SIGN


Sejak mata kuliah terakhirnya selesai Soonyoung masih terduduk di kursi, menatap satu lemari pendingin besar yang berada di pojok kelas. Menatap tidak percaya bahwa lemari pendingin itu dikirimkan oleh Wonwoo untuk dirinya.

Soonyoung tidak suka seperti ini, terlalu berlebihan baginya. Ia harus bicara pada Wonwoo sesegera mungkin. Dengan itu, iya bergegas menyampirkan tas ranselnya di bahu kiri dan keluar dari kelas. Sedangkan di ujung sana ada Mingyu yang ternyata dalam diam memperhatikan gerak-gerik Soonyoung sejak tadi.

.

Soonyoung menutup cepat pintu mobil HRV putih baru miliknya saat sampai di parkiran kantor Wonwoo. Ia simpan jauh-jauh rasa minder yang menggerogoti perasaan saat melewati beberapa karyawan yang ada di kantor besar itu.

Soonyoung langsung menekan tombol dengan angka 14 menuju ruangan Wonwoo.

.

“Soonyoung?” Panggil Seungcheol saat melihat Soonyoung datang menghampiri mejanya yang berada di depan ruangan Wonwoo.

“Daddy ada nggak Pak Seungcheol?”

“Ada di dalem, kamu ga kabarin mau datang?”

Soonyoung menggeleng. “Lagi meeting nggak?”

“Enggak”

“Oke makasih pak” setelahnya Soonyoung langsung pergi ke ruangan Wonwoo tanpa basa-basi lagi pada Seungcheol, membuat sekretaris Wonwoo itu keheranan.

.

.

.

“Daddy, we need to talk” Ujar Soonyoung masih sambil berjalan dari depan pintu Wonwoo. Yang di datangi terkejut, ia melihat pada jam Rolex seharga mobil sedan keluaran Jepang yang melingkar di tangannya, masih setengah 3 sore dan kenapa ada Soonyoung yang tiba-tiba datang ke kantornya?

Wonwoo mengecek ponsel apakah mungkin dia melewatkan pesan atau telepon Soonyoung. Namun, nihil Soonyoung memang datang tanpa memberi kabar.

“Have a seat baby. Tarik napas dulu” kata Wonwoo bersandar pada kursi kerjanya yang nampak mahal dan nyaman.

Soonyoung masih berdiri di depan meja Wonwoo menatapnya lurus. Pipinya memerah karena suhu tubuh yang meningkat akibat sejak tadi berjalan dengan tergesa-gesa.

Wonwoo mengangkat telepon kantor yang ada di atas mejanya menghubungi seseorang.

“Yeji, bawakan air putih dingin ke ruangan saya dan... puding cokelat?” Wonwoo malah memberikan nada bertanya di akhir kalimatnya dan pertanyaan itu sebenarnya lebih ditujukan kepada Soonyoung. Soonyoung mengangguk atas pertanyaan Wonwoo barusan walaupun dengan wajah yang masih ditekuk.

“Kenapa sayang?” Tanya Wonwoo setelah menutup teleponnya.

“Ntar dulu tunggu air dinginnya dateng”

“Oke” setelahnya Wonwoo terus memandangi Soonyoung yang hari ini terlihat berbeda. Wonwoo tidak terlalu yakin.

.

.

.

Setelah menghabiskan setengah gelas air es, Soonyoung kembali menatap lurus Wonwoo.

“Daddy, aku mau revisi kontrak” “Kontrak ini gak adil buat aku or do you actually have something behind me dad?”

“Kenapa bisa sampai berpikir begitu?”

“Nope. I feel like......there's something” balas Soonyoung.

“Gak ada”

“Well, okay then. Ayo revisi kontrak ini. Ada softfilenya di komputer daddy?”

“Ada. Di gdrive”

“Good” kemudian Soonyoung bangkit dari kursinya dan menghampiri Wonwoo.

“Mana dad?” Soonyoung berdiri di samping Wonwoo menghadap komputer.

Wonwoo membuka file kontrak yang ia simpan disalah satu folder pribadinya di gdrive.

Menunjukkan Soonyoung kontrak tersebut.

“Hmm oke” Soonyoung kembali ke kursi di depan meja Wonwoo, menyeret kursi tersebut.

“No baby. Sit here” ia menepuk pahanya.

Soonyoung melirik sebentar berpikir.

“No teasing?”

“Fine” balas Wonwoo.

Soonyoung akhirnya duduk di atas pangkuan Wonwoo, mengoprasikan komputernya.

“Ini...yang ini dad 'baby tidak boleh menolak segala pemberian dari daddy termasuk hadiah dan permintaan kinks'” Soonyoung menarik napasnya saat Wonwoo melingkarkan lengannya di perut Soonyoung. “Aku gak akan menolak apapun pemberian atau permintaan daddy but please jangan kaya tadi. Aku kaget, bingung kasih penjelasan sama temen-temen aku. Selama ini mereka tau aku yatim piatu dad, gak punya keluarga. Tapi tiba-tiba tadi siang daddy kirim satu kulkas chatime, aku panik apa yang harus aku jelasin ke temen-temen aku”. “Kalau aku bilang dari teman, teman macam apa yang mau kirim es boba sebanyak itu? Keluarga? Om? Om siapa? Om hidung belang? Well, ga sepenuhnya salah sih” Soonyoung sarkas. “But, dad please. Jangan kaya gini lagi”

“Okay”

“Hah?” Soonyoung menoleh pada Wonwoo yang memeluknya dari belakang.

“Kamu mau begitukan?”

Soonyoung mengangguk.

“Yasudah. Oke”

Asem banget Secepat itu?

“Lanjut..” kata Soonyoung lagi. “Harus izin kalau mau minum alkohol. Seriously?”

“Kenapa?”

“Gak bisa nawar dad?”

“Yang ini gak bisa”

“Ah why?!!” Rengek Soonyoung.

“Two are enough”

“Ishh” Soonyoung kalah.

“Ada lagi?”

“This one. Bener-bener gak adil” kata Soonyoung memblok kalimat pada point terakhir. “Baby dilarang untuk memiliki hubungan romantik dan seksual selain dengan daddy demi hubungan sex yang sehat di dalam kesepakatan ini” sinis Soonyoung.

“Kenapa dengan itu?”

“Jadi kalau begitu daddy doang yang boleh tiba-tiba pacaran terus tidur sama orang lain selain aku? Sedangkan aku gak boleh?!”

“Emang kamu mau pacaran sama saya?”

“Ini daddy nembak aku?”

“Enggak. Saya cuma nanya”

“Cih”

Wonwoo mencapit bibir Soonyoung yang terus mengomel dengan jarinya.

“Berisik. Jadi mau kamu seperti apa?”

“Peraturan ini juga berlaku buat daddy. Daddy gak boleh punya pacar dan have sex sama orang lain selama kontrak ini masih berlaku” tegas Soonyoung.

Wonwoo diam.

“Gimana dad?”

“Oke”

“Aku juga mau sex yang sehat gak mau bekas-bekas orang main celup sembarangan”

“Who teach you to speak like that?”

“Gak ada”

“That sentence need a punishment”.

“EHHHH?”

“Sudah negonya?”

“Udah”

“Now what?”

“Yaudah oke aku setuju. Ingat ga boleh bohong” Soonyoung masih meneruskan ketikkannya. Menambahkan revisi dari hasil negosiasinya dengan Wonwoo barusan.

“Printnya yang mana nih dad?”

Setelahnya Wonwoo menunjukan pilihan printer yang berfungsi. Dan jadilah copy kontrak yang di setujui kedua belah pihak.

Soonyoung menandatangani kontrak tersebut, begitu pula Wonwoo.

“5 months, huh?”

“Yes, five months” jawab Wonwoo. Keduanya berpandangan.

Terlalu singkat. Ucap Soonyoung dalam hatinya saat mata saling bertemu.

Setelah itu tidak ada lagi suara terdengar, hanya mata yang saling menatap.

“Kiss me, baby”

Dan keduanya pun saling berpagut menyalurkan rasa yang sejak tadi tertahan.