after party 🔞

Wonwoo memarkirkan mobilnya di garasi rumah sebelum membangunkan Soonyoung yang entah sejak kapan sudah tidur pulas di kursi penumpang dengan jasnya yang sudah di lepas karena terkena bekas muntahannya sendiri.

“such a little baby” ucap Wonwoo memandangi wajah damai Soonyoung yang masih tertidur.

Di kecupnya pelan pipi berisi Soonyoung dengan lembut, sebelum keluar dari mobil, berjalan memutar menuju pintu penumpang dan mengangkat bayi kesayangannya keluar dari mobil.

Wonwoo menggendong Soonyoung seperti pasangan baru menikah padahal yang tadi pagi menikah adalah Seungcheol dan Jeonghan.

Selama perjalanan dari garasi hingga ke dalam rumah mereka, Wonwoo tidak ada henti-hentinya tersenyum memperhatikan wajah Soonyoung yang sangat tenang. Mengagumi setiap inci lekuk wajah kekasihnya yang menurutnya adalah pemandangan paling indah di dunia dibandingkan jejeran taman bunga di Belanda ataupun putihnya salju di Paris kemarin.

Wonwoo meletakan tubuh Soonyoung dengan pelan di atas tempat tidurnya, melepaskan sepatu dan juga kaos kaki yang masih terpasang agar kesayangannya bisa tertidur lebih lelap.

Membuka dua kancing teratas kemeja Soonyoung, Wonwoo kemudian mengambil tissu bersih yang ada di meja sisi kanan tempat tidurnya dan mengusapkannya ke kening dan dahi Soonyoung yang sedikit berkeringat.

“Di bilang jangan minum lebih dari dua gelas tapi nggak pernah nurut” ujar Wonwoo bermonolog.

Setelah memastikan Soonyoung sudah terbaring dengan nyaman dan menyalakan pendingin ruangannya, Wonwoo berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari yang cukup panjang karena sejak pagi Wonwoo dan Soonyoung sudah harus bergegas ke venue pernikahan sahabat mereka, terlebih bagi Wonwoo yang dalam empat hari belakangan sudah berkali-kali berpindah tempat mulai dari Batam – Jakarta – Paris – Jakarta semua dilakukan dalam hitungan kurang dari seminggu dan sangat menguras energinya.

Setelah setengah jam di dalam kamar mandi, akhirnya Wonwoo keluar dengan tubuh yang lebih segar rambut hitamnya masih basah namun tidak membuat sisa-sisa air bercucuran karena sudah ia keringkan sedikit dengan handuk kecil saat masih di dalam tadi.

Saat keluar, Wonwoo melihat Soonyoung yang tengah terduduk bersila dengan wajah mengantuknya dan bibir manyun di pinggir tempat tidur, karena merasa gemas Wonwoo datang menghampiri.

“akk!” Soonyoung terkejut saat tangan Wonwoo yang dingin khas orang baru selesai mandi menangkup pipinya.

“Kenapa bangun, hm?” tanya Wonwoo.

“Haus” balas Soonyoung manja.

Wonwoo terkekeh kemudian keluar dari kamar mereka dan tak lama kembali membawa segelas air putih.

Soonyoung yang baru sadar dari kantuknya dibuat tak karuan rasa melihat Wonwoo yang ternyata sejak tadi bertelanjang dada dan hanya menyampirkan satu helai handuk putih di pinggangnya.

“Ini minumnya, baby”

Soonyoung memperhatikan gelas bening yang ada di hadapannya kemudian beralih menatap Wonwoo, begitu berulang-ulang tanpa mengucapakan satu patah kata pun.

Wonwoo terkekeh lagi “Kamu kenapa, sayang?” “Kayanya masih mabuk ya”

“Engga mabuk” kata Soonyoung pelan kemudian meraih gelas yang dari tadi menganggur di depannya, kemudian meminum airnya sampai habis.

“Daddy” panggil Soonyoung, kini kaki polosnya menjuntai di pinggir tempat tidur, tak sampai hingga ke lantai.

Wonwoo hanya berdeham, karena yang di panggil sedang membelakanginya. Mencari pakaian di lemari yang hendak dikenakan untuk tidur.

“Nggak usah”

“Nggak usah apa, baby?”

“Nggak usah pakai baju” cicit Soonyoung.

Seketika Wonwoo langsung menghentikan semua kegiatannya dan berbalik menghampiri Soonyoung lagi.

“Why?” tanya Wonwoo hampir berbisik membuat bulu kuduk Soonyoung meremang.

“Mau peluk daddy” balasnya.

“Peluk aja?”

“Mau cium juga”

“Okay” Wonwoo kemudian menarik dagu Soonyoung, posisi Soonyoung masih duduk dan Wonwoo yang berdiri membuat Soonyoung harus sedikit mendongakkan lehernya ke atas.

Wonwoo menaikan satu lututnya ke atas tempat tidur ditekuk tepat di sebelah paha Soonyoung, mengunci tubuh yang lebih muda.

Keduanya berciuman saling melumat bibir masing-masing, menyesap satiap rasa dan perasaan yang tak pernah redam.

Bibir Soonyoung begitu manis, selalu seperti itu bagi Wonwoo. Akan selalu ada kembang api yang meletup kencang di dada Wonwoo tiap kali ia mengecupnya.

Melepas pagutan mereka, Soonyoung kembali bersuara “Daddy, aku mau ini juga” Soonyoung sedikit menarik simpul ujung handuk Wonwoo yang di gulung ke dalam, tepat di pinggangnya.

Wonwoo menyeringai, senyum itu Soonyoung kenal.

Soonyoung dengan tiba-tiba kembali di gendong oleh Wonwoo, kembai ke posisi awal saat ia tadi sempat tertidur dengan Wonwoo yang kini berada di atasnya, mengkungkung Soonyoung dalam kuasanya.

Soonyoung hanya menatap polos namun sebenarnya dalam diri ia sudah terasa seperti dibakar oleh lautan api. Tubuhnya panas dan ia ingin.

Wonwoo kembali mencium Soonyoung namun kali ini leher putihnya lah yang menjadi tujuan, ia menghirup wangi tubuh Soonyoung yang entah mengapa tetap terasa segar walau sudah seharian beraktifitas. Total ada tiga kecupan yang Wonwoo daratkan dan satu hisapan kecil yang membuat Soonyoung akhirnya melenguh.

Soonyoung menyetuh tubuh polos Wonwoo, menjelajahi setiap bagian yang kuasa ia jamah. Rasanya Soonyoung hampir gila.

.

.

Malam itu tubuh Wonwoo dan Soonyoung menyatu, mengikat dalam perasaan mereka yang bertahun-tahun harus dipendam. Menuntaskan hasrat yang tak pernah keduanya kira akan sehaus ini, menukar saliva diantara ucapan-ucapan cinta, bergerak dalam irama tak bertempo namun lembut diperlakukan bagai hal paling berharga bagi masing-masing.

Hanya cermin dengan bentuk lingkaran besar di ruangan itu saja yang menjadi saksi pantulan gairah keduanya yang terekam nyata dalam dua dimensi.