Soonyoung mengeratkan jaketnya dan memanjat naik ke atas motor matic tua milik ibunya yang tadi pagi ia bawa ke rumah ini.
Dia duduk di jok belakang mengistirahatkan kedua telapak tangannya di atas pahanya masing-masing.
“Udah siap ngeliat rumah orang yang gak lebih kaya dari gue?” Celetuk Wonwoo di depan. Padahal malam ini dingin tapi pemuda berkaca mata itu hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek selutut.
“Siap bos!” Balas Soonyoung singkat.
Sebelum keluar dari pagar besar rumah mereka. Wonwoo menarik kedua tangan mungil Soonyoung untuk melingkar di perutnya.
Soonyoung terkejut tapi tak berontak. Ia sudah kepalang lelah dan hanya membalas dengan menyenderkan kepalanya di punggung Wonwoo.
Pikirannya kalut dan ia tak mau banyak menimbang dan berpikir untuk malam ini. Maka ia hanya melakukan yang hatinya ingin lakukan.
“Berangkat” ujar Wonwoo halus.
Anginnya sejuk, pelukkannya semakim erat, jantung keduanya pun berdegup kencang.