...10 seconds
Langit sudah gelap ketika semilir angin menyapu pipi Soonyoung siswa kelas 11 Sains di salah satu SMA Swasta di kotanya, rupanya ia tertidur di kelas dengan jendela yang masih terbuka menampakkan cahaya bulan yang terlihat murung di atas sana tanpa bintang-bintang.
Di kelas itu hanya ada ia seorang tertidur di barisan paling pojok dekat jendela dengan pemandangan bangku-bangku kosong tak berpenghuni di depannya. Menarik napas dalam ia kemudian mengangkat kepalanya yang tersandar di atas meja untuk kembali duduk tegap.
“Ah sial! ketiduran lagi” umpatnya.
Soonyoung masih dengan setengah nyawa yang belum terkumpul kemudian mengecek ponsel yang tersimpan di dalam saku celana. Beberapa pesan singkat dari grup chat teman satu kelompok penelitian sains dan ibunya sempat ia baca satu persatu.
Junhui yang mengingatkan Soonyoung untuk membereskan sisa perlengkapan praktikum mereka di laboraturium Kimia lantai 3 karena ia dan teman satu tim yang lain sudah selesai dengan laporannya, memberikan tugas tambahan itu untuk Soonyoung agar namanya tetap dimasukkan ke dalam anggota kelompok. Tidak ada balasan bantahan apapun dari Soonyoung karena memang tidak ada partisipasi dirinya sedikitpun hari ini akibat tertidur di kelas hingga petang.
Ibunya pun juga sempat bertanya akan keberadaannya saat ini yang langsung ia balas bahwa akan sampai di rumah sebentar lagi.
Soonyoung menutup ponselnya setelah membalas semua pesan yang masuk, keadaan sangat hening dan hanya terdengar benturan kursi Soonyoung yang ia dorong di bawah meja sebelum pergi dari kelas itu.
Derap kaki pelan mengisi kekosongan lorong kelas yang ia lewati, lampunya temaram karena tidak semua yang dinyalakan. Hanya ada bayangan tubuh Soonyoung yang mengikutinya dari belakang.
Ia berjalan malas menuju tangga di lorong paling ujung, semakin jauh keadaan semakin gelap. Terakhir kali ia mengecek ponselnya jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam, seharusnya pintu laboraturium sudah ditutup dan petugas keamanan sekolah yang biasa patroli keliling sekolah juga sudah selesai dengan tugasnya saat pukul 8 tadi.
Soonyoung hanya akan mengecek pintu lab-nya saja jika memang benar sudah dikunci, maka ia akan langsung pulang dan kembali lagi besok pagi lebih awal dan membereskan perlengkapan praktikum kelompoknya sebelum kelas di mulai.
Di lantai tiga ini tidak banyak ruangan yang dipakai untuk umum, hanya ada enam ruangan di mana masing-masingnya ada tiga laboraturium Sains, satu laboraturim Bahasa, satu gudang penyimpanan dan satu lagi entah ruangan apa yang tepat berada di sebelah lab Kimia yang sedang Soonyoung tuju.
Ruangan itu tidak pernah di buka, pintunya dikunci dari luar dengan satu rantai besar dan gembok berkarat. Tidak pernah ada yang masuk ke sana, bahkan selama dua tahun Soonyoung sekolah di sini ia juga tidak pernah melihat petugas kebersihan yang memeriksa atau sekedar membersihkannya, padahal sekolah Soonyoung termasuk rutin melakukan pembersihan ruang kelas dan ruang lainnya termasuk gudang kecuali ruangan itu.
Soonyoung berdiri di depan pintu lab Kimia mencoba menerawang jendela panjang bersekat di samping pintu yang baru bisa di capai dengan berjinjit dengan kaki depan, mencoba peruntungan berharap ada kakak tingkat yang mungkin masih berada di laboraturium menyelesaikan tugasnya. Pandangannya terhalang gorden putih yang sudah ditutup, sejauh yang ia lihat tidak ada siapa-siapa di sana, lampu pun juga sudah gelap. Memastikan lagi, Soonyoung kemudian meraih gagang pintu dengan bahan stainless yang sempat membuatnnya terkejut karena rasa dingin yang tiba-tiba menyapu telapak tangannya.
Satu dorongan kecil ke bawah dengan pundaknya yang mencoba mendorong pintu.
Sial.
Pintunya terkunci.
Dan sesuai dengan niat awalnya tadi maka ia akan kembali lagi esok pagi, sebelum memutar badan untuk berbalik terdengar suara telapak kaki seseorang yang mendekat.
“Soonyoung!” panggilanya.
Langkah kaki itu terdengar dekat namun saat Soonyoung menoleh ke arah suara, yang memanggil masih berada di ujung lorong.
Sosok anak laki-laki dengan seragam sekolah yang sama seperti Soonyoung.
“Ah, Wonwoo” akhirnya ucap Soonyoung setelah menyipitkan matanya agar dapat melihat lebih jelas.
“Mau ke lab?” ujar lawan bicaranya setelah sampai di depan Soonyoung.
“Iya, tools box sama jas lab anak-anak masih di dalam mau gue beresin” kata Soonyoung lagi.
“Oh gitu, pasti udah di kunci ya?”
“Yep!” balas Soonyoung lagi.
Udara semakin dingin bahkan bulu kuduknya entah sejak kapan sudah berdiri. Kulitnya meremang entah karena langit gelap yang mulai akan turun hujan atau memang suasannya yang sedikit kelam.
“Nih” Wonwoo menyerahkan satu renteng kunci dari dalam saku celannya kepada Soonyoung. “Gue punya cadangannya soalnya tadi dari lab bahasa juga”
Soonyoung tampak ragu menerima rentengan kunci tersebut karena tampilannya yang berbeda. Setahu Soonyoung kunci setiap pintu laboraturium memiliki gantungan kuncinya masing-masing, tidak digabung menjadi satu seperti yang dipinjamkan oleh Wonwoo barusan.
Namun ia tidak berpikir panjang toh jika dengan kunci ini Soonyoung bisa membuka pintu lab Kimia dan menyelesaikan tugasnya maka ia tidak perlu lagi bangun lebih awal besok pagi maka dengan itu Soonyoung menerima kunci dari Wonwoo dan membuka pintu di depannya.
Derit pintu yang dibuka tidak begitu nyaring hanya ada dentuman gagang pintu yang terbentur dinding lab dibagian dalam. Soonyoung masuk menuju meja-meja panjang yang ada di depannya mencari perlengkapan kelompoknya yang ditinggalkan di atas meja. Di belakangnya ada Wonwoo yang juga mengikuti.
“Kenapa sendirian Soonyoung?” tanyanya.
“Gue tidur siang di kelas eh keterusan sampe pulang hehe” balas Soonyoung yang sekarang sudah berada di belakang deretan meja panjang khas laboraturium yang letaknya berada di tengah, di sana ia mulai membereskan jas lab putih milik temannya yang belum dilipat dan memasukkan gelas-gelas kimia ke dalam tools box milik mereka hasil patungan di awal semester.
“Oh pantes” balas Wonwoo datar.
“Lo kok belum pulang, Won?”
“Masih belum ketemu kakinya”
Seketika Soonyoung menghentikan kegiatannya, aliran darah terasa berhenti. Tangannya menggantung tidak jadi memasukkan gelas kaca terakhir ke dalam tool box, ia menelan air ludahnya pelan.
Semenjak mengenal Wonwoo beberapa bulan terakhir di sekolah banyak hal-hal ganjil yang ia sadari dari teman satu sekolahnya ini, mulai dari pertemuannya dengan Wonwoo yang selalu terjadi saat petang, Wonwoo yang hanya selalu ia temui di lorong sekolah, Wonwoo yang selalu memegang satu tali merah yang terlilit di pergelangan tangannya hingga Wonwoo yang terlihat selalu mengenakan seragam yang sama.
Hal ganjil itu benar-benar mulai ia sadari satu bulan terakhir karena Wonwoo yang selalu mencari sesuatu di sekolah setiap kali Soonyoung bertanya. Berbagai asumsi muncul namun selalu ia tepis karena menurutnya hanya prasangka-prasangka buruk saja yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan sama sekali.
Namun, hari ini Soonyoung tidak bisa mengelak lagi. Jawaban Wonwoo barusan kembali membuatnya memikirkan asumsi yang pernah lewat di kepalanya dan memeperkuat kecurigaannya selama ini.
Ia tidak pernah benar-benar memperhatikan Wonwoo kecuali malam ini, kakinya yang tidak pernah terlihat di balik celana sekolah bahkan sepatu sekolanya pun tak ada. Selama ini entah karena gelapnya malam hingga tak terlihat atau karena Soonyoung yang tidak menyadari bahwa kaki Wonwoo............
tidak ada.
“Wonwoo...” panggil Soonyoung, ia menunduk setelah memperhatikan kaki Wonwoo barusan.
“Iya?” balasnya sambil tersenyum.
“Gue kasih waktu sepuluh detik untuk jawab pertanyaan ini, cuma Wonwoo yang asli yang akan bisa jawab” ujar Soonyoung pelan.
“dan pertanyaannya?” balas Wonwoo.
.
.
.
“Kapan lo meninggal?”