milkyways1707

Soonyoung terbangun dengan Wonwoo yang memeluk tubuhnya erat dari belakang, semalam ia tidur lebih awal karena lelah menunggu Wonwoo yang tak kunjung datang padahal ia berjanji akan pulang sore hari. Namun, sampai pukul delapan yang ditunggu belum juga muncul, sampai akhirnya tadi malam Soonyoung duduk menghabiskan makan malamnya sendiri di rumah besar milik mereka.

Soonyoung berbalik masih dalam pelukan Wonwoo menatap yang lebih tua, melihat alisnya yang berkerut bahkan saat tidur, dalam hati Soonyoung ia sebenarnya kasihan pada Wonwoo yang selalu disibukkan dengan pekerjaan kantornya bahkan saat mengambil cuti seperti sekarang. Pikiran apa yang membuat kekasihnya itu tertidur sampai membuat alisnya berkerut seperti itu, pasti masalah perusahaan lagi pikir Soonyoung.

Tak tega dan tak bisa merajuk lebih lama dengan Wonwoo, Soonyoung akhirnya memeluk balik tubuh Wonwoo yang tidak mengenakan atasan. Diciuminya pundak sang pacar dan diusapnya alis yang berkerut itu.

Merasakan afeksi dari Soonyoung, Wonwoo terbangun membuka matanya pelan masih samar.

Satu kecupan kecil di bibirnya.

“Selamat Pagi, daddy” ujar Soonyoung setelah melepas kecupannya.

“Maaf” balas Wonwoo dengan suara parau khas bangun tidurnya.

Soonyoung menggeleng.

“Pasti capek, ya?”

“Enggak” balas Wonwoo.

Soonyoung hanya tersenyum, mengelus pipi Wonwoo lembut. Dalam hatinya iya tahu benar bahwa Wonwoo hanya menutupi rasa lelahnya agar Soonyoung tidak khawatir.

“Mau sarapan apa daddy?” tanya Soonyoung lagi mengeratkan pelukannya pada Wonwoo.

Wonwoo bernapas, menghirup wangi rambut Soonyoung. Kesukaannya.

“Roti panggang buatan kamu, seperti dulu”

Soonyoung terkekeh mengingat betapa seringnya dulu ia membuatkan Wonwoo sarapan roti panggang karena terburu-buru membagi waktu antara pergi kuliah atau mengejar jam kerja Wonwoo saat masih tinggal di apartment lama.

“Susu cokelat?” tanyanya lagi.

“Susu cokelat” balas Wonwoo.

Setelahnya mereka habiskan beberapa saat untuk kembali berpelukan, memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum akhirnya akan berpisah lagi selama tiga bulan karena Soonyoung yang terlebih dahulu harus menyelesaikan kontrak modelingnya di Paris.

Pagi mereka terasa tenang, Soonyoung yang membersihkan bekas sarapan mereka dan Wonwoo yang membantu membawa koper milik Soonyoung ke arah garasi.

Saat ini keduanya sudah siap untuk pergi ke salah satu Hotel di Jakarta dimana pada rooftopnya terparkir helikopter pribadi milik Wonwoo. Hari ini keduanya tidak akan pergi dengan peawat seperti saat kembali dari Paris. Karena kata Wonwoo, naik helikopter jauh lebih praktis.

Keduanya sudah duduk dengan nyaman dan bersisihan saat Pilot, Captain Ethan menginformasikan bahwa mereka akan take off dalam 10 menit.

“Sayang”

“Hmm?” Soonyoung menoleh dari jendela helikopter saat Wonwoo memanggilnya.

“Pegang tangan saya”

“Heh?? kok dingin banget? daddy sakit? apa kita balik aja?” Soonyoung tiba-tiba panik, menyentuh kening Wonwoo mencoba merasakan apakah tubuh yang terkasih panas indikasi demam menyerang atau tidak.

“Nope” Wonwoo kembali menggenggam kedua tangan Soonyoung. “Will you trust me, Soonyoung?” tanya Wonwoo.

Jantung Soonyoung selalu akan berdetak 2000 kali lebih cepat saat Wonwoo memanggil namanya. Ada apa ini? batinnya. Ia takut sesuatu hal buruk akan terjadi lagi pada hubungan mereka, kalau iya sungguh Soonyoung tak ingin.

“Sebentar lagi” sambung Wonwoo.

Setelah terbang kurang lebih setengah jam tiba-tiba terdengar suara Captain Ethan, Soonyoung tidak mendengarnya dengan jelas namun helikopter terasa terbang lebih rendah.

Benar-benar perasaan Soonyoung sangat tidak enak saat ini.

Saat helikopter menembus lapisan awan terakhir dan mulai terlihat hamparan hijau dari sebuah lapangan luas, mata Soonyoung terpaku melihat sekumpulan orang ramai di lapangan tersebut mengenakan pakaian serba putih dan jeans biru senada. Masing-masing memegang papan besar yang sebenarnya dari jarak saat ini belum terlihat apa isi tulisannya.

Di sisinya Wonwoo masih menggenggam tangan kiri Soonyoung.

Saat helikopter terbang lebih rendah lagi akhirnya Soonyoung bisa melihat dengan jelas isi dari atas tulisan pada papan-papan besar itu.

Ia terkejut melihat salah satu— tidak hampir semua orang yang memegang papan itu adalah orang yang ia kenali.

“Soonyoung, come with me?” tanya Wonwoo saat helikopter mereka benar-benar sudah mendarat.

Jantung Soonyoung berdegup sangat kencang bahkan rasanya hampir meledak, ia bahkan hanya mengikuti Wonwoo keluar dari helikopter, menggenggam tangan yang lebih tua dengan sangat erat.

Saat turun dari helikopter rambut keduanya tertiup angin dengan kencang akibat baling-baling helikopter yang belum berhenti berputar dengan sempurna.

Di depannya dengan sangat jelas ia membaca tulisan itu, tulisan di papan yang ia baca dari atas helikopter tadi.

S O O N Y O U N G M A R R Y M E ?

Mata Soonyoung masih berkaca-kaca melihat orang-orang ini.

Ada Mingyu dengan wajah ceria dan senyuman khasnya memegang hurup pertama S, kemudian di lanjuatkan Seungkwan dan Hansol dengan dua huruf O, Kak Han memegang huruf N dan tentu suaminya Seungcheol di sebelah memegang huruf Y, setahu Soonyoung keduanya masih berada di Santorini dalam agenda bulan madunya karena semalam ia yakin baru saja curhat dengan Jeonghan melalui pesan text saat menunggu Wonwoo pulang, selanjutnya di sebelah Seungcheol ada Jihoon yang memberikan senyum anehnya yang terlihat sangat kaku bagi Soonyoung tapi ia sudah sangat familiar, kemudian ada Joshua dan Yeji yang terus menggoyang-goyangkan papan mereka membuat Soonyoung terkekeh walaupun ia sudah setengah mati menahan air matanya.

Pada huruf selanjutnya ada Pak Anwar dan Mr. Paul yang entah bagaimana bisa ikut hadir di sini, sebenarnya bukan pertanyaan besar jika itu menyangkut Wonwoo karena Soonyoung akui ia bisa melakukan apa saja yang orang biasa tidak mungkin bisa lakukan. Bahkan yang tak Soonyoung duga juga ada Sekretaris Agensinya di Paris yang ikut hari ini, orang yang pertama kali menawarkan pekerjaan sebagai model bagi Soonyoung. Ia melambai dengan cantik dan elegan membuat Soonyoung terharu sekaligus bahagia.

Pada huruf terakhir, M-E ada sepasang orang tua paruh baya yang samar Soonyoung kenali wajahnya, mengumpulkan memorinya lebih jauh air mata Soonyoung pun akhirnya tumpah saat ini. Ia mengingatnya.

Soonyoung menatap Wonwoo dan mendapat anggukan yang meyakinkan dirinya atas kedua sosok paruh baya itu. Tidak kuat, tangis Soonyoung menjadi, ia bahkan harus menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan.

Kedua sosok itu adalah orang yang dulu merawat dan menjaga Soonyoung saat ia di titipkan Ayah Ibu-nya ke Semarang sebelum kecelakaan naas yang merenggut nyawa kedua orang tuanya terjadi.

Kedua sosok itu adalah orang tua Wonwoo, yang saat ini hadir memberikan senyum paling teduh mereka untuk Soonyoung.

Dengan itu, Wonwoo mengamit tangan Soonyoung yang masih ia pakai untuk menutup wajahnya yang sudah basah oleh air mata.

“Soonyoung, baby...please look at me” Wonwoo mengusap wajah Soonyoung dengan satu tangannya.

Soonyoung mengangkat kepalanya, menatap Wonwoo pandangannya masih buram karena air mata yang masih banyak menggenang.

“Sayang, selalu ingat kalau kamu nggak pernah sendiri.. Kamu punya saya, saya nggak berjanji akan selalu ada 24 jam tapi saya pastikan saya akan berusaha keras untuk selalu bahagiakan kamu. Mereka....” ucap Wonwoo melihat teman-teman dan orang tuanya di hadapan mereka.

”....Mereka juga ada buat kamu, mereka keluarga kamu”

Soonyoung kembali terisak, dadanya sesak namun lega sekaligus.

“Baby, Soonyoung...” Panggil Wonwoo lagi.

Soonyoung kembali menatapnya.

“Menikah dengan saya?” ucap Wonwoo dengan satu kotak dengan cincin indah di atasnya, membuat Soonyoung luar biasa bahagia dan haru.

Tidak ada drama lain, Soonyoung langsung mengangguk dan mencium Wonwoo di depan keluarganya yang tentu di balas Wonwoo dengan senyumannya, di peluknya Soonyoung dan kemudian riuh tepuk tangan dan siulan jahil dari teman-teman dan keluarga mereka terdengar membuat suasana menjadi sangat hangat.

Tak lama saat masih berciuman, celana Soonyoung seperti ada yang menarik. Ternyata ada Pikachu anjing kesayangannya di bawah sana yang membawa papan kecil dengan tanda tanya, tanda tanya yang harusnya berdampingan dengan huruf yang di bawa oleh orang tua Wonwoo tadi. Dan itu membuat semua orang tertawa geli.

Mereka akhirnya bergabung dengan keluarga yang lain, saling menukar peluk atas hari bahagia ini. Soonyoung kembali berderai air mata saat memeluk kedua orang tua Wonwoo. Mereka selama ini tinggal di Batam, perusahaan di Batam milik Wonwoo itu tidak semata-mata karena hasil kerja kerasnya, dibalik itu juga ada dukungan orang tua yang selalu memberinya semangat.

Berkali-kali Soonyoung ucapkan terimakasih pada mereka yang terkasih karena sudah hadir hari ini sebelum ia kembali masuk ke dalam helikopter dan kembali melanjutkan perjalanannya ke Paris bersama Wonwoo.

Hari itu di bulan Januari Soonyoung menerima lamaran dari Wonwoo, orang dari masa lalu yang terlibat banyak dalam perjalanan hidupnya, orang baik hati yang menyewakan satu kamar di apartmentnya.

Saat ini...

Dari ketinggian 38,000 kaki di atas permukaan laut, Soonyoung menetapkan hatinya untuk terus mendampingi Wonwoo.

Dan untuk Wonwoo, tidak pernah ada orang lain baginya. Di manapun petualangannya kemarin akan selalu ada Soonyoung, adik kecil di seberang rumah yang dipanggilnya Yoni.

Wonwoo memarkirkan mobilnya di garasi rumah sebelum membangunkan Soonyoung yang entah sejak kapan sudah tidur pulas di kursi penumpang dengan jasnya yang sudah di lepas karena terkena bekas muntahannya sendiri.

“such a little baby” ucap Wonwoo memandangi wajah damai Soonyoung yang masih tertidur.

Di kecupnya pelan pipi berisi Soonyoung dengan lembut, sebelum keluar dari mobil, berjalan memutar menuju pintu penumpang dan mengangkat bayi kesayangannya keluar dari mobil.

Wonwoo menggendong Soonyoung seperti pasangan baru menikah padahal yang tadi pagi menikah adalah Seungcheol dan Jeonghan.

Selama perjalanan dari garasi hingga ke dalam rumah mereka, Wonwoo tidak ada henti-hentinya tersenyum memperhatikan wajah Soonyoung yang sangat tenang. Mengagumi setiap inci lekuk wajah kekasihnya yang menurutnya adalah pemandangan paling indah di dunia dibandingkan jejeran taman bunga di Belanda ataupun putihnya salju di Paris kemarin.

Wonwoo meletakan tubuh Soonyoung dengan pelan di atas tempat tidurnya, melepaskan sepatu dan juga kaos kaki yang masih terpasang agar kesayangannya bisa tertidur lebih lelap.

Membuka dua kancing teratas kemeja Soonyoung, Wonwoo kemudian mengambil tissu bersih yang ada di meja sisi kanan tempat tidurnya dan mengusapkannya ke kening dan dahi Soonyoung yang sedikit berkeringat.

“Di bilang jangan minum lebih dari dua gelas tapi nggak pernah nurut” ujar Wonwoo bermonolog.

Setelah memastikan Soonyoung sudah terbaring dengan nyaman dan menyalakan pendingin ruangannya, Wonwoo berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari yang cukup panjang karena sejak pagi Wonwoo dan Soonyoung sudah harus bergegas ke venue pernikahan sahabat mereka, terlebih bagi Wonwoo yang dalam empat hari belakangan sudah berkali-kali berpindah tempat mulai dari Batam – Jakarta – Paris – Jakarta semua dilakukan dalam hitungan kurang dari seminggu dan sangat menguras energinya.

Setelah setengah jam di dalam kamar mandi, akhirnya Wonwoo keluar dengan tubuh yang lebih segar rambut hitamnya masih basah namun tidak membuat sisa-sisa air bercucuran karena sudah ia keringkan sedikit dengan handuk kecil saat masih di dalam tadi.

Saat keluar, Wonwoo melihat Soonyoung yang tengah terduduk bersila dengan wajah mengantuknya dan bibir manyun di pinggir tempat tidur, karena merasa gemas Wonwoo datang menghampiri.

“akk!” Soonyoung terkejut saat tangan Wonwoo yang dingin khas orang baru selesai mandi menangkup pipinya.

“Kenapa bangun, hm?” tanya Wonwoo.

“Haus” balas Soonyoung manja.

Wonwoo terkekeh kemudian keluar dari kamar mereka dan tak lama kembali membawa segelas air putih.

Soonyoung yang baru sadar dari kantuknya dibuat tak karuan rasa melihat Wonwoo yang ternyata sejak tadi bertelanjang dada dan hanya menyampirkan satu helai handuk putih di pinggangnya.

“Ini minumnya, baby”

Soonyoung memperhatikan gelas bening yang ada di hadapannya kemudian beralih menatap Wonwoo, begitu berulang-ulang tanpa mengucapakan satu patah kata pun.

Wonwoo terkekeh lagi “Kamu kenapa, sayang?” “Kayanya masih mabuk ya”

“Engga mabuk” kata Soonyoung pelan kemudian meraih gelas yang dari tadi menganggur di depannya, kemudian meminum airnya sampai habis.

“Daddy” panggil Soonyoung, kini kaki polosnya menjuntai di pinggir tempat tidur, tak sampai hingga ke lantai.

Wonwoo hanya berdeham, karena yang di panggil sedang membelakanginya. Mencari pakaian di lemari yang hendak dikenakan untuk tidur.

“Nggak usah”

“Nggak usah apa, baby?”

“Nggak usah pakai baju” cicit Soonyoung.

Seketika Wonwoo langsung menghentikan semua kegiatannya dan berbalik menghampiri Soonyoung lagi.

“Why?” tanya Wonwoo hampir berbisik membuat bulu kuduk Soonyoung meremang.

“Mau peluk daddy” balasnya.

“Peluk aja?”

“Mau cium juga”

“Okay” Wonwoo kemudian menarik dagu Soonyoung, posisi Soonyoung masih duduk dan Wonwoo yang berdiri membuat Soonyoung harus sedikit mendongakkan lehernya ke atas.

Wonwoo menaikan satu lututnya ke atas tempat tidur ditekuk tepat di sebelah paha Soonyoung, mengunci tubuh yang lebih muda.

Keduanya berciuman saling melumat bibir masing-masing, menyesap satiap rasa dan perasaan yang tak pernah redam.

Bibir Soonyoung begitu manis, selalu seperti itu bagi Wonwoo. Akan selalu ada kembang api yang meletup kencang di dada Wonwoo tiap kali ia mengecupnya.

Melepas pagutan mereka, Soonyoung kembali bersuara “Daddy, aku mau ini juga” Soonyoung sedikit menarik simpul ujung handuk Wonwoo yang di gulung ke dalam, tepat di pinggangnya.

Wonwoo menyeringai, senyum itu Soonyoung kenal.

Soonyoung dengan tiba-tiba kembali di gendong oleh Wonwoo, kembai ke posisi awal saat ia tadi sempat tertidur dengan Wonwoo yang kini berada di atasnya, mengkungkung Soonyoung dalam kuasanya.

Soonyoung hanya menatap polos namun sebenarnya dalam diri ia sudah terasa seperti dibakar oleh lautan api. Tubuhnya panas dan ia ingin.

Wonwoo kembali mencium Soonyoung namun kali ini leher putihnya lah yang menjadi tujuan, ia menghirup wangi tubuh Soonyoung yang entah mengapa tetap terasa segar walau sudah seharian beraktifitas. Total ada tiga kecupan yang Wonwoo daratkan dan satu hisapan kecil yang membuat Soonyoung akhirnya melenguh.

Soonyoung menyetuh tubuh polos Wonwoo, menjelajahi setiap bagian yang kuasa ia jamah. Rasanya Soonyoung hampir gila.

.

.

Malam itu tubuh Wonwoo dan Soonyoung menyatu, mengikat dalam perasaan mereka yang bertahun-tahun harus dipendam. Menuntaskan hasrat yang tak pernah keduanya kira akan sehaus ini, menukar saliva diantara ucapan-ucapan cinta, bergerak dalam irama tak bertempo namun lembut diperlakukan bagai hal paling berharga bagi masing-masing.

Hanya cermin dengan bentuk lingkaran besar di ruangan itu saja yang menjadi saksi pantulan gairah keduanya yang terekam nyata dalam dua dimensi.

Saya Jeon Wonwoo yang sekarang membuat yang terkasih saya menangis sejadi-jadinya di kamar hotel tempat saya menginap sejak sampai 2 dua hari lalu di Paris.

Kalau kalian mau benci saya tidak apa-apa, saya sama sekali tidak masalah tapi sebelum kalian menghakimi saya lebih jauh, saya ingin memberitahu kalian semua cerita tentang dua tahun paling menyiksa dalam hidup saya, bahkan kehilangan jejak Yoni beberapa tahun lalu tidak seberapa pedihnya dengan rasa yang saya tahan dua tahun ini.

Jangan katakan saya terlalu jahat untuk mengabaikan semua pesan singkat Yoni yang masuk di ponsel saya hampir di setiap pagi dan petang. Jika bisa membela diri, rasanya yang paling tersiksa adalah saya.

Namanya di kontak saya tidak pernah saya ganti apalagi saya blokir, dia itu terlalu berharga.

Akan selalu ada rasa bersalah dan marah pada diri sendiri ketika pagi saya di sambut oleh sapaan ringan dari pesan singkat Yoni yang muncul pada notifikasi layar ponsel saya. Sapaan ringan yang saya sudah tahu ada air mata yang menetes disetiap ketikan hurufnya, bertolak belakang dengan isi pesannya yang penuh semangat dan manis.

Saya tahu saya yang dua tahun belakangan ini sudah menyiksanya dengan kejam. Membuatnya menangis di sudut-sudut kota Paris dengan kesendiriannya.

Saya pun, ikut menangis.

Saya membiarkannya pergi semata-mata karena saya ingin menyelesaikannya sendiri di sini, karena saya sanggup.

Yang saya tidak sanggup adalah ketika dia masih ada di sini, di Jakarta dan kesalamatannya akan terancam, lagi.

Saya tidak akan sanggup melihat dia yang sudah di terpa bermacam ujian dari Tuhan sejak dulu, harus merasakan pahitnya lagi bersama saya.

Dengan segala pemikiran singkat saya di hari kelam itu, akhirnya saya melepaskannya pergi bersama orang baik yang saya yakin akan tulus menjaganya.

Sebenarnya kalau kalian tahu, saya itu seperti bermain judi ketika melepaskan dia pergi. Bisa saja saya akan berpisah selamanya dan benar-benar kelihangan dia.

Tapi, Tuhan maha baik dengan orang pendosa seperti saya. Dia jaga Yoni untuk saya.

Dua tahun paling menyiksa itu saya gunakan untuk membenahi semua kekacauan.

Saya tahu langkah pertama yang pasti untuk saya adalah mengundurkan diri dari Rise Bank, terlalu banyak resiko yang akan saya ambil untuk perusahaan besar itu jika tetap egois bertahan. Saya tahu diri, reputasi Perusahaan tempat saya menimba ilmu dan pengalam terbaik dalam sejarah berkarir akan rusak dan tercoreng akibat permasalahan pribadi saya, Saya tidak ingin.

Sebulan kemudian, saya pindah ke Batam. Seperti niat awal memang, namun tidak seperti tujuan semula. Saya pikir, dulu perjalanan ke Batam akan menyenangkan karena promosi jabatan yang saya terima. Namun, hari ini saya harus ke Batam dengan tergesa karena mengejar investor perusahaan yang akan segera angkat kaki dan menjual sahamnya.

Masalah itu lagi-lagi membuat masalah baru dan saya harus fokus menyelesaikannya.

Jika ada Yoni, saya bahkan tidak akan sanggup untuk berpikir jernih karena konsentrasi saya akan terpecah untuk selalu menjaganya.

Wanita itu benar sudah ada di penjara, namun siapa yang akan tahu kalau ternyata dia masih memilik cara ektrim lain untuk menyakiti Yoni? Tidak, saya tidak akan bertaruh untuk itu.

Salah satu alasan pembelaan saya yang terakhir kenapa tidak membalas satu pun pesan singkat Yoni, karena saya tidak ingin Yoni terlihat masih berhubungan dengan saya. Saya ingin dia aman dan tidak ada yang mengikutinya.

Kembali, ketika saya menceritakan hal yang sama berusaha menjelaskan semua ini kepada yang terkasih. Dia menangis, entah kenapa tangisnya juga ikut menyesakan dada saya. Rasanya sakit melihat dia menangis hebat seperti sekarang karena saya.

Pernah satu waktu di musim gugur di Kota Paris, saya tanpa sepengetahuan siapa pun terbang ke Kota ini sendiri menyusul yang terkasih untuk sekedar memperhatikannya dari jauh.

Saat itu rindu benar-benar menyiksa bahkan rasanya saya hampir tidak bisa bernapas.

Sore itu saya memperhatikan dia yang sedang asik bercerita dengan teman sebayanya yang saya yakini adalah teman-teman satu kelasnya di kampus.

Seperti biasa, dia adalah yang paling hebat memberikan energi positif bagi orang lain sehingga tidak heran banyak orang yang akan langsung menyukainya dan berakhir menjadi teman baik bagi Yoni.

Setengah jam saya memperhatikan wajah yang masih saja tidak sadar akan keberadaan saya, sampai akhirnya ia pergi dari kerumunan dan memilih untuk duduk di pinggir danau tenang dan seketika menangis lagi. Saya tidak paham kenapa wajah yang sejak tadi menebarkan senyum kemana-mana kini menangis dengan perihnya. Lagi, sore itu saya bersumpah akan segera membawanya pulang dan menghapus semua sedihnya.

Namun, sumpah itu saya langgar lagi hari ini karena dia kembali menangis.

Puluhan kali dia bertanya dalam tangisnya 'kenapa tidak pernah membalas pesanku?' dan jawaban saya akan selalu sama, 'saya ingin kamu aman, sayang'

Dengan itu saya merengkuh tubuhnya yang bergetar karena isakan tangis, membiarkannya menghabiskan rasa sakit itu disini. Saya ingin tangis itu selesai di sini. Di kota indah yang membantunya kembali hidup dan setelahnya adalah tugas saya membawanya, pulang.

Setelah kejadian kemarin di apartementnya Soonyoung tidak sama sekali melakukan satu pun kegiatan di luar rumah, belajar dari banyak pengalaman ia tidak mau lagi melakukan tindakan implusif dan ceroboh yang akan merugikan bahkan mencelakainya. Soonyoung yang sekarang adalah Soonyoung yang sudah dua tahun lebih dewasa. Dia bukan lagi mahasiswa semester 6 berusia 19 tahun. Saat ini dia adalah pria dewasa berusia 21 tahun dengan pekerjaan sebagai model profesional untuk banyak majalah fashion di Paris.

Hari ini setelah mengurung dirinya seharian di apartment, Soonyoung akhirnya mengabari Paul untuk mengawalnya pergi ke toko buku dan berbelanja sedikit keperluan di apartement, Paul adalah bodyguard yang memang di sewa oleh Mingyu untuk menjaga Soonyoung selama ia pulang ke Jakarta, Pria dengan postur tubuh tinggi besar ini berkebangsaan Brazil dan sudah sering mendapatkan job untuk mengawal beberapa orang penting, politikus, artis sampai model seperti Soonyoung dan tentu saja sudah sangat dikenal oleh sepupu Mingyu, Seungcheol.

Soonyoung melangkahkan kakinya di pinggir jalanan kota Paris yang sudah diselimuti oleh salju dimana-mana mengenakan pakaian tebal tiga lapis juga coat hitam yang hampir menenggelamkan tubuh dan wajahnya seperti boneka beruang.

Ia berjalan sendiri seperti biasa, bukan bersisihan dengan Paul. Bodyguardnya itu memang tidak akan menampakan kehadirannya disana. Namun, ia ada di sana menjaga Soonyoung dari jarak yang sangat terjagkau.

Soonyoung memasuki toko buku langganannya, bukan toko usang dengan debu dan lampu temaram namun adalah toko dengan konsep cafe dan sangat modern yang menjadi favorit Soonyoung. Entah sejak kapan ia menyukai buku, mungkin saat dulu ketika ia tinggal bersama Wonwoo karena hampir setiap malam sebelum Soonyoung tertidur dipelukan pemilik apartement di Jakarta itu ia akan mencium bau buku yang dibaca oleh pria yang berperawakan lebih tinggi darinya itu.

Soonyoung mengeratkan mantel tebalnya dan memeluk tubuhnya sendiri saat keluar dari pintu toko buku tersebut setelah tak terasa sudah menghabiskan waktu hingga tiga jam lamanya.

Langint di luar sudah mulai gelap dan salju mulai turun semakin banyak menandakan musim dingin di bulan Desember sudah benar-benar datang, membuatnya termenung di antara kursi-kursi pengunjung cafe yang memang sebagian disusun di luar ruangan.

Soonyoung itu paling menyukai bau hujan dan serpihan salju yang sengaja ia biarkan jatuh di telapak tangannya. Kalau sudah begitu akan ada banyak memori lalu Soonyoung yang kembali hadir, termasuk memorinya bersama Wonwoo yang kini terasa seperti lubang besar yang menganga di hatinya.

Ia sudah terbisa hidup dalam sepi dan sendiri namun tiga bulan hidup bersama Wonwoo dua tahun lalu benar-benar memberikan dampak besar untuk Soonyoung, bagaimana sebuah presensi seseorang menjadi begitu penting bagi Soonyoung saat sebelumnya tidak pernah menjadi masalah.

Menarik napas dalam, Soonyoung kembali menguatkan hatinya yang selalu terasa seperti di remas dan dihujani belati ratusan pasang saat nama dan memori dari orang itu terlintas di kepalanya lagi. Sabar, mungkin bukan tahun ini dan Soonyoung akan kembali menunggu.

Setelah mendapatkan pesanan cokelat hangat yang rencanya akan ia minum di perjalanan pulang, Soonyoung merasakan kilatan memori itu kembali datang.

Ini sudah sering terjadi, Soonyoung akan melihat bayangan wajah itu, menarik napas dan melanjutkan kegiatannya lagi. Selalu seperti itu. Setiap kali. Berulang kali.

Namun,

Kali ini kilatan bayangan itu terlihat lebih nyata dan baru kali ini Soonyoung bisa mendengar suaranya.

“Soonyoung” samar suara itu bergema di kepala Soonyoung memanggil namanya.

Soonyoung masih terdiam seperti biasa, ia akan memandangi kilatan bayangan itu hingga nanti akan benar-benar hilang dan berakhir lemas terduduk dan menangis di manapun ia berada. Sakit dan tidak berdaya atas rasa bersalah dan rindunya pada seseorang.

“Soonyoung” panggilnya lagi, bayangan itu tidak memudar karena itu Soonyoung memundurkan langkahnya bersiap membalikan tubuh meninggalkan tempatnya sedari tadi berpijak.

Tertahan.

Namun, seseorang menahan lengannya. Dingin yang Soonyoung rasakan ketika tangan orang tersebut menyentuh kulitnya diujung lapisan mantel yang membukus tubuhnya.

“Sudah gila Soonyoung” bisik Soonyoung pada dirinya sendiri. “Gue kebanyakan menghayal sampai rasanya nyata banget”

Bayangan itu menggeleng pelan.

“Ayo pulang”

Soonyoung membeku, seluruh aliran darahnya berhenti begitu saja.

Suara itu nyata.

Bayangan itu nyata.

Orang di depannya ini nyata dan,

Air matanya jatuh.

tepat ketika Wonwoo menariknya dalam peluk erat di bawah hujan salju di Kota Paris.

“Daddy”

Hallo, ini gue Mingyu.

Orang yang mungkin terlihat tolol atau bahkan mengenaskan bagi kalian. Gakpapa lah terserah karena memang ini adanya.

Udah enam bulan semenjak kepergian gue dan Soonyoung ke Paris. Gue pergi sama orang yang paling gue sayang di muka bumi setelah ayah dan bunda.

Meninggalkan kehidupan gue di sana dalam satu malam. Kalau kalian tanya apa gue masih sayang sama Soonyoung? Jawabannya masih. Gue masih sayang sama dia, kalau enggak mungkin gue udah menyerah di bulan pertama tinggal sama dia di sini.

Lo nggak akan kuat ngeliat orang yang lo sayang menangisi orang lain setiap malam di dalam tidurnya.

Kalau lo liat sekarang Soonyoung terlihat baik-baik aja, salah. Lo salah karena melihat orang dari luarnya doang atau apa yang terlihat dari sosial medianya aja.

Soonyoung adalah orang paling hebat yang pernah gue kenal dalam menyimpan rahasia. Celakanya, hal itu juga yang ngebuat dia terus sakit selama berbulan-bulan.

Soonyoung gak baik-baik aja.

Satu pagi di hari sabtu gue terbangun lebih awal karena tenggorokan yang terasa kering dan butuh segelas air putih untuk menyegarkannya.

Lampu ruang tengah masih mati, hanya sumber cahaya dari dapur aja yang waktu itu menyala. Sebelum gue melangkahkan kaki lebih dalam untuk mengambil gelas di lemari paling atas, gue melihat sahabat gue terduduk lemas memeluk lututnya di lantai dapur, terisak pelan bahkan hampir nggak bisa di denger. Gue bisa sangat yakin karena waktu itu pundaknya bergetar hebat. Soonyoung menangis untuk entah sudah yang keberapa kali.

Dari setiap langkah dan kegiatannya selalu akan ada Bang Wonwoo di pikiran dan hatinya, karena itulah terkadang Soonyoung bisa tiba-tiba menghentikan kegiatannya dan mengeluh sakit dan sesak di dada.

Bukan satu dua kali gue menemukan Soonyoung diam-diam mengusap air matanya bahkan di tengah kerumunan orang banyak. Sedalam itu rasa Soonyoung untuk Bang Wonwoo, bahkan ramainya orang dan sibuknya dia di sini belum bisa membuatnya terdistraksi dari Bang Wonwoo.

Soonyoung nggak bahagia, dia cuma berusaha bahagia untuk Bang Wonwoo dan orang di sekelilingnya berharap keajaiban segera datang. Harapan Soonyoung itu nggak muluk-muluk, dia cuma kepengen Bang Wonwoo balas satu aja pesan yang dia kirim rutin setiap hari.

Soonyoung itu akan dengan secepat kilat membuka pesan yang masuk setiap ponselnya berdenting berharap itu dari Bang Wonwoo tapi lagi-lagi perasaannya dipatahkan oleh harapannya sendiri.

Bisa gue rasakan sepedih apa hati Soonyoung sekarang, hidup dan berjuang sendiri dari kecil, berkali-kali terluka sampai akhirnya ia bisa nemuin kebahagiannya sendiri tapi lagi-lagi harus kembali terluka. Soonyoung itu orang paling kuat sekaligus orang paling lemah, dia bisa kuat buat orang disekelilingnya yang ngeliat betapa positifnya dia ngejalalin cobaan bertubi-tubi ini tapi jauh...jauh di kesendirian Soonyoung, dia rapuh, dia hancur, dia kehilangan arah dan gue gak bisa berbuat apa-apa karena bukan gue orang yang bisa menyembuhkannya.

Dari situ gue belajar merelakan dan ikhlas, tapi sayang gue buat Soonyoung gak bakal pernah luntur. Kalau mungkin sayang gue dulu seperti menggebu-gebu untuk sama Soonyoung, sekarang sudah beda perasaan gue untuk Sooonyoung adalah perasaan seorang sahabat dan saudara yang mau ngejaga orang terkasihnya untuk selalu kuat dan bahagia.

Gue sudah berdamai dengan hati gue sendiri dan gue berharap Soonyoung pun begitu.

Bagaimanapun nanti dia dan Bang Wonwoo. Semoga itu adalah jalan terbaik dari Tuhan untuk mereka.

Salam dari gue, sahabat terbaik untuk orang yang sedang kembali menangis sendirian di sudut taman Jardin des Tuileries.

“Nyong, gue kok pusing ya?” ucap Mingyu saat mengangkat menu terakhir dari atas kompor.

“Sarapan tadi udah?”

“Udah tadi di rumah, bukan pusing yang nyelekit gitu tapi gimana ya....” Mingyu mencoba menjelaskan rasa tidak beres dikepalanya.

“Lo mabuk itu, gue kata juga apa gyu” Soonyoung mencoba memijat tengkuk leher sahabatnya sedikit berjinjit di belakang. Namun, reaksi aneh yang malah Mingyu rasakan. Tubuhnya merasa panas dan terangsang?

Mencoba mengalihkan perasaan itu, Mingyu berjalan menjauh meletakkan menu tadi di atas meja makan.

.

.

Ketiganya makan dengan kidmat, lagi-lagi Mingyu menegak satu gelas wine pemberian Claire.

“Gyu, udah kek minumnya” tegur Soonyoung.

“Segini mah belom mabok nyong baru empat gelas”

Soonyoung berdecak, bukan apa-apa ia sejak tadi memang sudah memasang rambu waspada dan berharap paling tidak bisa berlindung dengan Mingyu. Maka dari itu ia berusaha sejak tadi untuk melarang sahabatnya untuk minum minuman berakohol itu agar tidak mabuk.

Setengah jam setelah mereka makan, Soonyoung kembali ke dapur membasuh piring kotor dan alat-alat masak yang mereka gunakan.

Saat selesai Soonyoung mencari dua orang yang tadi bertamu di rumahnya, aneh karena ruang tamunya kosong namun tas kulit branded hitam milik Claire masih ada di sofanya.

Soonyoung mencoba mengecek kamar tidurnya dan ternyata juga kosong tidak ada siapa-siapa, bingung tak mendapat jawaban Soonyoung akhirnya keluar lagi. Namun, saat menutup pintunya terdengar ada sesuatu yang jatuh di kamar utama yang tidak lain adalah kamar Wonwoo.

Dengan pelan Soonyoung membuka kamar tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Mingyu memangku Claire di atas tempat tidur Wonwoo sedang berciuman dengan sangat bernafsu.

“KIM MINGYU!” bentak Soonyoung dan langsung menarik tangan sahabatnya itu, yang dipanggil terkejut dan langsung melepaskan pelukan lengan kekarnya di pinggang ramping Claire.

Soonyoung marah bukan karena sahabatnya berciuman dengan yang bisa dibilang orang paling berbahaya buatnya saat ini namun karena Mingyu yang tidak bisa mengontrol diri dan tidak tahu tempat. Bagi Soonyoung tindakan Mingyu barusan sangat kelewatan, ia bisa melakukan apa saja tapi tidak di kamar tidur Wonwoo yang merupakan pemilik apartement ini ditambah pemiliknya pun sedang tidak ada. Tidakan itu tidak bisa ditoleransi, Soonyoung paham dirinya bukan orang paling suci tapi Soonyoung masih menjunjung tinggi sikap sopan santun dan tahu diri.

“GILA LO YA!” Bentak Soonyoung lagi.

Mingyu tersenyum miring.

“Kenapa? Lo akhirnya cemburu?” balas Mingyu.

“Sinting!” “Kak Claire mending lo balik pulang deh”

Claire yang masih berada di atas paha Mingyu dan tangannya yang juga masih terkait di leher yang lebih muda itu pun ikut tersenyum.

“Kenapa Yoni? Kamu kan sudah biasa? kamu marah gara-gara tempat tidurnya Wonwoo aku pinjam, hm?”

“Yoni siapa?” Mingyu yang sebenarnya masih setengah sadar bertanya.

Soonyoung meremas telapak tangannya sendiri siap melayangkan genggaman itu ke wajah Claire namun ia tahan.

“Kak, lo silahkan hancurin hidup gue tapi please jangan Daddy dan temen-temen gue” ucap Soonyoung akhirnya.

“Kamu yakin?” tanya Claire dengan seringainya yang semakin memuakkan Soonyoung.

Wanita itu turun dari pangkuan Mingyu dengan sedikit kesusahan karena tubuh Mingyu yang kekar sempat mengkungkung tubuhnya lagi.

Bisa dilihat bagian paling sensitif Mingyu di bawah sana sudah menegang dengan sempurna karena aksinya dengan Claire barusan dan mungkin juga karena efek obat yang Claire campurkan dalam wine-nya?

Mingyu, your bestfriend is a slut” ucap Claire penuh dengan nada hinaan.

Mingyu langsung menoleh pada Soonyoung, bingung.

“Dia jual dirinya di situs porno dan jadi sugar baby-nya Wonwoo seperti pelacur” lanjut Claire lagi.

“Nyong?” Mingyu yang setengah mabuk masih berharap apa yang ia dengar barusan adalah halusinasi dari alkoholnya.

Tapi tidak ada sanggahan dari Soonyoung, yang bersangkutan mengangguk lemah mengakui perkataan Claire barusan, membuat sahabatnya itu mengacak-acak rambutnya sendiri dan mengusap wajahnya kasar.

“Buat apa?!!!” tanya Mingyu sedikit kencang.

“Buat hidup dan itu bukan urusan lo, gyu. Gue tau habis ini lo bakal ungkit lagi segala bantuan yang udah lo tawarkan buat gue kemarin-kemarin dan gue tolak tapi please cukup gue capek. Ini memang pilihan gue. Dari awal gue juga mau cerita ke kalian but I've never find the right time but I think this is it, the time has finally come but still in the wrong time

Mingyu terlihat frustasi. Namun, otaknya kembali berjalan.

“Lo Claire?!! Maksud lo ngasih tau ini ke gue apa?” Mingyu menatap Claire tajam.

Oh my sweet big baby bear, aku mau kasih penawaran buat sahabatmu” ujar Claire mengelus pipi Mingyu kemudian mengecupnya.

Soonyoung diam namun pikirannya sudah kacau.

.

.

.

Di sisi lain Wonwoo dengan kecepatan penuh menginjak pedal gas mobilnya membelah jalanan kota Jakarta agar cepat sampai di apartementnya ketika tahu kabar yang di sampaikan oleh Jihoon.

Meeting tadi pun langsung ia tinggalkan tanpa berpamitan, bahkan kursi yang ia duduki hampir terbanting ke belakang saat dirinya tiba-tiba berdiri membuat orang-orang disekelilingnya keheranan.

Earphone di telinga sebelah kirinya berkali-kali menyuarakan dering panggilan keluar dengan tujuan nomor ponsel Soonyoung namun pemiliknya tak kunjung menjawab hingga panggilan ketiga.

Frustasi. Wonwoo akhirnya menghubungi Seungcheol yang kebetulan bersama Jihoon saat ini.

Won, berita lo udah naik” suara Seungcheol diseberang sana.

Wonwoo menghantam gagang stir-nya dengan kuat.


“Here's the deal, Soonyoung....or Yoni? Which one do you prefer, hm?”

“I prefer you to not call my name” balas Soonyoung.

Claire tertawa seolah-oleh ucapan Soonyoung barusan adalah hal yang paling lucu yang pernah ia dengar.

“Merasa superior ya sekarang, little slut?” ucap Claire, “Kamu tau setelah Wonwoo merasa gak butuh kamu lagi dia bakal buang kamu jauh-jauh? besok bisa aja dia bersikap seolah-oleh nggak kenal kamu *but you already in love with him. So, sebelum kejadian lebih baik kamu menyingkir ya, sayang?

kamu pasti nyadar ya baby boy keberadaan kamu tuh mengancam karir dan bisnisnya, Wonwoo?” lanjutnya lagi.

Soonyoung terdiam, selain gala dinner kemarin, Soonyoung memang tidak pernah pergi ke ruang publik lagi bersama Wonwoo bahkan dalam berita pagi minggu lalu yang Soonyoung tonton di TV, pemberitaan Wonwoo si eksekutif muda dengan bisnis sukses di tangannya masih dilebeli single. Wonwoo tidak pernah benar-benar mengenalkan Soonyoung di lingkungan pekerjaannya selain orang terdekat seperti Seungcheol, Yeri dan Joshua.

Beberapa kolega mungkin sudah bertemu Soonyoung di gala malam itu, namun seingatnya ia tidak dikenalkan sebagai siapa-siapa.

*“Overthinking, enough?

Imagine this baby boy, what if the public finally find out that* The Jeon Wonwoo yang sukses, pintar dan kaya ternyata punya simpanan sugar baby anak kuliahan yang berprofesi sebagai camboy? Ugh! Lacur banget ya seleranya Wonwoo?” sulut Claire.

“Kebayang nggak sih sama kamu gimana kira-kira tanggapan direksi di kantornya Wonwoo atau pemegang saham lain di perusahaan Wonwoo yang di Batam? Gara-gara keberadaan kamu, baby boy. Citra baik Wonwoo bisa hancur dalam satu jentikan tangan” sambung wanita itu lagi.

Soonyoung mengerutkan keningnya janggal dengan ucapan terkahir Claire barusan.

''Nggak paham?” tanya Claire dengan senyum seringainya.

Wanita itu kemudian menunjukan berbagai video masa lalu Soonyoung di akun broadcastnya sebagai camboy yang seingat Soonyoung bahkan sudah ia non aktifkan dan sudah dihapus, menunjukkan bukti-bukti dan screenshoot bahwa pemeran dalam video tersebut adalah Soonyoung yang selama ini tinggal bersama Wonwoo dan bahkan menjalin hubungan dengan status sebagai Sugar Baby-nya.

Parahnya Claire memiliki salinan rekening koran bank milik Soonyoung yang menunjukan adanya transaksi kredit uang masuk dari Wonwoo yang rutin diterima setiap bulan. Soonyoung tiba-tiba lemas, wanita ini gila.

Pada slide selanjutnya Claire menunjukan rekaman CCTV di hotel tempat Gala dinner saat Wonwoo dengan sengaja menghentikan lift dan memberikan Soonyoung blow job saat itu. Rekamannya sangat jelas bahkan wajahnya dan Wonwoo bisa dengan mudah di kenali.

Dengan itu saja bahkan hidup Wonwoo bisa hancur dalam hitungan detik.

Mingyu yang masih terduduk di atas tempat tidur Wonwoo pun tidak dapat berbuat banyak, kepalanya semakin pusing bahkan sekelilingnya terlihat seperti berputar-putar dan panas.

“So what do you think, baby boy?”

“What do you want me to do?” ujar Soonyoung melemah.

“Easy, make love to him and left Wonwoo for good” Claire menunjuk Mingyu.

“Gila kamu kak! are you still trying to blackmailed me setelah punya video aku sebanyak itu?”

“Pilihan kamu cuma itu, baby boy.”

“Aku bisa tinggalin daddy sekarang tapi enggak dengan make out sama Mingyu!”

“Why so? do you feel like you're cheating?”

Soonyoung lagi-lagi terdiam tapi dalam hatinya Soonyoung mengiyakan pertanyaan Claire barusan.

Soonyoung sudah jatuh cinta dengan Wonwoo entah sejak minggu ke berapa ia menempati apartement ini, baginya Wonwoo bisa memberikan tempat nyaman dan aman tanpa harus takut menjadi dirinya sendiri. Baginya Wonwoo adalah gerbang rahasia yang menyimpan seribu memori dan rasa, sekaligus rumah bagi dirinya yang hilang arah. Saat ini Wonwoo sudah memiliki segalanya yang ada di hati Soonyoung.

Membuatnya tersakiti dengan berkhiatan di belakang Wonwoo tidak akan pernah ada dalam setiap pilihan yang akan Soonyoung ambil. Namun, saat ini jika Soonyoung harus mengorbankan karir yang sudah Wonwoo bangun, bisnis yang sudah ia rintis hingga sukses dan membawa namanya menjadi besar demi menjaga perasaan dan urusan cinta sepertinya ia akan mulai berpikir.

Menjadi egois untuk masalah hati dan menghancurkan hidup dan pengorbanan Wonwoo serta ribuan pekerja yang bernaung di bawah perusahaannya rasanya tidak benar.

Soonyoung tidak ingin perusahaan Wonwoo terkena imbas dari urusan pribadi antara dirinya dan Wonwoo. Jika seseorang yang kali ini harus berkorban demi nama Wonwoo dan orang banyak maka Soonyounglah yang akan maju. Soonyoung akan lakukan. Pikirnya, hanya ini jalan terbaik bagi semua.

“Apa lo butuh rekaman gue make out sama Mingyu sekalian?”

No, I don't need that, baby boy. Strip yourself and hop onto him, make you feel comfortable as you usually do with Wonwoo until I say stop” ucap Claire sambil menggantung tab-nya di tangan kanan, mengayun-ayunkan tab berisi artikel dan video milik Soonyoung dan Wonwoo yang siap di posting tadi.

Tidak berpikir lebih lama, Soonyoung kemudian menarik kaos abu-abu yang ia kenakan dan membuangnya ke lantai, menyisakan celana sweatpants pendeknya.

Ia menoleh kepada Mingyu, sahabatnya yang sudah setengah sadar itu menggelengkan kepalanya lemah masih mengisyaratkan Soonyoung untuk tidak melakukan ide gila Claire barusan. Akal sehat Mingyu memang masih tersisa sedikit namun birahinya berkata lain, karena saat Soonyoung naik ke pangkuannya, Mingyu ikut menyambut pinggang sahabatnya itu dan kemudian menciumnya.

Di depan mereka, Claire duduk bersilang kaki di sofa milik Wonwoo. Tersenyum seperti iblis yang menyambut kemenangannya.

.

.

.

“SOONYOUNG!!!!”

ketiga orang di kamar itu terkejut.

bahkan Soonyoung yang masih menciumi Mingyu sampai tersentak.

Wonwoo. Datang dengan tergesa. Mendobrak pintu kamarnya sendiri dan melihat Soonyoung berada di atas pangkuan Mingyu. Mencumbunya.

Persis seperti rencana Claire.

.

.

Soonyoung ingin menangis, hatinya sakit karena sudah menyakiti pria ini.

“GET OFF OF HIM!!” perintah Wonwoo.

Soonyoung masih terdiam, kedua tangannya bertumpu pada pundak Mingyu dan pinggulnya di peluk posesif oleh si sahabat.

I'm sorry, I can't” akhirnya kata Soonyoung nanar.

“TURUN DARI SANA SEKARANG!”

Soonyoung tidak menurut.

“*Keep going, Yoni. I haven't tell you to stop” ucap Claire enteng.

“YOU!!” Wonwoo menunjuk Claire dengan telunjuknya. “Pergi dari sini!”

Why daddy? We have something to watch here? Let's enjoy it while it lasts” balas Claire yang malah menarik telunjuk Wonwoo dan menggenggamnya, yang otomatis langsung di lepaskan oleh Wonwoo.

“Claire, pergi dari sini sekarang sebelum saya benar-benar bisa melakukan kekerasan kepada perempuan!”

You won't dare daddy, you're too kind to do that“ “gimana kalau daddy kembali aja sama aku dan biarkan mereka pergi jauh. Happy ending.....atau Oh! daddy suka yang menantang, kan? Gimana kalau kita juga bercinta disini? Rasanya panas kalau hanya menonton mereka aja” Claire kemudian melirik Soonyoung dan Mingyu yang masih di atas tempat tidur Wonwoo.

Tidak di hiraukan oleh Wonwoo karena ia sekarang masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil bathrobe miliknya dan berjalan menuju tempat tidurnya, menyelimuti punggung telajang Soonyoung.

“Turun, Yoni” perintah Wonwoo lagi.

Kali ini Soonyoung melihat Wonwoo lebih dekat, melihat mata itu penuh dengan emosi yang tertahan dan membuatnya masih bisa melakukan hal barusan membuat perasaan Soonyoung remuk. Dirinya merasa menjadi orang paling kejam dan tak memiliki harga diri.

Dengan satu tetesan air mata dalam diam, Soonyoung akhirnya turun dari pangkuan Mingyu, disambut oleh Wonwoo yang langsung mengikat tali bathrobe miliknya itu untuk menutupi seluruh tubuh Soonyoung.

“Kembali ke kamar kamu” ujar Wonwoo datar.

Soonyoung menggeleng.

“Atau kamu mau lihat saya memukuli Mingyu?”

“Jangan, daddy” balas Soonyoung.

Claire yang melihat itu memanas, jantung dan hatinya bergemuruh marah dan kesal. Bukan seperti ini maunya.

“Ke kamar kamu. Sekarang”

Dengan itu, Soonyoung pergi meninggalkan kamar Wonwoo melewati Claire tanpa meliriknya sedikitpun.

Saat pintunya tertutup sempurna. Wonwoo langsung menyambar Mingyu dengan total tiga hantaman mengenakan kepalan tangannya di wajah Mingyu. Yang di hantam tak melawan dan akhirnya pingsan karena sudah mabuk dan tak berdaya lagi.

Tak lama dua orang menyusul mendobrak kamar Wonwoo. Ada Seungcheol dan Jihoon melerai pertarungan tunggal itu sebelum Wonwoo melayangkan pukulan keempatnya.

Tanpa suara, Claire minggalkan kekacauan yang sudah dibuatnya dengan perasaan yang belum puas.

“Ada perlu apa kak Claire?” Soonyoung masih berdiri di depan pintu.

“Kemarin kita kan gak jadi masak-masaknya Soonyoung, terus Mingyu juga bilang kalau dia mau kesini. Pas banget dia juga jago masak” jawab Claire ringan dengan nada suara yang dibuat-buat.

Kalau dulu mungkin Soonyoung termakan dengan sifat palsu Claire di depannya. Namun, tidak dengan kali ini. Ia sudah memasang ancang-ancang dan warning ketika berhadapan dengan wanita ini.

“Kenal sama Mingyu?”

“Kenal Nyong, sering bolak-balik kantor bokap” tiba-tiba Mingyu menyahut sambil berjalan dari depan lift.

“Biasa kerjaan kantor” sambung Claire lagi.

Soonyoung masih terdiam belum mempersilahkan kedua tamunya itu untuk masuk.

Sebenarnya ia ragu dan takut apalagi saat ini sedang tidak ada Wonwoo, dan fakta bahwa Mingyu kenal dengan Claire sama sekali tidak membantu.

“Nyong, numpang pipis dong!” Mingyu dengan seenaknya menyelonong dari samping dan langsung masuk ke apartment.

“O- iya gyu”

Tidak ada pilihan, dengan canggung Soonyoung mengajuk Claire ikut masuk ke dalam apartementnya dengan perasaan was-was.

Belum sempat mengetik hingga selesai untuk mengabari Wonwoo. Mingyu sudah keluar lagi dari kamar Soonyoung setelah menggunakan kamar mandi di kamar tersebut. Mingyu, Jeonghan dan Seungkwan memang sudah biasa keluar masuk kamar Soonyoung dengan bebas. Toh mereka sahabat, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan.

Mingyu datang menghampiri Soonyoung dan Claire yang masih ada di ruang tamu.

Sengaja Soonyoung tidak memberikan ruang gerak yang luas untuk Claire di apartementnya.

“Claire, lo belanja apaan?” tanya Mingyu menunjuk kantong belanja warna putih yang ternyata sejak tadi di bawa oleh Claire.

“Bahan buat masak, lo ajarin gue dong gyu yang kemarin gak sempat mulu ih” jawab Claire lagi. Aneh bagi Soonyoung, karena ada nada menggoda dari suara Claire barusan kepada Mingyu.

“Sibuk sendiri sih sama suaminya” balas Mingyu.

“Ck udah deh”

Soonyoung hanya memperhatikan interaksi kedua orang di depannya ini. Menerka-nerka sedekat apa hubungan Mingyu dengan Claire.

“Nyong! Bengong kenapa?” tanya Mingyu menghampiri, Soonyoung hanya menggeleng. “Ayuk ke dapur” ajak Mingyu sudah membawa kantong plastik putih milik Claire tadi dan menggandeng tangan Soonyoung ke dapur.

“Go food aja gyu” balas Soonyoung pelan.

“Yee sayang banget ini nyong udah di beli banyak. Lagian sekalian masak buat Kak Han sama Kwan” Sejak pesannya terakhir tadi dengan Wonwoo, Soonyoung memang tidak mengecek lagi ponselnya, begitu pula Mingyu sehingga tidak ada yang tahu bahwa kedua sahabat mereka yang lain berhalangan hadir hari ini.

.

.

.

Mingyu asik membersihkan beberapa sayuran di wastafel, sedangkan Claire yang sekarang sudah berada di dapur karena di ajak oleh Mingyu tengah mengeluarkan 2 botol wine dari plastik lain yang dibawanya.

Soonyoung hanya diam dengan perasaan tidak tenang di sudut ruangan berukuran sedang itu.

Saat teringat untuk kembali mengambil ponselnya dan mengabari Wonwoo, ia kembali di panggil oleh Claire.

“Soonyoung, minum dulu sini” Claire menyodorkan satu gelas wine.

“Ah, anu kak aku gak minum” balas Soonyoung.

“Oh larangan di kontraknya daddy, ya?” ucap Claire santai, sengaja agar didengar oleh Mingyu.

Soonyoung menoleh ke arah Mingyu dengan tatapan horor, yang ditatap menghentikan segala kegiatannya.

“Daddy?” tanya Mingyu.

“Ups” ucap Claire terdengar sangat palsu.

“Uh— itu gyu...nanti gue cerita” balas Soonyoung.

“Nyong, semoga feeling gue salah ya” kata Mingyu.

Soonyoung hanya menatap mata sahabatnya itu, kemudian mengambil gelas yang ditawarkan Claire barusan dan meminumnya cepat.

Ia butuh alkohol.

Ketiganya kemudian melanjutkan kegiatan masing-masing, Soonyoung membantu Mingyu mengiris beberapa sayuran dan daging sedangkan Claire yang katanya hendak belajar memasak malah asik bermain ponselnya di meja makan.

“Gak gitu potongnya, Nyong” Mingyu mengambil alih daun bawang yang sedang diiris Soonyoung dan menunjukan cara yang benar.

“Gyu, itu lo minum udah habis 3 gelas ntar mabok aja”.

“Gue mah tahan nyong nggak cemen kaya lo” ejek Mingyu.

“Lo mabok gue laporin bokap lo ya!”

“Jangan gitu dong jelek”

Soonyoung terdiam dan membeku karena pada saat mengatakan itu, satu kecupan mendarat di pipi Soonyoung.

Mingyu mencium pipinya.

Bukan. Bukan ini.

Bukan persahabatan yang seperti ini. Soonyoung tidak mau.

Soonyoung tahu sejak lama kalau Mingyu menaruh hati padanya. Soonyoung tahu segala perhatian Mingyu untuknya memiliki maksud dan bukannya Soonyoung tidak peka, ia hanya tidak ingin memberikan harapan lebih pada Mingyu. Perasaannya pada Mingyu hanya sebagai sahabat. Dia menyayangi Mingyu sama ratanya dengan sayangnya pada Jeonghan dan Seungkwan. Tidak lebih dan sangat pas.

Urusan skin skip mereka berempat memang sering berpelukan untuk berbagi rasa pada momen-momen bahagia ataupun mengharukan disaat keempatnya berbagi kisah. Namun, tidak untuk sebuah ciuman. Bagi Soonyoung itu sudah diluar batasnya karena selalu ada sekat untuk setiap hubungan untuk membedakan setiap rasa dan punya.

Soonyoung hanya melanjutkan pekerjaan lain yang ada di dapur tanpa membahas aksi tiba-tiba Mingyu barusan dan Claire di ujung sana tersenyum melihat itu.

Mingyu sudah mulai bereaksi dari hasil wine racikannya

Soonyoung turun dari mobil Wonwoo ketika mesin mobil mati tepat pada halaman luas yang sangat ia kenali, walaupun banyak perubahan namun bau rumput di tempat itu masih sama, persis seperti dua tahun lalu saat Soonyoung tinggalkan. Bau rumput yang menjadi favoritnya selama 10 tahun hidup di sana.

Wonwoo melepas kaca mata hitamnya saat turun menyusul Soonyoung yang masih terpaku memandangi gedung yang cukup luas dan besar di depannya. Wonwoo paham ini adalah momen emosional bagi Soonyoung jadi ia membiarkannya sejenak tenggelam dalam apapun yang ada dalam pikiran Soonyoung saat ini dan lebih memilih menunggunya di belakang, bersandar pada sisi mobil.

“Daddy?” Panggil Soonyoung saat sadar dirinya melamun sejak tadi.

Wonwoo melemparkan senyum paling teduhnya pada Soonyoung dan demi Tuhan itu adalah senyuman paling indah yang diberikan oleh seorang Jeon Wonwoo untuk Soonyoung semenjak tinggal bersama tiga bulan terakhir. Jujur, tarikan senyum barusan membuat dada Soonyoung berdegup kencang, ia tahu rasa ini semakin dalam untuk orang di depannya.

“Let's get inside?” ajak Wonwoo dengan menggenggam tangan Soonyoung sangat lembut, membuat yang di genggam tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Bagi orang yang tidak tahu mungkin kedua orang ini terlihat seperti pasangan yang sesungguhnya, pasangan dengan cinta disetiap tatapan mata dan sentuhan kupu-kupu di setiap interaksinya.

Di panti asuhan itu sudah tidak ada lagi yang Soonyoung kenali kecuali satu petugas kebersihan yang memang sudah puluhan tahun bekerja di sana.

“Dek Yoni?” sapa petugas kebersihan itu yang sudah terlihat sangat tua dengan rambutnya yang mulai memutih.

“Pak Anwar!” Soonyoung terlihat sangat senang.

“Betul dek yoni?” Soonyoung mengangguk dan keduanya berpelukan, sebenarnya Soonyoung lah yang memeluk lebih erat kelewat bahagia.

“Ini juga Mas Wonwoo ya?” tanya Pak Anwar saat melihat sosok lain yang dikenalinya.

“Iya Pak” jawab Wonwoo ramah kemudian memeluk Pak Anwar, ada apa dengan Wonwoo?, batin Soonyoung, ia bahkan tidak pernah melihat Wonwoo seramah itu pada orang lain. Ah! mungkin pernah pada saat di gala dinner saat Wonwoo menyapa kolega dan rekan bisnisnya. Namun, yang kali ini berbeda. Wonwoo terlihat sangat tulus?

“Mas, Puji Tuhan akhirnya ketemu juga ya sama yoni” ujar Pak Anwar menepuk-nepuk pundak Wonwoo.

“Iya pak” balas Wonwoo masih ramah dan tersenyum.

“Loh Pak Wonwoo kenal juga sama Pak Anwar?” Soonyoung sengaja memanggil Wonwoo dengan sebutan 'Pak' agar Pak Anwar tidak bingung.

“Yoni gimana toh? ini sama Mas Wonwoo apa baru ketemu hari ini jadi bingung begitu?”

“Aku juga bingung pak hehehe” Soonyoung menggaruk tengkuknya.

“Yoni belum tau, Pak. Mungkin juga masih lupa sama saya” balas Wonwoo senetral mungkin.

Ada degup lain di dada soonyoung saat mendengar Wonwoo menyebut nama kecilnya. Seperti ada sekelebat memori yang lewat namun entah apa Soonyoung pun tak yakin. Wonwoo tidak pernah memanggil Soonyoung dengan nama kecilnya walaupun ia yakin Wonwoo sudah tahu nama itu dari Jihoon.

“Haduh Yoni ada-ada saja, tapi paling juga dia teriak sendiri kalau sudah ingat, Mas” ujar Pak anwar lagi.

Wonwoo mengangguk.

“Aku dari kemarin bingung loh kaya yang gak tau apa-apa, Kak Ujik juga mencurigakan”

“Ujik kemarin kesini yon, kamu juga sudah ketemu dia? kenapa nggak ikut?”

“Dia gak kabar-kabarin aku, Pak anwar. Curang banget kan?” Sungut Soonyoung.

“Yasudah...yasudah... kamu itu dari dulu kerjaannya merajuk terus, sini kita ke taman belakang saja. Anak-anak lagi pada rame main, bapak bikinin teh anget sekalian” ajak Pak Anwar.

“Terimakasih, Pak” balas Wonwoo mengikuti Pak anwar disusul Soonyoung yang menggandeng lengannya tak tahu-tahu, tentu saja tanpa sepengetahuan Pak anwar.

.

.

“Daddy” bisik Soonyoung saat mereka duduk di pinggiran taman melihat anak-anak panti asuhan Puri Kasih ramai bermain.

“Hmm”

“Sering banget ya donasi kesini sampai kenal akrab begitu sama Pak anwar?”

“Lumayan” balas Wonwoo menatap mata Soonyoung, ia kemudian berdeham menjauhkan wajahnya yang ternyata sangat dekat dengan Soonyoung.

.

.

“Nah ini diminum dulu ya” Pak Anwar datang membawakan tiga cangkir teh hangat untuk mereka dan diletakan pada meja kayu di sebelah kiri.

“Pengurusnya gak ada yang aku kenal ya, Pak” kata Soonyoung.

“Iya yon, semenjak bu siska meninggal kamu ingatkan? itu sudah mulai banyak pergantian dan dua tahun terakhir malah lebih besar, semua pengurusnya satu persatu resign atau di ganti. Cuma satu mungkin karena gak ada yang sanggup bersih-bersih panti sini kecuali saya, makanya saya nggak di ganti” canda Pak anwar pada akhir kalimatnya.

“orang dinas sosial masih sering kunjungan, Pak?” Sekarang Wonwoo yang bertanya.

“Jarang, Mas. Paling dua bulan sekali itu juga kalau ada anak yang mau di daftarkan, selebihnya sepi-sepi aja”

Ketiganya kemudian banyak bercerita tentang panti asuhan dulu dan sekarang hingga tak terasa setengah jam berlalu dan Pak Anwar harus kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, sebelum pergi Pak Anwar kembali menyampaikan sesuatu yang membuat Soonyoung kembali bingung.

“Mbakmu yang itu apa kabar yon? Udah lama juga gak ke sini”

“hah? siapa pak?”

“Siapa ya saya lupa namanya kaya orang bule, Klarisa? Klara? Crista? Sek...” Pak anwar mencoba mengingat-ingat kembali.

”....Oh! itu yon, Claire” sambung Pak Anwar.

Wonwoo terkejut namun Soonyoung lebih terkejut.

“Aku nggak punya mbak, Pak. nggak ada keluarga sama sekali” balas Soonyoung bingung.

“Kamu itu semua orang di lupain, yon. Saya tak balik ke atas dulu mau isi air tandon. Kalian keliling-keliling aja bebas”

Setelahnya Pak Anwar berpamitan pergi.

Soonyoung masih diam mencerna kata-kata dari Pak Anwar barusan, apakah maksudnya Claire yang sama dengan yang ia kenal? Kenapa Pak Anwar seolah-olah menganggap Claire adalah keluarganya?

“Soonyoung...

.....maaf” ucap Wonwoo akhirnya, mengamit tangan Soonyoung.

“Aku bingung daddy” balas Soonyoung sendu bahkan tak menatap Wonwoo.

“Sayang....apa yang akan kamu dengar dari saya hari ini pasti akan membuatmu lebih bingung bahkan terkejut, tapi jujur niat saya menyimpan ini sejak kemarin bukan karena niat buruk. Saya cuma....” Wonwoo menjeda kalimatnya dan menarik napas dalam.

”....takut, saya takut kamu pergi lagi”

Benar saja, Soonyoung langsung mengerutkan alisnya tak paham. Soonyoung bahkan tidak pernah sekalipun absen memberikan kabarnya pada Wonwoo, di masa kuliah kemarin sebelum libur semester Soonyoung dengan rutin mengirimi pesan singkat jika ia berangkat ke kampus saat Wonwoo sudah di kantor, mengabarinya jika pulang terlambat, bahkan tidak akan pergi jika Wonwoo belum membalas pesannya atau bahkan melarangnya. Semua Soonyoung lalukan agar Wonwoo tidak khawatir.

“I have lost you once”

Kembali Soonyoung mengerutkan alisnya.

Wonwoo menariknya mendekat, tangan masih menggenggam dengan erat.

Hari ini tidak tahu kenapa Soonyoung kembali mengenakan gelang merah pemberian Wonwoo saat ulang tahunnya kesepuluh dulu. Wonwoo mengelus gelang yang melingkar indah di pergelangan tangan Soonyoung itu dengan ibu jarinya dan memandanginya dalam diam.

“I won't leave you” ujar Soonyoung.

“Kamu belum dengar penjelasan saya”

“I promise, I won't leave you daddy”

Wonwoo menatap Soonyoung lamat kemudian mencium bibirnya pelan, menyampaikan perasaannya melalui ciuman itu.

“Soonyoung, bahkan ketika kamu akan pergi setelah mendengar pengakuan saya hari ini tidak apa-apa. Saya sudah siap. Kalau kemarin saya takut, hari ini tidak. Saya sudah yakin, kamu berhak memilih pilihanmu”

Sekarang Soonyoung lah yang merasa takut dengan apa yang akan di sampaikan Wonwoo.

“Soonyoung lihat saya” Soonyoung yang menunduk mengangkat kepalanya pelan menatap Wonwoo, memperhatikan lelaki di depannya yang mengambil satu kaca mata baca yang terlihat jadul, kaca mata dengan lensa yang cukup tebal untuk dipakai oleh seseorang yang masih terbilang muda.

Soonyoung masih diam namun dadanya berdebar luar biasa, seperti ada gemuruh petir yang siap menyambar, seperti deras arus air terjun yang kapan saja bisa menggulung sekelilingnya, seperti tabuhan genderang paling kencang yang siap memekakan telinga bagi siapun yang mendenganya, seperti Soonyoung yang akan meledak di setiap detik ia menatapnya lebih lama, mengingat memori itu lebih nyata.

“Yoni” bisiknya teramat pelan membuat Soonyoung spontan menggenggam tangan itu lebih kuat, meremasnya kencang.

Soonyoung menangis tanpa suara. Tatapannya lurus pada lelaki berkacamata itu namun air matanya menetes menyesakan dada dan tenggorokkannya.

“Yoni...saya rindu”

Lelaki itu pun menangis di balik kacamatanya, dadanya lebih sesak.

Kepercayaan dirinya yang ia pupuk sejak kemarin tiba-tiba runtuh, rasa takutnya kembali menggerogoti.

Soonyoung masih menatap pria berkacamata di depannya itu, menyerap seluruh memori 10 tahun lalu yang sempat hilang di kepalanya, yang sempat mengabur oleh kerasnya hidup.

“Yon—”

“Kakak” panggil Soonyoung.

Dengan itu pertahanan Wonwoo runtuh, ia menarik tangannya dari genggaman Soonyoung, untuk menutupi wajahnya yang kini mengalir air mata dengan deras, ia menangis hebat terisak di balik kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya, tubuhnya bergetar, bahkan suara isakan itu begitu jelas di indra pendengaran Soonyoung, suaranya begitu menyakitkan.

Bagi Wonwoo hanya Tuhan yang tahu bagaimana rindu yang ia simpan dalam-dalam untuk Soonyoung. Bagaimana malam Wonwoo begitu gelap mengingat setiap penyesalannya mengabaikan Soonyoung sesaat dan kemudian kehilangannya untuk waktu yang lama.

Emosinya tumpah saat ini di depan seseorang yang ia cintai sejak entah pada permainan atau gelak tawa di pertemuan keberapa 10 tahun silam.

“Kak...kakak” panggil Soonyoung dengan air mata yang juga masih mengalir di pipinya, tangannya menjentikkan kuku-kukunya takut dan ragu.

Tangan Soonyoung bergetar namun ia beranikan untuk memegang tangan Wonwoo yang masih menutupi wajahnya.

“Ini betul kakaknya Yoni, hm? Kak nu yang di seberang rumah Yoni?”

Wonwoo mengangguk masih menangis namun tangannya sudah di pegang lagi oleh Soonyoung.

“Kak nu...Kak...Yoni juga rindu” tangis Soonyoung pun akhirnya pecah, Soonyoung mengangkat tubuhnya dan memeluk Wonwoo yang begitu rapuh. Memeluk laki-laki yang sebelumnya ia kenal begitu kuat.

Keduanya saling berpelukan sangat erat seolah-olah dunia akan berakhir jika mereka melepas pelukan itu.

Soonyoung menciumi pucuk kepala Wonwoo, yang lebih tua menenggelamkan kepalanya di dada yang lebih muda, memeluk pinggangnya kuat.

Sosok berkacamata dari sepuluh tahun lalu yang menjadi satu-satunya keluarga saat ia di tinggalkan kedua orang tuanya, pemuda kurus dengan kaca mata tebal yang selalu datang ke rumah Soonyoung kecil untuk menemaninya makan atau sekedar bermain di halaman depan, sosok yang banyak memberikan pengertian untuk Soonyoung yang masih berusia 8 tahun dan harus menerima kenyataan pahit, sosok yang menjadi kakak pelindung andalan Soonyoung yang membantu biaya pendidikannya hingga lulus sekolah, kakak itu kembali. Ia nyata bersamanya selama ini, bagaimana bodohnya perasaan Soonyoung tiga bulan kebelakang tidak menyadari sosok itu sudah bersamanya lagi.

Wonwoo tak lagi mengenakan kaca mata tebalnya, ia bukan lagi anak laki-laki berbadan kurus dengan tas ransel berat berisi buku-buku ekonomi berbahasa asing, dia bukan lagi Wonwoo yang mudah kedinganan saat bermain hujan-hujanan di hutan belakang perumahan mereka. Wonwoo yang sekarang jauh lebih kuat dan percaya diri, banyak perubahan yang terjadi pada Wonwoo yang sekarang dengan mata yang tajam, namun apapun alasanya harusnya ia sadar. Harusnya ia bisa mengenali pria itu lebih cepat.

.

.

.

“Yoni it hurts so much when I lost you” ucap Wonwoo saat perlahan perasaannya mulai tenang oleh usapan Soonyoung di punggungnya.

“Aku pikir Kak nu nggak mau ketemu Yoni lagi” ujar Soonyoung, kini keduanya kembali duduk berhadapan tangan masih saling mengenggam satu sama lain.

“Saya terlalu sibuk dengan diri sendiri sampai lupa saya punya prioritas. Saya punya adik kecil yang pelan-pelan ternyata saya tinggalkan, saya pikir saya akan terus bisa mengawasi kamu walaupun dari jauh, saya lupa kalau kamu bertumbuh dewasa dan kapan saja bisa memilih jalan hidupnya sendiri, saya lupa sampai saya kehilangan kamu 2 tahun lalu” ungkap Wonwoo jujur.

“Yoni pikir...kakak benci yoni, kakak nggak pernah kunjungi yoni lagi dari SMP. Yoni kangen tapi Yoni nggak tau cari kakak kemana”

“Sayang....Kak nu ada sama Yoni sampai kamu SMA walaupun saya cuma liat Yoni dari jauh

saya tau dulu yoni suka nari di sekolah, saya juga tau yoni juara 2 olimpiade matematika tapi maaf kak nu ngga kasih selamat sama yoni” ujar Wonwoo mengusap pipi basah Soonyoung.

“Maaf sayang, saya dulu egois. Saya pikir dengan memenuhi kebutuhan yoni di panti dan sekolah akan cukup membuat yoni aman dan nyaman tapi ternyata salah. Langkah saya salah waktu itu, harusnya saya nggak perlu bekerja terlalu keras dan tetep ada di samping Yoni”

“Yoni bingung, kakak setiap bulan selalu titip uang sekolah ke almarhum Bu Siska tapi nggak pernah muncul jenguk Yoni. Yoni sempat pikir kakak cuma menggugurkan tanggung jawab dengan bayar sekolah Yoni tapi sebenernya sudah capek ketemu Yoni karna Yoni banyak merepotkan” ungkap Soonyoung lagi mengutarakan perasaannya yang ia simpan bertahun-tahun lalu, dan karena itu pula ia tidak pernah mau mencari Wonwoo.

“Enggak Yoni, nggak begitu” ujar Wonwoo mengusap poni Soonyoung yang tertiup angin.

“Sejak kapan kakak tau yoni?”

“Sejak kamu ketemu Jihoon di kantor”

“Satu setengah bulan yang lalu?”

“Iya sayang”

“Selama itu kak nu sembunyikan?”

“Sebenarnya lebih lama, saya sudah punya feeling kalau itu Yoni semenjak temenin kamu belajar buat UAS. Saya liat gelang itu di box di atas meja belajar kamu” Wonwoo kembali mengusap gelang merah pemberiannya untuk Soonyoung.

“Gelang? Gelang ini?” Soonyoung menunjuk gelang merah yang sejak tadi diusap Wonwoo dengan ibu jarinya.

“Iya gelang ini” Wonwoo menarik lengan baju kemejanya hingga siku, memperlihatkan gelang yang sama di pergelangan tangannya, persis dengan yang di pakai oleh Soonyoung.

Senyum Soonyoung mengembang. Benar, iya sudah yakin orang di depannya ini adalah Kak Nu-nya dari 10 tahun lalu.

Soonyoung kembali teringat, percakapannya tempo hari dengan Wonwoo tentang kakak masa kecilnya.

“Obrolan kita waktu itu?”

“Iya saya sudah tau itu kamu dan Yoni.....saya belum berkeluarga”

Soonyoung tersenyum, senang dan lega sekaligus malu.

“Kenapa lama-lama sembunyiinnya Kak nu?”

“I wanted to make sure dan saya takut....

...kamu benci saya setelah tau, saya takut kamu pikir saya memanfaatkan kamu dan kamu pergi lagi” jujur Wonwoo.

“Aku sudah bilang, aku nggak bakal tinggalin Kak nu”

“Wonwoo. Kamu bilang nggak akan ninggalin Wonwoo. Your daddy Wonwoo not your Kak nu

Soonyoung kini tertawa.

“Sama aja, you're still my kak nu and my hot daddy wonwoo. Nothing can change-” Soonyoung tidak melanjutkan ucapannya, ia terdiam. Tiba-tiba perjanjian di kontraknya dengan Wonwoo muncul dalam ingatan Soonyoung.

“Change what, Yoni?”

“Nothing kak”

“Please be honest, I've been suffer for the past few years to find you”

”.... I can't say it” ucap Soonyoung pelan dan menunduk.

“Say it”

“Kita punya kontrak kak nu”

“SCREW THAT FUCKING CONTRACT!” “It's void”

“What? No kak!”

“Soonyoung, saya sayang sama kamu” Soonyoung otomatis menoleh. “Not as my little brother, but as a person”

Soonyoung berdiri.

Menghadap Wonwoo.

Dan menciumnya.

Dalam.

“Kak, you're still my kak nu and my daddy wonwoo. Nothing can change how I feel about you. Aku juga sayang daddy, sayang kak nu, sayang kamu” ujar Soonyoung saat melepas ciumannya.

Kini keduanya saling menukar senyum, tangan Soonyoung ia lingkarkan pada leher Wonwoo dan hidung mereka bergesekan satu sama lain. Mereka bahagia. Mereka kini utuh.

Karena mereka akhirnya saling menemukan.

Soonyoung memasuki salah satu cafe yang berada di Mall Kota Kasablanka yang dari luar terlihat sangat nyaman dengan suana yang tidak terlalu ramai, diujung cafe tersebut ada satu sosok yang sudah bertahun-tahun ia kenal dengan baik. Sosok yang cukup banyak punya andil selama masa remaja Soonyoung di Panti Asuhan.

Lee Jihoon atau yang sering Soonyoung panggil Kak Ujik adalah salah satu anak yang juga tinggal di panti asuhan, keduanya bertemu ketika Soonyoung yang kala itu berusia 8 tahun di tempatkan di sana oleh petugas dari Dinas Sosial pasca kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.

Jihoon yang lebih dewasa saat itu sering menemani Soonyoung dalam setiap kegiatannya di panti, kejadian naas yang terjadi pada Soonyoung kecil di usianya yang sangat muda memberikan dampak yang cukup besar pada kepribadiannya. Saat pertama kali datang, Soonyoung bahkan tidak berbicara sama sekali selama hampir dua bulan, ia hanya akan berbicara pada almarhum Ibu Siska pemilik panti asuhan.

Jihoon yang paham dengan situasi itu dan sudah merasakan lebih dulu hidup sendiri di panti asuhan membuatnya iba kepada Soonyoung. Tidak ada satu haripun Jihoon absen menyapa Soonyoung dan mengajaknya bermain, makan ataupun belajar bersama, sampai akhirnya di suatu pagi Soonyoung kecil datang ke kamar Jihoon meminta bantuannya untuk menemaninya ke kamar mandi membuang air kecil, dan sejak pagi itu keduanya mulai bersahabat.

.

.

.

“Kak ujik!” Soonyoung datang dengan suasana hati yang baik.

“Pesen makan dulu” jawab Jihoon.

“Ditraktir nggak?”

“Iya, buruan panggil masnya gue juga laper”

“Oke”

Setelah makanan mereka sampai keduanya menikmati makan siang dengan lahap dan sedikit bernostalgia tentang masa-masa mereka selama di panti asuhan dulu.

“Kak lu inget nggak pernah nyemplung di gorong -gorong deket pohon jambu?” tawa Soonyoung meledak saat mengingat kejadian itu.

“Ngehe banget itu juga gara-gara sedal lo jatoh, Yon”

“Padahal ya gapapa juga kalo lo nggak ngambilin, kan sendalnya udah putus” lagi-lagi Soonyoung tertawa di antara suapan makan siangnnya.

“Lo waktu itu nangis kejer ya bego!” berbanding terbalik, Jihoon merasa kesal diingatkan kejadian memalukan yang pernah terjadi pada dirinya hampir satu dekade yang lalu.

.

. Setelah asik bercerita Jihoon akhirnya mengangkat topik yang sebenarnya dihindari Soonyoung sejak tadi.

“Jadi Yon kapan lo pertama kali ketemu Wonwoo?” tanya Jihoon menyuap sendok terakhirnya.

“Dua bulan lalu kak pas gue mau nyewa apartnya, dikenalin sama temen gue”

“Itu pertama kalinya banget lo ketemu dia?”

“Iyalah, circle gue mah anak-anak kampus doang mana mungkin bisa kenal sama bos kantor gedongan begitu” jelas Soonyoung jujur.

“Yakin? sama sekali nggak familiar sama mukanya?”

“Enggak. Kenapa sih? lo aneh banget” sungut Soonyoung.

“Kok lo yang sewot, Yon? Harusnya kan gue yang marah sama kelakuan lo”

“Hmm iya maaf” cicit Soonyoung menatap piring yang sudah kosong.

“Yon, gue bukan mau ngantur hidup lo apalagi setelah bertahun-tahun kita baru ketemu lagi. Gue cuma mau lo renungkan apa yang mau gue bilang. Lo udah dewasa dan gue bakal ngomong sebagai kakak lo.

Lo pasti sudah sangat tau kalau hubungan lo sama Wonwoo itu nggak sehat”

Soonyoung mengangguk.

“Untuk sekarang mungkin belum ada orang yang tau tapi nanti? Who knows? Wonwoo itu nggak cuma melakukan satu pekerjaan, diluar sana dia punya bisnis yang besar banget, lo bahkan nggak akan percaya berapa banyak duit yang dia hasilkan setiap menitnya” tutur Jihoon.

“Dunia bisnis itu penuh persaingan, Yon. Mulai dari yang sehat sampai yang curang. Gue nggak mau kalau nanti ada orang memanfaatkan elo” sambung Jihoon.

“Kak ini cuma lima bulan” balas Soonyoung.

“Justru itu yon, lima bulan cukup buat ngehancurin hidup orang selama-lamanya”

“Lo jangan nakut-nakutin gue dong”

“Gue nggak nakutin, gue cuma mau membuka pikiran lo. Setelah lima bulan lo mau apa? Ngelanjutin hidup lo lagi kan?”

“Iya” jawab Soonyoung.

“Apa lo nggak was-was kalau nanti ada orang yang tau tentang pekerjaan masa lalu lo? Dunia kerja itu kejam yon, bahkan orang terdekat lo bisa jadi yang paling jahat. Reputasi lo bisa ancur dalam hitungan detik, dalam 1 jepretan foto bahkan dari satu screenshoot percakapan. Apa lo nggak pernah mempertimbangkan itu sebelum lo setuju dengan tawaran Wonwoo?”

Soonyoung menggeleng.

“Gue kalut kak, kepepet”

“Apa lo nggak punya temen?”

“Punya. Mereka bahkan nawarin bantuannya ke gue waktu itu”

“Terus kenapa nggak lo terima?”

“Gue nggak enak kak minta bantuan mereka terus-terusan”

“Yon...yon...lo tuh gak berubah juga, wajar yon kalau lo butuh bantuan. Nggak semuanya bisa lo lakuin sendiri.. Kadang ada saatnya kita membuang ego dan menerima uluran tangan orang. Wajar kalau ada saatnya lo dirangkul orang lain, wajar untuk sesaat membagi beban kita dengan orang lain. We're no superhuman”

Soonyoung kembali menunduk dalam.

“Kontrak lo lima bulan kan?”

“Iya kak”

“Kalau tiba-tiba lo ditinggalin Wonwoo secara mendadak, lo siap? Ada nggak pernyataan di kontrak itu yang melarang Wonwoo untuk memutus kontraknya secara sepihak?”

Soonyoung baru tersadar dan mengingat-ingat kembali isi kontraknya dengan Wonwoo.

“Sorry yon, tapi kalau sudah begitu apa bedanya lo dengan pekerja prostitusi?”

Ada pukulan di hatinya yang Soonyoung rasakan ketika mendengar kata-kata Jihoon barusan.

“Kalau tiba-tiba sebelum kontrak lo selesai tapi Wonwoo sudah ngebuang elo. Lo mau kemana?

Well, mungkin sekarang udah ada gue. Pintu rumah gue terbuka lebar buat lo kapan aja. Tapi hati lo? Lo siap jauh dan gak akan pernah ketemu lagi sama dia?

Jangan bilang lo gak ada perasaan sama Wonwoo, bullshit yon”

Soonyoung tidak menjawab.

“Gini deh sebutin keuntungan lo selama jadi sugar baby-nya Wonwoo, selain biaya kuliah, uang jajan dan tempat tinggal”

“Gue bisa dapat koneksi banyak dari dia kak, gue punya niat buat magang di kantor dia yang sekarang kalau sudah masuk masa PKL gue nanti, ya walaupun dia udah pindah ke Batam”

“Lo yakin? bukannya nanti koneksi itu bakal jadi boomerang buat lo?

Lo yakin setelah dia pidah nanti mau mempetaruhkan reputasinya di kantor sini dengan memasukkan lo sebagai rekomendasi dia? Lo yang notabennya tau sisi buruk Wonwoo yang paling kelam bisa aja mengancam karir dan bisnisnya di Batan dan Riau?”

Lagi-lagi soonyoung terdiam dengan semua fakta dan pertanyaan yang Jihoon lontakan, semuanya benar dan semuanya adalah hal-hal yang selama ini Soonyoung acuhkan dengan alibi ini hanya akan berjalan selama lima bulan.

“Here again, lo yakin Wonwoo cuma berhubungan sex sama lo doang?”

“Yakin kak, ada di kontrak. Kita dilarang berhubungan dengan orang lain selama kontrak ini masih berjalan”

“Yoni, my not so innocent brother. People lie all the time

penyakit menular bisa aja tanpa lo sadari mampir ke lo juga, do you guys even using protection?”

“Kondom?” tanya Soonyoung.

“Ya. Apalagi”

“Gak pernah”

Kini Jihoon yang dibuat terdiam, ia memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pening.

“Jangan khawatir Kak ujik, Pak Wonwoo bawa gue cek ke dokter kok setiap bulan dan kita dapat hasilnya”

“Kamu dapat hasil cek mu?”

“Dapet, dari Pak Wonwoo”

“Hasilnya Wonwoo?”

“Gak tau” jawab Soonyoung.

“Mikir” cetus Jihoon.

Soonyoung kembali sadar, ada hal lain yang ternyata ia lewatkan.

“Tapi lo nggak pernah dikasarin kan, Yon?”

“Enggak kak, dilarang abussive ada di kontrak”

“Yakin lo? bahkan waktu have sex?”

“umm...” Soonyoung terlihat berpikir. “Tadi malem sih gue ditampar”

“HAH?!!” Jihoon terkejut bukan main.

”....di pantat kak”

“disgusting!” Jihoon kembali releks, sedangkan Soonyoug hanya tersenyum masam.

“Just be careful, Yon. We'd never know someone's kink”

“Iya kak, selama gue bisa handle gak masalah”

“Berapa banyak orang yang tau hubungan lo sama Wonwoo?'

“Temen gue satu, temen yang deket banget. Sekretarisnya Pak Wonwoo”

“Seungcheol ya? Ofcourse he knew” Jihoon berbisik pada dirinya sendiri.

“Dokter sama istrinya dokter yang temen Pak Wonwoo”.

“Sebanyak itu?”

“Gue juga kaget”

“Yon, gue tau lo udah overthinking. Bagus biar lo mikir sekalian. Nih gue tambahin bahan pikiran lo, kira-kira apa lo yakin dari semua orang yang tau hubungan lo dengan Wonwoo semuanya orang baik yang bisa diperccaya? bahkan termasuk gue”

Dan untuk kesekian kalinya dihari itu Soonyoung kembali terdiam.