The Route
“Soonyoung!” Panggil Wonwoo dari kerumunan orang yang sudah ada di dalam kereta kemudian menyusul ke depan tempat Soonyoung berdiri saat ini.
Yang dipanggil melemparkan senyum tipis menunggu di sana dan sedikit menggeser tubuhnya ke samping memberikan ruang kosong untuk Wonwoo yang sekarang sudah ada di hadapannya dalam hitungan detik.
“Pagi” sapa Soonyoung.
“Pagi!” balas Wonwoo sambil mengaitkan tangannya pada gagang segitiga yang ada di atas kepala karena kereta sudah mulai berjalan. “Udah sarapan, Soon?” tanyanya kemudian.
“Belum sempet sih”
“Mampir di Coffe Jack yang dalam stasiun mau gak? sekalian temen kantor ada yang nitip roti moca-nya”
“Aduh kayanya gak bisa, aku ada meeting jam setengah 9 mesti siapin materi”
“Yah...padahal mau gue traktir”
“Kamu mulu yang traktir jangan lah, lain kali harus aku yang bayarin ya”
“Lain kalinya jadi nanti sore gimana? pulang ngantor ketemu di sini lagi? ...Hehe” tidak melewatkan kesempatan Wonwoo kembali menyambar.
Soonyoung terlihat menyunggingkan senyum tipisnya lagi, senyum yang jarang sekali terlihat.
“Oke Wonwoo nanti sore jam 6?”
“Jam 6!”
Terhitung sejak saat itu keduanya jadi sering menghabiskan waktu bersama, jika Soonyoung memiliki jadwal yang sedikit luang di keesokkan harinya maka mereka akan mengatur janji untuk sekedar sarapan bersama di Cafe langganan Wonwoo atau nasi kuning seperti tempo hari.
Atau, ketika keduanya disibukkan dengan meeting dan agenda padat sejak pagi maka mereka akan bertemu seusai jam kantor. Pergi makan malam sederhana di pinggir jalan kaki lima atau ke restaurant saat gajian. Tidak ada lagi argumen siapa yang akan membayar untuk makan siapa, semuanya terjadi begitu natural, kalau Wonwoo yang sudah terlebih dahalu berdiri di depan kasir untuk membayar maka Soonyoung tidak akan melarang, begitupun sebaliknya. Semuanya mereka jalani dengan santai.
Beberapa kali Wonwoo mengajak Soonyoung untuk berkeliling Jakarta dengan KRL saat jam kantor selesai, mereka akan mampir di beberapa stasiun dan mencicipi beberapa makanan di daerah sana. Mulai dari buah mangga segar yang dijual dekat stasiun Kota Tua, tahu gejrot di depan stasiun Rawa Buntu hingga getuk di pintu keluar stasiun Kampung Bandan. Hampir semua makanan dan camilan di stasiun yang mereka lewati sudah pernah dicoba oleh keduanya.
Bahkan ketika mereka tak sengaja melewatkan salah satu stasiun transit dan berakhir berhenti di stasiun Kampung Bandan, Wonwoo dengan ide gilanya mengajak Soonyoung untuk pergi ke Ancol dan masuk ke Dufan pukul setengah 8 malam. Disaat orang rata-rata sedang mengantri untuk keluar, keduanya malah baru menandai tangan dengan stempel masuk.
Soonyoung yang sudah kehabisan kata-kata hanya bisa menurut ketika tangannya diseret masuk oleh Wonwoo. Keduanya masih lengkap menggunakan kemeja kantor dan sepatu pantofel begitu ketara dengan pengunjung Dufan yang lain.
Suasana sudah gelap dengan lampu-lampu cantik dari wahana yang menyala di dalam, tujuan pertama yang ada di depan mata ketika masuk adalah Komedi Putar dengan hiasan lampu kerlap-kerlip.
Soonyoung menatap horor wahana itu, ia sudah terlalu tua untuk naik ke sana walaupun hanya ada antrian 3 orang remaja usia belasan tahun yang menunggu gilirannya. Di sebelahnya sudah ada Wonwoo dengan senyum usilnya siap kembali menyeret Soonyoung.
Malam itu berakhir dengan Wonwoo yang turun dari wahana Halintar dengan pucat dan hampir mengeluarkan isi perutnya jika tidak melihat Soonyoung yang untuk pertama kalinya tertawa terbahak-bahak karena melihat Wonwoo yang kacau.
Untuk pertama kalinya Wonwoo melihat tarikan bibir Soonyoung yang membentuk senyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang mungil dan lucu dengan suara tertawa yang begitu merdu di telinga Wonwoo. Baru kali ini Wonwoo melihat Soonyoung begitu lepas dan bahagia.
Dihari lain Wonwoo akan menyiapkan snack ringan seperti roti cokelat atau sekedar satu kotak susu untuk Soonyoung bawa ke kantor saat mereka tidak sempat sarapan bersama.
Tidak ada lagi Soonyoung yang berdiri sendiri di depan pintu kereta dengan wajah datar, sekarang hanya ada Soonyoung yang terus menyunggingkan senyumnya atau gelengan kepala ketika Wonwoo melemparkan guyonan garing khas manusia kurang pergaulan.
Rute perjalanan KRL Wonwoo menjadi lebih bervariasi dan tawa Soonyoung menjadi lebih sering.