flashback
Wonwoo POV
Gue kenal dia dua tahun lalu di acara Orientasi Mahasiswa Baru, secara kebetulan gue berada di satu kelompok yang sama. Gue dari Prodi Management Pemasaran sedangkan dia di Prodi Ekonomi Industri. Dia adalah orang pertama yang menghampiri gue, gue ingat jelas wajahnya yang kebingungan waktu itu karena dari janji lewat pesan singkat, gue sempat mengatakan kalau gue akan mengenakan kemeja biru namun karena hujan deras dan sebagian kemeja gue basah akhirnya gue harus mengganti kemeja yang gue pakai dengan jaket angkatan SMA yang kebetulan gue bawa di dalam bagasi motor.
Entah takdir apa yang membawa gue kembali dipertemukan dengan Soonyoung di semester kedua, karena tiba-tiba ada mahasiswa yang katanya akan masuk ke asrama kampus tempat gue tinggal saat ini di pertengahan tahun, padahal sepengetahuan gue pergantian teman satu kamar di dalam asrama biasanya hanya dilakukan setiap awal semester ganjil.
Ada wajah familiar yang gue dapatkan saat membuka pintu kamar asrama, senyumnya langsung mengembang saat tahu teman satu kamarnya adalah gue, Jeon Wonwoo. Kebetulan waktu itu cuma gue yang tidak mememilki teman satu kamar.
“Wonwoo?” ujarnya di depan pintu dengan dua koper besar di kiri dan kanannya.
“Lo yang pindah ke kamar sini?”
“Iya nu” balasnya canggung.
“Masuk, tapi gue gak bisa bantu-bantu unpacking nih soalnya mau ada kelas” balas gue jujur.
“Gak apa nu, barangnya sedikit aja kok” balasnya lagi setelah gue persilahkan masuk.
Gue menunjukan secara singkat isi kamar ini, di mana tempat tidur gue ada di sebelah kiri dan tempat tidurnya yang ada di sebelah kanan, satu kamar mandi untuk bersama dengan keran air panas yang sudah dua bulan ini tidak berfungsi yang sudah pasti akan menambah perjuangan untuk memulai kelas pagi terasa lebih berat.
Soonyoung mendengarkan dengan seksama penjelasan gue tapi dari yang gue tangkap pandangan mata itu kosong seperti ada hal lain di kepalanya yang sedang mengganggu pikiran. Terakhir gue menjelaskan singkat peraturan asrama dan memberikan satu kunci kamar untuk Soonyoung sebelum pamit untuk kelas terakhir gue hari itu.
Bulan ketiga menjadi teman satu kamarnya gue semakin mengenal Soonyoung, dia punya kepribadian pendiam dan terkesan introvert?. Dia seperti punya masalah kepercayaan diri di sekitar orang banyak tapi anehnya, kepribadian itu seolah-olah lenyap saat berhadapan dengan gue dan Juna teman satu kampus kami yang juga tinggal di asrama yang sama. Soonyoung seperti keluar dari cangkang yang mengurungnya kaku, dia bahkan bisa mengumpat waktu Juna mencuri satu bungkus mie instan goreng kesukaan Soonyoung yang tersisa satu di lemari penyimpanan kami di kamar asrama, padahal setahu gue Soonyoung itu dari keluarga berada. Orang tuanya punya usaha transportir BBM di kota sebelah, dia bahkan punya mobil sendiri untuk berangkat kuliah yang sering gue tumpangi saat hujan.
Kalau gue, cuma dari keluarga biasa-biasa saja, Bokap PNS dengan golongan yang juga biasa di salah satu kantor Dinas di kota kelahiran gue dan Nyokap adalah ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki.
Gue tidak begitu tahu banyak tentang latar belakang keluarga Soonyoung sampai satu malam Soonyoung menggigil di atas tempat tidurnya dengan tubuh yang meringkuk. Gue yang notabennya adalah anak terakhir di keluarga, tidak berpengalaman merawat orang sakit dan langsung panik melihat keadaan Soonyoung malam itu.
Lampu kamar sudah meremang karena dimatikan dan sumber cahaya hanya berasal dari cahaya lampu jalanan yang masuk melalui jendela kamar yang tirainya belum tertutup, letaknya tepat di atas tempat tidur gue. Malam itu gue pulang lebih larut karena harus bekerja di Sugar & Spice Cafe tempat gue selama ini mencari tambahan biaya hidup walaupun orang tua gue juga selalu rutin mengirimkan uang untuk kuliah.
Gue masih ingat dengan jelas rintihan suara Soonyoung yang kesakitan entah karena apa, bajunya basah. Bahkan seprei yang ditiduri Soonyoung pun ikut basah. Soonyoung malang yang terus meringkukkan tubuhnya saat gue panggil karena khawatir.
Suhu tubuhnya sangat tinggi malam itu bahkan suara lenguhan terdengar saat gue menyentuh keningnya untuk mengecek suhu tubuh.
“Nyong, lo udah makan?” tanya gue yang kebingungan, tas ransel pun masih bertengger di pundak gue saat itu.
Gue hanya menerima gelengan atas pertaannya gue saat itu. Sayup gue mendengar permintaan Soonyoung agar gue tidak tidur di kamar kami malam ini dan menginap di kamar Juna.
Alih-alih menuruti permintaannya, selain karena gue tidak suka menginap di kamar Juna karena teman sekamarnya Mingyu yang suka mendengkur saat tidur. Gue lebih mengkhawatirkan teman satu kamar gue yang terlihat begitu kesakitan.
Satu mangkuk besar air dingin gue letakkan di sisi tempat tidur Soonyoung dengan handuk kecil bersih milik gue yang biasa gue pakai saat latihan futsal, gue peras sebelum meletakknya di atas kening Soonyoung yang terus-terusan gemetar saat gue sentuh.
“Nu...” panggilnya pelan.
“Gue ambilin air anget ya nyong?” tanya gue.
Soonyoung mengangguk.
Setelah berhasil meneguk sedikit air hangat dengan susah payah, Soonyoung kembali berbaring di tempat tidurnya.
Hanya perasaan gue saja atau tidak, tapi malam itu Soonyoung selalu menghindari kontak fisik dengan gue. Entah karena tubuhnya yang terasa gerah karena suhu tubuh yang tinggi atau karena tidak nyaman karena sekujur tubuhnya berkeringat. Yang pasti dengan keadaan seperti itu Soonyoung terus-terusan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Malam semakin larut dan Soonyoung terus-terusan menolak untuk meminum paracetamol yang gue berikan. Alasannya, karena sudah meminum obat sebelum gue datang tadi.
Karena bersikeras gue pun akhirnya mengalah setelah Soonyoung terlihat lebih tenang dan gue memanfaatkan itu untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kebiasaan gue adalah melepas pakaian atas di depan kamar mandi agar lebih mudah melemparkannya ke dalam keranjang laundry yang letaknya bersisihan.
Tapi ada satu hal yang gue dengar dan membuat gue terpaku dan mengurungkan niat gue untuk mandi saat itu setelah berhasil melepas kaos yang gue kenakan.
Gue bukan laki-laki polos atas apa yang barusan gue dengar dan gue paham betul apa itu.
Gue mendengar Soonyoung mengerang beserta lenguhan yang bisa langsung gue lihat karena posisi kamar mandi yang menghadap tempat tidurnya.
Soonyoung bergerak tak nyaman dan memanggil nama gue. Seketika jantung gue berdegub lebih kencang dari biasanya.
“Nu, tolong gue...” katanya lemah dengan wajah yang sudah memerah.
Gue otomatis menghampiri dan seketika dibuat hampir pingsan saat Soonyoung menyibakkan selimutnya yang dari tadi menutupi tubuh menampilan bagian bawah tubuh Soonyoung yang dilapisi celana boxer pendek yang tipis itu sangat basah dan miliknya yang sudah sangat menegang terlihat jelas. Seperti menambah buruk keadaan, Soonyoung dengan sengaja menurunkan celananya di bagian belakang yang membuat satu ekor tidak lebih dari sepertiga meter menjentik keluar dari sana.
Gue tertegun, isi kepala gue tiba-tiba kosong, ekor itu diselimuti bulu-bulu halus berwarna hitam dan bergerak lemah di bokong Soonyoung. Awalnya gue pikir Soonyoung menggunakan salah satu alat sex buttplug yang berbentuk ekor, namun pikiran itu seketika terbantah karena ekor tadi bisa bergerak walaupun sangat lemah. Gue yang secara spontan mendekat dan tanpa sadar menyentuh ekor Soonyoung membuat pemiliknya melenguh kencang dan ekornya tiba-tiba menjentik.
“Nu....” panggil Soonyoung lagi, tangannya menggapai perut gue yang sudah tidak tertutupi pakaian.
“Nu tolong gue...”
“L-Lo k-kenapa nyong?”
“Gue heat nu dan lo wangi banget”
Gue bingung kepala gue benar-benar kosong.
“Apa yang bisa gue bantu?”
“Tidurin gue, nu”
Setelahnya, gue sadar bagian selatan gue yang masih dilapisi celana jeans ternyata sudah mengeras, celana gue yang biasa terasa longgar sekarang sudah sesak dan telapak tangan Soonyoung yang merabanya dari luar sangat tidak membantu. Dalam hitungan detik gue memanjant ke atas tempat tidur Soonyoung dan bibir kita sudah beradu menukar saliva.
Pinggul Soonyoung terus digesekkan mengejar afeksi yang sepertinya dia butuhan, tak ingin menyiksa lebih lama gue pun ikut menggesekkan milik gue dan milik Soonyoung, karena bahan celana jeans gue yang terbilang keras dan kaku membuat Soonyoung beberapa kali mengerang di atara ciuman kami saat celana gue bergesekkan dengan miliknya.
“Nu, gak tahan...” katanya memelas, gue yang paham dengan sigap melucuti kaos Soonyoung yang sudah basah sekaligus boxer tipisnya.
Untuk kali pertama gue melihat tubuh polos Soonyoung dengan ekornya yang bergerak-gerak tak nyaman. Dan entah sejak kapan tanpa gue sadari ada bulu-bulu hitam lembut seperti yang ada pada ekornya menyerupai telinga kucing di atas kepala Soonyoung.
“nghhhh...” “...jangan dipeganghh telingannyahh, nu” Soonyoung kembali melenguh saat gue yang berada di atasnya lagi-lagi tanpa sadar mengelus daun telinga kucing miliknya.
Karena penasaran gue kembali mengelus telinga kucing itu, dan seketika Soonyoung menarik pinggang gue untuk menindih tubuh polosnya dan tangan lainnya manarik leher belakang gue untuk kembali bercumbu.
Gue masih ingat, cumbuan malam itu begitu basah. Soonyoung berkali-kali bergetar saat lidahnya gue kulum dan telingannya gue usap.
“Nu....buka” Soonyoung menarik-narik kancing utama celana jeans gue.
“Sebentar..” balas gue, karena gue tahu yang sedang membutuhkan afeksi saat ini adalah Soonyoung bukan gue.
Dengan pelan gue turun ke arah perutnya, mengusap perut rata seputih susu itu dengan pelan. Gue ciumi pinggul Soonyoung yang menggeliat dan gue usap ekornya yang bergerak-gerak gelisah.
Milik Soonyoung sudah memerah, ujungnya bahkan sudah basah mengeluarkan pre-cum-nya sejak tadi mengotori seprei miliknya. Lubang Soonyoung berkedut tidak kalah basah dengan miliknya yang sudah menegang.
Entah, dirasuki apa gue dengan inisiatif menjilat lubang Soonyoung yang berkedut, menyicipi cairannya yang keluar membuat Soonyoung membusungkan dadanya ke atas mengerang panjang.
“Ahhhh...nu.....lo apainhh?”
“Lo suka, nyong?” tanya gue masih di depan lubang Soonyoung.
“S-Suka” balasnya lemah
dengan itu gue kembali memasukan ujung lidah gue ke dalam lubang Soonyoung, menjilatnya tipis-tipis.
Semakin cepat ujung lidah gue menyapu bibir lubang Soonyoung, semakin kencang juga erangannya.
“Nu-nghh N-Nu...u-udah...udah nu gue gak tahanhh” katanya terbata. Sementara gue masih melingarkan lengan gue di paha Soonyoung dan menikmati lubangnya yang tidak gue sangka bisa jadi secandu ini.
Gila. Gue rasa gue sudah gila karena setelahnya gue melepas celana jeans gue yang sudah berontak karena terlalu sesak menahan milik gue yang menegang dengan keras karena ulah Soonyoung.
Setelah lolos gue gesekkan milik gue yang membengkak di depan lubang Soonyoung membuatnya lagi-lagi melenguh.
“Ke sini, Nu” panggilnya.
Waktu gue kembali menindih badan Soonyoung, dia malah menggeleng. Mengisyaratkan gue untuk turun dari tempat tidur dan menarik tangan gue kehadapannya. Dari sana Soonyoung menggenggam kepemilikan gue dan mengulumnya pelan, lindahnya menjilat-jilat kecil seperti anak kucing. Tanpa sadar kali ini gue yang terbang seperti di atas awan. Nikmat hangat dari mulut Soonyoung terasa hingga kesekujur tubuh gue dan membuat milik gue semakin membengkak.
“Nu, tebel banget punya lo”
“Lo emutin terlalu enak sih” setelahnya gue membawa bibir Soonyoung kembali bertemu bibir gue.
Gue kembali ke atas tempat tidur Soonyoung bersandar pada dinding kamar dengan Soonyoung yang sekarang gue angkat dan gue dudukkan diatas milik gue. Belahan bokongnya menggesek milik gue dan dengan dengan cepat gue tarik, gue genggam milik Sonnyoung dan milik gue bersamaan dan mengocoknya dengan tempo sedang.
Soonyoung berkali-kali membanting kepalanya ke belakang saat tidak kuasa merasakan afeksi dari sentuhan-sentuhan yang gue berikan, tangannya dengan kuat mencengkram pundak kiri gue dan tangan lainnya menahan tubuhnya sediri di belakang tubuh dengan bertumpu pada kaki gue.
“Nu, nghh gak kuat laghiii....”
“Rebahan Nyong” dia pun menurut dan beringsut dari pangkuan gue.
Di atas tubuhnya yang polos gue mengarahkan kepemilikan gue pada lubangnya yang berkedut memerah, menerobos masuk dengan pelan.
“AHHHHHH” lenguhnya.
“Dikit lagi nyong” gue berani sumpah ini bukan sex pertama gue tapi cuma lubang Soonyoung yang benar-benar membuat milik gue seperti tersedot masuk, dinding-dindingnya seperti mencekram milik gue.
Soonyoung berakali-kali meringis kenikmatan saat gue mulai bergerak diatasnya.
Soonyoung mengalungkan lengannya pada leher gue, disaat gue memompanya dari bawah melesakkan milik gue pada titik ternikmat milik Soonyoung. Basah dan licin namun tetap terasa sempit.
kerap kali Soonyoung mengeluh terlalu dalam dan terlalu tebal namun tak ada satupun yang gue hiraukan karena malam ini gue sudah dibuat gila olehnya...then our bodies move together
Soonyoung bergerak tak seirama membuat pertemuan di bawah sana semakin berantakkan, entah sudah berapa kali gue dibuat mengerang kencang akibat lubangnya yang mengetat.
“Nyong...nyong...gila nyong...arghh”
“nghhh nu nghhhh kece-kecepetanhh...nu ahhhh ahh shh nu!!!” tubuhnya terlonjak di atas tempat tidur.
Sampai pada di satu titik gue merasa milik gue membengkak di dalamnya dan Soonyoung mulai meracau tak karuan.
“Nu...please di dalemhh.. pleasee please gue mau keluar...nghhh”
“ARGHH SOON-”
“keluarin di dalemhh nu.....”
Gue terus menumbuk prostat Soonyoung, peluh keringat pun mengucur deras dan menetes dari ujung-ujung rambut gue yang sudah berantakan.
“NGHHHHH WONU AH AHH!!” Soonyoung meneratkan peganggannya pada pundak gue dan kakinya melingkar pada pinggul gue membuat penyatuan kita semakin dalam dan pada hujaman milik gue yang entah keberapa kali akhirnya gue memuntuhkan putihnya di dalam lubang Soonyoung, di bawah gue Soonyoung juga bergetar menyemburkan putihnya di atas perutnya sendiri.
“Ahhhh nyong!”
Gue menikmati setiap tetes putih yang keluar di dalam lubang Soonyoung, yang gue rasa ini adalah cum terbanyak diantara pengelaman sex gue sebelumnya.
Gue kemudian ambruk di atas tubuh Soonyoung tergeletak memeluk tubuhnya, gue ciumi leher kiri Soonyoung yang bersih. Jantung kami masih berderu kencang.
“Wonu...” panggilnya, mata masih terpejam.
“hmm?” balas gue.
“Gue hybrid“
“Iya, ceritanya besok aja sekarang istirahat”
“Lo habis ini bakal benci gue”
“Istirahat, nyong” ucap gue tulus, karena gue tahu itu yang paling dia butuhkan saat ini.
“Tapi nu-”
“Tidur Soonyoung” setelahnya gue menggendong tubuh Soonyoung turun dari tempat tidurnya dan pindah ke tempat tidur gue yang lebih bersih dan kering. Gue selimuti tubuh polosnya dan gue peluk agar tenang.
Yang besok akan gue dengar biarlah datang di esok hari, malam ini gue mau Soonyoung beristirahat dengan tenang menjauhkannya dari pikiran-pikiran lain termasuk rahasia kematian ibunya yang juga seorang hybrid.