ESCAPE
Hari masih gelap ketika Soonyoung mengunci layar ponselnya setelah mengirim pesan singkat pada teman satu kamarnya untuk rencana kepergian mereka di pagi buta ini. Hujan turun begitu deras membuat langkah terburu keduanya yang bergegas ke lahan parkir kompleks asrama menjadi semakin berat. Petir saling bersahutan seperti hendak membelah langit dan memporak-porandakan sekitarnya.
Soonyoung merapatkan jaket yang ia kenakan dari kursi penumpang ketika Wonwoo mengecek kursi belakang melihat apakah barang bawaan mereka sudah dimasukkan semua, tak banyak yang mereka bawa hanya beberapa lembar pakaian dan persediaan makanan instan. Tangan yang lebih kecil tak hentinya bergetar, ia bahkan tak tidur semalaman pikirannya melayang membayangkan atas segala ancaman dan peringatan yang ia terima dari loker asramanya kemarin.
Kemarin pagi saat tugas Soonyoung dan Wonwoo piket membersihkan gedung asrama, dirinya yang bertugas membersihkan loker mahasiswa kembali menemukan amplop surat yang cukup dikenalnya dari beberapa tahun lalu. Amplop surat yang secara berkala yang mungkin datang dari kaum Hybrid ibunya berisikan peringatan dari potongan kata yang sulit diterjemahkan maksudnya.
Total ada delapan kali Soonyoung menerima surat yang sama dengan isi berbeda dalam rentang 5 tahun terakhir.
Dalam pencarian Soonyoung, kaum hybrid mengincarnya untuk kembali pada mereka, mengasingkan diri dari manusia yang kejam. Menyelamatkan Soonyoung dari manipulasi dan kelicikan manusia egois. Selain itu, dalam kaum mereka hybrid yang terlahir ke dunia sudah memiliki mate-nya masing-masing yang bukan dari bangsa manusia, Dewa memberikan tanda kepemilikan pada keduanya dan akan muncul saat keduanya bertemu di malam ketika bulan kembali bersinar penuh dan panas menguar dari tubuh mereka untuk saling memiliki dan malam saat keduanya harus berhadapan di depan Dewa untuk penyatuan sakral. Namun, jika salah satu atau keduanya menolak mereka akan mati entah karena kutukan Dewa atau bahkan mati di tangan manusia.
15 Juni 2016 Bulan penuh. Ranting hancur. Permohonan.
21 Desember 2016 Mereka tahu dan mereka mencarimu.
17 Juli 2017 Teagan dan Dewa.
9 September 2018 Kembalilah, ada darah di sini.
17 Januari 2019 Semenanjung dengan dengan tiga laut, menyebrang atau mati.
20 Agustus 2020 Mereka melihatmu.
31 Desember 2020 Lari.
25 November 2021 Hilang. Pohon Oak. Hilang.
Pesan-pesan itu tidak hanya berisi ancaman namun juga peringatan. Anehnya, dari pesan itu pula Soonyoung kerap kali dapat menghindar dari incaran kaum ibunya, seperti ada orang lain ikut memperhatikannya namun tidak menginginkannya untuk kembali pada tempat asal ibunya, karena pada peringatan surat ke-6 adalah waktu yang sama ketika Soonyoung pertama kali bertemu dengan orang dengan jubah hitam panjang dan separuh wajah tertutup topi pandora menyudutkannya di gang sempit dekat kampus berusaha mengajaknya pergi ke sesuatu tempat. Beruntung, Soonyoung ingat pesan dari surat itu dan dengan sekuat tenaga pergi dari jangkauan pria misterius dan bersembunyi di dalam pasar tradisional dengan banyak orang berlalu-lalang membuatnya tenggelam dalam kerumunan.
Pesan ketujuh Lari adalah ketika Soonyoung memutuskan untuk keluar dari kost lamanya karena mendapati orang asing yang mengintainya. Soonyoung berlari ke asrama kampus dan berakhir tinggal bersama dengan Wonwoo, Soonyoung perlu tinggal di tempat yang lebih ramai untuk menyamarkan keberadaannya. Lagi-lagi surat itu memberikan petunjuk kepada Soonyoung daripada ancaman yang datang.
Sampai pada surat terakhir yang Soonyoung terima kemarin ia akhirnya kembali mengikuti petunjuknya, karena setiap surat itu datang nasib buruk bagi Soonyoung ikut menghantui, ancaman dari kaum ibunya semakin menjadi dan orang-orang yang mencarinya pun semakin beragam dan terang-terangan menghampiri, seperti kejadian tempo hari saat seorang laki-laki mengetuk pintu kamar asrama mereka menanyakan keberadaan Soonyoung dan beruntung waktu itu hanya ada Wonwoo di sana.
“Nu, hati-hati” ujarnya memandang nanar wajar Wonwoo yang menegang, mencoba fokus menyetir mobil milik Soonyoung di bawah deras hujan dan ledakan petir di langit.
Wonwoo menarik napasnya dalam mengontrol aliran darah yang mengalir cepat. Wonwoo paham betul apa yang sedang mengincar Soonyoung walaupun masih samar dalam benaknya, setiap pencarian Soonyoung tentang masa lalu ibunya, keluarganya bahkan kaumnya tidak pernah lepas dari pengamatan Wonwoo. Hampir seluruh rahasia Soonyoung sudah Wonwoo ketahui.
Tadi malam setelah membaca pesan dari surat terakhir yang dikirim untuk Soonyoung, Wonwoo membantu Soonyoung menterjemahkan peringatan itu. Hilang. Pohon Oak. Hilang
Butuh hampir satu jam keduanya menguras otak dengan puluhan jendela internet yang dibuka mencari teka-teki di balik Pohon Oak. Mulai dari legenda Pohon Oak, suku yang pertama kali menemukan Pohon Oak, arti dari Pohon Oak, khasiat mengkonsumsi daun Pohon Oak sampai akhirnya Wonwoo melepaskan kacamata bacanya dan membenturkan kepalanya di atas meja belajar Soonyoung.
“Jangan nyong” ucap Wonwoo dengan keningnya masih di atas meja belajar Soonyoung.
“Kenapa, nu?” tanyanya mengguncang pundak Wonwoo pelan.
“Besok subuh jangan pulang ke rumah bokap lo
Soonyoung mengerutkan alisnya tak paham karena satu-satunya tempat aman untuk saat ini baginya adalah rumah ayahnya. Rumah lain yang berbeda dari Mansion milik keluarga Kwon yang memang di bangun oleh ayahnya.
“Pohon Oak.....” “Kita pergi rumah nyokap lo” akhirnya ujar Wonwoo mengangkat kepalanya dan menatap mata Soonyoung.
Terasa ada yang menghantam keras dada Soonyoung tidak begitu sakit namun cukup membuat sesak.
Ia baru sadar akan maksud surat itu, Pohon Oak adalah petunjuk untuk menuju rumah ibunya yang berada di pinggiran kota. Rumah kayu yang berada cukup jauh di dalam hutan, berada sedikit di atas dataran tinggi dengan di kelilingi pohon oak.
Adalah rumah milik ibunya yang Soonyoung temukan satu tahun lalu bersama Wonwoon hasil dari pencarian dan menterjemahkan teka-teka dari catatan harian ibunya.
Soonyoung sudah 2 kali ke rumah itu, terakhir kali kepergiannya ke sana adalah bersama Wonwoo menggali informasi lain yang mungkin bisa ia temukan namun nihil. Satu-satunya informasi yang bisa Soonyoung dapatkan adalah bahwa rumah tersebut digunakan ibunya saat lari dari kaum Hybrid di malam saat bulan penuh ketika ibunya akan melakukan upacara di hadapan Dewa. Rumah yang menjadi tempat persembunyiaanya selama beberapa tahun untuk menghindari incaran dari kaumnya.
Rumah kayu di dalam hutan tropis di pinggir kota.
Butuh tiga jam perjalanan dari pusat kota untuk sampai ke tujuan mereka hari ini. Setengah dari perjalanan pun bahkan belum mereka lewati.
“Nyong...”
“Iya nu”
“Ada gue” ujar Wonwoo masih menatap lurus dari balik kaca mobil fokus pada jalanan di depannya.
Soonyoung kembali menatap Wonwoo, rasanya takut tapi ia juga lebih tenang karena ada seseorang yang menemaninya saat ini. Tidak seperti dua tahun lalu saat Soonoyung harus bertahan sendiri.
“Gantian nyetirnya kalo lo capek, nu” suara Soonyoung parau.
“Lo istirahat aja gue oke gak masalah”
Lagi-lagi Soonyoung menatap nanar.
“Menurut lo sampai kapan ya nu gue harus hidup dalam pelarian kaya gini?” tanya Soonyoung pelan, ada suara putus asa di balik suaranya barusan.
“Sampai kita ketemu jawaban dari surat kelima lo, nyong” balas Wonwoo. “Entah kita mau nyebrang atau kita mati” lanjutnya.
17 Januari 2019 Semenanjung dengan dengan tiga laut, menyebrang atau mati.
“Kita....” cicit Soonyoung pelan bahkan Wonwoo pun tidak mendengar.
Perjalanan mereka akhirnya sampai ketika langit sudah menampakkan sinarnya, hujan sudah tidak turun sederas tadi subuh walaupun masih ada rintik yang membasahi pundak Soonyoung dan Wonwoo namun keadaanya tidak semencekam 3 jam lalu.
Mobil Soonyoung tidak dapat menembus dalamnya hutan lebih jauh alhasil Wonwoo harus memarkirkannya di tanah datar tidak jauh dari pinggir jalan namun cukup terlindungi oleh pohon-pohon tinggi di sekitarnya.
Kedua sahabat itu berjalan menyusuri tanah yang basah, bau lumut dan dedaunan tercium kentara. Sesekali keduanya harus bergandengan tangan saat melewati tanjakan licin yang bisa saja melukai keduanya.
Rambut Wonwoo sudah mulai sedikit lepek karena rintik hujan yang membasahi berbeda dengan Soonyoung yang menggunakan penutup kepala dari jaketnya untuk menghindari air hujan, namun kesulitan itu tidak menghentikan langkah keduanya untuk berjalan lebih jauh.
Setengah jam menyusuri jalan tanah yang licin mereka akhirnya sampai di depan bangunan rumah kayu dengan posisi yang cukup tinggi di atas dataran, ada satu tangga kecil yang diselimuti lumut untuk membantu mereka naik ke sana.
Rumah itu bisa diprediksi berusia lebih dari 30 tahun namun kayunya masih sangat kokoh bahkan hanya sedikit bagian yang keropos dimakan usia. Keadaanya sudah lebih baik dari beberapa waktu lalu ketika pertama kali Soonyoung menemukannya karena setiap kali ia mengunjungi rumah ini ia selalu membersihkan beberapa bagiannya bahkan meninggalkan beberapa perabotan untuk tidur dan memasak.
Suara derit terdengar saat Soonyoung membuka pintu utama, keadaan di dalam gelap hanya pantulan sinar dari luar jendela yang menembus ventilasi udara. Dingin dan sunyi.
Wonwoo yang mengikuti dari belakang kemudian menutup rapat pintu kayu itu, mengganjalnya dengan satu kayu besar berbentuk persegi berukuran hampir dua meter sebagai penghalang ganda jika ada ancaman dari luar.
Soonyoung melemparkan tas ranselnya di atas sofa tua warna coklat di ruang tengah kemudian membanting tubuhnya di sana sambil menghirup napas panjang. Sedangkan Wonwoo langsung menuju dapur mengecek semua akses masuk ke rumah ini dan memastikan jendela terkunci rapat.
Ada beberapa bagian dari jendela yang harus ia benahi karena terlihat longgar, beruntung Wonwoo sudah menyiapkan semuanya maka ia langsung memperbaiki jendala tersebut. Soonyoung memperhatikan Wonwoo dari jauh, rumah ini tidak besar sehingga ia bisa langsung melihat Wonwoo yang berada di dapur dari ruang tengah.
Tangan Wonwoo begitu cekatan melepas baut-baut berkarat dan menggantinya dengan yang baru, memukul beberapa paku agar sambungannya lebih kuat. Soonyoung sempat dibuat terhipnotis untuk beberapa saat sampai lamunannya harus buyar ketika Wonwoo memanggilnya.
“Nyong, ganti baju dulu baju lo basah”
“Lo yang lebih basah, nu”
“Gue gampang, kelar ini langsung mandi”
“Mandi pakai apa? saluran airnya rusak” balas Soonyoung menyusul Wonwoo ke dapur.
“Iya makanya gue beresin dulu, mau gue cek yang di kamar mandi sama wastafel dapur biar sekalian kotor. Kita gak mungkin sering-sering keluar rumah sini nyong, gue sanksi kalo lo kenapa-napa” ucap Wonwoo masih sibuk dengan jendela di depannya.
“Yaudah gue ke kamar dulu, siniin tas lo gue bawa sekalian”
Soonyoung kemudian menuju kamar satu-satunya di rumah ini, selimut bersih ia ambil dari lemari tua di sudut ruangan. Selimut berwarna biru tua yang Soonyoung bawa dari asramanya saat kunjungan terakhir kali ke rumah ini.
Sebenarnya, ada sumber mata air bersih yang berjarak 10 menit dengan berjalan kaki dari rumah ini sehingga Wonwoo tidak usah repot-repot memperbaiki selang airnya namun karena tidak mau mengambil resiko Soonyoung pun menuruti perkataan Wonwoo barusan. Lagi pula, keahlian Wonwoo untuk memperbaiki perkakas tidak usaha diragukan lagi, Wonwoo itu punya tangan ajaib bagi Soonyoung. Semua bisa kembali dan terlihat baru setelah mendapatkan sentuhan Wonwoo.
Tidak sadar akan waktu, Soonyoung ternyata terlelap selama hampir satu jam lamanya di atas tempat tidur dengan selimut yang ia ambil tadi.
Saat Wonwoo memasuki kamar otomatis langkahnya melambat, mengurangi derit lantai kayu akibat hentakan kakinya saat berjalan agar Soonyoung yang tertidur tidak terbangun.
Wonwoo tahu bahwa sahabat di depannya ini sudah sangat kelelahan mental dan fisiknya, tidak mudah hidup dibayang-bayangi ancaman dan harus terus sembunyi bahkan entah dari siapa. Wonwoo menyentuh lembut pelipis Soonyoung, wajah tenangnya ketika tidur begitu damai walaupun ia tahu Soonyoung tak sepenuhnya benar-benar tenang.
Soonyoung akan berubah menjadi kucing hitam kecil jika memang merasa nyaman akan sekitarnya. Hanya ketika ia yakin tidak ada bahaya disekelilingnya. Jika saat ini Soonyoung tertidur dengan wujud manusianya berarti ada bagian dalam diri Soonyoung yang masih bersiaga walaupun fisiknya yang sedang beristirahat. Bayangkan betapa melelahkannya hal itu.
Soonyoung menggeliat saat merasa ada seseorang di dekatnya.
“Nu...” panggilnya dengan mata yang masih terpejam.
“Iya gue, mandi dulu nyong”
“Lo udah?”
“Ini baru mau”
“Yaudah duluan aja”
“Gak mau barengan?” goda Wonwoo mencoba mencairan suasana karena hari ini sudah cukup berat bagi mereka. Namun, satu lemparan bantal berhasil mendarat sempurna di wajah Wonwoo.
“Orgil!!” balas Soonyoung sarkas dan sudah sepenuhnya terbangun.
“Hahaha becanda nyong. Lo duluan mandi deh abis itu kita bikin teh anget sama pop mie”
“Udah beres kerannya?”
“Udah dong, makanya lo cek dulu tapi yang di kamar mandi gak terlalu deras sih soalnya ada pipa yang bocor di dalem tanah gue gak sanggup gali sampe sana” jelas Wonwoo.
Soonyoung kemudian duduk bersila di dekat Wonwoo yang sekarang juga duduk di atas tempat tidur.
“Makasih ya, nu” satu pelukan Soonyoung berikan untuk Wonwoo.
Soonyoung masih mau memberikan satu pelukan hangat baginya padahal Wonwoo tahu, Soonyoung sendirilah yang sebenarnya paling membutuhkan pelukan itu.
Bulan penuh sebentar lagi, mereka mengincarnya untuk upacara di hadapan Dewa.