Semua panitia sudah dengan tugasnya masing-masing mengecek semua kebutuhan acara puncak hari ini. Di pagi hari pengumuman pemenang dan pembagian hadiah olimpiade akan dilaksanakan, dilanjutkan dengan seminar hingga tengah hari.
Soonyoung sudah mengirim peta lokasi digital kepada Wonwoo sejak sejam lalu, dari komunikasi terakhirnya tadi Wonwoo sudah berangkat dengan satu swafoto sang kekasih dengan pakaian formal yang dipilihkan Soonyoung minggu lalu. Satu setel kemeja dan jas lama milik Wonwoo dari lemarinya, bukti bahwa yang bersangkutan tidak menukar pakaiannya.
Di sisi lain Ketua BEM dan ketua divisi Humas kampusnya sudah bergegas menuju pintu keluar, nampaknya narasumber yang ditunggu sudah datang. Soonyoung memperhatikan dengan gugup di sudut ruangan sambil sesekali mengecek tugasnya yang belum selesai.
Di area parkir sudah terparkir motor sport hitam dengan silinder tinggi, pemiliknya masih duduk di atas motor tersebut dan mengirimkan beberapa pesan yang salah satunya adalah kepada panitia acara mengabarkan kedatangannya.
Shownu ketua BEM yang sampai lebih dulu langsung menyapa Wonwoo dan menjabat tangannya ramah, diikuti Irene yang tampak tidak baik-baik saja namun berusaha professional.
Wonwoo membuka helm dan sarung tangannya sebelum menyambut jabatan tangan itu. Senyumnya lebar dengan sapaan selamat pagi.
“Pagi” ujar Wonwoo.
“Pagi Pak, selamat datang”
Kemudian Wonwoo mengulangi sapaannya beralih kepada Irene.
“Pagi, Mba Irene”
“Pagi Pak” jawab Irene kikuk.
“Chankyung belum sampai ya?”
“Belum pak, infonya Mas Chankyung 10 menit lagi sampai”
“Okay. Saya tunggu Chankyung aja dulu kalau kalian mau lanjut aja ke dalam gapapa”
“Kita temenin aja Pak di sini gapapa kok, bapak sudah sarapan belum?” kata Shownu.
“Udah tadi di rumah, saya pasti sarapan dulu sebelum aktifitas”
“Wah bapak teratur banget sehari-harinya” itu Irene.
“Sebenarnya karena saya ada asam lambung, kalau gak sarapan bisa repot” tawa Wonwoo bercanda, membuat suasana mencair.
Tak lama Chankyung dari tim HC yang bertugas menemani Wonwoo hari ini datang, dengan segan meminta maaf karena hadir lebih lambat dari Wonwoo.
Keempatnya memasuki area auditorium diikuti pandangan penasaran dan kagum dari mahasiswa sekitar.
Ketua BEM, mahasiswi populer dan dua eksekutif muda berpakaian formal memang kombinasi yang sangat menarik perhatian pagi ini.
Wonwoo sampai di ruang tunggu yang sangat terang dan bersih. Di dalam sana sudah ada sofa nyaman, satu dispenser dan 2 meja besar yang di atasnya sudah dihidangkan berbagai macam roti lengkap dengan pemanggangnya, selai nanas, susu kental manis dan kopi merk kesukaan Wonwoo. Kebetulan sekali? atau mungkin tidak?
Chankyung duduk di kursi sudut setelah mengambil satu botol air mineral.
“Mas, lumayan juga nih welcome drinknya”
Wonwoo hanya terkekeh karena selanjutnya nampak satu tim panitia masuk ke ruangan itu.
Matanya mengedar mencari sosok yang dikenal dan saat sepasang mata itu bertemu, sudut bibirnya naik.
Selanjutnya satu per satu panitia sekaligus anggota BEM memperkenalkan diri mereka.
“Salam kenal Pak, saya Eunjae sebagai wakil ketua BEM” Wonwoo menatap sejenak wajah lawan bicaranya sebelum tersenyum dan menjabat tangannya. Dari kejauhan terlihat Soonyoung yang sudah mengedarkan pandangannya ke arah lain, entah mungkin karena tak ingin melihat interaksi itu.
Perkenalan terus berlanjut penuh dengan antusias terutama tim panitia perempuan seperti Sunmi, Eunchae dan Minjeong hingga sekarang adalah giliran Soonyoung, keduanya menjabat tangan masing-masing yang tentu terasa tak asing.
Soonyoung tersenyum kaku.
“Saya Soonyoung ka-Pak” hampir saja.
Wonwoo hanya mengangguk, kalau saja tidak ada orang di ruangan ini sudah pasti Wonwoo sudah menghambur memeluk Sooyoung karena hampir mati karena pacarnya yang terlalu menggemaskan.
Selanjutnya ketua BEM memimpin briefing dan memberikan informasi singkat mengenai alur acara hari ini kepada Wonwoo. Setelahnya panitia keluar dan melanjutkan persiapannya, namun ada satu tangan yang ditahan diam-diam.
Soonyoung menoleh.
“Good job, gemay”
Soonyoung sedikit kaget atas aksi tiba-tiba Wonwoo, untung saja semua rekannya sudah keluar dari ruangan itu.
Wajahnya lebih rilleks, senyumnya yang dari tadi ditahan akhirnya mengembang.
“Kakak, aku rasanya mau pingsan”
Wonwoo tertawa.
“Don't overthink, gemay” Wonwoo mengucapkan itu sambil menyentuh badge name panitia yang berkalung di leher kekasihnya, mengusap nama yang tertera di sana, senyumnya terlihat sangat bangga.
Soonyoung yang ia kenal sudah sejauh ini, Soonyoung yang ia kenal pertama kali itu dulu adalah anak yang pemalu dengan satu dua teman saja saat di bangku SMA, sekarang lihat lah dia bahkan bergabung dalam organisasi mahasiswa.
“Kakak cicip dulu kopi sama rotinya sebelum acaranya mulai, itu aku yang siapin”
“Pantes sesuai selera. Oke bintang 5”
Soonyoung kemudian melirik sinis “Emangnya aku gofood”
Wonwoo lagi-lagi tertawa, suasan hatinya sangat baik pagi ini.
Soonyoung membersihkan sedikit debu di pundak Wonwoo dan membenarkan jasnya sebelum akhirnya pamit keluar.
Di sisi lain Chankyung terlihat bingung namun ia berusaha tetap diam dan mungkin akan bertanya nanti.
Tepat pukul 09.00 acara dimulai, peserta sudah duduk di kursinya masing-masing. Tiket seminar kali ini benar-benar terjual habis di luar ekspektasi panitia jika antusianya akan sangat tinggi.
Saat Wonwoo dipanggil oleh pemandu acara hari ini, riuh tepuk tangan menggema di auditorium mengiringi langkah kakinya naik ke atas panggung.
Banyak pujian dan pandangan kagum tertuju pada Manager muda itu.
Sesi seminar pun di mulai dari pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan oleh panitia dan pembawa acara.
Wonwoo banyak berbagi cerita pengalamannya semenjak kuliah dan bagaimana ia menjalani perjalanan karirnya hingga saat ini. Banyak pandangan positif yang ia bagikan untuk para mahasiswa yang hadir hingga akhirnya sesi pertanyaan terakhir bagi peserta yang datang.
“Silahkan pertanyaan terakhir, sebutkan nama dan fakultas ya” pembawa acara mempersilahkan.
“Saya Chaeyong dari Fakultas Ekonomi, salam kenal Pak”
“Salam kenal Mba Chaeyong” ujar Wonwoo selalu dengan senyumnya.
“Pertanyaannya simple sih Pak, dari cerita pengalaman bapak tadi bener-bener seperti sangat menikmati perjalanan karir yang dirintis satu per satu dan gak terlalu memikirkan beban kerja yang bikin stress out bahkan masih bisa menjalankan hobi motoran. Jadi, gini pak pertanyaannya apa bapak sudah ada yang dibonceng kalau sunmori?” seketika gedung auditorium bergemuruh ribut.
Chaeyong mendapatkan sorakan ramai dukungan atas pertanyaannya dan acungan jempol dari mahasiswi lain.
“Pertanyaan bagus, saudari Chaeyong” timbal pembawa acara sekaligus merupakan asisten muda dosen di Fakultas MIPA membuat gedung kembali ramai.
Wonwoo yang mendengar terkekeh tak menyangka pertanyaan terakhirnya menyangkut kehidupan pribadi.
“Kalau sunmori kebetulan sudah ada yang saya boceng” otomatis jawaban singkat Wonwoo barusan membuat riuh semangat barusan berubah menjadi helaan napas lemas dari sebagian besar peserta yang hadir namun suasana masih sama tetap menyenangkan.
Di bawah panggung terpantau ada wajah yang memerah panas.
Setelah beberapa kalimat penutup dari pembawa acara, dengan itu secara resmi seminar hari ini telah selesai.
Wonwoo berpamitan dan turun dari panggung.
Acara selanjutnya adalah makan siang bersama saat semua pekerjaan di auditorium selesai.
Para panitia termasuk Soonyoung sudah duduk di satu meja besar bersama Wonwoo dan Chankyung.
“Bapak, saya benar-benar berterimakasih sudah mau berpartisipasi di seminar kita tahun ini” ujar Shownu.
“Terimakasih kembali sudah mengundang saya. Acaranya bagus dan persiapannya matang. Keren” Wonwoo memuji hasil pekerjaan panitia yang sudah disiapakan sejak tiga bulan lalu, membuat mereka yang sudah bekerja keras merasa lega.
“Oh iya, untuk hasil open recruitmentnya tadi bisa kami follow up kemana ya?” Itu Eunjae.
“Dari kantor nanti akan menghubungi langsung bagi yang lolos seleksi berkas, tapi kalau kalian mau follow up boleh langsung ke saya nanti diinfo updatenya” balas Chankyung
“Siap thank you mas”
“Ngomong-ngomong pak, tadi yang pertanyaan terakhir saya boleh lanjut tanya gak?” Dengan semangat kemerdekaan Minjeong bertanya, membuat teman sekelasnya Yeonjun menepuk jidat.
“Boleh” balas Wonwoo sambil menyuap makanannya. Suasana memang sangat santai, dan masing-masing juga menyantap makanannya.
“Yang dibonceng sunmori tadi pasti sesukses bapak juga ya?” Telisik penasaran Minjeong.
Sunmi, Irene dan Eunchae diam-diam mendengarkan dengan penasaran.
“Amin. Doa saya sih dia bisa lebih sukses dari saya. Orangnya lagi belajar seperti kalian juga”
“HAHH?!” Sunmi tak bisa mengontrol ekspresinya, saat sadar ia langsung meminta maaf.
“Pacar saya masih kuliah, anak UI juga” ucap Wonwoo dengan senyum bangganya.
“Oh iya Pak? Fakultas mana?” tak disangka-sangka pertanyaan itu keluar dari ketua BEM.
“Fakultas Ekonomi”
Di ujung meja Soonyoung sudah tidak bisa menelan makanannya.
“Loh satu fakultas sama Soonyoung dong”
Seluruh atensi kemudian mengarah kepada Soonyoung.
“Bukan satu fakultas lagi. Memang Soonyoung pacar saya”
Eunjae tersedak air minumnya. Minjeong yang baru akan menyuap potongan ayam bakarnya otomatis menjatuhkan garpu ke lantai.
Yeonjun membelalakan matanya lebar dan menatap Wonwoo kaget.
Hampir semua orang di meja itu terkejut tidak terkecuali Soonyoung dan Chankyung.
Di perhatikan bergantian, Soonyoung akhirnya memberikan senyum kakunya. Tidak tahu harus berbuat apa.
“Waduh, saya pamit mau nyebat dulu” Eunjae kemudian berdiri berpamitan dengan sopan.
Karena suana yang terasa agak canggung, Shownu juga menawarkan Wonwoo untuk merokok keluar.
“Bapak ngerokok gak?”
“Saya ngerokok tapi lagi ngurangin soalnya suka di marahin Soonyoung”
Lagi-lagi gebrakan Wonwoo membuat separuh orang yang ada di sana dibuat histeris.
Sunmi sudah memukul-mukul paha Minjeong adik tingkatnya di bawah meja diam-diam tak tahan.
Soonyoung? Tidak tahu, rasanya seperti ingin kabur dan ambil cuti kuliah.
Ia malu sekaligus lega.