GALA DINNER

.

.

Wonwoo sampai pukul 5.20 sudah lengkap dengan setelan jasnya sendiri, ia pergi ke salon dan butik lain yang memang selalu biasa Seungcheol siapkan untuknya.

Wonwoo mengenakan jas hitam dengan inner kemeja yang juga hitam. Tatanan rambut undercut dan disisir ke atas membuat penampilannya terlihat kuat dan profesional.

Wonwoo datang sendiri karena setelah berpisah dari salon, Seungcheol harus menjemput Joshua di rumahnya.

Wonwoo memasuki Salon mahal itu dengan gagah, pantofel hitam mengkilapnya bahkan menimbukan suara yang mengintimidasi saat mergesekan dengan lantai marmer di salon tersebut.

Ia berjalan lurus ke dalam setelah melihat pundak seseorang yang dikenalinya sedang merapihkan beberapa bagian jas di depan kaca dibantu oleh wanita yang sejak siang tadi ia repotkan.

“Baby” bisik Wonwoo di telinga Soonyoung sangat pelan membuat yang dipanggil merinding tiba-tiba. Soonyoung terperanjat saat melihat pantulan Wonwoo di kaca, ia bahkan belum membalikkan tubuhnya.

“YA TUHAN!” Soonyoung hampir dibuat lemas, bagaimana tidak Wonwoo yang datang padanya sore ini merubah warna rambutnya menjadi deep maroon.

“Rambutnya kenapa daddy?” ujar Soonyoung membalik badannya melotot memperhatikan rambut Wonwoo. Wajah mereka kini sangat dekat dengan tinggi Soonyoung yang hanya sebatas hidung Wonwoo membuatnya terlihat kecil saat ini.

“She said you don't really like red. So, I'll make you do. It's gonna be your favorite color for now on” ujar Wonwoo.

“Kak claire boleh anter aku pulang aja nggak?”

“Hmm no..no..aku udah bikin kamu ganteng kaya gini so you still have to go with this old man and deal with it” balas Claire menyilangkan tangannya di dada.

Soonyoung memutar matanya membuat Wonwoo tertawa, “Shall we go now, baby?”

Soonyoung mengangguk dan kemudian mengambil paper bag yang berisi tas dan bajunya yang dipakai tadi, membawanya bersama ke mobil Wonwoo dan tak lupa mengucapkan terimakasih pada Claire.

“Iya jangan lupa nanti traktir aku ya Soonyoung”

“Okey kak” lalu Soonyoung berjalan duluan ke luar.

Sedangkan Wonwoo mengikutinya di belakang, menatap Claire dengan sekali anggukan tanpa ekspresi dan kemudian pergi.


Mereka sampai di hotel tempat acara diselenggarakan, sudah banyak mobil-mobil mewah yang lalu lalang membuat Soonyoung semakin gugup.

Acara ini bukan sekedar pesta makan malam, namun sekaligus penggalangan dana dari perusahaan-perusahaan yang bekerja sama. Akan banyak tokoh penting di dunia bisnis, perbankan dan finance yang akan hadir sehingga ini adalah saat yang tepat bagi Wonwoo untuk menjalin koneksinya lebih luas dengan rekan bisnisnya.

Saat keluar mobil dan berjalan ke red carpet sudah banyak pewarta berita yang siap dengan kameranya untuk meliput penyelenggaraaan Gala Dinner dan Charity Event ini, melihat banyaknya mata yang tertuju padanya membuat Soonyoung tiba-tiba kehilangan rasa percaya diri. Ia merasa kecil dan tidak pantas, tempat ini bukan untuknya. Soonyoung mematung sesaat membuat Wonwoo sadar ada yang tidak beres.

“Take a deep breath, baby. Walk with me” ujar Wonwoo kemudian menggandeng tangan Soonyoung di hadapan publik, yang sudah pasti disambut dengan jepretan cahaya kilat dari lampu kamera para reporter.

Tidak ada yang Wonwoo sembunyikan, ia menunjukan Soonyoung pada dunianya.

Genggaman itu menenangkan Soonyoung.

.

.

.

.

Sampai di dalam mereka disambut dengan berbagai macam warna cocktail mulai dari Mojito, Tequila Sunrise, Martini, Hurricane hingga Bloody Marry. Soonyoung yang melihat itu sampai membulatkan matanya.

“This is your first alcohol tonight” Wonwoo memberikan 1 gelas Sangria, cocktail punch yang terdiri dari anggur merah dan buah-buahan segar cincang dan jus buah.

Soonyoung tersungut teringat bahwa limit alkoholnya hanya dua saja sesuai kontrak yang mereka tandatangani.

“Daddy~” Soonyoung menarik ujung jas Wonwoo, merengek untuk memberikannya lebih.

“No baby”

Soonyoung mengjembuskan napasnya. Tidak ada rengekan lagi setelahnya karena ada satu kolega Wonwoo yang menghampiri.

Wonwoo mengobrol beberapa saat, orang-orang berdatangan silih berganti menyapa Wonwoo dan ia pun beberapa kali menghampiri yang lainnya. Pada awalnya Soonyoung akan mengikuti Wonwoo di belakang, namun lama kelamaan ia lelah merasa tidak mengerti dengan semua percakapan yang ia dengar jadi setelah hampir 45 menit ia mengikuti Wonwoo, Soonyoung akhirnya menyerah dan memilih pergi ke tempat yang lebih sepi di pojok ball room menyesap gelas cocktail keduanya dengan 2 potong mini cheesecake.

Ia memperhatikan sekekelilingnya, tak satu orang pun yang ia kenal. Mungkin ada satu dua orang yang wajahnya familiar karena pernah melihat di televisi tapi tetap ia tidak mengingat siapa namanya dan apa peranannya di bisnis ini.

“Soonyoung” dari sisi kanan seseorang memanggilnya.

“Mingyu” Soonyoung panik, kenapa ada Mingyu?

Mingyu lebih bingung kenapa ada Soonyoung.

“Baby”

Shit.

Wonwoo menghampiri Soonyoung.

“Mingyu” sapa Wonwoo pada sahabat partnernya malam ini yang sepertinya bingung namun masih terlihat biasa saja, menyembunyikan segala pertanyaannya.

“Ketemu lagi bang” balas Mingyu.

“Dimana Pak Kim?”

“Oh disana lagi bareng orang Eureka” Mingyu menunjuk seberang ballroom.

Belum sempat bercakap lain Wonwoo sudah di datangi lagi oleh seseorang. Terlihat jauh lebih berumur karena rambutnya yang sudah memutih namun masih terlihat gagah dan berwibawa.

“Mr. Jeon”

“Glad to see you Mr. Park, how's New York?”

“Great unless my wife keep whinning to comeback here, she misses Nasi Kuning” kemudian keduanya tertawa.

“Oh? I know him this is Mingyu Mr. Kim's Son, right?”

“Yes, nice to meet you, Sir” balas Mingyu sopan menjabat tangan Mr. Park.

“Dan yang ini?” Mr. Park kemudian tersenyum kepada Soonyoung tulus bertanya.

Wonwoo menarik pinggang Soonyoung membuatnya lebih dekat.

“He's my boyfriend, Sir” jawab Wonwoo bangga.

Soonyoung tercengang tubuhnya membeku. Ini apa?

Mingyu otomatis menoleh menatap Soonyoung tajam. Ia sama-sama tak paham. Suasana begitu intense hanya Wonwoo dan Mr. Park yang bertukar senyum.

“Finally Mr. Jeon, It's really nice to meet you.....?”

“Soonyoung, Pak” balas Soonyoung sesopan mungkin.

“Soonyoung, nama kamu bagus” balas Mr. Park menyambut tangan Soonyoung.

“Well, I gotta go back. Glad to see you all here”

Setelah berpamitan Mr. Park pergi menjauh meninggalkan ketiga orang disana dalam keadaan canggung.

“Mingyu, saya dan Soonyoung pergi kesana dulu ya” Wonwoo menunjuk sisi lain ballroom yang memiliki meja dan kursi berlapis kain satin.

.

.

.

Soonyoung masih bingung, terlalu cepat baginya.

“Sorry baby”

“Bingung” balas Soonyoung pelan.

Wonwoo kembali menggandeng tangan Soonyoung dikerumunan, menghampiri meja yang ternyata ada Seungcheol dan Joshua.

“Pak” sapa Seungcheol. Wonwoo hanya mengangguk menarik satu kursi untuk Soonyoung terlebih dahulu.

Soonyoung duduk di tengah di antara Wonwoo dan Joshua kemudian Seungcheol.

“Soonyoung apa kabar?” Kata Seungcheol lagi ramah.

“Baik Pak Seungcheol” balas Soonyoung berusaha baik-baik saja.

“Hai” sapa Joshua pada Soonyoung yang duduk di sebelahnya.

“Halo”

“Joshua” ia memperkenalkan diri.

“Soonyoung”

Di bawah meja Wonwoo tidak melepas genggaman tangannya di tangan kiri Soonyoung.

.

.

Tak lama, acara dimulai berbagai sambutan dari orang-orang penting disampaikan dan riuh tepuk tangan bergemuruh.

Acara inti pun akhirnya dimulai, disana perwakilan berbagai perusahaan besar di Jakarta naik ke podium untuk secara simbolis menyerahkan bantuan dananya untuk Panti Sosial yang telah ditunjuk dan mendukung pendidikan di asrama.

Rise Bank sendiri tempat Wonwoo bekerja di wakili oleh Pak Shin selaku Direktur Utama.

Selesai dengan deretan perusahaan besar sebagai donatur, kini saatnya para petinggi yang secara individu menyumbangkan dananya pada acara galang dana ini.

Wonwoo perlahan melepas genggaman tanggannya pada Soonyoung dan berbisik bahwa dirinya akan pergi sebentar bersama Seungcheol dan dia akan baik-baik saja bersama Joshua.

Soonyoung mengangguk berharap itu tak akan lama.

.

Setelahnya Wonwoo pergi bersama Seungcheol menghampiri podium.

Wonwoo tak diduga-duga naik ke podium bersama dengan donatur lain yang secara pribadi mendonasikan dananya. Di informasikan bahwa Wonwoo menyumbangkan dana sebesar 500 juta untuk mendukung pendidikan dan kesejahteraan sosial di panti asuhan daerah Bekasi.

Hal itu membuat Soonyoung yang duduk di kursinya lagi-lagi terkejut. Seberapa banyak uang Wonwoo? Apakah menjadi seorang General Manager bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Tidak masuk akal. Dari mana kekayaan Wonwoo berasal? Apa yang ia tidak tahu? Bantin Soonyoung terus-terusan bertanya.

“Kaget ya?” Tanya Joshua yang ada disebelahnya.

Soonyoung mengangguk.

“Kamu yang housemate Pak Wonwoo?”

“Iya, kok tau?” Balas Soonyoung.

“Tau dong soalnya kemarin aku sama Jihoon yang take down postingan Pak Wonwoo di twitter”

“Postingan apa?”

“Ada pokoknya”

Soonyoung tidak tahu perihal kejadian Wonwoo salah posting foto mesranya dengan bagian bawah tubuh mereka yang sudah setengah telanjang di akun officialnya.

“Pak Wonwoo itu dari dulu dermawan, setiap acara charity pasti datang dan pasti donasi. Awalnya dia nggak mau menyebutkan namanya, bertahun-tahun dia berhasil menyembunyikan identitasnya tapi akhirnya ketahuan sama Pak Shin jadi di paksa buat memasukan nama aslinya demi bisnis padahal Pak Wonwoo gak suka” jelas Joshua memandang ke arah podium.

“Kakak kenal banget sama Pak Wonwoo ya?”

“Bisa dibilang begitu. Sebuah kehormatan sih bisa dekat sama dia karena gak banyak orang yang bisa benar-benar dekat dengan seorang Jeon Wonwoo”

“Punya grup chat buat ngalor ngidul dong kak sama Pak Wonwoo” tanya Soonyoung lagi keluar dari pembahasan yang membuat Joshua tertawa.

“Ada nih” Joshua menunjukan ponselnya memperlihatkan Grup Chatnya.

“Ohhhh yang ini work hard play hard aku kira ini grup buat kerja”

“Hahahaha keliatannya begitu ya? Dia workaholic banget sih jadi dimana-mana kelihatannya kerja terus” Joshua menunjuk Wonwoo yang masih di atas podium menyalamin orang-orang disana. “Ini tuh grup chat biasa Soonyoung, kita aja semuanya beda lantai mana mungkin grup kerja tapi kadang Pak Wonwoo suka nyuruh-nyuruh disitu juga sih” kembali Joshua tertawa membuat suasana kembali ringan bagi Soonyoung.

Kedua kembali bercerita ringan tentang teman-teman di kantor Wonwoo dan bagaimana Wonwoo berkerja yang rata-rata menyebutkan bahwa Wonwoo cukup kaku membuat Soonyoung merinyit paham dan sangat mengerti rasanya.

.

.

Saat makan malam selesai mereka akhirnya berpisah, Wonwoo kembali bersama Soonyoung ke lobby hotel.

“Baby, let's go”

“Kemana dad? Kok nggak keluar?”

Wonwoo membawa Soonyoung ke dalam lift dan menuju lantai 25.

“We stay here tonight, I'll have my desserts with you”

Jantung Soonyoung berdebar kencang.