hottie bestie

Belum sempat Soonyoung turun menyusul teman satu kamarnya, yang dimaksud malah sudah kembali membawa satu bungkus styroform yang bisa ditebak berisi bubur ayam lengkap dengan tiga tusuk sate telur puyuh kesukaan Soonyoung ke kamar mereka.

“Lama bener!” Umpatnya ketika baru melangkah masuk. Meletakkan bungkusan tadi di atas tempat tidur Soonyoung.

“Ini baru mau turun, Nu. Jadi orang gak sabaran banget heran” balas Soonyoung yang malah santai kembali melempar sendal jepitnya yang sudah sempai dipakai dan menuju nakas tempat menyimpan peralatan makan.

Belum sempat Soonyoung meraih bungkusan sarapannya, pinggangnya sudah ditarik oleh lengan besar Wonwoo. Membawanya terduduk di pangkuan si sahabat yang terpaut satu bulan lebih muda.

Mereka duduk diatas tempat tidur Wonwoo yang lebih rendah, lengan Soonyoung otomatis melingkar di leher lawan bicaranya kali ini.

“Makasih, Nunu!” Katanya mencium sekilas bibir yang berkaca mata.

“Lo sibuk mulu sih” balas Wonwoo.

“Praktikum gue lagi banyak, Nu. Jadinya jarang main sama lo”

“Ditungguin tuh sama anak-anak, katanya lo jarang ngumpul lagi”

“Kalau bisa belah deh nih badan gue malemnya nongkrong sama kalian, sebelahnya ngerjain report di kamar”

“Dua doang?”

“Lo mau berapa, Nu?” Ujar Soonyoung menyamankan duduknya di pangkuan Wonwoo. Bagian bawah mereka sudah bergesekan pelan hanya terhalang celana training Wonwoo dan celana chino pendek milik Soonyoung.

“Bagi tiga jadi satunya ngewew sama gue”

Plakk

Pipi sebelah kiri Wonwoo sukses memerah hasil telapak tangan Soonyoung yang mendarat sempurna.

“Sakit anjir!” Wonwoo spontan meremas pantat Soonyoung gemas sekaligus kesal.

“Katanya gue bau jigong!!”

“Emang”

Dibuat emosi Soonyoung kemudian berusaha berdiri dari pangkuan Wonwoo. Namun, dengan cepat tangannya ditarik kembali oleh sabahatnya dan pinggang ramping milik Soonyoung dipeluk erat oleh Wonwoo. Tarikan itu sekaligus membawa wajah mereka bertemu dan dengan sesaat bibir mereka menyatu. Mengecap manisnya masing-masing saliva. Tangan Soonyoung sudah kembali pada tempatnya, melingkar mesra di leher Wonwoo sesekali mengelus rambut belakangnya saat ciuman mereka kian mendalam.

Suara kecipak mulai terdengar di seisi ruangan. Lenguhan pelan Soonyoung pun mulai keluar dan itulah kode Wonwoo untuk menambah tempo gesekan pinggulnya pada Soonyoung dan meremas pantatnya lebih kuat.

Sepuluh menit menghabiskan waktu saling mencumbu, akhirnya pagi mereka diawali dengan Wonwoo yang memuntahkan putihnya di mulut Soonyoung sebelum dia kembali bergegas untuk jadwal shift di sebuah cafe seberang kampus sebagai barista.