milkyways1707

Usia 24 tahun dan bekerja di salah satu Bank Swasta selepas lulus kuliah, memutuskan untuk hidup sendiri di Apartement kawasan Cengkareng, Jakarta Barat membuatnya harus bangun lebih awal mengejar jadwal komuter line di stasiun terdekat.

Aktifitas rutin bangun pukul lima pagi, mengecek pesan yang masuk di ponsel sambil sesekali menghela napas singkat dan menenggelamkan kembali wajah di dalam selimut karena kantuk yang masih membuat mata terasa berat, menatap langit-langit kamar yang lampunya dipadamkan sebelum tidur tadi malam, menerka-nerka bagaimana hari ini akan berlalu, berharap akan lebih mudah dibanding kemarin dengan tumpukan berkas pelamar pekerjaan yang harus ia pilah dengan cermat agar mendapatkan kandidat calon karyawan terbaik dan sesuai kualifikasi untuk menjabat posisi-posisi yang kosong saat ini.

Tidak mudah bekerja sebagai Human Resources Officer seperti Wonwoo atau yang lebih kita kenal dengan staff HRD, banyak yang bilang bekerja sebagai HRD itu perkara mudah, hanya melihat-lihat berkas pelamar, mengecek beberapa posisi kosong dan sisanya bisa pulang cepat. Nyatanya berbeda, ia harus dengan teliti menyaring kandidat karyawan, menelusuri asal usulnya termasuk mencari informasi kehidupan calon karyawan melalui sosial media, menganalisa kemampuan yang bersangkutan dari rekam jejak pengalaman agar hasil rekrut dari perusahaan dengan biaya operasional yang sudah dikeluarkan tidak sia-sia.

Belum lagi setiap awal bulan ia harus membuat laporan jumlah update karyawan aktif, mendaftarkan ke Kantor BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan bagi karyawan baru demi kesejahteraan bersama, ditambah serentetan keluhan karyawan lama silih berganti yang kerap menuntut kenaikan gaji dan tunjangan jabatan yang sebenarnya bukan ranahnya untuk memberikan keputusan atau tanggapan, ujung-ujungnya ia pun akan menjadi teman curhat bagi mereka, untung ada Seungkwan rekan sejawat yang juga berada di divisi yang sama senantiasa melakukan bagiannya terlebih untuk urusan laporan, Seungkwan kerap ia juluki sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan setiap saat, walaupun sering mengeluh dengan wajah masamnya saat dikejar deadline.

Pagi ini ia akan disibukkan dengan jadwal interview hampir 15 orang kandidat untuk divisi yang berbeda, hasil dari seleksi tumpukan surat lamaran pekerjaan kemarin. Hari ini tentu manjadi hari yang panjang.

Ia mengusap wajahnya pelan sebelum turun dari tempat tidur dengan pencahayaan minim itu, membuka tirai putih berbahan polister yang ketika kita tarik tali sisi kirinya maka akan terlipat otomatis ke atas. Apa yang diharapkan dari suasana pagi hari pukul 05.15 masih sama gelapnya dengan kondisi kamar Wonwoo saat ini. Tapi, paling tidak sirkulasi udara dapat berganti.

Dengan langkah malas ia membersihkan tempat tidur yang kusut dan menata dua bantal dan satu guling ke posisi yang lebih baik agar nyaman di pandang. Hidup sendiri bukan berarti ia menjalani hidup yang tak teratur, bukan alasan bagi Wonwoo.

Kegiatan selanjutnya adalah memilih pakaian yang akan dikenakan untuk hari ini, merupakan hal penting baginya karena mengenakan pakaian kerja yang bersih, wangi, dan rapi adalah poin penting untuk siap menjalani aktifitas yang sibuk dan panjang di kantor sepanjang hari. Ia akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi dengan pakaian yang ia kenakan.

Pukul 05.30 suara tetesan dari pemancur air di dalam kamar mandi terdengar. Ia siap menjalani hari ini.

.

.

.

Perjalanan dari apartement di Jalan Daan Mogot tempatnya tinggal ke stasiun KRL Bojong Indah membutuhkan waktu 9 menit jalan kaki, tidak seperti kebanyakan orang yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, Wonwoo lebih suka menggunakan moda transportasi masal seperti KRL. Katanya lebih praktis dan anti macet, tidak harus terjebak diantara pengendara lain dan menghabiskan waktunya sia-sia, dengan KRL Wonwoo bisa menghemat waktu dan biaya, dalam perjalanannya pun ia bisa menikmati perjalanan atau sekedar melamun membuat rencana kerja hari ini di kantor.

Total ada dua kali transit KRL di stasiun Duri dan Manggarai membuatnya turun berganti KRL. Senin pagi yang sibuk untuk warga Jakarta harusnya sudah mulai terlihat pagi ini namun keadaan berbeda ketika Wonwoo turun untuk transit di stasiun Manggarai. Keadaan masih lengang hanya ada beberapa orang yang sedang menunggu di sisi peron dengan jarak aman, pintu masuk pun tidak ada antrian sama sekali. Wonwoo kemudian mengecek jam tangan bermerknya yang dibeli dua bulan lalu hasil bonus akhir tahun dari perusahaan. Terang saja ini masih pukul 06.05 pagi tentu belum banyak orang mengantri, ia memang baru ingat kalau hari ini pergi lebih awal guna menyiapkan beberapa berkas dan jadwal interview yang dibuat lebih pagi dari biasanya. Tidak buruk juga berangkat ke kantor di jam ini karena ia bisa lebih santai.

Melangkahkan kakinya ke gerbong kereta nomor tiga dari depan, ia duduk dengan tenang sambil mengecek kembali ponselnya, tidak ada pesan lain setelah reminder singkat dari Supervisornya di kantor Mas Seungcheol dan titipan roti rasa Moca langganan Seungkwan yang ada di stasiun Tebet yang juga merupakan pemberhentian terkahirnya untuk sampai di kantor Bank Swasta di daerah Kuningan, Jakarta Selatan tempat Wonwoo bekerja.

Gerbong masih lengang dengan wangi khas KRL yang anehnya menjadi kesukaan Wonwoo, wangi dari pengharum ruangan dan cairan pembersih kaca yang masih kentara tercium di pagi hari.

Dua menit sebelum berangkat dalam perhitungan Wonwoo, sesorang yang nampak familiar masuk di gerbong yang sama. Orang yang sama ia jumpai setiap pagi dan menjadi salah satu alasan Wonwoo selalu memilih gerbong nomor 3.

Laki-laki berparas manis, rambut hitam tertata rapi dan nampak begitu lembut. Wajahnya yang selalu terlihat tanpa ekspresi dengan kulit seputih susu memberikan kesan dingin dan kesepian. Itu yang ada di dalam pikiran Wonwoo.

Sudah enam bulan terkahir Wonwoo selalu bertemu dengan sosok ini di gerbong dengan nomor yang sama, awalnya hanya kebetulan saja lama-lama ia dengan sengaja memilih berangkat di waktu dan tempat yang sama. Namun, ia tidak menyangka akan bertemu lagi hari ini mengingat ia berangkat lebih awal.

Sosok itu masih sama, selalu duduk atau berdiri di tempat paling ujung dekat pintu keluar, selalu sibuk dengan ponselnya membalas sesuatu dengan cepat atau berbicara melalui earpods yang terpasang di telinganya. Pandangan matanya tidak pernah berubah, selalu menatap jendela luar seolah-olah tidak memperdulikan sekitarnya. Wonwoo diam-diam memperhatikan dan diam-diam jatuh hati.

Sosok misterius yang selalu ia jumpai tanpa mengetahui namanya, sosok itu akan hilang di kerumunan seusai kereta sampai, seolah-olah tenggelam di telan bumi. Namun, satu yang Wonwoo tahu ia akan selalu naik dari Stasiun Manggarai dan turun di stasiun yang sama. Stasiun Tebet.

Hari itu pun masih sama, Wonwoo masih memperhatikan dari jauh. Mempelajari raut wajah di seberangnya, terlihat kelelahan namun lebih releks hari ini mungkin karena ia salah melihat jam dan berakhir datang lebih awal dan menyadari masih memiliki cukup waktu untuk bernapas lega atau memang pekarjaannya hari ini akan lebih mudah. Entahlah, Wonwoo si pengecut ini hanya bisa menebak-nebak.

Soonyoung mengeluarkan beberapa pakaian bersihnya dan pindahkan ke lemari di rumah tua milik ibunya. Sejak semalam perasaannya sudah tidak enak pengaruh per-heat menjelang bulan penuh yang mungkin bisa terjadi nanti malam atau dua hari ke depan.

Pohon-pohon besar berjajar rapi di sisi jalan menunjukkan arah menuju ujung yang dituju, sebuah hotel sederhana berbintang tiga dengan nuansa alam yang kental di sekelilingnya dan pemandangan indah membentang di hapadan.

Letaknya di pinggiran kota dengan total tiga jam perjalanan dari asrama mahasiswa tempat sepasang kekasih ini berasal.

Jeonghan sudah menurunkan koper berukuran 20 inci miliknya diikuti Mingyu yang mengambil satu backpack yang diletakkan di bagasi mobil. Keduanya saling bertukar senyum saat sampai di tujuan walaupun jauh di dalam hati Jeonghan ada janggal yang mengganggu perasaannya. Namun, ia berusaha tenang karena ini adalah Mingyu kekasihnya selama tiga tahun terakhir, ia percaya pada lelaki yang lebih muda darinya ini bahwa apapun yang terjadi Mingyu pasti akan melindunginya dan tidak akan melukainya.

Tujuan mereka kali ini adalah untuk berlibur setelah menyelesaikan Ujian Semester yang membuat kepala mereka harus bekerja keras selama satu minggu terkahir. Begitu katanya saat berpamitan pada Seungcheol ketua asrama yang juga mahasiswa semester akhir di kampus mereka.

Namun, akan ada banyak 'namun' dalam kisah romansa mereka karena tersimpan rahasia besar yang keduanya tutupi dalam-dalam. Kepergian rutin mereka setiap malam tertentu menjauh untuk menuntaskan sebuah hasrat yang entah sebenarnya adalah kutukan atau pemberian paling berharga.

Jeonghan membuka pintu kamar hotel yang akan mereka tempati dengan pelan, sejuk menguar merambat di permukaan kulit pucatnya entah karena pendingin ruangan yang sudah dinyalakan oleh pemilik hotel atau karena memang tempat ini berada di dataran tinggi sehingga suhu udaranya rendah, yang pasti Jeonghan menyukai tempat ini lebih baik dari dugaannya sebelumnya.

Mingyu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan selimut tebal berwarna putih yang terasa lembut dan nyaman. Ia menghela napas berat melepaskan penat setelah menyetir tiga jam tanpa henti sejak pagi.

“Yang~” panggilnya manja tipikal Mingyu saat meminta atensi penuh Jeonghan.

Dihampiri kekasihnya yang memiliki postur tubuh layaknya atlet olahraga sekaligus model majalah dengan kulit sawo matang itu yang terlihat indah saat diterpa sinar matahari dari pantulan jendela seperti saat ini.

“Hmm” sahut Jeonghan ikut bergabung dengan Mingyu di atas tempat tidur, mengelus lembut kedua sisi wajah kekasihnya.

“Peluk dulu sini, yang” katanya lagi kemudian saling memeluk di sana, menghirup aroma tubuh masing-masing yang menjadi candu. Bagi Jeonghan pelukan Mingyu adalah yang terbaik karena lengan besarnya yang akan memeluk tubuhnya penuh mengukung protektif dalam dan hangat kemudian memberikan rasa aman serta nyaman yang otomatis menyelimuti dirinya. Pelukan Mingyu adalah rumah bagi Jeonghan.

Mingyu mengecup puncak kepala Jeonghan.

“Kamu percaya sama aku kan?” tanyanya.

Jeonghan tidak langsung menjawab, baru kali ini rasanya ia ragu.

“Aku tau kamu pasti udah ngerasa ada yang aneh dari aku” lanjutnya. “Hari ini aku mau buat pengakuan-” belum sempat ia meneruskan ucapnya, Jeonghan sudah memeluk Mingyu lagi menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Mingyu. Takut akan rahasia lain yang akan ia ketahui dan kali ini mengancam hubungannya dengan Mingyu.

“Sayang...” panggil Mingyu menarik bahu Jeonghan. Ada raut wajah khawatir dan takut terpancar jelas dari wajah kekasih manisnya.

“Yang bakal aku bilang ini gak akan ngerubah apapun di antara kita, aku cuma butuh kamu di samping aku sampai semuanya selesai. Aku mohon sekali lagi kamu mau nerima aku yang seperti ini” jelas Mingyu mencoba meyakinkan Jeonghan.

“Ada hubungannya sama kita pergi ke hotel ini?” tanya Jeonghan pelan masih dalam pelukan Mingyu namun matanya menatap manik hitam kekasih di depannya.

“Ada” balas Mingyu. “Kamu tau rahasia aku dan makasih banget, yang”. lanjutnya.

Ada rematan di pundak Jeonghan saat Mingyu mengatakan itu.

”...kamu tau aku ini apa?”

Jeonghan mengangguk.

”...kamu tau aku sayang banget sama kamu?”

Jeoghan mengangguk lagi.

”...sayang” Mingyu menghela napasnya pelan. “...setiap hybrid yang lahir ke dunia ini sudah punya mate-nya masing-masing, begitu juga aku” jelas Mingyu.

Jeonghan membeku aliran darahnya seolah-olah berhenti mengalir, matanya menatap kaget dan sedih di waktu yang bersamaan. Hatinya seperti diremas kuat, sesak dan sakit.

Mate?” akhirnya. “Mate maksudnya kaya jodoh yang udah ditakdirkan buat kamu, gyu?”

Mingyu mengangguk.

Jeonghan melonggarkan pelukannya di pinggang kekasihnya. Tidak terima, Mingyu langsung menarik Jeonghan kembali ke pelukannya mencoba merasakan detak jantung yang terkasih yang saat ini berdetak bahkan terlewat kencang, seperti ada sesuatu yang siap meledak dari sana tetapi ditahan oleh pemiliknya.

“Yang, aku udah bilang tadi kalau gak akan ada yang berubah dari kita, aku cuma butuh waktu untuk ngelindungin kamu dan ngelindungin dia” ucap Mingyu dengan Jeonghan di dalam pelukannya yang sudah terisak mendengar ada orang lain di antara mereka, ada dia yang juga Mingyu jaga. Dia yang ditakdirkan untuk Mingyu.

Mingyu dan Jeonghan pertama kali bertemu di Semester awal masa perkuliahaan mereka. Mingyu dari Fakultas Teknik yang memiliki pergaulan luas sering kali mampir ke Fakultas Ekonomi yang juga Fakultas tempat Jeonghan menuntut ilmu akhirnya bertemu di salah satu kantin di sana. Waktu itu Mingyu tidak sengaja mengambil pesanan Jeonghan yang sama-sama memesan nasi goreng, padahal Jeonghan yang sudah lebih dulu memesan, alih-alih Jeonghan mengambil pesanan milik Mingyu sebagai penggantinya ia malah meninggalkan kantin dengan terburu-buru karena kelas Jeonghan yang selanjutnya dimajukan lebih awal secara mendadak oleh Dosen Pengajar, alhasil Mingyu yang merasa bersalah karena Jeonghan yang belum sempat menyantap makan siangnya berinisiatif mengajak Jeonghan makan di lain waktu sebagai pengganti.

Berbekal koneksi teman yang banyak Mingyu akhirnya mendapatkan nomor ponsel Jeonghan dan keduanya mulai sering bertemu, perasaan pun tumbuh perlahan di antara keduanya hingga Mingyu pun menyerah dengan rasa kupu-kupu yang menggangu isi perutnya setiap kali melihat tawa renyah milik Jeonghan dan akhirnya menyatakan perasaannya.

Satu tahun berlalu, hubungan mereka begitu manis banyak mata yang memperhatikan kedua pasangan ini. Kalau kata mahasiswi di kampus Jeonghan yang sering melihat mereka, Mingyu dan Jeonghan memiliki Relationship Goals di mana semua mahasiswa dan mahasiswi di sana ingin memiliki hubungan percintaan seperti mereka.

Di malam bulan penuh Mingyu yang menghilang tiba-tiba tanpa memberikan kabar kepada Jeonghan bahkan tidak meninggkan pesan sedikitpun pada teman satu kamarnya di asrama yaitu Juna membuat Jeonghan panik. Selama satu tahun ini tidak pernah sedikitpun Mingyu mengabaikan pesan singkatnya di ponsel ataupun tidak mengangkat teleponnya.

Jeonghan berusaha mencari Mingyu dari teman-teman terdekatnya, mulai dari komunitas futsal hingga pecinta buku sejarah, tidak ada satupun yang melihat keberadaan Mingyu hari itu sampai akhirnya Jeonghan berada di persimpangan jalan di dekat kampus mereka, jalan tikus yang biasa di pakai para mahasiswa untuk merokok atau sekedar lewat menuju jalan utama, jalan kecil dengan penerangan minim di malam hari, jalan kecil yang saat ini Jeonghan lewati dan membuat langkah seribu dalam hitungan detik saat dilihatnya seseorang yang sejak tadi siang ia cari ada di sana, tersungkur meringkuk di atas aspal yang sudah mulai berlubang karena tergenang air. Ada Mingyu yang kesakitan tubuhnya dipenuhi keringat dan ada ekor hitam yang entah muncul dari tubuh belakang Mingyu.

Malam itu lah Jeonghan akhirnya bertemu pada kenyataan baru bahwa ada kaum lain yang hidup berdampingan dengan meraka manusia di sini. Kekasihnya yang sudah ia pacari selama satu tahun terkahir ternyata adalah kaum hybrid yang selama ini berwujud manusia.

Rahasia Mingyu yang sering dikejar-kejar kaum hybrid untuk kembali ke Teagan, kisah keluarga Mingyu yang harus hidup terisolasi selama beberapa tahun, siksaan Dewa saat bulan penuh hingga wujud asli Mingyu dengan ekornya pun Jeonghan ketahui malam itu.

Sejak saat itu, setiap kesakitan Mingyu di malam bulan penuh akan ada Jeonghan yang membantunya melewati siksaan nikmat. Ada Jeonghan yang bersedia memberikan tubuhnya untuk obat bagi Mingyu. Walaupun, Mingyu sebenarnya memiliki obatnya sendiri yang Jeonghan juga baru tahu disebut Supressant, pil penenang saat masa Rut-nya datang. Namun, pil tersebut pun tidak akan mampu membendung hasrat Mingyu di malam bulan penuh, pil itu hanya digunakan saat pre-rut mulai datang saat masih beraktifitas di luar.

Malam itu Mingyu kehabisan supressant-nya dan berakhir di jalanan, pil rahasia yang ia dapatkan dari dokter kenalannya yang tahu akan sejarah keluarga KIM.

Masih ada dua hari sebelum ujian tengah semester mereka selesai, Soonyoung di meja belajarnya disibukkan dengan berbagai macam buku dan jurnal sesuai materi ujiannya besok sedangkan Wonwoo belajar santai di atas tempat tidurnya sambil menyiapkan satu lembar cheat sheet tipikal mahasiswa tak banyak pikiran dan lihai menyimpan contekan.

Soonyoung tiba-tiba terbatuk padahal sedang tidak memakan apa-apa, Wonwoo yang mendengar langsung melompat dari tempat tidurnya dan mengambil satu gelas air putih di atas nakas dekat pintu masuk.

“Minum, nyong”

Soonyoung mengambil gelas dari tangan Wonwoo dan menegak hampir setengahnya dengan helaan napas panjang setelahnya.

“Haus lo?” goda Wonwoo.

“Makasih” balas yang lebih pendek singkat, kembali fokus pada buku di depannya.

Wonwoo meringis mendapatkan reaksi datar seperti itu, ia tahu Soonyoung dalam mode serius harusnya ia kembali ke tempat tidurnya dan ikut belajar. Namun, bukan Wonwoo namanya kalau tidak ada hal-hal ajaib yang akan ia lakukan untuk mengganggu sahabat satu kamarnya itu.

Suara teriakan kesal Soonyoung adalah kepuasan sendiri bagi Wonwoo, seperti sekarang Soonyoung sudah mengomel karena Wonwoo yang tiba-tiba mematikan lampu kamar.

“WONWOO!!! NYALAIN!!”

“WONWOOOOO!! BALIKIN HP GUEEEE!!!

“WONWOO MINGGIR ISHHH JANGAN PELUK-PELUK GUE MAU BELAJAR!!”

“WONWOO GUE TENDANG YA BURUNG LO!!” dengan itu Wonwoo melepas pelukannya di samping Soonyoung yang sejak tadi meronta tak bisa bernapas karena pelukan Wonwoo yang menyesakkan membuatnya sulit belajar.

“Istirahat dulu napa sih, nyong” katanya, sekarang menyandarkan kepala di atas meja menatap Soonyoung yang tak peduli dan terus melanjutkan materinya.

“Lo mending belajar nu jangan gangguin gue” kata Soonyoung masih menatap bukunya.

“Nyong~” Wonwoo menarik ujung baju Soonyoung.

Soonyoung yang sudah hampir habis kesabarnnya akhirnya mengalah, meletakkan pulpennya di atas coretan kertas dan berbalik menatap Wonwoo, sahabatnya ini mungkin akan mati bosan jika tidak mengganggunya sehari saja.

“Apa nu?”

“Lo gak capek?”

“Capek lah apalagi sama kelakuan lo” balas Soonyoung masih menatap Wonwoo yang tak kunjung mengangkat kepalanya di atas meja.

“Malem ini bobonya sama gue ya? Pelukan” kata Wonwoo tulus.

Soonyoung paham maksud Wonwoo, ia sadar sejak kepergiannya ke rumah Ibunya, ia tidak pernah berubah ke wujud aslinya menjadi seekor anak kucing karena harus selalu waspada akan sekeliling.

Bila malam ini ia pergi tidur bersama Wonwoo di tempat tidur yang sama dan menurunkan kewaspadaannya dan menjadi seekor kucing, Soonyoung takut sesuatu yang buruk akan terjadi di waktu yang tidak tepat. Ia tidak menginginkan itu, pelarian mereka satu minggu kemarin akan menjadi sia-sia, Soonyoung akhirnya menggeleng.

Wonwoo menghela napasnya pelan berusaha mengerti jalan pikiran orang di depannya ini.

“Mau puding mocha gak, nyong? tadi gue bawa dapat lebihan dari cafe”

Soonyoung tersenyum.

“Mau” jawabnya.

Kemudian Wonwoo bangkit dari kursinya dengan semangat, menangkup pipi Soonyoung dan mengecup bibirnya singkat dan berlalu mengambil puding yang ia sebut barusan di kulkas.

Tak sadar aksinya membuat telinga dan pipi Soonyoung merona, ia tiba-tiba merasa ada banyak kupu-kupu berterbangan di perutnya. Rasanya hangat juga memabukkan.


Keduanya menikmati puding mocha yang Wonwoo bawa dengan obrolan ringan, rasanya sudah lama sekali seperti ini.

Satu minggu lalu terasa begitu berat dan menyesakkan dada, bahkan menegak air putih pun tak pernah nyaman.

Mereka rindu hari-hari normal mereka saat Wonwoo pulang dengan kaki terkilir karena bermain futsal dengan teman-teman di fakultasnya, rindu saat Soonyoung melempar pakaian kotor Wonwoo yang tak pernah ia bereskan di keranjang pakaian hingga tercampur dengan milik Soonyoung, rindu saat keduanya pergi makan malam di pinggir jalan karena malas mencuci piring di asrama, rindu saat bermain PS semalaman dengan Juna dan mahasiswa satu asrama mereka yang lain.

Kedua tertawa mengingat-ingat kejadian lalu yang membuat perut sakit.

Wonwoo memperhatikan mata Soonyoung yang menyipit manis saat tertawa, pipinya yang mengembang lucu dan bibir tipisnya yang punya bentuk bulat sekaligus, membawa Wonwoo mengikis jarak keduanya, menarik tekuk wajah Soonyoung yang membuat pemiliknya diam seketika menatap mata satu sama lain. Waktu seolah melambat, keduanya hanyut sampai akhirnya kedua belah bibir itu bertemu.

Wonwoo menarik napasnya dalam dan mencium bibir Soonyoung lamat, keduanya memejamkan mata saling mengecup manisnya ciuman ini. Soonyoung meletakkan tangannya di pundak Wonwoo mendekatkan jarak mereka, Wonwoo masih menarik tekuk Soonyoung memperdalam ciumannya, tangan lainnya sudah berada di pinggang Soonyoung memberikan cengkraman tipis membuat pemiliknya tergelitik dan membuka mulutnya, kesempatan itu Wonwoo manfaatkan untuk mendorong lidahnya masuk dan bergulat dengan lidah Soonyoung. Manis dan manis Soonyoung suka.

Ada tarikan dan gigitan kecil yang Soonyoung berikan pada bibir bawah Wonwoo membuat pemiliknya melenguh dan tertawa tipis atas aksi tiba-tiba Soonyoung barusan. Wonwoo tak habis pikir dan langsung mencium Soonyoung lagi dalam senyumnya.

Keduanya masih saling mencumbu saat-

“NYOOONG GUA BAWA MARTAB- ANJENG!!!!”

Dobrakan tak sopan dari pintu kamar Wonwoo dan Soonyoung yang tidak dikunci menampilkan teman dekat mereka Juna yang sedang diserang shock atas apa yang tengah ia lihat di depannya. Kedua orang teman laki-laki yang sering ia sebut sobat kentel-nya sedang saling melumat bibir satu sama lain.

Juna hampir pingsan, martabak yang ia bawa lolos merosot di atas lantai dengan kakinya yang rasanya berubah menjadi jelly, kepalnya tiba-tiba di serang pening.

Wonwoo dan Soonyoung gugup.

Mengusap bibir masing-masing dari tali saliva yang sempat tertarik karena langsung melepas cumbuan secara mendadak.

Mampus.

Langit kembali gelap terkahir kali Soonyoung lihat saat menutup tirai tipis di kamarnya, mengunci layar ponsel dari daya batrai yang berasal dari aki buatan Wonwoo dirinya menjadi gusar. Pesan terakhirnya belum juga mendapat balasan sejak empat jam lalu Wonwoo meninggalkannya sendirian di rumah ini.

Sunyi senyap menyelimuti sekelilingi, hanya suara serangga di luar sana yang terdengar samar-samar. Sejak pagi tadi hanya satu bungkus mie instan yang mengisi perutnya, Soonyoung butuh distraksi dan akhirnya memutuskan untuk mengalihkan rasa lapar dengan pergi ke ruang rahasia ibunya yang ia temukan dengan Wonwoo kemarin.

Memanjat bak mandi persis seperti yang Wonwoo lakukan, ia kemudian duduk menghadap dinding di atas kursi tua milik ibunya membolak-balik kertas menguning berisi kalimat penuh teka-teki mendiang ibunya. Tidak ada titik terang yang dapat Soonyoung simpulkan, otaknya terlalu buntu entah karena kelelahan terisiolasi selama empat hari berada di tengah hutan atau karena perutnya yang terus merongrong lapar.

Pukul 20.35 Soonyoung kembali mengecek ponselnya namun balasan dari yang ditunggu juga tidak ada, ada pergulatan batin dalam dirinya untuk melangkah keluar mencari Wonwoo dengan resiko yang ia sendiri tahu benar atau bertahan di rumah ini tak pasti menunggu Wonwoo yang mungkin sama terancamnya dalam bahaya.

Soonyoung menatap datar jendela di loteng ini, tidak ada bulan terang atau bintang bertaburan. Cahaya temaram begitu sunyi bahkan langit terlihat muram malam ini, ia kemudian berbalik mendekati peti milik ibunya mengambil satu pisau belati berkarat seukuran 15 cm kemudian dibawa turun dan bergegas membuka pintu utama.

Kini ia yakin, ia tidak bisa hanya berdiam diri di rumah ini ketika Wonwoo mungkin membahayakan dirinya di luar sana. Berbekal penerangan senter dari ponselnya dan satu belati berkarat Soonyoung melangkahkan kakinya menulusuri hutan menuju tempat mobilnya terpakir. Seharusnya Wonwoo sudah kembali satu jam lalu dari kota namun hingga saat ini tidak ada kabar sedikitpun darinya. Soonyoung takut tapi ia tidak bisa menunggu lebih lama.

Hutan ini benar-benar gelap bahkan rimbunnya pepohonan membuat cahaya dari langit terhalang, ponsel Soonyoung adalah satu-satunya sumber cahaya yang ia miliki. Dingin dan dingin Soonyoung merapatkan jaketnya, keningnya terus berkerut saat melangkah mencoba fokus pada jalan yang sudah ia cukup kenali. Soonyoung itu cerdas, di kampus pun merupakan salah satu mahasiswa berprestasi jadi tidak sulit baginya untuk menghapal jalan yang sudah ia lalui beberapa kali.

Namun, ini hal yang berbeda walaupun ia hapal jalur keluar hutan ini tetap saja ada panik yang menyelimuti jauh di dalam dirinya. Ia sendirian, ada kaum yang sedang mengincarnya, ada bahaya yang selalu mengintainya, ia bisa saja mati di tengah hutan tanpa ada satu orang pun yang tahu dan kepergiannya akan dilupakan seperti menguap hilang diudara.

Kakinya melangkah ragu saat ditengah perjalanan seperti ada seseorang yang mengikuti, sudah lima belas menit Soonyoung meningkatkan kewaspadaannya, kakinya terus saja melangkah karena semakin cepat ia menuju tempat terakhir mobil terpakir semakin cepat juga ia sampai di tepi hutan dan bisa meminta pertolonga. Tepat saat menuruni jalur berlumut Soonyoung semakin yakin ada orang di belakangnya. Ia mendengar gesekan rumput yang terinjak dan ranting yang patah.

Angin kembali bertiup membuat bulu kuduk Soonyoung meremang, belati berkarat yang ia bawa dipegang erat, ia mempercepat langkanya. Masih ada kurang lebih satu kilometer lagi agar Soonyoung sampai ditujuannya, jantungnya bergemuruh kencang ia yakin orang itu masih mengikutinya.

Semakin cepat Soonyoung berjalan semakin cepat pula orang di belakangnya mendekat, langkahnya menjadi tidak stabil membuatnya terhuyung ke depan dan dalam waktu singkat seseorang sudah menerjang tubuh Soonyoung dari samping.

Soonyoung terhempas ke tanah, tubuhnya mengantam batang pohon besar yang tumbang saat terguling. Belati yang ia pegang sejak tadi sempat ia lemparkan ke arah orang di belakangnya namun meleset dan tertancam ke salah satu pohon besar.

Pisau belati itu mengeluarkan cahaya, karatnya yang menyelimuti besi tua itu memancarkan sinar merah seperti percikan api. Soonyoung menyaksikan itu semua dan ketika kesadarnya hampir sirna ada satu wajah yang ia lihat terkahir kali sebelum pandangannya menjadi gelap.

“Wonwoo!”


“Soonie, mama janji akan lindungi Soonie dari orang-orang jahat di luar sana. Soonie itu milik mama dan ayah, gak ada yang bisa rebut Soonie...bertahan sedikit lagi ya sayang. Mama bersama Soonie” ruangan itu tidak memiliki ujung, hanya putih disetiap sisinya ketika Ibunya menghilang seperti asap dengan gaun putih penuh darah dan pergelangan tangan yang tersayat dalam.

“Nyong! Nyong!”

Soonyoung tersadar dari mimpinya, pelipisnya penuh keringat tidak sadar selama pingsan dan tertidur tadi alisnya berkerut sampai mengigau.

Ia terbangun dengan tempat yang sangat familiar, langit-langit tua dan bau kayu.

Ini rumah Ibunya.

Soonyoung membuka matanya lebar-lebar dan langsung menatap Wonwoo yang terduduk di sebelahnya, sedari tadi menunggu Soonyoung bangun.

“Anjing Wonwoo!” umpat Soonyoung.

“Nyong, pinggang lo sakit gak?” tanya Wonwoo meghiraukan umpatan sahabatnya barusan.

“Yang tadi di hutan itu lo, nu?” lagi-lagi tidak ada yang menghiraukan pertanyaan satu sama lain.

“Iya, gue...gue kaget pas ngeliat lo lari-lari tadi, Nyong. Sorry gue langsung nerjang begitu soalnya bahaya” jujur Wonwoo.

“Bahaya apa?” Soonyoung memancing.

“Bahaya aja kalo lo lari-lari bisa kepeleset jatuh” Wonwoo menutupi fakta bahwa ia tahu ada orang lain selain mereka di hutan ini, Wonwoo tidak ingin membuat Soonyoung khawatir. Biar ia simpan saja dulu sambil mencari tahu siapa orang misterius itu.

Faktanya Soonyoung pun tahu bahwa memang ada orang lain di sini.

“Bego! Lo nerjang gue tadi malah bikin gue jatuh guling-guling di tanah” Soonyoung menendang Wonwoo sampai terjengkal.

“Habis lo kaya panik gitu” balas Wonwoo lagi.

“Panik lah geblek gue di tengah hutan sendirian buru-buru mau cepat sampai” kata Soonyoung tak sepenuhnya berbohong. “Lagian lo kenapa lama banget sih, nu?”

“Pas mau berangkat tadi gue kesesat hampir dua jam muter-muter hutan” jujur Wonwoo.

“Astaga begonya awet ya” Soonyoung meringis.

btw, nyong belati lo tadi-” Wonwoo belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Soonyoung sudah beranjak berdiri mendekati meja di sudut ruangan tempat Wonwoo meletakkan belati berkarat tadi.

“Lo liat, nu?” tanya Soonyoung.

“Liat”

Soonyoung menyentuh permukaan belati tersebut yang sudah kembali seperti semula, tidak memercikkan api seperti di hutan beberapa waktu lalu. Pikirannya kembali mengawang.

“Apa lagi ini?”

Sinyal kembali menghilang saat pesan terakhirnya kepada Juna terkirim, lagi pula pesan itu seharusnya memang tidak perlu Soonyoung kirim karena secara tidak langsung ia memberitahu teman satu asramanya itu bahwa ia sedang berada jauh dari perkotaan. Terlalu ceroboh karena lapar.

Mereka memang sempat keluar rumah untuk mencari sesuatu untuk di makan ke arah sungai kecil di dekat bukit, tidak lama hanya 15 menit saja dan kembali karena sejauh mata memandang tidak ada buah ataupun hewan lain yang bisa diambil, mereka berdua pun minim pengetahuan untuk urusan berburu di hutan ditambah kondisi yang masih sangat berbahaya tidak memungkinkan untuk mereka melanjutkan pencarian.

Soonyoung sempat melihat bangkai rusa yang kemarin menabrak rumahnya, kondisinya sudah mengenaskan karena terlihat leher yang patah. Tidak ada jejak peluru atau panah jika memang hewan itu diburu untuk dibidik. Namun, yang pasti ada sesuatu yang mengejar hewan tersebut sampat tidak melihat arah di depannya dan menabrak rumah Soonyoung.

Di sisi lain, Wonwoo yang berjalan menuruni tanah curam di tengah hutan bergegas dengan cepat menuju lokasi mobil Soonyoung terakhir di parkir. Matanya selalu awas memperhatikan sekitar, sejujurnya ia riskan meninggalkan Soonyoung di sana sendirian tapi apa dikata persediaan mereka menipis sedangkan masih ada 3 hari yang harus mereka lewati, mustahil bertahan hanya dengan dua bungkus mie instan.

Perjalanan ke lokasi yang dituju terasa lebih jauh dari kemarin padahal harinya cerah tidak hujan seperti saat mereka tiba, Wonwoo mulai gusar takut-takut ia salah jalan dan tersesat. Di tengah perjalanan pandangannya tertuju pada satu atap kayu yang terhalang dedaunan dari pohon pinus besar jauh di depannya. Berbekal penasaran dan sedikit nyali yang tersisa Wonwoo kemudian berjalan mendekati rumah tersebut.

Ia berjalan perlahan dalam hening berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun, hanya bunyi ranting pohon dan daun kering saja yang terdengar dari langkah kakinya. Kedua tangannya menggenggam erat tali ransel yang ia pakai, jantungnya berderu kencang menebak-nebak siapa pemilik rumah tersebut.

Wonwoo bersembuyi di balik salah satu pohon besar di sana, memperhatikan sekeliling rumah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, keadaannya gelap. Kaca rumah terlihat kusam dan pecah tak terawat, rumah itu juga tidak lebih besar dari rumah Ibu Soonyoung.

Belum sempat kembali mendekat Wonwoo dikejutkan dengan langkah seseorang dari balik rumah, diserang takut dengan cepat Wonwoo membalikkan tubuhnya dan berlari menjauh dari rumah tersebut.

Ada orang lain di hutan ini.

.

.

.

Setelah ratusan langkah cepat ia baru tersadar bahwa dirinya sudah berjalan terlalu jauh, ia tersesat dan berada di sisi lain bukit yang menghubungkan jalan masuk hutan menuju rumah Ibu Soonyoung. Wonwoo harus mengambil jalan memutar sebelum orang tadi menemukannya.

“Semoga Soonyoung baik-baik saja” batinnya.

test

test test

Soonyoung kembali ke ruang tengah ketika malam datang. Pikirannya masih melayang kemana-kemana, dia belum melanjutkan membaca buku harian yang baru ia temukan tadi siang.

Terlalu banyak yang harus di cerna dan rasanya otak Soonyoung sudah kelewat panas dan lelah.

Wonwoo berjalan santai keluar dari kamar mandi, rambutnya basah dengan satu helai handuk melingkar di pinggangnya. Dadanya pun juga basah karena tetesan air dari rambutnya.

Pemandangan biasa yang Soonyoung dapati sejak tinggal di asrama bersama Wonwoo.

Wonwoo menghampiri ke sofa tempat Soonyoung duduk, berdiri di depan yang lebih muda, mencubit kecil hidungnya. Memijat sisi kiri dan kanan kepala Soonyoung.

“Mandi sana” kata Wonwoo.

“Capek, nu” balasnya.

“Iya gue tau, sabar dulu kita cari pelan-pelan” ucap Wonwoo mengusap kepala Soonyoung.

Soonyoung yang diusap kemudian memeluk pinggang Wonwoo yang hanya terbalut handuk putih yang tepat berada di hadapannya.

“Nu...”

“Hmm?”

“Udah lama...enggak...”

“Iya...”

Soonyoung kemudian mengusap pipinya ke bagian depan pinggang Wonwoo, mencari sesuatu di sana untuk dibangunkan. Pikirannya terlalu kalut dan Soonyoung butuh itu untuk mendistraksinya.

Tangannya tak ikut diam, Soonyoung meraba bagian itu bersamaan dengan pipinya memberikan friksi-friksi halus yang membangkitkan sesuatu dalam diri Wonwoo.

Tangan Soonyoung bergrilya ke bagian atas tubuh Wonwoo. Dingin dan basah Soonyoung suka.

Ditariknya simpul handuk Wonwoo yang membalut pinggangnya membuat yang lebih tinggi sudah tidak dilapisi apapun. Bulu kuduknya meremang entah karena udara malam di dalam hutan yang semakin rendah atau hembusan napas Soonyoung yang begitu dekat dengan kepemilikkannya.

Soonyoung mengusap milik Wonwoo yang sudah setengah terbangun, tangannya bergerak lambat naik dan turun membuat kepala Wonwoo tiba-tiba terserang pening. Nikmat dan memabukkan.

“Ahh nyong” akhirnya lolos dari bibir Wonwoo.

Mendengar itu Soonyoung menjadi ikut memanas, dijulurkannya lidah basah Soonyoung pada ujung milik Wonwoo dan dihisapnya pelan. Wonwoo kembali merinding, bulu-bulu kuduknya berdiri dan kepemilikkannya mengeras sempurna di dalam mulut Soonyoung.

Digerakkannya kepala itu dengan tempo sedang agar keduanya bisa menikmati rasa masing-masing.

Kecipak lidah basah Soonyoung yang mengulum milik Wonwoo menggema di ruangan ini, membuat Wonwoo terbakar dan ikut mendorongnya masuk ke dalam tenggorokkan Soonyoung lebih dalam. Kepalanya ia tekan halus namun dorongan pinggulnya ditekan konsisten.

Soonyoung hampir tersedak ketika Wonwoo menghentakan pinggulnya sedikit lebih kencang.

“Ummh..” keluh suara Soonyoung yang masih penuh tersumpal milik Wonwoo.

Wonwoo yang mendengar langsung mengeluarkan kepemilikkannya dan menunduk untuk mencium bibir Soonyoung. Ciuman dengan sapuan-sapuan lidah malas yang saling membelit.

Wonwoo dapat merasakan cairan pre cum-nya dari mulut Soonyoung.

Di dorongnya yang lebih rendah untuk bersandar pada sofa tua itu, ditariknya turun celana pendek Soonyoung untuk membebaskan miliknya yang sudah memerah.

Wonwoo mengusap batang lembut Soonyoung yang mengeras dengan ibu jarinya kemudian meniup lubang berkedut di bawahnya yang membuat Soonyoung meringis.

Diciuminya paha dalam Soonyoung yang seputih bayi, diusapnya setiap bagian sensitif yang sudah dihapal Wonwoo di luar kepala, kemudian lidahnya bermuara pada lubang milik Soonyoung. Ujung lidah Wonwoo menyentuh halus pada rektumnya yang mengkerut, jilatan basah yang membuat Soonyoung hampir mengeluh nyaring.

“Hnghh” lolos dari bibir bervolume milik Soonyoung.

Wonwoo masih berlutut di atas lantai menikmati lubang Soonyoung, menekan lidahnya masuk lebih dalam dengan kakinya yang mengangkang, memberikan akses Wonwoo lebih mudah.

Akhirnya malam sunyi itu mereka habiskan dengan erangan-erangan halus di atas sofa tua di ruang tengah dengan derit lantai yang kerap berbunyi ketika penyatuan keduanya kian memanas.

Wonwoo memenuhi Soonyoung dengat putihnya, melupakan sejenak ancaman disekitar mereka. Malam itu keduanya dibanjiri peluh dan tidur dengan milik Wonwoo yang masih di dalam Soonyoung dan ekor Soonyoung yang melingkar di paha Wonwoo.

Langit masih mendung seperti kemarin suasana sepi dengan rintik hujan yang menyelimuti rumah kecil di tengah hutan dengan dua orang yang tersesat dalam pikirannya masing-masing.

Soonyoung duduk bersila di atas permadani lusuh di ruang tengah, kembali membolak-balik lembar catatan harian milik mendiang ibunya. Mencari mungkin ada rahasia kecil yang masih belum ia pecahkan. Ada satu nama keluarga yang total dua kali ibunya tuliskan dalam catatan tersebut, satu marga asing yang entah firasat Soonyoung mengatakan dapat memberikan titik terang untuknya. Ia hanya memegang tiga buku harian milik sang ibu namun rasanya ia yakin kalau ada catatan lain yang belum ia temukan dan pasti menyimpan lebih banyak rahasia yang harus ia ketahui.

Wonwoo menemani dalam diamnya, pikirannya melayang entah kemana menatap langit-langit dari tempatnya merebahkan tubuh di atas sofa tua di ruang tengah, tepat di belakang Soonyoung.

“Menurut lo mungkin gak sih nu masih ada yang tersimpan dari rumah ini?” tanya Soonyoung masih memandangi buku harian lusuh dengan kertas yang sudah keriting di setiap sisinya.

Wonwoo menarik napas panjang.

“Ada” balasnya. “Kemarin gue liat sesuatu di atas kamar mandi” lanjut Wonwoo.

Soonyoung langsung memutar badannya menghadap Wonwoo menunggu kelanjutan ucapan sahabatnya.

”...langit-langit rumah ini rendah, nyong. Gue bahkan bisa gapai tanpa bantuan kursi padahal kalau kita lihat dari luar bangunannya tinggi menjulang ke atas...” jelas Wonwoo. “...ada ruangan lain di sini” tutupnya.

Soonyoung seketika mengedarkan pandangannya, memperhatikan setiap sudut rumah tua ini menerka kira-kira rahasia apa yang masih tersimpan. Matanya kemudian tertuju pada pintu kamar mandi di dekat dapur yang disebutkan Wonwoo barusan dan kemudian beranjak pelan ke sana.

Kamar mandi kecil dengan satu bak mandi rendah yang sama tuanya dengan rumah ini, tidak ada shower hanya satu sambungan keran yang terlihat baru hasil pekerjaan Wonwoo kemarin, terlihat mencolok karena modelnya yang modern di antara pipa berlumut dan bak yang hanya di lapisi semen gelap.

Soonyoung meraba setiap sisi dindingnya mendorongnya hati-hati namun tak ada yang bergerak sedikitpun.

“Lihat ke atas, nyong” sergah Wonwoo yang menyusul dari belakangnya.

Langit-langitnya sama seperti di ruang tengah hanya saja bedanya di sini ada sarang laba-laba di sudut kiri yang menutupi ventilasi udara.

Soonyoung memperhatikan dengan seksama namun tak juga ia temukan apa yang dimaksud Wonwoo, sampai akhirnya Wonwoo ikut masuk ke sana berdiri berhadapan dengan Soonyoung, di dalam kamar mandi kecil berukuran 1,5 meter x 2 meter ini keduanya harus berhimpitan. Soonyoung menatap mata Wonwoo, binar mata gelap milik Wonwoo bagai kristal di antara cahaya temaram.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Soonyoung sampai akhirnya Wonwoo bersuara.

“Mundur setengah langkah, Nyong” ujar Wonwoo mengintruksi.

Dengan sedikit gelagapan Soonyoung kembali dalam sadarnya dan mengikuti perintah. Wonwoo kemudian mengangkat tangan kanannya tinggi hingga mencapai langit-langit kamar mandi, menempelkan buku-buku jarinya untuk menekan ujung langit-langit tersebut dan dengan seketka Soonyoung dibuat terkejut dan merinding.

Langit-langit tersebut terbuka seukuran tubuh satu orang dewasa. Hanya hitam dan gelap dari sana tak ada cahaya sedikit pun.

“Lo mau naik?” tanya Wonwoo.

Soonyoung mengangguk, kemudian Wonwoo mengulurkan tangannya.

Soonyoung sudah berdiri tepat di bawah lubang langit-langit itu dan Wonwoo yang siap memeluk kaki Soonyoung untuk mengangkatnya memanjat masuk ke ruang rahasia yang baru mereka temukan.


Debu dan debu...

Wonwoo yang menyusul di belakang setelah memanjat bak mandi bahkan sampai bersin beberapa kali, Soonyoung di depannya melangkah lambat memperhatikan sekelilingnya.

Ruangan ini luasnya sama seperti ruangan utama di bawah sana hanya saja atapnya lebih rendah, hanya satu kepalan tangan maka kepala mereka bisa menyentuh langit-langitnya. Wonwoo yang lebih tinggi pun kerap kali membungkukkan badan menghundari tulang kayu penyokong atap.

Sumber cahaya lagi-lagi hanya masuk dari jendela buram yang tertutup debu di ujung ruangan. Jendela yang menghadap bagian depan rumah, jendela yang memang menjadi kecurigaan Wonwoo sejak awal akan ruangan rahasia yang akhirnya mereka temukan. Kecurigaan yang muncul ketika pertama kali datang ke rumah ini karena ia tidak menemukan jendela tersebut dari dalam.

Soonyoung di sudut lain berdiri di hadapan satu peti besar yang tergeletak di sana. Ada gembok besar berkarat yang menyegel kuncinya.

Ukiran di peti itu terlihat sangat tua, motif ukiran yang tidak pernah Soonyoung lihat sebelumnya. Dibelakang peti itu ada satu tempat tidur yang tidak memiliki dipan, langsung bersisihan dengan dinding dan dari bentuknya sudah tak layak lagi untuk dipakai. Soonyoung penasaran ruangan apakah ini? Kenapa ibunya memerlukan ruangan lain dengan tempat tidur jika tinggal sendirian di tengah hutan?

Di dekat Wonwoo ada satu meja persegi setinggi pinggangnya, letaknya berseberangan dengan peti dan tempat tidur tadi, menghadap dinding dengan satu lampu tradisional di atasnya yang sudah tidak berfungsi. Diperkirakan ini adalah meja yang mungkin dipakai oleh ibu Soonyoung untuk menulis buku hariannya.

Wonwoo kemudian berjalan menuju satu-satunya jendela yang ada di sana. Kuncinya erat bahkan dengan kekuatannya pun Wonwoo tidak dapat membuka jendela tersebut, ia akhirnya hanya bisa melihat dari balik kaca yang buram mengedarkan pandangannya keluar. Yang diilhatnya benar-benar di luar ekspektasi karena dari sini ia bisa melihat hamparan hutan di depan, jalan setapak dengan jarak pandang jauh serta sungai kecil yang mengalir pelan di ujung bukit. Dari sini Wonwoo bisa memperhatikan sekelilingnya dalam kesimpulan tempat ini bisa membantu untuk mengamati sekitar dan berjaga-jaga saat bahaya mendekat dari luar.

“Nu, lo punya obeng gak?” tanya Soonyoung di belakangnya.

“Ada, buat apaan?”

Soonyoung kemudian menunjuk peti di depannya.

Wonwoo kemudian mendekat dan mengecek gembok besar yang mengunci peti tersebut.

“Gak bisa pakai obeng doang ini, nyong” “Lo tunggu di deket situ ya, gue ambil ke bawah perkakasnya ntar lo sambut” Wonwoo mengintruksi.

Soonyoung memperhatikan Wonwoo yang turun lewat lubang kamar mandi yang tadi mereka lewati, menunggunya beberapa saat sendirian di sana. Suasana benar-benar hening dan sepi hanya terdengar derit kaki Wonwoo yang berjalan di bawah dan bunyi perkakas yang di ambil.

Soonyoung kembali melihat sekelilingnya ketika ada suara hantaman keras dari bawah.

“NU!!!” “Nu, lo gapapa?” panik Soonyoung.

Tidak ada jawaban.

“Nu.....????” panggil Soonyoung lagi. Suara tadi sangat nyaring bahkan rasanya sampai bisa membuat rumah kayu ini bergetar.

Soonyoung yang panik berusaha turun menyusul Wonwoo namun terhenti karena yang di khawatirkan muncul.

“Sssst” Wonwoo mengisyaratkan untuk tidak membuat suara dan langsung memanjat naik.

“Barusan itu apa, nu?” bisik Soonyoung.

Wonwoo menggeleng, “Gue juga gak tau nyong, dari luar” balas Wonwoo sama pelannya.

Keduanya hanya saling bertatapan selama beberapa waktu, tidak mau membuat pergerakan yang mungkin akan membahayakan keduanya.

Wonwoo jalan merunduk menuju jendela melihat keluar mencari tahu asal suara tadi. Namun, tidak ada satu pun yang bisa menjawab pertanyaannya.

“Nyong, lo mau buka ini sekarang?” ujar Wonwoo ketika kembali mendekat dengan Soonyoung.

“Iya, siapa tau ada petunjuk lain?” Soonyoung bahkan tak yakin.

“Lo tolong ambilin kain itu dong, nyong” Wonwoo menunjuk kain putih yang menggantung di samping mereka. Kain itu digunakan untuk menyelimuti gembok berkarat tersebut agar suaranya teredam saat Wonwoo membukanya dengan palu dan obeng yang ia bawa.

Butuh usaha yang cukup lama untuk akhirnya gembok tersebut terbuka, bahkan Soonyoung yang berusaha membantu sempat melukai tangannya sendiri.

Keduanya terduduk dengan napas kelelahan, bukan perkara mudah membongkar gembok besi berkarat yang mungkin usianya lebih tua dari mereka.

Soonyoung yang membuka tutup peti itu perlahan di buat was-was, tidak bisa menerka apa isinya yang mungkin saja berbahaya.

Di dalam sana penuh berisi barang-barang usang seperti kain kuning, lembaran-lembaran dengan bahasa asing yang sepertinya adalah mantra dan bahkan beberapa set senjata tajam berkarat. Namun, satu yang langsung menjadi perhatian Soonyoung yaitu tumpukan buku yang sudah menguning persis seperti buku harian milik ibunya.

Soonyoung mendapatkannya, satu lagi petunjuk yang mungkin bisa menuntunnya untuk mengakhiri pelariannya.

Misteri keluarga K yang berhasil menghindari takdir dewa