Moon
“Soonyoung..Soonyoung..?” Suara ketukan terdengar di balik pintu mahoni itu.
Wonwoo sudah berdiri 30 detik depan kamar paling ujung yang ditempati Soonyoung namun tak kunjung ada jawaban dari penghuninya.
Tidak terdengar suara apa-apa dari dalam padahal biasanya Wonwoo mendengar suara musik dari sana yang dinyalakan oleh Soonyoung untuk menemaninya belajar.
Wonwoo yang khawatir akhirnya memegang gagang pintu dan mendorongnya pelan. Suasananya gelap, lampu kamar itu mati dengan jendela yang masih terbuka tirainya menampakan cahaya dari luar mengarah masuk langsung ke atas tempat tidur yang terdapat gundukan selimut tebal di atasnya.
Wonwoo masih di ujung pintu memanggil namanya pelan.
“Soonyoung?” “You okay?”
Masih tidak ada jawaban namun gundukan selimut itu sedikit bergerak kecil.
Wonwoo menghampiri, dengan setenang mungkin mendekat. Dari ujung selimut ia dapat melihat wajah Soonyoung yang tertidur.
Rambutnya terlihat tak teratur, poninya yang menempel di dahi terkulai lepek dan dari sisi pelipisnnya di penuhi keringat. Wonwoo yang panik langsung menarik selimut itu turun dan menyentuh dahi Soonyoung dengan punggung tangannya.
“YA TUHAN BADAN LO PANAS BANGET SOONYOUNG” sontak Wonwoo terkejut.
Ia kemudian menyentuh pipi yang sedang tertidur itu, warna merah, lehernya berkeringat, rasanya seperti menyentuh ubi rebus yang baru diangkat dari panci kukus. Sangat panas.
Wonwoo mencoba membangunkan Soonyoung namun hanya racauan tak jelas yang dia dapatkan.
Soonyoung tak kunjung membuka matanya. Wonwoo akhirnya dengan cepat berdiri, menyalakan lampu kamar itu dan menutup jendelanya yang masih terbuka kemudian menelepon orang tuanya.
“Halo, mami...”