Followed
Langit kembali gelap terkahir kali Soonyoung lihat saat menutup tirai tipis di kamarnya, mengunci layar ponsel dari daya batrai yang berasal dari aki buatan Wonwoo dirinya menjadi gusar. Pesan terakhirnya belum juga mendapat balasan sejak empat jam lalu Wonwoo meninggalkannya sendirian di rumah ini.
Sunyi senyap menyelimuti sekelilingi, hanya suara serangga di luar sana yang terdengar samar-samar. Sejak pagi tadi hanya satu bungkus mie instan yang mengisi perutnya, Soonyoung butuh distraksi dan akhirnya memutuskan untuk mengalihkan rasa lapar dengan pergi ke ruang rahasia ibunya yang ia temukan dengan Wonwoo kemarin.
Memanjat bak mandi persis seperti yang Wonwoo lakukan, ia kemudian duduk menghadap dinding di atas kursi tua milik ibunya membolak-balik kertas menguning berisi kalimat penuh teka-teki mendiang ibunya. Tidak ada titik terang yang dapat Soonyoung simpulkan, otaknya terlalu buntu entah karena kelelahan terisiolasi selama empat hari berada di tengah hutan atau karena perutnya yang terus merongrong lapar.
Pukul 20.35 Soonyoung kembali mengecek ponselnya namun balasan dari yang ditunggu juga tidak ada, ada pergulatan batin dalam dirinya untuk melangkah keluar mencari Wonwoo dengan resiko yang ia sendiri tahu benar atau bertahan di rumah ini tak pasti menunggu Wonwoo yang mungkin sama terancamnya dalam bahaya.
Soonyoung menatap datar jendela di loteng ini, tidak ada bulan terang atau bintang bertaburan. Cahaya temaram begitu sunyi bahkan langit terlihat muram malam ini, ia kemudian berbalik mendekati peti milik ibunya mengambil satu pisau belati berkarat seukuran 15 cm kemudian dibawa turun dan bergegas membuka pintu utama.
Kini ia yakin, ia tidak bisa hanya berdiam diri di rumah ini ketika Wonwoo mungkin membahayakan dirinya di luar sana. Berbekal penerangan senter dari ponselnya dan satu belati berkarat Soonyoung melangkahkan kakinya menulusuri hutan menuju tempat mobilnya terpakir. Seharusnya Wonwoo sudah kembali satu jam lalu dari kota namun hingga saat ini tidak ada kabar sedikitpun darinya. Soonyoung takut tapi ia tidak bisa menunggu lebih lama.
Hutan ini benar-benar gelap bahkan rimbunnya pepohonan membuat cahaya dari langit terhalang, ponsel Soonyoung adalah satu-satunya sumber cahaya yang ia miliki. Dingin dan dingin Soonyoung merapatkan jaketnya, keningnya terus berkerut saat melangkah mencoba fokus pada jalan yang sudah ia cukup kenali. Soonyoung itu cerdas, di kampus pun merupakan salah satu mahasiswa berprestasi jadi tidak sulit baginya untuk menghapal jalan yang sudah ia lalui beberapa kali.
Namun, ini hal yang berbeda walaupun ia hapal jalur keluar hutan ini tetap saja ada panik yang menyelimuti jauh di dalam dirinya. Ia sendirian, ada kaum yang sedang mengincarnya, ada bahaya yang selalu mengintainya, ia bisa saja mati di tengah hutan tanpa ada satu orang pun yang tahu dan kepergiannya akan dilupakan seperti menguap hilang diudara.
Kakinya melangkah ragu saat ditengah perjalanan seperti ada seseorang yang mengikuti, sudah lima belas menit Soonyoung meningkatkan kewaspadaannya, kakinya terus saja melangkah karena semakin cepat ia menuju tempat terakhir mobil terpakir semakin cepat juga ia sampai di tepi hutan dan bisa meminta pertolonga. Tepat saat menuruni jalur berlumut Soonyoung semakin yakin ada orang di belakangnya. Ia mendengar gesekan rumput yang terinjak dan ranting yang patah.
Angin kembali bertiup membuat bulu kuduk Soonyoung meremang, belati berkarat yang ia bawa dipegang erat, ia mempercepat langkanya. Masih ada kurang lebih satu kilometer lagi agar Soonyoung sampai ditujuannya, jantungnya bergemuruh kencang ia yakin orang itu masih mengikutinya.
Semakin cepat Soonyoung berjalan semakin cepat pula orang di belakangnya mendekat, langkahnya menjadi tidak stabil membuatnya terhuyung ke depan dan dalam waktu singkat seseorang sudah menerjang tubuh Soonyoung dari samping.
Soonyoung terhempas ke tanah, tubuhnya mengantam batang pohon besar yang tumbang saat terguling. Belati yang ia pegang sejak tadi sempat ia lemparkan ke arah orang di belakangnya namun meleset dan tertancam ke salah satu pohon besar.
Pisau belati itu mengeluarkan cahaya, karatnya yang menyelimuti besi tua itu memancarkan sinar merah seperti percikan api. Soonyoung menyaksikan itu semua dan ketika kesadarnya hampir sirna ada satu wajah yang ia lihat terkahir kali sebelum pandangannya menjadi gelap.
“Wonwoo!”
“Soonie, mama janji akan lindungi Soonie dari orang-orang jahat di luar sana. Soonie itu milik mama dan ayah, gak ada yang bisa rebut Soonie...bertahan sedikit lagi ya sayang. Mama bersama Soonie” ruangan itu tidak memiliki ujung, hanya putih disetiap sisinya ketika Ibunya menghilang seperti asap dengan gaun putih penuh darah dan pergelangan tangan yang tersayat dalam.
“Nyong! Nyong!”
Soonyoung tersadar dari mimpinya, pelipisnya penuh keringat tidak sadar selama pingsan dan tertidur tadi alisnya berkerut sampai mengigau.
Ia terbangun dengan tempat yang sangat familiar, langit-langit tua dan bau kayu.
Ini rumah Ibunya.
Soonyoung membuka matanya lebar-lebar dan langsung menatap Wonwoo yang terduduk di sebelahnya, sedari tadi menunggu Soonyoung bangun.
“Anjing Wonwoo!” umpat Soonyoung.
“Nyong, pinggang lo sakit gak?” tanya Wonwoo meghiraukan umpatan sahabatnya barusan.
“Yang tadi di hutan itu lo, nu?” lagi-lagi tidak ada yang menghiraukan pertanyaan satu sama lain.
“Iya, gue...gue kaget pas ngeliat lo lari-lari tadi, Nyong. Sorry gue langsung nerjang begitu soalnya bahaya” jujur Wonwoo.
“Bahaya apa?” Soonyoung memancing.
“Bahaya aja kalo lo lari-lari bisa kepeleset jatuh” Wonwoo menutupi fakta bahwa ia tahu ada orang lain selain mereka di hutan ini, Wonwoo tidak ingin membuat Soonyoung khawatir. Biar ia simpan saja dulu sambil mencari tahu siapa orang misterius itu.
Faktanya Soonyoung pun tahu bahwa memang ada orang lain di sini.
“Bego! Lo nerjang gue tadi malah bikin gue jatuh guling-guling di tanah” Soonyoung menendang Wonwoo sampai terjengkal.
“Habis lo kaya panik gitu” balas Wonwoo lagi.
“Panik lah geblek gue di tengah hutan sendirian buru-buru mau cepat sampai” kata Soonyoung tak sepenuhnya berbohong. “Lagian lo kenapa lama banget sih, nu?”
“Pas mau berangkat tadi gue kesesat hampir dua jam muter-muter hutan” jujur Wonwoo.
“Astaga begonya awet ya” Soonyoung meringis.
“btw, nyong belati lo tadi-” Wonwoo belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Soonyoung sudah beranjak berdiri mendekati meja di sudut ruangan tempat Wonwoo meletakkan belati berkarat tadi.
“Lo liat, nu?” tanya Soonyoung.
“Liat”
Soonyoung menyentuh permukaan belati tersebut yang sudah kembali seperti semula, tidak memercikkan api seperti di hutan beberapa waktu lalu. Pikirannya kembali mengawang.
“Apa lagi ini?”