Best Bad Day
Lapangan di pinggir kota itu terlihat ramai dengan hiruk pikuk para muda-mudi yang sedang mengantri masuk, beberapa masih sibuk dengan kendaraannya masing-masing mencari tempat parkir termasuk keempat kawan yang baru saja tiba ini. Soonyoung yang duduk di kursi penumpang belakang sudah diselimuti berbagai perasaan.
Selain ia akan kembali menyaksikan crush-nya yang sudah lama tidak tampil di panggung, ia juga akan menemui teman dunia mayanya yang sudah dikenal selama satu tahun terkahir.
Tidak banyak informasi pribadi yang Soonyoung tahu dari teman yang sering ia panggil Tong! ini, selain mereka sama-sama masih duduk di bangku kelas 11 SMA. Pertama kali keduanya bisa sampai mengikuti di akun biru itu karena hasil kegabutan Soonyoung yang dengan sengaja mengikuti orang secara acak di twitter hanya kare ingin agar timeline twitter akun bergembok-nya tidak terlalu sepi namun juga tidak terlalu bersik dari akun-akun teman sekolah yang ia kenal. Alhasil, pertemuan keduanya terjadi dengan interaksi pertama mereka karena keduanya yang sama-sama mengeluh akan musim ujian yang sudah dekat, dimulai dari membalas cuitan satu sama lain sampai berakhir dengan curhatan melalui pesan pribadi yang seringnya disebut DM atau Direct Message*.
Karena kecockan akan topik yang sering dibicarakan jadilah keduanya menjadi dekat, Soonyoung bahkan berhenti mengikuti akun lain karena menurutnya masih terlalu ramai dengan cuitan orang lain yang sama sekali tak ia pahami sehingga saat ini hanya mengikuti akun dengan username @chillycat itu saja. Begitu pula sebaliknya.
Saat ini Soonyoung sudah berada di depan loket masuk di depan lapangan bermodal empat tiket gratis pemberian teman onlinenya yang dikirim beberapa minggu lalu. Setelah menerima pesan melalui DM tempat mereka bertemu, Soonyoung menutup ponselnya dan mencari cara agar ketiga temannya ini mengizinkannya untuk bertemu dengan teman onlinenya tersebut.
Lokasinya di pinggir danau tak jauh dari belakang paggung sesuai intruksi dari Tong, ia bahkan mengirimkan foto danau tersebut agar Soonyoung mudah menemukan letaknya.
Belum sempat mengucapkan rentetan alasan agar ia bisa bertemu Tong, kalimatnya yang belum sempat diucapkan itu harus terputus oleh seseorang yang tak sengaja menabrak Chan dan berhasil menumpahkan satu gelas es teh instan di bajunya. Terhitung lebih dari lima kali ucapan maaf terlontar dari orang yang menabrak Chan karena merasa bersalah sudah mengakibatkan kejadian tak mengenakan ini. Namun, mereka memilih berdamai dengan orang tadi yang ingin mengganti baju Chan dengan baju kaos yang dijual di ujung panggung yang diperuntukan sebagai merchandise sebagai bentuk tanggung jawab dan permohonan maafnya.
Akhirnya Dika pergi menemani Chan dan orang yang menabraknya tadi dan memutuskan akan betemu lagi dengan Soonyoung dan Seungkwan di depan panggung. Kesempatan ini kemudian dimanfaatkan Soonyoung untuk membujuk Seungkwan agar mengizinkannya bertemu Tong sesuai janji dan sekalian memintanya menememani, karena tidak bisa dibohong Soonyoung pun masih ada ragu akan sosok teman onlinenya pengaruh percakapan di grup chat beberapa waktu lalu, jadi menurut Soonyoung tidak ada salahnya membawa Seungkwan kalau-kalau ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi saat bertemu dengan Tong.
Lapangannya begitu luas, panggung terlihat begitu besar di ujung sana dengan lampu sorot berwarna warni menghiasi panggung utama dan lampu lainnya yang mengarah ke langit yang sudah gelap memberikan kesan ramai dan meriah.
Sudah banyak yang mulai berkumpul di depan sana, beberapa teman sekolah Soonyoung pun beberapa kali ia lihat juga ikut datang. Jujur, Soonyoung sebenarnya lebih gugup bertemu dengan Tong ketimbang melihat penampilan crush-nya. Bagi Soonyoung, Tong adalah teman dekat yang bisa membuatnya menjadi orang yang jujur dan apa adanya. Cuma dengan Tong ia bisa mencurahkan kekesalannya tanpa canggung, bahkan dengan ketiga temannya yang lain masih ada beberapa bagian dari ceritanya yang tidak bisa Soonyoung ceritakan dengan leluasa. Dengan Tong ini, Soonyoung merasa nyaman karena tanggapannya akan cerita-cerita Soonyoung begitu masuk akal sekaligus kocak.
Ketika Soonyoung sedang sedih atau pun kesal Tong akan melemparkan guyonan konyolnya yang akan membuat Soonyoung tertawa di depan layar ponsel, saat Soonyoung sedang butuh saran dan masukan Tong akan dengan tiba-tiba menjadi orang yang pendapatnya sangat logis dan sering kali menjadi pertimbangan Soonyoung, terkadang Tong hanya mendengarkan curhatan Soonyoung dengan balas-balasan santai yang sebenarnya memang hanya itu yang dibutuhkan oleh Soonyoung. Tong begitu tahu menempatkan diri dalam setiap waktu dan hal itu yang membuat Soonyoung senang berteman dengan Tong hingga saat ini walaupun ada banyak sambatan-sambatan kecil diantara keduanya di hampir percakapan, namun mereka tahu itu hanya bentuk dari candaan satu sama lain yang tidak pernah dimasukkan ke dalam hati sedikitpun.
Seungkwan yang tidak bisa menolak permintaan teman disebelahnya ini pun akhirnya hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah kaki Soonyoung menuju danau yang disebutkan, lokasinya benar tak terlalu jauh dan masih ada beberapa pengunjung pensi yang juga berada di sana untuk sekedar jalan-jalan di pinggir danau atau mengambil foto dengan pencahayaan dari lampu panggung.
Dari info yang Soonyoung dapat dari Tong tadi, teman-teman satu bandnya tidak bisa ikut sekarang menemuinya seperti yang dijajikan karena ada masalah dengan alat musik mereka sehingga harus melakukan pengecekkan kembali. Mereka akan menemui sekaligus berkenalan dengan Soonyoung setelah acara selesai. Soonyoung tidak mempermaslahkan itu dan saat ini fokus mencari sosok yang mungkin sudah menunggunya.
Danau itu tidak begitu luas, menyusurinya dari sisi tepi di malam hari memberikan perasaannya yang ternyata menyenangkan, pantas saja beberapa pasang yang bisa Soonyoung tebak juga masih siswa SMA menghabiskan waktunya bersama di sini.
Soonyoung hanya memiliki satu petunjuk akan penampakan Tong yang katanya malam ini akan menggunakan pakaian pemberiannya untuk manggung, ia harus berusaha lebih keras mencari diantara temaram lampu di pinggir danau.
Pakaian itu berupa satu kaos V neck dengan potongan sedikit longgar berwarna hitam dengan outer kasual yang serupa blazer dengan warna senada. Soonyoung pikir pakaian itu cocok dengan Tong yang memiliki latar belakang anak band namun ia tak menyangka kalau teman onlinenya itu akan memakai pakainya yang ia berikan di acara pensi malam ini.
Langkahnya semakin pasti ketika ia melihat seseorang di ujung sana dengan pakaian yang ia berikan, sosoknya lebih tinggi dari bayangan Soonyoung dengan rambut hitam legam. Seungkwan yang dari tadi bersama Soonyoung memutuskan untuk menunggu tak jauh dari sana dan membiarkan Soonyoung menghampiri temannya terlebih dahulu dan tak ingin mengganggu pertemuan pertama mereka, toh dari jarak ini Seungkwan masih bisa mengawasi Soonyoung jika hal tak terduga terjadi.
Langkah pasti Soonyoung perlahan melambat, semakin dekat dengan sosok yang ia yakini adalah Tong teman onlinenya semakin ia yakin juga bahwa ia mengenenali sosok itu. Postur tubuhnya yang begitu familiar baginya dan sisi wajah dari samping yang 100% Soonyoung percaya adalah orang yang beberapa hari ini ikut-ikutan ia hindari dari project melupakan mantan yang tak bukan adalah ide dari Tong.
Perasaan Soonyoung dibuat tak karuan segala macam skenario terburuk terjadi di kepalanya, kakinya seolah melemas menjadi jeli. Soonyoung bingung dan takut. Dari jarak kurang dari empat langkah ini Soonyoung yakin orang yang sedang berdiri menatap danau di depannya mengenakan pakaian yang ia berikan beberapa waktu lalu itu adalah Wonwoo crush-nya yang sekarang ia yakini juga adalah orang yang sama di balik akun @chillycat teman onlinenya, Tong.
Kacau, nyali Soonyoung menciut dan dengan perlahan tanpa menimbulkan suara Soonyoung memutar arah langkahnya dan berusaha kabur meninggalkan tempatnya saat ini.
Namun, semesta memiliki rencananya sendiri.
Tepat saat Soonyoung baru akan memutar badannya, orang yang berusaha ia hindari juga ikut memutar tubuhnya ke belakang. Menatap punggul Soonyoung dari belakang, mengenali jaket kuning pemberiannya kemudian memanggil namanya.
“Ung?”
Detik itu pula rasanya Soonyoung ingin melompat ke dalam danau menenggelamkan tubuhnya di sana selamanya.
“Ung? Ini gue” Panggilnya lagi.
Dan, dengan terpakasa Soonyoung membalikkan tubuhnya lagi menghadap pada orang yang memangilnya di belakang.
.
.
Ketika mata mereka bertemu. Tak satu pun yang bersuara.
Keduanya terpana.
Terdiam.
Terkejut.
Selama kurang dari satu menit. Mereka mencerna kejadian yang saat ini sedang berlangsung. Memutar memori cerita di antara keduanya yang saling berkaitan dan begitu dekat.
Kemudian suara tawa begitu besar menggema, begitu nyaring. Seseorang di antara mereka begitu terbahak-bahak akan akan kenyataan yang semesta berikan.
“HAHAHAHAHAHA ASTAGA!”
Itu Wonwoo yang saat ini bertumpu pada lututnya terbungkuk tertawa dengan puas.
Soonyoung bahkan tak menyangka akan reaksi itu. Membuatnya semakin ingin menguburkan diri atau menenggelamkan tubuhnya lebih cepat. Soonyoung pucat tak karuan, kakinya lemas.
“Ung itu lo???!!” Wonwoo bertanya lagi, sekarang ia sudah berdiri tegap dengan benar tak lagi tertawa terbahak-bahak seperti tadi.
Soonyoung tak menjawab tapi Wonwoo yakin teman online yang sering ia panggil Ung atau Maung itu adalah anak kelas sebelah yang sering mencari perhatian dengannya karena orang di depannya itu mengenakan jaket yang persis ia berikan, berada di tempat bertemu yang sama seperti ia infokan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Wonwoo, Soonyoung kembali berusaha kabur dan lari. Namun, belum sempat ia meloloskan diri tangannya sudah di tarik oleh Wonwoo.
Soonyoung menelan air di tenggorokkannya. Panik dan takut.
“Ung, ini gue Tong bukan orang jahat kaya yang lo kira dan lo udah kenal gue kan?” ucap Wonwoo dari belakang. “Jangan pergi dulu lo janji mau nonton gue manggung” lanjutnya.
Soonyoung kembali membalikkan tubuhnya dengan tatapan horor dan menyedihkan seperti meminta ampun dan hampir kembali membuat Wonwoo tertawa.
Menggemaskan.
“Ung, jadi nama lo siapa?”
Soonyoung masih diam dan hampir mati. Kepalanya tiba-tiba terasa kosong.
“Oke. Gue paham lo pasti kaget. Gue juga sama” “Tapi please tunggu gue kelar manggung ya, banyak yang pengen gue omongin ke lo...dan buat teman-teman band yang mau gue kenalin ke lo kayanya gak jadi soalnya di antara mereka pasti ada mantan lo, nanti project kita gagal”
Demi Tuhan kalau bisa Soonyoung ingin dibuat amnesia saat ini juga.
“Ung, tunggu gue ya. Gue mesti balik sekarang bentar lagi harus nampil”
Walaupun setiap ucapannya tidak dibalas oleh Soonyoung, Wonwoo masih tetap mengajaknya berbicara.
Setelah ucapan terkhirnya tadi dan berpamitan untuk pergi karena harus kembali ke belakang panggung untuk persiapan penampilannya. Wonwoo menyempatkan mengambil ponsel yang digenggam lemas oleh Soonyoung di tangannya. Wonwoo kemudian menekan beberapa nomor di sana yang membuat ponselnya sendiri berbunyi.
“Oke Ung? Sekarang lo punya nomor gue. Gue pamit dulu, ketemu lagi jam 9 ya”
Dengan itu Wonwoo pun pergi berlari dari tempat mereka tadi, menjauh dengan senyum tipis di wajahnya, sedangkan Soonyoung masih membeku tak bergerak.
Di ujung sana, ketiga temannya yang sudah bersama dibuat heboh akan pemandangan di depan mereka. Tong teman online Soonyoung adalah Wonwoo crush-nya sendiri.
Kerumunan orang sudah semakin banyak, beberapa band lokal dan penyanyi solo dari sekolah-sekolah lain pun sudah bergantian tampil.
Saat nama satu band yang cukup di kenal oleh mereka di sebutkan, jantung Soonyoung kembali berdegup kencang. Kini ia berdiri di tengah-tengah orang yang ramai sedang menikmati konser pensi malam ini, ketiga temannya di samping sesekali menepuk pundaknya memberikan dukungan atas kejadian yang mengejutkannya beberapa menit lalu.
Soonyoung berkali-kali memutar memorinya dengan Tong, meruntuki setiap ucapan kasar dan umpatan yang kerap ia lemparkan pada Tong, tentang rentetang keluh kesah akan hidupnya yang pasti terdengar bodoh, deretan cerita menyedihkan miliknya yang secara sukarela ternyata ia ceritakan pada crush-nya.
Di atas panggung sana Poets of Chaos band sudah berdiri dengan percaya diri di posisinya masing-masing, band yang terdiri dari teman onlinenya Tong sekaligus crush-nya Wonwoo dan juga mantannya Seungcheol.
Wonwoo berdiri dengan gitar listrik warna hitam yang mengalung di pundaknya di belakang mic sebagai vokalis utama, Mingyu dengan gitar navy-nya sebagai gitaris, Hansol dengan bas besarnya dan Seungcheol yang siap menggebug drum yang ada di depannya. Sorak sorai penonton begitu ramai ketika Wonwoo menyapa mereka yang hadir dan memperkenalkan diri.
Malam itu, Wonwoo dan bandmates-nya membawakan lagu Lost my Heartbreak milik David J dan berhasil menghipnotis penonton.
Suasana begitu menyenangkan dan riuh penonton tidak ada hentinya, tangan yang terangkat di udara mengikuti alunan musik dan lirik yang dinyayikan bersama.
Feel so goog to be free I met a boy and got lost in his smile Like the sunset in his eyes And when he looked back into mine Yeah, I found me the reason why I lost my heartbreak
dan tepat sebelum bridge pertama berakhir Wonwoo menambahkan adlibs diantara alunan musik dari rekan setimnya.
“UNG!! ANGKAT TANGAN LO NANYI BARENG”
dan seketika riuh kembali terdengar dan pipi Soonyoung memerah.
Ini adalah hari terburuknya dan sekaligus hari terbaiknya. His Best Bad Day.