JUM'AT

Soonyoung sampai sekitar pukul 3 siang dan langsung menuju ruangan Wonwoo, sebelumnya ia sudah menyapa Seungcheol yang berada di meja kerjanya di depan ruangan Wonwoo. Menyampaikan tujuannya ke sini untuk mengajak Seungcheol ke apartement baru Jeonghan untuk berbelanja, dan ya sudah dapat dipastikan Seungcheol dengan senang hati akan ikut bahkan ia terlihat terlalu bersemangat. Setelah berpamitan dengan Seungcheol, Soonyoung kemudian pergi ke ruangan dengan pintu kayu coklat yang cukup besar dengan ukiran nama Jeon Wonwoo General Manager.

Ia mengetuk dua kali sebelum membuka pintu tersebut dan langsung menyunggingkan senyum paling cerianya saat matanya bertemu dengan Wonwoo yang entah sedang sibuk menandatangani berkas apa.

“Daddy~” Soonyoung memeluk Wonwoo dan mencium bibirnya singkat.

Wonwoo menarik pinggang Soonyoung dan menariknya untuk duduk di pangkuannya. Soonyoung menurut.

“Sudah makan?” Tanya Wonwoo mengeratkan pelukannya di pinggang Soonyoung.

“Udah dong”

“Masak apa?”

“Ayam rica-rica”

“Tumben? Gak pedes?” tanya Wonwoo keheranan, karena setahunya Soonyoung bukan penggemar makanan pedas.

“Iya gak pedes”

Wonwoo tertawa mendengar jawaban Soonyoung.

“Mana ada rica-rica gak pedes, baby” ujar Wonwoo mencium pipi Soonyoung dari samping.

“Ada loh daddy aku yang buat” balas Soonyoung lagi dengan wajah sok tahunya.

“Kenapa saya gak dibawain?”

“Emang daddy mau? bukannya udah makan?”

“Udah, tapi kalau kamu bawain ya saya makan lagi”

“Hehhehe maaf ya daddy aku mah orangnya gak pekaan” sekarang Soonyoung yang mencium pipi Wonwoo. “Ih belum cukuran ya?” Soonyoung menyentuh sisi dagu dan bagian atas bibir wonwoo.

“Belum, besok baby aja yang cukurin”

“Oke” setelahnya Soonyoung bangkit dari pangkuan Wonwoo, tidak ingin mengganggu pekerjaan Wonwoo lebih lama karena melihat masih banyak berkas yang berada di meja daddy-nya itu.

“Udah bilang ke cheol?”

“Udah dad tadi di depan”

“Mau dia?”

'Mau dong, sudah jelas” kata Soonyoung memainkan hpnya, sudah duduk di kursi yang ada di depan meja wonwoo berhadapan.

“Ngechat siapa sampai manyun-manyun begitu?”

“hm? Yeji...kok dia ga bales chat aku ya”

“Dapat dari siapa nomor Yeji?” tanya Wonwoo.

“Dari Pak Seungcheol hehehehehehe”

Wonwoo akhirnya hanya menggelengkan kepala, baby-nya yang satu ini memang tidak bisa dilarang, hanya dia satu-satunya yang berani membantah atau melanggar larangan Wonwoo.

“Daddy extension ruangan Yeji berapa?” tanya Soonyoung yang sudah mengangkat pesawat telepon yang ada di meja Wonwoo.

“208”

Kemudian Soonyoung langsung menekan angka tersebut dan tak lama tersambung.

“Halo, Yeji ada?”

”.....”

“YEJIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII”

”.....”

“Emanya masih ada? mauuuuu”

”....”

“Hehehe oke oke tapi kamu gak sibuk kan?”

”....”

“Ih kasian gapapa kesini aja sebentar, gaaak gakkk gak bakal di marahin Pak Wonwoo”

”....”

“Okesipppp”

Soonyoung menutup teleponnya dan melemparkan senyuman paling polos yang ia punya kepada Wonwoo.

K.O

Wonwoo tidak ada perlawanan.


Setelah mengobrol setengah jam bersama Yeji di ruangan Wonwoo, tentu saja di sofa tamu andalan Soonyoung yang ada di pojok ruangan dan ditemani dengan puding coklat kesukaannya, ia kembali bermain hpnya sendiri melihat-lihat cuitan orang di twitter atau sekedar membuka akun makanan yang ada di instagram karena Yeji yang harus kembali bekerja. Sementara Wonwoo masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya di kursi utama.

“Misi Pak” sapa seseorang berkeperawakan kecil namun memiliki badan yang cukup kekar untuk ukurannya, masuk ke ruangan Wonwoo.

“Gimana ji?”

“Mandala nggak mau kasih, Pak”

“Yaudah ntar gue bilang Claire aja biar dia mintain sama atasannya”

“Yah Pak tau gitu langsung aja pake orang dalam kemarin” kata Jihoon duduk di depan Wonwoo.

“Kalau lo bisa kan ngapain gue suruh orang lain, lagian gue udah kebanyakan minta tolong sama si nyai”

“Hahaha masih suka rewel dia, Pak?”

“Nggak, kan sudah ada pawangnya” Wonwoo kemudian menyerahkan beberapa berkas yang sudah selesai ia tandatangani untuk divisi IT yang di bawahi oleh Jihoon.

Jihoon mengedarkan pandangannya ke ruangan Wonwoo dan betapa terkejutnya Jihoon ternyata ada orang lain selain mereka berdua yang ada disana, ditambah orang itu dengan santainya menyilangkan kaki di atas sofa Wonwoo.

Mata keduanya bertemu dan seperti ada kilatan memori di kepala Jihoon yang terlintas saat wajah familiar yang dijumpa.

“Kak Ujik!”

“Yoni?”