YONI

Soonyoung turun dari mobil Wonwoo ketika mesin mobil mati tepat pada halaman luas yang sangat ia kenali, walaupun banyak perubahan namun bau rumput di tempat itu masih sama, persis seperti dua tahun lalu saat Soonyoung tinggalkan. Bau rumput yang menjadi favoritnya selama 10 tahun hidup di sana.

Wonwoo melepas kaca mata hitamnya saat turun menyusul Soonyoung yang masih terpaku memandangi gedung yang cukup luas dan besar di depannya. Wonwoo paham ini adalah momen emosional bagi Soonyoung jadi ia membiarkannya sejenak tenggelam dalam apapun yang ada dalam pikiran Soonyoung saat ini dan lebih memilih menunggunya di belakang, bersandar pada sisi mobil.

“Daddy?” Panggil Soonyoung saat sadar dirinya melamun sejak tadi.

Wonwoo melemparkan senyum paling teduhnya pada Soonyoung dan demi Tuhan itu adalah senyuman paling indah yang diberikan oleh seorang Jeon Wonwoo untuk Soonyoung semenjak tinggal bersama tiga bulan terakhir. Jujur, tarikan senyum barusan membuat dada Soonyoung berdegup kencang, ia tahu rasa ini semakin dalam untuk orang di depannya.

“Let's get inside?” ajak Wonwoo dengan menggenggam tangan Soonyoung sangat lembut, membuat yang di genggam tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Bagi orang yang tidak tahu mungkin kedua orang ini terlihat seperti pasangan yang sesungguhnya, pasangan dengan cinta disetiap tatapan mata dan sentuhan kupu-kupu di setiap interaksinya.

Di panti asuhan itu sudah tidak ada lagi yang Soonyoung kenali kecuali satu petugas kebersihan yang memang sudah puluhan tahun bekerja di sana.

“Dek Yoni?” sapa petugas kebersihan itu yang sudah terlihat sangat tua dengan rambutnya yang mulai memutih.

“Pak Anwar!” Soonyoung terlihat sangat senang.

“Betul dek yoni?” Soonyoung mengangguk dan keduanya berpelukan, sebenarnya Soonyoung lah yang memeluk lebih erat kelewat bahagia.

“Ini juga Mas Wonwoo ya?” tanya Pak Anwar saat melihat sosok lain yang dikenalinya.

“Iya Pak” jawab Wonwoo ramah kemudian memeluk Pak Anwar, ada apa dengan Wonwoo?, batin Soonyoung, ia bahkan tidak pernah melihat Wonwoo seramah itu pada orang lain. Ah! mungkin pernah pada saat di gala dinner saat Wonwoo menyapa kolega dan rekan bisnisnya. Namun, yang kali ini berbeda. Wonwoo terlihat sangat tulus?

“Mas, Puji Tuhan akhirnya ketemu juga ya sama yoni” ujar Pak Anwar menepuk-nepuk pundak Wonwoo.

“Iya pak” balas Wonwoo masih ramah dan tersenyum.

“Loh Pak Wonwoo kenal juga sama Pak Anwar?” Soonyoung sengaja memanggil Wonwoo dengan sebutan 'Pak' agar Pak Anwar tidak bingung.

“Yoni gimana toh? ini sama Mas Wonwoo apa baru ketemu hari ini jadi bingung begitu?”

“Aku juga bingung pak hehehe” Soonyoung menggaruk tengkuknya.

“Yoni belum tau, Pak. Mungkin juga masih lupa sama saya” balas Wonwoo senetral mungkin.

Ada degup lain di dada soonyoung saat mendengar Wonwoo menyebut nama kecilnya. Seperti ada sekelebat memori yang lewat namun entah apa Soonyoung pun tak yakin. Wonwoo tidak pernah memanggil Soonyoung dengan nama kecilnya walaupun ia yakin Wonwoo sudah tahu nama itu dari Jihoon.

“Haduh Yoni ada-ada saja, tapi paling juga dia teriak sendiri kalau sudah ingat, Mas” ujar Pak anwar lagi.

Wonwoo mengangguk.

“Aku dari kemarin bingung loh kaya yang gak tau apa-apa, Kak Ujik juga mencurigakan”

“Ujik kemarin kesini yon, kamu juga sudah ketemu dia? kenapa nggak ikut?”

“Dia gak kabar-kabarin aku, Pak anwar. Curang banget kan?” Sungut Soonyoung.

“Yasudah...yasudah... kamu itu dari dulu kerjaannya merajuk terus, sini kita ke taman belakang saja. Anak-anak lagi pada rame main, bapak bikinin teh anget sekalian” ajak Pak Anwar.

“Terimakasih, Pak” balas Wonwoo mengikuti Pak anwar disusul Soonyoung yang menggandeng lengannya tak tahu-tahu, tentu saja tanpa sepengetahuan Pak anwar.

.

.

“Daddy” bisik Soonyoung saat mereka duduk di pinggiran taman melihat anak-anak panti asuhan Puri Kasih ramai bermain.

“Hmm”

“Sering banget ya donasi kesini sampai kenal akrab begitu sama Pak anwar?”

“Lumayan” balas Wonwoo menatap mata Soonyoung, ia kemudian berdeham menjauhkan wajahnya yang ternyata sangat dekat dengan Soonyoung.

.

.

“Nah ini diminum dulu ya” Pak Anwar datang membawakan tiga cangkir teh hangat untuk mereka dan diletakan pada meja kayu di sebelah kiri.

“Pengurusnya gak ada yang aku kenal ya, Pak” kata Soonyoung.

“Iya yon, semenjak bu siska meninggal kamu ingatkan? itu sudah mulai banyak pergantian dan dua tahun terakhir malah lebih besar, semua pengurusnya satu persatu resign atau di ganti. Cuma satu mungkin karena gak ada yang sanggup bersih-bersih panti sini kecuali saya, makanya saya nggak di ganti” canda Pak anwar pada akhir kalimatnya.

“orang dinas sosial masih sering kunjungan, Pak?” Sekarang Wonwoo yang bertanya.

“Jarang, Mas. Paling dua bulan sekali itu juga kalau ada anak yang mau di daftarkan, selebihnya sepi-sepi aja”

Ketiganya kemudian banyak bercerita tentang panti asuhan dulu dan sekarang hingga tak terasa setengah jam berlalu dan Pak Anwar harus kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, sebelum pergi Pak Anwar kembali menyampaikan sesuatu yang membuat Soonyoung kembali bingung.

“Mbakmu yang itu apa kabar yon? Udah lama juga gak ke sini”

“hah? siapa pak?”

“Siapa ya saya lupa namanya kaya orang bule, Klarisa? Klara? Crista? Sek...” Pak anwar mencoba mengingat-ingat kembali.

”....Oh! itu yon, Claire” sambung Pak Anwar.

Wonwoo terkejut namun Soonyoung lebih terkejut.

“Aku nggak punya mbak, Pak. nggak ada keluarga sama sekali” balas Soonyoung bingung.

“Kamu itu semua orang di lupain, yon. Saya tak balik ke atas dulu mau isi air tandon. Kalian keliling-keliling aja bebas”

Setelahnya Pak Anwar berpamitan pergi.

Soonyoung masih diam mencerna kata-kata dari Pak Anwar barusan, apakah maksudnya Claire yang sama dengan yang ia kenal? Kenapa Pak Anwar seolah-olah menganggap Claire adalah keluarganya?

“Soonyoung...

.....maaf” ucap Wonwoo akhirnya, mengamit tangan Soonyoung.

“Aku bingung daddy” balas Soonyoung sendu bahkan tak menatap Wonwoo.

“Sayang....apa yang akan kamu dengar dari saya hari ini pasti akan membuatmu lebih bingung bahkan terkejut, tapi jujur niat saya menyimpan ini sejak kemarin bukan karena niat buruk. Saya cuma....” Wonwoo menjeda kalimatnya dan menarik napas dalam.

”....takut, saya takut kamu pergi lagi”

Benar saja, Soonyoung langsung mengerutkan alisnya tak paham. Soonyoung bahkan tidak pernah sekalipun absen memberikan kabarnya pada Wonwoo, di masa kuliah kemarin sebelum libur semester Soonyoung dengan rutin mengirimi pesan singkat jika ia berangkat ke kampus saat Wonwoo sudah di kantor, mengabarinya jika pulang terlambat, bahkan tidak akan pergi jika Wonwoo belum membalas pesannya atau bahkan melarangnya. Semua Soonyoung lalukan agar Wonwoo tidak khawatir.

“I have lost you once”

Kembali Soonyoung mengerutkan alisnya.

Wonwoo menariknya mendekat, tangan masih menggenggam dengan erat.

Hari ini tidak tahu kenapa Soonyoung kembali mengenakan gelang merah pemberian Wonwoo saat ulang tahunnya kesepuluh dulu. Wonwoo mengelus gelang yang melingkar indah di pergelangan tangan Soonyoung itu dengan ibu jarinya dan memandanginya dalam diam.

“I won't leave you” ujar Soonyoung.

“Kamu belum dengar penjelasan saya”

“I promise, I won't leave you daddy”

Wonwoo menatap Soonyoung lamat kemudian mencium bibirnya pelan, menyampaikan perasaannya melalui ciuman itu.

“Soonyoung, bahkan ketika kamu akan pergi setelah mendengar pengakuan saya hari ini tidak apa-apa. Saya sudah siap. Kalau kemarin saya takut, hari ini tidak. Saya sudah yakin, kamu berhak memilih pilihanmu”

Sekarang Soonyoung lah yang merasa takut dengan apa yang akan di sampaikan Wonwoo.

“Soonyoung lihat saya” Soonyoung yang menunduk mengangkat kepalanya pelan menatap Wonwoo, memperhatikan lelaki di depannya yang mengambil satu kaca mata baca yang terlihat jadul, kaca mata dengan lensa yang cukup tebal untuk dipakai oleh seseorang yang masih terbilang muda.

Soonyoung masih diam namun dadanya berdebar luar biasa, seperti ada gemuruh petir yang siap menyambar, seperti deras arus air terjun yang kapan saja bisa menggulung sekelilingnya, seperti tabuhan genderang paling kencang yang siap memekakan telinga bagi siapun yang mendenganya, seperti Soonyoung yang akan meledak di setiap detik ia menatapnya lebih lama, mengingat memori itu lebih nyata.

“Yoni” bisiknya teramat pelan membuat Soonyoung spontan menggenggam tangan itu lebih kuat, meremasnya kencang.

Soonyoung menangis tanpa suara. Tatapannya lurus pada lelaki berkacamata itu namun air matanya menetes menyesakan dada dan tenggorokkannya.

“Yoni...saya rindu”

Lelaki itu pun menangis di balik kacamatanya, dadanya lebih sesak.

Kepercayaan dirinya yang ia pupuk sejak kemarin tiba-tiba runtuh, rasa takutnya kembali menggerogoti.

Soonyoung masih menatap pria berkacamata di depannya itu, menyerap seluruh memori 10 tahun lalu yang sempat hilang di kepalanya, yang sempat mengabur oleh kerasnya hidup.

“Yon—”

“Kakak” panggil Soonyoung.

Dengan itu pertahanan Wonwoo runtuh, ia menarik tangannya dari genggaman Soonyoung, untuk menutupi wajahnya yang kini mengalir air mata dengan deras, ia menangis hebat terisak di balik kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya, tubuhnya bergetar, bahkan suara isakan itu begitu jelas di indra pendengaran Soonyoung, suaranya begitu menyakitkan.

Bagi Wonwoo hanya Tuhan yang tahu bagaimana rindu yang ia simpan dalam-dalam untuk Soonyoung. Bagaimana malam Wonwoo begitu gelap mengingat setiap penyesalannya mengabaikan Soonyoung sesaat dan kemudian kehilangannya untuk waktu yang lama.

Emosinya tumpah saat ini di depan seseorang yang ia cintai sejak entah pada permainan atau gelak tawa di pertemuan keberapa 10 tahun silam.

“Kak...kakak” panggil Soonyoung dengan air mata yang juga masih mengalir di pipinya, tangannya menjentikkan kuku-kukunya takut dan ragu.

Tangan Soonyoung bergetar namun ia beranikan untuk memegang tangan Wonwoo yang masih menutupi wajahnya.

“Ini betul kakaknya Yoni, hm? Kak nu yang di seberang rumah Yoni?”

Wonwoo mengangguk masih menangis namun tangannya sudah di pegang lagi oleh Soonyoung.

“Kak nu...Kak...Yoni juga rindu” tangis Soonyoung pun akhirnya pecah, Soonyoung mengangkat tubuhnya dan memeluk Wonwoo yang begitu rapuh. Memeluk laki-laki yang sebelumnya ia kenal begitu kuat.

Keduanya saling berpelukan sangat erat seolah-olah dunia akan berakhir jika mereka melepas pelukan itu.

Soonyoung menciumi pucuk kepala Wonwoo, yang lebih tua menenggelamkan kepalanya di dada yang lebih muda, memeluk pinggangnya kuat.

Sosok berkacamata dari sepuluh tahun lalu yang menjadi satu-satunya keluarga saat ia di tinggalkan kedua orang tuanya, pemuda kurus dengan kaca mata tebal yang selalu datang ke rumah Soonyoung kecil untuk menemaninya makan atau sekedar bermain di halaman depan, sosok yang banyak memberikan pengertian untuk Soonyoung yang masih berusia 8 tahun dan harus menerima kenyataan pahit, sosok yang menjadi kakak pelindung andalan Soonyoung yang membantu biaya pendidikannya hingga lulus sekolah, kakak itu kembali. Ia nyata bersamanya selama ini, bagaimana bodohnya perasaan Soonyoung tiga bulan kebelakang tidak menyadari sosok itu sudah bersamanya lagi.

Wonwoo tak lagi mengenakan kaca mata tebalnya, ia bukan lagi anak laki-laki berbadan kurus dengan tas ransel berat berisi buku-buku ekonomi berbahasa asing, dia bukan lagi Wonwoo yang mudah kedinganan saat bermain hujan-hujanan di hutan belakang perumahan mereka. Wonwoo yang sekarang jauh lebih kuat dan percaya diri, banyak perubahan yang terjadi pada Wonwoo yang sekarang dengan mata yang tajam, namun apapun alasanya harusnya ia sadar. Harusnya ia bisa mengenali pria itu lebih cepat.

.

.

.

“Yoni it hurts so much when I lost you” ucap Wonwoo saat perlahan perasaannya mulai tenang oleh usapan Soonyoung di punggungnya.

“Aku pikir Kak nu nggak mau ketemu Yoni lagi” ujar Soonyoung, kini keduanya kembali duduk berhadapan tangan masih saling mengenggam satu sama lain.

“Saya terlalu sibuk dengan diri sendiri sampai lupa saya punya prioritas. Saya punya adik kecil yang pelan-pelan ternyata saya tinggalkan, saya pikir saya akan terus bisa mengawasi kamu walaupun dari jauh, saya lupa kalau kamu bertumbuh dewasa dan kapan saja bisa memilih jalan hidupnya sendiri, saya lupa sampai saya kehilangan kamu 2 tahun lalu” ungkap Wonwoo jujur.

“Yoni pikir...kakak benci yoni, kakak nggak pernah kunjungi yoni lagi dari SMP. Yoni kangen tapi Yoni nggak tau cari kakak kemana”

“Sayang....Kak nu ada sama Yoni sampai kamu SMA walaupun saya cuma liat Yoni dari jauh

saya tau dulu yoni suka nari di sekolah, saya juga tau yoni juara 2 olimpiade matematika tapi maaf kak nu ngga kasih selamat sama yoni” ujar Wonwoo mengusap pipi basah Soonyoung.

“Maaf sayang, saya dulu egois. Saya pikir dengan memenuhi kebutuhan yoni di panti dan sekolah akan cukup membuat yoni aman dan nyaman tapi ternyata salah. Langkah saya salah waktu itu, harusnya saya nggak perlu bekerja terlalu keras dan tetep ada di samping Yoni”

“Yoni bingung, kakak setiap bulan selalu titip uang sekolah ke almarhum Bu Siska tapi nggak pernah muncul jenguk Yoni. Yoni sempat pikir kakak cuma menggugurkan tanggung jawab dengan bayar sekolah Yoni tapi sebenernya sudah capek ketemu Yoni karna Yoni banyak merepotkan” ungkap Soonyoung lagi mengutarakan perasaannya yang ia simpan bertahun-tahun lalu, dan karena itu pula ia tidak pernah mau mencari Wonwoo.

“Enggak Yoni, nggak begitu” ujar Wonwoo mengusap poni Soonyoung yang tertiup angin.

“Sejak kapan kakak tau yoni?”

“Sejak kamu ketemu Jihoon di kantor”

“Satu setengah bulan yang lalu?”

“Iya sayang”

“Selama itu kak nu sembunyikan?”

“Sebenarnya lebih lama, saya sudah punya feeling kalau itu Yoni semenjak temenin kamu belajar buat UAS. Saya liat gelang itu di box di atas meja belajar kamu” Wonwoo kembali mengusap gelang merah pemberiannya untuk Soonyoung.

“Gelang? Gelang ini?” Soonyoung menunjuk gelang merah yang sejak tadi diusap Wonwoo dengan ibu jarinya.

“Iya gelang ini” Wonwoo menarik lengan baju kemejanya hingga siku, memperlihatkan gelang yang sama di pergelangan tangannya, persis dengan yang di pakai oleh Soonyoung.

Senyum Soonyoung mengembang. Benar, iya sudah yakin orang di depannya ini adalah Kak Nu-nya dari 10 tahun lalu.

Soonyoung kembali teringat, percakapannya tempo hari dengan Wonwoo tentang kakak masa kecilnya.

“Obrolan kita waktu itu?”

“Iya saya sudah tau itu kamu dan Yoni.....saya belum berkeluarga”

Soonyoung tersenyum, senang dan lega sekaligus malu.

“Kenapa lama-lama sembunyiinnya Kak nu?”

“I wanted to make sure dan saya takut....

...kamu benci saya setelah tau, saya takut kamu pikir saya memanfaatkan kamu dan kamu pergi lagi” jujur Wonwoo.

“Aku sudah bilang, aku nggak bakal tinggalin Kak nu”

“Wonwoo. Kamu bilang nggak akan ninggalin Wonwoo. Your daddy Wonwoo not your Kak nu

Soonyoung kini tertawa.

“Sama aja, you're still my kak nu and my hot daddy wonwoo. Nothing can change-” Soonyoung tidak melanjutkan ucapannya, ia terdiam. Tiba-tiba perjanjian di kontraknya dengan Wonwoo muncul dalam ingatan Soonyoung.

“Change what, Yoni?”

“Nothing kak”

“Please be honest, I've been suffer for the past few years to find you”

”.... I can't say it” ucap Soonyoung pelan dan menunduk.

“Say it”

“Kita punya kontrak kak nu”

“SCREW THAT FUCKING CONTRACT!” “It's void”

“What? No kak!”

“Soonyoung, saya sayang sama kamu” Soonyoung otomatis menoleh. “Not as my little brother, but as a person”

Soonyoung berdiri.

Menghadap Wonwoo.

Dan menciumnya.

Dalam.

“Kak, you're still my kak nu and my daddy wonwoo. Nothing can change how I feel about you. Aku juga sayang daddy, sayang kak nu, sayang kamu” ujar Soonyoung saat melepas ciumannya.

Kini keduanya saling menukar senyum, tangan Soonyoung ia lingkarkan pada leher Wonwoo dan hidung mereka bergesekan satu sama lain. Mereka bahagia. Mereka kini utuh.

Karena mereka akhirnya saling menemukan.