exclamation.
“Nyong, gue kok pusing ya?” ucap Mingyu saat mengangkat menu terakhir dari atas kompor.
“Sarapan tadi udah?”
“Udah tadi di rumah, bukan pusing yang nyelekit gitu tapi gimana ya....” Mingyu mencoba menjelaskan rasa tidak beres dikepalanya.
“Lo mabuk itu, gue kata juga apa gyu” Soonyoung mencoba memijat tengkuk leher sahabatnya sedikit berjinjit di belakang. Namun, reaksi aneh yang malah Mingyu rasakan. Tubuhnya merasa panas dan terangsang?
Mencoba mengalihkan perasaan itu, Mingyu berjalan menjauh meletakkan menu tadi di atas meja makan.
.
.
Ketiganya makan dengan kidmat, lagi-lagi Mingyu menegak satu gelas wine pemberian Claire.
“Gyu, udah kek minumnya” tegur Soonyoung.
“Segini mah belom mabok nyong baru empat gelas”
Soonyoung berdecak, bukan apa-apa ia sejak tadi memang sudah memasang rambu waspada dan berharap paling tidak bisa berlindung dengan Mingyu. Maka dari itu ia berusaha sejak tadi untuk melarang sahabatnya untuk minum minuman berakohol itu agar tidak mabuk.
Setengah jam setelah mereka makan, Soonyoung kembali ke dapur membasuh piring kotor dan alat-alat masak yang mereka gunakan.
Saat selesai Soonyoung mencari dua orang yang tadi bertamu di rumahnya, aneh karena ruang tamunya kosong namun tas kulit branded hitam milik Claire masih ada di sofanya.
Soonyoung mencoba mengecek kamar tidurnya dan ternyata juga kosong tidak ada siapa-siapa, bingung tak mendapat jawaban Soonyoung akhirnya keluar lagi. Namun, saat menutup pintunya terdengar ada sesuatu yang jatuh di kamar utama yang tidak lain adalah kamar Wonwoo.
Dengan pelan Soonyoung membuka kamar tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Mingyu memangku Claire di atas tempat tidur Wonwoo sedang berciuman dengan sangat bernafsu.
“KIM MINGYU!” bentak Soonyoung dan langsung menarik tangan sahabatnya itu, yang dipanggil terkejut dan langsung melepaskan pelukan lengan kekarnya di pinggang ramping Claire.
Soonyoung marah bukan karena sahabatnya berciuman dengan yang bisa dibilang orang paling berbahaya buatnya saat ini namun karena Mingyu yang tidak bisa mengontrol diri dan tidak tahu tempat. Bagi Soonyoung tindakan Mingyu barusan sangat kelewatan, ia bisa melakukan apa saja tapi tidak di kamar tidur Wonwoo yang merupakan pemilik apartement ini ditambah pemiliknya pun sedang tidak ada. Tidakan itu tidak bisa ditoleransi, Soonyoung paham dirinya bukan orang paling suci tapi Soonyoung masih menjunjung tinggi sikap sopan santun dan tahu diri.
“GILA LO YA!” Bentak Soonyoung lagi.
Mingyu tersenyum miring.
“Kenapa? Lo akhirnya cemburu?” balas Mingyu.
“Sinting!” “Kak Claire mending lo balik pulang deh”
Claire yang masih berada di atas paha Mingyu dan tangannya yang juga masih terkait di leher yang lebih muda itu pun ikut tersenyum.
“Kenapa Yoni? Kamu kan sudah biasa? kamu marah gara-gara tempat tidurnya Wonwoo aku pinjam, hm?”
“Yoni siapa?” Mingyu yang sebenarnya masih setengah sadar bertanya.
Soonyoung meremas telapak tangannya sendiri siap melayangkan genggaman itu ke wajah Claire namun ia tahan.
“Kak, lo silahkan hancurin hidup gue tapi please jangan Daddy dan temen-temen gue” ucap Soonyoung akhirnya.
“Kamu yakin?” tanya Claire dengan seringainya yang semakin memuakkan Soonyoung.
Wanita itu turun dari pangkuan Mingyu dengan sedikit kesusahan karena tubuh Mingyu yang kekar sempat mengkungkung tubuhnya lagi.
Bisa dilihat bagian paling sensitif Mingyu di bawah sana sudah menegang dengan sempurna karena aksinya dengan Claire barusan dan mungkin juga karena efek obat yang Claire campurkan dalam wine-nya?
“Mingyu, your bestfriend is a slut” ucap Claire penuh dengan nada hinaan.
Mingyu langsung menoleh pada Soonyoung, bingung.
“Dia jual dirinya di situs porno dan jadi sugar baby-nya Wonwoo seperti pelacur” lanjut Claire lagi.
“Nyong?” Mingyu yang setengah mabuk masih berharap apa yang ia dengar barusan adalah halusinasi dari alkoholnya.
Tapi tidak ada sanggahan dari Soonyoung, yang bersangkutan mengangguk lemah mengakui perkataan Claire barusan, membuat sahabatnya itu mengacak-acak rambutnya sendiri dan mengusap wajahnya kasar.
“Buat apa?!!!” tanya Mingyu sedikit kencang.
“Buat hidup dan itu bukan urusan lo, gyu. Gue tau habis ini lo bakal ungkit lagi segala bantuan yang udah lo tawarkan buat gue kemarin-kemarin dan gue tolak tapi please cukup gue capek. Ini memang pilihan gue. Dari awal gue juga mau cerita ke kalian but I've never find the right time but I think this is it, the time has finally come but still in the wrong time“
Mingyu terlihat frustasi. Namun, otaknya kembali berjalan.
“Lo Claire?!! Maksud lo ngasih tau ini ke gue apa?” Mingyu menatap Claire tajam.
“Oh my sweet big baby bear, aku mau kasih penawaran buat sahabatmu” ujar Claire mengelus pipi Mingyu kemudian mengecupnya.
Soonyoung diam namun pikirannya sudah kacau.
.
.
.
Di sisi lain Wonwoo dengan kecepatan penuh menginjak pedal gas mobilnya membelah jalanan kota Jakarta agar cepat sampai di apartementnya ketika tahu kabar yang di sampaikan oleh Jihoon.
Meeting tadi pun langsung ia tinggalkan tanpa berpamitan, bahkan kursi yang ia duduki hampir terbanting ke belakang saat dirinya tiba-tiba berdiri membuat orang-orang disekelilingnya keheranan.
Earphone di telinga sebelah kirinya berkali-kali menyuarakan dering panggilan keluar dengan tujuan nomor ponsel Soonyoung namun pemiliknya tak kunjung menjawab hingga panggilan ketiga.
Frustasi. Wonwoo akhirnya menghubungi Seungcheol yang kebetulan bersama Jihoon saat ini.
“Won, berita lo udah naik” suara Seungcheol diseberang sana.
Wonwoo menghantam gagang stir-nya dengan kuat.
“Here's the deal, Soonyoung....or Yoni? Which one do you prefer, hm?”
“I prefer you to not call my name” balas Soonyoung.
Claire tertawa seolah-oleh ucapan Soonyoung barusan adalah hal yang paling lucu yang pernah ia dengar.
“Merasa superior ya sekarang, little slut?” ucap Claire, “Kamu tau setelah Wonwoo merasa gak butuh kamu lagi dia bakal buang kamu jauh-jauh? besok bisa aja dia bersikap seolah-oleh nggak kenal kamu *but you already in love with him. So, sebelum kejadian lebih baik kamu menyingkir ya, sayang?
kamu pasti nyadar ya baby boy keberadaan kamu tuh mengancam karir dan bisnisnya, Wonwoo?” lanjutnya lagi.
Soonyoung terdiam, selain gala dinner kemarin, Soonyoung memang tidak pernah pergi ke ruang publik lagi bersama Wonwoo bahkan dalam berita pagi minggu lalu yang Soonyoung tonton di TV, pemberitaan Wonwoo si eksekutif muda dengan bisnis sukses di tangannya masih dilebeli single. Wonwoo tidak pernah benar-benar mengenalkan Soonyoung di lingkungan pekerjaannya selain orang terdekat seperti Seungcheol, Yeri dan Joshua.
Beberapa kolega mungkin sudah bertemu Soonyoung di gala malam itu, namun seingatnya ia tidak dikenalkan sebagai siapa-siapa.
*“Overthinking, enough?
Imagine this baby boy, what if the public finally find out that* The Jeon Wonwoo yang sukses, pintar dan kaya ternyata punya simpanan sugar baby anak kuliahan yang berprofesi sebagai camboy? Ugh! Lacur banget ya seleranya Wonwoo?” sulut Claire.
“Kebayang nggak sih sama kamu gimana kira-kira tanggapan direksi di kantornya Wonwoo atau pemegang saham lain di perusahaan Wonwoo yang di Batam? Gara-gara keberadaan kamu, baby boy. Citra baik Wonwoo bisa hancur dalam satu jentikan tangan” sambung wanita itu lagi.
Soonyoung mengerutkan keningnya janggal dengan ucapan terkahir Claire barusan.
''Nggak paham?” tanya Claire dengan senyum seringainya.
Wanita itu kemudian menunjukan berbagai video masa lalu Soonyoung di akun broadcastnya sebagai camboy yang seingat Soonyoung bahkan sudah ia non aktifkan dan sudah dihapus, menunjukkan bukti-bukti dan screenshoot bahwa pemeran dalam video tersebut adalah Soonyoung yang selama ini tinggal bersama Wonwoo dan bahkan menjalin hubungan dengan status sebagai Sugar Baby-nya.
Parahnya Claire memiliki salinan rekening koran bank milik Soonyoung yang menunjukan adanya transaksi kredit uang masuk dari Wonwoo yang rutin diterima setiap bulan. Soonyoung tiba-tiba lemas, wanita ini gila.
Pada slide selanjutnya Claire menunjukan rekaman CCTV di hotel tempat Gala dinner saat Wonwoo dengan sengaja menghentikan lift dan memberikan Soonyoung blow job saat itu. Rekamannya sangat jelas bahkan wajahnya dan Wonwoo bisa dengan mudah di kenali.
Dengan itu saja bahkan hidup Wonwoo bisa hancur dalam hitungan detik.
Mingyu yang masih terduduk di atas tempat tidur Wonwoo pun tidak dapat berbuat banyak, kepalanya semakin pusing bahkan sekelilingnya terlihat seperti berputar-putar dan panas.
“So what do you think, baby boy?”
“What do you want me to do?” ujar Soonyoung melemah.
“Easy, make love to him and left Wonwoo for good” Claire menunjuk Mingyu.
“Gila kamu kak! are you still trying to blackmailed me setelah punya video aku sebanyak itu?”
“Pilihan kamu cuma itu, baby boy.”
“Aku bisa tinggalin daddy sekarang tapi enggak dengan make out sama Mingyu!”
“Why so? do you feel like you're cheating?”
Soonyoung lagi-lagi terdiam tapi dalam hatinya Soonyoung mengiyakan pertanyaan Claire barusan.
Soonyoung sudah jatuh cinta dengan Wonwoo entah sejak minggu ke berapa ia menempati apartement ini, baginya Wonwoo bisa memberikan tempat nyaman dan aman tanpa harus takut menjadi dirinya sendiri. Baginya Wonwoo adalah gerbang rahasia yang menyimpan seribu memori dan rasa, sekaligus rumah bagi dirinya yang hilang arah. Saat ini Wonwoo sudah memiliki segalanya yang ada di hati Soonyoung.
Membuatnya tersakiti dengan berkhiatan di belakang Wonwoo tidak akan pernah ada dalam setiap pilihan yang akan Soonyoung ambil. Namun, saat ini jika Soonyoung harus mengorbankan karir yang sudah Wonwoo bangun, bisnis yang sudah ia rintis hingga sukses dan membawa namanya menjadi besar demi menjaga perasaan dan urusan cinta sepertinya ia akan mulai berpikir.
Menjadi egois untuk masalah hati dan menghancurkan hidup dan pengorbanan Wonwoo serta ribuan pekerja yang bernaung di bawah perusahaannya rasanya tidak benar.
Soonyoung tidak ingin perusahaan Wonwoo terkena imbas dari urusan pribadi antara dirinya dan Wonwoo. Jika seseorang yang kali ini harus berkorban demi nama Wonwoo dan orang banyak maka Soonyounglah yang akan maju. Soonyoung akan lakukan. Pikirnya, hanya ini jalan terbaik bagi semua.
“Apa lo butuh rekaman gue make out sama Mingyu sekalian?”
“No, I don't need that, baby boy. Strip yourself and hop onto him, make you feel comfortable as you usually do with Wonwoo until I say stop” ucap Claire sambil menggantung tab-nya di tangan kanan, mengayun-ayunkan tab berisi artikel dan video milik Soonyoung dan Wonwoo yang siap di posting tadi.
Tidak berpikir lebih lama, Soonyoung kemudian menarik kaos abu-abu yang ia kenakan dan membuangnya ke lantai, menyisakan celana sweatpants pendeknya.
Ia menoleh kepada Mingyu, sahabatnya yang sudah setengah sadar itu menggelengkan kepalanya lemah masih mengisyaratkan Soonyoung untuk tidak melakukan ide gila Claire barusan. Akal sehat Mingyu memang masih tersisa sedikit namun birahinya berkata lain, karena saat Soonyoung naik ke pangkuannya, Mingyu ikut menyambut pinggang sahabatnya itu dan kemudian menciumnya.
Di depan mereka, Claire duduk bersilang kaki di sofa milik Wonwoo. Tersenyum seperti iblis yang menyambut kemenangannya.
.
.
.
“SOONYOUNG!!!!”
ketiga orang di kamar itu terkejut.
bahkan Soonyoung yang masih menciumi Mingyu sampai tersentak.
Wonwoo. Datang dengan tergesa. Mendobrak pintu kamarnya sendiri dan melihat Soonyoung berada di atas pangkuan Mingyu. Mencumbunya.
Persis seperti rencana Claire.
.
.
Soonyoung ingin menangis, hatinya sakit karena sudah menyakiti pria ini.
“GET OFF OF HIM!!” perintah Wonwoo.
Soonyoung masih terdiam, kedua tangannya bertumpu pada pundak Mingyu dan pinggulnya di peluk posesif oleh si sahabat.
“I'm sorry, I can't” akhirnya kata Soonyoung nanar.
“TURUN DARI SANA SEKARANG!”
Soonyoung tidak menurut.
“*Keep going, Yoni. I haven't tell you to stop” ucap Claire enteng.
“YOU!!” Wonwoo menunjuk Claire dengan telunjuknya. “Pergi dari sini!”
“Why daddy? We have something to watch here? Let's enjoy it while it lasts” balas Claire yang malah menarik telunjuk Wonwoo dan menggenggamnya, yang otomatis langsung di lepaskan oleh Wonwoo.
“Claire, pergi dari sini sekarang sebelum saya benar-benar bisa melakukan kekerasan kepada perempuan!”
“You won't dare daddy, you're too kind to do that“ “gimana kalau daddy kembali aja sama aku dan biarkan mereka pergi jauh. Happy ending.....atau Oh! daddy suka yang menantang, kan? Gimana kalau kita juga bercinta disini? Rasanya panas kalau hanya menonton mereka aja” Claire kemudian melirik Soonyoung dan Mingyu yang masih di atas tempat tidur Wonwoo.
Tidak di hiraukan oleh Wonwoo karena ia sekarang masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil bathrobe miliknya dan berjalan menuju tempat tidurnya, menyelimuti punggung telajang Soonyoung.
“Turun, Yoni” perintah Wonwoo lagi.
Kali ini Soonyoung melihat Wonwoo lebih dekat, melihat mata itu penuh dengan emosi yang tertahan dan membuatnya masih bisa melakukan hal barusan membuat perasaan Soonyoung remuk. Dirinya merasa menjadi orang paling kejam dan tak memiliki harga diri.
Dengan satu tetesan air mata dalam diam, Soonyoung akhirnya turun dari pangkuan Mingyu, disambut oleh Wonwoo yang langsung mengikat tali bathrobe miliknya itu untuk menutupi seluruh tubuh Soonyoung.
“Kembali ke kamar kamu” ujar Wonwoo datar.
Soonyoung menggeleng.
“Atau kamu mau lihat saya memukuli Mingyu?”
“Jangan, daddy” balas Soonyoung.
Claire yang melihat itu memanas, jantung dan hatinya bergemuruh marah dan kesal. Bukan seperti ini maunya.
“Ke kamar kamu. Sekarang”
Dengan itu, Soonyoung pergi meninggalkan kamar Wonwoo melewati Claire tanpa meliriknya sedikitpun.
Saat pintunya tertutup sempurna. Wonwoo langsung menyambar Mingyu dengan total tiga hantaman mengenakan kepalan tangannya di wajah Mingyu. Yang di hantam tak melawan dan akhirnya pingsan karena sudah mabuk dan tak berdaya lagi.
Tak lama dua orang menyusul mendobrak kamar Wonwoo. Ada Seungcheol dan Jihoon melerai pertarungan tunggal itu sebelum Wonwoo melayangkan pukulan keempatnya.
Tanpa suara, Claire minggalkan kekacauan yang sudah dibuatnya dengan perasaan yang belum puas.