DESSERT


Keduanya memasuki lift dari lobby utama menuju lantai 25 hotel tersebut, sudah pukul 11 malam dan tidak terlalu banyak pengunjung hotel yang berlalu lalang.

Tiba-tiba saja suasana menjadi canggung bagi Soonyoung, ia menjaga jarak dari Wonwoo dan berdiri satu meter di sebelah kiri, Wonwoo sendiri pun hanya diam menatap lurus pintu lift yang mulai tertutup dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam kantung celananya.

Soonyoung melirik Wonwoo dengan anak matanya berharap ada sesuatu yang bisa memecah keheningan namun nyatanya tidak ada ekspresi sama sekali dari sana, bahkan menoleh saja pun tidak.

Soonyoung akhirnya berdeham. Mencoba peruntungannya.

“Daddy” cicitnya kecil.

Tidak ada sahutan.

Ia diam kembali.

.

.

.

Lift berhenti dan kemudian terbuka di lantai 5, ada sekitar enam orang yang masuk secara bersamaan membuat luas lift tersebut menyusut dan membuat Soonyoung harus bergeser untuk orang lain. Wonwoo yang melihat itu langsung menarik pinggang Soonyoung membuatnya berdiri di hadapan Wonwoo namun dengan posisi membelakangi. Soonyoung berubah kaku saat pantatnya terasa bergesekan dengan sesuatu yang sudah setengah menegang dari dalam celana Wonwoo yang berhimpitan dengannya.

Wonwoo sendiri masih dengan posesif memegang pinggang Soonyoung di tangan kanannya dan menekan pinggulnya lebih dalam ke belahan pantat Soonyoung, sengaja agar Soonyoung tau bahwa ada yang sudah menunggunya di bawah sana.

Soonyoung hanya bisa menelan air liurnya dalam diam, ia tidak berani bergerak sama sekali karena pasti itu akan menimbulkan gesekan yang lebih kuat lagi.

Entah sengaja atau tidak tapi tiba-tiba saja Wonwoo berbisik di telinga kiri Soonyoung dengan sangat pelan,

“Rasanya...saya pengen ngewe kamu di depan orang-orang ini” Seketika kemapuan bernapas Soonyoung berhenti, lehernya tercekat dan oksigen tidak dapat ia hirup dengan benar lagi.

Sudah gila.

Dan Wonwoo menyunggingkan satu senyuman tipis di unjung bibirnya.

Di lantai 10 semua orang tadi turun dan tinggal lah Soonyoung dan Wonwoo kembali berdua.

Buru-buru Wonwoo menekan tombol berhenti sesaat setelah pintu lift tetutup dan langsung mengkungkung Soonyoung dengan kedua tangannya.

“Kamu tau...” Ujar Wonwoo tepat di depan bibir Soonyoung yang tak sengaja terbuka kecil karena terkejut. “....baju ini sangat mengganggu saya dari tadi” Wonwoo menarik keluar ujung inner baju Soonyoung yang berbahan organza tipis dan agak terawang dari celananya, membuat kain itu tersingkap memperlihatkan sedikit kulit pinggul Soonyoung yang putih mulus.

“Kenapa harus memilih yang tipis seperti ini, hmm?” Tanya Wonwoo semakin membuat Soonyoung terpojok.

Ia sendiri hanya menggeleng polos.

“Menolak setelan warna merah bisa, tapi kenapa menolak pakaian tipis ini tidak bisa?” Tanya Wonwoo lagi dengan tangannya yang sekarang berani membuka kancing inner Soonyoung yang paling bawah. Memberi akses tangan ber-uratnya menyentuh perut rata Soonyoung.

“Daddy lift-nya” ujar Soonyoung saat merasa tangan besar itu mulai naik ke dadanya.

“Kenapa?”

“Nanti ada orang yang mau naik juga kasian”

“Saya gak peduli?” Kemudian Wonwoo menyapu gundukan di dada Soonyoung membuat pemiliknya menggigit bibir bawahnya sendiri menahan desahan.

“Kenapa di tahan, baby?”

“Takut ada orang”

“Gak mungkin”

Wonwoo kembali menyentuh puting Soonyoung, kali ini dengan ujung jempolnya membuat gerakan memutar di pucuk puting yang mulai menegang itu.

“Daddy...” Soonyoung merengek, ia sudah menyandarkan kepalanya pada dinding lift yang keras dan dingin.

Wonwoo tersenyum, ia menciumi leher Soonyoung yang terekspose karena pemiliknya yang terus-terusan mengangkat kepalanya karena nikmat cubitan-cubitan kecil Wonwoo di putingnya.

Selama mencium leher Soonyoung tidak ada hentinya Wonwoo membisikan kalimat erotis yang membuat Soonyoung semakin kepanasan.

“Kamu seksi banget, baby” Wonwoo menjilat dada Soonyoung yang memang bentuk kerahnya berbentuk huruf V.

“Gimana bisa mulut kecil ini bikin kontol saya masuk semua?” Wonwoo menggigit bibir Soonyoung dan menariknya pelan kemudian menjilatnya.

“Baby pantat kamu tambah kenyal pengen saya tampar” Wonwoo meremas kedua bongkahan pantat soonyoung dengan kedua tanggannya.

Banyak bisikan erotis Wonwoo yang semakin membuat Soonyoung memanas dan penisnya berkedut.

“Suka diginiin sayang?” Sekarang Wonwoo memengang ujung penis Soonyoung yang sudah tegang sempurna di balik celananya.

Soonyoung mengangguk lagi dan seolah mendapatkan izin, Wonwoo lalu membuka restleting celana yang lebih muda. Mengambil penis yang sudah menegang itu dan mengelurkannya dari balik celana dalam hitam yang ia kenakan.

Wonwoo lagi-lagi tersenyum miring.

“Sengaja, huh? Pakai celana dalam seperti ini?” Wonwoo menarik pinggiran tali celana dalam Soonyoung yang tipis membuatnya terhimpit di dalam.

“Aww daddy”

“Apa suka kejepit begini?”

Tidak menjawab, Soonyoung malah mendesah karena penisnya sekarang benar-benar sudah di keluarkan Wonwoo. Menggantung di hadapannya.

“Udah basah, udah merah, binal banget kamu baru juga di gesek sedikit” bisik Wonwoo lagi.

“Daddy please”

“Please apa?”

“Kocokin punya aku” mohon Soonyoung.

“Bilang yang bener”

“Daddy please kocokin kontol aku, gatel daddy~” kembali Soonyoung memohon dengan napsu yang sudah diujung puncak kepala dan sendi-sendi tulangnya yang mulai melebur.

“Good boy” Kemudian Wonwoo menurutkan sedikit lagi celana Soonyoung sebatas pipi bokongnya dan bagian depan sebatas twistball-nya agar bisa ikut di keluarkan dari celana dalam tipis itu.

Wonwoo turun berlutut di hadapan Soonyoung bukan untuk melamarnya namun untuk menghisap penis tegangnya.

Ia mengocok pelan terlebih dahulu kulit penis yang menyelimuti daging putih yang mulai kemerahan itu, memeberikan friksi yang membuat Soonyoung seketika merentangkan tangannya mencari tumpuan pada dinding lift di sebelah kirinya karena kedua kakinya yang sudah terasa kebas tak mampu menopang berat tubuhnya lagi atas nikmat yang barusan diberikan oleh jari-jari panjang Wonwoo.

“Mau mulut daddy”

“Sabar. Jangan perintah saya” balas Wonwoo yang melihat Soonyoung dari bawah saat ini. Rambut merah Wonwoo menambah gairah sex Soonyoung semakin memuncak karena Wonwoo benar-benar terlihat seksi dengan tatanan dan warna rambut seperti itu.

Wonwoo mengambil ujung inner Soonyoung yang terjuntai di depan hidungnya dan menyuruhnya untuk memegang itu. Ia menurut, Soonyoung menarik inner bajunya ke atas membuat perut ratanya terekspose.

Dan dalam detik berikutnya ujung penis Soonyoung sudah di kulum oleh lidah basah Wonwoo.

Ia menjilati penis Soonyoung dengan sangat lambat, menyiksa yang lebih muda.

“Haaah” Soonyoung melepas desahan pertamanya.

“Enak di sepongin, baby?” Tanya Wonwoo dengan penis Soonyoung yang masih menempel di lidahnya.

Soonyoung mengangguk, kepala masih terdongak ke atas.

Wonwoo kembali mengulum penis Soonyoung yang sepenuhnya sudah memerah dan bengkak. Menghisapnya keluar masuk, terkadang menyisakan ujungnya untuk di jilat memutar sebelum di kulum lagi.

Wonwoo terus memompa penis Soonyoung dengan mulutnya, membuat Soonyoung semakin menggelinjang, bahkan kepalamya sudah beberapa kali ia banting ke kiri dan kanan menahan nikmat yang Wonwoo berikan di bawah sana.

Pada kulumannya yang entah sudah berapa puluh kali, penis Soonyoung terasa semakin membengkak dan tubuhnya pun sudah bergetar beberapa kali yang menandakan Soonyoung akan keluar sebentar lagi. Dan tepat saat Soonyoung mengatakan,

“Daddy aku mau-”

Wonwoo melepas kulumannya pada penis Soonyoung, menaikan celana dalamnya dan menutup resletingnya lagi. Merapihkan baju Soonyoung dan mengelap bibir bekas ia memberikan blowjob pada Soonyoung dengan punggung tangan kirinya dan langsung menekan tombol naik membuat lift kembali beroperasi dan melanjutkan tujuan ke lantai selanjutnya. Kemudian bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.

Di belakangnya Soonyoung tercengang dan hampir merosot dilantai dengan aksi tiba-tiba Wonwoo yang menghentikan kulumannya tepat sebelum Soonyoung keluar. Ia tidak habis pikir ada orang sekejam itu.

Kurang ajar. Batin Soonyoung.

Saat keluar dari lift merekantak sadar ada kamera cctv yang merekam perbuatan kotor mereka disana.

.

.

.

Di kamar hotel Soonyoung langsung berlari masuk saat Wonwoo membuka pintu kamarnya dan dengan kilat Soonyoung membanting tubuhnya di atas kasur dengan posisi bertelungkup.

Tidak tinggal diam, Wonwoo langsung menarik kaki Soonyoung itu dan membuka celanannya paksa.

“Daddy stop!” Kata soonyoung menolak. Tapi sudah jelas tidak dihiraukan oleh Wonwoo.

Soonyoung sudah setengah telanjang, celananya terlepas menyisakan jas dan innernya serta celana dalam hitam yang lebih terlihat seperti lingerie.

“Daddy ih! Diem dulu!” Akhirnya ia bisa melepaskan diri dari cengkraman Wonwoo dan melarikan diri ke ujung tempat tidur dan menutupi bagian bawahnya yang sudah hampir telanjang dengan bedcover, membuat Wonwoo kini berdiri tegap di depan tempat tidur bertolak pinggang melihat kelakuan baby-nya ini.

“Apa? Mau bilang apa?” Tanya Wonwoo kesal.

“Jangan marah. Gak boleh marah. Daddy di larang marah soalnya aku yang harusnya marah” sungut Soonyoung.

“Fine”

“Daddy janji mau cerita, jelasin semuanya ke aku tentang hari ini. Otak aku kecil daddy aku gak pinter kaya daddy, aku gak bisa mencerna semua kejadian dari tadi siang. Aku bingung” jelas Soonyoung panjang lebar.

Wonwoo menghembuskan napasnya.

Kemudian berbalik menuju meja bar yang ada di ruang hotel VVIP itu, menuang satu gelas wine kemudian kembali mendekati Soonyoung lagi.

“Hari ini sudah berapa banyak minum cocktail?”

“Dua gelas” balas Soonyoung tidak berbohong.

“Berarti kuotanya udah habis”

“Aaaa daddy mau sedikit” rengek Soonyoung melihat gelas yang berisi wine ditangan Wonwoo.

“Mau?”

soonyoung mengangguk.

“Sini” panggil Wonwoo. Soonyoung mengesot di atas tempat tidurnya masih menjaga bedcover untuk menutupi pahanya.

Saat sudah ada di hadapan, Wonwoo menarik dagu Soonyoung agar ia mendongak. Wonwoo meminum wine yang ada di gelasnya, tidak ia telan namun ia berikan pada Soonyoung melalui mulunya sendiri.

Wonwoo menumpahkan isi wine yang ada di mulutnya ke dalam mulut Soonyoung yang ia cengkram dan Soonyoung meminum wine pemberian Wonwoo tersebut.

“Apa rasanya?” Tanya Wonwoo.

“Manis Daddy” balas Soonyoung.

“Good. Now sit here” wonwoo pergi ke sisi tempat tidur yang memiliki sandaran. Naik kesana membuka jasnya dan kerah jas bagian atas. Disusul Soonyoung yang ikut menghampiri.

Wonwoo melebarkan lengannya agar Soonyoung bisa bersandar padanya.

“Listen what I'm gonna say tonight because I wanna be honest to you”

“Iya daddy” balas Soonyoung yang kini bersandar pada dada Wonwoo.

“Claire....” Wonwoo menyebutkan nama itu sambil mengamit tangan Soonyoung yang ada di atas pahanya.

“Dia dulu mantan partner saya....seperti kamu”

Soonyoung paham.

”...but not anymore” lanjut Wonwoo.

“Berapa lama?” Tanya Soonyoung.

“She's the longest...2 tahun”

Damn. Batin Soonyoung.

“She was amazing, Soonyoung. A very bright young lady and surprisingly clever. I met her when she was an intern in my company”

Soonyoung masih diam mendengarkan.

“She caught my attention and at some point we made the deal...she.....she need the money for her mom”

“Her mom?” Tanya Soonyoung.

“Iya. Nyonya Lim sakit kanker payudara dan diabetes”

“You knew her mom, daddy?”

“I met her twice at the hospital”

“Where is she now?”

“She passed away, Soonyoung”

Soonyoung diam lagi dan Wonwoo melanjutkan ceritanya.

“Claire was a good listener, I could almost tell all my problems, my rants, my anxious to her, she didn't do anything, she just...sat there and listen to my stories” “She was very kind and i used to live with her, well, not like us..she lived in her own house but i felt like she was my home.....I....I was in love with her”

Ada semilir dingin menyapu kulit Soonyoung entah karena suhu pendingin yang semakin rendah atau karena mendengar pengakuan cinta Wonwoo pada orang lain barusan yang membuat perasaan Soonyoung tak nyaman. Hatinya seperti di pukul oleh benda tumpul tak kasat mata namun sakitnya nyata.

”...but I didn't realize it, i didn't know how I feel back there. I was so arrogant and I used her nothing better than just a sex partner without knowing her value. And.....I lost her” “When I treated her like a trash, showered her with money. But there's actually one guy did better job than me. He gave her his all attention, he healed her, he was there when she need me the most but being a jerk I was, I didn't even show up at her mom's funeral” “....at that point I really lost her, I lost the track and I couldn't catched up anymore as the contract got expired”

.

.

.

”.....she......she finally got married to that guy......

..........Lee Seokmin”

Soonyoung tersentak, meluruskan punggungnya dan duduk menghadap Wonwoo.

“Dr. Lee?” Tanya Soonyoung terkejut.

“Iya”

Soonyoung menutup mulutnya tak percaya. Ia tak habis pikir bagaimana bisa Wonwoo masih memiliki hubungan yang dekat dengan kedua orang itu bahkan setelah apa yang terjadi diantara mereka.

“So, dokter Lee tau kalau kak Claire dulu sugar baby-nya daddy?”

“Tau, mereka kenal karena saya bawa Claire check up rutin seperti kamu kemarin”

Soonyoung tak bisa berkata-kata lagi.

“But don't worry baby, I'm over it. We are all good now” senyum wonwoo, mengelus telapan tangan Soonyoung yang berkeringat.

“Do you still love her?”

“Hahaha ofcourse no, baby. Why would I still have a feeling for someone's wife?”

“Who knows” ujar Soonyoung lagi .

“She's my bestfriend beside Seungcheol. Ugh I hate to admit it, Cheol will over his heels if he hears it...but anyway nothing left between me and Claire, she's just my little sister. So, that's why I asked her favor to help me and you today and she agreed”

“Kenapa daddy mau cerita ini ke aku?” Tanya Soonyoung serius menatap mata Wonwoo.

“I just feel like.....I have to” “I don't want you to missunderstood if you hear it from someone else”

“Why would I, dad? We will only last for 5 months. I don't have any right to do so. It's okay if you dont want to tell me” balas Soonyoung masih sama seriusnya.

Mendapat balasan seperti itu membuat jantung Wonwoo bergemuruh kencang. Kenapa rasanya ia benci sekali dengan kalimat itu, kenapa rasanya ia tidak ingin berpisah dari Soonyoung, kenapa rasanya saat ini ia ingin merobek kertas perjanjian yang telah ia buat sendiri tempo hari.

Meluapkan emosinya, Wonwoo langsung bangkit dan menyambar bibir Soonyoung. Mengunci dan melahapnya.

“You are all mine”

Tbc...