From Him
Saya Jeon Wonwoo yang sekarang membuat yang terkasih saya menangis sejadi-jadinya di kamar hotel tempat saya menginap sejak sampai 2 dua hari lalu di Paris.
Kalau kalian mau benci saya tidak apa-apa, saya sama sekali tidak masalah tapi sebelum kalian menghakimi saya lebih jauh, saya ingin memberitahu kalian semua cerita tentang dua tahun paling menyiksa dalam hidup saya, bahkan kehilangan jejak Yoni beberapa tahun lalu tidak seberapa pedihnya dengan rasa yang saya tahan dua tahun ini.
Jangan katakan saya terlalu jahat untuk mengabaikan semua pesan singkat Yoni yang masuk di ponsel saya hampir di setiap pagi dan petang. Jika bisa membela diri, rasanya yang paling tersiksa adalah saya.
Namanya di kontak saya tidak pernah saya ganti apalagi saya blokir, dia itu terlalu berharga.
Akan selalu ada rasa bersalah dan marah pada diri sendiri ketika pagi saya di sambut oleh sapaan ringan dari pesan singkat Yoni yang muncul pada notifikasi layar ponsel saya. Sapaan ringan yang saya sudah tahu ada air mata yang menetes disetiap ketikan hurufnya, bertolak belakang dengan isi pesannya yang penuh semangat dan manis.
Saya tahu saya yang dua tahun belakangan ini sudah menyiksanya dengan kejam. Membuatnya menangis di sudut-sudut kota Paris dengan kesendiriannya.
Saya pun, ikut menangis.
Saya membiarkannya pergi semata-mata karena saya ingin menyelesaikannya sendiri di sini, karena saya sanggup.
Yang saya tidak sanggup adalah ketika dia masih ada di sini, di Jakarta dan kesalamatannya akan terancam, lagi.
Saya tidak akan sanggup melihat dia yang sudah di terpa bermacam ujian dari Tuhan sejak dulu, harus merasakan pahitnya lagi bersama saya.
Dengan segala pemikiran singkat saya di hari kelam itu, akhirnya saya melepaskannya pergi bersama orang baik yang saya yakin akan tulus menjaganya.
Sebenarnya kalau kalian tahu, saya itu seperti bermain judi ketika melepaskan dia pergi. Bisa saja saya akan berpisah selamanya dan benar-benar kelihangan dia.
Tapi, Tuhan maha baik dengan orang pendosa seperti saya. Dia jaga Yoni untuk saya.
Dua tahun paling menyiksa itu saya gunakan untuk membenahi semua kekacauan.
Saya tahu langkah pertama yang pasti untuk saya adalah mengundurkan diri dari Rise Bank, terlalu banyak resiko yang akan saya ambil untuk perusahaan besar itu jika tetap egois bertahan. Saya tahu diri, reputasi Perusahaan tempat saya menimba ilmu dan pengalam terbaik dalam sejarah berkarir akan rusak dan tercoreng akibat permasalahan pribadi saya, Saya tidak ingin.
Sebulan kemudian, saya pindah ke Batam. Seperti niat awal memang, namun tidak seperti tujuan semula. Saya pikir, dulu perjalanan ke Batam akan menyenangkan karena promosi jabatan yang saya terima. Namun, hari ini saya harus ke Batam dengan tergesa karena mengejar investor perusahaan yang akan segera angkat kaki dan menjual sahamnya.
Masalah itu lagi-lagi membuat masalah baru dan saya harus fokus menyelesaikannya.
Jika ada Yoni, saya bahkan tidak akan sanggup untuk berpikir jernih karena konsentrasi saya akan terpecah untuk selalu menjaganya.
Wanita itu benar sudah ada di penjara, namun siapa yang akan tahu kalau ternyata dia masih memilik cara ektrim lain untuk menyakiti Yoni? Tidak, saya tidak akan bertaruh untuk itu.
Salah satu alasan pembelaan saya yang terakhir kenapa tidak membalas satu pun pesan singkat Yoni, karena saya tidak ingin Yoni terlihat masih berhubungan dengan saya. Saya ingin dia aman dan tidak ada yang mengikutinya.
Kembali, ketika saya menceritakan hal yang sama berusaha menjelaskan semua ini kepada yang terkasih. Dia menangis, entah kenapa tangisnya juga ikut menyesakan dada saya. Rasanya sakit melihat dia menangis hebat seperti sekarang karena saya.
Pernah satu waktu di musim gugur di Kota Paris, saya tanpa sepengetahuan siapa pun terbang ke Kota ini sendiri menyusul yang terkasih untuk sekedar memperhatikannya dari jauh.
Saat itu rindu benar-benar menyiksa bahkan rasanya saya hampir tidak bisa bernapas.
Sore itu saya memperhatikan dia yang sedang asik bercerita dengan teman sebayanya yang saya yakini adalah teman-teman satu kelasnya di kampus.
Seperti biasa, dia adalah yang paling hebat memberikan energi positif bagi orang lain sehingga tidak heran banyak orang yang akan langsung menyukainya dan berakhir menjadi teman baik bagi Yoni.
Setengah jam saya memperhatikan wajah yang masih saja tidak sadar akan keberadaan saya, sampai akhirnya ia pergi dari kerumunan dan memilih untuk duduk di pinggir danau tenang dan seketika menangis lagi. Saya tidak paham kenapa wajah yang sejak tadi menebarkan senyum kemana-mana kini menangis dengan perihnya. Lagi, sore itu saya bersumpah akan segera membawanya pulang dan menghapus semua sedihnya.
Namun, sumpah itu saya langgar lagi hari ini karena dia kembali menangis.
Puluhan kali dia bertanya dalam tangisnya 'kenapa tidak pernah membalas pesanku?' dan jawaban saya akan selalu sama, 'saya ingin kamu aman, sayang'
Dengan itu saya merengkuh tubuhnya yang bergetar karena isakan tangis, membiarkannya menghabiskan rasa sakit itu disini. Saya ingin tangis itu selesai di sini. Di kota indah yang membantunya kembali hidup dan setelahnya adalah tugas saya membawanya, pulang.