Jalan Memutar
Sinyal kembali menghilang saat pesan terakhirnya kepada Juna terkirim, lagi pula pesan itu seharusnya memang tidak perlu Soonyoung kirim karena secara tidak langsung ia memberitahu teman satu asramanya itu bahwa ia sedang berada jauh dari perkotaan. Terlalu ceroboh karena lapar.
Mereka memang sempat keluar rumah untuk mencari sesuatu untuk di makan ke arah sungai kecil di dekat bukit, tidak lama hanya 15 menit saja dan kembali karena sejauh mata memandang tidak ada buah ataupun hewan lain yang bisa diambil, mereka berdua pun minim pengetahuan untuk urusan berburu di hutan ditambah kondisi yang masih sangat berbahaya tidak memungkinkan untuk mereka melanjutkan pencarian.
Soonyoung sempat melihat bangkai rusa yang kemarin menabrak rumahnya, kondisinya sudah mengenaskan karena terlihat leher yang patah. Tidak ada jejak peluru atau panah jika memang hewan itu diburu untuk dibidik. Namun, yang pasti ada sesuatu yang mengejar hewan tersebut sampat tidak melihat arah di depannya dan menabrak rumah Soonyoung.
Di sisi lain, Wonwoo yang berjalan menuruni tanah curam di tengah hutan bergegas dengan cepat menuju lokasi mobil Soonyoung terakhir di parkir. Matanya selalu awas memperhatikan sekitar, sejujurnya ia riskan meninggalkan Soonyoung di sana sendirian tapi apa dikata persediaan mereka menipis sedangkan masih ada 3 hari yang harus mereka lewati, mustahil bertahan hanya dengan dua bungkus mie instan.
Perjalanan ke lokasi yang dituju terasa lebih jauh dari kemarin padahal harinya cerah tidak hujan seperti saat mereka tiba, Wonwoo mulai gusar takut-takut ia salah jalan dan tersesat. Di tengah perjalanan pandangannya tertuju pada satu atap kayu yang terhalang dedaunan dari pohon pinus besar jauh di depannya. Berbekal penasaran dan sedikit nyali yang tersisa Wonwoo kemudian berjalan mendekati rumah tersebut.
Ia berjalan perlahan dalam hening berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun, hanya bunyi ranting pohon dan daun kering saja yang terdengar dari langkah kakinya. Kedua tangannya menggenggam erat tali ransel yang ia pakai, jantungnya berderu kencang menebak-nebak siapa pemilik rumah tersebut.
Wonwoo bersembuyi di balik salah satu pohon besar di sana, memperhatikan sekeliling rumah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, keadaannya gelap. Kaca rumah terlihat kusam dan pecah tak terawat, rumah itu juga tidak lebih besar dari rumah Ibu Soonyoung.
Belum sempat kembali mendekat Wonwoo dikejutkan dengan langkah seseorang dari balik rumah, diserang takut dengan cepat Wonwoo membalikkan tubuhnya dan berlari menjauh dari rumah tersebut.
Ada orang lain di hutan ini.
.
.
.
Setelah ratusan langkah cepat ia baru tersadar bahwa dirinya sudah berjalan terlalu jauh, ia tersesat dan berada di sisi lain bukit yang menghubungkan jalan masuk hutan menuju rumah Ibu Soonyoung. Wonwoo harus mengambil jalan memutar sebelum orang tadi menemukannya.
“Semoga Soonyoung baik-baik saja” batinnya.