untold.
Hallo, ini gue Mingyu.
Orang yang mungkin terlihat tolol atau bahkan mengenaskan bagi kalian. Gakpapa lah terserah karena memang ini adanya.
Udah enam bulan semenjak kepergian gue dan Soonyoung ke Paris. Gue pergi sama orang yang paling gue sayang di muka bumi setelah ayah dan bunda.
Meninggalkan kehidupan gue di sana dalam satu malam. Kalau kalian tanya apa gue masih sayang sama Soonyoung? Jawabannya masih. Gue masih sayang sama dia, kalau enggak mungkin gue udah menyerah di bulan pertama tinggal sama dia di sini.
Lo nggak akan kuat ngeliat orang yang lo sayang menangisi orang lain setiap malam di dalam tidurnya.
Kalau lo liat sekarang Soonyoung terlihat baik-baik aja, salah. Lo salah karena melihat orang dari luarnya doang atau apa yang terlihat dari sosial medianya aja.
Soonyoung adalah orang paling hebat yang pernah gue kenal dalam menyimpan rahasia. Celakanya, hal itu juga yang ngebuat dia terus sakit selama berbulan-bulan.
Soonyoung gak baik-baik aja.
Satu pagi di hari sabtu gue terbangun lebih awal karena tenggorokan yang terasa kering dan butuh segelas air putih untuk menyegarkannya.
Lampu ruang tengah masih mati, hanya sumber cahaya dari dapur aja yang waktu itu menyala. Sebelum gue melangkahkan kaki lebih dalam untuk mengambil gelas di lemari paling atas, gue melihat sahabat gue terduduk lemas memeluk lututnya di lantai dapur, terisak pelan bahkan hampir nggak bisa di denger. Gue bisa sangat yakin karena waktu itu pundaknya bergetar hebat. Soonyoung menangis untuk entah sudah yang keberapa kali.
Dari setiap langkah dan kegiatannya selalu akan ada Bang Wonwoo di pikiran dan hatinya, karena itulah terkadang Soonyoung bisa tiba-tiba menghentikan kegiatannya dan mengeluh sakit dan sesak di dada.
Bukan satu dua kali gue menemukan Soonyoung diam-diam mengusap air matanya bahkan di tengah kerumunan orang banyak. Sedalam itu rasa Soonyoung untuk Bang Wonwoo, bahkan ramainya orang dan sibuknya dia di sini belum bisa membuatnya terdistraksi dari Bang Wonwoo.
Soonyoung nggak bahagia, dia cuma berusaha bahagia untuk Bang Wonwoo dan orang di sekelilingnya berharap keajaiban segera datang. Harapan Soonyoung itu nggak muluk-muluk, dia cuma kepengen Bang Wonwoo balas satu aja pesan yang dia kirim rutin setiap hari.
Soonyoung itu akan dengan secepat kilat membuka pesan yang masuk setiap ponselnya berdenting berharap itu dari Bang Wonwoo tapi lagi-lagi perasaannya dipatahkan oleh harapannya sendiri.
Bisa gue rasakan sepedih apa hati Soonyoung sekarang, hidup dan berjuang sendiri dari kecil, berkali-kali terluka sampai akhirnya ia bisa nemuin kebahagiannya sendiri tapi lagi-lagi harus kembali terluka. Soonyoung itu orang paling kuat sekaligus orang paling lemah, dia bisa kuat buat orang disekelilingnya yang ngeliat betapa positifnya dia ngejalalin cobaan bertubi-tubi ini tapi jauh...jauh di kesendirian Soonyoung, dia rapuh, dia hancur, dia kehilangan arah dan gue gak bisa berbuat apa-apa karena bukan gue orang yang bisa menyembuhkannya.
Dari situ gue belajar merelakan dan ikhlas, tapi sayang gue buat Soonyoung gak bakal pernah luntur. Kalau mungkin sayang gue dulu seperti menggebu-gebu untuk sama Soonyoung, sekarang sudah beda perasaan gue untuk Sooonyoung adalah perasaan seorang sahabat dan saudara yang mau ngejaga orang terkasihnya untuk selalu kuat dan bahagia.
Gue sudah berdamai dengan hati gue sendiri dan gue berharap Soonyoung pun begitu.
Bagaimanapun nanti dia dan Bang Wonwoo. Semoga itu adalah jalan terbaik dari Tuhan untuk mereka.
Salam dari gue, sahabat terbaik untuk orang yang sedang kembali menangis sendirian di sudut taman Jardin des Tuileries.