Disco Pangpang 4.0

Setelah 20 menit berkendara Wonwoo akhirnya sampai di halaman parkir apartement Hoshi.

Entah apa yang menyebabkan tindakan implusifnya hari ini yang tiba-tiba ingin bertamu ke rumah Hoshi orang baru dikenalnya kurang dari seminggu.

Perjalanan dari parkiran ke lift pertama tidak terlalu jauh, namun karena kondisi tubuh yang kelelahan karena seharian bekerja dan mata yang terasa panas membuat langkah kaki Wonwoo melambat, berbanding terbalik dengan degup jantungnya yang tak karuan.

Wonwoo sampai di lantai 15 sesuai informasi Hoshi. Pada bunyi bel kedua pintu berbahan besi itu akhirnya terbuka memunculkan wajah ramah Hoshi dengan balutan pakai santai khas rumahan menyambut kedatangan Wonwoo. Baju kaos kuning kebesaran dan celana pendek di atas lutut warna abu-abu.

“Masuk, nu” sambutnya.

Wonwoo membalas dengan mengangguk sambil membenarkan posisi kaca matanya yang rupanya lupa ia lepas selesai jadwal piket tadi.

“Duduk dulu gue bikinin minum, mau yang dingin atau anget?”

“Anget deh, hyung”

“Lagi capek banget ya?”

“Kok tau?”

“Keliatan soalnya. Yaudah bentar ya”

“Hyung mau bikin apa?”

“Teh anget aja sih”

“Oh, boleh request gak?”

“Boleh”

“Tehnya tawar aja gak usah pakai gula, soalnya hyung udah manis”

“Wonu jangan sampai bantal sofa gue lempar ya ke muka lo” balas Hoshi salah tingkah.

Wonwoo tertawa berhasil menggoda si tuan rumah.

“Tapi serius hyung, tehnya tawar aja”

“Oke sip. Santai aja dulu di situ ya, nyalain tv juga boleh”

“Oke”

Kemudian Hoshi meninggalkan Wonwoo pergi ke dapur sambil tersenyum menggelengkan kepalanya atas candaan tamunya barusan.


Saat Hoshi kembali ke ruang tamu membawa satu cangkir teh hangat tawar untuk Wonwoo ia malah menemukan pria yang lebih muda itu tertidur pulas di atas sofa.

Kepala Wonwoo bersandar pada lengan sofa yang lembut dengan tubuhnya yang memang sudah berbaring nyaman di atas sofa. Nampaknya Wonwoo memang memposisikan tubuhnya untuk tidur di sofa tersebut, mungkin hanya untuk beberapa menit namun nyatanya Wonwoo hanyut dalam tidurnya.

Melihat itu Hoshi hanya bisa maklum karena dari dua kali pertemuan mereka Wonwoo memang terlihat kelelahan. Sebagai orang yang juga mengerti bagaimana melelahkannya dunia pekerjaan terlebih tekanan yang diberikan dari setiap pekerjaan yang datang pasti membuat banyak ebergi terkuras, akhirnya Hoshi membiarkan tamunya itu untuk tidur sedikit lebih lama, meninggalkan cangkir teh hangatnya di atas meja dan mengambil selimutnya di kamar untuk membungkus tubuh Wonwoo yang tertidur pulas. Setelahnya, ia kembali ke dapur mematikan kompor karena kuah sup sundubu jigae yang sudah mulai mendidih.

“Halo...”

“Nu, masih hidup lo?”

“Masih”

“Dari mana dah? Dicariin anak-anak, chat gak ada yang dibales”

“Ketiduran gue”

“Ketebak banget dah nih bujang, jendela rumah lo tutup dulu noh kebiasaan tidur ngedeplak aja”

“Gue lagi gak di rumah, ntar aja balik besok gue off”

“Lah? Jadi lo ketiduran di mana? Rumah Sakit?”

“Bukan, gue lagi di rumah Hoshi hyung”

“RUMAH SIAPA?!”

“Hoshi hyung”

tut tut tut

Saat bangun karena ponselnya berdering tadi, wangi bunga lily langsung tercium oleh indra pengciuman Wonwoo, asalnya adalah dari selimut Hoshi yang ia kenakan selama tidur tadi. Wanginya menenangkan dan sangat nyaman.

“Hyung....” Wonwoo memanggil Hoshi saat ia melihat keadaan sepi sekitarnya bahkan lampu di ruang tamu dibuat redup. Ia kemudian berdiri dari sofa nyaman yang menjadi teman tidurnya beberapa waktu lalu dan dengan ragu berjalan menuju dapur.

Namun ,tidak ada siapa-siapa di sana, hanya terlihat beberapa alat makan yang sudah disiapkan di atas meja masih lengkap belum tersentuh.

Wonwoo berjalan kembali ke arah ruang tamu setelah tidak menemukan Hoshi di sana. Saat kembali ia baru tersadar akan satu pintu cokelat yang ia yakini adalah kamar utama di apartment ini. Mungkin ia tidak sadar melewati kamar ini dari belakang saat menuju dapur.

Karena pikirnya Hoshi ada di dalam kamar tersebut maka dengan pelan ia mengetuk pintu kamar itu. Dan benar, sahutan kecil dari dalam kamar terdengar.

“Iya nu, sebentar” suaranya samar.

Wonwoo pun kembali ke ruang tamu.


“Hyung, sorry gue ketiduran” katanya tak enak.

“Santai sih, lo kenapa kebangun? Banyak nyamuk ya?”

“Enggak, emang kebangun aja. Gue lama ya tidurnya?”

“Setengah jam?”

Wonwoo kemudian melepas kacamatanya dan mengusap wajahnya.

Merasa kasihan, Hoshi menawarkan Wonwoo untuk mandi terlebih dahalu di tempatnya sebelum makan malam agar lebih segar, yang mana ditolak oleh tamunya tersebut karena katanya tadi sudah mandi dan kelewat lapar. Akhirnya, keduanya pun pergi ke dapur untuk menyantap hidangan makan malam yang sudah sejak tadi Hoshi siapkan.

“Tadi kecapnya aku ambil dari kresek yang kamu taruh di atas meja tamu” kata Hoshi, sambil memberikan satu piring bersih untuk Wonwoo.

“Oh iya sampai lupa kecapnya dikasih ke lo, hyung”

“Capek banget ya nu?”

“Lumayan, soalnya IGD lagi rame banget beberapa hari ini hyung”

“IGD?”

“Iya”

“IGD tuh yang Instalasi Gawat Darurat?”

“Iya yang itu”

“Kamu kerja apa nu?”

“Gue perawat, hyung”

Hoshi melotot. Centong nasinya menggantung dengan mulut menganga.

Wonwoo pun ikut terdiam. Bingung.

“Hyung?”

“Ha?”

“You okay?”

“Oh iya sory sory nu, gue gak nyangka aja”

“Muka gue gak cocok ya jadi perawat?” Balas Wonwoo sambil tertawa.

“Enggak bukan gitu, gue mah mikirnya selama ini lo kerja kantoran gitu. Modelan officer, audit atau macem finance”

“Iya ya? Modelan keren gitu ya, hyung?”

“Jadi perawat malah lebih keren nu, gue sampai kaget”

“Hehehe kalau itu pujian gue mau makasih duluan deh”

“Pantes lo kaya capek banget dari yang terakhir kita lunch bareng itu”

“Ini bulan terakhir gue di IGD hyung, bulan ini juga malah lagi hectic banget di sana. Bulan depan gue di transfer ke umum”

“Pantes...”

“Apa hyung?”

“Lo selalu mandi terus ya tiap mau ketemu”

“Iya, soalnya di Rumah Sakit kan banyak virus dan bakteri”

“Gue kira lo tuh sakit jiwa tau gak soalnya mau mandi terus”

“HYUNG!” Wonwoo hampir tersedak nasinya.

Hoshi tertawa melihat Wonwoo yang terkejut dan cepat-cepat menyodorkan segelas air putih.

“Becanda Wonu, btw lo kok gak bilang dari awal sih kalau lo perawat?”

“Lo gak nanya”

Iya juga sih. Dalam hati Hoshi.

Keduanya kemudian menghabiskan makan malam mereka dan mengobrol sebelum akhirnya Wonwoo berpamitam pulang karena jam yang sudah menunjukan pukul setengah 11 malam.

Ia berjanji akan mentraktir Hoshi lagi sebagai bayaran karena sudah membiarkanya menumpang tidur di apartementnya tadi.