Reminder

Soonyoung memasuki salah satu cafe yang berada di Mall Kota Kasablanka yang dari luar terlihat sangat nyaman dengan suana yang tidak terlalu ramai, diujung cafe tersebut ada satu sosok yang sudah bertahun-tahun ia kenal dengan baik. Sosok yang cukup banyak punya andil selama masa remaja Soonyoung di Panti Asuhan.

Lee Jihoon atau yang sering Soonyoung panggil Kak Ujik adalah salah satu anak yang juga tinggal di panti asuhan, keduanya bertemu ketika Soonyoung yang kala itu berusia 8 tahun di tempatkan di sana oleh petugas dari Dinas Sosial pasca kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.

Jihoon yang lebih dewasa saat itu sering menemani Soonyoung dalam setiap kegiatannya di panti, kejadian naas yang terjadi pada Soonyoung kecil di usianya yang sangat muda memberikan dampak yang cukup besar pada kepribadiannya. Saat pertama kali datang, Soonyoung bahkan tidak berbicara sama sekali selama hampir dua bulan, ia hanya akan berbicara pada almarhum Ibu Siska pemilik panti asuhan.

Jihoon yang paham dengan situasi itu dan sudah merasakan lebih dulu hidup sendiri di panti asuhan membuatnya iba kepada Soonyoung. Tidak ada satu haripun Jihoon absen menyapa Soonyoung dan mengajaknya bermain, makan ataupun belajar bersama, sampai akhirnya di suatu pagi Soonyoung kecil datang ke kamar Jihoon meminta bantuannya untuk menemaninya ke kamar mandi membuang air kecil, dan sejak pagi itu keduanya mulai bersahabat.

.

.

.

“Kak ujik!” Soonyoung datang dengan suasana hati yang baik.

“Pesen makan dulu” jawab Jihoon.

“Ditraktir nggak?”

“Iya, buruan panggil masnya gue juga laper”

“Oke”

Setelah makanan mereka sampai keduanya menikmati makan siang dengan lahap dan sedikit bernostalgia tentang masa-masa mereka selama di panti asuhan dulu.

“Kak lu inget nggak pernah nyemplung di gorong -gorong deket pohon jambu?” tawa Soonyoung meledak saat mengingat kejadian itu.

“Ngehe banget itu juga gara-gara sedal lo jatoh, Yon”

“Padahal ya gapapa juga kalo lo nggak ngambilin, kan sendalnya udah putus” lagi-lagi Soonyoung tertawa di antara suapan makan siangnnya.

“Lo waktu itu nangis kejer ya bego!” berbanding terbalik, Jihoon merasa kesal diingatkan kejadian memalukan yang pernah terjadi pada dirinya hampir satu dekade yang lalu.

.

. Setelah asik bercerita Jihoon akhirnya mengangkat topik yang sebenarnya dihindari Soonyoung sejak tadi.

“Jadi Yon kapan lo pertama kali ketemu Wonwoo?” tanya Jihoon menyuap sendok terakhirnya.

“Dua bulan lalu kak pas gue mau nyewa apartnya, dikenalin sama temen gue”

“Itu pertama kalinya banget lo ketemu dia?”

“Iyalah, circle gue mah anak-anak kampus doang mana mungkin bisa kenal sama bos kantor gedongan begitu” jelas Soonyoung jujur.

“Yakin? sama sekali nggak familiar sama mukanya?”

“Enggak. Kenapa sih? lo aneh banget” sungut Soonyoung.

“Kok lo yang sewot, Yon? Harusnya kan gue yang marah sama kelakuan lo”

“Hmm iya maaf” cicit Soonyoung menatap piring yang sudah kosong.

“Yon, gue bukan mau ngantur hidup lo apalagi setelah bertahun-tahun kita baru ketemu lagi. Gue cuma mau lo renungkan apa yang mau gue bilang. Lo udah dewasa dan gue bakal ngomong sebagai kakak lo.

Lo pasti sudah sangat tau kalau hubungan lo sama Wonwoo itu nggak sehat”

Soonyoung mengangguk.

“Untuk sekarang mungkin belum ada orang yang tau tapi nanti? Who knows? Wonwoo itu nggak cuma melakukan satu pekerjaan, diluar sana dia punya bisnis yang besar banget, lo bahkan nggak akan percaya berapa banyak duit yang dia hasilkan setiap menitnya” tutur Jihoon.

“Dunia bisnis itu penuh persaingan, Yon. Mulai dari yang sehat sampai yang curang. Gue nggak mau kalau nanti ada orang memanfaatkan elo” sambung Jihoon.

“Kak ini cuma lima bulan” balas Soonyoung.

“Justru itu yon, lima bulan cukup buat ngehancurin hidup orang selama-lamanya”

“Lo jangan nakut-nakutin gue dong”

“Gue nggak nakutin, gue cuma mau membuka pikiran lo. Setelah lima bulan lo mau apa? Ngelanjutin hidup lo lagi kan?”

“Iya” jawab Soonyoung.

“Apa lo nggak was-was kalau nanti ada orang yang tau tentang pekerjaan masa lalu lo? Dunia kerja itu kejam yon, bahkan orang terdekat lo bisa jadi yang paling jahat. Reputasi lo bisa ancur dalam hitungan detik, dalam 1 jepretan foto bahkan dari satu screenshoot percakapan. Apa lo nggak pernah mempertimbangkan itu sebelum lo setuju dengan tawaran Wonwoo?”

Soonyoung menggeleng.

“Gue kalut kak, kepepet”

“Apa lo nggak punya temen?”

“Punya. Mereka bahkan nawarin bantuannya ke gue waktu itu”

“Terus kenapa nggak lo terima?”

“Gue nggak enak kak minta bantuan mereka terus-terusan”

“Yon...yon...lo tuh gak berubah juga, wajar yon kalau lo butuh bantuan. Nggak semuanya bisa lo lakuin sendiri.. Kadang ada saatnya kita membuang ego dan menerima uluran tangan orang. Wajar kalau ada saatnya lo dirangkul orang lain, wajar untuk sesaat membagi beban kita dengan orang lain. We're no superhuman”

Soonyoung kembali menunduk dalam.

“Kontrak lo lima bulan kan?”

“Iya kak”

“Kalau tiba-tiba lo ditinggalin Wonwoo secara mendadak, lo siap? Ada nggak pernyataan di kontrak itu yang melarang Wonwoo untuk memutus kontraknya secara sepihak?”

Soonyoung baru tersadar dan mengingat-ingat kembali isi kontraknya dengan Wonwoo.

“Sorry yon, tapi kalau sudah begitu apa bedanya lo dengan pekerja prostitusi?”

Ada pukulan di hatinya yang Soonyoung rasakan ketika mendengar kata-kata Jihoon barusan.

“Kalau tiba-tiba sebelum kontrak lo selesai tapi Wonwoo sudah ngebuang elo. Lo mau kemana?

Well, mungkin sekarang udah ada gue. Pintu rumah gue terbuka lebar buat lo kapan aja. Tapi hati lo? Lo siap jauh dan gak akan pernah ketemu lagi sama dia?

Jangan bilang lo gak ada perasaan sama Wonwoo, bullshit yon”

Soonyoung tidak menjawab.

“Gini deh sebutin keuntungan lo selama jadi sugar baby-nya Wonwoo, selain biaya kuliah, uang jajan dan tempat tinggal”

“Gue bisa dapat koneksi banyak dari dia kak, gue punya niat buat magang di kantor dia yang sekarang kalau sudah masuk masa PKL gue nanti, ya walaupun dia udah pindah ke Batam”

“Lo yakin? bukannya nanti koneksi itu bakal jadi boomerang buat lo?

Lo yakin setelah dia pidah nanti mau mempetaruhkan reputasinya di kantor sini dengan memasukkan lo sebagai rekomendasi dia? Lo yang notabennya tau sisi buruk Wonwoo yang paling kelam bisa aja mengancam karir dan bisnisnya di Batan dan Riau?”

Lagi-lagi soonyoung terdiam dengan semua fakta dan pertanyaan yang Jihoon lontakan, semuanya benar dan semuanya adalah hal-hal yang selama ini Soonyoung acuhkan dengan alibi ini hanya akan berjalan selama lima bulan.

“Here again, lo yakin Wonwoo cuma berhubungan sex sama lo doang?”

“Yakin kak, ada di kontrak. Kita dilarang berhubungan dengan orang lain selama kontrak ini masih berjalan”

“Yoni, my not so innocent brother. People lie all the time

penyakit menular bisa aja tanpa lo sadari mampir ke lo juga, do you guys even using protection?”

“Kondom?” tanya Soonyoung.

“Ya. Apalagi”

“Gak pernah”

Kini Jihoon yang dibuat terdiam, ia memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pening.

“Jangan khawatir Kak ujik, Pak Wonwoo bawa gue cek ke dokter kok setiap bulan dan kita dapat hasilnya”

“Kamu dapat hasil cek mu?”

“Dapet, dari Pak Wonwoo”

“Hasilnya Wonwoo?”

“Gak tau” jawab Soonyoung.

“Mikir” cetus Jihoon.

Soonyoung kembali sadar, ada hal lain yang ternyata ia lewatkan.

“Tapi lo nggak pernah dikasarin kan, Yon?”

“Enggak kak, dilarang abussive ada di kontrak”

“Yakin lo? bahkan waktu have sex?”

“umm...” Soonyoung terlihat berpikir. “Tadi malem sih gue ditampar”

“HAH?!!” Jihoon terkejut bukan main.

”....di pantat kak”

“disgusting!” Jihoon kembali releks, sedangkan Soonyoug hanya tersenyum masam.

“Just be careful, Yon. We'd never know someone's kink”

“Iya kak, selama gue bisa handle gak masalah”

“Berapa banyak orang yang tau hubungan lo sama Wonwoo?'

“Temen gue satu, temen yang deket banget. Sekretarisnya Pak Wonwoo”

“Seungcheol ya? Ofcourse he knew” Jihoon berbisik pada dirinya sendiri.

“Dokter sama istrinya dokter yang temen Pak Wonwoo”.

“Sebanyak itu?”

“Gue juga kaget”

“Yon, gue tau lo udah overthinking. Bagus biar lo mikir sekalian. Nih gue tambahin bahan pikiran lo, kira-kira apa lo yakin dari semua orang yang tau hubungan lo dengan Wonwoo semuanya orang baik yang bisa diperccaya? bahkan termasuk gue”

Dan untuk kesekian kalinya dihari itu Soonyoung kembali terdiam.