milkyways1707

“Yang gue nginep ya?”

“Ha? ngomong apa lu?” Seokmin sibuk memilih bahan untuk membuat pizza.

“Nginep tempat lu”

“Hari ini?”

“Ho'oh”

“Tidur pelukan kaga?”

“Pelukan”

“Kalo gitu kaga usah bikin pizza deh, kita ke ancol aja”

“Lah ngapain?”

“Ya pacaran, dipinggir pantai gitu sore-sore ntar malemnya baru balik”

“Kenapa mesti gak jadi buat pizza?”

“Itu akal-akalan gua aja biar bisa lama-lama sama elu, kalo lu nginep mah ya kaga usaha buat pizza kan bakal semaleman bareng hehe” kata Seokmin enteng.

“Modus emang lu, terus ini bahan-bahannya gimana?”

“Sono lu bantuin balikin ke raknya lagi”

“Emosi gua naik darah tinggi punya pacara kaya lu”

Dengar pacarnya mengomel sambil menyeret troli di lorong swalayan malah membuat Seokmin ketawa cekikikan.

Sekarang sudah jam lima sore, Seokmin dan Hoshi sudah berjalan dipinggir pantai Ancol. Karena hari Minggu jadi keadaan lumayan ramai dengan anak-anak dan muda mudi yang menghabiskan waktunya dari penat keseharian.

Seokmin memang tipe yang banyak bicara tapi ada kalanya ia jadi sangat pendiam, apalagi dengan moment seperti sekarang jalan bersisihan di atas pasir putih bersama Hoshi. Tidak ada suara dari keduanya yang biasa bertukar cerita atau beradu argumen konyol. Hanya angin sore yang menyapu wajah masing-masing.

“Beb..”

“Apa?”

“Mau main air gak? Ke situ” Soekmin menunjuk bibir pantai yang tidak terlalu jauh.

“Gak bawa baju ntar basah, di sini aja deh”

“Ya kaga sampe guyur-guyuran juga”

“Lengket ah males, lagian pegel kaki gue”

Seokmin berhenti, menengok pacarnya di sebelah yang ternyata sudah kelelahan setelah 20 menit berjalan kaki.

“Sini naik” kata Soekmin yang berjongkok di depan Hoshi.

“Apa dah lu? Gak usah aneh-aneh malu gue”

“ck! buruan”

”..............”

“Beb, buruan nanti jadi kaki gue yang pegel kelamaan jongkok”

“Diliatin orang, yang!”

“Bodo amat, buruan naik”

Hoshi kalah, akhirnya dia juga naik ke punggung Seokmin, mengalungkan tangannya di leher yang lebih tua.

“Jangan sampe jatoh”

“Aman, badan bang Seokmin gede”

Keduanya kemudian mendekati bibir pantai dengan langit yang mulai berwarna jingga.

Anginnya sejuk dan Hoshi nyaman.

“Bulan depan boleh gue anter ke Singapore?” tiba-tiba tanya Seokmin.

“Lo gakpapa ada ayah?”

“Mau sampai kapan juga dihindarin?” “Gue gak mau sampai salah langkah aja, bentar lagi bakal jauh-jauhan jujur gue sebenernya rada kaga rela” kata Seokmin dengan nada sedikit tertawa diujung kalimatnya tapi Hoshi tau Seokmin sedang serius.

“Lo yakin, yang? Gak mau sampai bandara aja nganternya?” balas Hoshi lagi yang masih betah digendong Seokmin di punggungnya.

“Kenapa enggak?” “Paling enggak gue tau lo tinggal di mana, kuliah lo di mana, lingkungan lo gimana di sana. Walaupun ada ayah lo ya bebas aja, gue kaga bakalan ngikutin lo terus tapi ya bisalah gue bantu-bantu pindahan elu di hari pertama, beb”

Hoshi mengeratkan pelukannya di leher Seokmin dan menyandarkan kepalanya di punggung belakang si pacar.

“Makasih” kata Hoshi akhirnya.

“Gue kaga minta janji, cuma lo bisa kaga setiap hari ngabarin gue? Kaga perlu setiap waktu soalnya gue tau lo bakal sibuk belajar sama kerja di sana” suara Seokmin masih sama seriusnya.

“Bisa, yang. Gue kabarin kalau senggang ya”

“Sedih nih gue bakal di tinggal”

Rahasia kecil untuk disimpan sendiri, jujur tenggorokan Hoshi terasa tercekat oleh ucapan Seokmin barusan, matanya berair dan pandangan berubah menjadi kabut. Dia juga sedih pergi jauh dari Seokmin dan terlebih Soonyoung saudara satu-satunya.

“Yang, mau main air. Turunin” kata Hoshi kemudian.

Seokmin menoleh ke arah pundaknya yang ada wajah Hoshi bersandar. Heran dengan pacarnya yang berubah pikirann tiba-tiba.

“Ntar basah katanya?”

“Gakpapa nanti pinjem baju lo di rumah”

Hidung mancung Seokmin mengerucut sudut-sudut bibirnya tertarik karena senyum yang mengembang atas ucapan Hoshi barusan.

Di bawah langit jingga di pinggir bibir pantai Ancol, Seokmin mencium Hoshi yang masih berada di atas punggungnya.

Lingkaran tangan Hoshi mengerat di pundak Soekmin membalas kecup lembut bibir Seokmin.

pantai

Inspired and requested by @jwonchii thank you dear ❤️, here is your gemay and kakak are spending their special time together, enjoy!

Dan, teman-teman pembaca selamat menikmati 💕


Hoshi sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Seokmin, menunggu pacarnya yang lewat pesan teks tadi sedang mengenakan sepatunya.

Dari arah kaca mobil terlihat Seokmin yang sekarang sudah bergegas berlari dan membuka pintu kemudi mobil, menggantikan Hoshi untuk menyetir.

“Eh ada gemay” katanya, ketika melihat Soonyoung yang ada di kursi penumpang di belakang.

“Hai kak seok!” balas gemay manis.

“Ini bener Wonwoo kaga tau lo mau dateng?” tanya Seokmin yang sudah memasang seatbelt-nya, sedangkan Hoshi baru masuk dikursi penumpang di sebelah.

“Ga tau kak, aku mau kasih surprise” kata Soonyoung.

“Biasanya masih molor tuh anak kalau hari minggu begini”

“Udah bangun kok, tadi pagi aku chat katanya lagi ada kerjaan buat report akhir bulan makanya diburu”

“Astaga!” tiba-tiba Seokmin.

“Kenapa lagi yang?” ini Hoshi.

“Lupa bawa kunci rumahnya Wonwoo, ntar kaga bisa masuk si gemay” balas Seokmin.

“Lu tuh ya pelupa banget, udah di chat juga tadi”

“Maap...maap..bentar gue ambil dulu” kemudian Seokmin kembali ke dalam rumahnya.

Wonwoo memang menitipkan satu kunci serep rumahnya pada Seokmin, jaga-jaga jika ada hal mendadak terjadi atau cuma sekedar untuk memudahkan kalau Seokmin, Jun dan Chan main ke rumahnya saat Wonwoo masih di kantor.

Lima belas menit perjalanan ke rumah Wonwoo akhirnya sampai, Soonyoung keluar dengan sebelumnya mengucap terimakasih pada Seokmin yang sudah bertugas menyetir hari ini, kemudian pamit pada kembarannya yang diacungi jempol sebagai balasan.

Mobil Hoshi menjauh ketika Soonyoung sudah berhasil membuka pintu rumah Wonwoo pelan.

Ruang tamu minimalisnya terlihat gelap, lampu tidak dinyalakan. Hanya ada satu sumber cahaya yang terlihat dari kamar utama dan satu-satunya di rumah itu. Pintu kamar tidak tertutup rapat dan Soonyoung bisa melihat jelas ada pacarnya yang sedang fokus mengerjakan sesuatu di laptopnya.

Jendela kamar sudah dibuka dan Wonwoo yang sibuk bekerja duduk menghadap jendela yang terbuka itu, mungkin agar sirkulasi udara segar bisa mudah masuk.

Soonyoung kembali ke ruang tamu, menaruh tas ranselnya yang berisi sarapan nasi goreng, roti isi, milkshake dan kue kering yang sudah dibuatkan bundanya tadi pagi supaya tidak berisik.

Pelan Soonyoung mendorong pintu kamar Wonwoo dan berjinjin kecil menghampiri, punggung lebar kekasihnya masih kaku menghadap laptop tanda bahwa tidak menyadari kehadiran Soonyoung di belakangnya.

Wonwoo mengenakan kacamatanya, dari jarak satu meter ini Soonyoung bisa mencium wangi sabun mandi Wonwoo dari tubuhnya, rupanya kekasih sudah mandi dan melanjutkan pekerjaannya pantas saja pesan terakhir Soonyoung belum dibalas lagi.

Dalam satu detik, Soonyoung membungkuk di samping Wonwoo dan mencium pipi tirus pacarnya, membuat Wonwoo hampir melempar wireless mousemiliknya karena kaget.

Shock

Wonwoo langsung menoleh ke arah pintu kamarnya yang sejak tadi dipunggungi.

“Gemay, sama siapa?” akhirnya tanya Wonwoo.

“Sendiri hehe” balas Soonyoung.

“Kok bisa-”

“Pinjem kunci kak Seokmin”

Wonwoo akhirnya menghela napas dan menarik tangan Soonyoung ke arahnya.

“Sini” kata Wonwoo, masih menarik tangan Soonyoung dan menepuk pahanya.

Membuat Soonyoung duduk di atas paha Wonwoo, wajah saling berhadapan.

“Kakak belum bales chat aku” katanya manyun.

“Hp-nya di*charge sayang belum cek lagi” balas Wonwoo memeluk pinggang Soonyoung.

Soonyoung kemudian mengambil kaca mata Wonwoo dan memasangnya di wajahnya sendiri kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Wonwoo, ciri khas kamar pemuda laki-laki namun untuk ukuran pria dewasa seperti Wonwoo kamarnya termasuk bersih dan rapih.

“Dalam rangka apa nih?”

“Pengen surprise-in kakak aja, soalnya kangen”

Wonwoo memandangi wajah Soonyoung lagi, melihat yang lebih muda dengan senyum senangnya.

“Gemay..” panggilnya

“Iya?”

Pinggang Soonyoung yang ada di dipangkuan Wonwoo dibawa mendekat dan bibir mereka bertemu.

Wonwoo mencium Soonyoung lamat, memeluk pinggang yang lebih muda erat. Ciuman mereka sama-sama dalam, menyesap rasa cinta yang ada disetiap lumatnya. Lembut dan basah.

Miliknya, Wonwoo mencium bibir itu bergantian, melumat bibir bawah Soonyoung dengan pelan seperti candu kemudian membiarkan Soonyoung juga ikut menyesapnya.

Tiga menit mencumbu, Wonwoo melepas ciumannya dan mengusap sisi bibir Soonyoung yang basah.

Wonwoo mendongakkan kepalanya kembali memandangi wajah Soonyoung yang dengan posisi ini lebih tinggi darinya, memandangi dengan senyum paling bahagia.

Yang dipandang memerah seperti tomat dan akhirnya tak tahan lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Wonwoo, membuat gelak tawa Wonwoo menggema di kamar itu. Miliknya ada di sini bersamanya.

Kembali lima menit hanya dihabiskan untuk saling memeluk dalam diam, merasakan degup jantung masing-masing seperti musik paling indah yang pernah mereka dengar.

“Gemay” panggilnya lagi.

“Hm” Soonyoung masih menyembunyikan wajahnya di leher Wonwoo.

“15 menit aja aku selesein reportnya ya sayang”

Soonyoung mengangguk.

“Kerjain aja, aku mau peluk kakak kaya gini”

“Gak pegel badannya?” tanya Wonwoo

“Kakak kali yang pegel pangku aku begini”

dibilang begitu Wonwoo malah kembali memeluk pinggang Soonyoung dengan tangan kirinya dan tangan lainnya membantu menggeser kursi dengan roda kecil itu mendekat ke mejanya.

“Kamu mah kecil” balas Wonwoo dan selanjutnya melanjutkan pekerjaan yang tertunda, kembali pada reportnya di laptop dengan Soonyoung yang masih memeluk Wonwoo seperti koala di pangkuannya.


“Kak, punya milo?”

Sekarang keduanya ada di ruang tengah Wonwoo yang biasa di pakai teman-temannya untuk bermain PS, ruang tengah ini juga sudah familiar bagi Soonyoung karena tempo hari merayakan hari ulang tahunnya dan Hoshi di sini.

“Ada, sayang mau?”

“Mauuuuu” “Ini aku sambil siapin nasi gorengnya kakak” kata Soonyoung yang duduk bersila, sedangkan Wonwoo nya sudah berdiri hendak ke dapur.

“Perlu piring gak?”

“Gak usaha kak, sama bunda udah pakai tupperware. Sendok aja”

“Oke bentar bikin milonya dulu”

“Makasih sayang” balas Soonyoung.

Efeknya buat Wonwoo kembali menunduk untuk mencium hidung Soonyoung, dicium kecil dan singkat membuat pemiliknya tertawa geli.

Setengah hari itu mereka habiskan untuk mengobrol, menonton film, tidur siang dan bingung memilih makan siang dari aplikasi pesan antar online.

Cuma kegiatan sederhana yang dihabiskan bersama tapi rasanya menyenangkan.

Wonwoo menyelimuti Soonyoung yang masih tertidur di atas tempat tidurnya, sedikit terbangun karena gerakan Wonwoo membuat Soonyoung membuka matanya.

“Nanti sore belajar motor ya kak?” katanya kecil dengan suara khas orang bangun tidur.

“Bobo dulu gemay” peluk Wonwoo akhirnya, membukus tubuh si pacar gemas dengan tubuhnya yang lebih besar.

Keduanya kembali tertidur hingga pukul setengah lima sore, dan terbangun dengan Soonyoung yang merengek minta diajari naik motor lagi.

Dan, sinilah Soonyoung dengan helm bogo yang menjepit pipi gembulnya berusaha fokus mengendarai motor matic milik Soekmin yang sudah dipinjam Wonwoo beberapa hari lalu.

Gemaynya berjalan pelan di sisi beraspal komplek perumahan Wonwoo yang tidak begitu ramai, menahan marah dan kesal karena mendengar tawa Wonwoo yang terus-terusan terdengar karena melihatnya belajar motor.

Tidak, Gemay tidak serius marah. Dia sayang Wonwoo.

Vice versa

“Woy! Ngapain kaya gitu?” tanya Hoshi dengan kembarannya yang lagi nggak karuan rasa di atas tempat tidur, menghitung menit sebelum pengumuman penerimaan calon mahasiswa baru di Universitas Indonesia melalui jalur undangan yang didaftarkannya beberapa bulan lalu.

Sekarang masih pukul 14.42 yang berarti kurang dari 30 menit lagi Soonyoung akan mendapatkan hasilnya. Rasa gugupnya bahkan lebih besar dibanding dengan pengumuman kelulusan sekolah. Semua usaha dan kerja keras yang sudah Soonyoung lakukan beberapa tahun terakhir akan bermuara di hari ini. Walaupun masih ada jalur reguler namun ada kebanggan tersendiri jika Soonyoung bisa lulus di jalur yang kata banyak orang spesial.

Kerja kerasnya belajar hingga larut malam bahkan sampai tumbang karena sakit bukan untuk menjadi siswa biasa, meski berat hari kemarin karena tuntutan orang tua namun Soonyoung sendiri memang punya tujuannya sendiri untuk mencapai impinya. Soonyoung tetaplah siswa SMA yang ambisius bukan karena pinta orang tua tapi karena dia memang senang giat belajar dan ingin sukses.

“Chi, kamu aja yang refresh web-nya” kata Soonyoung masih di atas tempat tidur dengan posisi telentang menutup mata.

Hoshi yang masuk ke kamar Soonyoung sambil mengunyah serabi panas dan membawa satu piring penuh serabi lain yang dibuat bundanya langsung berjalan ke arah meja belajar Soonyoung.

Laptop sudah terbuka dengan website Universitas Indonesia yang belum di-refresh lagi.

Log out ini, password lo mana?”

Soonyoung kemudian menunjuk satu lembar memopad yang ditempel di atas tumpukan buku berisi user id dan password Soonyoung agar bisa masuk kembali ke dalam web tersebut.

Suara pintu kembali dibuka, bunda si kembar yang sekarang datang membawa satu botol air dingin dan dua gelas kosong dengan gambar Spiderman di sisinya.

“Airnya kok ditinggal, chi?”

“Hehehe lupa bun”

Bunda si kembar meletakan botol dan gelasnya di nakas lain dan kemudian duduk di tempat tidur Soonyoung yang masih belum bergerak juga dari posisinya semula.

“Kenapa Soonie?” kata bundanya lembut.

“Takut” balas Soonyoung pelan.

“Gak apa, nak. Sudah doa?”

“Udah tadi”

“Sekarang tinggal tunggu hasil dari hasil semangatnya Soonie kemarin”

“Bunda jangan marah kalau Soonie gak lulus” katanya lagi lebih pelan, sekarang matanya terbuka dan beringsut merebahkan kepalanya dipangkuan sang bunda.

“Bunda gak pernah marah sama Soonie kan?”

Soonyoung mengangguk, nyaman dengan tepukan bundanya di lengan.

Suasana hening, hanya ada suara jari-jari Hoshi yang beberapa waktu sekali menekan tombol F5 untuk me-refresh halaman layar di laptop.

Setiap kali Hoshi menekan tombol itu, seketika juga jantung Soonyoung berdetak lebih kencang.

dan tepat pukul 15.02 suara teriakan Hoshi terdengar hingga ke lantai bawah di mana Ayah mereka sedang menonton liputan berita di tv.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKK” “SOONIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE”

Soonyoung langsung duduk bersila, tegak di atas tempat tidurnya, pelipisnya berkeringat, tangannya dingin.

“AAAAAAAAaaaaAAAaaaaAAAAAAAA” Hoshi seperti kesurupan kalau Soonyoung bisa bilang, kepala dilempar ke sana kemari.

“SOONIEEEEEEEE CEPAT SINIIII” teriak Hoshi.

Karena tidak ada pergerakan dari kembarannya itu, Hoshi berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum berdiri dari kursi belajar Soonyoung dan menjemput kembarannya untuk berganti duduk di sana.

Tangan Soonyoung ditarik, dia menurut.

Di depannya sudah ada hasil yang ditunggu namun belum mau dilihat karena Soonyoung menutup matanya, tak sanggup.

Pipi yang lebih tua ditepuk.

“Bukaaa mataaaaa”

dan.....

LULUS.

Soonyoung terpaku.

Hoshi yang malah terlewat senang terus membuat keributan di kamar saudaranya itu, dan menari-nari konyol tak jelas menggoyangkan pundak sang Bunda yang dibalas tawa merdu wanita satu-satunya di antara mereka itu.

Tak sadar, Ayah mereka yang menyusul karena mendengar suara teriakan Hoshi sudah berdiri di belakang kursi Soonyoung melihat hasil yang sama.

Oleh Ayahnya kepala Soonyoung diusak lembut “Selamat, Soonie”,

seketika Soonyoung meneteskan air mata haru dan bahagianya.

in three updates :

Finish before May 3rd, 2021

HS's announcement about his scholarship, he gets in.

  • He gets closer to SK.
  • The twins barely go to school together cuz SY usually will goes with his BF.
  • Their parents have been watching that since the day SK and WW went to their house and kinda don't like them (they think the boys present will distracted the twins from their studies and etc).
  • The twins's dad asks to invite SK and WW to have dinner at their house. Climax : The twins's dad asked them to parted away cus they need to focus on their education.
    • SY was happy when his father asked WW to come but suddenly shocked to the head until he froze on the chair. He thought his parents change but they didn't. No ones fight they left quietly.
    • SY's heart broke into pieces.

“Kak, dikasih cabe sama ibunya” katanya Soonyoung ngelirik sedih ke dalam mangkok mie sedap karinya. Mereka sudah di rest area, nggak makan waktu lama karena lewat jalan alternatif, nggak perlu berduel emosi dengan warga Jakarta lain yang juga banyak menuju Puncak di akhir pekan seperti sekarang. Perjalanan mereka terhitung aman dan lancar.

“Siniin” kata si kakak yang menyodorkan mangkuk mienya. Walaupun masih kesal si gemay tetap pindahin enam iris cabe ke mangkuk kakak ganteng.

“Kalau masih pedes kakak aja yang makan punyaku ya?” pintanya lagi masih sebal.

“Iya, cobain dulu, gemay”

Satu sendok, dicicip.

“Hehehe”

“Masih pedes?” tanya kakak.

“Engga, suka kak”

“Ha?!!!!”

“Suka mienya, kak”

“Oh” Wonwoo menarik balik mangkuknya, hampir gila dibuat kaget.

Selagi dua adam ini asik nikmatin mie instan sepuluh ribuan punya mereka, yang lain juga sibuk dengan menunya masing-masing.

Chan sama Seokmin yang memang belum makan dari siang udah ada di warung Padang yang ada dipaling depan tempat rest area. Kalau Jun asik ngopi aja dipojokan, udah ngobrol sama nggak tau siapa yang pasti asik banget akrab kaya sahabat sekolah lama yang baru ketemu lagi, bedanya lawan bicaranya itu mamang-mamang yang masuk umur 30-an.

Hoshi? Nggak usah khawatir, dia udah ngacir ke kios tahu Sumedang di samping rest area, barusan balik bawa satu kantong kertas tahu yang kalau dilihat-lihat udah sisa setengah. Beda dari Soonyoung, kalau dia cabenya digadoin alias dimakan mentah barengan sama tahunya. Katanya lebih enak gitu, pedesnya nampol.

Si kembar duduk bersisihan, yang lebih tua asik pdkt sama yang jaket kulit hitam, yang lebih muda asik ngemil tahu Sumedang dan nggak nawarin teman yang lain. Sejuknya hari itu bikin suasana nyantai kelewatan, kalau nggak Kokoh Jun yang berdiri dan nyamperin teman-temannya buat lanjutin perjalanan mungkin liburan mereka bakal selesai di rest area ini sampai hari Minggu besok.


Pelukan diperut Wonwoo masih sama, yang meluk asik aja mengedarkan pandangan disekeliling jalanan menunju puncak. Seger, katanya. Padahal nggak tau kalau Wonwoo udah mau meledak nahan genderang di dada belum lagi harus tetap fokus bawa motornya, oleng dikit urusan bisa panjang tapi si gemay kaya santai banget bikin orang gregetan setengah mati.

“Kakak, udah sering ya lewat sini?” katanya sedikit lebih nyaring karena angin sore yang meredam suaranya di atas motor.

“Udah lumayan, semenjak ikut komunitas”

“Dari kapan kak?”

“Dari dua tahun lalu waktu lulus kuliah terus pindah dari Yogja ke Jakarta”

“Kakak cepet banget lulusnya”

“ambil D-3 doang”

“Ohhh gitu”

Rese banget kalau kata Wonwoo ini mah, soalnya si gemay bilang 'Oh gitu'-nya sambil taruh dagunya di atas pundak si Rider, kan orang jadi panik.

.

.

Sebelum magrib akhirnya mereka sampai di salah satu vila di puncak, lokasinya ngga terlalu menanjak soalnya udah di-request sama Seokmin biar udara nggak terlalu dingin, doi kagak tahan suka bengek soalnya.

Motor diparkirkan sejajar, rapih dan aman di dalam garasi vila. Oh iya, awalnya mereka mau berangkat bareng timnya Seungcheol tapi berhubung ketua tim tetangga lagi ada kerjaan mendadak jadi mereka nyusul agak malem. So, semakin malam akan semakin ramai.

“Dek, mau tidur yang kamar atas atau bawah?”

“Kakak di mana?”

“Gue kayanya nggak di kamar, di situ aja tuh depan tv” Wonwoo nunjuk ruang tengah yang emang luas banget dengan permadani eh kagak deh lebih kaya karpet bulu tebal. “Ntar malem anak-anak pasti pada main ps” katanya lagi.

“Oh yaudah aku di bawah aja kak”

“Oke, bebersih aja dulu ntar malem mau bakar-bakaran sama yang lain”

“Ngantuk aku” katanya si gemay.

“Kurang tadi tidur di jalan?”

“Kakak ih! itu cuma 10 menit ketidurannya”

“Tapi punggung gue pegel banget asli”

“Iya iya besok aku nggak ketiduran lagi” omel si gemay berbalik menuju kamarnya, membawa tas ransel yang sejak tadi pegangnya.

Yang iseng malah ketawa-tawa menggeleng ngeliat pujaan hati semakin menggemaskan.

.

.

.

Jam setengah delapan malam, riuh suara Seokmin sudah kedengerangan tandanya dia sudah bangun dari tidurnya. Sudah biasa, agenda Seokmin kalau habis jalan jauh memang langsung tidur katanya biar mengembalikan energi-energi yang habis di jalan. Okelah brother, mainkan.

“Chan, panggangan angkat ke belakang”

“Chan, saos dalem kulkas”

“Chan, telpon mamang vilanya nasi sama lauk lain dianter jam berapa”

“Chan, bukain gerbang itu Seungcheol datang”

“Chan— “

“Anjing Seokmin lo sana bediri, udah kaya babu gue”

Hoshi yang sebenarnya dari tadi juga udah bantuin Chan ikut ngakak, karena emang yang disuruh-suruh cuma Chan sedangkan dia cuma gabut, inisiatif doang bantuin soalnya ngeliat Chan bolak-balik dari tadi. Emang kurang ajar nih Seokmin.

Set barbeque udah siap, karena yang doyan makan itu si kembar dan Chan alhasil ketiga anak SMA itu sibuk membolak balik sosis, daging dan segala macam makanan yang bisa dipanggang. Jangan tanya Hoshi, sudah pasti dia langsung makan panas-panas setelah matang. Sedangkan yang lain sudah siap dengan stick PS masing-masing di ruang tengah.

Ketiga bocil belum legal itu kemudian disusul oleh Seungcheol dan dua orang lain. Kalau dengar dari cerita Chan barusan, Seungcheol ini yang paling tua dari abang-abangnya yang lain, dia juga lulusan S2 Hukum dan sekarang lagi kerja sebagai Legal Head di Bank Swasta yang ada di Jakarta, bikin si kembar terkagum-kagum sama sosok baru yang hari ini mereka temui. Kalau kata Soonyoung 'berkharisma' walaupun tampilannya ya masih seperti anak motor lain yang agak urakan.

Teman Seungheol yang lain ada Minghao sama Jeonghan, sebenarnya masih ada lima orang lain tapi Soonyoung nggak begitu hapal soalnya cuma tiga orang ini aja yang ngajakin dia ngobrol macem-macem mulai nanyain sekolah, rasanya punya kembaran sama nanyain nanti kalau nikah mau barengan sama kembarannya apa enggak. Soonyoung mah cuma manggut-manggut aja haha hehe kalau Hoshi lain cerita, dia udah ngacir ke dalam vila, kalau didengar-dengar suaranya sudah menggelegar dari sound yang juga lagi mutar lagu Welcome to The Jungle-nya punya Gun's and Roses, band metal favoritenya Hoshi.

Tapi bentar....

“Wah duet ini” kata Chan tiba-tiba sambil ngebalik sosis sapi pakai capitan besi di tangannya.

“Apa Chan?” tanya Soonyoung.

“Kembaran lo duet itu sama bang Seokmin”

Soonyoung langsung aja cengok, terus kaya ngerti bahasa satu sama lain dari tatapan mata foang, Chan sama Soonyoung langsung ngelepas alat panggang mereka dan lari ke dalam vila.

Bener aja, di sana udah ada Seokmin sama Hoshi yang masing-masing udah megang mic, nyanyi dengan penuh penghayatan. Nggak jelek, sumpah! Bagus banget malahan, Soonyoung aja sampai menganga ngeliat Seokmin yang ternyata punya suara yang super keren, kalau sama Hoshi mah dia udah tau, walaupun di bandnya si kembaran itu sebagai guitarist tapi dia juga lead vocal buat bandnya jadi gak heran kalau suara Hoshi bagus banget.

Waktu kelar, tepuk tangan langsung ramai, gak kalah ramai sama gelak tawa yang lain yang entah gak tau lucu aja ngeliat itu dua orang bisa auto akrab dan cocok tanpa awkward sama sekali cuma gara-gara duet bareng. Bahkan, tim main PS sampe ikutan berhenti main dan nontonin mereka.

.

.

Selesai pertunjukan duet tadi mereka masing-masing kembali sibuk dengan kegiatannya, tapi beda sama Soonyoung. Dia mah mulai bete soalnya dari tadi cuma main sama Chan sedangkan si Kakak sibuk main PS sama teman-temannya di dalam.

Inisiatif si gemay masuk membawa satu piring kecil berisi sosis dan daging panggang yang sudah matang. Membawanya duduk di samping Wonwoo yang tegang melawan Jun di layar tv. Soonyoung cuma nonton soalnya gak ngerti.

“Aa-” katanya Wonwoo, mata masih fokus sama perangnya di depan.

Soonyoung noleh ke arah Wonwoo. Apa, Soonyoung gak denger.

“Bagi dagingnya, gemay. Suapin”

“Oh, ini?” kata Soonyoung ngarahin piringnya ke depan Wonwoo. Wonwoo ngangguk singkat masih fokus.

“Nih kak” Soonyoung ngarahin satu garpu yang ada dagingnya depan bibir Wonwoo yang langsung disambut dan dilahap Wonwoo.

Dianya senyum masih sambil main PS bikin Soonyoung senang, ngerasa kalau dia gak dilupain.

Kelar main yang dimenangin sama Jun, akhirnya si kakak nyerah dan ngasih perangkat kebanggaanya sama yang lain.

“Nggak makan nasi?” tanya Wonwoo menggeser duduknya ke belakang, lebih deket dengan Soonyoung.

“Udah kenyang kak ngemil ini” lagi-lagi Soonyoung mendorong piringnya. “Kakak main mulu, nggak makan?” katanya lagi.

“Ntar aja agak maleman”

“Ini udah setengah 10 kak”

“Loh nggak kerasa, temenin ayuk makan” ajak Wonwoo.

“Yaudah ayuk”

“Eh, bentar deh kelarin ini Jun sama Cheol lagi seru” abis itu Wonwoo balik badan dan ngerebahin kepalanya di paha Soonyoung yang dari tadi nganggur, kebetulan gara-gara pegel nontonin orang main PS tadi kaki Soonyoung jadi agak keram jadilah di selonjorin ke depan kakinya dan sekarang dijadiin bantalan sama si kakak yang nonton temannya main PS.

Soonyoungnya gugup tapi senang. Wonwoo juga.

Anginnya kencang sama kencangnya dengan degup jantung Soonyoung dan pegangan tangannya di perut Wonwoo

“Jaketnya dikacing aja, adek”

“Um?” Soonyoung menengok arah kancing depan jaketnya yang masih terbuka.

“Gini” Wonwoo cepat mengambil ujung jaket hitam itu dan mengancingnya ke atas membuat si gemay gugup, tau kenapa jantungnya tiba-tiba memukul kencang.

Entah inisiatif dari mana si anak motor yang punya mata kaya rubah itu mencubit hidung mungil punya Soonyoung, yang dicubit cuma senyum, pipinya mengembang, matanya mengecil. Kalau nggak ada teman-temannya mungkin Wonwoo udah kelewat khilaf. Astagfirullah.

Empat motor sport sudah siap di depan halaman rumah Seokmin, mobil si kembar juga sudah di parkirkan dengan aman di dalam bengkelnya. Gakpapalah mobilnya dulu yang nginap siapa tau besok-besok mungkin bisa yang punya ikutan nginap. Amin-in aja dulu kalau kata Seokmin.

Soonyoung sudah naik di jok motor paling dia hapal, seperti biasa pegangan dulu sama pundaknya si kakak sebelum memanjat naik biar gak jatuh. Di depan kakaknya udah siap dengan sarung tangan hitam yang senada dengan motor dan jaketnya, helm juga sudah dipasang dengan benar biar selamat sampai tujuan.

Tangannya Wonwoo mencengkram di setang motor, siap meluncur membelah jalanan bersama si gemay yang dari tadi gak pernah berhenti senyum.

Disebelahnya ada Chan dengan motor sport putih yang baru kita tau dikasih nama si Jeki, kata Chan biar gak ribet waktu ngomongin motor. Seperti biasa Chan bakal ada di deretan tengah di antara abang-abangnya yang lain supaya aman waktu ada polisi soalnya belum punya SIM dan KTP. Dasar nakal.

Terus ada kokoh Jun yang paling akhir datangnya karena narik uang yang agak banyak di ATM dulu, kalau ketua mah harus siap sedia duit cash ya, karena pilar kebanggaan komunitas. Sip.

Nah, ini yang paling ujung. Seokmin yang gak pernah grogi waktu ketemu orang hari ini tiba-tiba jadi aneh, udah tau jawabnnya sih tapi tetap aja aneh dan bikin Chan mual ngeliat mukanya. Geli banget kalau dibilang sih. Yang satunya sih santai, udah naik dengan enteng tapi tetap izin dulu “Gua naik ya, bro” kata Hoshi.

“Yoi” balas Seokmin.

Waktu sudah siap semua setelah berdoa, ada yang sedikit mengambil kesempatan, Wonwoo yang ada di barisan depan menarik dua tangan Soonyoung yang sebelumnya cuma memegang ujung jaket jadi ditarik ke perutnya, ngebuat si gemay otomatis tertarik ke depan dan memeluk perut Wonwoo dan dadanya yang memeluk punggung lebar si kakak. Tambah deg-deg-an tapi Soonyoung suka wanginya.

“Ntar jatuh”

“Iya kak”

Menang banyak.

Perjalanan ke puncak di mulai. Let's go~

“Kakak” kata si gemay waktu turun dari mobil hatchback milik kembarannya. Senyum paling manis menarik garis-garis tipis di wajah, senyum menular yang ikut membuat siapa pun yang melihat akan ikut menarik garis bibirnya.

Yang dipanggil otomatis menoleh, ada kupu-kupu terbang waktu dia bertemu mata. Satu kalimat melayang di telinga yang paling kecil di grup itu “anjing pengen ciuman”, jelas dihadiahi desis kesal “TMI bang!”.

Tidak

“Kakak” kata Soonyoung waktu turun dari mobil hatchback hitam punya saudara kembarnya. Wajah senang sumringah dengan senyum lebar sampai rasanya yang lihat bisa ikutan senyum juga.

Yang dipanggil sempat bengong dan sedetik kemudian mengumpat disebelah telinga Chan “anjing mau ciuman” seketika ngebuat si paling kecil di grup itu mendecih “TMI bang”.

Yang satu juga nggak kalah kaget ngeliat si kembar yang lebih muda keluar dari pintu kemudi, setelah kaos putih, snap back yang di pasang santai terbalik di kepalanya dan tas selempang yang tidak terlihat terlalu berat.

“Mingkem bang” kata yang paling mudah lagi.

“Cakep banget, Chan. Nggak ngotak” katanya Seokmin yang bikin Wonwoo juga akhirnya berkedip.

Gak sadar kedua cowok dewasa itu barusan seperti dihipotis sama dua anak SMA yang mukanya gak beda jauh.

“Dek...” katanya Wonwoo waktu ngeliat Soonyoung udah ada di depannya, senyum belum juga luntur.

“Kakak wangi banget” katanya si Adek.

Mau mapus Wonwoo rasanya, ingin menghantamkan kepalan tangannya ke tembok cream bengkel Seokmin saking gemasnya.

Tuhan tolong bantu hambamu batin Wonwoo pada Tuhan supaya bisa menahan dirinya untuk tetap bersikap normal di depan si pujaan hati.

“Iya, kan mau pergi'” akhirnya.

Si gemay cuma mengangguk kemudian meberikan salam sama Seokmin yang sampai sekarang masih belum sadar dengan lamunannya, menatap Hoshi yang mulai risih.

“Woy” katanya Hoshi.

“Eh cuy” balas Seokmin.

“Napa lo?”

“Kagak napa-napa” padahal semesta juga udah tau kalau Seokmin lagi jatuh cinta sedalam palung laut.

Nggak ada yang spesial kaya tatapan si gemay dan balasan senyum dari Wonwoo, soalnya Hoshi langsung pergi nyusul Soonyoung yang tadi di bawa Wonwoo ke dalam rumah Seokmin yang tempatnya bersebelahan dengan bengkel miliknya.

Soonyoung menggenggam tangan Jeonghan dengan kuat, berusaha menenangkan dirinya sendiri yang sejak hampir setengah bulan ini dilanda kecemasan.

Hatinya berbunga namun pikirannya larut dibawa kalut yang entah mengapa selalu berkumul di kepalanya bahkan hingga hari ini. Hari dimana janjinya akan diikat di hadapan Tuhan.

Soonyoung tidak ragu akan sosok yang akan ia nikahi, ia hanya...

takut

...takut mengacaukan acaranya sendiri, takut mengecewakan keluarga Wonwoo, takut mengecewakan teman-temannya dan takut akan ekspektasi orang banyak.

“Jangan khawatir, nyong” ucap Jeonghan mengelus punggung tangan Soonyoung.

“Kak, peluk dong” pintanya.

Sebelum sempat Jeonghan memeluk Soonyoung, Seungkwan dan Mingyu sudah datang menyerobot mereka merangkul kedua sahabat mereka dan keempatnya pun berakhir saling memeluk dalam dekapan yang sangat besar bahkan si calon mempelai nyaris tergencat oleh pelukan sahabat-sahabatnya sendiri. Namun, bagi siapapun yang ada di sana dan melihat itu, hanya akan ada bahagia yang menyelimuti mereka.

Pelukan itu membawa ketenangan bagi Soonyoung. Energi yang ia terima dari sahabat-sahabatnya memberikan energi positif. Iya yakin akan hari ini.

Iya yakin tidak akan ada yang dikecewakan karena ini adalah bahagianya, dan itu cukup.

.

.

.

Wonwoo sudah berdiri dengan gagah di depan altar. Ada banyak hiasan bunga dengan warna putih dan peach yang mendominan hall besar dengan beberapa staff WO dan keluarganya berlalu lalang.

Acara belum dimulai, masih ada satu setengah jam sebelum sumpahnya akan di ambil, maka ia memanfaatkan sedikit waktunya untuk melihat-lihat. Wonwoo memandangi sekelilingnya, Deretan meja panjang dan bundar sudah tersusun rapi dengan jejeran lampu kristal mewah yang berjuntai dari langit-langit gedung ini.

Hamparan berbagai makanan dan dessert mulai dari traditional hingga international tertata rapi di sepanjang sisi kiri hall. Semua terlihat apik dan cantik di tambah ratusan gelas wine di ujung ruangan yang disiapkan bagi para tamu undangan.

Wonwoo tersenyum simpul saat matanya kini tertuju pada satu cake besar yang berjarak sepuluh langkah dari tempatnya berdiri saat ini.

Wedding cake tujuh tingkat warna putih dengan hiasan bunga berwarna senada dengan interior hall tempat pernikahan mereka akan berlangsung, cake ini mengingatkan Wonwoo akan percakapnnya dengan Soonyoung tempo hari dimana calon suaminya itu menginginkan Wonwoo untuk melihat langsung kue pernikahan dan juga souvenir mereka.

Bersama Soonyoung akan selalu ada kejutan, akan selalu ada kupu-kupu kecil yang terbang di rongga dadanya dan akan selalu ada Wonwoo yang menyukainya.

.

.

Pukul 7.00 malam tamu mulai berdatangan, mereka memang tidak banyak mengundang tamu hanya yang terdekat sajalah yang akan hadir bahkan dari Soonyoung sendiripun hanya menginginkan pernikahan sederhana. Namun, bagi Wonwoo ini adalah hari bahagianya. Wonwoo ingin Soonyoung selalu mengingat hari ini. Hari dimana ia menunjukan kepada Soonyoung betapa spesialnya ia bagi Wonwoo, pada hari ini Wonwoo ingin Soonyoung benar-benar merasa dicintai.

Bagi Wonwoo ini bukanlah pernikahan mewah dengan gengsi kaum elite tapi ini adalah bagian dari hadiah indah dari Wonwoo untuk Soonyoung.

.

.

.

Wonwoo sudah kembali berdiri di depan altar yang beberapa waktu lalu sempat ia singgahi. Namun, kali ini dia sudah di hadapkan dengan para tamu undangan yang duduk rapi siap menjadi saksi atas ikatan dan sumpahnya di hadapan Tuhan.

Suasana sudah semakin hening ketika koordinator Wedding Organizer mengisyaratkan bahwa pemberkatan akan segera dimulai.

Jika setengah jam lalu Wonwoo masih bisa menegak satu gelas air putihnya dengan santai. Tapi, saat ini ia bahkan tidak dapat menelan air liurnya sendiri, tenggorokan Wonwoo terasa kering dan jantungnya seperti akan keluar melompat dari dada.

Berusaha menenangkan diri, Wonwoo berdeham sembari menarik ujung jas hitamnya dan minyimpan kedua telapak tangannya didepan berharap rasa gugup ini segera memudar.

Semua sudah siap, Wonwoo menghadap pintu utama. Pintu dimana calon suaminya akan berjalan di dampingi oleh sahabat terbaiknya. Sosok orang yang paling Soonyoung cintai setelah Wonwoo, yaitu Jeonghan.

Wonwoo menatap lantai altar, menundukkan kepalanya sambil menarik napasnya dalam. Dan tak lama, Saat Seungcheol sang Best Man berbisik pada Wonwoo, membuatnya menaikan kembali kepala.

Di ujung sana, ada Soonyoung.

Ada Soonyoung yang berjalan dengan setelan hitam senada dengan Wonwoo, setelan yang sama ketika mereka melakukan fitting baju beberapa waktu lalu namun hari ini ketika ia mengenakannya lagi semua terasa 180 derajat berbeda.

Ia Indah. Soonyoung begitu indah berjalan dari pintu utama dengan senyum yang sama gugupnya dengan Wonwoo.

Waktu terasa berjalan begitu lambat dan ballroom hotel dengan kapasitas seribu orang ini bahkan tiba-tiba terasa kosong, bagi Wonwoo di ruangan besar ini hanya ada dirinya dan Soonyoung.

Hanya ada laki-laki dengan senyum dan mata paling indah yang pernah Wonwoo lihat dan tak ia sadari Wonwoo pun sudah ikut tersenyum. Bahkan itu adalah senyum paling besar dan paling bahagia yang pernah Wonwoo tunjukan di depan umum hingga banyak teman bahkan kolega Wonwoo yang takjub akan hal itu.

Soonyoung sudah sampai di depan Wonwoo, memberikan pelukannya terlebih dahalu pada Jeonghan yang sudah menemaninya berjalan di altar. Pelukan dengan sirat ribuan makna akan rasa syukurnya atas kehadiran Jeongahan yang menemani dan mewakili keluarganya.

Di hadapan Wonwoo saat kedua mata mereka akhirnya benar-benar bertemu, Soonyoung kembali menyunggingkan senyumannya dan bagi Wonwoo itu adalah senyuman yang ingin selalu ia lihat disepanjang hidupnya nanti.

“Hallo, daddy” ucap Soonyoung kecil nyaris berbisik, ketika tangan di raih yang lebih tua untuk menaiki satu tangga dan berbalik menghadap pendeta.

Lagi-lagi Wonwoo tersenyum, “You look gorgeous” balas Wonwoo.

“Thank you”

dan dengan itu upacara pernikahan kedua pasangan itu dimulai.

“I Jeon Wonwoo promise to honer you as my husband all the days of my life, to be honest and love with purity spirit. I vow to make you happy, to make you laugh and to always be there for you. I vow to make my life forever yours and build my dreams around you. To be your faithful husband when the sun shine, when the rain falls, in sickness and in health”

Soonyoung meneteskan air matanya.

*“I Kwon Soonyoung promise to be your honest, faithful and loving husband for the rest of my days. To honer you, to love you and cherish you as my husband. Today I say “I do” but to me that means “I will”. I will take your hand and stand by your side in the good and the bad. I dedicate myself to your happiness, success and smile. You are my every dream come true and I can't wait for the reality we get to built together. Give me your hand and I will give you forever”.

.

.

“The grooms might kiss now”

Gemuruh tepuk tangan bergema saat Wonwoo dengan lembut menarik dagu Soonyoung dengan sebelah tangannya dan tangan lainnya menahan tengkuknya dan mencium bibir Soonyoung. Cincin simbol janji suci mereka sudah melingkar di cari manis masing-masing dan menandakan mulai hari ini mereka akan memulai hidup baru sebagai pasangan yang saling mencinta.

.

.

.

Soonyoung kini berdansa dengan Wonwoo diikuti alunan musik jazz yang membuat suasana semakin intim dan romantis, di sekeliling mereka sudah banyak pasangan yang ikut bergabung.

Tidak pernah hilang senyuman itu di wajah keduanya, disetiap kesempatan Wonwoo akan mencuri satu kecup dari bibir Soonyoung dan setelahnya mendapatkan pukulan kecil dari Soonyung yang malu.

“Suami” panggil Soonyoung.

“Iya?” balas Wonwoo.

Soonyoung menggeleng pelan dan simpul malu.

“Kenapa? terlalu cinta sama aku, ya?” ucap Wonwoo lagi mengeratkan rangkulannya di pinggang Soonyoung.

“Iya, terlalu cinta”