ojek payung

“Woy!” Soonyoung memanggil seorang anak yang terlihat seumurannya dari dalam mobil yang terpakir di pinggir jalan.

Anak itu mendekat.

“Korannya kak?”

“Enggak. Eh kakak lo mana?”

“Maksudnya?” balas si anak penjual koran.

“Yang tadi malam di klinik”

Penjual koran kemudian mengenali wajah orang kaya di depannya ini. Semalam mereka bertemu.

“OH! LO YANG NONJOK MAS AJI SEMALAM KAN?”

“Bukan” kata Soonyoung sinis. “Tuh” dia kemudian menunjuk Seokmin yang berada di depannya di balik kemudi mobil.

Si penjual koran cuma melirik.

“Siapa namanya tadi?” Tanya Soonyoung.

“Mas Aji”

“Dia gak ngojek payung lagi?”

“Ngojek payung mah kalo ujan aja ege. Terik begini mana laku” balas penjual koran.

“Gue bisa nyari dia kemana?”

“Heh mau lo apain? Jangan dah gua mohon, kita mah orang susah jangan lo kerjain”

“Gue cuma mau ketemu. Nama lo siapa?”

“Chan”

“Gini deh Chan. Koran lo masih sisa berapa?”

“12 ada kali”

“Duitnya berapa kalau di beli semua?”

Chan berpikir sejenak mencoba menghitung jumlah uang untuk semua sisa korannya hari ini.

“66 rebu”

Soonyoung kemudian merogoh kantong celananya dan memberikan selembaran uang seratus ribu rupiah kepada Chan.

Disambutnya uang dengan warna merah tersebut dengan wajah bingung.

“Ini gue beli semua koran lo tapi kasih tau gue di mana gue bisa ketemu sama kakak lo”

“Lo serius?”

“Serius. Kalau enggak balikin sini duitnya” kata Soonyoung menantang.

“Eh jangan” Chan langsung memasukan uang pemberian Soonyoung ke dalam saku bajunya dan menyerahkan tumpukan koran sisa yang ia peluk sedari tadi kepada Soonyoung.

“Biasanya kalo jam segini Mas Aji jadi tukang parkir di depan Indomaret deket stasiun Tanah Abang, lo tinggal jalan sedikit ke sana” Chan menunjukan arah.

“Lo yakin dia ada di sana?”

“Yakin lah, hari-hari emang begitu”

“Oke. Btw lo punya nomornya gak? Soalnya semalem gue chat ga masuk, centang satu doang”

Chan kemudian tertawa geli.

“Paketannya abis ege” ujarnya.

Soonyoung hanya menanggapi dengan wajah datar sebelum menutup kaca mobilnya.

Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu kaca mobilnya diketuk dari luar.

“Kembaliannya belum” kata Chan.

“Ambi aja semua”

“Mantap” balas penjual koran yang itu. “Oh iya, Mas Aji bukan kakak gue tapi kita tinggal tetanggan”

Tidak ada balasan karena Soonyoung langsung menutup kaca mobilnya dan memerintahkan Seokmin menuju tempat yang diberitahukan oleh Chan barusan.

“Aji”

Yang dipanggil langsung menoleh. Keningnya berkeringat tertutupi oleh topi putih lusuh dengan kalung pluit dan rompi warna orange terang khas penjaga parkir.

Hanya menoleh tidak bergerak mendekat sedikitpun.

Soonyoung yang memanggilpun akhirnya keluar dari mobil sedan mewah warnah hitam mengkilap yang membawanya.

Menampilkan anak laki-laki dengan setelan santai namun masih tetap terlihat mahal.

“Cek hp lo barusan gue isiin pulsa” katanya saat mendekat.

Yang diajak bicara kemudian mengerutkan alisnya dan merogoh ponsel butut yang ada di saku celana, mengecek pesan masuk notifikasi pulsa yang barusan disebutkan Soonyoung.

Rp. 75.000

Uang yang sangat berharga baginya karena membutuhkan waktu seharian untuk dapat mengumpulkan sejumlah nominal tersebut.

“Nanti dipakai buat isi paket ya, soalnya tadi malam gue chat cuma centang satu” kata Soonyoung tanpa beban.

“Ada perlu apa?” Balasnya dingin.

Soonyoung langsung terdiam tak menyangka mendapatkan respon seperti itu.

“I-itu gue mau minta maaf buat yang kemarin malam”

“Lo tau dari mana gue di sini?” Ucapan Soonyoung tadi tidak dihiraukan.

“Dari Chan”

“Sudah dimaafkan” Ia kemudian membalikkan badan akan menjauh.

“Aji, gue mau ajak lo makan siang” serobot Soonyoung sebelum benar-benar ditinggalkan pergi.

Tukang parkir itu kemudian menghentikan langkahnya kemudian kembali berbalik.

“Biar gue yang bayar” balasnya tiba-tiba.

Soonyoung terkejut.

“Lo barusan kirimin gue pulsa sebanyak itu jadi biar gue yang bayar makan siangnya. Gue gak suka punya hutang budi sama orang lain”

Soonyoung lagi-lagi dibuat terdiam. Sedangkan Seokmin bodyguardnya hanya berdiri memantau dari depan mobil.

“O-oke” balas Soonyoung akhirnya.

“Satu lagi. Jangan panggil gue Aji. Nama gue Wonwoo. Kita gak sedekat itu.

Hati Soonyoung mencelos. Tapi ia memang benar keduanya hanyalah orang asing.