Jogja
Angin malam meniup halus permukaan wajah Soonyoung, dagunya di topang ke pundak yang lebih lebar, tangannya melingkar nyaman di pinggang pacar.
“Lama ga keluar malem-malem ya gemay?” Kata Wonwoo sambil menyetir motor sport hitamnya.
Soonyoung mengangguk, kaca helmnya hampir turun karena longgar.
“Habis kitanya sibuk sih kak sekarang, midsem kemarin juga bikin pusing banget. Kuliah jauh beda dari SMA” katanya, masih diposisi nyaman yang sama.
“Gapapa, ini tuh masa-masa emas kamu. Nikmatin, soalnya kalo menurut aku ya versi paling seru kehidupan itu waktu kuliah”
“Masa?” Tanya Soonyoung khas dengan nada suaranya sedikit tengil kalau sudah menyangkut tentang pendapat pacarnya.
Lawan bicaranya hanya terkekeh, sudah biasa.
Tangan kiri mengusap sepasang tangan yang melingkar dipinggang. Pelan dan lembut.
“Ke Jogja nya jadi kan, sayang?”
Seketika menjadi hening.
Diusap lagi punggung telapak tangan itu.
Wonwoo tidak memaksa jawabannya, ia hanya menunggu dengan sabar Soonyoung yang masih diam di pundaknya.
“Kakak, aku izin ayah bunda dulu”
“Udah pasti gemay. Nanti aku juga ke rumah minta izin, gak mungkin langsung aku boyong”
“Rencana kakak berapa hari?”
“Satu minggu, kelamaan gak?”
Motor besar itu masih dengan lihai melaju di atas aspal. Kecepatannya standar, karena pengendaranya yang ingin menghabiskan waktu bersama lebih lama.
Soonyoung mengangguk di belakamg, dagunya bergesekan dengan pundak Wonwoo mengisyaratkan jawabannya.
“Okay. Seminggu ya, aku submit cuti dulu setelah seminar di UI, habis itu kita berangkat ya gemay”
”....kalau di kasih izin ayah” sambungnya.
“Iya kak” jawab Soonyoung pelan.
Sejujurnya Soonyoung masih tak percayadiri untuk bertemu langsung dengan ibu kandung Wonwoo.
Dia tidak punya persiapan apa-apa atau hal yang bisa dibanggakan untuk bersanding dengan Wonwoo.
Soonyoung sendiri masih ragu dengan dirinya, jadi bagaimana bisa membuat orang lain yakin?
“Don't overthink sayang haha” Wonwoo mencairkan suasana.
“Ini mudik biasa kaya tahun-tahun kemarin aku jenguk ibu, bedanya aku bawa temen. Temen hidup kalau kamunya mau” suara Wonwoo iseng dengan senyuman usilnya terlihat dari kaca spion.
Satu pukulan mendarat dipundak yang lebih tua, membuat keduanya terkekeh geli.