milkyways1707

Langit sudah kembali gelap saat Soonyoung mencuci gelas terakhirnya bekas makan malam bersama Wonwoo. Rumah mereka hanya memiliki satu sumber cahaya berwana kuning temaram dari lampu darurat yang di bawa Wonwoo, dayanya berasal dari batu baterai. Jika satu lusin batrai sudah habis, mereka masih ada satu persediaan sumber daya lain yang berasal dari aki, lagi-lagi hasil kreatifitas Wonwoo.

Soonyoung membawa lampu itu menyusuri ruang tengah menuju kamarnya setelah selesai mencuci piring. Derit lantai kayu selalu muncul di setiap kakinya melangkah.

Ada Wonwoo di kamar itu sudah mengambil posisi duluan dengan kepala bertumpu pada satu lengannya yang menjadi alas sedangkan tangan lain menonton video offline yang memang sudah ada di galerinya sejak lama.

“Malah nonton video kucing, kucing yang di sini dianggurin” sinis Soonyoung, meletakkan satu-satunya sumber cahaya mereka di sudut ruangan.

“Sini nyong” ajak Wonwoo meraih telapak tangan Soonyoung yang berdiri di samping tempat tidur. “Kucing yang ini ambekan sih” godanya.

Soonyoung mendecih namun tidak menolak untuk ikut bergabung bersama Wonwoo di tempat tidur yang sama. Udara semakin dingin di malam hari ditambah cuaca yang hujan seharian.

Wonwoo memeluk perut Soonyoung dari belakang, dia bisa mencium wangi dari tubuh yang lebih pendek menguar dari lehernya dengan posisi seperti ini.

“Doa lo apa malam ini?” tanya Wonwoo halus. Yang dipeluknya menyamankan posisi dalam rengkuhan Wonwoo.

“Doa gue semoga besok pagi gue masih bisa bernapas kaya malam ini” jawabnya pelan dengan helaan napas berat.

Wonwoo mengangguk kemudian mencium pundak Soonyoung yang masih dilapisi baju kaosnya.

“Nyong...”

“Hmm?”

“Gue boleh tanya gak?”

“Boleh”

“Kenapa lo gak ikut aja sama keluarga nyokap lo? Kalo dari yang gue tangkep mereka sebenarnya punya niat baik buat ngelindungi lo” ucap Wonwoo hati-hati ia tidak mau Soonyoung salah paham.

“Gue gak mau terisolasi nu, gue mau hidup nomal di sini punya temen, kuliah yang tinggi, kerja di gedung besar, meeting sama kolega dan bisa berkeluarga dan liat anak gue turun sekolah” balasnya. “Kalo di sana.....mau jadi apa?” lanjutnya lagi. “Lagian gue gak percaya mitos dan dewa, walaupun ya...wujud gue begini. Gue yakin pasti ada cara buat menghentikan semuanya “.

“Lo juga gak percaya sama mate lo?” tanya Wonwoo lagi.

“Enggak” jawabnya singkat.

Oke.

Wonwoo tidak ingin bertanya lebih jauh, mereka masih punya banyak waktu dan malam ini rasanya sudah cukup untuk mereka berdua. Hari yang panjang untuk sebuah pelarian.

“Deketan sini, nyong. Ntar lo jatuh ke bawah ribet lagi gue ngebenerin lantai” canda Wonwoo.

Soonyoung kemudian berbalik, menatap mata Wonwoo nyalang.

“Galak bener kucing”

“Diem nu, gue ngantuk” balas Soonyoung kemudian menenggelamkan wajahnya di dada bidang Wonwoo.

“Night, nyong” ucap Wonwoo kemudian mencium lamat puncak kepala Soonyoung dan memeluk yang lebih kecil erat.

Hari masih gelap ketika Soonyoung mengunci layar ponselnya setelah mengirim pesan singkat pada teman satu kamarnya untuk rencana kepergian mereka di pagi buta ini. Hujan turun begitu deras membuat langkah terburu keduanya yang bergegas ke lahan parkir kompleks asrama menjadi semakin berat. Petir saling bersahutan seperti hendak membelah langit dan memporak-porandakan sekitarnya.

Soonyoung merapatkan jaket yang ia kenakan dari kursi penumpang ketika Wonwoo mengecek kursi belakang melihat apakah barang bawaan mereka sudah dimasukkan semua, tak banyak yang mereka bawa hanya beberapa lembar pakaian dan persediaan makanan instan. Tangan yang lebih kecil tak hentinya bergetar, ia bahkan tak tidur semalaman pikirannya melayang membayangkan atas segala ancaman dan peringatan yang ia terima dari loker asramanya kemarin.

Kemarin pagi saat tugas Soonyoung dan Wonwoo piket membersihkan gedung asrama, dirinya yang bertugas membersihkan loker mahasiswa kembali menemukan amplop surat yang cukup dikenalnya dari beberapa tahun lalu. Amplop surat yang secara berkala yang mungkin datang dari kaum Hybrid ibunya berisikan peringatan dari potongan kata yang sulit diterjemahkan maksudnya.

Total ada delapan kali Soonyoung menerima surat yang sama dengan isi berbeda dalam rentang 5 tahun terakhir.

Dalam pencarian Soonyoung, kaum hybrid mengincarnya untuk kembali pada mereka, mengasingkan diri dari manusia yang kejam. Menyelamatkan Soonyoung dari manipulasi dan kelicikan manusia egois. Selain itu, dalam kaum mereka hybrid yang terlahir ke dunia sudah memiliki mate-nya masing-masing yang bukan dari bangsa manusia, Dewa memberikan tanda kepemilikan pada keduanya dan akan muncul saat keduanya bertemu di malam ketika bulan kembali bersinar penuh dan panas menguar dari tubuh mereka untuk saling memiliki dan malam saat keduanya harus berhadapan di depan Dewa untuk penyatuan sakral. Namun, jika salah satu atau keduanya menolak mereka akan mati entah karena kutukan Dewa atau bahkan mati di tangan manusia.

15 Juni 2016 Bulan penuh. Ranting hancur. Permohonan.

21 Desember 2016 Mereka tahu dan mereka mencarimu.

17 Juli 2017 Teagan dan Dewa.

9 September 2018 Kembalilah, ada darah di sini.

17 Januari 2019 Semenanjung dengan dengan tiga laut, menyebrang atau mati.

20 Agustus 2020 Mereka melihatmu.

31 Desember 2020 Lari.

25 November 2021 Hilang. Pohon Oak. Hilang.

Pesan-pesan itu tidak hanya berisi ancaman namun juga peringatan. Anehnya, dari pesan itu pula Soonyoung kerap kali dapat menghindar dari incaran kaum ibunya, seperti ada orang lain ikut memperhatikannya namun tidak menginginkannya untuk kembali pada tempat asal ibunya, karena pada peringatan surat ke-6 adalah waktu yang sama ketika Soonyoung pertama kali bertemu dengan orang dengan jubah hitam panjang dan separuh wajah tertutup topi pandora menyudutkannya di gang sempit dekat kampus berusaha mengajaknya pergi ke sesuatu tempat. Beruntung, Soonyoung ingat pesan dari surat itu dan dengan sekuat tenaga pergi dari jangkauan pria misterius dan bersembunyi di dalam pasar tradisional dengan banyak orang berlalu-lalang membuatnya tenggelam dalam kerumunan.

Pesan ketujuh Lari adalah ketika Soonyoung memutuskan untuk keluar dari kost lamanya karena mendapati orang asing yang mengintainya. Soonyoung berlari ke asrama kampus dan berakhir tinggal bersama dengan Wonwoo, Soonyoung perlu tinggal di tempat yang lebih ramai untuk menyamarkan keberadaannya. Lagi-lagi surat itu memberikan petunjuk kepada Soonyoung daripada ancaman yang datang.

Sampai pada surat terakhir yang Soonyoung terima kemarin ia akhirnya kembali mengikuti petunjuknya, karena setiap surat itu datang nasib buruk bagi Soonyoung ikut menghantui, ancaman dari kaum ibunya semakin menjadi dan orang-orang yang mencarinya pun semakin beragam dan terang-terangan menghampiri, seperti kejadian tempo hari saat seorang laki-laki mengetuk pintu kamar asrama mereka menanyakan keberadaan Soonyoung dan beruntung waktu itu hanya ada Wonwoo di sana.

“Nu, hati-hati” ujarnya memandang nanar wajar Wonwoo yang menegang, mencoba fokus menyetir mobil milik Soonyoung di bawah deras hujan dan ledakan petir di langit.

Wonwoo menarik napasnya dalam mengontrol aliran darah yang mengalir cepat. Wonwoo paham betul apa yang sedang mengincar Soonyoung walaupun masih samar dalam benaknya, setiap pencarian Soonyoung tentang masa lalu ibunya, keluarganya bahkan kaumnya tidak pernah lepas dari pengamatan Wonwoo. Hampir seluruh rahasia Soonyoung sudah Wonwoo ketahui.

Tadi malam setelah membaca pesan dari surat terakhir yang dikirim untuk Soonyoung, Wonwoo membantu Soonyoung menterjemahkan peringatan itu. Hilang. Pohon Oak. Hilang

Butuh hampir satu jam keduanya menguras otak dengan puluhan jendela internet yang dibuka mencari teka-teki di balik Pohon Oak. Mulai dari legenda Pohon Oak, suku yang pertama kali menemukan Pohon Oak, arti dari Pohon Oak, khasiat mengkonsumsi daun Pohon Oak sampai akhirnya Wonwoo melepaskan kacamata bacanya dan membenturkan kepalanya di atas meja belajar Soonyoung.

“Jangan nyong” ucap Wonwoo dengan keningnya masih di atas meja belajar Soonyoung.

“Kenapa, nu?” tanyanya mengguncang pundak Wonwoo pelan.

“Besok subuh jangan pulang ke rumah bokap lo

Soonyoung mengerutkan alisnya tak paham karena satu-satunya tempat aman untuk saat ini baginya adalah rumah ayahnya. Rumah lain yang berbeda dari Mansion milik keluarga Kwon yang memang di bangun oleh ayahnya.

“Pohon Oak.....” “Kita pergi rumah nyokap lo” akhirnya ujar Wonwoo mengangkat kepalanya dan menatap mata Soonyoung.

Terasa ada yang menghantam keras dada Soonyoung tidak begitu sakit namun cukup membuat sesak.

Ia baru sadar akan maksud surat itu, Pohon Oak adalah petunjuk untuk menuju rumah ibunya yang berada di pinggiran kota. Rumah kayu yang berada cukup jauh di dalam hutan, berada sedikit di atas dataran tinggi dengan di kelilingi pohon oak.

Adalah rumah milik ibunya yang Soonyoung temukan satu tahun lalu bersama Wonwoon hasil dari pencarian dan menterjemahkan teka-teka dari catatan harian ibunya.

Soonyoung sudah 2 kali ke rumah itu, terakhir kali kepergiannya ke sana adalah bersama Wonwoo menggali informasi lain yang mungkin bisa ia temukan namun nihil. Satu-satunya informasi yang bisa Soonyoung dapatkan adalah bahwa rumah tersebut digunakan ibunya saat lari dari kaum Hybrid di malam saat bulan penuh ketika ibunya akan melakukan upacara di hadapan Dewa. Rumah yang menjadi tempat persembunyiaanya selama beberapa tahun untuk menghindari incaran dari kaumnya.

Rumah kayu di dalam hutan tropis di pinggir kota.

Butuh tiga jam perjalanan dari pusat kota untuk sampai ke tujuan mereka hari ini. Setengah dari perjalanan pun bahkan belum mereka lewati.

“Nyong...”

“Iya nu”

“Ada gue” ujar Wonwoo masih menatap lurus dari balik kaca mobil fokus pada jalanan di depannya.

Soonyoung kembali menatap Wonwoo, rasanya takut tapi ia juga lebih tenang karena ada seseorang yang menemaninya saat ini. Tidak seperti dua tahun lalu saat Soonoyung harus bertahan sendiri.

“Gantian nyetirnya kalo lo capek, nu” suara Soonyoung parau.

“Lo istirahat aja gue oke gak masalah”

Lagi-lagi Soonyoung menatap nanar.

“Menurut lo sampai kapan ya nu gue harus hidup dalam pelarian kaya gini?” tanya Soonyoung pelan, ada suara putus asa di balik suaranya barusan.

“Sampai kita ketemu jawaban dari surat kelima lo, nyong” balas Wonwoo. “Entah kita mau nyebrang atau kita mati” lanjutnya.

17 Januari 2019 Semenanjung dengan dengan tiga laut, menyebrang atau mati.

“Kita....” cicit Soonyoung pelan bahkan Wonwoo pun tidak mendengar.


Perjalanan mereka akhirnya sampai ketika langit sudah menampakkan sinarnya, hujan sudah tidak turun sederas tadi subuh walaupun masih ada rintik yang membasahi pundak Soonyoung dan Wonwoo namun keadaanya tidak semencekam 3 jam lalu.

Mobil Soonyoung tidak dapat menembus dalamnya hutan lebih jauh alhasil Wonwoo harus memarkirkannya di tanah datar tidak jauh dari pinggir jalan namun cukup terlindungi oleh pohon-pohon tinggi di sekitarnya.

Kedua sahabat itu berjalan menyusuri tanah yang basah, bau lumut dan dedaunan tercium kentara. Sesekali keduanya harus bergandengan tangan saat melewati tanjakan licin yang bisa saja melukai keduanya.

Rambut Wonwoo sudah mulai sedikit lepek karena rintik hujan yang membasahi berbeda dengan Soonyoung yang menggunakan penutup kepala dari jaketnya untuk menghindari air hujan, namun kesulitan itu tidak menghentikan langkah keduanya untuk berjalan lebih jauh.

Setengah jam menyusuri jalan tanah yang licin mereka akhirnya sampai di depan bangunan rumah kayu dengan posisi yang cukup tinggi di atas dataran, ada satu tangga kecil yang diselimuti lumut untuk membantu mereka naik ke sana.

Rumah itu bisa diprediksi berusia lebih dari 30 tahun namun kayunya masih sangat kokoh bahkan hanya sedikit bagian yang keropos dimakan usia. Keadaanya sudah lebih baik dari beberapa waktu lalu ketika pertama kali Soonyoung menemukannya karena setiap kali ia mengunjungi rumah ini ia selalu membersihkan beberapa bagiannya bahkan meninggalkan beberapa perabotan untuk tidur dan memasak.

Suara derit terdengar saat Soonyoung membuka pintu utama, keadaan di dalam gelap hanya pantulan sinar dari luar jendela yang menembus ventilasi udara. Dingin dan sunyi.

Wonwoo yang mengikuti dari belakang kemudian menutup rapat pintu kayu itu, mengganjalnya dengan satu kayu besar berbentuk persegi berukuran hampir dua meter sebagai penghalang ganda jika ada ancaman dari luar.

Soonyoung melemparkan tas ranselnya di atas sofa tua warna coklat di ruang tengah kemudian membanting tubuhnya di sana sambil menghirup napas panjang. Sedangkan Wonwoo langsung menuju dapur mengecek semua akses masuk ke rumah ini dan memastikan jendela terkunci rapat.

Ada beberapa bagian dari jendela yang harus ia benahi karena terlihat longgar, beruntung Wonwoo sudah menyiapkan semuanya maka ia langsung memperbaiki jendala tersebut. Soonyoung memperhatikan Wonwoo dari jauh, rumah ini tidak besar sehingga ia bisa langsung melihat Wonwoo yang berada di dapur dari ruang tengah.

Tangan Wonwoo begitu cekatan melepas baut-baut berkarat dan menggantinya dengan yang baru, memukul beberapa paku agar sambungannya lebih kuat. Soonyoung sempat dibuat terhipnotis untuk beberapa saat sampai lamunannya harus buyar ketika Wonwoo memanggilnya.

“Nyong, ganti baju dulu baju lo basah”

“Lo yang lebih basah, nu”

“Gue gampang, kelar ini langsung mandi”

“Mandi pakai apa? saluran airnya rusak” balas Soonyoung menyusul Wonwoo ke dapur.

“Iya makanya gue beresin dulu, mau gue cek yang di kamar mandi sama wastafel dapur biar sekalian kotor. Kita gak mungkin sering-sering keluar rumah sini nyong, gue sanksi kalo lo kenapa-napa” ucap Wonwoo masih sibuk dengan jendela di depannya.

“Yaudah gue ke kamar dulu, siniin tas lo gue bawa sekalian”

Soonyoung kemudian menuju kamar satu-satunya di rumah ini, selimut bersih ia ambil dari lemari tua di sudut ruangan. Selimut berwarna biru tua yang Soonyoung bawa dari asramanya saat kunjungan terakhir kali ke rumah ini.

Sebenarnya, ada sumber mata air bersih yang berjarak 10 menit dengan berjalan kaki dari rumah ini sehingga Wonwoo tidak usah repot-repot memperbaiki selang airnya namun karena tidak mau mengambil resiko Soonyoung pun menuruti perkataan Wonwoo barusan. Lagi pula, keahlian Wonwoo untuk memperbaiki perkakas tidak usaha diragukan lagi, Wonwoo itu punya tangan ajaib bagi Soonyoung. Semua bisa kembali dan terlihat baru setelah mendapatkan sentuhan Wonwoo.

Tidak sadar akan waktu, Soonyoung ternyata terlelap selama hampir satu jam lamanya di atas tempat tidur dengan selimut yang ia ambil tadi.

Saat Wonwoo memasuki kamar otomatis langkahnya melambat, mengurangi derit lantai kayu akibat hentakan kakinya saat berjalan agar Soonyoung yang tertidur tidak terbangun.

Wonwoo tahu bahwa sahabat di depannya ini sudah sangat kelelahan mental dan fisiknya, tidak mudah hidup dibayang-bayangi ancaman dan harus terus sembunyi bahkan entah dari siapa. Wonwoo menyentuh lembut pelipis Soonyoung, wajah tenangnya ketika tidur begitu damai walaupun ia tahu Soonyoung tak sepenuhnya benar-benar tenang.

Soonyoung akan berubah menjadi kucing hitam kecil jika memang merasa nyaman akan sekitarnya. Hanya ketika ia yakin tidak ada bahaya disekelilingnya. Jika saat ini Soonyoung tertidur dengan wujud manusianya berarti ada bagian dalam diri Soonyoung yang masih bersiaga walaupun fisiknya yang sedang beristirahat. Bayangkan betapa melelahkannya hal itu.

Soonyoung menggeliat saat merasa ada seseorang di dekatnya.

“Nu...” panggilnya dengan mata yang masih terpejam.

“Iya gue, mandi dulu nyong”

“Lo udah?”

“Ini baru mau”

“Yaudah duluan aja”

“Gak mau barengan?” goda Wonwoo mencoba mencairan suasana karena hari ini sudah cukup berat bagi mereka. Namun, satu lemparan bantal berhasil mendarat sempurna di wajah Wonwoo.

“Orgil!!” balas Soonyoung sarkas dan sudah sepenuhnya terbangun.

“Hahaha becanda nyong. Lo duluan mandi deh abis itu kita bikin teh anget sama pop mie”

“Udah beres kerannya?”

“Udah dong, makanya lo cek dulu tapi yang di kamar mandi gak terlalu deras sih soalnya ada pipa yang bocor di dalem tanah gue gak sanggup gali sampe sana” jelas Wonwoo.

Soonyoung kemudian duduk bersila di dekat Wonwoo yang sekarang juga duduk di atas tempat tidur.

“Makasih ya, nu” satu pelukan Soonyoung berikan untuk Wonwoo.

Soonyoung masih mau memberikan satu pelukan hangat baginya padahal Wonwoo tahu, Soonyoung sendirilah yang sebenarnya paling membutuhkan pelukan itu.

Bulan penuh sebentar lagi, mereka mengincarnya untuk upacara di hadapan Dewa.

Selesai makan malam dan membersihkan sisa piring kotor, Soonyoung dan Wonwoo terbaring di atas tempat tidurnya masing-masing. Yang satu sibuk dengan game online di ponsel dan yang satunya lagi sibuk dengan pikirannya sendiri. Soonyoung menatap langit-langit di kamarnya mengingat runtutan kejadian di sepanjang hidupnya beberapa tahun terakhir, bagaimana dia sampai berakhir di asrama mahasiswa ini dan bagaimana hubungannya dengan Wonwoo menjadi rumit seperti sekarang.

Semua bermula dari kejadian lima tahun lalu saat ibunya secara misterius meninggal dunia, waktu itu Soonyoung masih berusia 16 tahun dan telepon dari ayahnya yang mengabarkan berita tentang ibunya seperti hujaman belati di hati Soonyoung. Dia bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan guru dan teman-temannya saat tiba-tiba menjatuhkan ponsel genggamnya, Soonyoung hanya diam dan terpaku di tempat duduk. Seakan-akan dunia disekitarnya runtuh, seakan separuh dirinya ditelan bumi dan aliran darahnya berhenti, lehernya terasa tercekat dan hanya bulir air mata yang gugur dalam diam.

Kesehatan ibunya beberapa bulan terakhir memang sedang menurun namun ia tak pernah menyangka keluhan sakit kepalanya di pagi hari itu akan berujung pada kematian. Bukannya Soonyoung tidak tahu, tapi dirinya memang sudah menaruh curiga pada anggota keluarga di rumah yang ia tinggali waktu itu. Mansion besar milik keluarga Kwon dengan 4 kepala keluarga di dalamnya, ada kakek dan nenek Soonyoung yang berusia 80 tahunan, keluarganya sendiri yang terdiri ayah, ibu dan Soonyoung sang anak tunggal, Adik ayahnya yang biasa Soonyoung panggil tante Anggi beserta suaminya Om Edwin dan kedua anaknya Jessica dan Jonas, terakhir adik bungsu ayahnya Om Rayner dan istrinya tante Joyce.

Keluarga besar itu tinggal di satu rumah yang sama karena kehendak kakek Soonyoung yang ingin keluarga mereka untuk terus bersama, terlebih rumah mewah itu masih cukup untuk menampung mereka semua. Soonyoung sadar, kedua adik ayahnya menaruh benci terhadap ibunya, tak ada yang benar-benar tulus kala itu.

Satu per satu teka-teki mulai terungkap saat Soonyoung menemukan buku harian milik sang ibu yang tertumpuk pada barang-barang tak terpakai yang diasingkan ke dalam gudang milik keluarga Kwon. Dalam catatan hariannya Soonyoung mendapati beberapa keganjilan, ibunya itu memang rutin menuliskan kegiatan sehari-hari mulai dari pagi hingga pentang yang maksudnya agar sang ibu dapat mengintropeksi diri atas apa saja yang sudah ia lakukan hari ini agar menjadi pribadi yang lebih baik keesokan harinya.

Hal paling ganjil yang ditangkap oleh Soonyoung dalam catatan enam bulan terakhir ibunya sebelum meninggal adalah sang ibu yang kerap kali menerima minuman herbal dari tante Anggi entah di pagi hari atau menjelang petang. Hal aneh lainnya yang mengganggu pikiran Soonyoung adalah perubahan sikap tante Anggi yang berubah dalam waktu singkat kepada ibunya. Tante Anggi yang kerap mengacuhkan ibunya belakangan menjadi lebih perhatian. Kecurigaan Soonyoung semakin kuat ketika tante Anggi mencoba memberikan bentuk minuman serupa dengan apa yang di deskripsikan ibunya dalam catatan harian. Namun, kecurigaan itu tidak pernah benar-benar terbukti karena Soonyoung sendiri tidak memiliki bukti konkret atas tuduhannya hingga akhirnya ia mulai menjaga jarak dari keluarga besarnya bahkan terhadap ayahnya sendiri.

Dari buku harian itu juga Soonyoung mendapatkan fakta bahwa ibunya adalah seorang hybrid kucing yang menikah dengan manusia biasa, sebuah pelanggaran dan dosa besar bagi kaumnya. Soonyoung pun akhirnya tahu bahwa ia juga membawa gen yang diturunkan oleh sang ibu.

Pada catatat terakhir tertulis bahwa perubahan pada diri anak semata wayangnya akan terjadi ketika yang terkasih menginjak usia 17 tahun. Bulan akan bersinar penuh dan udara menjadi semakin dingin, ranting berguguran dengan petir saling bersahut membelah langit. Saat waktu itu datang kaumnya akan mendapatkan isyarat dari dewa bahwa satu anggota telah lahir dan menjadi utuh, waktu yang sama bagi yang terlahir untuk kembali pada asalnya dan mengabdi pada dewa.

Soonyoung menerima takdirnya tapi tidak bagi keluarga ayahnya, mereka kerap kali menyudutkan Soonyoung tentang asal usul ibunya yang tidak jelas dan dirinya yang keturunan setengah manusia dan setengah Hybrid.

Seiring berjalannya waktu Soonyoung banyak belajar dan mencari tahu asal usul ibunya, hari-hari berat Soonyoung di akhir masa sekolahnya memaksa dia untuk kuat bertahan padahal ancaman bukan hanya dari keluarga sang ayah tapi dari kaum tempat ibunya berasal.

Kucing selalu memegang tempat misterius dalam budaya dunia. Di Mesir kuno, kucing disembah sebagai dewa. Di India dan Cina sama-sama memiliki dewi kesuburan bernama Sastht dan Li Chou. Cerita rakyat Irlandia pun menceritakan banyak tentang kucing hitam besar bernama Iruscan serta bangsa Viking yang menyembah kucing Freya, dewi cinta dan kecantikan.

Bahkan pada abad pertengahan, banyak yang percaya bahwa kucing dikaitkan dengan penyihir, karena banyak wanita tua yang kesepian memberi makan dan merawat kucing yang terlantar, menimbulkan keyakinan lain bahwa sebenarnya itu hanyalah alibi para penyihir yang memanfaatkan kucing sebagai penyamaran untuk berkeliaran di jalanan menyebar kutukan dan membalaskan dendam.

Kepercayaan paling terkenal mengenai kucing adalah seseorang akan memiliki nasib buruk jika bertemu dengan kucing hitam. Bahkan sebagian orang Mesir yang sempat memelihara kucing hitam mengaku bahwa kucing hitam adalah jelmaan iblis dan mereka percaya jika iblis kucing hitam melintas dan bertemu dengan manusia maka itu adalah upaya penyihir untuk memisahkan mereka dari Tuhan.

Beberapa litelatur yang Soonyoung baca memang banyak merugikannya, bahkan Soonyoung sendiri belum yakin apakah yang tertulis itu memang benar adanya atau hanya rekayasa penulis pencari sensasi. Namun, belakangan beberapa orang kerap kali mencari Soonyoung tidak hanya dari keluarga ayahnya yang merasa terancam akan nasib buruk yang ditimbulkan oleh dirinya tapi juga dari orang-orang yang tidak Soonyoung kenal terus berdatangan.

Keluarga ayahnya percaya bahwa nasib buruk bisnis keluarga Kwon yang sempat bangkrut adalah buntut dari pernikahan ayah dan ibunya. Bahkan, pada hari Soonyoung lahir, istri dari Om Rayner yang mengandung anak kembar harus mengalami keguguran. Mereka menuduh ayah dan ibu Soonyoung menumbalkan dua calon sepupu kembarnya yang masih dalam kandungan untuk ditukar dengan jiwa Soonyoung yang baru lahir agar selamat.

Pencarian Soonyoung berlajut hingga ia memasuki bangku perguruan tinggi walupun ia harus mengisolasi diri dari dunia luar. Soonyoung tidak sepenuhnya menyendiri namun bagian kecil dalam dirinya menolak untuk percaya pada orang lain yang berujung pada kepribadian Soonyoung yang pendiam dan tidak ingin banyak ikut campur dengan urusan orang lain saat di luar.

Ancaman bagi Soonyoung terus berdatangan, walaupun ia sudah memutuskan untuk kuliah di luar kota dan tinggal berjauhan dari keluarga besarnya tetap saja tante Anggi masih mengincar Soonyoung. Jika Soonyoung tidak salah menarik kesimpulan dari apa yang ia baca, nasib buruk yang dialami akibat pernikahan dengan keturunan hybrid akan hilang apabila keturunannya dimusnahkan hingga generasi terakhir yang tidak lain adalah Soonyoung sendiri.

Keluarga ayahnya sudah berhasil membunuh ibunya walaupun itu masih praduga Soonyoung sendiri walaupun bukti-buktinya masih terus dia cari tapi Soonyoung yakin, kali ini keluarga ayahnya mengincar dirinya untuk dimusnahkannya juga seperti ibunya lima tahun lalu. Bahkan ia yakin upacara kematian ibunya yang diadakan setiap tahun di Mansion keluarga Kwon hanya trick mereka untuk membuat Soonyoung kembali dan menghabisinya di sana.

Pelariannya dari keluarga Kwon bahkan lebih berat ketika dua tahun terkahir kerap ada orang asing yang juga mencarinya. Soonyoung sampai harus mengambil resiko keluar dari kos lamanya setelah satu semester hidup sendiri dan mencari asrama kampus dengan teman satu kamar agar keselamatannya terjaga. Walau pada akhirnya rahasia besar hidup Soonyoung harus terungkap saat bulan penuh kembali bersinar malam itu dan membongkar kebenaran dirinya di hadapan teman satu kamarnya, Wonwoo.

Wonwoo POV

Gue kenal dia dua tahun lalu di acara Orientasi Mahasiswa Baru, secara kebetulan gue berada di satu kelompok yang sama. Gue dari Prodi Management Pemasaran sedangkan dia di Prodi Ekonomi Industri. Dia adalah orang pertama yang menghampiri gue, gue ingat jelas wajahnya yang kebingungan waktu itu karena dari janji lewat pesan singkat, gue sempat mengatakan kalau gue akan mengenakan kemeja biru namun karena hujan deras dan sebagian kemeja gue basah akhirnya gue harus mengganti kemeja yang gue pakai dengan jaket angkatan SMA yang kebetulan gue bawa di dalam bagasi motor.

Entah takdir apa yang membawa gue kembali dipertemukan dengan Soonyoung di semester kedua, karena tiba-tiba ada mahasiswa yang katanya akan masuk ke asrama kampus tempat gue tinggal saat ini di pertengahan tahun, padahal sepengetahuan gue pergantian teman satu kamar di dalam asrama biasanya hanya dilakukan setiap awal semester ganjil.

Ada wajah familiar yang gue dapatkan saat membuka pintu kamar asrama, senyumnya langsung mengembang saat tahu teman satu kamarnya adalah gue, Jeon Wonwoo. Kebetulan waktu itu cuma gue yang tidak mememilki teman satu kamar.

“Wonwoo?” ujarnya di depan pintu dengan dua koper besar di kiri dan kanannya.

“Lo yang pindah ke kamar sini?”

“Iya nu” balasnya canggung.

“Masuk, tapi gue gak bisa bantu-bantu unpacking nih soalnya mau ada kelas” balas gue jujur.

“Gak apa nu, barangnya sedikit aja kok” balasnya lagi setelah gue persilahkan masuk.

Gue menunjukan secara singkat isi kamar ini, di mana tempat tidur gue ada di sebelah kiri dan tempat tidurnya yang ada di sebelah kanan, satu kamar mandi untuk bersama dengan keran air panas yang sudah dua bulan ini tidak berfungsi yang sudah pasti akan menambah perjuangan untuk memulai kelas pagi terasa lebih berat.

Soonyoung mendengarkan dengan seksama penjelasan gue tapi dari yang gue tangkap pandangan mata itu kosong seperti ada hal lain di kepalanya yang sedang mengganggu pikiran. Terakhir gue menjelaskan singkat peraturan asrama dan memberikan satu kunci kamar untuk Soonyoung sebelum pamit untuk kelas terakhir gue hari itu.


Bulan ketiga menjadi teman satu kamarnya gue semakin mengenal Soonyoung, dia punya kepribadian pendiam dan terkesan introvert?. Dia seperti punya masalah kepercayaan diri di sekitar orang banyak tapi anehnya, kepribadian itu seolah-olah lenyap saat berhadapan dengan gue dan Juna teman satu kampus kami yang juga tinggal di asrama yang sama. Soonyoung seperti keluar dari cangkang yang mengurungnya kaku, dia bahkan bisa mengumpat waktu Juna mencuri satu bungkus mie instan goreng kesukaan Soonyoung yang tersisa satu di lemari penyimpanan kami di kamar asrama, padahal setahu gue Soonyoung itu dari keluarga berada. Orang tuanya punya usaha transportir BBM di kota sebelah, dia bahkan punya mobil sendiri untuk berangkat kuliah yang sering gue tumpangi saat hujan.

Kalau gue, cuma dari keluarga biasa-biasa saja, Bokap PNS dengan golongan yang juga biasa di salah satu kantor Dinas di kota kelahiran gue dan Nyokap adalah ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki.

Gue tidak begitu tahu banyak tentang latar belakang keluarga Soonyoung sampai satu malam Soonyoung menggigil di atas tempat tidurnya dengan tubuh yang meringkuk. Gue yang notabennya adalah anak terakhir di keluarga, tidak berpengalaman merawat orang sakit dan langsung panik melihat keadaan Soonyoung malam itu.

Lampu kamar sudah meremang karena dimatikan dan sumber cahaya hanya berasal dari cahaya lampu jalanan yang masuk melalui jendela kamar yang tirainya belum tertutup, letaknya tepat di atas tempat tidur gue. Malam itu gue pulang lebih larut karena harus bekerja di Sugar & Spice Cafe tempat gue selama ini mencari tambahan biaya hidup walaupun orang tua gue juga selalu rutin mengirimkan uang untuk kuliah.

Gue masih ingat dengan jelas rintihan suara Soonyoung yang kesakitan entah karena apa, bajunya basah. Bahkan seprei yang ditiduri Soonyoung pun ikut basah. Soonyoung malang yang terus meringkukkan tubuhnya saat gue panggil karena khawatir.

Suhu tubuhnya sangat tinggi malam itu bahkan suara lenguhan terdengar saat gue menyentuh keningnya untuk mengecek suhu tubuh.

“Nyong, lo udah makan?” tanya gue yang kebingungan, tas ransel pun masih bertengger di pundak gue saat itu.

Gue hanya menerima gelengan atas pertaannya gue saat itu. Sayup gue mendengar permintaan Soonyoung agar gue tidak tidur di kamar kami malam ini dan menginap di kamar Juna.

Alih-alih menuruti permintaannya, selain karena gue tidak suka menginap di kamar Juna karena teman sekamarnya Mingyu yang suka mendengkur saat tidur. Gue lebih mengkhawatirkan teman satu kamar gue yang terlihat begitu kesakitan.

Satu mangkuk besar air dingin gue letakkan di sisi tempat tidur Soonyoung dengan handuk kecil bersih milik gue yang biasa gue pakai saat latihan futsal, gue peras sebelum meletakknya di atas kening Soonyoung yang terus-terusan gemetar saat gue sentuh.

“Nu...” panggilnya pelan.

“Gue ambilin air anget ya nyong?” tanya gue.

Soonyoung mengangguk.

Setelah berhasil meneguk sedikit air hangat dengan susah payah, Soonyoung kembali berbaring di tempat tidurnya.

Hanya perasaan gue saja atau tidak, tapi malam itu Soonyoung selalu menghindari kontak fisik dengan gue. Entah karena tubuhnya yang terasa gerah karena suhu tubuh yang tinggi atau karena tidak nyaman karena sekujur tubuhnya berkeringat. Yang pasti dengan keadaan seperti itu Soonyoung terus-terusan menutupi tubuhnya dengan selimut.

Malam semakin larut dan Soonyoung terus-terusan menolak untuk meminum paracetamol yang gue berikan. Alasannya, karena sudah meminum obat sebelum gue datang tadi.

Karena bersikeras gue pun akhirnya mengalah setelah Soonyoung terlihat lebih tenang dan gue memanfaatkan itu untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kebiasaan gue adalah melepas pakaian atas di depan kamar mandi agar lebih mudah melemparkannya ke dalam keranjang laundry yang letaknya bersisihan.

Tapi ada satu hal yang gue dengar dan membuat gue terpaku dan mengurungkan niat gue untuk mandi saat itu setelah berhasil melepas kaos yang gue kenakan.

Gue bukan laki-laki polos atas apa yang barusan gue dengar dan gue paham betul apa itu.

Gue mendengar Soonyoung mengerang beserta lenguhan yang bisa langsung gue lihat karena posisi kamar mandi yang menghadap tempat tidurnya.

Soonyoung bergerak tak nyaman dan memanggil nama gue. Seketika jantung gue berdegub lebih kencang dari biasanya.

“Nu, tolong gue...” katanya lemah dengan wajah yang sudah memerah.

Gue otomatis menghampiri dan seketika dibuat hampir pingsan saat Soonyoung menyibakkan selimutnya yang dari tadi menutupi tubuh menampilan bagian bawah tubuh Soonyoung yang dilapisi celana boxer pendek yang tipis itu sangat basah dan miliknya yang sudah sangat menegang terlihat jelas. Seperti menambah buruk keadaan, Soonyoung dengan sengaja menurunkan celananya di bagian belakang yang membuat satu ekor tidak lebih dari sepertiga meter menjentik keluar dari sana.

Gue tertegun, isi kepala gue tiba-tiba kosong, ekor itu diselimuti bulu-bulu halus berwarna hitam dan bergerak lemah di bokong Soonyoung. Awalnya gue pikir Soonyoung menggunakan salah satu alat sex buttplug yang berbentuk ekor, namun pikiran itu seketika terbantah karena ekor tadi bisa bergerak walaupun sangat lemah. Gue yang secara spontan mendekat dan tanpa sadar menyentuh ekor Soonyoung membuat pemiliknya melenguh kencang dan ekornya tiba-tiba menjentik.

“Nu....” panggil Soonyoung lagi, tangannya menggapai perut gue yang sudah tidak tertutupi pakaian.

“Nu tolong gue...”

“L-Lo k-kenapa nyong?”

“Gue heat nu dan lo wangi banget”

Gue bingung kepala gue benar-benar kosong.

“Apa yang bisa gue bantu?”

“Tidurin gue, nu”

Setelahnya, gue sadar bagian selatan gue yang masih dilapisi celana jeans ternyata sudah mengeras, celana gue yang biasa terasa longgar sekarang sudah sesak dan telapak tangan Soonyoung yang merabanya dari luar sangat tidak membantu. Dalam hitungan detik gue memanjant ke atas tempat tidur Soonyoung dan bibir kita sudah beradu menukar saliva.

Pinggul Soonyoung terus digesekkan mengejar afeksi yang sepertinya dia butuhan, tak ingin menyiksa lebih lama gue pun ikut menggesekkan milik gue dan milik Soonyoung, karena bahan celana jeans gue yang terbilang keras dan kaku membuat Soonyoung beberapa kali mengerang di atara ciuman kami saat celana gue bergesekkan dengan miliknya.

“Nu, gak tahan...” katanya memelas, gue yang paham dengan sigap melucuti kaos Soonyoung yang sudah basah sekaligus boxer tipisnya.

Untuk kali pertama gue melihat tubuh polos Soonyoung dengan ekornya yang bergerak-gerak tak nyaman. Dan entah sejak kapan tanpa gue sadari ada bulu-bulu hitam lembut seperti yang ada pada ekornya menyerupai telinga kucing di atas kepala Soonyoung.

“nghhhh...” “...jangan dipeganghh telingannyahh, nu” Soonyoung kembali melenguh saat gue yang berada di atasnya lagi-lagi tanpa sadar mengelus daun telinga kucing miliknya.

Karena penasaran gue kembali mengelus telinga kucing itu, dan seketika Soonyoung menarik pinggang gue untuk menindih tubuh polosnya dan tangan lainnya manarik leher belakang gue untuk kembali bercumbu.

Gue masih ingat, cumbuan malam itu begitu basah. Soonyoung berkali-kali bergetar saat lidahnya gue kulum dan telingannya gue usap.

“Nu....buka” Soonyoung menarik-narik kancing utama celana jeans gue.

“Sebentar..” balas gue, karena gue tahu yang sedang membutuhkan afeksi saat ini adalah Soonyoung bukan gue.

Dengan pelan gue turun ke arah perutnya, mengusap perut rata seputih susu itu dengan pelan. Gue ciumi pinggul Soonyoung yang menggeliat dan gue usap ekornya yang bergerak-gerak gelisah.

Milik Soonyoung sudah memerah, ujungnya bahkan sudah basah mengeluarkan pre-cum-nya sejak tadi mengotori seprei miliknya. Lubang Soonyoung berkedut tidak kalah basah dengan miliknya yang sudah menegang.

Entah, dirasuki apa gue dengan inisiatif menjilat lubang Soonyoung yang berkedut, menyicipi cairannya yang keluar membuat Soonyoung membusungkan dadanya ke atas mengerang panjang.

“Ahhhh...nu.....lo apainhh?”

“Lo suka, nyong?” tanya gue masih di depan lubang Soonyoung.

“S-Suka” balasnya lemah

dengan itu gue kembali memasukan ujung lidah gue ke dalam lubang Soonyoung, menjilatnya tipis-tipis.

Semakin cepat ujung lidah gue menyapu bibir lubang Soonyoung, semakin kencang juga erangannya.

“Nu-nghh N-Nu...u-udah...udah nu gue gak tahanhh” katanya terbata. Sementara gue masih melingarkan lengan gue di paha Soonyoung dan menikmati lubangnya yang tidak gue sangka bisa jadi secandu ini.

Gila. Gue rasa gue sudah gila karena setelahnya gue melepas celana jeans gue yang sudah berontak karena terlalu sesak menahan milik gue yang menegang dengan keras karena ulah Soonyoung.

Setelah lolos gue gesekkan milik gue yang membengkak di depan lubang Soonyoung membuatnya lagi-lagi melenguh.

“Ke sini, Nu” panggilnya.

Waktu gue kembali menindih badan Soonyoung, dia malah menggeleng. Mengisyaratkan gue untuk turun dari tempat tidur dan menarik tangan gue kehadapannya. Dari sana Soonyoung menggenggam kepemilikan gue dan mengulumnya pelan, lindahnya menjilat-jilat kecil seperti anak kucing. Tanpa sadar kali ini gue yang terbang seperti di atas awan. Nikmat hangat dari mulut Soonyoung terasa hingga kesekujur tubuh gue dan membuat milik gue semakin membengkak.

“Nu, tebel banget punya lo”

“Lo emutin terlalu enak sih” setelahnya gue membawa bibir Soonyoung kembali bertemu bibir gue.

Gue kembali ke atas tempat tidur Soonyoung bersandar pada dinding kamar dengan Soonyoung yang sekarang gue angkat dan gue dudukkan diatas milik gue. Belahan bokongnya menggesek milik gue dan dengan dengan cepat gue tarik, gue genggam milik Sonnyoung dan milik gue bersamaan dan mengocoknya dengan tempo sedang.

Soonyoung berkali-kali membanting kepalanya ke belakang saat tidak kuasa merasakan afeksi dari sentuhan-sentuhan yang gue berikan, tangannya dengan kuat mencengkram pundak kiri gue dan tangan lainnya menahan tubuhnya sediri di belakang tubuh dengan bertumpu pada kaki gue.

“Nu, nghh gak kuat laghiii....”

“Rebahan Nyong” dia pun menurut dan beringsut dari pangkuan gue.

Di atas tubuhnya yang polos gue mengarahkan kepemilikan gue pada lubangnya yang berkedut memerah, menerobos masuk dengan pelan.

“AHHHHHH” lenguhnya.

“Dikit lagi nyong” gue berani sumpah ini bukan sex pertama gue tapi cuma lubang Soonyoung yang benar-benar membuat milik gue seperti tersedot masuk, dinding-dindingnya seperti mencekram milik gue.

Soonyoung berakali-kali meringis kenikmatan saat gue mulai bergerak diatasnya.

Soonyoung mengalungkan lengannya pada leher gue, disaat gue memompanya dari bawah melesakkan milik gue pada titik ternikmat milik Soonyoung. Basah dan licin namun tetap terasa sempit.

kerap kali Soonyoung mengeluh terlalu dalam dan terlalu tebal namun tak ada satupun yang gue hiraukan karena malam ini gue sudah dibuat gila olehnya...then our bodies move together

Soonyoung bergerak tak seirama membuat pertemuan di bawah sana semakin berantakkan, entah sudah berapa kali gue dibuat mengerang kencang akibat lubangnya yang mengetat.

“Nyong...nyong...gila nyong...arghh”

“nghhh nu nghhhh kece-kecepetanhh...nu ahhhh ahh shh nu!!!” tubuhnya terlonjak di atas tempat tidur.

Sampai pada di satu titik gue merasa milik gue membengkak di dalamnya dan Soonyoung mulai meracau tak karuan.

“Nu...please di dalemhh.. pleasee please gue mau keluar...nghhh”

“ARGHH SOON-”

“keluarin di dalemhh nu.....”

Gue terus menumbuk prostat Soonyoung, peluh keringat pun mengucur deras dan menetes dari ujung-ujung rambut gue yang sudah berantakan.

“NGHHHHH WONU AH AHH!!” Soonyoung meneratkan peganggannya pada pundak gue dan kakinya melingkar pada pinggul gue membuat penyatuan kita semakin dalam dan pada hujaman milik gue yang entah keberapa kali akhirnya gue memuntuhkan putihnya di dalam lubang Soonyoung, di bawah gue Soonyoung juga bergetar menyemburkan putihnya di atas perutnya sendiri.

“Ahhhh nyong!”

Gue menikmati setiap tetes putih yang keluar di dalam lubang Soonyoung, yang gue rasa ini adalah cum terbanyak diantara pengelaman sex gue sebelumnya.

Gue kemudian ambruk di atas tubuh Soonyoung tergeletak memeluk tubuhnya, gue ciumi leher kiri Soonyoung yang bersih. Jantung kami masih berderu kencang.

“Wonu...” panggilnya, mata masih terpejam.

“hmm?” balas gue.

“Gue hybrid

“Iya, ceritanya besok aja sekarang istirahat”

“Lo habis ini bakal benci gue”

“Istirahat, nyong” ucap gue tulus, karena gue tahu itu yang paling dia butuhkan saat ini.

“Tapi nu-”

“Tidur Soonyoung” setelahnya gue menggendong tubuh Soonyoung turun dari tempat tidurnya dan pindah ke tempat tidur gue yang lebih bersih dan kering. Gue selimuti tubuh polosnya dan gue peluk agar tenang.

Yang besok akan gue dengar biarlah datang di esok hari, malam ini gue mau Soonyoung beristirahat dengan tenang menjauhkannya dari pikiran-pikiran lain termasuk rahasia kematian ibunya yang juga seorang hybrid.

Sewaktu Wonwoo kembali ke kamarnya keadaan lampu sudah meremang. Hanya lampu meja belajar Soonyoung saja yang menyala, orangnya entah kemana.

Namun, suara air di kamar mandi seketika menghapus pertanyaan di kepalanya barusan atas keberadaan teman satu kamarnya.

Wajahnya murung langkah kaki pun gontai menuju meja belajar dengan laptop dan beberapa lembar kertas yang berserakan.

Melihat itu, Wonwoo menghampiri. Sadar bahwa dirinya tidak mendapat saapaan sejak tadi.

Dipeluknya dari belakang sahabat yang bersedih, walau terhalang kursi namun lengannya tetap penuh memeluk erat.

“Mau pulang ke rumah ya?” Tanyanya lembut.

Hanya mendapat anggukan, Wonwoo kemudian mencium pundak Soonyoung.

“Kapan?”

“Besok sore” jawabnya pelan.

“Bokap sekarang di mana?”

“Nginep di hotel, besok ke sini lagi jemput”

“Masih ada kuliah pagi ya?”

“Iya”

“Yaudah dilanjut dulu reportnya habis itu langsung tidur” ujar Wonwoo menepuk punggung Soonyoung halus. Tidak mau mengganggu lebih lama karen Wonwoo tahu Soonyoung sedang banyak pikiran dan lelah.

“Nu...” Panggil Soonyoung sebelum Wonwoo memanjat ke atas tempat tidurnya.

“Hmm?”

“Mau tidur di kasur lo”

“Sini” ajak Wonwoo.

Setelahnya report yang belum selesaipun ditinggalkan Soonyoung. Otaknya terlalu lelah untuk melanjutkan, dia butuh istirahat dan pelukan Wonwoo adalah yang paling tepat untuk gusar hati Soonyoung malam ini. Tepukan-tepukan kecil Wonwoo pengantar tidurnya.

Belum sempat Soonyoung turun menyusul teman satu kamarnya, yang dimaksud malah sudah kembali membawa satu bungkus styroform yang bisa ditebak berisi bubur ayam lengkap dengan tiga tusuk sate telur puyuh kesukaan Soonyoung ke kamar mereka.

“Lama bener!” Umpatnya ketika baru melangkah masuk. Meletakkan bungkusan tadi di atas tempat tidur Soonyoung.

“Ini baru mau turun, Nu. Jadi orang gak sabaran banget heran” balas Soonyoung yang malah santai kembali melempar sendal jepitnya yang sudah sempai dipakai dan menuju nakas tempat menyimpan peralatan makan.

Belum sempat Soonyoung meraih bungkusan sarapannya, pinggangnya sudah ditarik oleh lengan besar Wonwoo. Membawanya terduduk di pangkuan si sahabat yang terpaut satu bulan lebih muda.

Mereka duduk diatas tempat tidur Wonwoo yang lebih rendah, lengan Soonyoung otomatis melingkar di leher lawan bicaranya kali ini.

“Makasih, Nunu!” Katanya mencium sekilas bibir yang berkaca mata.

“Lo sibuk mulu sih” balas Wonwoo.

“Praktikum gue lagi banyak, Nu. Jadinya jarang main sama lo”

“Ditungguin tuh sama anak-anak, katanya lo jarang ngumpul lagi”

“Kalau bisa belah deh nih badan gue malemnya nongkrong sama kalian, sebelahnya ngerjain report di kamar”

“Dua doang?”

“Lo mau berapa, Nu?” Ujar Soonyoung menyamankan duduknya di pangkuan Wonwoo. Bagian bawah mereka sudah bergesekan pelan hanya terhalang celana training Wonwoo dan celana chino pendek milik Soonyoung.

“Bagi tiga jadi satunya ngewew sama gue”

Plakk

Pipi sebelah kiri Wonwoo sukses memerah hasil telapak tangan Soonyoung yang mendarat sempurna.

“Sakit anjir!” Wonwoo spontan meremas pantat Soonyoung gemas sekaligus kesal.

“Katanya gue bau jigong!!”

“Emang”

Dibuat emosi Soonyoung kemudian berusaha berdiri dari pangkuan Wonwoo. Namun, dengan cepat tangannya ditarik kembali oleh sabahatnya dan pinggang ramping milik Soonyoung dipeluk erat oleh Wonwoo. Tarikan itu sekaligus membawa wajah mereka bertemu dan dengan sesaat bibir mereka menyatu. Mengecap manisnya masing-masing saliva. Tangan Soonyoung sudah kembali pada tempatnya, melingkar mesra di leher Wonwoo sesekali mengelus rambut belakangnya saat ciuman mereka kian mendalam.

Suara kecipak mulai terdengar di seisi ruangan. Lenguhan pelan Soonyoung pun mulai keluar dan itulah kode Wonwoo untuk menambah tempo gesekan pinggulnya pada Soonyoung dan meremas pantatnya lebih kuat.

Sepuluh menit menghabiskan waktu saling mencumbu, akhirnya pagi mereka diawali dengan Wonwoo yang memuntahkan putihnya di mulut Soonyoung sebelum dia kembali bergegas untuk jadwal shift di sebuah cafe seberang kampus sebagai barista.

“Segitu doang kamu makan, nu?”

Setelah 20 menit berkendara Wonwoo akhirnya sampai di halaman parkir apartement Hoshi.

Entah apa yang menyebabkan tindakan implusifnya hari ini yang tiba-tiba ingin bertamu ke rumah Hoshi orang baru dikenalnya kurang dari seminggu.

Perjalanan dari parkiran ke lift pertama tidak terlalu jauh, namun karena kondisi tubuh yang kelelahan karena seharian bekerja dan mata yang terasa panas membuat langkah kaki Wonwoo melambat, berbanding terbalik dengan degup jantungnya yang tak karuan.

Wonwoo sampai di lantai 15 sesuai informasi Hoshi. Pada bunyi bel kedua pintu berbahan besi itu akhirnya terbuka memunculkan wajah ramah Hoshi dengan balutan pakai santai khas rumahan menyambut kedatangan Wonwoo. Baju kaos kuning kebesaran dan celana pendek di atas lutut warna abu-abu.

“Masuk, nu” sambutnya.

Wonwoo membalas dengan mengangguk sambil membenarkan posisi kaca matanya yang rupanya lupa ia lepas selesai jadwal piket tadi.

“Duduk dulu gue bikinin minum, mau yang dingin atau anget?”

“Anget deh, hyung”

“Lagi capek banget ya?”

“Kok tau?”

“Keliatan soalnya. Yaudah bentar ya”

“Hyung mau bikin apa?”

“Teh anget aja sih”

“Oh, boleh request gak?”

“Boleh”

“Tehnya tawar aja gak usah pakai gula, soalnya hyung udah manis”

“Wonu jangan sampai bantal sofa gue lempar ya ke muka lo” balas Hoshi salah tingkah.

Wonwoo tertawa berhasil menggoda si tuan rumah.

“Tapi serius hyung, tehnya tawar aja”

“Oke sip. Santai aja dulu di situ ya, nyalain tv juga boleh”

“Oke”

Kemudian Hoshi meninggalkan Wonwoo pergi ke dapur sambil tersenyum menggelengkan kepalanya atas candaan tamunya barusan.


Saat Hoshi kembali ke ruang tamu membawa satu cangkir teh hangat tawar untuk Wonwoo ia malah menemukan pria yang lebih muda itu tertidur pulas di atas sofa.

Kepala Wonwoo bersandar pada lengan sofa yang lembut dengan tubuhnya yang memang sudah berbaring nyaman di atas sofa. Nampaknya Wonwoo memang memposisikan tubuhnya untuk tidur di sofa tersebut, mungkin hanya untuk beberapa menit namun nyatanya Wonwoo hanyut dalam tidurnya.

Melihat itu Hoshi hanya bisa maklum karena dari dua kali pertemuan mereka Wonwoo memang terlihat kelelahan. Sebagai orang yang juga mengerti bagaimana melelahkannya dunia pekerjaan terlebih tekanan yang diberikan dari setiap pekerjaan yang datang pasti membuat banyak ebergi terkuras, akhirnya Hoshi membiarkan tamunya itu untuk tidur sedikit lebih lama, meninggalkan cangkir teh hangatnya di atas meja dan mengambil selimutnya di kamar untuk membungkus tubuh Wonwoo yang tertidur pulas. Setelahnya, ia kembali ke dapur mematikan kompor karena kuah sup sundubu jigae yang sudah mulai mendidih.

“Halo...”

“Nu, masih hidup lo?”

“Masih”

“Dari mana dah? Dicariin anak-anak, chat gak ada yang dibales”

“Ketiduran gue”

“Ketebak banget dah nih bujang, jendela rumah lo tutup dulu noh kebiasaan tidur ngedeplak aja”

“Gue lagi gak di rumah, ntar aja balik besok gue off”

“Lah? Jadi lo ketiduran di mana? Rumah Sakit?”

“Bukan, gue lagi di rumah Hoshi hyung”

“RUMAH SIAPA?!”

“Hoshi hyung”

tut tut tut

Saat bangun karena ponselnya berdering tadi, wangi bunga lily langsung tercium oleh indra pengciuman Wonwoo, asalnya adalah dari selimut Hoshi yang ia kenakan selama tidur tadi. Wanginya menenangkan dan sangat nyaman.

“Hyung....” Wonwoo memanggil Hoshi saat ia melihat keadaan sepi sekitarnya bahkan lampu di ruang tamu dibuat redup. Ia kemudian berdiri dari sofa nyaman yang menjadi teman tidurnya beberapa waktu lalu dan dengan ragu berjalan menuju dapur.

Namun ,tidak ada siapa-siapa di sana, hanya terlihat beberapa alat makan yang sudah disiapkan di atas meja masih lengkap belum tersentuh.

Wonwoo berjalan kembali ke arah ruang tamu setelah tidak menemukan Hoshi di sana. Saat kembali ia baru tersadar akan satu pintu cokelat yang ia yakini adalah kamar utama di apartment ini. Mungkin ia tidak sadar melewati kamar ini dari belakang saat menuju dapur.

Karena pikirnya Hoshi ada di dalam kamar tersebut maka dengan pelan ia mengetuk pintu kamar itu. Dan benar, sahutan kecil dari dalam kamar terdengar.

“Iya nu, sebentar” suaranya samar.

Wonwoo pun kembali ke ruang tamu.


“Hyung, sorry gue ketiduran” katanya tak enak.

“Santai sih, lo kenapa kebangun? Banyak nyamuk ya?”

“Enggak, emang kebangun aja. Gue lama ya tidurnya?”

“Setengah jam?”

Wonwoo kemudian melepas kacamatanya dan mengusap wajahnya.

Merasa kasihan, Hoshi menawarkan Wonwoo untuk mandi terlebih dahalu di tempatnya sebelum makan malam agar lebih segar, yang mana ditolak oleh tamunya tersebut karena katanya tadi sudah mandi dan kelewat lapar. Akhirnya, keduanya pun pergi ke dapur untuk menyantap hidangan makan malam yang sudah sejak tadi Hoshi siapkan.

“Tadi kecapnya aku ambil dari kresek yang kamu taruh di atas meja tamu” kata Hoshi, sambil memberikan satu piring bersih untuk Wonwoo.

“Oh iya sampai lupa kecapnya dikasih ke lo, hyung”

“Capek banget ya nu?”

“Lumayan, soalnya IGD lagi rame banget beberapa hari ini hyung”

“IGD?”

“Iya”

“IGD tuh yang Instalasi Gawat Darurat?”

“Iya yang itu”

“Kamu kerja apa nu?”

“Gue perawat, hyung”

Hoshi melotot. Centong nasinya menggantung dengan mulut menganga.

Wonwoo pun ikut terdiam. Bingung.

“Hyung?”

“Ha?”

“You okay?”

“Oh iya sory sory nu, gue gak nyangka aja”

“Muka gue gak cocok ya jadi perawat?” Balas Wonwoo sambil tertawa.

“Enggak bukan gitu, gue mah mikirnya selama ini lo kerja kantoran gitu. Modelan officer, audit atau macem finance”

“Iya ya? Modelan keren gitu ya, hyung?”

“Jadi perawat malah lebih keren nu, gue sampai kaget”

“Hehehe kalau itu pujian gue mau makasih duluan deh”

“Pantes lo kaya capek banget dari yang terakhir kita lunch bareng itu”

“Ini bulan terakhir gue di IGD hyung, bulan ini juga malah lagi hectic banget di sana. Bulan depan gue di transfer ke umum”

“Pantes...”

“Apa hyung?”

“Lo selalu mandi terus ya tiap mau ketemu”

“Iya, soalnya di Rumah Sakit kan banyak virus dan bakteri”

“Gue kira lo tuh sakit jiwa tau gak soalnya mau mandi terus”

“HYUNG!” Wonwoo hampir tersedak nasinya.

Hoshi tertawa melihat Wonwoo yang terkejut dan cepat-cepat menyodorkan segelas air putih.

“Becanda Wonu, btw lo kok gak bilang dari awal sih kalau lo perawat?”

“Lo gak nanya”

Iya juga sih. Dalam hati Hoshi.

Keduanya kemudian menghabiskan makan malam mereka dan mengobrol sebelum akhirnya Wonwoo berpamitam pulang karena jam yang sudah menunjukan pukul setengah 11 malam.

Ia berjanji akan mentraktir Hoshi lagi sebagai bayaran karena sudah membiarkanya menumpang tidur di apartementnya tadi.