20 Januari 2022
Hari ke-203 (6 bulan, 2 minggu)
Hari yang lain bagi dunia Wonwoo yang sibuk, langkah kaki lebih cepat pagi ini. Belum sepenuhnya terlambat namun jadwal KRL yang akan membawanya sampai tepat waktu di tempat tujuan seharusnya sudah tiba dan ia tidak bisa melewatkan kereta tersebut terlebih jadwal itulah yang juga biasa digunakan sosok laki-laki misterius yang kerap mencuri perhatiannya dalam enam bulan terakhir.
Wonwoo sampai di depan gerbong kereta nomor 3 dan beruntung masinis belum menjalankan mesinnya sehingga ia masih sempat melangkah masuk dengan tergesa walaupun penumpang lain sudah mulai sesak berjejal memenuhi isi kereta.
Wonwoo hampir melepaskan umpatan kasarnya saat tak sadar langsung berhadapan dengan lelaki misteriusnya yang sedang berdiri di hadapan, memegang tiang besi di samping pintu masuk dengan wajah yang sama datar seperti biasa memandang ke arah luar tak peduli. Baru ini Wonwoo melihat wajahnya sedekat itu, kulit putih bersih, mata sendu dengan sepercik kilauan yang entah kenapa bisa Wonwoo lihat padahal hanya sekali menatap. Baru ini pula ia menyadari lelaki itu memilik postur tubuh yang tidak lebih tinggi darinya, hanya sepantaran bahu dan sangat pas untuk ia dekap.
Demi Tuhan, pikiran itu tiba-tiba saja lewat dibenaknya sekaligus menyadarkan Wonwoo untuk kembali ke dunia nyata dan buru-buru beranjak ke sisi lain menyelamatkan jantungnya yang berdegup kencang. Wonwoo si pengecut yang kembali memperhatikan laki-laki itu dari jauh, terkesan mengerikan diam-diam memperhatikan orang lain yang tak dikenal walaupun ia tak berniat jahat dan hanya mengagumi salah satu ciptaan Tuhan.
.
10 Februari 2022
Hari ke-224 (7 bulan, 1 minggu)
Cuaca benar-benar bersahabat hari ini disepanjang jalan Wonwoo bersenandung pelan, langkahnya terasa lebih ringan padahal pekerjaan yang menanti di kantor sama saja beratnya seperti hari kemari tapi jika dipikirkan terus hal negatif akan terus mengerogoti isi kepala dan menjadi beban. Tidak perlu, ada banyak hal baik di dunia ini yang bisa dilakukan dibanding terus-terusan mengeluh akan tanggung jawab yang memang seharusnya dikerjakan.
Wonwoo sudah duduk di kursi penumpang dengan tenang, memasang earphone dengan kabel putih memutar lagu yang sedari tadi ia gumamkan di perjalanan ke stasiun. Saat sampai di stasiun transit kedua Manggarai banyak penumpang yang turun dan beberapa yang naik silih berganti. Wonwoo meluruskan duduknya, tahu bahwa di stasiun ini lah sosok misterius pujaan hatinya akan naik.
Namun, perhatian tiba-tiba teralihkan oleh telepon dari Seungcheol yang menanyakan beberapa berkas yang Wonwoo kirim melalui email kemarin sore, nampaknya atasannya itu sudah sampai di kantor lebih awal dan mengecek hasil kerjannya kemarin, menjelaskan beberapa detail melalui telepon akhirnya sambungan di seberang sana diputus dengan Seungcheol memuji hasil kerjanya yang rapi dan jelas.
Sepertinya, hari ini memang hari keberuntungan bagi Wonwoo karena tak disangka-sangka seseorang yang ditunggu duduk di sebelahnya tanpa Wonwoo sadari. Sejak kereta berhenti, memang tempat di sebelah Wonwoo kosong tak ditempati sampai ia terditraksi oleh panggilan telepon dari Seungcheol namun tak menyangka seseorang yang sejak dua menit lalu menempati kursi di sebelahnya adalah orang yang paling ditunggu.
Wonwoo membeku, ponsel yang ia pegang di genggam kuat, lagu manis terputar dari earphone yang ia pasang menambah suasana seperti berada di dalam drama romansa yang sering Seungkwan ceritakan di jam makan siang.
Yang duduk di sebelah tak melakukan apa-apa seperti biasanya, masih tidak peduli dengan sekitarnya padahal kalau dia tahu ada sesorang yang dibuat hampir gila karenanya.
Lagi-lagi Wonwoo memperhatikan dalam diam, dia dapat mencium wangi lembut yang menguar dari tubuh orang di sebelahnya. Wangi Apple Rose bercampur dengan harum sabun mandi yang masih segar. Tuhan, tolong tenangkan degup jantung Wonwoo yang rasanya seperti tabuhan gendang paling kencang.
Dari posisi di sampingnya ini, Wonwoo dapat melihat garis mata pujaan hatinya yang begitu tipis membuatnya matanya indah dengan bibir bervolume merah jambu menambah ukiran Tuhan ini benar-benar sempurna di mata Wonwoo. Napasnya begitu tenang, sesekali mengecek ponsel tanpa menoleh ke kiri dan kanan.
Ingin rasanya Wonwoo menyapa atau sekedar menanyakan kabar bagaimana harinya kemarin karena kalau di rasa-rasa Wonwoo seperti sudah mengenal orang di sebelahnya cukup lama, tujuh bulan berlalu sejak pertama kali Wonwoo mendapati sosok ini memperhatikan kebiasaannya setiap pagi membuatnya merasa kenal. Tapi, sudahlah Wonwoo tidak bernyali dan takut dicap penguntit atau orang aneh jadi dia memutuskan untuk meredam genderang di dalam dada dan menarik napasnya dalam-dalam.
Cukup bersyukur kepada Tuhan untuk paginya yang begitu indah.
.
23 Februari 2022
Hari ke-233 (7 bulan, 3 minggu)
Wonwoo ingin mengucapkan sumpah serapahnya pagi ini, ia lupa kalau ada meeting dadakan yang sudah diinfokan oleh Seungcheol tadi malam memalui grup chat tapi bodohnya ia lupa memasang alarm lebih awal dan berakhir bangun terlambat. Meeting yang biasanya mulai pukul 10 dimajukan menjadi pukul 8 sedangkan ia masih berjejal dengan penumpang lain, waktunya masih ada 15 menit sebelum benar-benar terlambat saat sampai di stasiun Tebet pemberhentian terakhirnya. Kacau, bahkan materi meeting yang sebenarnya disiapkan untuk minggu depan itu belum selesai, salahkan Wonwoo yang kali ini menunda-nunda pekerjaan sehingga ketika jadwal meeting diubah mendadak maka ia sendiri yang kesulitan.
Langkanya seribu kali lebih cepat dan hampir berlari ketika matanya terdistraksi oleh sosok misterius itu yang tiba-tiba terlihat berhenti di depan booth coffe shop yang ada di dalam stasiun Tebet. Pemandangan tidak biasa karena ia yang selalu menghilang di kerumunan setelah keluar dari gerbong kereta.
Sialan, jika hari ini ia tidak terlambat Wonwoo sudah pasti akan ikut pergi ke coffee shop itu dan mencoba peruntungannya untuk mendekati pujaan hatinya. Memberanikan diri dan berhenti menjadi pengecut. Tapi nasib berkata lain Wonwoo harus kembali berlari dan mengejar waktunya sebelum karir terancam karena kesalahnya sendiri.
Not Today.
.
1 Maret 2022
Hari ke-243 (8 bulan)
Tidurnya terlalu nyenyak hingga saat Wonwoo membuka jendela kamar ia baru sadar kalau langit sedang murung dan menurunkan hujannya. Pantas udara terasa lebih dingin dan gelap lebih pekat.
Belum benar-benar deras ia pun memutuskan untuk tetap berjalan kaki ke stasiun dengan berbekal payung warna abu-abu miliknya. Beberapa mungkin akan memilih ojek atau taksi online tapi Wonwoo tetap dengan kebiasaannya, lagi pula wangi dan bunyi hujan adalah kesukaannya.
Wonwoo senang membiarkan telapak tangannya tersentuh air hujan yang menetes, rasa itu memberikan banyak kenangan masa lalu. Menelusuri lorong waktu detik berganti hari, bulan berganti tahun dan ia menjadi seseorang yang lebih dewasa hari ini.
Di dalam kereta, hujan menjadi lebih deras bahkan jendela menjadi berkabut karena rintiknya yang semakin banyak, bunyi gemuruh dari petir menyambar di luar ditambah tetesan hujan yang turun bertubi-tubi membuat bunyi bising di atas atap gerbong. Suasana lebih hening, mata Wonwoo masih sesekali mencuri pandang kepada sosok di ujung sana yang sekarang berdiri cukup jauh di depannya.
Sering kali ia menebak-nebak apa yang membuat sosok itu begitu dingin dan selalu sibuk, keluar dengan terburu dan cepat menghilang. Bila bebannya terasa begitu berat, ingin rasanya Wonwoo berbagi bahkan bila hanya sebagai teman pendengar keluh-kesahnya karena dia terlihat begitu kuat namun juga lemah di waktu yang bersamaan.
Hari ini saja dia terlihat begitu menyedihkan, kemeja putihnya terlihat sedikit basah di bagian pundak, tangannya hanya memegang satu ponsel seperti biasa dan ransel kerja yang tidak begitu besar pas dengan postur tubuhnya, tidak terlihat payung yang dibawa menjawab pertanyaan akan kemeja yang basah.
Dalam hati Wonwoo benar-benar ingin menjaganya, mengingatkan untuk selalu memakai mantel atau jaket atau sekedar meyiapkan payung sebelum berangkat bekerja.
Lamunannya begitu dalam sampai kereta akhirnya berhenti di tempat tujuan, penumpang turun satu persatu termasuk dia yang sudah pasti langsung pergi keluar gerbong dengan cepat, sedangkan Wonwoo harus kembali pda realita hidupnya melanjutkan hari yang masih panjang.
Setiap hari seperti itu, Wonwoo yang berangkat kerja, semangat akan pertemuannya di gerbong nomor tiga stasiun Manggarai, mencuri pandang, kemudian melanjutkan kehidupan lagi seperti biasa.
Tapi tunggu, sepertinya Tuhan mendengar isi hatinya karena saat Wonwoo akan pergi ia melihat sosok itu berdiam diri dipinggir pintu keluar, memandangi langit yang masih menurukan hujannya, ragu untuk melangkah di bawah guyuran hujan yang semakin deras.
Entah mendapat keberanian dari mana atau mungkin ia yang lelah akan sifat pengecutnya maka Wonwoo memberanikan diri menghampiri sosok itu ragu-ragu, menggenggam gagang payung lebih erat dan mengutuk dirinya banyak-banyak.
“Ehem!” sialan, dehamnnya terdengar bodoh. Wonwoo benci dirinya sendiri saat ini.
Tidak ada respon dan hal itu sudah ia prediksi tapi ia terlanjur maka Wonwoo akan tetap melanjutkan untuk mempermalukan dirinya di depan orang yang sudah ada di sampingnya ini.
“Mau ke depan ya....mas?” shit! terlalu kaku.
Yang diajak bicara akhirnya menoleh dengan wajah datarnya dan mengangguk.
“Kantornya di mana?” Bodoh Wonwoo bodoh.
“Di sana..” matanya mengarah pada jalan di depan. Tak menyangka pertanyaannya akan dijawab.
“..mau naik grabcar tapi deras banget” lanjutnya pelan.
Demi Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang, baru ini Wonwoo akhirnya dapat mendengar suara sosok yang sudah ia kagumi selama berbulan-bulan untuk pertama kalinya.
Suaranya begitu lembut sampai bahkan bisa menghentikan perang dunia kedua pada tahun 1940-an, begitu damai di bawah rintik hujan.
Lidahnya kaku dan kelu pikirannya yang sempat melayang akhirnya kembali, benar saja untuk naik ojek atau taksi online dari stasiun ini maka kita harus berjalan keluar stasiun dulu beberapa meter ke jalan di depan dimana titik penjemputan yang biasa dipakai para pengendara taksi online.
Memaksakan diri berlari ke sana pada saat seperti ini sama saya menyerahkan diri untuk mandi di bawah guyuran hujan, mengorbankan pakaian kantor dan berakhir mendapatkan hari yang buruk sepanjang hari karena tak nyaman dengan pakaian yang basah kuyup.
“Bareng ke depan aja, gue bawa payung” kata Wonwoo akhirnya menunjukan payung abu-abunya yang masih terlipat.
Sosok itu memperhatikan dalam diam mungkin sedang menimbang-nimbang tawaran orang asing di sampingya.
“Emangya gapapa? Kamu naik grab juga?” katanya lagi dengan mata sayunya.
Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu.
Sebentar lagi Wonwoo akan gila.
“Enggak, gue jalan kaki aja cuma 9 menit soalnya udah deket banget” balas Wonwoo pura-pura tenang.
“Yuk bareng dari pada kehujanan” sambungnya lagi.
“Yaudah kalau gitu, makasih ya”
“Sama-sama”
Akhirnya mereka berjalan di bawah rintik hujan dengan payung milik Wonwoo yang cukup untuk melindungi keduanya dari air yang turun, berjalan dengan hati-hati agar tak mengotori celana kerja keduanya akibat air yang menggenang. Pundak sesekali bersentuhan satu sama lain memberikan aliran listrik yang tiba-tiba mengalir dalam darah Wonwoo.
Tubuh orang itu menjadi lebih mungil di samping Wonwoo, rambutnya beberapa kali tertiup angin membuat wajahnya menjadi lucu, tidak ada yang berbicara lagi setelah itu hanya ada suara hujan yang mengiringi mereka dan degup jantung Wonwoo yang ribut jauh di dalam dadanya.
Sampai di depan, Wonwoo akhirnya membuka suara.
“Udah di pesan grabcarnya?” menatap pada orang yang lebih rendah di sebelahnya.
“Sudah, kayanya bentar lagi sampai. Kamu kalau mau pergi gak apa nanti terlambat” balasnya tulus.
“Santai, masih ada waktu kok gue gak buru-buru juga” jujur Wonwoo karena memang masih ada 20 menit sebelum jam masuk kantor.
Dijawab seperti itu dia pun kembali dengan ponselnya melihat aplikasi taksi online untuk memantau posisi pengendara.
Hujan masih sangat deras dan sesekali gemuruh dilangit terdengar, dari sini Wonwoo bisa melihat orang disebelahnya yang beberapa kali terkejut membuat Wonwoo semakin ingin melindunginya.
Tidak sampai dua menit mobil hitam hatchback dengan plat Jakarta berhenti di depan mereka, sosok yamg dari tadi melihat ponselnya untuk mengecek posisi pengendara akhirnya memastikan kalau itu benar adalah taksi online pesannya.
Sebelum dia melangkah ke depan Wonwoo sudah duluan memegang pundaknya, membawa orang itu menuju pintu penumpang mengantarkannya sampai benar-benar masuk dan aman dari guyuran hujan, sedikit membuat yang diantar terkejut dan tak enak hati.
“Terimakasih banyak untuk payungnya” katanya kemudian menutup pintu mobil setelah mendapat anggukan dari Wonwoo.
Mobil itu menjauh dan hilang di bawah kabut hujan.
Dan satu lagi yang akan membuat Wonwoo lebih menyukai hujan. Dia.
.
2 Maret 2022
Hari ke 244 (8 bulan, 1 hari)
Keesokan harinya,
Wonwoo menjadi gelisah waktu dan jadwal KRL yang ia tumpangi sudah sama seperti biasa, ia pun bahkan berdiri di dekat pintu keluar dengan harapan bisa bertemu dengan orang itu.
Semalaman ia runtuki dirinya sendiri karena lupa menanyakan nama orang yang delapan bulan ini selalu hadir di kepalanya, sudah susah melawan sisi pengecutnya tetap saja kebodohan masih tersisa begitu kata Wonwoo pada dirinya di depan cermin tadi malam.
Hari ini yang ditunggu tidak menunjukkan batang hidungnya, hingga petugas menutup pintu kereta dan mengisyaratkan akan berangkat, sosok itu tidak juga datang. Seribu pertanyaan tiba apakah dia menggunakan jadwal lain? apakah dia terlambat? apakah dia tersesat dan diculik orang? apakah dia bahkan tidak pulang ke rumah semalam dan berakhir lembur di kantor? dan pertanyaan-pertanyaan konyol lainnya yang berhasil masuk ke dalam otak Wonwoo.
Namun, satu yang masih masuk akal mungkin saja dia yang saat ini sedang meringkuk di kamarnya karena sakit terserang demam akibat kehujan kemarin pagi. Bisa saja, bisa juga tidak. Tidak ada yang tahu termasuk Wonwoo.
Alhasil, hari ini mood Wonwoo jatuh sedalam jurang, ia uring-uringan di kantor bahkan beberapa laporan yang harus dikirim hari ini sempat tercampur dengan laporan lain, ia bahkan lupa ada jadwa psikotes untuk kandidit karyawan baru yang berlangsung selepas makan siang. Wonwoo dibuat kacau oleh orang itu.
Aneh, begitu besarnya eksistensi orang misterius itu bagi Wonwoo hingga harinya menjadi kacau seperti ini.
Itulah mengapa banyak orang yang bilang betapa sulitnya jatuh cinta diam-diam.
.
3 Maret 2022
Hari ke-245 (8 bulan, 2 hari)
Kereta berangkat sesuai jadwal, Wonwoo pun sudah lega melihat orang itu kembali, sehat dan masih sama datarnya tapi paling tidak ia bisa lebih tenang bekerja hari ini.
Keadaan gerbong nomor 3 kali ini terlihat lebih padat, banyak penumpang yang tidak kebagian tempat duduk dan harus berdiri seperti Wonwoo dan dia di ujung sana. Kereta berjalan lebih lambat dari biasanya entah perasaannya saja atau memang benar lambat, sampai kereta menghantam sesuatu menimbulkan suara dentuman keras membuat transportasi paling besar itu seperti bergetar dan kemudian benar-benar berhenti di tengah jalan di antara rel yang saling bersilang yang sekelilingnya cukup jauh dari pemukiman warga, hanya ada tanah lapang, sungai dan beberapa petak kebun kecil.
Dari pengeras suara di atas kepala terdengar bahwa mesin kereta sedang mengalami masalah dan harus di perbaiki terlebih dahulu sedangkan untuk mentransfer penumpang ke kereta lain tidak dapat dilakukan dan terlalu beresiko karena jalur tempat mereka berhenti saat ini di batasi sungai dan jalur silang yang tidak bisa dilalui oleh dua kereta sekaligus sehingga penumpang diminta bersabar dan menunggu teknisi memperbaiki mesin yang rusak dan estimasi perbaikannya akan memakan waktu hingga dua jam kedepan.
Mendengar itu mata Wonwoo otomasi mengarah pada dia yang sudah merosot di lantai bersandar pada pintu keluar yang sangat berbahaya jika tiba-tiba terbuka, dia memijat keningnya putus asa sambil menekan-nekan tombol power ponselnya berulang kali.
Disekitar mereka pun banyak penumpang yang mengeluh karena ini adalah jam masuk kantor dan dapat dipastikan mereka semua harus terlambat ke kantor.
Melihat itu Wonwoo mencoba menerobos kerumunan penumpang di depannya menuju dia yang sudah tertunduk lemas.
“Hey...” panggil Wonwoo ikut berjongkok.
Dia kemudian menoleh dengan kerutan alisnya.
“Kenapa?” tanya Wonwoo lagi.
“Payung?” balasnya.
Dan Wonwoo mengangguk hampir tersenyum karena dia yang masih mengingatnya sebagai orang dari dua hari lalu yang mengantarnya ke depan stasiun dengan payung abu-abu miliknya.
“Hp-nya mati mau ngabarin orang kantor, lupa bawa powerbank” cicitnya pelan sambil menunjukkan ponselnya yang sudah mati total.
“Oh, ini gue bawa kok. Pake nih” Wonwoo kemudian membuka ransel kerjanya mengambil kotak persegi panjang dengan daya pengisi ponsel pintar.
Yang diberikan pinjaman powerbank langsung membuang napas lega dan berulang kali mengucapkan terimakasih.
Wonwoo kemudian mengajaknya untuk duduk di lantai gerbong karena kakinya yang sebenarnya sudah terasa keram karena berjongkok.
Sambil mengisi daya dari powerbank milik Wonwoo maka yang lebih tinggi mengajak untuk mengobrol lebih dulu.
“Lupa charger ya semalem?” tanya Wonwoo basa-basi.
“Iya soalnya aku demam kemarin, gak masuk kantor jadi cuma tidur seharian sampai lupa charge hp” katanya.
Benar saja ternyata memang sakit pasti akibat kehujanan kemarin.
“Udah ke dokter?”
“Belum, cuma demam biasa. Kemarin udah minum paracetamol jadi demamnya udah turun”
Wonwoo mengangguk, bingung ingin bertanya apalagi.
“hmm...” suara ragu-ragu terdengar dari orang di samping Wonwoo.
“Namanya siapa?” lanjutnya lagi.
Wonwoo terpana, matanya menatap yang barusan bertanya tak menyangka bahwa orang yang menjadi pujaan hatinya duluan lah yang mengajak berkenalan. Sungguh Wonwoo dibuat kaget sekaligus malu akan sifat pengecutnya.
“Wonwoo” sambil mengulurkan tangan yang kemudian disambut oleh lawan bicaranya.
“Soonyoung”
Dan detik itu dunia Wonwoo dibuat terjungir balik, dipenuhi bunga tulip dan bunyi aliran sungai yang damai, hatinya dibuat lemah, tubuhnya seperti meleleh tak berdaya, perutnya dipenuhi kupu-kupu berterbangan.
Nama yang indah, nama yang cocok untuk sosok manis di depannya saat ini.
Wonwoo ingin sekali bertanya asal usul Soonyoung dan pekerjaannya namun mengingat kejadian kemarin ketika pertanyaan Wonwoo tentang tempat kerja Soonyoung diabaikan maka ia memutuskan untuk menyimpannya agar Soonyoung tidak merasa terganggu akan kehidupan privasinya, toh Wonwoo sudah selangkah lebih maju bisa mengetahui nama dari sosok misterius yang terus singgah dipikirannya bahkam mengetahui namanya langsung.
Empat puluh menit sudah berlalu di dalam gerbong kereta, kebanyakan penumpang yang berdiri pun ikut duduk di lantai gerbong karena kelelahan.
Soonyoung sudah menyalakan ponselnya dan langsung mengabari yang sepertinya atasan atau rekan satu kantornya atas keterlambatannya di karenakan kerusakaan kereta di tengah jalan. Wajahnya nampak begitu serius mengetik di atas layar ponsel dan menelepon beberapa orang setelahnya menjelaskan hal yang sama.
Wonwoo memperhatikan setiap gerak-gerik Soonyoung yang begitu sibuk pada ponsel, lebih sibuk dari biasanya, memperhatikan Soonyoung seperti biasanya namun lebih dekat.
Setelah Soonyoung menutup ponselnya dan menyandarkan kepalanya pada pintu kereta dan menarik napas dalam, akhirnya Wonwoo membuka lagi obrolan.
“Lo biasa sarapan gak?” tanya Wonwoo.
“Dibilang biasa juga enggak, kalau sempet ya sarapan kalau enggak yaudah sekalian makan siang aja”
“Oh! kalau gitu gue tau!”
Soonyoung mengerutkan alisnya melihat Wonwoo yang begitu bersemangat.
“Berhubung estimasi kita sampai stasiun Tebet itu sekitar jam 10-an, gimana kalau kita mampir sarapan dulu? Lagian kita udah terlanjut telat ngantor kan jadi sekalian aja, lo juga udah ngabarin orang kantor. Gue tau yang jualan nasi kuning sama pecel pincuk deket stasiun Tebet” ajak Wonwoo.
Soonyoung memandangi Wonwoo dalam diam, mungkin kembali menimbang-nimbang tawaran barusan. Sebenarnya Soonyoung tertarik, lagi pula sejak sakit kemarin makannya tidak teratur dan belum makan lagi sejak tadi malam oleh karena itu Soonyoung kemudian meng-iya-kan ajakan Wonwoo.