Pulang
Hoshi berjalan cepat menuju area pengambilan bagasi, kakinya terus mengetuk-ngetuk tak sabar lantai bandara yang mengkilap sambil menunggu kopernya sampai.
Matanya menatap satu per satu koper yang keluar, namun miliknya tak kunjung datang membuat hatinya gusar. Padahal tidak jadi masalah, cepat atau lambat keluarganya yang sudah sampai di bandara kedatangan internasional itu tetap akan menunggu si bungsu datang.
Hoshi beberapa kali membuka kunci layar ponselnya walaupun tidak ada satu pesan pun yang masuk, setelah mengabari saudara kembarnya tadi perasaan Hoshi malah semakin tak sabar.
Saat koper hitam dengan name tag berlogo harimau putih sampai di depan matanya, Hoshi dengan cepat menarik keluar dan menyeretnya menjauh menuju pintu keluar.
Langkahnya sungguh tergesa, ini adalah kali pertama Hoshi kembali ke Jakarta setelah satu setengah tahun lalu pergi merantau untuk melanjutkan pendidikannya di Singapore. Jadwalnya memang benar-benar padat sehingga keputusannya yang sebagian besar diambil berdasarkan diskusi keluarga adalah untuk tetap berada di sana sampai Hoshi bisa beradaptasi dan menyesuaikan jadwal kuliah dan pekerjaan paruh waktunya.
Di seberang pintu keluar, suasana tidak jauh berbeda. Soonyoung mengeratkan jari-jarinya di ujung baju yang dikenakannya menahan perasaan yang diam-diam disembunyikan dari kedua orang tuanya. Menunggu Hoshi tak sabar.
Ketika para penumpang keluar dari pintu kedatangan, pandangan Soonyoung sibuk mencari saudara kembarnya. Saat sepasang mata kecil itu saling bertemu, keduanya langsung melepaskan senyum lega berjalan mendekat satu sama lain.
Hoshi dengan senyum usilnya mendekat sebelum berhenti kaku. Keduanya hanya memandang satu sama lain, sebelum akhirnya Soonyoung merentangkan tangannya lebar-lebar menyambut adiknya dalam peluk.
Hoshi menyambutnya dan berhambur memeluk Soonyoung, senyum usil itu perlahan berubah mejadi isak tangis.
Suara kecil tangis Hoshi teredam di pundak Soonyoung bersama usapa-usapan kecil dipundak si bungsu. Tidak ada ucapan penenang seperti orang dewasa hanya keduanya yang masing-masing tenggelam dalam rindu walaupun satu minggu yang lalu keduanya sudah bertemu di rumah sakit ketika Hoshi sakit.
Bagi Hoshi rasanya benar-benar seperti kembali ke rumah.
Soonyoung itu rumah bagi Hoshi, pun sebaliknya.