uninvited.

“Ada perlu apa kak Claire?” Soonyoung masih berdiri di depan pintu.

“Kemarin kita kan gak jadi masak-masaknya Soonyoung, terus Mingyu juga bilang kalau dia mau kesini. Pas banget dia juga jago masak” jawab Claire ringan dengan nada suara yang dibuat-buat.

Kalau dulu mungkin Soonyoung termakan dengan sifat palsu Claire di depannya. Namun, tidak dengan kali ini. Ia sudah memasang ancang-ancang dan warning ketika berhadapan dengan wanita ini.

“Kenal sama Mingyu?”

“Kenal Nyong, sering bolak-balik kantor bokap” tiba-tiba Mingyu menyahut sambil berjalan dari depan lift.

“Biasa kerjaan kantor” sambung Claire lagi.

Soonyoung masih terdiam belum mempersilahkan kedua tamunya itu untuk masuk.

Sebenarnya ia ragu dan takut apalagi saat ini sedang tidak ada Wonwoo, dan fakta bahwa Mingyu kenal dengan Claire sama sekali tidak membantu.

“Nyong, numpang pipis dong!” Mingyu dengan seenaknya menyelonong dari samping dan langsung masuk ke apartment.

“O- iya gyu”

Tidak ada pilihan, dengan canggung Soonyoung mengajuk Claire ikut masuk ke dalam apartementnya dengan perasaan was-was.

Belum sempat mengetik hingga selesai untuk mengabari Wonwoo. Mingyu sudah keluar lagi dari kamar Soonyoung setelah menggunakan kamar mandi di kamar tersebut. Mingyu, Jeonghan dan Seungkwan memang sudah biasa keluar masuk kamar Soonyoung dengan bebas. Toh mereka sahabat, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan.

Mingyu datang menghampiri Soonyoung dan Claire yang masih ada di ruang tamu.

Sengaja Soonyoung tidak memberikan ruang gerak yang luas untuk Claire di apartementnya.

“Claire, lo belanja apaan?” tanya Mingyu menunjuk kantong belanja warna putih yang ternyata sejak tadi di bawa oleh Claire.

“Bahan buat masak, lo ajarin gue dong gyu yang kemarin gak sempat mulu ih” jawab Claire lagi. Aneh bagi Soonyoung, karena ada nada menggoda dari suara Claire barusan kepada Mingyu.

“Sibuk sendiri sih sama suaminya” balas Mingyu.

“Ck udah deh”

Soonyoung hanya memperhatikan interaksi kedua orang di depannya ini. Menerka-nerka sedekat apa hubungan Mingyu dengan Claire.

“Nyong! Bengong kenapa?” tanya Mingyu menghampiri, Soonyoung hanya menggeleng. “Ayuk ke dapur” ajak Mingyu sudah membawa kantong plastik putih milik Claire tadi dan menggandeng tangan Soonyoung ke dapur.

“Go food aja gyu” balas Soonyoung pelan.

“Yee sayang banget ini nyong udah di beli banyak. Lagian sekalian masak buat Kak Han sama Kwan” Sejak pesannya terakhir tadi dengan Wonwoo, Soonyoung memang tidak mengecek lagi ponselnya, begitu pula Mingyu sehingga tidak ada yang tahu bahwa kedua sahabat mereka yang lain berhalangan hadir hari ini.

.

.

.

Mingyu asik membersihkan beberapa sayuran di wastafel, sedangkan Claire yang sekarang sudah berada di dapur karena di ajak oleh Mingyu tengah mengeluarkan 2 botol wine dari plastik lain yang dibawanya.

Soonyoung hanya diam dengan perasaan tidak tenang di sudut ruangan berukuran sedang itu.

Saat teringat untuk kembali mengambil ponselnya dan mengabari Wonwoo, ia kembali di panggil oleh Claire.

“Soonyoung, minum dulu sini” Claire menyodorkan satu gelas wine.

“Ah, anu kak aku gak minum” balas Soonyoung.

“Oh larangan di kontraknya daddy, ya?” ucap Claire santai, sengaja agar didengar oleh Mingyu.

Soonyoung menoleh ke arah Mingyu dengan tatapan horor, yang ditatap menghentikan segala kegiatannya.

“Daddy?” tanya Mingyu.

“Ups” ucap Claire terdengar sangat palsu.

“Uh— itu gyu...nanti gue cerita” balas Soonyoung.

“Nyong, semoga feeling gue salah ya” kata Mingyu.

Soonyoung hanya menatap mata sahabatnya itu, kemudian mengambil gelas yang ditawarkan Claire barusan dan meminumnya cepat.

Ia butuh alkohol.

Ketiganya kemudian melanjutkan kegiatan masing-masing, Soonyoung membantu Mingyu mengiris beberapa sayuran dan daging sedangkan Claire yang katanya hendak belajar memasak malah asik bermain ponselnya di meja makan.

“Gak gitu potongnya, Nyong” Mingyu mengambil alih daun bawang yang sedang diiris Soonyoung dan menunjukan cara yang benar.

“Gyu, itu lo minum udah habis 3 gelas ntar mabok aja”.

“Gue mah tahan nyong nggak cemen kaya lo” ejek Mingyu.

“Lo mabok gue laporin bokap lo ya!”

“Jangan gitu dong jelek”

Soonyoung terdiam dan membeku karena pada saat mengatakan itu, satu kecupan mendarat di pipi Soonyoung.

Mingyu mencium pipinya.

Bukan. Bukan ini.

Bukan persahabatan yang seperti ini. Soonyoung tidak mau.

Soonyoung tahu sejak lama kalau Mingyu menaruh hati padanya. Soonyoung tahu segala perhatian Mingyu untuknya memiliki maksud dan bukannya Soonyoung tidak peka, ia hanya tidak ingin memberikan harapan lebih pada Mingyu. Perasaannya pada Mingyu hanya sebagai sahabat. Dia menyayangi Mingyu sama ratanya dengan sayangnya pada Jeonghan dan Seungkwan. Tidak lebih dan sangat pas.

Urusan skin skip mereka berempat memang sering berpelukan untuk berbagi rasa pada momen-momen bahagia ataupun mengharukan disaat keempatnya berbagi kisah. Namun, tidak untuk sebuah ciuman. Bagi Soonyoung itu sudah diluar batasnya karena selalu ada sekat untuk setiap hubungan untuk membedakan setiap rasa dan punya.

Soonyoung hanya melanjutkan pekerjaan lain yang ada di dapur tanpa membahas aksi tiba-tiba Mingyu barusan dan Claire di ujung sana tersenyum melihat itu.

Mingyu sudah mulai bereaksi dari hasil wine racikannya