

.

Keduanya sudah kembali di mobil Wonwoo, tidak ada lagi percakapan tentang kontrak sugar baby.

Soonyoung duduk di tempatnya semula sambil membalas pesan masuk yang sejak tadi bertubi-tubi berbunyi di handphonenya, ternyata dari grup sahabat-sahabatnya yang bingung mencari Soonyoung karena sejak semalam tidak ada kabar. Meskipun Jeonghan tahu kabar terakhir Soonyoung namun ia tetap khawatir bagaimana makan siang adik tingkatnya itu dengan si pemilik apartement.

Saat sedang asik membalas chat, Wonwoo bergerak menarik seatbelt yang ada di sebelah kiri Soonyoung, membuat Soonyoung terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. Saat Soonyoung mengangkat kepalanya dari layar ponsel ia langsung di hadapkan dengan wajah Wonwoo yang sangat dekat dengan wajahnya, bahkan satu gerakan saja hidungnya bisa langsung bergesekan dengan hidung mancung Wonwoo.

Tatapan itu selalu bisa membuat Soonyoung gelabakan, jantungnya lagi-lagi berdegup kencang.

.

.

.

.

This freaking short you wear is killing me” kata Wonwoo menunjuk celana pendek yang Soonyoung kenakan.

“Huh?” Masih linglung Soonyoung bingung mau menjawab apa.

“Can I kiss you?” Ujar wonwoo sangat dekat dengan wajah Soonyoung.

Satu anggukan pelan dari si penyewa apartement, membawa bibir Wonwoo mendarat di bibir penuh milik Soonyoung.

Menciumnya dalam, seperti ini adalah satu-satunya yang membuat Wonwoo tetap hidup.

Ciuman mereka semakin lamat, lumatan di bibir Soonyoung membawanya terbang lagi, entah sudah langit keberapa tapi yang jelas Soonyoung suka dengan setiap gerak bibir Wonwoo yang menyapu lidah dan bibirnya.