from 38,000 feet
Soonyoung terbangun dengan Wonwoo yang memeluk tubuhnya erat dari belakang, semalam ia tidur lebih awal karena lelah menunggu Wonwoo yang tak kunjung datang padahal ia berjanji akan pulang sore hari. Namun, sampai pukul delapan yang ditunggu belum juga muncul, sampai akhirnya tadi malam Soonyoung duduk menghabiskan makan malamnya sendiri di rumah besar milik mereka.
Soonyoung berbalik masih dalam pelukan Wonwoo menatap yang lebih tua, melihat alisnya yang berkerut bahkan saat tidur, dalam hati Soonyoung ia sebenarnya kasihan pada Wonwoo yang selalu disibukkan dengan pekerjaan kantornya bahkan saat mengambil cuti seperti sekarang. Pikiran apa yang membuat kekasihnya itu tertidur sampai membuat alisnya berkerut seperti itu, pasti masalah perusahaan lagi pikir Soonyoung.
Tak tega dan tak bisa merajuk lebih lama dengan Wonwoo, Soonyoung akhirnya memeluk balik tubuh Wonwoo yang tidak mengenakan atasan. Diciuminya pundak sang pacar dan diusapnya alis yang berkerut itu.
Merasakan afeksi dari Soonyoung, Wonwoo terbangun membuka matanya pelan masih samar.
Satu kecupan kecil di bibirnya.
“Selamat Pagi, daddy” ujar Soonyoung setelah melepas kecupannya.
“Maaf” balas Wonwoo dengan suara parau khas bangun tidurnya.
Soonyoung menggeleng.
“Pasti capek, ya?”
“Enggak” balas Wonwoo.
Soonyoung hanya tersenyum, mengelus pipi Wonwoo lembut. Dalam hatinya iya tahu benar bahwa Wonwoo hanya menutupi rasa lelahnya agar Soonyoung tidak khawatir.
“Mau sarapan apa daddy?” tanya Soonyoung lagi mengeratkan pelukannya pada Wonwoo.
Wonwoo bernapas, menghirup wangi rambut Soonyoung. Kesukaannya.
“Roti panggang buatan kamu, seperti dulu”
Soonyoung terkekeh mengingat betapa seringnya dulu ia membuatkan Wonwoo sarapan roti panggang karena terburu-buru membagi waktu antara pergi kuliah atau mengejar jam kerja Wonwoo saat masih tinggal di apartment lama.
“Susu cokelat?” tanyanya lagi.
“Susu cokelat” balas Wonwoo.
Setelahnya mereka habiskan beberapa saat untuk kembali berpelukan, memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum akhirnya akan berpisah lagi selama tiga bulan karena Soonyoung yang terlebih dahulu harus menyelesaikan kontrak modelingnya di Paris.
Pagi mereka terasa tenang, Soonyoung yang membersihkan bekas sarapan mereka dan Wonwoo yang membantu membawa koper milik Soonyoung ke arah garasi.
Saat ini keduanya sudah siap untuk pergi ke salah satu Hotel di Jakarta dimana pada rooftopnya terparkir helikopter pribadi milik Wonwoo. Hari ini keduanya tidak akan pergi dengan peawat seperti saat kembali dari Paris. Karena kata Wonwoo, naik helikopter jauh lebih praktis.
Keduanya sudah duduk dengan nyaman dan bersisihan saat Pilot, Captain Ethan menginformasikan bahwa mereka akan take off dalam 10 menit.
“Sayang”
“Hmm?” Soonyoung menoleh dari jendela helikopter saat Wonwoo memanggilnya.
“Pegang tangan saya”
“Heh?? kok dingin banget? daddy sakit? apa kita balik aja?” Soonyoung tiba-tiba panik, menyentuh kening Wonwoo mencoba merasakan apakah tubuh yang terkasih panas indikasi demam menyerang atau tidak.
“Nope” Wonwoo kembali menggenggam kedua tangan Soonyoung. “Will you trust me, Soonyoung?” tanya Wonwoo.
Jantung Soonyoung selalu akan berdetak 2000 kali lebih cepat saat Wonwoo memanggil namanya. Ada apa ini? batinnya. Ia takut sesuatu hal buruk akan terjadi lagi pada hubungan mereka, kalau iya sungguh Soonyoung tak ingin.
“Sebentar lagi” sambung Wonwoo.
Setelah terbang kurang lebih setengah jam tiba-tiba terdengar suara Captain Ethan, Soonyoung tidak mendengarnya dengan jelas namun helikopter terasa terbang lebih rendah.
Benar-benar perasaan Soonyoung sangat tidak enak saat ini.
Saat helikopter menembus lapisan awan terakhir dan mulai terlihat hamparan hijau dari sebuah lapangan luas, mata Soonyoung terpaku melihat sekumpulan orang ramai di lapangan tersebut mengenakan pakaian serba putih dan jeans biru senada. Masing-masing memegang papan besar yang sebenarnya dari jarak saat ini belum terlihat apa isi tulisannya.
Di sisinya Wonwoo masih menggenggam tangan kiri Soonyoung.
Saat helikopter terbang lebih rendah lagi akhirnya Soonyoung bisa melihat dengan jelas isi dari atas tulisan pada papan-papan besar itu.
Ia terkejut melihat salah satu— tidak hampir semua orang yang memegang papan itu adalah orang yang ia kenali.
“Soonyoung, come with me?” tanya Wonwoo saat helikopter mereka benar-benar sudah mendarat.
Jantung Soonyoung berdegup sangat kencang bahkan rasanya hampir meledak, ia bahkan hanya mengikuti Wonwoo keluar dari helikopter, menggenggam tangan yang lebih tua dengan sangat erat.
Saat turun dari helikopter rambut keduanya tertiup angin dengan kencang akibat baling-baling helikopter yang belum berhenti berputar dengan sempurna.
Di depannya dengan sangat jelas ia membaca tulisan itu, tulisan di papan yang ia baca dari atas helikopter tadi.
S O O N Y O U N G M A R R Y M E ?
Mata Soonyoung masih berkaca-kaca melihat orang-orang ini.
Ada Mingyu dengan wajah ceria dan senyuman khasnya memegang hurup pertama S, kemudian di lanjuatkan Seungkwan dan Hansol dengan dua huruf O, Kak Han memegang huruf N dan tentu suaminya Seungcheol di sebelah memegang huruf Y, setahu Soonyoung keduanya masih berada di Santorini dalam agenda bulan madunya karena semalam ia yakin baru saja curhat dengan Jeonghan melalui pesan text saat menunggu Wonwoo pulang, selanjutnya di sebelah Seungcheol ada Jihoon yang memberikan senyum anehnya yang terlihat sangat kaku bagi Soonyoung tapi ia sudah sangat familiar, kemudian ada Joshua dan Yeji yang terus menggoyang-goyangkan papan mereka membuat Soonyoung terkekeh walaupun ia sudah setengah mati menahan air matanya.
Pada huruf selanjutnya ada Pak Anwar dan Mr. Paul yang entah bagaimana bisa ikut hadir di sini, sebenarnya bukan pertanyaan besar jika itu menyangkut Wonwoo karena Soonyoung akui ia bisa melakukan apa saja yang orang biasa tidak mungkin bisa lakukan. Bahkan yang tak Soonyoung duga juga ada Sekretaris Agensinya di Paris yang ikut hari ini, orang yang pertama kali menawarkan pekerjaan sebagai model bagi Soonyoung. Ia melambai dengan cantik dan elegan membuat Soonyoung terharu sekaligus bahagia.
Pada huruf terakhir, M-E ada sepasang orang tua paruh baya yang samar Soonyoung kenali wajahnya, mengumpulkan memorinya lebih jauh air mata Soonyoung pun akhirnya tumpah saat ini. Ia mengingatnya.
Soonyoung menatap Wonwoo dan mendapat anggukan yang meyakinkan dirinya atas kedua sosok paruh baya itu. Tidak kuat, tangis Soonyoung menjadi, ia bahkan harus menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan.
Kedua sosok itu adalah orang yang dulu merawat dan menjaga Soonyoung saat ia di titipkan Ayah Ibu-nya ke Semarang sebelum kecelakaan naas yang merenggut nyawa kedua orang tuanya terjadi.
Kedua sosok itu adalah orang tua Wonwoo, yang saat ini hadir memberikan senyum paling teduh mereka untuk Soonyoung.
Dengan itu, Wonwoo mengamit tangan Soonyoung yang masih ia pakai untuk menutup wajahnya yang sudah basah oleh air mata.
“Soonyoung, baby...please look at me” Wonwoo mengusap wajah Soonyoung dengan satu tangannya.
Soonyoung mengangkat kepalanya, menatap Wonwoo pandangannya masih buram karena air mata yang masih banyak menggenang.
“Sayang, selalu ingat kalau kamu nggak pernah sendiri.. Kamu punya saya, saya nggak berjanji akan selalu ada 24 jam tapi saya pastikan saya akan berusaha keras untuk selalu bahagiakan kamu. Mereka....” ucap Wonwoo melihat teman-teman dan orang tuanya di hadapan mereka.
”....Mereka juga ada buat kamu, mereka keluarga kamu”
Soonyoung kembali terisak, dadanya sesak namun lega sekaligus.
“Baby, Soonyoung...” Panggil Wonwoo lagi.
Soonyoung kembali menatapnya.
“Menikah dengan saya?” ucap Wonwoo dengan satu kotak dengan cincin indah di atasnya, membuat Soonyoung luar biasa bahagia dan haru.
Tidak ada drama lain, Soonyoung langsung mengangguk dan mencium Wonwoo di depan keluarganya yang tentu di balas Wonwoo dengan senyumannya, di peluknya Soonyoung dan kemudian riuh tepuk tangan dan siulan jahil dari teman-teman dan keluarga mereka terdengar membuat suasana menjadi sangat hangat.
Tak lama saat masih berciuman, celana Soonyoung seperti ada yang menarik. Ternyata ada Pikachu anjing kesayangannya di bawah sana yang membawa papan kecil dengan tanda tanya, tanda tanya yang harusnya berdampingan dengan huruf yang di bawa oleh orang tua Wonwoo tadi. Dan itu membuat semua orang tertawa geli.
Mereka akhirnya bergabung dengan keluarga yang lain, saling menukar peluk atas hari bahagia ini. Soonyoung kembali berderai air mata saat memeluk kedua orang tua Wonwoo. Mereka selama ini tinggal di Batam, perusahaan di Batam milik Wonwoo itu tidak semata-mata karena hasil kerja kerasnya, dibalik itu juga ada dukungan orang tua yang selalu memberinya semangat.
Berkali-kali Soonyoung ucapkan terimakasih pada mereka yang terkasih karena sudah hadir hari ini sebelum ia kembali masuk ke dalam helikopter dan kembali melanjutkan perjalanannya ke Paris bersama Wonwoo.
Hari itu di bulan Januari Soonyoung menerima lamaran dari Wonwoo, orang dari masa lalu yang terlibat banyak dalam perjalanan hidupnya, orang baik hati yang menyewakan satu kamar di apartmentnya.
Saat ini...
Dari ketinggian 38,000 kaki di atas permukaan laut, Soonyoung menetapkan hatinya untuk terus mendampingi Wonwoo.
Dan untuk Wonwoo, tidak pernah ada orang lain baginya. Di manapun petualangannya kemarin akan selalu ada Soonyoung, adik kecil di seberang rumah yang dipanggilnya Yoni.