AMBER LIGHT

Langit sudah kembali gelap saat Soonyoung mencuci gelas terakhirnya bekas makan malam bersama Wonwoo. Rumah mereka hanya memiliki satu sumber cahaya berwana kuning temaram dari lampu darurat yang di bawa Wonwoo, dayanya berasal dari batu baterai. Jika satu lusin batrai sudah habis, mereka masih ada satu persediaan sumber daya lain yang berasal dari aki, lagi-lagi hasil kreatifitas Wonwoo.

Soonyoung membawa lampu itu menyusuri ruang tengah menuju kamarnya setelah selesai mencuci piring. Derit lantai kayu selalu muncul di setiap kakinya melangkah.

Ada Wonwoo di kamar itu sudah mengambil posisi duluan dengan kepala bertumpu pada satu lengannya yang menjadi alas sedangkan tangan lain menonton video offline yang memang sudah ada di galerinya sejak lama.

“Malah nonton video kucing, kucing yang di sini dianggurin” sinis Soonyoung, meletakkan satu-satunya sumber cahaya mereka di sudut ruangan.

“Sini nyong” ajak Wonwoo meraih telapak tangan Soonyoung yang berdiri di samping tempat tidur. “Kucing yang ini ambekan sih” godanya.

Soonyoung mendecih namun tidak menolak untuk ikut bergabung bersama Wonwoo di tempat tidur yang sama. Udara semakin dingin di malam hari ditambah cuaca yang hujan seharian.

Wonwoo memeluk perut Soonyoung dari belakang, dia bisa mencium wangi dari tubuh yang lebih pendek menguar dari lehernya dengan posisi seperti ini.

“Doa lo apa malam ini?” tanya Wonwoo halus. Yang dipeluknya menyamankan posisi dalam rengkuhan Wonwoo.

“Doa gue semoga besok pagi gue masih bisa bernapas kaya malam ini” jawabnya pelan dengan helaan napas berat.

Wonwoo mengangguk kemudian mencium pundak Soonyoung yang masih dilapisi baju kaosnya.

“Nyong...”

“Hmm?”

“Gue boleh tanya gak?”

“Boleh”

“Kenapa lo gak ikut aja sama keluarga nyokap lo? Kalo dari yang gue tangkep mereka sebenarnya punya niat baik buat ngelindungi lo” ucap Wonwoo hati-hati ia tidak mau Soonyoung salah paham.

“Gue gak mau terisolasi nu, gue mau hidup nomal di sini punya temen, kuliah yang tinggi, kerja di gedung besar, meeting sama kolega dan bisa berkeluarga dan liat anak gue turun sekolah” balasnya. “Kalo di sana.....mau jadi apa?” lanjutnya lagi. “Lagian gue gak percaya mitos dan dewa, walaupun ya...wujud gue begini. Gue yakin pasti ada cara buat menghentikan semuanya “.

“Lo juga gak percaya sama mate lo?” tanya Wonwoo lagi.

“Enggak” jawabnya singkat.

Oke.

Wonwoo tidak ingin bertanya lebih jauh, mereka masih punya banyak waktu dan malam ini rasanya sudah cukup untuk mereka berdua. Hari yang panjang untuk sebuah pelarian.

“Deketan sini, nyong. Ntar lo jatuh ke bawah ribet lagi gue ngebenerin lantai” canda Wonwoo.

Soonyoung kemudian berbalik, menatap mata Wonwoo nyalang.

“Galak bener kucing”

“Diem nu, gue ngantuk” balas Soonyoung kemudian menenggelamkan wajahnya di dada bidang Wonwoo.

“Night, nyong” ucap Wonwoo kemudian mencium lamat puncak kepala Soonyoung dan memeluk yang lebih kecil erat.