FLOSS BREAD

Hari ini dia berangkat dengan menumpang teman sekolahnya yang tinggal berdekatan, namanya Jihoon teman sejak masih duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Rumah Soonyoung dan Jihoon hanya berbeda dua gang, sama-sama dari keluarga sederhana. Kalau Ibu Soonyoung bekerja di pasar dan sudah ditinggal ayahnya wafat tujuh tahun lalu, untuk Jihoon dia masih memiliki orang tua lengkap namun keduanya bekerja menjadi TKI di luar negeri sehingga sehari-hari hanya bersama neneknya yang memiliki warung sembako kecil di depan rumah.

“Ji, nanti gue turunin di Cafe aja ya” katanya dari belakang, helm longgar dengan sedikit poni yang mulai panjang menggelitik mata ditiup angin pagi.

“Mau ngapain lo pagi-pagi?”

“Jajan roti, lo mau?”

“Gak usaha, tadi udah dibawain nasi sama si mbah”

Soonyoung kemudian mengangguk yang sebenarnya juga tak terlihat oleh teman di depannya.

Open in app Get started

Dew Dew Follow Jun 8

· 2 min read

Save

Floss Bread Hari ini dia berangkat dengan menumpang teman sekolahnya yang tinggal berdekatan, namanya Jihoon teman sejak masih duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Rumah Soonyoung dan Jihoon hanya berbeda dua gang, sama-sama dari keluarga sederhana. Kalau Ibu Soonyoung bekerja di pasar dan sudah ditinggal ayahnya wafat tujuh tahun lalu, untuk Jihoon dia masih memiliki orang tua lengkap namun keduanya bekerja menjadi TKI di luar negeri sehingga sehari-hari hanya bersama neneknya yang memiliki warung sembako kecil di depan rumah.

“Ji, nanti gue turunin di Cafe aja ya” katanya dari belakang, helm longgar dengan sedikit poni yang mulai panjang menggelitik mata ditiup angin pagi.

“Mau ngapain lo pagi-pagi?”

“Jajan roti, lo mau?”

“Gak usaha, tadi udah dibawain nasi sama si mbah”

Soonyoung kemudian mengangguk yang sebenarnya juga tak terlihat oleh teman di depannya.

Soonyoung menyapa kasir sekaligus pemilik Cafe setelah pintu terbuka dengan lonceng kecil di atas pintu. Cafe dengan nuansa modern yang memiliki warna ornamen hijau di pintu masuknya itu memberikan kesan nyaman dan tenang.

“Pagi, Kak Hani” Sapanya.

“Pagi Soonyoung, ada yang ketinggalan barangnya kemarin?” tanya si pemilik Cafe karena kedatangan Soonyoung di pagi hari terbilang cukup jarang, shift bekerja paruh waktu siswa kelas dua SMA itu biasanya siang sepulang sekolah atau malam.

“Enggak hehehe aku cuma mau jajan roti abon”

Wanita dengan usia diakhir masa 20 tahunan pemilik cafe tersebut kemudian tersenyum ramah.

“Mau berapa?”

“Dua aja, Kak Hani”

Kemudian pemilik cafe menghilang ke arah dapur mengambil stok roti yang memang baru matang dan siap disusun di rak saji di depan counter.

Saat hendak membayar, Kak Hani sapaan Soonyoung itu tidak menginjinkannya untuk membayar, memberikan secara cuma-cuma empat roti abon dengan bungkus plastik mungil kepada pekerja paruh waktunya itu.

Soonyoung yang malu-malu pun menerimanya dengan senang.

“Sampai ketemu nanti siang, Kak!” ujarnya setelah mengucapkan terimakasih dan menghilang di balik pintu cafe yang berdenting sambil berlari kecil.

Di sekolah sudah banyak siswa-siswi yang berdatangan, masih 15 menit lagi sebelum bel masuk berbunyi. Soonyoung dengan plastik rotinya berjalan ke arah kelas teman baru yang baru dikenalnya kemarin.

“Wonwoo ada?” tanyanya pada salah satu siswa yang ada di kelas tersebut.

“Belum dateng, tasnya belum ada tuh” jawab gadis berambut pendek dengan mata besar yang membuatnya manis.

Soonyoung kemudian mengangguk.

“Kursinya yang mana?”

“Pojokan deket jendela yang nomer 3 tengah”

Oh pantas saja pertemuan pertamanya dengan Wonwoo waktu itu dipinggir jendela, ternyata memang tempat duduknya di sana.

“Sini?” tanyanya lagi memastikan.

“Yep!”

“Gue titip ini ya buat Wonwoo” ia meletakkan dua roti abon di atas meja.

“Oke”

Soonyoung kemudian kembali dan pergi ke kelasnya sambil mengingat-ingat lagi saat tadi sekilas melihat foto Wonwoo di mading kelas, wajahnya tampak tak asing.