december.
Setelah kejadian kemarin di apartementnya Soonyoung tidak sama sekali melakukan satu pun kegiatan di luar rumah, belajar dari banyak pengalaman ia tidak mau lagi melakukan tindakan implusif dan ceroboh yang akan merugikan bahkan mencelakainya. Soonyoung yang sekarang adalah Soonyoung yang sudah dua tahun lebih dewasa. Dia bukan lagi mahasiswa semester 6 berusia 19 tahun. Saat ini dia adalah pria dewasa berusia 21 tahun dengan pekerjaan sebagai model profesional untuk banyak majalah fashion di Paris.
Hari ini setelah mengurung dirinya seharian di apartment, Soonyoung akhirnya mengabari Paul untuk mengawalnya pergi ke toko buku dan berbelanja sedikit keperluan di apartement, Paul adalah bodyguard yang memang di sewa oleh Mingyu untuk menjaga Soonyoung selama ia pulang ke Jakarta, Pria dengan postur tubuh tinggi besar ini berkebangsaan Brazil dan sudah sering mendapatkan job untuk mengawal beberapa orang penting, politikus, artis sampai model seperti Soonyoung dan tentu saja sudah sangat dikenal oleh sepupu Mingyu, Seungcheol.
Soonyoung melangkahkan kakinya di pinggir jalanan kota Paris yang sudah diselimuti oleh salju dimana-mana mengenakan pakaian tebal tiga lapis juga coat hitam yang hampir menenggelamkan tubuh dan wajahnya seperti boneka beruang.
Ia berjalan sendiri seperti biasa, bukan bersisihan dengan Paul. Bodyguardnya itu memang tidak akan menampakan kehadirannya disana. Namun, ia ada di sana menjaga Soonyoung dari jarak yang sangat terjagkau.
Soonyoung memasuki toko buku langganannya, bukan toko usang dengan debu dan lampu temaram namun adalah toko dengan konsep cafe dan sangat modern yang menjadi favorit Soonyoung. Entah sejak kapan ia menyukai buku, mungkin saat dulu ketika ia tinggal bersama Wonwoo karena hampir setiap malam sebelum Soonyoung tertidur dipelukan pemilik apartement di Jakarta itu ia akan mencium bau buku yang dibaca oleh pria yang berperawakan lebih tinggi darinya itu.
Soonyoung mengeratkan mantel tebalnya dan memeluk tubuhnya sendiri saat keluar dari pintu toko buku tersebut setelah tak terasa sudah menghabiskan waktu hingga tiga jam lamanya.
Langint di luar sudah mulai gelap dan salju mulai turun semakin banyak menandakan musim dingin di bulan Desember sudah benar-benar datang, membuatnya termenung di antara kursi-kursi pengunjung cafe yang memang sebagian disusun di luar ruangan.
Soonyoung itu paling menyukai bau hujan dan serpihan salju yang sengaja ia biarkan jatuh di telapak tangannya. Kalau sudah begitu akan ada banyak memori lalu Soonyoung yang kembali hadir, termasuk memorinya bersama Wonwoo yang kini terasa seperti lubang besar yang menganga di hatinya.
Ia sudah terbisa hidup dalam sepi dan sendiri namun tiga bulan hidup bersama Wonwoo dua tahun lalu benar-benar memberikan dampak besar untuk Soonyoung, bagaimana sebuah presensi seseorang menjadi begitu penting bagi Soonyoung saat sebelumnya tidak pernah menjadi masalah.
Menarik napas dalam, Soonyoung kembali menguatkan hatinya yang selalu terasa seperti di remas dan dihujani belati ratusan pasang saat nama dan memori dari orang itu terlintas di kepalanya lagi. Sabar, mungkin bukan tahun ini dan Soonyoung akan kembali menunggu.
Setelah mendapatkan pesanan cokelat hangat yang rencanya akan ia minum di perjalanan pulang, Soonyoung merasakan kilatan memori itu kembali datang.
Ini sudah sering terjadi, Soonyoung akan melihat bayangan wajah itu, menarik napas dan melanjutkan kegiatannya lagi. Selalu seperti itu. Setiap kali. Berulang kali.
Namun,
Kali ini kilatan bayangan itu terlihat lebih nyata dan baru kali ini Soonyoung bisa mendengar suaranya.
“Soonyoung” samar suara itu bergema di kepala Soonyoung memanggil namanya.
Soonyoung masih terdiam seperti biasa, ia akan memandangi kilatan bayangan itu hingga nanti akan benar-benar hilang dan berakhir lemas terduduk dan menangis di manapun ia berada. Sakit dan tidak berdaya atas rasa bersalah dan rindunya pada seseorang.
“Soonyoung” panggilnya lagi, bayangan itu tidak memudar karena itu Soonyoung memundurkan langkahnya bersiap membalikan tubuh meninggalkan tempatnya sedari tadi berpijak.
Tertahan.
Namun, seseorang menahan lengannya. Dingin yang Soonyoung rasakan ketika tangan orang tersebut menyentuh kulitnya diujung lapisan mantel yang membukus tubuhnya.
“Sudah gila Soonyoung” bisik Soonyoung pada dirinya sendiri. “Gue kebanyakan menghayal sampai rasanya nyata banget”
Bayangan itu menggeleng pelan.
“Ayo pulang”
Soonyoung membeku, seluruh aliran darahnya berhenti begitu saja.
Suara itu nyata.
Bayangan itu nyata.
Orang di depannya ini nyata dan,
Air matanya jatuh.
tepat ketika Wonwoo menariknya dalam peluk erat di bawah hujan salju di Kota Paris.
“Daddy”