Wonwoo mencari Soonyoung yang ternyata di depan rumahnya, sedang duduk sendirian.

Koper sudah ada di luar, mereka memang sedang bersiap-siap untuk pergi ke hotel. Hoshi masih mandi dan Seokmin yang terakhir Wonwoo cek sedang sarapan di dapur karena memang bangun paling siang.

Walaupun mereka selama di Yogjakarta akan menginap di hotel tapi tidak menutup kemungkinan untuk kembali ke rumah Ibu Wonwoo lagi untuk menginap seperti malam sebelumnya, pesan beliau demikian untuk kembali berkunjung ke sana.

“Gemay” panggil Wonwoo menghampiri dan duduk di sebelahnya.

Soonyoung menoleh dan tersenyum. Matanya masih bengkak khas orang bangun tidur padahal ia sudah mandi dan mengganti pakaiannya.

“Sayang, tadi dapat undangan”

“Undangan apa kak?”

“Ulang tahun anak keduanya Larisa”

Soonyoung langsung melirik sinis, matanya mengecil otomatis tipis.

“Yang mantan kakak itu yah?”

Skakmat rasanya.

“E-eh bukan, bukan mantanku” Wonwoo langsung menyilangkan tangannya panik.

Soonyoung melirik penuh telisik lagi.

“Hehehe”

“Kok ketawa sih gemay?”

“Kakak tuh kalo panik gemes”

Wonwoo yang sedikit kesal dan kegemasan langsung mengusap asal wajah Soonyoung dengan telapak tangannya.

“IHHHH KAKAK!”

“Mau ikut ga?”

“Emang aku diundang juga?”

“Diundang dong, makanya aku bilang”

“Terus kakak ngajak aku?”

“Iya gemay, mau ga? Kalau ga mau juga gapapa soalnya hari minggu itu kan agenda kita ke Parangtritis”

“Kalo di undang ya harus dateng lah kak, emang rumahnya jauh?” Tanya Soonyoung.

“Itu di blok sebelah aja”

“Astaga, ternyata kakak tuh beneran tetanggaan sedeket itu sama Mba Larisa? Ih pantes di jodohin”

“Gemaaaayyy~” Wonwoo sudah menyerah, Soonyoung terus menggodanya dengan cerita masa lalu itu.

Soonyoungnya malah cekikikan sendiri. Senang mengganggu Wonwoo.

“Iya ayo ke sana nanti aku temenin, kita beli kado dulu ya kak”

Wonwoo mengangguk, kemudian mencubit hidung Soonyoung. Pipinya dicium tipis.

“Nyebelin” kata Wonwoo sebelum akhirnya berdiri dan kembali masuk ke rumah.

Yang ditinggal masih asik tertawa-tawa geli.