The Memories
Ditinggalkan diam-diam ternyata lebih menyakitkan dari pada jatuh cinta diam-diam. Baru kemarin rasanya Wonwoo dan dia menyesap satu cangkir cofee latte di Cafe langganan sambil bertukar cerita tentang kesibukkan di kantor, rasanya baru kemarin juga Wonwoo menyelipkan satu kotak susu rasa vanilla ke dalam tas kerja dia yang tergesa meniggalkan stasiun dan baru kemarin juga rasanya kupu-kupu di dalam perut Wonwoo terasa semakin banyak, tapi hari ini semuanya tiba-tiba menghilang seperti abu yang ditiup angin.
Rasanya seperti mimpi indah di tengah malam penuh kilat dan badai hujan.
Wonwoo benci ketika orang mulai bertanya bagaimana kabarnya hari ini saat mereka tahu bahwa ia sedang tidak baik-baik saja, Wonwoo benci basa-basi tak berguna.
Wonwoo benci ketika pertanyaan tentang kabarnya itu harus berkaitan dengan seseorang yang tiba-tiba menghilang dalam semalam. Orang yang memberikan banyak harapan dari setiap tatap dan sikapnya, seolah-olah memberikan Wonwoo tempat dan kesempatan untuk memiliki hatinya, seolah-olah dia juga mencinta.
Wonwoo benci ketika kakinya secara spontan melangkah ke arah stasiun yang semula menjadi tempat paling ingin ditujunya setiap hari.
Wonwoo benci ketika ia dengan tergesa membersihkan meja kerjanya dan bergegas pulang untuk bertemu di gerbong nomor 3 namun melupakan bahwa dia yang sudah tidak pernah muncul lagi selama satu bulan ini.
Wonwoo benci berada di tengah kemacetan kota Jakarta menumpang mobil Seungkwan untuk pulang atau memesan ojek online.
Wonwoo benci dirinya yang pengecut untuk sekedar menanyakan nomor ponsel atau tempat dia bekerja.
Wonwoo benci dirinya yang terlalu menjaga perasaan orang lain dan menjadi munafik.
Wonwoo benci pada hatinya yang sudah jatuh cinta terlalu dalam pada Soonyoung.
Sudah satu bulan semenjak malam terakhir mereka berpisah di Stasiun Manggarai setelah Soonyoung membayar dua porsi nasi goreng spesial menu makan malam yang menjadi alibi keduanya untuk menghabiskan waktu bersama.
Wonwoo ingat malam itu tidak terasa berbeda, Soonyoung masih sama dengan senyum tipisnya, tidak pernah mengeluh dan mendengarkan guyonan payah Wonwoo dengan sabar. Tidak ada kalimat perpisahan ataupun argumen yang memicu perselisihan. Semua terasa normal kecuali degup jantung Wonwoo yang semakin kencang saat bersama Soonyoung.
Bahkan malam itu satu gerak Soonyoung yang membuat Wonwoo salah tingkah ketika bulu matanya yang jatuh diambil oleh Soonyoung membuat wajah mereka begitu dekat seolah memberikan sinyal bahwa Soonyoung tidak takut memiliki kontak langsung dengannya. Karena bila diingat, Wonwoo lah yang selalu menepuk pundak Soonyoung, Wonwoo yang selalu menarik tangannya untuk berlari ke depan, Wonwoo yang selalu merapikan rambut kecil Soonyoung yang terbang ditiup angin saat berjalan keluar stasiun, selalu Wonwoo dan selalu atas inisiatif Wonwoo. Jadi, malam itu Wonwoo yakin dia juga mulai membalas rasa yang ia beri.
Tapi, apalah Wonwoo si bodoh dan pengecut ini. Rasanya cinta masih menjadi musuhnya setelah 24 tahun hidup. Ditinggalkan saat semuanya terasa indah dan nyata, ditinggalkan tanpa satu kabar bahkan sesakit ucapan selamat tinggal pun tak sampai.
Satu bulan kemarin ia masih berharap yang ditunggu akhirnya muncul, ia berharap kepergiannya terburu karena pekerjaan yang harus diselesaikan.
Satu bulan kemarin Wonwoo berusaha mencari jejaknya dari secuil informasi yang ia dapat saat masih bersama Soonyoung.
Tentang tempat tinggalnya di daerah Cikini Raya, Jakarta Pusat yang berakhir buntu karena ada puluhan gedung apartement yang berdiri, ia tersesat dalam pikirannya dan dalam pencariannya. Terlalu sedikit yang ia tahu tentang Soonyoung.
Tentang tempatnya bekerja di daerah Kuningan, dua mall di bawah nama satu perusahaan yang sama. Wonwoo bahkan mengambil tiga hari cuti yang jarang sekali ia ambil demi mencari Soonyoung ke tempatnya bekerja. Hingga titiknya ia temui, ia menemukan tempat kerja Soonyoung yang hanya berjarak 20 menit bekendara dari kantornya.
Terus ia runtuki kebodohannya selama ini, Soonyoung sudah sedekat itu namun hanya usahanya saja yang kurang keras. Sudah terlambat, Soonyoung sudah tidak bekerja di sana.
Soonyoung sudah mengundurkan diri dari perusahaan itu di malam ketika keduanya terakhir bertemu.
Soonyoung adalah Supervisor Marketing dari perusahaan ternama itu, memiliki masa depan begitu menjanjikan, tawaran untuk promosi dari dalam perusahaan dan pesaing silih berganti, kesempatan karir Soonyoung begitu luas tak heran karena dia yang begitu berdedikasi pada pekerjaan. Soonyoung yang terlihat selalu fokus dan tenang, selalu sibuk bersama dunia yang terus berputar memang menjalani hidupnya dengan penuh. Dan, di sini Wonwoo si pengagum rahasia yang tak bisa berbuat apa-apa atas kenyataan yang sudah terjadi.
Tidak ada yang tahu di mana Soonyoung pindah atau bekerja setelah mengundurkan diri dari sana. Soonyoung tidak banyak bercerita mengenai kehidupan pribadi atau ambisinya di kantor. Seperti yang pernah Wonwoo rasakan dulu, Soonyoung terlalu dingin di mata orang lain.
Bulan berganti bulan, Wonwoo menyiksa dirinya dengan bekerja tak kenal waktu. Ia kerap menginap di kantor untuk menyelesaikan tugasnya yang bahkan bukan mandatori dan bisa dilanjutkan esok hari.
Berkali-kali atasnya Mas Seungcheol mensehati Wonwoo dan jawabnya hanya ingin bekerja dengan baik agar hidupnya tidak sia-sia dan berhenti menjadi orang bodoh.
Sebenarnya perubahan itu tidak hanya membawa pengaruh buruk karena beberapa waktu lalu trobosan dari hasil kerja keras Wonwoo mendapat pujian dari Direksi. Tapi, Seungcheol dan Seungkwan tahu itu hanya cara Wonwoo untuk menjadi sibuk dan lari dari rasa sakitnya.
Wonwoo sudah tidak lagi menggunakan moda tansportasi masal itu karena ia benci memliki harapan menatap pintu keluar di gerbong nomor tiga dan tahu bahwa harapnya tidak akan pernah menjadi nyata. Dia sudah benar-benar pergi.
Wonwoo benci ingatan itu. Dan dia tersiksa.