Warmest
Mengikuti arahan Jihoon tadi, Wonwoo sekarang sudah membawa satu nampan berisi semangkok mie sedap soto tanpa bubuk cabai, satu gelas teh panas tawar dan satu cup puding cokelat yang sudah ia keluarkan dari kulkas sebelum memasak mie agar pudingnya tidak terlalu dingin.
Diletakkannya nampan itu di nakas sebelah tempat tidur Soonyoung, kemudian ia mendudukkan dirinya di pinggiran kasur.
“Soonyoung...” Panggilnya pelan.
Ibu jarinya ia usapkan halus ke pipi orang di depannya.
“Soonyoung bangun sebentar”
Tidak ada sahutan apa-apa.
Wonwoo memutar kepalanya, harus seperti apa lagi ia membangunkan Soonyoung karena saran Jihoon pun sudah ia ikuti. Menepuk-nepuk pipinya.
Wonwoo menimbang-nimbang hal yang di kepalanya sedang berputar. Jika begini terus mie sedap yang sudah dibuatnya susah payah akan membengkak, dingin dan tidak enak lagi.
Maka dengan inisiatif dan berharap cara ini berhasil, Wonwoo kemudian memanjat naik ke atas tempat tidur Soonyoung.
Wonwoo ikut menarik masuk tubuhnya ke dalam selimut yang membungkus Soonyoung. Rasanya benar-benar panas dan gerah tapi ia tidak tahu cara lain, maka tetap ia lakukan.
Wonwoo menyalipkan tangannya di atas tubuh Soonyoung. Melingkarkan tangannya di pinggang yang sedang sakit, dagunya dia istirahatkan di atas puncak kepala Soonyoung. Memanggil namanya pelan agar terbangun.
Wonwoo memeluk Soonyoung yang sedang sakit. Sesekali menepuk-nepuk lengannya lembut.
Sampai akhirnya Soonyoung menggeliat kecil, berbalik membenamkan wajah ke dalam dada Wonwoo, membalas pelukkannya.
Ada yang jantungnya sempat tak berdetak akibat aksi tiba-tiba itu, mengehentikan semua gerak dan kegiatannya kemudian jantungnya berderu kencang dan ia berani sumpah rasanya hampir kehabisan oksigen malam itu.