milkyways1707

Hoshi berjalan santai turun dari ruangannya di lantai 8 menuju lift, dirinya memang belum menerima telepon dari Wonwoo bahwa yang dimaksud sudah sampai. Namun, karena Hoshi tidak senang membuat orang menunggu dirinya maka ia berinisiatif untuk menunggu Wonwoo di lobby kantornya.

Beberapa kolega kerja sudah mulai berlalu-lalang untuk pergi makan siang atau sekedar rehat dari aktifitas perkerjaan di balik komputer, beberapa yang Hoshi kenal pun menyapanya.

Saat duduk di salah satu sofa model letter L, Hoshi menyempatkan mengirimi Wonwoo pesan singkat.

Wonwoo, jemput di depan gedung kantor aja ya

Gak usah masuk soalnya parkirannya muter kebelakang agak jauh

Okay hyung


Tidak sampai lima menit ponsel Hoshi kembali berdering, suara dari seberang sana masih sama berat dan rendahnya. Setelah sambungan singkat itu Hoshi berjalan keluar gedung kantor menuju mobil SUV hitam yang sudah ia dikenali.

tok tok tok

Hoshi membuka pintu penumpang mobil Wonwoo.

Wangi segar sabun mendominasi saat dirinya masuk, Wonwoo terlihat sangat sengar walaupun ada sedikit kantung mata di area wajahnya.

“Hyung” sapanya ramah.

Hoshi balas tersenyum,

“Cepet banget sampainya”

“Waktu hyung chat tadi gue udah di perempatan Lotte”

“Pantesan”

Suasana masih sedikit canggung karena ini pertemuan pertama mereka lagi setelah tragedi wahana disco pangpang, Hoshi pun menjaga posisi duduknya.

“Hyung, santai aja” kata Wonwoo sambil menginjak pedal mobilnya dan melaju ke restaurant tempat mereka makan siang hari ini.

Bukan canggung karena hanya mereka saja yang bertemu hari ini. Namun, Hoshi merasa kecil setelah menyadari bagimana bagus mobil dan pakaian Wonwoo. Dirinya merasa rendah, orang yang sudah bekerja lebih lama seperti dia hingga saat ini hanya mampu membeli apartement kecil.

“Enggak kok nu, masih oleng soalnya banyak kerjaan di kantor” alasannya.

“Senderan aja hyung, biasanya kelamaan di depan komputer bikin urat leher tegang” tatap Wonwoo pada Hoshi meyakinkan

“Gapapa nih?”

“Gapapa lah, apa mau gue ambilin bantal leher sekalian di belakang ada tuh, susu mau susu? yakult juga ada”

Hoshi tertawa.

“Gue curiga ini mobil bakal buat dagang di jalan ya kalo car free day?”

Keduanya kembali tertawa.

Sudah 20 menit sejak Hoshi menunggu dengan bosan di depan patung Elsa tak jauh dari toilet umum dimana Jeonghan masih menyelesaikan urusannya.

Kalau bukan karena ikatan pertemanan mereka yang sudah berjalan 8 tahun mungkin saat ini Hoshi sudah menelantarkan sahabatnya itu dan berada di depan sebuah mangkuk Kalguksu hangat dan siap menyantapnya dengan lahap.

“Hoyyyy!”

Di tengah rasa laparnya yang luar biasa, seseorang baru saja menyapa Hoshi. Mengangkat tangannya tinggi-tinggi di udara, seperti kawan lama yang baru berjumpa.

Mencoba ramah Hoshi membalas dengan senyum kaku.

“Siapa ya?”

“Hyung! Kita tadi naik disco pangpang barengan” kata pemuda ceria tadi.

“Oh ya?” Balas Hoshi masih kaku.

“Tangannya gak sakit kan, hyung?” kali ini pertanyaan terdengar dari suara lain, suara yang lebih berat dan dalam.

Tidak sadar akan sekitar entah karena perut kosong yang terus meronta atau karena langit yang mulai gelap Hoshi dibuat terkejut. Bocah riang tadi datang dengan dua orang laki-laki lain dan salah satunya adalah lelaki bertopi hitam yang sejam lalu menariknya dari lantai wahana yang berguncang dan hampir membuat organ pemompa darahnya melompat dari tempatnya karena diserang gugup.

Laki-laki yang menarik pinggangnya sebelum hempasan keenam di wahana disco pangpang.

“Ah! Kamu! Aduh, maaf tadi didudukin pas di wahana” kata Hoshi reflek.

“Gapapa. Udah biasa” balas si pemuda dengan topi hitam.

Heol! Udah biasa katanya. Oke

Belum sempat merespon, Hoshi kembali mendapat deratan pertanyaan lain.

“Hyung, namanya siapa? Kenapa kok sendirian? Temannya yang tadi akrobat mana?” sekarang bocah riang yang pertama kali menyapanya tadi yang bertanya.

“lagi nungguin dia di toilet, katanya ngantri” balas Hoshi ramah.

“Santai aja kali, hyung. Pake gue-lo aja. Btw, nama gue Lee Chan”

Oh, bocah periang ini Lee Chan. Cute

“Okay Chan. Gue Hoshi”

Cool name” kata pemuda bertopi hitam.

Thanks?” Balas Hoshi, ragu apakah ungkapan barusan adalah sebuah pujian atau bukan.

Dan,

Untuk pertama kalinya Hoshi melihat wajah pemuda bertopi hitam tadi dengan jelas saat ia membuka topinya dan melemparkan satu senyum simpul pada Hoshi.

Bro, please don't

“Gue Wonwoo, hyung”

“Ah, Wonwoo. Makasih ya yang tadi and sorry

“Wah hyung kalau tadi Wonwoo gak narik mungkin bisa kepental keluar wahana”

Wajah Hoshi berubah horor membayangkan ucapan Chan.

“Ngehe lo jangan gitu dong kasian orang jadi takut ntar gak mau lagi main disco pangpang” sumber suara lain lagi yang baru Hoshi dengar. Asalnya dari arah belakang.

“Gue Mingyu, sebenernya udah ngeliat temen-temen cunguk gue gangguin lo dari tadi tapi gue tinggal dulu beli jagung keju buat Dokyeom soalnya ntar ngambek” kata Mingyu panjang lebar.

Dalam hati Hoshi siapa lagi yang namanya Dokyeom. Sedetik kemudian barulah ia kembali sadar, masih ada satu orang yang belum memperkenalkan diri. Perut laparnya bener-benar tidak bisa diajak berkoordinasi.

“Lama ya lo, nyet. Gue udah laper banget ini” Dokyeom bersuara sambil mengambil alih jagung keju dari tangan Mingyu.

“Masih lama di sini, hyung?” Tanya Wonwoo lagi.

“Enggak, habis ini mau pergi makan terus pulang” balas Hoshi dengan sisa tenaganya.

“Yaudah ikut kita aja, Dokyeom paling tau rekomendasi restaurant enak. Jangan makan di sini, mahal and tasteless” ajak Wonwoo.

“Suka kalguksu, gak?” sekarang Dokyeom yang bertanya.

Please” Hoshi hampir menangis hanya karena mendengar kata Kalguksu, kalau tidak ingat Jeonghan mungkin ia sudah menghilang bersama empat pemuda ini.

Beruntung, tidak sampai empat menit kemudian Jeonghan muncul. Singkat kata, mereka pun berkenalan sepanjang jalan keluar dari taman bermain itu.

“Hmm nama restaurantnya apa?” tanya Hoshi.

“Gampang, ikutin mobilnya Wonwoo aja hyung” jawab Chan.

“Kita gak bawa mobil, tadi berangkat pakai taksi online”

“Kalau gitu bareng aja sama kita, masih cukup kok” ajak Wonwoo kembali.

“Aduh, gak enak numpang Wonwoo” kata Hoshi tulus.

“Mobil Wonwoo besar” itu Mingyu.

Mendapat tendangan kecil dari Jeonghan di kakinya. Akhirnya, Hoshi mengalah dan ikut menumpang di mobil Wonwoo.

Mereka pun berangkat dengan Wonwoo yang menyetir, sedangkan Dokyeom di sampingnya. Jeonghan dan Hoshi di kursi tengah, dan Mingyu Chan berada di kursi paling belakang. Keenamnya tampak cepat akrab. Terimakasih kepada Chan dan Mingyu yang memiliki kepribadian yang menyenangkan.

Cuaca hari Sabtu di minggu pertama bulan September terbilang cerah, selain karena mataharinya yang terus bersinar juga karena akhirnya Hoshi bisa mendapatkan akhir pekannya kembali setelah dua minggu berturut-turut harus menyelesaikan proyek kantor hingga lembur larut malam, bahkan mengorbankan dua hari paling berharganya di penghujung minggu untuk membuat final draft proyek tersebut.

Setelah perdebatan kecil dengan Yoon Jeonghan teman masa kuliahnya dulu yang sempat menghilang di Jepang tujuh bulan lalu entah karena apa. Akhirnya, kedua sahabat itu berhasil membuat pesanan taksi online untuk mengantarkan mereka ke taman bermain paling besar di kotanya.

“Kenapa tiba-tiba mau ke disco pangpang?” tanya Hoshi akhirnya setelah menyamankan duduknya di kursi penumpang.

“Pengen nyari gebetan” balas Jeonghan cuek.

“Ketebak banget”

You know me too well Hoshingiiiiiii” kekeh sahabatnya yang memiliki rambut berwarna terang itu kontras dengan rambutnya yang hitam legam akibat tuntutan pekerjaan di kantor.

Dua puluh menit berkendara keduanya sampai di tempat tujuan, karena bertepatan dengan akhir pekan tak heran loket pembelian tiket sudah terlihat padat dengan susunan rapih pengunjung yang mengantri. Untuk menyingkat waktu mereka langsung ikut berbaris menunggu gilirannya.

Kata Jeonghan untuk pemanasan sebaiknya dimulai dengan menaiki wahana yang tidak begitu menguji adrenalin, Komidi Putar.

Hoshi merasa bodoh sekaligus seperti orang dewasa yang kurang bahagia setelah mengedarkan pandangannya yang ditatap heran oleh bocah sekolah dasar yang terheran-heran dengan kedua sahabat yang berusia matang itu. Namun, di sebelahnya ada Jeonghan yang dengan santai menikmati wahana pertamanya tanpa peduli orang sekitar. Well, sepertinya tidak ada salahnya juga mencoba menjadi tidak peduli dengan pandangan orang.

Total sudah ada lima wahana yang keduanya naiki tanpa sadar bahwa langit di atasnya sudah berubah jingga bahkan makan siang yang jadi keseharusan untuk Hoshi terlewati begitu saja. Dia benar-benar menikmati akhir pekannya.

“Haus!!”

Stop right there, Hoshingi!

“Gue mau beli minum gak kuat haus banget”

“Lo liat ke sana, antrian disco pang pang lagi lengang. Udah buruan naik itu dulu ntar jajannya sekalian pas turun” kata si sahabat membujuk.

“Laper gue asli”

“Ntar kalau makan sekarang malah jadi mual”

Tidak salah, karena dari yang Hoshi tau wahana berikutnya ini bisa membuat seluruh anggota tubuhnya terpental kesana-kemari. Apa jadinya kalau sekarang dia memutuskan untuk memakan satu sosis kanzler bakar, bisa-bisa dia mempermalukan dirinya sendiri karena memuntahkan isi perutnya di atas wahana sebelum sempat turun.

Sepuluh menit mengantri akhirnya giliran keduanya sampai. Jeonghan terlihat sangat bersemangat sedangkan Hoshi biasa saja, buatnya rasa lapar sudah melebihi semua sel-sel akal sehatnya.

Di sisi lain terlihat ada gerombalan pengunjung lain yang mulai naik. Total sekitar 15 orang yang sudah berada di atas wahana Disco Pangpang mulai dari pasangan yang memang duduk bersisihan siap saling bergenggaman tangan, atau sekelompok gadis usia sekolah menengah atas yang dengan berisiknya menyamakan posisi duduk mereka dan sedikit mencari perhatian dari pengunjung pria yang lain atau beberapa remaja laki-laki dan orang dewasa lainnya yang masih tenang.

Wahana ini punya banyak peminat selain karena menguji adrenalin, wahana ini juga memiliki pemandu permainan yang menyenangkan. Tak jarang sang pemandu melontarkan pertanyaan dan lelucon lucu pada pengunjung yang naik ke wahana.

“Nona, kamu datang dengan siapa? Hah? Sendirian? Kasihan”

“Hey! Kau yang di sana apa itu seragam sekolah? Kenapa ada di sini bukannya belajar yang rajin”

Bahkan sang pemandu tidak segan menjodohkan pengunjung yang baru bertemu di sini.

“Nona apakah yang di sebelahmu itu pacarmu? Jika bukan harusnya kalian jadian saja hari ini. Aku yakin dia juga mau”

Celotehannya pasti mengundang tawa dari pengunjung lain dan sambutan rona merah bagi yang dimaksud.

“Mas yang pakai hoodie abu-abu tolong tukaran tempat duduknya dengan mbak yang baju merah jadi kalau dia jatuh bisa dibantu dan dijadikan pacar kalau mau”

Lagi-lagi senyum malu-malu jadi sambutan.

Tak lama akhirnya aba-aba wahana mulai bergerak pun dimulai.

Terdengar sorak sorai pengunjung yang masih normal saat wahana belum bergerak terlalu cepat.

“Heh!” Kata Hoshi menepuk sahabat di sebelahnya yang sudah terpaku dengan pandangan sisi kirinya.

“Apaan?” Jawab Jeonghan asal.

“Udah ada target ya lo?”

“Hehehe”

“Ngeselin banget ketawanya”

“Lo tengok deh kiri gue tapi jangan langsung nengok ntar ketahuan”

Hoshi menurut dan menoleh pelan ke arah yang sahabatnya tunjukan.

“Gila lo demennya bule”

“Kalau bisa kenapa enggak” balas Jeonghan santai.

Hoshi cuma bisa menggeleng lelah atas tingkah sahabatnya ini, sudah terlampau biasa.

Wahana mulai bergerak cepat, setiap pegangan pengunjung pun semakin erat pada besi pengaman di belakang mereka.

Satu hentakan pertama menguncang wahana Disco Pangpang, tidak kurang dari 3 orang sudah terpental di tengah wahana, nampak terkejut ketiganya berusaha berdiri mencari sisi wahana untuk menyelamatkan diri. Namun, sial bukannya melambat hentakan kedua malah kembali menyusul. Ketiga orang itu kembali terpental, dari tiga orang tersebut dua diantaranya ada dua pelajar tadi dan pemeran utama kita malam ini, Hoshi.

Entah apa yang terjadi beberapa detik yang lalu, yang pasti saat hentakan pertama Hoshi belum berpegangan sempurna pada besi pengaman. Jeonghan bahkan terkejut melihat sahabatnya tiba-tiba terlempar ke lantai bahkan saat kecepatan wahana belum maksimal.

“Hoshingiii tarik kaki gue” katanya berusaha menyelamatkan Hoshi.

Memanfaatkan gerakan menurun wahana, Hoshi berhasil merosot ke arah tempat duduk mereka semula, meraih kaki Jeonghan sebelum akhirnya bisa kembali duduk.

Jeonghan terbahak melihat wajah Hoshi yang seketika memerah, tubuh mereka masih terus tehuyung ke kanan dan kiri. Jeonghan merasa sedikit bersalah karena Hoshi terlewat lapar dan tak bertenaga hingga bisa terpental seperti tadi.

“Please, gue mau turu-AAAAAAAAAKK!!!!!!” belum sempat Hoshi menyelesaikan kalimatnya sekarang keduanya yang terpental, tidak sampai di tengah wahana hanya saja tubuh mereka menghantam pengunjung lain di sebelah kanan, tak bisa dihindari kelima orang di dereta tempat duduk itu terhimpit satu sama lain.

Saat kembali normal Hoshi buru-buru meminta maaf masih sambil berpegangan pada besi pengaman kepada satu pasangan kekasih di sana dan satu wanita dewasa yang barusan terhimpit oleh tubuhnya dan Jeonghan.

“Hosh, kayanya kuku kelingking gue lepas deh”

“Bego!” Balasnya tak peduli. “Mana?” Katanya sedetik kemudian.

Jeonghan menunjukan kelingking kirinya bahkan tak berani melihatnya sendiri.

“Gak lepas, cuma patah doang. Makanya kuku tuh dipotong”

Lega, kembali Jeonghan memberikan senyumannya pada Hoshi sementara disekeliling mereka sudah kacau karena beberapa orang yang kembali saling menghimpit dan menabrak satu sama lain. Yang tak kenal bahkan ikut membantu pengunjung lain yang terhuyung di tengah lantai wahana.

Hentakan kelima jika kewarasan Hoshi masih benar menghitungnya, akhirnya ia dan Jeonghan kembali terpental. Parahnya kali ini mereka terpental hingga deretan seberang. Jeonghan sudah tidak berbentuk, kepala nya hampir manabrak bagian bawah tempat duduk dengan kaki yang terangkat hampir menghantam wajah pengunjung di depannya, untungnya cepat-cepat ia turunkan dan berusaha meraih tempat kosong terdekat.

Sial tak mudah pergi, di sudut lain Hoshi berusaha mati-matian berguling menuju tempat awalnya namun kecepatan wahana tak kunjung berkurang bahkan dalam 5 detik kemudian Hoshi kembali terhempas membuat kepalanya serasa berputar pusing.

Yoon Jeonghan sialan!

Saat rasanya kaki Hoshi tidak mampu lagi menahan tubuhnya bahkan untuk merayap, satu tangan laki-laki melingkar di pinggangnya dari belakang dan menariknya dengan kuat mundur ke atas tempat duduk. Hingga punggungnya menghantam benda yang tidak begitu keras jauh berbeda dari besi pengaman wahana.

Terkejut saat mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk karena guncangan, Hoshi akhirnya sadar kalau sekarang sedang berada di atas pangkuan seseorang.

Shit! Shit! Shit!

Laki-laki itu memeluk pinggangnya posesif bahkan sempat mengarahkan tangan kiri Hoshi untuk meraih besi pengaman untuk berpegangan, walaupun Hoshi sendiri masih terkunci di pangkuannya.

“Aduh, maaf...” Kata Hoshi akhirnya kepada laki-laki itu berusaha turun dari pangkuannya. Wajah memerah seperti terbakar api.

“Pegangan sini, hyung” balas laki-laki tadi saat Hoshi berhasil turun dari pangkuannya. Namun, malah menyilangkan kakinya ke atas paha Hoshi, menyuruhnya berpegangan pada kaki lelaki barusan agar dirinya tidak terpental lagi ke depan.

“Hyung, cepat!”

“Ah, i-iya” balas Hoshi ragu namun akhirnya mengeratkan pegangan tangan kanannya pada kaki lelaki tadi dan tangan kirinya yang masih menggenggam besi pengaman di belakang.

Posisi keduanya begitu dekat bahkan Hoshi dapat mencium wangi maskulin dari lelaki di depannya ini.

Akhirnya pada dua putaran terakhir Hoshi berhasil selamat tanpa kembali terpental berkat bantuan lelaki asing barusan yang sekarang sudah pergi tiba-tiba saat wahana secara total berhenti menandakan permainan selesai.

figure skating : Jeon Wonwoo (20 th) part timer : Kwon Soonyoung (19 th)

1) Soonyoung kerja di arena ice skating 2 tahun, bekerja juga di swalayan, tinggal ngekos.

2) Wonwoo atlet ice skating, Mahasiswa semester 5 Ilmu Komunikasi. 2 kali juara Olimpiade 2014 dan 2018.

“Soonyoung jangan lupa rapikan kunci-kunci loker sebelum pulang ya” ucap pria paruh baya berusia 53 tahun pemilik arena ice skating tempat Soonyoung bekerja.

Soonyoung bekerja sebagai pemandu

Waktu sudah menunjukan pukul 16.45 sore waktu Soonyoung keluar dari ruangannya hendak menuju pantry, sekedar membuat kopi instant dan membilas wajah yang lelah karena aktifitas hari ini yang cukup padat di kantor. Baru dua langkah berlalu, dirinya dikejutkan oleh suara teriakan lantang yang memanggil namanya, familiar dan menggemaskan bahkan saat Soonyoung belum memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang barusan memanggil.

“Om ttunyong!” katanya lagi.

Kali ini Soonyoung sudah dengan kekehan gelinya menghampiri si pemilik suara gemas tadi.

“Siapa ini sore-sore baru mau berangkat kerja?” balas Soonyoung bergurau.

“Ayah yang mau kerja, Deahan mau main aja” katanya.

Sang Ayah hanya tersenyum melihat tingkah si kecil yang sejak tadi sudah berlari ke arah Soonyoung.

“Minta diantar ke sini Soonyoung, pulang sekolah gak mau tidur, minum susu susah” kata Wonwoo menyela obrolan dua orang di depannya.

“Dedek kenapa gak mau bobo?” tanya Soonyoung lagi.

“Males sama onty”

“Astaga mana boleh begitu, dek” ujar Soonyoung mencubit gemas hidung anak atasannya itu.

“Ayo pulang om” Daehan polos.

Soonyoung dibuat terkejut, rasanya seperti de javu karena ucapan dari si kecil barusan persis seperti apa yang diucapkan ayahnya semalam saat membawa Soonyoung pulang ke apartementnya.

“Bapak sama anak sama aja tukang nyuruh orang pulang tiba-tiba” batin Soonyoung

“Baru sampai dek, udah mau pulang lagi” balas Soonyoung akhirnya.

“Tadi udah ke ruangan saya tapi ngamuk mau ketemu kamu” ujar Wonwoo.

“Ciye dedek kangen ya~?”

“Enggak” balasnya otomatis membawa gelak tawa Soonyoung mwmbuat si kecil diserang malu.

“Soonyoung, saya ada tamu 15 menit lagi saya boleh titip Daehan gak?”

“Boleh Pak, ini juga udah beres. Anak-anak udah pada kelar submit ke tim nya Jihoon bahan JFFF siap cetak” kata Soonyoung sambil mengangkat Daehan.

“Yaudah kalau begitu titip sebentar ya Soonyoung, kalau kamu mau pulang ketuk saja ruangan saya atau kabarin Junhui biar Daehan dijaga sama dia”

“Aman Pak, jangan ke Junhui deh orangnya emosian kasian ntar dedek shock” balas Soonyoung bercanda.

“Iyaa om jujun ga seru, ga hapal dinosaurs” sela Daehan, Soonyoung kembali dibuat gemas oleh balita digendongannya saat ini.

“Daehan jangan lari-lari di ruangan Om Soonyoung, no scream no run ya, duduk aja yang pinter nurut sama Om Soonyoung jangan ganggu Om sama Aunty nya yang lain” ujar Wonwoo menasihati anaknya.

“Iya Ayah” balasnya kecil.

Wonwoo kemudian mengusak rambut anaknya dan berpamitan kepada Soonyoung.

“Dedek, ayo Om Soonyoung ajarin bikin kopi”

“Oceee” katanya semangat.


Setelah menyelesaikan makan malam yang mereka beli sepulang kerja tadi, sekarang keduanya tengah sibuk di ruang tengah Soonyoung dengan alat tulis yang berserakan.

Soonyoung membantu Daehan mengerjakan tugas rumahnya, membantunya menghapal susunan angka dalam Bahasa Inggris kemudian mencontohkan penulisannya yang akan ditulis ulang oleh Daehan. Soonyoung tidak terlalu memaksakan, untuk anak berusia empat tahun mengerjakan tugas rumah seperti ini sudah cukup rumit baginya.

Keduanya sesekali bercanda saat Daehan kerap kali terbalik menuliskan huruf b dan d.

“Ini kembar sih om ttunyong...Daehan suka lupa tulisnya hehehe”

“Gini dek, kalau huruf b ada perutnya, kalau huruf d ada apa?”

“Ada pantatnya.....” gelak tawa Daehan pecah saat dirinya sendiri menyebut istilah barusan yang diajarkan Soonyoung agar mudah membedakan kedua huruf kecil tersebut.

Setelah lelah tertawa dan selesai mengerjakan tugasnya, Daehan dengan tenang menonton film kartu favoritnya di tv sembari Soonyoung membereskan piring kotor sisa makan mereka tadi.

“Om ttunyong ada orang” ujar Daehan yang menyusul ke dapur saat mendengar bel apartementnya berbunyi.

“Ayah kayanya dek” balas Soonyoung sambil mengeringkan tangannya. Daehan kecil mengikuti di belakang.

Saat dibuka ternyata benar ada Wonwoo yang sudah menunggu di depan pintu, hanya mengenakan kemeja putihnya dengan lengan yang sudah digulung dan dasi yang masih menempel namun kerahnya sudah dibuka longgar.

“Puas mainnya Daehan?” kata Wonwoo menengok anaknya di balik kaki Soonyoung.

“Aku belajar ayah” katanya, kecil.

“Pinter ya sama om Soonyoung tadi?”

“Pinter” balas si kecil lagi. Soonyoung memperhatikan interaksi Ayah dan Anak itu.

“Yuk, pulang dulu. Nanti main lagi sama om Soonyoung”

“Ayah besok bawa baju Daehan simpan di rumah om ttunyong”

“Buat apa?”

“Aku belum mandi, ga punya baju yah”

“Pantes kecut anak ayah” Wonwoo mengejek anaknya membuat si kecil mengerutkan alisnya tanda marah.

“Tadi mau saya mandiin Pak, tapi gak ada baju ganti kalau pakai baju ini lagi ntar gatel, pakai kaos dalem ntar masuk angin serba salah haha” ujar Soonyoung.

“Gapapa Soonyoung nanti pulang langsung saya ajak mandi” “Ayo Daehan, tasnya ambil dulu”

Kemudian si kecil berlari ke dalam aprtement Soonyoung mengambil tasnya yang sudah dirapikan tadi. Soonyoung tentu menemani, sebelumnya sudah menawari Wonwoo untuk masuk namun ia kembali menolak dan memilih untuk menunggu di luar saja.

“Ayah gendong” rengkek Daehan manja saat kembali.

Wonwoo kemudian menggendong anaknya.

“Bye om ttunyong, thank cuuuuu”

“Bye dedek habis ini mandi ya” balas Soonyoung mencium pipi Daehan. Namun, satu yang tidak disadari Soonyoung bahwa aksinya tadi membuat Wonwoo tertegun karena posisi Daehan yang ada pada gendongan lengannya membuat Soonyoung begitu dekat dengan tubuh dan wajah Wonwoo saat mencium anaknya.

Dan bisa dipastikan Wonwoo dapat mencium wangi lembut dari sampo yang Soonyoung gunakan, membuat jantungnya kacau.

“Do I get a kiss aswell?” tanya Wonwoo tiba-tiba.

Kali ini Soonyoung yang tertegun.

Wonwoo tertawa melihat wajah Soonyoung yang berubah horor kemudian mengusap pipi Kepala Editor kantornya tersebut dengan telapak tangannya yang lebar, usapan ringan yang membuat Soonyoung tenggelam dalam keterkejutannya lagi, “Just kidding, good night Soonyoung” kemudian ia berlalu pergi.

Soonyoung dalam masalah. Begitu pula dengan Wonwoo.

Salah satu hotel berbintang lima paling mewah di Ibukota malam ini terlihat nampak ramai oleh para model yang berlalu-lalang di atas catwalk memberikan penampilan terbaiknya, merepresentasikan busana indah yang dikenakan untuk ditunjukan pada tamu undangan dan media yang hadir.

Soonyoung sendiri sejak tadi sudah sibuk memperhatikan dan membantu staffnya untuk meng-highlight setiap moment yang akan diliput pada event kali ini. Total sudah dua jam ia berdiri dan menyapa para tamu undangan dan kolega yang dikenal setelah acara inti selesai, tidak heran untuk sekelas Kepala Editor di kantor Majalah terkemuka di Jakarta Soonyoung cukup banyak memiliki banyak koneksi dari oang-orang penting dan berpengaruh di dunia fashion dan bisnis.

Di sisi lain ada Wonwoo yang juga tidak kalah sibuk saling berinteraksi dengan berbagai macam petinggi perusahaan hingga tidak menyadari ada Soonyoung yang juga hadir di sana bahkan bersisihan di depannya beberapa waktu lalu.

“Malam Pak Wonwoo” sapa salah satu staff yang merupakan tim Soonyoung yang bertugas dalam perhelatan event Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) hari ini.

“Malam” balas Wonwoo.

“Saya Nabil Pak yang di divisi III” katanya sambil mengangkat dan menggoyang-goyangkan ID Card yang menggantung di lehernya.

“Oh tim Soonyoung ya?” Kata Wonwoo lagi.

“Betul Pak, saya kebagian ngeliput fashion sama Pak Soonyoung”

“Soonyoungnya di mana?”

“Tadi pamit ke toilet yang arah pintu timur Pak, ada yang mau disampaikan? Nanti Nabil kasih tau kalau ketemu Pak Soonyoung lagi” tawar Nabil ramah.

Wonwoo kemudian mengecek ponselnya dan baru mengetahui bahwa sesaat lalu ia mendapatkan pesan singkat dari Soonyoung dan buru-buru membalasnya.

“Oh tidak usah, terimakasih ya. Saya tinggal dulu”

“Siap Pak”

Namun, belum jauh Wonwoo beranjak pergi namanya kembali dipanggil.

“Itu Pak Soonyoung” Nabil menunjuk sosok Soonyoung kepada Wonwoo yang hanya bejarak lima meter darinya.

Wonwoo mengerutkan alisnya dan mengecilkan kelopak mata berusaha memfokuskan arah pandangnya, memastikan sosok yang berdiri tak jauh di depannya itu.

“Ah, It's him” ujar Wonwoo bermonolog.

Soonyoung kemudian dibuat terkejut saat Wonwoo tiba-tiba mendekat dengan cepat dan berbisik di telinganya “ayo pulang” sambil menautkan jari-jarinya untuk digenggam.

“Sudah makan?” tanya Wonwoo saat mereka memasuki area parkir hotel.

“Udah Pak, di buffet tadi” balas Soonyoung berusaha santai.

Briefing tim kamu bisa besok pagi kan?” tanya Wonwoo lagi, sadar bahwa dia baru saja menculik Kepala Editor kantornya yang sedang bertugas.

“Oh? anu-iya bisa sih Pak”

“Tangan kamu kenapa dingin sekali? Masuk angin?”

“Gugup Pak”

Wonwoo otomatis mengembangkan senyumnya tak habis pikir dengan jawaban spontan Soonyoung, dia bahkan tidak berusaha menyembunyikan perasaannya.

Wonwoo kemudian mengusap punggung tangan yang digenggamnya dengan ibu jarinya sebelum membuka pintu mobil dan beranjak pergi keluar dari area hotel bersama Soonyoung.

“Semua tim kamu turun?” Tanya Wonwoo saat berhenti pada lampu merah pertama yang menyala.

“Iya Pak, sampai anak magang juga ikut. Yang magang sih pada semangat banget beda sama angkatan kemarin” balas Soonyoung antusias.

Wonwoo sendiri asik kembali menyetir membelah jalanan ibukota sambil sesekali tersenyum mendengar cerita Soonyoung.

“Ngomong-ngomong, kalau bapak pulang larut begini dedek sama siapa Pak?” tanya Soonyoung.

“Di rumah kakak saya yang deket rumah kamu itu”

“Mba egi yang kemarin ke kantor ya Pak?”

“Oh iya yang itu, kamu udah pernah ketemu ya saya lupa”

“Bapak nih apa-apa dilupain, udah matanya rabun lupa pula bawa kacamata tapi heran masih sukses aja mimpin perusahaan ya” kata Soonyoung enteng.

“Kamu lagi gombalin saya atau apa nih?” kata Wonwoo menoleh.

“Idih, bapak merasa digombalin?” balas Soonyoung iseng.

Wonwoo hanya diam tapi sudut bibirnya melengkung, ia tersenyum lagi.

Setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di komplek apartement Soonyoung.

Karena merasa mulai terbiasa Wonwoo pun ikut mengantar Soonyoung hingga di depan unitnya yang berada di lantai 8.

Perjalanan dari parkiran menuju lift penuh dengan keheningan karena sekeliling mereka juga yang sudah mulai sepi, malam sudah menunjukan pukul 22.15 wajar jika aktifitas di luar pun sudah berkurang.

Soonyoung yang merasa canggung karena suasana yang tiba-tiba berubah sejak keluar dari mobil Wonwoo pun akhirnya bersuara saat sudah tiba di depan pintu apartementnya.

“Mau mampir Pak? Saya baru beli kopi kemarin”

Wonwoo yang masih lengkap dengan setelan jasnya hanya menggeleng kemudian maju beberapa langkah mendekati Soonyoug.

“Sudah terlalu malam saya harus jemput Daehan” ujarnya sambil menunduk dan mencium rahang kiri Soonyoung.

“Good night, Soonyoung” lanjutnya sebelum berbalik badan menjauh dari unit apartement bernomor 312 itu meninggalkan pemiliknya yang tertegun diam atas aksi tiba-tibanya barusan.

Kembali pada hari-hari membosankan milik Soonyoung yang bekerja pukul 8.15 pagi hingga 17.00 kalau beruntung, tapi kebanyakan adalah tidak beruntungnya karena paling cepat Soonyoung baru bisa keluar dari gedung kantor yang kurang modern itu saat matahari sudah tenggelam tanpa sinarnya.

Hari ini melelahkan setumpuk berkas yang tidak lengkap harus ia selesaikan, rekan satu tim yang kurang kompeten dan tidak bertanggung jawab akan tugasnya membuat Soonyoung harus banyak-banyak memupuk sabar.

Soonyoung habiskan waktu istirahat malam ini di ruang tengah menonton tv dengan ibunya, sang ayah yang sedang membaca buku duduk tidak jauh dari mereka.

Di dalam keluarga Soonyoung adalah sosok periang, suaranya lantang dan tawanya menular. Soonyoung selalu memiliki pendirian teguh akan segala keputusan yang dibuatnya atau bisa dibilang sedikit keras kepala? Bukan tidak beralasan, Soonyoung itu tidak suka sesuatu berjalan tanpa rencana dan perhitungan yang matang maka dari itu setiap keputusan yang dia ambil pasti sudah dipikirkan dengan mempertimbangkan segala resikonya. Namun, tidak jarang hal itu juga yang sewaktu-waktu bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan orang tuanya paham benar akan itu.

“Kak, kalau nanti ada orang baik yang ingin serius denganmu kira-kira kamu siap nggak meninggalkan ini semua” Ibunya menunjuk tv yang Soonyoung tonton.

Soonyoung itu penggemar Marvel, segala koleksi mulai dari miniatur hingga action figure dengan harga fantastis rela ia beli. Baginya itu hobi dan hiburan penghilang penat lepas dari kesibukan kantor dan pekerjaan. Melihat susunan pajangan yang rapi di sudut kamarnya, menyaksikan film-film yang entah sudah kali berapa diputar dan tak kunjung merasa bosan adalah satu cara Soonyoung lari dari tekanan.

“Ah! gak mau lah bu, dia siapa kok datang-datang ngelarang aku?” kata Soonyoung tersulut pertanyaan Ibunya.

“Ada orang baik, gayanya jauh dari keseharian kamu. Dia orangnya gak suka yang beginian gak neko-neko, kak”

“Gak mau aku” kata Soonyoung lagi tak suka.

“Nanti kalau ke sini ditemui ya, kak” sekarang Ayahnya yang bersuara.

“Ngapain?!!” jawab Soonyoung benar-benar terkejut.

“Kenalan aja, kak. Silaturahmi” kata Ayahnya. “Kamu kemarinkan bilang sekarang terserah ayah sama ibu, sekarang ayah sudah mengusahakan untuk cari yang terbaik buat kamu. Anaknya baik tidak macam-macam”

“Kok langsung ketemu sih, yah?! Gak mau.” Jawab Soonyoung.

“Ya terus gimana? masa Ibu tiba-tiba suruh dia chat kamu, Soon? Kan ketemu dulu”

“Malu buuuuu astaga, aku nanti mau ngomong apa pas dia datang? gak ada pembahasan apa-apa ntar malah aneh” balas Soonyoung masih tak senang.

“Sama Ayah juga, kamu gak sendirian nanti ditemani” kata Ayahnya lagi.

“Pokoknya aku gak mau ya, yah. Gak bakal aku temuin!”

Setelah menutup panggilannya dari Hoshi, Soonyoung kembali mengemas berbagai perlengkapannya untuk orientasi hari pertama di kampus barunya. Alat tulis, badge name yang tidak norak, air minum, beberapa snack ringan yang bisa diselipkan dikantung celananya, pakaian seragam hitam putih

So, I met this guy in my second year in University, he was quite with his head always down

I was quietly looking at you and got to thinking It’s so amazing that you’re in front of me right now I wonder what coincidences kept happening For you to be brought to me right here When we first met If I was a little late We might be different right now

Out of the endless possibilities Only one miracle Has happened before our eyes So let’s be in love even more So we won’t lose this miracle

You, You are my Miracle oh Miracle So precious You, You are my Miracle oh Miracle I will protect you