Ojek Payung (2)
“HOY CHAN!!
“Gue liat-liat lo demen bener kemari” balasnya.
“Iseng aja gak ada kerjaan”
“Enak banget ye jadi orang kaya”
“Bukan gitu. Btw, lo gak jualan koran lagi?”
“Ini udah lewat tengah hari, jualan koran mah mana laku”
Soonyoung kemudian membulatkan mulutnya.
“Tumben kaga pakai mobil?”
“Iya, lagi males aja. Tadi gue naik KRL”
“Masa orang kaya bisa naik KRL?”
“Bisa kali, gue kalo kabur mah naiknya KRL”
“Kabur dari mana dah?”
“Dari bokap gue” Soonyoung kemudian tertawa namun mendapatkan kerutan alis dari Chan.
Menurutnya aneh untuk seorang anak yang melarikan diri dari orang tuanya sendiri karena walaupun kehidupan Chan yang serba kekurangan sejak kecil, ia tetaplah menjaga dan dekat dengan kedua orang tuanya.
“Terus lo mau ngapain di sini?” Tanya Chan kemudian.
“Gak ngapa-ngapain sih” balasnya sambil melihat kesegala arah di tepi jalan trotoar itu seperti mencari seseorang.
“Hmm lagak lo, Mas Aji di sana noh perempatan lampu merah jualan kacang goreng sama aqua” ujar Chan lagi tanpa basa-basi.
“Lo gak ke sana Chan?”
“Enggak lah, gue di sini aja. Kalo gue jualan di sana juga ntar rebutan pembeli dong sama Mas Aji”
“Rejeki orang kan masing-masing, Chan”
“Iya, tapi jangan lupa menjadi manusiawi” balas Chan.
Soonyoung dibuat terdiam.
“Wonwoo”
“Iya” balasnya sambil berjalan ke pinggir jalan mencari tempat duduk untuk beristirahat dan berteduh. Di belakangnya Soonyoung membuntuti.
Wonwoo membuka topi putih lusuh andalannya, mengibas-ngibaskan di area wajah karena panas yang menyengat membuatnya berkeringat.
Ia duduk di pinggir trotoar dalam yang berbatasan dengan pagar salah satu gedung. Di atasnya ada pohon pinus yang memberikan udara sejuk dan menghalau cahaya matahari terik.
Soonyoung hanya berdiri memperhatikan orang di sebelahnya melirik ke bawah karena posisinya yang duduk lebih rendah.
Ia kemudian ikut bersandar ke pagar itu.
“Mau makan bakso?” Tanyanya polos.
“Enggak”
Ish dalam hati Soonyoung kecewa
“Jadi makan apa?”
“Nasi”
“Ayo”
Wonwoo kemudian melirik tidak suka.
Yang dilirik hanya memandang penuh tanya.
“Lo mau ngapain di sini?”
“Gapapa, bosen aja di rumah. Nanti malam ketemu temennya Ayah tapi gue males jadi kabur aja” balasnya.
Wonwoo diam. Hanya mendengarkan.
“Capek tinggal di sana, banyak aturan. Makan harus begini begitu, main juga dibatesin, belajar A B C D Encok, senyam senyum gak jelas sama orang yang gak dikenal” cerocos Soonyoung lepas.
Wonwoo yang mendengar hampir dibuat tertawa karena omelan Soonyoung barusan namun ia tahan.
“Jadi gimana?”
“Apanya?” Sungut Soonyoung berbalik jadi dia yang kelewat judus, masih terbawa emosi omelannya tadi.
“Jadi mau ikut gak makan nasi?” Tanya Wonwoo.
Otomatis mata Soonyoung langsung berbinar-binar, ia memang sudah kepalang lapar dan lelah seharian bermain di bawah terik matahari mengikuti Chan dan Wonwoo berjualan.
“IKUT!” katanya semangat.
“Tapi jalan kaki, gak jauh dari sini”
“Gapapa, Wonwoo. Tapi yang ini gue yang bayar ya?” Bujuk Soonyoung tulus.
“Bayar masing-masing aja”
Baiklah. Soonyoung menghargai Wonwoo maka ia tidak menolak lagi atau membujuk orang di sampingnya ini lebih jauh.
Mereka kemudian berjalan bersisihan di pinggir jalan menuju warung makan sederhana yang dimaksud Wonwoo.
Langkah Soonyoung begitu ringan, ia bahkan terus bersenandung di bawah panas matahari.