HOME

“Daddy kenapa nih kaya bayi gede?”

“Gapapa lagi pengen peluk aja” ujar Wonwoo masih mendekap Soonyoung di sofa apartement mereka. Keduanya baru pulang dari kantor Wonwoo setelah sebelumya mampir untuk makan malam di salah satu resto favorit Wonwoo. Saat ini mereka masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi siang, belum ada yang bergerak untuk pergi mandi ataupun bebersih.

“Baby” panggil Wonwoo.

“Hm?”

“Jawabnya yang bener kalau saya panggil”

“Iya daddy kenapa?” ulang Soonyoung, melingkarkan tangannya di pinggang Wonwoo dan menyandarkan kepalanya di dada pemilik apartement itu.

“Ini gelang apa?” Wonwoo menyentuh gelang merah yang melingkar di pergelangan tangan Soonyoung. Sebenarnya ia sudah tahu bahwa itu adalah gelang yang 9 tahun lalu pernah ia berikan kepada Soonyoung.

“Oh ini hadiah ulang tahun dari teman aku”

“Masih di pake sampai sekarang? Udah jelek padahal, dekil” Wonwoo sengaja memancing reaksi Soonyoung dengan menyinggung gelang yang berbahan tali prusik yang memang sudah terlihat kusam itu.

“Soalnya ini satu-satunya hadiah dari dia”

“Siapa?”

“Ada pokoknya”

“Gak boleh saya tau?”

“Gak boleh soalnya nanti daddy cari orangnya, males”

“Kok males? Bukannya bagus kalau saya bantu cari?”

“Gak mau, nanti kalau dia ternyata udah berkeluarga gimana? Nanti terganggu gara-gara aku atau daddy cari dia. Gak enak sama keluarganya?” kata Soonyoung masih bersandar pada Wonwoo.

“Tau dari mana kamu kalau dia udah berkeluarga?”

“Nebak-nebak aja sih, soalnya waktu aku masih SD dia udah mau masuk kuliah apa SMA kelas 3 gitu aku lupa, berarti kan sekarang bisa aja udah menikah”

“Sotoy” kata Wonwoo menunduk dan mengecup bibir Soonyoung.

Soonyoung melirik sinis. Aneh.

“Jangan ya daddy jangan di cari” ujar Soonyoung lagi.

“Iya, tapi kalau misalnya dia yang cari-cari kamu gimana?”

“Ya gak gimana-gimana”

“Nggak kangen kamu sama dia?”

“Gimana yaa.....kalau dibilang kangen bisa sih tapi aku lebih yang kaya mau berterimakasih sama dia, Dad”

“Kenapa?”

“Let's be honest, daddy pasti udah tau asal usulku yang yatim piatu dan pernah tinggal di panti asuhan”

Wonwoo mengangguk.

“Jadi, dulu aku tinggal di Bekasi, Dad. Rumahnya depan-depanan sama kakak itu, kalau dia pulang sekolah pasti nyamperin aku ke rumah. Dulu almarhum mamah sama papah dua-duanya kerja jadi aku dititipin ke pengasuh atau kaya nanny gitu. Dia suka ajak aku main di depan rumah, kadang bawain keong-keongan atau itu kita suka main gundu, kalau kakak belum dateng aku gak mau makan siang hehe gak tau kenapa pokoknya kalo makan harus sambil main sama dia di depan rumah, nanny aku yang suapin...

terus waktu aku umur delapan tahun papa tiba-tiba ada dinas luar ke Semarang dan kebetulan mama udah ada di Semarang juga jadi disusul kesana. Karena cuma dua hari jadinya ya aku di tinggal sama nanny di rumah, kata papah kasian kalau aku ikut perjalanan jauh” Cerita Soonyoung tentang masa kecilnya, Wonwoo di sana hanya mendengarkan sambil mengelus punggung tangan yang sedang bercerita dengan sesekali menyentuh gelang merah di tangan Soonyoung.

”....waktu hari kedua nanny aku sakit jadi aku dititipin lagi ke rumah kakak di seberang rumah, aku sih seneng banget. Tidur sama kakak, makan sama kakak, main sama kakak pokoknya itu salah satu hari yang paling bahagia di masa kecil aku, gak ada yang marahin aku dan aku bisa puas main, orang tuanya kakak juga baik sama aku, aku di manjain banget seharian disana” sambung Soonyoung.

”...sampai waktu malam harinya aku dapet kabar, bukannya ketukan papah sama mamah yang jemput aku di rumah kakak tapi pak polisi yang mengabari kalau papah dan mamah kecelakan kereta api di Semarang, gerbongnya terselip dari rel kereta dan keluar jalur dan berakhir tabrakan dengan kereta api dari jalur lain. Papah mamah aku meninggal di tempat terhimpit gerbong kereta” Jelas Soonyoung, entah sejak kapan air mata mengalir di pipinya, ia sendiri bahkan tak sadar, menceritakan kejadian 11 tahun lalu itu ternyata masih bisa menyayat hatinya.

Tiba-tiba hati Soonyoung terasa remuk, dirinya yang masih berusia 8 tahun kala itu harus menerima kenyataan perih seorang diri, ditinggal oleh kedua orang tuanya dalam kecelakaan naas.

Wonwoo sebenarnya sudah tahu dengan jelas tentang cerita ini, ia bahkan ada disana memeluk Soonyoung kecil yang kala itu ia kenal sebagai Yoni, merengkuh badan kurus bocah 8 tahun itu yang harus mendengar langsung kabar kematian kedua orang tuanya.

Demi tuhan Wonwoo tidak ingin mengingatkan Soonyoung tentang masa lalu nya, ia tidak berniat sama sekali untuk mengoyak luka kering Soonyoung yang mungkin sebenarnya masih basah hingga sekarang. Awalnya ia hanya ingin membuat Soonyoung untuk mengingat dirinya namun yang didapat sekarang adalah Soonyoung yang meringkuk dipelukannya dengan air mata yang lagi-lagi membuat hati Wonwoo ikut tersayat.

Wonwoo masih diam sampai Soonyoung melanjutkan ceritanya.

”...Waktu itu kakak langsung peluk aku dan di bawa ke kamarnya lagi, entah apa yang dibicarakan oleh orang tua kakak dan pak polisi tapi setelah setengah jam, Ibunya kakak dateng ke kamar dan ngajak aku ke rumah sakit. Aku bahkan gak bisa lihat papah sama mamah untuk yang terakhir kalinya, Dad. Karena kata orang disana tubuh mereka remuk dan aku terlalu kecil untuk melihatnya jadi aku cuma bisa lihat peti jenazah kedua orang tuaku dihari terakhir itu” Wonwoo tahu, ia ingat.

”...tiga bulan setelahnya aku di jemput sama orang dari dinas sosial buat ikut ke panti asuhan, awalnya kakak dan orang tuanya gak mau. Mereka mau rawat aku seperti anak mereka sendiri dan aku tau betul mereka tulus mau merawatku. Tapi aku sadar daddy, walaupun aku masih kecil aku paham aku ini bukan siapa-siapa, punya hubungan keluarga aja enggak dan waktu itu kakak juga mau berangkat ke Jogja karena dia keterima kuliah disana, jadi aku pikir waktu itu untuk apa aku di sana membebani kedua orang tua kakak, bahkan anaknya sendiri aja harus tinggal berjauhan dari mereka masa aku yang notabennya cuma orang lain mau tinggal disana” Soonyoung melanjtukan ceritanya.

“Astaga Soonyoung” Wonwoo tidak habis pikir, Soonyoung kecil memiliki pemikiran seperti itu. Ia lalu memeluk kepala Soonyoung yang masih bersandar padanya, menciumi pucuk kepala yang lebih muda.

“Kalau libur semester kakak pulang ke Bekasi dan pasti ke panti kunjungin aku, suka bawa oleh-oleh dari Jogja aku seneng banget. Nah pas ulang tahun yang kesepuluh bertepatan sama libur semester dia juga mampir, yang mahasiswa di kasih libur hampir dua bulan itu loh dad, aku di ajak jalan makan ayam sama kakak terus di kasih gelang ini. Katanya ini cuma ada dua satunya buat aku satunya buat kakak soalnya dia custom di Jogja, padahal ya dad gelang ginian mah banyak kalau mau bikin juga di abang-abang depan SD” kini Soonyoung mulai tertawa mengingat kejadian saat ia berulang tahun kala itu. Sedihnya memudar sesaat.

“Kemarin-kemarin gak di pakai, kok baru sekarang?”

“Aku kadang-kadang doang pakainya, seringnya di simpen takut rusak soalnya dad”

“Terus kenapa hari ini di pakai?”

“Hari ini kakak ulang tahun”

Wonwoo terkejut ia bahkan tidak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya, ia benar-benar lupa.

Wonwoo menegapkan badannya yang membuat Soonyoung juga harus bangkit dari sandaran dan ikut duduk dengan benar.

Mereka saling berpandangan tenggelam dalam perasaan masing-masing. Entah apa yang sedang merasuki Wonwoo tapi perasaan itu mucul semakin jelas, perasaan untuk memiliki Soonyoung seuntuhnya dan tak ingin melepaskannya lagi. Cukup satu kali Wonwoo kehilangan Yoni, ia tidak ingin kehilangan Soonyoung lagi. Dua nama, satu sosok dan ribuan rasa.

.

.

Keduanya berciuman, mencari jawaban atas semua tanya.

.

.

.

“Baby” saat Wonwoo melepas ciumannya.

“Iya daddy?”

“Will you forget him for me?”

“Never”

Wonwoo tertawa kencang membuat Soonyoung menyesali ucapannya barusan. Takut-takut salah bicara karena baru sadar saat ini ia sedang bersama Wonwoo. The Jeon Wonwoo sugar daddy-nya.

“Okay”

“Apanya dad?”

“Kalau buat si kakak itu dapat dispesasi”

“Daddy gak jelas” Soonyoung kembali memeluk Wonwoo dan keduanya kembali saling berdekapan di sofa besar itu.

“Boleh cerita lagi?” tanya Soonyoung. Rasanya ia sedang berada di mode nyaman, ia bisa dengan leluasa menceritakan masa lalunya dengan Wonwoo. Bahkan dengan Jeonghan pun Soonyoung tidak pernah bercerita sedetail ini.

“Boleh”

“Sebenernya daddy Wonwoo itu bukan sugar daddy pertama aku”

Wonwoo terkejut tapi berusaha tenang.

“Gimana?” tanya Wonwoo.

“Kalau dilihat-lihat dari konsepnya sebenernya kakak itu Sugar Daddy pertamaku hehehe soalnya dia juga bayarin aku sekolah kaya daddy cuma bedanya dia gak cium-cium aku” Soonyoung tertawa menggoda Wonwoo.

Aneh. Perasaan Wonwoo aneh. Ia senang dengan apa yang di dengar tapi juga merasa cemburu dengan dirinya yang ada di masa lalu.

“Yaudah sana cari kakak kamu”

“Yee dibilangan aku gak mau, gak enak sama keluarganya

lagian udah cukup kakak sekolahin aku sampe lulus SMA bahkan semua keperluanku dia yang penuhin. Gak mau lah aku susahin dia terus, Dad”

“Padahal dia ikhlas” celetuk Wonwoo yang hanya mendapat lirikan singkat Soonyoung, tak paham. “Terus kenapa sekarang lost contact?” tanya wonwoo lagi.

“Terakhir ketemu kakak bilang dia keterima kerja dan ada usaha sama temennya jadi semenjak itu kita jarang ketemu karena kesibukan masing-masing juga tapi dia gak pernah lupa setiap bulan buat kasih uang sekolah sama keperluan walaupun dia gak dateng ke panti. Terus jadi semakin jarang sampai aku lulus SMA dan mutusin buat keluar dari panti dan kuliah sendiri”

“Kamu gak pernah cari kakak kamu itu?”

“Aku sempet ninggalin nomer telepon di panti jaga-jaga kalau kakak nyari aku ke sana, tapi gak tau mungkin nomor aku ilang di panti atau kakak emang gak cari aku disana” jawab Soonyoung jujur.

Wonwoo mencari Soonyoung ke sana tapi tidak ada satu informasi pun yang Wonwoo dapatkan berbuah hasil. Untuk nomor telepon yang Soonyoung bilang tadi, Wonwoo tidak pernah mendapatkan nomor itu bahkan setelah berkali-kali ia bertanya di sana.

Percakapan itu berhenti disana, Wonwoo tidak mengulik lebih jauh. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.

.

.

.

.

“Daddy”

“Iya?”

“Ngewe yuk?”

Setelahnya Wonwoo mengangkat tubuh Soonyoung dari sofa itu dan menghilang dibalik pintu kamar utama.