milkyways1707

Hari ini dia berangkat dengan menumpang teman sekolahnya yang tinggal berdekatan, namanya Jihoon teman sejak masih duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Rumah Soonyoung dan Jihoon hanya berbeda dua gang, sama-sama dari keluarga sederhana. Kalau Ibu Soonyoung bekerja di pasar dan sudah ditinggal ayahnya wafat tujuh tahun lalu, untuk Jihoon dia masih memiliki orang tua lengkap namun keduanya bekerja menjadi TKI di luar negeri sehingga sehari-hari hanya bersama neneknya yang memiliki warung sembako kecil di depan rumah.

“Ji, nanti gue turunin di Cafe aja ya” katanya dari belakang, helm longgar dengan sedikit poni yang mulai panjang menggelitik mata ditiup angin pagi.

“Mau ngapain lo pagi-pagi?”

“Jajan roti, lo mau?”

“Gak usaha, tadi udah dibawain nasi sama si mbah”

Soonyoung kemudian mengangguk yang sebenarnya juga tak terlihat oleh teman di depannya.

Open in app Get started

Dew Dew Follow Jun 8

· 2 min read

Save

Floss Bread Hari ini dia berangkat dengan menumpang teman sekolahnya yang tinggal berdekatan, namanya Jihoon teman sejak masih duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Rumah Soonyoung dan Jihoon hanya berbeda dua gang, sama-sama dari keluarga sederhana. Kalau Ibu Soonyoung bekerja di pasar dan sudah ditinggal ayahnya wafat tujuh tahun lalu, untuk Jihoon dia masih memiliki orang tua lengkap namun keduanya bekerja menjadi TKI di luar negeri sehingga sehari-hari hanya bersama neneknya yang memiliki warung sembako kecil di depan rumah.

“Ji, nanti gue turunin di Cafe aja ya” katanya dari belakang, helm longgar dengan sedikit poni yang mulai panjang menggelitik mata ditiup angin pagi.

“Mau ngapain lo pagi-pagi?”

“Jajan roti, lo mau?”

“Gak usaha, tadi udah dibawain nasi sama si mbah”

Soonyoung kemudian mengangguk yang sebenarnya juga tak terlihat oleh teman di depannya.

Soonyoung menyapa kasir sekaligus pemilik Cafe setelah pintu terbuka dengan lonceng kecil di atas pintu. Cafe dengan nuansa modern yang memiliki warna ornamen hijau di pintu masuknya itu memberikan kesan nyaman dan tenang.

“Pagi, Kak Hani” Sapanya.

“Pagi Soonyoung, ada yang ketinggalan barangnya kemarin?” tanya si pemilik Cafe karena kedatangan Soonyoung di pagi hari terbilang cukup jarang, shift bekerja paruh waktu siswa kelas dua SMA itu biasanya siang sepulang sekolah atau malam.

“Enggak hehehe aku cuma mau jajan roti abon”

Wanita dengan usia diakhir masa 20 tahunan pemilik cafe tersebut kemudian tersenyum ramah.

“Mau berapa?”

“Dua aja, Kak Hani”

Kemudian pemilik cafe menghilang ke arah dapur mengambil stok roti yang memang baru matang dan siap disusun di rak saji di depan counter.

Saat hendak membayar, Kak Hani sapaan Soonyoung itu tidak menginjinkannya untuk membayar, memberikan secara cuma-cuma empat roti abon dengan bungkus plastik mungil kepada pekerja paruh waktunya itu.

Soonyoung yang malu-malu pun menerimanya dengan senang.

“Sampai ketemu nanti siang, Kak!” ujarnya setelah mengucapkan terimakasih dan menghilang di balik pintu cafe yang berdenting sambil berlari kecil.

Di sekolah sudah banyak siswa-siswi yang berdatangan, masih 15 menit lagi sebelum bel masuk berbunyi. Soonyoung dengan plastik rotinya berjalan ke arah kelas teman baru yang baru dikenalnya kemarin.

“Wonwoo ada?” tanyanya pada salah satu siswa yang ada di kelas tersebut.

“Belum dateng, tasnya belum ada tuh” jawab gadis berambut pendek dengan mata besar yang membuatnya manis.

Soonyoung kemudian mengangguk.

“Kursinya yang mana?”

“Pojokan deket jendela yang nomer 3 tengah”

Oh pantas saja pertemuan pertamanya dengan Wonwoo waktu itu dipinggir jendela, ternyata memang tempat duduknya di sana.

“Sini?” tanyanya lagi memastikan.

“Yep!”

“Gue titip ini ya buat Wonwoo” ia meletakkan dua roti abon di atas meja.

“Oke”

Soonyoung kemudian kembali dan pergi ke kelasnya sambil mengingat-ingat lagi saat tadi sekilas melihat foto Wonwoo di mading kelas, wajahnya tampak tak asing.

“Oy, disuruh pulang jam berapa?” Tanya Wonwoo yang duduk di kursi kayu depan etalase makanan.

Soonyoung tersungut sambil menyuap telor dadar terakhir ke mulutnya.

“Soonyoung nama gue Soonyoung bukan 'Oy' oke?” Balasnya hampir merajuk, namun sebelum itu Wonwoo sudah memberikan satu bungkus kerupuk unyil di depan Soonyoung yang kemudian diambil dengan bibir manyun yang dibuat-buat ciri khas orang marah.

“Jadi?”

“Disuruh jam 5 tapi gue males”

“Emang disuruh kemana?”

“Daerah kuningan dinner sama koleganya Ayah” kata Soonyoung sambil mengunyah kerupuknya.

Wonwoo melirik jam dinding di warung itu. Waktu menunjukkan pukul 17.08 artinya Soonyoung sudah harus pulang saat ini.

“Pulang sono” usir Wonwoo.

“Dibilangin gak mau”

“Itu telepon bodyguard lo yang badannya gede”

“Ogah. Orang gue maunya main”

“Main mah bisa nanti lagi yang penting pesan orang tua dilakuin” kata Wonwoo datar dengan suara beratnya.

“Gak mau” lagi-lagi Soonyoung menolak, kini acuh bahkan tak memandang lawan bicaranya lagi pura-pura sibuk meminum sisa es teh dan kerupuk.

“Ntar nyesel kalo orang tua udah gak ada kaya gue” balas Wonwoo santai.

Soonyoung langsung terdiam melirik orang di sebelahnya.

“Orang tua lo udah gak ada?”

“Iya meninggal waktu gue SD”

“Dua-duanya?”

“Nyokap duluan, terus bokap dua tahun kemudian”

“Saudara?”

“Gak ada”

Soonyoung tiba-tiba merasa tak enak hati.

“Bagus kalo lo jadi ngerasa gak enak” ujar Wonwoo lagi. “Emang gak enak ngebayangin hidup tanpa orang tua dan harus berjuang sendiri buat makan sehari-hari jadi lo yang orang tuanya masih ada mesti bersyukur apalagi masih diingetin untuk pulang ke rumah”

Hati Soonyoung menjadi sakit mendegar ucapan Wonwoo, dia seperti ikut merasakan pedih dan kesakitan hatinya tanpa orang tua.

“Tapi ayah gue rese”

“Pernah dipukul pakai sabuk ikat pinggang?” Tanya Wonwoo.

Soonyoung menggeleng.

“Pernah dimasukin ke dalam drum air mandi?”

Soonyoung menggeleng lagi.

“Dikejar pakai balok?”

Wajah Soonyoung berubah horor.

“Gue udah pernah semua sama bokap gue gara-gara gue bandel waktu kecil tapi gue tetap sayang karena gue tau bokap begitu buat ngedidik gue biar gak jadi anak kurang ajar walaupun caranya ekstrim” kata Wonwoo lagi sambil terkekeh mengingat masa kecilnya dulu.

Soonyoung diam mendengarkan.

“Tapi sayangnya gue baru sadar setelah bokap nyokap wafat dan gue menyesal belum bisa berbuat apa-apa untuk mereka” lanjut Wonwoo.

Pandangan Soonyoung sudah mengabur, genangan bening di matanya sudah menumpuk. Ia sedih dengan cerita Wonwoo terlebih cerita itu mengingatkan Soonyoung tentang Ayahnya di rumah.

Beliau memang orang yang tegas, semua aturannya dibuat memang untuk membentuk Soonyoung satu-satunya anak yang akan mewarisi perusahaannya. Soonyoung paham itu hanya saja ia yang selalu beralasan masih ingin menikmati masa sekolahnya dengan bebas.

“Wonwoo, gue mau pulang aja”

Wonwoo langsung menoleh kaget.

“Katanya gak mau pulang?”

“Gak jadi. Mau pulang aja” ia kemudian berdiri.

“Eh tunggu dulu masih ujan” balas Wonwoo.

“Kan ada lo ojek payungnya”

Wonwoo dibuat melongo. Bukan apa-apa hanya saja sedari tadi tidak membawa payung, hanya ada keranjang jualan kacang dan air mineralnya saja di samping.

“Gak bawa payung, Soonyoung. Rumah lo di mana?”

“PIK”

“Buset jauh. Gini aja deh...” “Kita ke gang sebelah dulu di sana rumah gue, ambil mobil pick up-nya Bang Codet terus lo gue anter ke rumah”

Bang Codet? Pick Up? Diantar Wonwoo?

Soonyoung tiba-tiba diserang bingung.

Karena paham, Wonwoo kemudian menjelaskan.

“Gue kadang jadi sopir ekspedisi pakai mobil pick up-nya punya Bang Codet tetangga gue ntar malam bakal banyak ambilan angkutan jadi sekalian aja nganter lo”

Soonyoung pun paham dan kemudian mengikuti Wonwoo ke gang sebelah yang dimaksud. Berlari kecil di bawah guyur hujan agar cepat sampai.

Rumahnya di ujung jalan dengan warna cream yang sudah lusuh. Tidak begitu besar dan nampak sedikit gelap. Wajar saja, Wonwoo hanya tinggal sendiri dan tidak punya cukup waktu untuk merawat rumah kecil ini.

“Tunggu sini bentar gue ambil kuncinya di rumah sebelah”

Soonyoung mengangguk dan menunggu Wonwoo di depan rumahnya sambil berteduh.

Selang beberapa menit Wonwoo kembali bersama Chan.

“Nah ini pasti yang mau nebeng” sambar Chan dengan nada mengejek.

Soonyoung langsung berdecih dan menatap sinis.

“Wonwoo kok yang nawarin” balasnya

“Tapi lo jadi seneng kan?” Kata Chan lagi.

“Apasih lo, Chan. Gak jelas”

Wonwoo kemudian menyela pembicaran kedua orang itu dengan klakson mobil angkutan warna hitam dengan bak terbuka di belakangnya itu.

“Soonyoung, ayo!” Katanya dari balik kemudi.

Soonyoung kemudian pergi melewati Chan dan langsung naik ke kursi penumpang. Namun, belum sempat ditutup pintunya sudah kembali ditahan oleh Chan dan kemudian ikut melompat ke dalam mobil, menggeser tempat duduk Soonyoung yang menjadi terhimpit di tengah antara Wonwoo dan Chan.

“Chan lo mau ngapain?” Tanya Soonyoung keheranan.

“Mau kerjalah” balasnya.

Soonyoung kemudian berbalik menghadap Wonwoo yang hanya ditanggapi dengan wajah datar.

Mobil kemudian berjalan dengan suara gelak tawa Chan yang nyaring dan tak berhenti puas akibat ekspresi tidak senang dari wajah Soonyoung.

“HOY CHAN!!

“Gue liat-liat lo demen bener kemari” balasnya.

“Iseng aja gak ada kerjaan”

“Enak banget ye jadi orang kaya”

“Bukan gitu. Btw, lo gak jualan koran lagi?”

“Ini udah lewat tengah hari, jualan koran mah mana laku”

Soonyoung kemudian membulatkan mulutnya.

“Tumben kaga pakai mobil?”

“Iya, lagi males aja. Tadi gue naik KRL”

“Masa orang kaya bisa naik KRL?”

“Bisa kali, gue kalo kabur mah naiknya KRL”

“Kabur dari mana dah?”

“Dari bokap gue” Soonyoung kemudian tertawa namun mendapatkan kerutan alis dari Chan.

Menurutnya aneh untuk seorang anak yang melarikan diri dari orang tuanya sendiri karena walaupun kehidupan Chan yang serba kekurangan sejak kecil, ia tetaplah menjaga dan dekat dengan kedua orang tuanya.

“Terus lo mau ngapain di sini?” Tanya Chan kemudian.

“Gak ngapa-ngapain sih” balasnya sambil melihat kesegala arah di tepi jalan trotoar itu seperti mencari seseorang.

“Hmm lagak lo, Mas Aji di sana noh perempatan lampu merah jualan kacang goreng sama aqua” ujar Chan lagi tanpa basa-basi.

“Lo gak ke sana Chan?”

“Enggak lah, gue di sini aja. Kalo gue jualan di sana juga ntar rebutan pembeli dong sama Mas Aji”

“Rejeki orang kan masing-masing, Chan”

“Iya, tapi jangan lupa menjadi manusiawi” balas Chan.

Soonyoung dibuat terdiam.

“Wonwoo”

“Iya” balasnya sambil berjalan ke pinggir jalan mencari tempat duduk untuk beristirahat dan berteduh. Di belakangnya Soonyoung membuntuti.

Wonwoo membuka topi putih lusuh andalannya, mengibas-ngibaskan di area wajah karena panas yang menyengat membuatnya berkeringat.

Ia duduk di pinggir trotoar dalam yang berbatasan dengan pagar salah satu gedung. Di atasnya ada pohon pinus yang memberikan udara sejuk dan menghalau cahaya matahari terik.

Soonyoung hanya berdiri memperhatikan orang di sebelahnya melirik ke bawah karena posisinya yang duduk lebih rendah.

Ia kemudian ikut bersandar ke pagar itu.

“Mau makan bakso?” Tanyanya polos.

“Enggak”

Ish dalam hati Soonyoung kecewa

“Jadi makan apa?”

“Nasi”

“Ayo”

Wonwoo kemudian melirik tidak suka.

Yang dilirik hanya memandang penuh tanya.

“Lo mau ngapain di sini?”

“Gapapa, bosen aja di rumah. Nanti malam ketemu temennya Ayah tapi gue males jadi kabur aja” balasnya.

Wonwoo diam. Hanya mendengarkan.

“Capek tinggal di sana, banyak aturan. Makan harus begini begitu, main juga dibatesin, belajar A B C D Encok, senyam senyum gak jelas sama orang yang gak dikenal” cerocos Soonyoung lepas.

Wonwoo yang mendengar hampir dibuat tertawa karena omelan Soonyoung barusan namun ia tahan.

“Jadi gimana?”

“Apanya?” Sungut Soonyoung berbalik jadi dia yang kelewat judus, masih terbawa emosi omelannya tadi.

“Jadi mau ikut gak makan nasi?” Tanya Wonwoo.

Otomatis mata Soonyoung langsung berbinar-binar, ia memang sudah kepalang lapar dan lelah seharian bermain di bawah terik matahari mengikuti Chan dan Wonwoo berjualan.

“IKUT!” katanya semangat.

“Tapi jalan kaki, gak jauh dari sini”

“Gapapa, Wonwoo. Tapi yang ini gue yang bayar ya?” Bujuk Soonyoung tulus.

“Bayar masing-masing aja”

Baiklah. Soonyoung menghargai Wonwoo maka ia tidak menolak lagi atau membujuk orang di sampingnya ini lebih jauh.

Mereka kemudian berjalan bersisihan di pinggir jalan menuju warung makan sederhana yang dimaksud Wonwoo.

Langkah Soonyoung begitu ringan, ia bahkan terus bersenandung di bawah panas matahari.

“Woy!” Soonyoung memanggil seorang anak yang terlihat seumurannya dari dalam mobil yang terpakir di pinggir jalan.

Anak itu mendekat.

“Korannya kak?”

“Enggak. Eh kakak lo mana?”

“Maksudnya?” balas si anak penjual koran.

“Yang tadi malam di klinik”

Penjual koran kemudian mengenali wajah orang kaya di depannya ini. Semalam mereka bertemu.

“OH! LO YANG NONJOK MAS AJI SEMALAM KAN?”

“Bukan” kata Soonyoung sinis. “Tuh” dia kemudian menunjuk Seokmin yang berada di depannya di balik kemudi mobil.

Si penjual koran cuma melirik.

“Siapa namanya tadi?” Tanya Soonyoung.

“Mas Aji”

“Dia gak ngojek payung lagi?”

“Ngojek payung mah kalo ujan aja ege. Terik begini mana laku” balas penjual koran.

“Gue bisa nyari dia kemana?”

“Heh mau lo apain? Jangan dah gua mohon, kita mah orang susah jangan lo kerjain”

“Gue cuma mau ketemu. Nama lo siapa?”

“Chan”

“Gini deh Chan. Koran lo masih sisa berapa?”

“12 ada kali”

“Duitnya berapa kalau di beli semua?”

Chan berpikir sejenak mencoba menghitung jumlah uang untuk semua sisa korannya hari ini.

“66 rebu”

Soonyoung kemudian merogoh kantong celananya dan memberikan selembaran uang seratus ribu rupiah kepada Chan.

Disambutnya uang dengan warna merah tersebut dengan wajah bingung.

“Ini gue beli semua koran lo tapi kasih tau gue di mana gue bisa ketemu sama kakak lo”

“Lo serius?”

“Serius. Kalau enggak balikin sini duitnya” kata Soonyoung menantang.

“Eh jangan” Chan langsung memasukan uang pemberian Soonyoung ke dalam saku bajunya dan menyerahkan tumpukan koran sisa yang ia peluk sedari tadi kepada Soonyoung.

“Biasanya kalo jam segini Mas Aji jadi tukang parkir di depan Indomaret deket stasiun Tanah Abang, lo tinggal jalan sedikit ke sana” Chan menunjukan arah.

“Lo yakin dia ada di sana?”

“Yakin lah, hari-hari emang begitu”

“Oke. Btw lo punya nomornya gak? Soalnya semalem gue chat ga masuk, centang satu doang”

Chan kemudian tertawa geli.

“Paketannya abis ege” ujarnya.

Soonyoung hanya menanggapi dengan wajah datar sebelum menutup kaca mobilnya.

Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu kaca mobilnya diketuk dari luar.

“Kembaliannya belum” kata Chan.

“Ambi aja semua”

“Mantap” balas penjual koran yang itu. “Oh iya, Mas Aji bukan kakak gue tapi kita tinggal tetanggan”

Tidak ada balasan karena Soonyoung langsung menutup kaca mobilnya dan memerintahkan Seokmin menuju tempat yang diberitahukan oleh Chan barusan.

“Aji”

Yang dipanggil langsung menoleh. Keningnya berkeringat tertutupi oleh topi putih lusuh dengan kalung pluit dan rompi warna orange terang khas penjaga parkir.

Hanya menoleh tidak bergerak mendekat sedikitpun.

Soonyoung yang memanggilpun akhirnya keluar dari mobil sedan mewah warnah hitam mengkilap yang membawanya.

Menampilkan anak laki-laki dengan setelan santai namun masih tetap terlihat mahal.

“Cek hp lo barusan gue isiin pulsa” katanya saat mendekat.

Yang diajak bicara kemudian mengerutkan alisnya dan merogoh ponsel butut yang ada di saku celana, mengecek pesan masuk notifikasi pulsa yang barusan disebutkan Soonyoung.

Rp. 75.000

Uang yang sangat berharga baginya karena membutuhkan waktu seharian untuk dapat mengumpulkan sejumlah nominal tersebut.

“Nanti dipakai buat isi paket ya, soalnya tadi malam gue chat cuma centang satu” kata Soonyoung tanpa beban.

“Ada perlu apa?” Balasnya dingin.

Soonyoung langsung terdiam tak menyangka mendapatkan respon seperti itu.

“I-itu gue mau minta maaf buat yang kemarin malam”

“Lo tau dari mana gue di sini?” Ucapan Soonyoung tadi tidak dihiraukan.

“Dari Chan”

“Sudah dimaafkan” Ia kemudian membalikkan badan akan menjauh.

“Aji, gue mau ajak lo makan siang” serobot Soonyoung sebelum benar-benar ditinggalkan pergi.

Tukang parkir itu kemudian menghentikan langkahnya kemudian kembali berbalik.

“Biar gue yang bayar” balasnya tiba-tiba.

Soonyoung terkejut.

“Lo barusan kirimin gue pulsa sebanyak itu jadi biar gue yang bayar makan siangnya. Gue gak suka punya hutang budi sama orang lain”

Soonyoung lagi-lagi dibuat terdiam. Sedangkan Seokmin bodyguardnya hanya berdiri memantau dari depan mobil.

“O-oke” balas Soonyoung akhirnya.

“Satu lagi. Jangan panggil gue Aji. Nama gue Wonwoo. Kita gak sedekat itu.

Hati Soonyoung mencelos. Tapi ia memang benar keduanya hanyalah orang asing.

Langit sudah gelap ketika semilir angin menyapu pipi Soonyoung siswa kelas 11 Sains di salah satu SMA Swasta di kotanya, rupanya ia tertidur di kelas dengan jendela yang masih terbuka menampakkan cahaya bulan yang terlihat murung di atas sana tanpa bintang-bintang.

Di kelas itu hanya ada ia seorang tertidur di barisan paling pojok dekat jendela dengan pemandangan bangku-bangku kosong tak berpenghuni di depannya. Menarik napas dalam ia kemudian mengangkat kepalanya yang tersandar di atas meja untuk kembali duduk tegap.

“Ah sial! ketiduran lagi” umpatnya.

Soonyoung masih dengan setengah nyawa yang belum terkumpul kemudian mengecek ponsel yang tersimpan di dalam saku celana. Beberapa pesan singkat dari grup chat teman satu kelompok penelitian sains dan ibunya sempat ia baca satu persatu.

Junhui yang mengingatkan Soonyoung untuk membereskan sisa perlengkapan praktikum mereka di laboraturium Kimia lantai 3 karena ia dan teman satu tim yang lain sudah selesai dengan laporannya, memberikan tugas tambahan itu untuk Soonyoung agar namanya tetap dimasukkan ke dalam anggota kelompok. Tidak ada balasan bantahan apapun dari Soonyoung karena memang tidak ada partisipasi dirinya sedikitpun hari ini akibat tertidur di kelas hingga petang.

Ibunya pun juga sempat bertanya akan keberadaannya saat ini yang langsung ia balas bahwa akan sampai di rumah sebentar lagi.

Soonyoung menutup ponselnya setelah membalas semua pesan yang masuk, keadaan sangat hening dan hanya terdengar benturan kursi Soonyoung yang ia dorong di bawah meja sebelum pergi dari kelas itu.

Derap kaki pelan mengisi kekosongan lorong kelas yang ia lewati, lampunya temaram karena tidak semua yang dinyalakan. Hanya ada bayangan tubuh Soonyoung yang mengikutinya dari belakang.

Ia berjalan malas menuju tangga di lorong paling ujung, semakin jauh keadaan semakin gelap. Terakhir kali ia mengecek ponselnya jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam, seharusnya pintu laboraturium sudah ditutup dan petugas keamanan sekolah yang biasa patroli keliling sekolah juga sudah selesai dengan tugasnya saat pukul 8 tadi.

Soonyoung hanya akan mengecek pintu lab-nya saja jika memang benar sudah dikunci, maka ia akan langsung pulang dan kembali lagi besok pagi lebih awal dan membereskan perlengkapan praktikum kelompoknya sebelum kelas di mulai.

Di lantai tiga ini tidak banyak ruangan yang dipakai untuk umum, hanya ada enam ruangan di mana masing-masingnya ada tiga laboraturium Sains, satu laboraturim Bahasa, satu gudang penyimpanan dan satu lagi entah ruangan apa yang tepat berada di sebelah lab Kimia yang sedang Soonyoung tuju.

Ruangan itu tidak pernah di buka, pintunya dikunci dari luar dengan satu rantai besar dan gembok berkarat. Tidak pernah ada yang masuk ke sana, bahkan selama dua tahun Soonyoung sekolah di sini ia juga tidak pernah melihat petugas kebersihan yang memeriksa atau sekedar membersihkannya, padahal sekolah Soonyoung termasuk rutin melakukan pembersihan ruang kelas dan ruang lainnya termasuk gudang kecuali ruangan itu.

Soonyoung berdiri di depan pintu lab Kimia mencoba menerawang jendela panjang bersekat di samping pintu yang baru bisa di capai dengan berjinjit dengan kaki depan, mencoba peruntungan berharap ada kakak tingkat yang mungkin masih berada di laboraturium menyelesaikan tugasnya. Pandangannya terhalang gorden putih yang sudah ditutup, sejauh yang ia lihat tidak ada siapa-siapa di sana, lampu pun juga sudah gelap. Memastikan lagi, Soonyoung kemudian meraih gagang pintu dengan bahan stainless yang sempat membuatnnya terkejut karena rasa dingin yang tiba-tiba menyapu telapak tangannya.

Satu dorongan kecil ke bawah dengan pundaknya yang mencoba mendorong pintu.

Sial.

Pintunya terkunci.

Dan sesuai dengan niat awalnya tadi maka ia akan kembali lagi esok pagi, sebelum memutar badan untuk berbalik terdengar suara telapak kaki seseorang yang mendekat.

“Soonyoung!” panggilanya.

Langkah kaki itu terdengar dekat namun saat Soonyoung menoleh ke arah suara, yang memanggil masih berada di ujung lorong.

Sosok anak laki-laki dengan seragam sekolah yang sama seperti Soonyoung.

“Ah, Wonwoo” akhirnya ucap Soonyoung setelah menyipitkan matanya agar dapat melihat lebih jelas.

“Mau ke lab?” ujar lawan bicaranya setelah sampai di depan Soonyoung.

“Iya, tools box sama jas lab anak-anak masih di dalam mau gue beresin” kata Soonyoung lagi.

“Oh gitu, pasti udah di kunci ya?”

“Yep!” balas Soonyoung lagi.

Udara semakin dingin bahkan bulu kuduknya entah sejak kapan sudah berdiri. Kulitnya meremang entah karena langit gelap yang mulai akan turun hujan atau memang suasannya yang sedikit kelam.

“Nih” Wonwoo menyerahkan satu renteng kunci dari dalam saku celannya kepada Soonyoung. “Gue punya cadangannya soalnya tadi dari lab bahasa juga”

Soonyoung tampak ragu menerima rentengan kunci tersebut karena tampilannya yang berbeda. Setahu Soonyoung kunci setiap pintu laboraturium memiliki gantungan kuncinya masing-masing, tidak digabung menjadi satu seperti yang dipinjamkan oleh Wonwoo barusan.

Namun ia tidak berpikir panjang toh jika dengan kunci ini Soonyoung bisa membuka pintu lab Kimia dan menyelesaikan tugasnya maka ia tidak perlu lagi bangun lebih awal besok pagi maka dengan itu Soonyoung menerima kunci dari Wonwoo dan membuka pintu di depannya.

Derit pintu yang dibuka tidak begitu nyaring hanya ada dentuman gagang pintu yang terbentur dinding lab dibagian dalam. Soonyoung masuk menuju meja-meja panjang yang ada di depannya mencari perlengkapan kelompoknya yang ditinggalkan di atas meja. Di belakangnya ada Wonwoo yang juga mengikuti.

“Kenapa sendirian Soonyoung?” tanyanya.

“Gue tidur siang di kelas eh keterusan sampe pulang hehe” balas Soonyoung yang sekarang sudah berada di belakang deretan meja panjang khas laboraturium yang letaknya berada di tengah, di sana ia mulai membereskan jas lab putih milik temannya yang belum dilipat dan memasukkan gelas-gelas kimia ke dalam tools box milik mereka hasil patungan di awal semester.

“Oh pantes” balas Wonwoo datar.

“Lo kok belum pulang, Won?”

“Masih belum ketemu kakinya”

Seketika Soonyoung menghentikan kegiatannya, aliran darah terasa berhenti. Tangannya menggantung tidak jadi memasukkan gelas kaca terakhir ke dalam tool box, ia menelan air ludahnya pelan.

Semenjak mengenal Wonwoo beberapa bulan terakhir di sekolah banyak hal-hal ganjil yang ia sadari dari teman satu sekolahnya ini, mulai dari pertemuannya dengan Wonwoo yang selalu terjadi saat petang, Wonwoo yang hanya selalu ia temui di lorong sekolah, Wonwoo yang selalu memegang satu tali merah yang terlilit di pergelangan tangannya hingga Wonwoo yang terlihat selalu mengenakan seragam yang sama.

Hal ganjil itu benar-benar mulai ia sadari satu bulan terakhir karena Wonwoo yang selalu mencari sesuatu di sekolah setiap kali Soonyoung bertanya. Berbagai asumsi muncul namun selalu ia tepis karena menurutnya hanya prasangka-prasangka buruk saja yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan sama sekali.

Namun, hari ini Soonyoung tidak bisa mengelak lagi. Jawaban Wonwoo barusan kembali membuatnya memikirkan asumsi yang pernah lewat di kepalanya dan memeperkuat kecurigaannya selama ini.

Ia tidak pernah benar-benar memperhatikan Wonwoo kecuali malam ini, kakinya yang tidak pernah terlihat di balik celana sekolah bahkan sepatu sekolanya pun tak ada. Selama ini entah karena gelapnya malam hingga tak terlihat atau karena Soonyoung yang tidak menyadari bahwa kaki Wonwoo............

tidak ada.

“Wonwoo...” panggil Soonyoung, ia menunduk setelah memperhatikan kaki Wonwoo barusan.

“Iya?” balasnya sambil tersenyum.

“Gue kasih waktu sepuluh detik untuk jawab pertanyaan ini, cuma Wonwoo yang asli yang akan bisa jawab” ujar Soonyoung pelan.

“dan pertanyaannya?” balas Wonwoo.

.

.

.

“Kapan lo meninggal?”

Lapangan di pinggir kota itu terlihat ramai dengan hiruk pikuk para muda-mudi yang sedang mengantri masuk, beberapa masih sibuk dengan kendaraannya masing-masing mencari tempat parkir termasuk keempat kawan yang baru saja tiba ini. Soonyoung yang duduk di kursi penumpang belakang sudah diselimuti berbagai perasaan.

Selain ia akan kembali menyaksikan crush-nya yang sudah lama tidak tampil di panggung, ia juga akan menemui teman dunia mayanya yang sudah dikenal selama satu tahun terkahir.

Tidak banyak informasi pribadi yang Soonyoung tahu dari teman yang sering ia panggil Tong! ini, selain mereka sama-sama masih duduk di bangku kelas 11 SMA. Pertama kali keduanya bisa sampai mengikuti di akun biru itu karena hasil kegabutan Soonyoung yang dengan sengaja mengikuti orang secara acak di twitter hanya kare ingin agar timeline twitter akun bergembok-nya tidak terlalu sepi namun juga tidak terlalu bersik dari akun-akun teman sekolah yang ia kenal. Alhasil, pertemuan keduanya terjadi dengan interaksi pertama mereka karena keduanya yang sama-sama mengeluh akan musim ujian yang sudah dekat, dimulai dari membalas cuitan satu sama lain sampai berakhir dengan curhatan melalui pesan pribadi yang seringnya disebut DM atau Direct Message*.

Karena kecockan akan topik yang sering dibicarakan jadilah keduanya menjadi dekat, Soonyoung bahkan berhenti mengikuti akun lain karena menurutnya masih terlalu ramai dengan cuitan orang lain yang sama sekali tak ia pahami sehingga saat ini hanya mengikuti akun dengan username @chillycat itu saja. Begitu pula sebaliknya.

Saat ini Soonyoung sudah berada di depan loket masuk di depan lapangan bermodal empat tiket gratis pemberian teman onlinenya yang dikirim beberapa minggu lalu. Setelah menerima pesan melalui DM tempat mereka bertemu, Soonyoung menutup ponselnya dan mencari cara agar ketiga temannya ini mengizinkannya untuk bertemu dengan teman onlinenya tersebut.

Lokasinya di pinggir danau tak jauh dari belakang paggung sesuai intruksi dari Tong, ia bahkan mengirimkan foto danau tersebut agar Soonyoung mudah menemukan letaknya.

Belum sempat mengucapkan rentetan alasan agar ia bisa bertemu Tong, kalimatnya yang belum sempat diucapkan itu harus terputus oleh seseorang yang tak sengaja menabrak Chan dan berhasil menumpahkan satu gelas es teh instan di bajunya. Terhitung lebih dari lima kali ucapan maaf terlontar dari orang yang menabrak Chan karena merasa bersalah sudah mengakibatkan kejadian tak mengenakan ini. Namun, mereka memilih berdamai dengan orang tadi yang ingin mengganti baju Chan dengan baju kaos yang dijual di ujung panggung yang diperuntukan sebagai merchandise sebagai bentuk tanggung jawab dan permohonan maafnya.

Akhirnya Dika pergi menemani Chan dan orang yang menabraknya tadi dan memutuskan akan betemu lagi dengan Soonyoung dan Seungkwan di depan panggung. Kesempatan ini kemudian dimanfaatkan Soonyoung untuk membujuk Seungkwan agar mengizinkannya bertemu Tong sesuai janji dan sekalian memintanya menememani, karena tidak bisa dibohong Soonyoung pun masih ada ragu akan sosok teman onlinenya pengaruh percakapan di grup chat beberapa waktu lalu, jadi menurut Soonyoung tidak ada salahnya membawa Seungkwan kalau-kalau ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi saat bertemu dengan Tong.

Lapangannya begitu luas, panggung terlihat begitu besar di ujung sana dengan lampu sorot berwarna warni menghiasi panggung utama dan lampu lainnya yang mengarah ke langit yang sudah gelap memberikan kesan ramai dan meriah.

Sudah banyak yang mulai berkumpul di depan sana, beberapa teman sekolah Soonyoung pun beberapa kali ia lihat juga ikut datang. Jujur, Soonyoung sebenarnya lebih gugup bertemu dengan Tong ketimbang melihat penampilan crush-nya. Bagi Soonyoung, Tong adalah teman dekat yang bisa membuatnya menjadi orang yang jujur dan apa adanya. Cuma dengan Tong ia bisa mencurahkan kekesalannya tanpa canggung, bahkan dengan ketiga temannya yang lain masih ada beberapa bagian dari ceritanya yang tidak bisa Soonyoung ceritakan dengan leluasa. Dengan Tong ini, Soonyoung merasa nyaman karena tanggapannya akan cerita-cerita Soonyoung begitu masuk akal sekaligus kocak.

Ketika Soonyoung sedang sedih atau pun kesal Tong akan melemparkan guyonan konyolnya yang akan membuat Soonyoung tertawa di depan layar ponsel, saat Soonyoung sedang butuh saran dan masukan Tong akan dengan tiba-tiba menjadi orang yang pendapatnya sangat logis dan sering kali menjadi pertimbangan Soonyoung, terkadang Tong hanya mendengarkan curhatan Soonyoung dengan balas-balasan santai yang sebenarnya memang hanya itu yang dibutuhkan oleh Soonyoung. Tong begitu tahu menempatkan diri dalam setiap waktu dan hal itu yang membuat Soonyoung senang berteman dengan Tong hingga saat ini walaupun ada banyak sambatan-sambatan kecil diantara keduanya di hampir percakapan, namun mereka tahu itu hanya bentuk dari candaan satu sama lain yang tidak pernah dimasukkan ke dalam hati sedikitpun.

Seungkwan yang tidak bisa menolak permintaan teman disebelahnya ini pun akhirnya hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah kaki Soonyoung menuju danau yang disebutkan, lokasinya benar tak terlalu jauh dan masih ada beberapa pengunjung pensi yang juga berada di sana untuk sekedar jalan-jalan di pinggir danau atau mengambil foto dengan pencahayaan dari lampu panggung.

Dari info yang Soonyoung dapat dari Tong tadi, teman-teman satu bandnya tidak bisa ikut sekarang menemuinya seperti yang dijajikan karena ada masalah dengan alat musik mereka sehingga harus melakukan pengecekkan kembali. Mereka akan menemui sekaligus berkenalan dengan Soonyoung setelah acara selesai. Soonyoung tidak mempermaslahkan itu dan saat ini fokus mencari sosok yang mungkin sudah menunggunya.

Danau itu tidak begitu luas, menyusurinya dari sisi tepi di malam hari memberikan perasaannya yang ternyata menyenangkan, pantas saja beberapa pasang yang bisa Soonyoung tebak juga masih siswa SMA menghabiskan waktunya bersama di sini.

Soonyoung hanya memiliki satu petunjuk akan penampakan Tong yang katanya malam ini akan menggunakan pakaian pemberiannya untuk manggung, ia harus berusaha lebih keras mencari diantara temaram lampu di pinggir danau.

Pakaian itu berupa satu kaos V neck dengan potongan sedikit longgar berwarna hitam dengan outer kasual yang serupa blazer dengan warna senada. Soonyoung pikir pakaian itu cocok dengan Tong yang memiliki latar belakang anak band namun ia tak menyangka kalau teman onlinenya itu akan memakai pakainya yang ia berikan di acara pensi malam ini.

Langkahnya semakin pasti ketika ia melihat seseorang di ujung sana dengan pakaian yang ia berikan, sosoknya lebih tinggi dari bayangan Soonyoung dengan rambut hitam legam. Seungkwan yang dari tadi bersama Soonyoung memutuskan untuk menunggu tak jauh dari sana dan membiarkan Soonyoung menghampiri temannya terlebih dahulu dan tak ingin mengganggu pertemuan pertama mereka, toh dari jarak ini Seungkwan masih bisa mengawasi Soonyoung jika hal tak terduga terjadi.

Langkah pasti Soonyoung perlahan melambat, semakin dekat dengan sosok yang ia yakini adalah Tong teman onlinenya semakin ia yakin juga bahwa ia mengenenali sosok itu. Postur tubuhnya yang begitu familiar baginya dan sisi wajah dari samping yang 100% Soonyoung percaya adalah orang yang beberapa hari ini ikut-ikutan ia hindari dari project melupakan mantan yang tak bukan adalah ide dari Tong.

Perasaan Soonyoung dibuat tak karuan segala macam skenario terburuk terjadi di kepalanya, kakinya seolah melemas menjadi jeli. Soonyoung bingung dan takut. Dari jarak kurang dari empat langkah ini Soonyoung yakin orang yang sedang berdiri menatap danau di depannya mengenakan pakaian yang ia berikan beberapa waktu lalu itu adalah Wonwoo crush-nya yang sekarang ia yakini juga adalah orang yang sama di balik akun @chillycat teman onlinenya, Tong.

Kacau, nyali Soonyoung menciut dan dengan perlahan tanpa menimbulkan suara Soonyoung memutar arah langkahnya dan berusaha kabur meninggalkan tempatnya saat ini.

Namun, semesta memiliki rencananya sendiri.

Tepat saat Soonyoung baru akan memutar badannya, orang yang berusaha ia hindari juga ikut memutar tubuhnya ke belakang. Menatap punggul Soonyoung dari belakang, mengenali jaket kuning pemberiannya kemudian memanggil namanya.

“Ung?”

Detik itu pula rasanya Soonyoung ingin melompat ke dalam danau menenggelamkan tubuhnya di sana selamanya.

“Ung? Ini gue” Panggilnya lagi.

Dan, dengan terpakasa Soonyoung membalikkan tubuhnya lagi menghadap pada orang yang memangilnya di belakang.

.

.

Ketika mata mereka bertemu. Tak satu pun yang bersuara.

Keduanya terpana.

Terdiam.

Terkejut.

Selama kurang dari satu menit. Mereka mencerna kejadian yang saat ini sedang berlangsung. Memutar memori cerita di antara keduanya yang saling berkaitan dan begitu dekat.

Kemudian suara tawa begitu besar menggema, begitu nyaring. Seseorang di antara mereka begitu terbahak-bahak akan akan kenyataan yang semesta berikan.

“HAHAHAHAHAHA ASTAGA!”

Itu Wonwoo yang saat ini bertumpu pada lututnya terbungkuk tertawa dengan puas.

Soonyoung bahkan tak menyangka akan reaksi itu. Membuatnya semakin ingin menguburkan diri atau menenggelamkan tubuhnya lebih cepat. Soonyoung pucat tak karuan, kakinya lemas.

“Ung itu lo???!!” Wonwoo bertanya lagi, sekarang ia sudah berdiri tegap dengan benar tak lagi tertawa terbahak-bahak seperti tadi.

Soonyoung tak menjawab tapi Wonwoo yakin teman online yang sering ia panggil Ung atau Maung itu adalah anak kelas sebelah yang sering mencari perhatian dengannya karena orang di depannya itu mengenakan jaket yang persis ia berikan, berada di tempat bertemu yang sama seperti ia infokan.

Alih-alih menjawab pertanyaan Wonwoo, Soonyoung kembali berusaha kabur dan lari. Namun, belum sempat ia meloloskan diri tangannya sudah di tarik oleh Wonwoo.

Soonyoung menelan air di tenggorokkannya. Panik dan takut.

“Ung, ini gue Tong bukan orang jahat kaya yang lo kira dan lo udah kenal gue kan?” ucap Wonwoo dari belakang. “Jangan pergi dulu lo janji mau nonton gue manggung” lanjutnya.

Soonyoung kembali membalikkan tubuhnya dengan tatapan horor dan menyedihkan seperti meminta ampun dan hampir kembali membuat Wonwoo tertawa.

Menggemaskan.

“Ung, jadi nama lo siapa?”

Soonyoung masih diam dan hampir mati. Kepalanya tiba-tiba terasa kosong.

“Oke. Gue paham lo pasti kaget. Gue juga sama” “Tapi please tunggu gue kelar manggung ya, banyak yang pengen gue omongin ke lo...dan buat teman-teman band yang mau gue kenalin ke lo kayanya gak jadi soalnya di antara mereka pasti ada mantan lo, nanti project kita gagal”

Demi Tuhan kalau bisa Soonyoung ingin dibuat amnesia saat ini juga.

“Ung, tunggu gue ya. Gue mesti balik sekarang bentar lagi harus nampil”

Walaupun setiap ucapannya tidak dibalas oleh Soonyoung, Wonwoo masih tetap mengajaknya berbicara.

Setelah ucapan terkhirnya tadi dan berpamitan untuk pergi karena harus kembali ke belakang panggung untuk persiapan penampilannya. Wonwoo menyempatkan mengambil ponsel yang digenggam lemas oleh Soonyoung di tangannya. Wonwoo kemudian menekan beberapa nomor di sana yang membuat ponselnya sendiri berbunyi.

“Oke Ung? Sekarang lo punya nomor gue. Gue pamit dulu, ketemu lagi jam 9 ya”

Dengan itu Wonwoo pun pergi berlari dari tempat mereka tadi, menjauh dengan senyum tipis di wajahnya, sedangkan Soonyoung masih membeku tak bergerak.

Di ujung sana, ketiga temannya yang sudah bersama dibuat heboh akan pemandangan di depan mereka. Tong teman online Soonyoung adalah Wonwoo crush-nya sendiri.


Kerumunan orang sudah semakin banyak, beberapa band lokal dan penyanyi solo dari sekolah-sekolah lain pun sudah bergantian tampil.

Saat nama satu band yang cukup di kenal oleh mereka di sebutkan, jantung Soonyoung kembali berdegup kencang. Kini ia berdiri di tengah-tengah orang yang ramai sedang menikmati konser pensi malam ini, ketiga temannya di samping sesekali menepuk pundaknya memberikan dukungan atas kejadian yang mengejutkannya beberapa menit lalu.

Soonyoung berkali-kali memutar memorinya dengan Tong, meruntuki setiap ucapan kasar dan umpatan yang kerap ia lemparkan pada Tong, tentang rentetang keluh kesah akan hidupnya yang pasti terdengar bodoh, deretan cerita menyedihkan miliknya yang secara sukarela ternyata ia ceritakan pada crush-nya.

Di atas panggung sana Poets of Chaos band sudah berdiri dengan percaya diri di posisinya masing-masing, band yang terdiri dari teman onlinenya Tong sekaligus crush-nya Wonwoo dan juga mantannya Seungcheol.

Wonwoo berdiri dengan gitar listrik warna hitam yang mengalung di pundaknya di belakang mic sebagai vokalis utama, Mingyu dengan gitar navy-nya sebagai gitaris, Hansol dengan bas besarnya dan Seungcheol yang siap menggebug drum yang ada di depannya. Sorak sorai penonton begitu ramai ketika Wonwoo menyapa mereka yang hadir dan memperkenalkan diri.

Malam itu, Wonwoo dan bandmates-nya membawakan lagu Lost my Heartbreak milik David J dan berhasil menghipnotis penonton.

Suasana begitu menyenangkan dan riuh penonton tidak ada hentinya, tangan yang terangkat di udara mengikuti alunan musik dan lirik yang dinyayikan bersama.

Feel so goog to be free I met a boy and got lost in his smile Like the sunset in his eyes And when he looked back into mine Yeah, I found me the reason why I lost my heartbreak

dan tepat sebelum bridge pertama berakhir Wonwoo menambahkan adlibs diantara alunan musik dari rekan setimnya.

“UNG!! ANGKAT TANGAN LO NANYI BARENG”

dan seketika riuh kembali terdengar dan pipi Soonyoung memerah.

Ini adalah hari terburuknya dan sekaligus hari terbaiknya. His Best Bad Day.

Setelah dua tahun meninggalkan masa lalunya Wonwoo perlahan bangkit dari sakit hati dan penyesalannya. Berkat Seungcheol dan Seungkwan pendukung paling setianya Wonwoo berhasil mendapatkan promosi menjadi salah satu pimpinan divisi di Kantor Pusat Jtrust Bank di Jepang.

Bank swasta asal Jepang itu memang sedang melakukan invasi besar-besaran tahun ini sehingga membutuhkan tenaga kerja kompeten lebih untuk berkontribusi dalam projek besar tersebut. Wonwoo yang berasal dari divisi Human Resourcess benar-benar mengembangkan kemampuannya selama ini dan banyak mempelajari hal baru hingga ia bisa menembus internal seleksi di divisi Management Resiko dan menjadi satu-satunya perwakilan Jakarta yang bisa mendapatkan promosi di kantor pusat. Sebuah pencapaian besar selama dirinya berkarir.

Wonwoo sudah sampai di Jepang dua hari lalu, musim gugur di luar sana membuatnya harus selalu mengenakan mantel tebal. Belum terbiasa dengan suhu dingin yang tidak seberapa dibanding musim salju yang sebentar lagi juga akan menyusul.

Apartemen yang diberikan oleh perusahaan lebih besar dan lebih baik dari miliknya di Jakarta, menjadi pilihan untuk bisa bekerja di kantor pusat ternyata bukan main-main. Dia mendapatkan fasilitas yang luar biasa dan tentu saja gaji yang besar belum lagi masih ada promosi dan jenjang karir yang terbuka di depan sana. Wonwoo benar-benar bersemangat untuk menjalani harinya yang baru di sini.

Wonwoo di usianya yang ke-26 adalah pribadi yang jauh lebih dewasa dan lebih baik. Ia menjadi lebih bijak dan tegas dalam mengambil keputusan untuk hidup dan pekerjaannya. Semua ia lakukan dengan maksimal agar tidak ada lagi penyesalan dalam hidupnya.

Besok akan menjadi hari yang besar baginya, Senin pertama sebagai pimpinan divisi Management Resiko di kantor pusat. Seperti instruksi senior yang sudah lebih dulu berkantor di sini, besok ia akan dikenalkan dulu kepada para Direksi dan pimpinan divisi lain agar kerjasama antar rekan kerja lebih bersinergi.


Tatanan rambut hitam rapi disisir ke belakang dengan satu setel kemeja putih dengan jas hitam yang membalut pundak lebarnya, Wonwoo melangkahkan kaki ke dalam lift bersama Pak Lee yang merupakan seniornya yang juga dari Jakarta. Pak Lee yang sejak kemarin membantu administrasi kepindahannya dari Jakarta ke Jepang, bahkan beliau sendiri yang menjemput Wonwoo di bandara dua hari lalu. Pak Lee memiliki kepribadian yang hangat dan mudah akrab, Wonwoo bersyukur dimana pun ia bekerja selalu di kelilingi oleh orang-orang baik.

Selama di dalam lift beberapa kali berpapasan dengan karyawan Jtrust Bank yang lain, mulai dari orang Jepang sampai orang Indonesia yang Wonwoo ketahui setelah mereka menyapa Pak Lee dengan bahasa yang sudah sangat Wonwoo kenali.

Pak Lee bercerita ada total 3 orang orang Indonesia yang menjadi pimpinan Divisi di kantor pusat ini diantara 11 pimpinan divisi yang ada. Satu diantaranya adalah dari Jakarta yang sudah dua tahun menetap di sini. Dari cerita Pak Lee, Wonwoo bisa simpulkan orang-orang ini memiliki satu kesamaan yaitu ambisi dan pengorbanan karena di antara mereka rata-rata sudah menikah dan harus meninggalkan keluargnya di negara asal dan tetap berusaha menjadi yang terbaik dalam pekerjaannya. Wonwoo salut dan ingin menjadi lebih baik juga.

Tidak sampai dua menit berada di lift, mereka akhirnya sampai di lantai ke-18 tempat dimana pertemuan pertama Wonwoo dengan para Direksi dan Pimpinan Divisi lain.

Lantai ini dipenuhi oleh ruangan-rungan yang pintunya dilapisi kaca terlihat begitu bersih dan mewah. Tidak bohong jika ia menjadi lebih gugup dari biasanya terlebih Wonwoo yang belum sepenuhnya mahir berbahasa Jepang, khursus bahasa Jepannya baru berjalan selama enam bulan dan baru akan dilanjutkan kembali saat sampai di sini, jadi wajar ada khawatir yang Wonwoo rasakan saat akan bertemu dengan atasan dan rekan-rekannya nanti.

Pak Lee membuka pintu kaca paling ujung diikuti Wonwoo di belakangnya, Wonwoo masuk dengan percaya diri setelah mendapatkan tepukan di punggungnya oleh Pak Lee.

Ia kemudian dihadapkan dengan total 5 Direksi berkebangsaan Jepang dan Inggris, berjabat tangan dan memperkenal diri sesopan mungkin. Diluar dugaan sambutan oleh para Direksi begitu hangat diluar dari bayangan Wonwoo dimana canggung akan menguar.

Rupanya sudah banyak kabar beredar mengenai calon pimpinan divisi Management Resiko yang baru ini, Wonwoo memiliki image baik dalam pekerjaan bahkan sebelum ia sampai di sini. Sebuah kehormatan bagi Wonwoo jika pekerjaan memiliki kesan yang baik bagi atasannya.

Proses perkenalan berlanjut dengan Pimpinan Divisi lain yang akan menjadi rekan Wonwoo di sini. Mereka masuk setelah para Direksi meninggalkan ruangan itu, memang dibuat terpisah karena sudah menjadi peraturan dari perusahaan.

Satu persatu Pimpinan Divisi lain masuk, menyapa dan beberapa melemparkan senyum ramah serta berjabat tangan sampai Pimpinan Divisi dari Bussiness and Treasury Management sampai paling terakhir di ruangan itu karena ada meeting unitnya yang tadi masih berlangsung.

Ia masuk dengan ungkapan maaf tulus sampai, Pimpinan Divisi itu berdiri di depan Wonwoo. Mengulurkan tangan untuk menjabat tangan.

Waktu seolah berhenti, rotasi bumi tak berputar sebagaimana harusnya. Kedua mata saling memandang dalam, ada deru dari darah yang mengalir begitu cepat, ada memori yang terputar dari deretan kenangan yang sudah di simpan rapat-rapat jauh di dalam sana, membangunkan kembali rasa yang dulu seperti percikan kembang api yang sempat padam.

Aliran darah yang begitu deras tiba-tiba berhenti saat jantung akan memompanya lebih kuat, aliran itu seperti terhenti di pergelangan tangan keduanya. Telapak tangan itu terasa begitu dingin ketika perlahan waktu kembali berdetik dan bumi kembali berputar.

Garis mata itu masih sama indahnya, bola mata itu masih sama memancarkan kerlipnya bahkan saat ini terlihat lebih tanjam dan hidup. Begitu dewasa, begitu kuat dan begitu ia rindukan.

Sosok itu kembali muncul di hadapannya dengan versi lebih dewasa dan dan lebih baik dari dua tahun lalu.

Menjadi jawaban dari pertanyaan Wonwoo selama ini mengapa dirinya sampai begitu sulit melupakan orang yang sekarang berada di hadapannya ini.

Dia begitu luar biasa berkharisma dan indah.

“Welcome, Wonwoo” ujarnya saat menjabat tangan Wonwoo dengan profesional.

“Thank you, Soonyoung. Nice meeting you here” balas Wonwoo menjabat tangannya.

Ditinggalkan diam-diam ternyata lebih menyakitkan dari pada jatuh cinta diam-diam. Baru kemarin rasanya Wonwoo dan dia menyesap satu cangkir cofee latte di Cafe langganan sambil bertukar cerita tentang kesibukkan di kantor, rasanya baru kemarin juga Wonwoo menyelipkan satu kotak susu rasa vanilla ke dalam tas kerja dia yang tergesa meniggalkan stasiun dan baru kemarin juga rasanya kupu-kupu di dalam perut Wonwoo terasa semakin banyak, tapi hari ini semuanya tiba-tiba menghilang seperti abu yang ditiup angin.

Rasanya seperti mimpi indah di tengah malam penuh kilat dan badai hujan.

Wonwoo benci ketika orang mulai bertanya bagaimana kabarnya hari ini saat mereka tahu bahwa ia sedang tidak baik-baik saja, Wonwoo benci basa-basi tak berguna.

Wonwoo benci ketika pertanyaan tentang kabarnya itu harus berkaitan dengan seseorang yang tiba-tiba menghilang dalam semalam. Orang yang memberikan banyak harapan dari setiap tatap dan sikapnya, seolah-olah memberikan Wonwoo tempat dan kesempatan untuk memiliki hatinya, seolah-olah dia juga mencinta.

Wonwoo benci ketika kakinya secara spontan melangkah ke arah stasiun yang semula menjadi tempat paling ingin ditujunya setiap hari.

Wonwoo benci ketika ia dengan tergesa membersihkan meja kerjanya dan bergegas pulang untuk bertemu di gerbong nomor 3 namun melupakan bahwa dia yang sudah tidak pernah muncul lagi selama satu bulan ini.

Wonwoo benci berada di tengah kemacetan kota Jakarta menumpang mobil Seungkwan untuk pulang atau memesan ojek online.

Wonwoo benci dirinya yang pengecut untuk sekedar menanyakan nomor ponsel atau tempat dia bekerja.

Wonwoo benci dirinya yang terlalu menjaga perasaan orang lain dan menjadi munafik.

Wonwoo benci pada hatinya yang sudah jatuh cinta terlalu dalam pada Soonyoung.

Sudah satu bulan semenjak malam terakhir mereka berpisah di Stasiun Manggarai setelah Soonyoung membayar dua porsi nasi goreng spesial menu makan malam yang menjadi alibi keduanya untuk menghabiskan waktu bersama.

Wonwoo ingat malam itu tidak terasa berbeda, Soonyoung masih sama dengan senyum tipisnya, tidak pernah mengeluh dan mendengarkan guyonan payah Wonwoo dengan sabar. Tidak ada kalimat perpisahan ataupun argumen yang memicu perselisihan. Semua terasa normal kecuali degup jantung Wonwoo yang semakin kencang saat bersama Soonyoung.

Bahkan malam itu satu gerak Soonyoung yang membuat Wonwoo salah tingkah ketika bulu matanya yang jatuh diambil oleh Soonyoung membuat wajah mereka begitu dekat seolah memberikan sinyal bahwa Soonyoung tidak takut memiliki kontak langsung dengannya. Karena bila diingat, Wonwoo lah yang selalu menepuk pundak Soonyoung, Wonwoo yang selalu menarik tangannya untuk berlari ke depan, Wonwoo yang selalu merapikan rambut kecil Soonyoung yang terbang ditiup angin saat berjalan keluar stasiun, selalu Wonwoo dan selalu atas inisiatif Wonwoo. Jadi, malam itu Wonwoo yakin dia juga mulai membalas rasa yang ia beri.

Tapi, apalah Wonwoo si bodoh dan pengecut ini. Rasanya cinta masih menjadi musuhnya setelah 24 tahun hidup. Ditinggalkan saat semuanya terasa indah dan nyata, ditinggalkan tanpa satu kabar bahkan sesakit ucapan selamat tinggal pun tak sampai.

Satu bulan kemarin ia masih berharap yang ditunggu akhirnya muncul, ia berharap kepergiannya terburu karena pekerjaan yang harus diselesaikan.

Satu bulan kemarin Wonwoo berusaha mencari jejaknya dari secuil informasi yang ia dapat saat masih bersama Soonyoung.

Tentang tempat tinggalnya di daerah Cikini Raya, Jakarta Pusat yang berakhir buntu karena ada puluhan gedung apartement yang berdiri, ia tersesat dalam pikirannya dan dalam pencariannya. Terlalu sedikit yang ia tahu tentang Soonyoung.

Tentang tempatnya bekerja di daerah Kuningan, dua mall di bawah nama satu perusahaan yang sama. Wonwoo bahkan mengambil tiga hari cuti yang jarang sekali ia ambil demi mencari Soonyoung ke tempatnya bekerja. Hingga titiknya ia temui, ia menemukan tempat kerja Soonyoung yang hanya berjarak 20 menit bekendara dari kantornya.

Terus ia runtuki kebodohannya selama ini, Soonyoung sudah sedekat itu namun hanya usahanya saja yang kurang keras. Sudah terlambat, Soonyoung sudah tidak bekerja di sana.

Soonyoung sudah mengundurkan diri dari perusahaan itu di malam ketika keduanya terakhir bertemu.

Soonyoung adalah Supervisor Marketing dari perusahaan ternama itu, memiliki masa depan begitu menjanjikan, tawaran untuk promosi dari dalam perusahaan dan pesaing silih berganti, kesempatan karir Soonyoung begitu luas tak heran karena dia yang begitu berdedikasi pada pekerjaan. Soonyoung yang terlihat selalu fokus dan tenang, selalu sibuk bersama dunia yang terus berputar memang menjalani hidupnya dengan penuh. Dan, di sini Wonwoo si pengagum rahasia yang tak bisa berbuat apa-apa atas kenyataan yang sudah terjadi.

Tidak ada yang tahu di mana Soonyoung pindah atau bekerja setelah mengundurkan diri dari sana. Soonyoung tidak banyak bercerita mengenai kehidupan pribadi atau ambisinya di kantor. Seperti yang pernah Wonwoo rasakan dulu, Soonyoung terlalu dingin di mata orang lain.

Bulan berganti bulan, Wonwoo menyiksa dirinya dengan bekerja tak kenal waktu. Ia kerap menginap di kantor untuk menyelesaikan tugasnya yang bahkan bukan mandatori dan bisa dilanjutkan esok hari.

Berkali-kali atasnya Mas Seungcheol mensehati Wonwoo dan jawabnya hanya ingin bekerja dengan baik agar hidupnya tidak sia-sia dan berhenti menjadi orang bodoh.

Sebenarnya perubahan itu tidak hanya membawa pengaruh buruk karena beberapa waktu lalu trobosan dari hasil kerja keras Wonwoo mendapat pujian dari Direksi. Tapi, Seungcheol dan Seungkwan tahu itu hanya cara Wonwoo untuk menjadi sibuk dan lari dari rasa sakitnya.

Wonwoo sudah tidak lagi menggunakan moda tansportasi masal itu karena ia benci memliki harapan menatap pintu keluar di gerbong nomor tiga dan tahu bahwa harapnya tidak akan pernah menjadi nyata. Dia sudah benar-benar pergi.

Wonwoo benci ingatan itu. Dan dia tersiksa.

“Soonyoung!” Panggil Wonwoo dari kerumunan orang yang sudah ada di dalam kereta kemudian menyusul ke depan tempat Soonyoung berdiri saat ini.

Yang dipanggil melemparkan senyum tipis menunggu di sana dan sedikit menggeser tubuhnya ke samping memberikan ruang kosong untuk Wonwoo yang sekarang sudah ada di hadapannya dalam hitungan detik.

“Pagi” sapa Soonyoung.

“Pagi!” balas Wonwoo sambil mengaitkan tangannya pada gagang segitiga yang ada di atas kepala karena kereta sudah mulai berjalan. “Udah sarapan, Soon?” tanyanya kemudian.

“Belum sempet sih”

“Mampir di Coffe Jack yang dalam stasiun mau gak? sekalian temen kantor ada yang nitip roti moca-nya”

“Aduh kayanya gak bisa, aku ada meeting jam setengah 9 mesti siapin materi”

“Yah...padahal mau gue traktir”

“Kamu mulu yang traktir jangan lah, lain kali harus aku yang bayarin ya”

“Lain kalinya jadi nanti sore gimana? pulang ngantor ketemu di sini lagi? ...Hehe” tidak melewatkan kesempatan Wonwoo kembali menyambar.

Soonyoung terlihat menyunggingkan senyum tipisnya lagi, senyum yang jarang sekali terlihat.

“Oke Wonwoo nanti sore jam 6?”

“Jam 6!”


Terhitung sejak saat itu keduanya jadi sering menghabiskan waktu bersama, jika Soonyoung memiliki jadwal yang sedikit luang di keesokkan harinya maka mereka akan mengatur janji untuk sekedar sarapan bersama di Cafe langganan Wonwoo atau nasi kuning seperti tempo hari.

Atau, ketika keduanya disibukkan dengan meeting dan agenda padat sejak pagi maka mereka akan bertemu seusai jam kantor. Pergi makan malam sederhana di pinggir jalan kaki lima atau ke restaurant saat gajian. Tidak ada lagi argumen siapa yang akan membayar untuk makan siapa, semuanya terjadi begitu natural, kalau Wonwoo yang sudah terlebih dahalu berdiri di depan kasir untuk membayar maka Soonyoung tidak akan melarang, begitupun sebaliknya. Semuanya mereka jalani dengan santai.

Beberapa kali Wonwoo mengajak Soonyoung untuk berkeliling Jakarta dengan KRL saat jam kantor selesai, mereka akan mampir di beberapa stasiun dan mencicipi beberapa makanan di daerah sana. Mulai dari buah mangga segar yang dijual dekat stasiun Kota Tua, tahu gejrot di depan stasiun Rawa Buntu hingga getuk di pintu keluar stasiun Kampung Bandan. Hampir semua makanan dan camilan di stasiun yang mereka lewati sudah pernah dicoba oleh keduanya.

Bahkan ketika mereka tak sengaja melewatkan salah satu stasiun transit dan berakhir berhenti di stasiun Kampung Bandan, Wonwoo dengan ide gilanya mengajak Soonyoung untuk pergi ke Ancol dan masuk ke Dufan pukul setengah 8 malam. Disaat orang rata-rata sedang mengantri untuk keluar, keduanya malah baru menandai tangan dengan stempel masuk.

Soonyoung yang sudah kehabisan kata-kata hanya bisa menurut ketika tangannya diseret masuk oleh Wonwoo. Keduanya masih lengkap menggunakan kemeja kantor dan sepatu pantofel begitu ketara dengan pengunjung Dufan yang lain.

Suasana sudah gelap dengan lampu-lampu cantik dari wahana yang menyala di dalam, tujuan pertama yang ada di depan mata ketika masuk adalah Komedi Putar dengan hiasan lampu kerlap-kerlip.

Soonyoung menatap horor wahana itu, ia sudah terlalu tua untuk naik ke sana walaupun hanya ada antrian 3 orang remaja usia belasan tahun yang menunggu gilirannya. Di sebelahnya sudah ada Wonwoo dengan senyum usilnya siap kembali menyeret Soonyoung.

Malam itu berakhir dengan Wonwoo yang turun dari wahana Halintar dengan pucat dan hampir mengeluarkan isi perutnya jika tidak melihat Soonyoung yang untuk pertama kalinya tertawa terbahak-bahak karena melihat Wonwoo yang kacau.

Untuk pertama kalinya Wonwoo melihat tarikan bibir Soonyoung yang membentuk senyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang mungil dan lucu dengan suara tertawa yang begitu merdu di telinga Wonwoo. Baru kali ini Wonwoo melihat Soonyoung begitu lepas dan bahagia.

Dihari lain Wonwoo akan menyiapkan snack ringan seperti roti cokelat atau sekedar satu kotak susu untuk Soonyoung bawa ke kantor saat mereka tidak sempat sarapan bersama.

Tidak ada lagi Soonyoung yang berdiri sendiri di depan pintu kereta dengan wajah datar, sekarang hanya ada Soonyoung yang terus menyunggingkan senyumnya atau gelengan kepala ketika Wonwoo melemparkan guyonan garing khas manusia kurang pergaulan.

Rute perjalanan KRL Wonwoo menjadi lebih bervariasi dan tawa Soonyoung menjadi lebih sering.

20 Januari 2022 Hari ke-203 (6 bulan, 2 minggu)

Hari yang lain bagi dunia Wonwoo yang sibuk, langkah kaki lebih cepat pagi ini. Belum sepenuhnya terlambat namun jadwal KRL yang akan membawanya sampai tepat waktu di tempat tujuan seharusnya sudah tiba dan ia tidak bisa melewatkan kereta tersebut terlebih jadwal itulah yang juga biasa digunakan sosok laki-laki misterius yang kerap mencuri perhatiannya dalam enam bulan terakhir.

Wonwoo sampai di depan gerbong kereta nomor 3 dan beruntung masinis belum menjalankan mesinnya sehingga ia masih sempat melangkah masuk dengan tergesa walaupun penumpang lain sudah mulai sesak berjejal memenuhi isi kereta.

Wonwoo hampir melepaskan umpatan kasarnya saat tak sadar langsung berhadapan dengan lelaki misteriusnya yang sedang berdiri di hadapan, memegang tiang besi di samping pintu masuk dengan wajah yang sama datar seperti biasa memandang ke arah luar tak peduli. Baru ini Wonwoo melihat wajahnya sedekat itu, kulit putih bersih, mata sendu dengan sepercik kilauan yang entah kenapa bisa Wonwoo lihat padahal hanya sekali menatap. Baru ini pula ia menyadari lelaki itu memilik postur tubuh yang tidak lebih tinggi darinya, hanya sepantaran bahu dan sangat pas untuk ia dekap.

Demi Tuhan, pikiran itu tiba-tiba saja lewat dibenaknya sekaligus menyadarkan Wonwoo untuk kembali ke dunia nyata dan buru-buru beranjak ke sisi lain menyelamatkan jantungnya yang berdegup kencang. Wonwoo si pengecut yang kembali memperhatikan laki-laki itu dari jauh, terkesan mengerikan diam-diam memperhatikan orang lain yang tak dikenal walaupun ia tak berniat jahat dan hanya mengagumi salah satu ciptaan Tuhan.

.

10 Februari 2022 Hari ke-224 (7 bulan, 1 minggu)

Cuaca benar-benar bersahabat hari ini disepanjang jalan Wonwoo bersenandung pelan, langkahnya terasa lebih ringan padahal pekerjaan yang menanti di kantor sama saja beratnya seperti hari kemari tapi jika dipikirkan terus hal negatif akan terus mengerogoti isi kepala dan menjadi beban. Tidak perlu, ada banyak hal baik di dunia ini yang bisa dilakukan dibanding terus-terusan mengeluh akan tanggung jawab yang memang seharusnya dikerjakan.

Wonwoo sudah duduk di kursi penumpang dengan tenang, memasang earphone dengan kabel putih memutar lagu yang sedari tadi ia gumamkan di perjalanan ke stasiun. Saat sampai di stasiun transit kedua Manggarai banyak penumpang yang turun dan beberapa yang naik silih berganti. Wonwoo meluruskan duduknya, tahu bahwa di stasiun ini lah sosok misterius pujaan hatinya akan naik.

Namun, perhatian tiba-tiba teralihkan oleh telepon dari Seungcheol yang menanyakan beberapa berkas yang Wonwoo kirim melalui email kemarin sore, nampaknya atasannya itu sudah sampai di kantor lebih awal dan mengecek hasil kerjannya kemarin, menjelaskan beberapa detail melalui telepon akhirnya sambungan di seberang sana diputus dengan Seungcheol memuji hasil kerjanya yang rapi dan jelas.

Sepertinya, hari ini memang hari keberuntungan bagi Wonwoo karena tak disangka-sangka seseorang yang ditunggu duduk di sebelahnya tanpa Wonwoo sadari. Sejak kereta berhenti, memang tempat di sebelah Wonwoo kosong tak ditempati sampai ia terditraksi oleh panggilan telepon dari Seungcheol namun tak menyangka seseorang yang sejak dua menit lalu menempati kursi di sebelahnya adalah orang yang paling ditunggu.

Wonwoo membeku, ponsel yang ia pegang di genggam kuat, lagu manis terputar dari earphone yang ia pasang menambah suasana seperti berada di dalam drama romansa yang sering Seungkwan ceritakan di jam makan siang.

Yang duduk di sebelah tak melakukan apa-apa seperti biasanya, masih tidak peduli dengan sekitarnya padahal kalau dia tahu ada sesorang yang dibuat hampir gila karenanya.

Lagi-lagi Wonwoo memperhatikan dalam diam, dia dapat mencium wangi lembut yang menguar dari tubuh orang di sebelahnya. Wangi Apple Rose bercampur dengan harum sabun mandi yang masih segar. Tuhan, tolong tenangkan degup jantung Wonwoo yang rasanya seperti tabuhan gendang paling kencang.

Dari posisi di sampingnya ini, Wonwoo dapat melihat garis mata pujaan hatinya yang begitu tipis membuatnya matanya indah dengan bibir bervolume merah jambu menambah ukiran Tuhan ini benar-benar sempurna di mata Wonwoo. Napasnya begitu tenang, sesekali mengecek ponsel tanpa menoleh ke kiri dan kanan.

Ingin rasanya Wonwoo menyapa atau sekedar menanyakan kabar bagaimana harinya kemarin karena kalau di rasa-rasa Wonwoo seperti sudah mengenal orang di sebelahnya cukup lama, tujuh bulan berlalu sejak pertama kali Wonwoo mendapati sosok ini memperhatikan kebiasaannya setiap pagi membuatnya merasa kenal. Tapi, sudahlah Wonwoo tidak bernyali dan takut dicap penguntit atau orang aneh jadi dia memutuskan untuk meredam genderang di dalam dada dan menarik napasnya dalam-dalam.

Cukup bersyukur kepada Tuhan untuk paginya yang begitu indah.

.

23 Februari 2022 Hari ke-233 (7 bulan, 3 minggu)

Wonwoo ingin mengucapkan sumpah serapahnya pagi ini, ia lupa kalau ada meeting dadakan yang sudah diinfokan oleh Seungcheol tadi malam memalui grup chat tapi bodohnya ia lupa memasang alarm lebih awal dan berakhir bangun terlambat. Meeting yang biasanya mulai pukul 10 dimajukan menjadi pukul 8 sedangkan ia masih berjejal dengan penumpang lain, waktunya masih ada 15 menit sebelum benar-benar terlambat saat sampai di stasiun Tebet pemberhentian terakhirnya. Kacau, bahkan materi meeting yang sebenarnya disiapkan untuk minggu depan itu belum selesai, salahkan Wonwoo yang kali ini menunda-nunda pekerjaan sehingga ketika jadwal meeting diubah mendadak maka ia sendiri yang kesulitan.

Langkanya seribu kali lebih cepat dan hampir berlari ketika matanya terdistraksi oleh sosok misterius itu yang tiba-tiba terlihat berhenti di depan booth coffe shop yang ada di dalam stasiun Tebet. Pemandangan tidak biasa karena ia yang selalu menghilang di kerumunan setelah keluar dari gerbong kereta.

Sialan, jika hari ini ia tidak terlambat Wonwoo sudah pasti akan ikut pergi ke coffee shop itu dan mencoba peruntungannya untuk mendekati pujaan hatinya. Memberanikan diri dan berhenti menjadi pengecut. Tapi nasib berkata lain Wonwoo harus kembali berlari dan mengejar waktunya sebelum karir terancam karena kesalahnya sendiri.

Not Today.

.

1 Maret 2022 Hari ke-243 (8 bulan)

Tidurnya terlalu nyenyak hingga saat Wonwoo membuka jendela kamar ia baru sadar kalau langit sedang murung dan menurunkan hujannya. Pantas udara terasa lebih dingin dan gelap lebih pekat.

Belum benar-benar deras ia pun memutuskan untuk tetap berjalan kaki ke stasiun dengan berbekal payung warna abu-abu miliknya. Beberapa mungkin akan memilih ojek atau taksi online tapi Wonwoo tetap dengan kebiasaannya, lagi pula wangi dan bunyi hujan adalah kesukaannya.

Wonwoo senang membiarkan telapak tangannya tersentuh air hujan yang menetes, rasa itu memberikan banyak kenangan masa lalu. Menelusuri lorong waktu detik berganti hari, bulan berganti tahun dan ia menjadi seseorang yang lebih dewasa hari ini.

Di dalam kereta, hujan menjadi lebih deras bahkan jendela menjadi berkabut karena rintiknya yang semakin banyak, bunyi gemuruh dari petir menyambar di luar ditambah tetesan hujan yang turun bertubi-tubi membuat bunyi bising di atas atap gerbong. Suasana lebih hening, mata Wonwoo masih sesekali mencuri pandang kepada sosok di ujung sana yang sekarang berdiri cukup jauh di depannya.

Sering kali ia menebak-nebak apa yang membuat sosok itu begitu dingin dan selalu sibuk, keluar dengan terburu dan cepat menghilang. Bila bebannya terasa begitu berat, ingin rasanya Wonwoo berbagi bahkan bila hanya sebagai teman pendengar keluh-kesahnya karena dia terlihat begitu kuat namun juga lemah di waktu yang bersamaan.

Hari ini saja dia terlihat begitu menyedihkan, kemeja putihnya terlihat sedikit basah di bagian pundak, tangannya hanya memegang satu ponsel seperti biasa dan ransel kerja yang tidak begitu besar pas dengan postur tubuhnya, tidak terlihat payung yang dibawa menjawab pertanyaan akan kemeja yang basah. Dalam hati Wonwoo benar-benar ingin menjaganya, mengingatkan untuk selalu memakai mantel atau jaket atau sekedar meyiapkan payung sebelum berangkat bekerja.

Lamunannya begitu dalam sampai kereta akhirnya berhenti di tempat tujuan, penumpang turun satu persatu termasuk dia yang sudah pasti langsung pergi keluar gerbong dengan cepat, sedangkan Wonwoo harus kembali pda realita hidupnya melanjutkan hari yang masih panjang.

Setiap hari seperti itu, Wonwoo yang berangkat kerja, semangat akan pertemuannya di gerbong nomor tiga stasiun Manggarai, mencuri pandang, kemudian melanjutkan kehidupan lagi seperti biasa.

Tapi tunggu, sepertinya Tuhan mendengar isi hatinya karena saat Wonwoo akan pergi ia melihat sosok itu berdiam diri dipinggir pintu keluar, memandangi langit yang masih menurukan hujannya, ragu untuk melangkah di bawah guyuran hujan yang semakin deras.

Entah mendapat keberanian dari mana atau mungkin ia yang lelah akan sifat pengecutnya maka Wonwoo memberanikan diri menghampiri sosok itu ragu-ragu, menggenggam gagang payung lebih erat dan mengutuk dirinya banyak-banyak.

“Ehem!” sialan, dehamnnya terdengar bodoh. Wonwoo benci dirinya sendiri saat ini.

Tidak ada respon dan hal itu sudah ia prediksi tapi ia terlanjur maka Wonwoo akan tetap melanjutkan untuk mempermalukan dirinya di depan orang yang sudah ada di sampingnya ini.

“Mau ke depan ya....mas?” shit! terlalu kaku.

Yang diajak bicara akhirnya menoleh dengan wajah datarnya dan mengangguk.

“Kantornya di mana?” Bodoh Wonwoo bodoh.

“Di sana..” matanya mengarah pada jalan di depan. Tak menyangka pertanyaannya akan dijawab. “..mau naik grabcar tapi deras banget” lanjutnya pelan.

Demi Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang, baru ini Wonwoo akhirnya dapat mendengar suara sosok yang sudah ia kagumi selama berbulan-bulan untuk pertama kalinya. Suaranya begitu lembut sampai bahkan bisa menghentikan perang dunia kedua pada tahun 1940-an, begitu damai di bawah rintik hujan.

Lidahnya kaku dan kelu pikirannya yang sempat melayang akhirnya kembali, benar saja untuk naik ojek atau taksi online dari stasiun ini maka kita harus berjalan keluar stasiun dulu beberapa meter ke jalan di depan dimana titik penjemputan yang biasa dipakai para pengendara taksi online.

Memaksakan diri berlari ke sana pada saat seperti ini sama saya menyerahkan diri untuk mandi di bawah guyuran hujan, mengorbankan pakaian kantor dan berakhir mendapatkan hari yang buruk sepanjang hari karena tak nyaman dengan pakaian yang basah kuyup.

“Bareng ke depan aja, gue bawa payung” kata Wonwoo akhirnya menunjukan payung abu-abunya yang masih terlipat.

Sosok itu memperhatikan dalam diam mungkin sedang menimbang-nimbang tawaran orang asing di sampingya.

“Emangya gapapa? Kamu naik grab juga?” katanya lagi dengan mata sayunya.

Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu.

Sebentar lagi Wonwoo akan gila.

“Enggak, gue jalan kaki aja cuma 9 menit soalnya udah deket banget” balas Wonwoo pura-pura tenang. “Yuk bareng dari pada kehujanan” sambungnya lagi.

“Yaudah kalau gitu, makasih ya”

“Sama-sama”

Akhirnya mereka berjalan di bawah rintik hujan dengan payung milik Wonwoo yang cukup untuk melindungi keduanya dari air yang turun, berjalan dengan hati-hati agar tak mengotori celana kerja keduanya akibat air yang menggenang. Pundak sesekali bersentuhan satu sama lain memberikan aliran listrik yang tiba-tiba mengalir dalam darah Wonwoo.

Tubuh orang itu menjadi lebih mungil di samping Wonwoo, rambutnya beberapa kali tertiup angin membuat wajahnya menjadi lucu, tidak ada yang berbicara lagi setelah itu hanya ada suara hujan yang mengiringi mereka dan degup jantung Wonwoo yang ribut jauh di dalam dadanya.

Sampai di depan, Wonwoo akhirnya membuka suara.

“Udah di pesan grabcarnya?” menatap pada orang yang lebih rendah di sebelahnya.

“Sudah, kayanya bentar lagi sampai. Kamu kalau mau pergi gak apa nanti terlambat” balasnya tulus.

“Santai, masih ada waktu kok gue gak buru-buru juga” jujur Wonwoo karena memang masih ada 20 menit sebelum jam masuk kantor.

Dijawab seperti itu dia pun kembali dengan ponselnya melihat aplikasi taksi online untuk memantau posisi pengendara.

Hujan masih sangat deras dan sesekali gemuruh dilangit terdengar, dari sini Wonwoo bisa melihat orang disebelahnya yang beberapa kali terkejut membuat Wonwoo semakin ingin melindunginya.

Tidak sampai dua menit mobil hitam hatchback dengan plat Jakarta berhenti di depan mereka, sosok yamg dari tadi melihat ponselnya untuk mengecek posisi pengendara akhirnya memastikan kalau itu benar adalah taksi online pesannya.

Sebelum dia melangkah ke depan Wonwoo sudah duluan memegang pundaknya, membawa orang itu menuju pintu penumpang mengantarkannya sampai benar-benar masuk dan aman dari guyuran hujan, sedikit membuat yang diantar terkejut dan tak enak hati.

“Terimakasih banyak untuk payungnya” katanya kemudian menutup pintu mobil setelah mendapat anggukan dari Wonwoo.

Mobil itu menjauh dan hilang di bawah kabut hujan.

Dan satu lagi yang akan membuat Wonwoo lebih menyukai hujan. Dia.

.

2 Maret 2022 Hari ke 244 (8 bulan, 1 hari)

Keesokan harinya,

Wonwoo menjadi gelisah waktu dan jadwal KRL yang ia tumpangi sudah sama seperti biasa, ia pun bahkan berdiri di dekat pintu keluar dengan harapan bisa bertemu dengan orang itu.

Semalaman ia runtuki dirinya sendiri karena lupa menanyakan nama orang yang delapan bulan ini selalu hadir di kepalanya, sudah susah melawan sisi pengecutnya tetap saja kebodohan masih tersisa begitu kata Wonwoo pada dirinya di depan cermin tadi malam.

Hari ini yang ditunggu tidak menunjukkan batang hidungnya, hingga petugas menutup pintu kereta dan mengisyaratkan akan berangkat, sosok itu tidak juga datang. Seribu pertanyaan tiba apakah dia menggunakan jadwal lain? apakah dia terlambat? apakah dia tersesat dan diculik orang? apakah dia bahkan tidak pulang ke rumah semalam dan berakhir lembur di kantor? dan pertanyaan-pertanyaan konyol lainnya yang berhasil masuk ke dalam otak Wonwoo.

Namun, satu yang masih masuk akal mungkin saja dia yang saat ini sedang meringkuk di kamarnya karena sakit terserang demam akibat kehujan kemarin pagi. Bisa saja, bisa juga tidak. Tidak ada yang tahu termasuk Wonwoo.

Alhasil, hari ini mood Wonwoo jatuh sedalam jurang, ia uring-uringan di kantor bahkan beberapa laporan yang harus dikirim hari ini sempat tercampur dengan laporan lain, ia bahkan lupa ada jadwa psikotes untuk kandidit karyawan baru yang berlangsung selepas makan siang. Wonwoo dibuat kacau oleh orang itu.

Aneh, begitu besarnya eksistensi orang misterius itu bagi Wonwoo hingga harinya menjadi kacau seperti ini.

Itulah mengapa banyak orang yang bilang betapa sulitnya jatuh cinta diam-diam.

.

3 Maret 2022 Hari ke-245 (8 bulan, 2 hari)

Kereta berangkat sesuai jadwal, Wonwoo pun sudah lega melihat orang itu kembali, sehat dan masih sama datarnya tapi paling tidak ia bisa lebih tenang bekerja hari ini.

Keadaan gerbong nomor 3 kali ini terlihat lebih padat, banyak penumpang yang tidak kebagian tempat duduk dan harus berdiri seperti Wonwoo dan dia di ujung sana. Kereta berjalan lebih lambat dari biasanya entah perasaannya saja atau memang benar lambat, sampai kereta menghantam sesuatu menimbulkan suara dentuman keras membuat transportasi paling besar itu seperti bergetar dan kemudian benar-benar berhenti di tengah jalan di antara rel yang saling bersilang yang sekelilingnya cukup jauh dari pemukiman warga, hanya ada tanah lapang, sungai dan beberapa petak kebun kecil.

Dari pengeras suara di atas kepala terdengar bahwa mesin kereta sedang mengalami masalah dan harus di perbaiki terlebih dahulu sedangkan untuk mentransfer penumpang ke kereta lain tidak dapat dilakukan dan terlalu beresiko karena jalur tempat mereka berhenti saat ini di batasi sungai dan jalur silang yang tidak bisa dilalui oleh dua kereta sekaligus sehingga penumpang diminta bersabar dan menunggu teknisi memperbaiki mesin yang rusak dan estimasi perbaikannya akan memakan waktu hingga dua jam kedepan.

Mendengar itu mata Wonwoo otomasi mengarah pada dia yang sudah merosot di lantai bersandar pada pintu keluar yang sangat berbahaya jika tiba-tiba terbuka, dia memijat keningnya putus asa sambil menekan-nekan tombol power ponselnya berulang kali.

Disekitar mereka pun banyak penumpang yang mengeluh karena ini adalah jam masuk kantor dan dapat dipastikan mereka semua harus terlambat ke kantor.

Melihat itu Wonwoo mencoba menerobos kerumunan penumpang di depannya menuju dia yang sudah tertunduk lemas.

“Hey...” panggil Wonwoo ikut berjongkok.

Dia kemudian menoleh dengan kerutan alisnya.

“Kenapa?” tanya Wonwoo lagi.

“Payung?” balasnya.

Dan Wonwoo mengangguk hampir tersenyum karena dia yang masih mengingatnya sebagai orang dari dua hari lalu yang mengantarnya ke depan stasiun dengan payung abu-abu miliknya.

“Hp-nya mati mau ngabarin orang kantor, lupa bawa powerbank” cicitnya pelan sambil menunjukkan ponselnya yang sudah mati total.

“Oh, ini gue bawa kok. Pake nih” Wonwoo kemudian membuka ransel kerjanya mengambil kotak persegi panjang dengan daya pengisi ponsel pintar.

Yang diberikan pinjaman powerbank langsung membuang napas lega dan berulang kali mengucapkan terimakasih.

Wonwoo kemudian mengajaknya untuk duduk di lantai gerbong karena kakinya yang sebenarnya sudah terasa keram karena berjongkok.

Sambil mengisi daya dari powerbank milik Wonwoo maka yang lebih tinggi mengajak untuk mengobrol lebih dulu.

“Lupa charger ya semalem?” tanya Wonwoo basa-basi.

“Iya soalnya aku demam kemarin, gak masuk kantor jadi cuma tidur seharian sampai lupa charge hp” katanya.

Benar saja ternyata memang sakit pasti akibat kehujanan kemarin.

“Udah ke dokter?”

“Belum, cuma demam biasa. Kemarin udah minum paracetamol jadi demamnya udah turun”

Wonwoo mengangguk, bingung ingin bertanya apalagi.

“hmm...” suara ragu-ragu terdengar dari orang di samping Wonwoo. “Namanya siapa?” lanjutnya lagi.

Wonwoo terpana, matanya menatap yang barusan bertanya tak menyangka bahwa orang yang menjadi pujaan hatinya duluan lah yang mengajak berkenalan. Sungguh Wonwoo dibuat kaget sekaligus malu akan sifat pengecutnya.

“Wonwoo” sambil mengulurkan tangan yang kemudian disambut oleh lawan bicaranya.

“Soonyoung”

Dan detik itu dunia Wonwoo dibuat terjungir balik, dipenuhi bunga tulip dan bunyi aliran sungai yang damai, hatinya dibuat lemah, tubuhnya seperti meleleh tak berdaya, perutnya dipenuhi kupu-kupu berterbangan.

Nama yang indah, nama yang cocok untuk sosok manis di depannya saat ini.

Wonwoo ingin sekali bertanya asal usul Soonyoung dan pekerjaannya namun mengingat kejadian kemarin ketika pertanyaan Wonwoo tentang tempat kerja Soonyoung diabaikan maka ia memutuskan untuk menyimpannya agar Soonyoung tidak merasa terganggu akan kehidupan privasinya, toh Wonwoo sudah selangkah lebih maju bisa mengetahui nama dari sosok misterius yang terus singgah dipikirannya bahkam mengetahui namanya langsung.

Empat puluh menit sudah berlalu di dalam gerbong kereta, kebanyakan penumpang yang berdiri pun ikut duduk di lantai gerbong karena kelelahan.

Soonyoung sudah menyalakan ponselnya dan langsung mengabari yang sepertinya atasan atau rekan satu kantornya atas keterlambatannya di karenakan kerusakaan kereta di tengah jalan. Wajahnya nampak begitu serius mengetik di atas layar ponsel dan menelepon beberapa orang setelahnya menjelaskan hal yang sama.

Wonwoo memperhatikan setiap gerak-gerik Soonyoung yang begitu sibuk pada ponsel, lebih sibuk dari biasanya, memperhatikan Soonyoung seperti biasanya namun lebih dekat.

Setelah Soonyoung menutup ponselnya dan menyandarkan kepalanya pada pintu kereta dan menarik napas dalam, akhirnya Wonwoo membuka lagi obrolan.

“Lo biasa sarapan gak?” tanya Wonwoo.

“Dibilang biasa juga enggak, kalau sempet ya sarapan kalau enggak yaudah sekalian makan siang aja”

“Oh! kalau gitu gue tau!”

Soonyoung mengerutkan alisnya melihat Wonwoo yang begitu bersemangat.

“Berhubung estimasi kita sampai stasiun Tebet itu sekitar jam 10-an, gimana kalau kita mampir sarapan dulu? Lagian kita udah terlanjut telat ngantor kan jadi sekalian aja, lo juga udah ngabarin orang kantor. Gue tau yang jualan nasi kuning sama pecel pincuk deket stasiun Tebet” ajak Wonwoo.

Soonyoung memandangi Wonwoo dalam diam, mungkin kembali menimbang-nimbang tawaran barusan. Sebenarnya Soonyoung tertarik, lagi pula sejak sakit kemarin makannya tidak teratur dan belum makan lagi sejak tadi malam oleh karena itu Soonyoung kemudian meng-iya-kan ajakan Wonwoo.