Ojek Payung (3)
“Oy, disuruh pulang jam berapa?” Tanya Wonwoo yang duduk di kursi kayu depan etalase makanan.
Soonyoung tersungut sambil menyuap telor dadar terakhir ke mulutnya.
“Soonyoung nama gue Soonyoung bukan 'Oy' oke?” Balasnya hampir merajuk, namun sebelum itu Wonwoo sudah memberikan satu bungkus kerupuk unyil di depan Soonyoung yang kemudian diambil dengan bibir manyun yang dibuat-buat ciri khas orang marah.
“Jadi?”
“Disuruh jam 5 tapi gue males”
“Emang disuruh kemana?”
“Daerah kuningan dinner sama koleganya Ayah” kata Soonyoung sambil mengunyah kerupuknya.
Wonwoo melirik jam dinding di warung itu. Waktu menunjukkan pukul 17.08 artinya Soonyoung sudah harus pulang saat ini.
“Pulang sono” usir Wonwoo.
“Dibilangin gak mau”
“Itu telepon bodyguard lo yang badannya gede”
“Ogah. Orang gue maunya main”
“Main mah bisa nanti lagi yang penting pesan orang tua dilakuin” kata Wonwoo datar dengan suara beratnya.
“Gak mau” lagi-lagi Soonyoung menolak, kini acuh bahkan tak memandang lawan bicaranya lagi pura-pura sibuk meminum sisa es teh dan kerupuk.
“Ntar nyesel kalo orang tua udah gak ada kaya gue” balas Wonwoo santai.
Soonyoung langsung terdiam melirik orang di sebelahnya.
“Orang tua lo udah gak ada?”
“Iya meninggal waktu gue SD”
“Dua-duanya?”
“Nyokap duluan, terus bokap dua tahun kemudian”
“Saudara?”
“Gak ada”
Soonyoung tiba-tiba merasa tak enak hati.
“Bagus kalo lo jadi ngerasa gak enak” ujar Wonwoo lagi. “Emang gak enak ngebayangin hidup tanpa orang tua dan harus berjuang sendiri buat makan sehari-hari jadi lo yang orang tuanya masih ada mesti bersyukur apalagi masih diingetin untuk pulang ke rumah”
Hati Soonyoung menjadi sakit mendegar ucapan Wonwoo, dia seperti ikut merasakan pedih dan kesakitan hatinya tanpa orang tua.
“Tapi ayah gue rese”
“Pernah dipukul pakai sabuk ikat pinggang?” Tanya Wonwoo.
Soonyoung menggeleng.
“Pernah dimasukin ke dalam drum air mandi?”
Soonyoung menggeleng lagi.
“Dikejar pakai balok?”
Wajah Soonyoung berubah horor.
“Gue udah pernah semua sama bokap gue gara-gara gue bandel waktu kecil tapi gue tetap sayang karena gue tau bokap begitu buat ngedidik gue biar gak jadi anak kurang ajar walaupun caranya ekstrim” kata Wonwoo lagi sambil terkekeh mengingat masa kecilnya dulu.
Soonyoung diam mendengarkan.
“Tapi sayangnya gue baru sadar setelah bokap nyokap wafat dan gue menyesal belum bisa berbuat apa-apa untuk mereka” lanjut Wonwoo.
Pandangan Soonyoung sudah mengabur, genangan bening di matanya sudah menumpuk. Ia sedih dengan cerita Wonwoo terlebih cerita itu mengingatkan Soonyoung tentang Ayahnya di rumah.
Beliau memang orang yang tegas, semua aturannya dibuat memang untuk membentuk Soonyoung satu-satunya anak yang akan mewarisi perusahaannya. Soonyoung paham itu hanya saja ia yang selalu beralasan masih ingin menikmati masa sekolahnya dengan bebas.
“Wonwoo, gue mau pulang aja”
Wonwoo langsung menoleh kaget.
“Katanya gak mau pulang?”
“Gak jadi. Mau pulang aja” ia kemudian berdiri.
“Eh tunggu dulu masih ujan” balas Wonwoo.
“Kan ada lo ojek payungnya”
Wonwoo dibuat melongo. Bukan apa-apa hanya saja sedari tadi tidak membawa payung, hanya ada keranjang jualan kacang dan air mineralnya saja di samping.
“Gak bawa payung, Soonyoung. Rumah lo di mana?”
“PIK”
“Buset jauh. Gini aja deh...” “Kita ke gang sebelah dulu di sana rumah gue, ambil mobil pick up-nya Bang Codet terus lo gue anter ke rumah”
Bang Codet? Pick Up? Diantar Wonwoo?
Soonyoung tiba-tiba diserang bingung.
Karena paham, Wonwoo kemudian menjelaskan.
“Gue kadang jadi sopir ekspedisi pakai mobil pick up-nya punya Bang Codet tetangga gue ntar malam bakal banyak ambilan angkutan jadi sekalian aja nganter lo”
Soonyoung pun paham dan kemudian mengikuti Wonwoo ke gang sebelah yang dimaksud. Berlari kecil di bawah guyur hujan agar cepat sampai.
Rumahnya di ujung jalan dengan warna cream yang sudah lusuh. Tidak begitu besar dan nampak sedikit gelap. Wajar saja, Wonwoo hanya tinggal sendiri dan tidak punya cukup waktu untuk merawat rumah kecil ini.
“Tunggu sini bentar gue ambil kuncinya di rumah sebelah”
Soonyoung mengangguk dan menunggu Wonwoo di depan rumahnya sambil berteduh.
Selang beberapa menit Wonwoo kembali bersama Chan.
“Nah ini pasti yang mau nebeng” sambar Chan dengan nada mengejek.
Soonyoung langsung berdecih dan menatap sinis.
“Wonwoo kok yang nawarin” balasnya
“Tapi lo jadi seneng kan?” Kata Chan lagi.
“Apasih lo, Chan. Gak jelas”
Wonwoo kemudian menyela pembicaran kedua orang itu dengan klakson mobil angkutan warna hitam dengan bak terbuka di belakangnya itu.
“Soonyoung, ayo!” Katanya dari balik kemudi.
Soonyoung kemudian pergi melewati Chan dan langsung naik ke kursi penumpang. Namun, belum sempat ditutup pintunya sudah kembali ditahan oleh Chan dan kemudian ikut melompat ke dalam mobil, menggeser tempat duduk Soonyoung yang menjadi terhimpit di tengah antara Wonwoo dan Chan.
“Chan lo mau ngapain?” Tanya Soonyoung keheranan.
“Mau kerjalah” balasnya.
Soonyoung kemudian berbalik menghadap Wonwoo yang hanya ditanggapi dengan wajah datar.
Mobil kemudian berjalan dengan suara gelak tawa Chan yang nyaring dan tak berhenti puas akibat ekspresi tidak senang dari wajah Soonyoung.